• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terima kasih untuk nomor ini kita serahkan Panitia Kerja saja. Substan-. sinya dapat disetujui dengan formulasi seperti papan tulis kami bacaSubstan-. "Setiap

orang atau Badan Hukum yang menguasai pestisida yang dilarang peredaran-nya yang tidak memenuhi standar mutu atau rusak atau tidak terdaftar wajib memusnahkannya , ..

Rapat disetujui.

! RAPAT SETUJUl K.ETUA RAPAT.

Pasal 34, essensi dan rumusannya F ABRI ada perubahan kalau nomor-nya tidak ada masalah, FKP ada tetap, FPP juga tetap, FPDI tetap. Tinggal FABRI formulasinya apa ada perubahan.

FABRI (F. SUK.ORAHARDJO):

Sebetulnya formulasinya be.rbeda karena kita menggabungkan jadi satu ayat ya meJljadi satu pasal.

K.ETUA RAPAT:

Oo itu nanti meJljadi pasal sekian ayat sekian essensinya ada beda dengan formulasf yang mendasar, sehingga penambahan satu kata merubah essensi itu, itu harus kita bahas.

FABRI (F. SUK.ORAHARDJO):

Usulan penyempurnaan Fraksi ada pada halaman 36 atas Ayat (4).

K.ETUA RAPAT:

Model semua ketentuan kami kira, ketentuan tentang sebagaimana dimaksud dalam apakah pasal ataukan ayat. Kalau bunyinya pasal, Pasal 34, Pasal 31, Pasal 32, Pasal 33 di sini Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3) merijadi Pasal 32 saja nanti. Tapi bunyinya ini nanti. Ketentuan mengenai tentang jadi diganti dengan tentang, kami baca sajalah dipapan lah : "Ketentuan tentang pendaftaran, pengawasan pengadaan, peredaran, penyimpanan dan penggunaan serta pemusnahan pestisida diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah".

· Ini sudah berbunyi enggak kalimatnya ini, pakai "dan" lagi itu setelah pendaftaran kalau enggak ngacau lagi ini. "Ketentuan tentang pendaftaran dan pengawasan, isinya kan tentang pendaftaran dan pengawasan yaa pak, enggak usah dirinci Pak. "KETENTUAN TENT ANG PENDAFT ARAN DAN PENGAWASAN SEBAGAI MANA DIMAKSUD DALAM (kalau ikut serta ayat dan pasal nya itu terserah) PASAL atau/AYAT ... mana yang dipilih

pa$il atau ayat tinggal kasih nomor saja DALAM PASAL ATAU/AYAT ...

DIATUR LEBIH LANJUT, Jadi bunyinya : "KETENTUAN TENTANG PENDAFTARAN PENGAWASAN SEBAGAIMANA DIMAKSUD DALAM PASAL/AYAT . . . yang akan dinomori oleh Panitia Kerja DIATUR LEBIH LANJUT DENGAN PERATURAN PEMERINTAH". Dapat disetujui?

FPP (DRS. H. MARDINSY AH) : INTERUPSI.

Sebentar Pak Ketua yang tadi belum menurut kami yang mengenai saran kami mengenai uniforem bahan baku di mana masuknya itu Pak. Tadikan kita jartjikan untuk kita masukan di dalam pasal-pasal setelah Pasal 30, di mana masuknya ini Pengadaan di dalam Pak ini yang mengimport saja Pak, itu tadi yang kita bicarakan dengan Pak Menteri masih lain. Pengadaan itu tadi tata cara pertjualan Pak, ee periklanan Pak, pengimport ini belum di mana itu masuknya Ketua yang salah dengar Pak.

KETUA RAPAT:

Kita bahas soal pengadaan apa itu barangnya, kalau pengadaan beras ada ex import, ada pengadaan dalam negeri ada yang tukar nienukar dan sebagainya. Menurut kami, barangkali Pemerintah ada pemikiran lain silakan.

PEMERINTAH (MENTER! PERTANIAN/IR. WARDOYO):

Jadi dalam pengadaan ini sepanjang produksi dari dalam negeri tentu dari dalam negeri, sedang yang belum ada di dalam negeri tentu diimport. Dalam pengertian pengadaan kami sudah termasuk di dalamnya import tadi

Kami kira begitu.

FPP (DRS. H. MARDINSY AH) : Terima kasih Pak.

Tapi bahan baku yang kami bicarakan tadi, bahan baku bukan pestisida-nya. Ini bahan baku yang kita sepakati untuk dimasukkan dalam setelah Pasal. 30 tadi, bukan pestisidanya tapi bahan bakunya yang kita masukkan.

Ini masih terlupa atau mungkin kami yang salah dengar ini Tapi kalau enggak salah tadi FKP juga mengatakan kita masukan dalam pasal selartjutnya 34 tadi Ini b'ahan baku bukan perstisidanya yang dalam hal ini Pasal 24 ini mengenai pestisida-pestisidanya bukan bahan bakunya.

KETUA RAPAT:

Tapi itu tidak hilang Pak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 segala ma cam.

FPP (DRS. H. MARDINSY AH) :

Kalau yang hilang kami tanyakan, hilang tadi kita sepakat untuk

me-masukkan pasal-pasal sebelumnya setelah pasal ini. I ni kalau sepakat kalau tidak itupun endak apa-apa Pak.

KETUA RAPAT:

Kami ulang ini ada tadi, tolong bisa diulang Pasal 30 kami kira : Peme-rintah menetapkan standar mu tu pestisida, ada 2 itu to long Ayat (2)nya serta bahan baku ini jadi repot ini. Pemerintah menetapkan standar mu tu pestisida sebagaimana dimaksud dalam Ayat (1) dan jenis pestisida serta bahan baku-nya yang boleh diimport" sudah masuk, nah maksud bapak tadi yang mana.

Pemerintah melakukan pendaftaran menga wasi pengadaan peredaran penahan-an pestisida. Jadi di sini appenahan-anya kpenahan-an ditambah. E ssensinya kegiatpenahan-an Pem~rin­

tah pendaftaran dan mengawasi yang diawasi itu pengadaan dan pengguna-an nah ini perlu diatur.

F ABRI (DRS. S. SOEMIARNO, M.A.) : Mohon ditayangkan kembali Pasal 31.

KETUA RAPAT:

Pasal 31 tolong tayangkan kembali sudah diperbaiki. Melakukan pendaf-taran dan mengawasi pengadaan dan peredaran serta penggunaan pestisida.

Itu perlu diatur ini termasuk import, periklanan itu dan segala macamnya itu disitu ada peraturannya itu.

FPP (DRS. H. MARDINSY AH) ;

Betul Pak Ketua ini kan pestisida-nya Pak, tadi yang kita maksudkan bahan baku. Ap!lkah ini sudah termasuk dalam Pasal 30 Ayat (2) itu tadi Pak, apakah ini ... .

KETUA RAPAT :

Jadi pengadaan sudah termasuk ex import, tapi ini hanya pestisida dan bahan bakunya barangkali tambah. Melakukan pendaftaran dan mengawasi pengadaan peredaran serta penggunaan pestisida dan bahan bakunya.

Barangkali walaupun sudah diketuk ini soal.

FPP (DRS. H. MARDINSY AH) ;

Ya Pak tadi kita sepakat mengenai bahan bakunya, apakah ini tetap dimasukkan atau tidak, tadi kita sepakat kita masukkan setelah pasal-pasal 30. Namun dengan ini kita lihat tidak muncul lagi Pak dilesapkan dia, di mana dia dilesapkan ini.

KETUA RAPAT:

Kita tanyakan pada Pemerintah barangkali, apakah mengenai bahan baku

kalau ditambah diujung itu "pestisida dan bahan bakunya". Saya kira benar tidak, perlu diawasi a tau didaftar nanti ada peredaran bahan baku.

FABRI (DRS. S. SOEMIARNO, M.A.l: INTERUPSI.

Sebentar Pak, jadi kalau kita bersepakat dari Pasal 34 yang merupakan bagian itu hanya menjelaskan Pasal 31. Pasal 32. dan Pasal 33. Sedangkan yang dimaksud dari FPP itu Pasal 30 Ayat !2J belum diatur di dalam ini.

Iniyang ditanyakan Pak, sedangkan di dalam Pasal 34 yang kita atur itu hanya Pasal 31. Pasal 32, dan Pasal 33. Apakah bisa untuk per-lakukan itu lalu berlakunya mulai stjak PasaJ 30. rumusan yang ke 34 nya itu 30. 3 J, 32, 33 ini pertanyaannya Pak.

KETUA RAPA T :

Kami bicarakan barangkali ditambah Pasal 30 mengenai pengaturan lebih laqjut itu. Bunyinya Pasal 30, tayangkan 34 itu dulu yang baru :

"Ketentuan tentang pendaftaran dan pengawasan (memang ini dua saja mengenai 31, 32, 33 mengenai import-nya enggak masuk dia) karena essensi-nya pendaftaran dan pengawasan. Apakah ini perlu didaftar dan diawasi bahan bakunya Pak, inilah pertanyaan bahwa Pemerintah bisa mertjawab inL

Silakan.

PEMERINTAH (MENTERI PERTANIAN/IR. WARDOYO):

Yang jelas bahan baku itu kalau di import perlu ujianjuga, jadi ada peng-awasan, jadi yang didaftar itu pestisida-nya.

KETUA RAPAT:

Ini jelas tentang pendaftaran dan pengawasan essensi dari yang mau diatur. Kalau soal impor dan sebagainya kami lihat dulu apa bunyinya Pasal 31.

Silakan F ABRI.

FABRI (F. SUK.ORAHARDJO):

Sambil menunggu ini barangkali kita pikirkan Pak. Kalau dalam rangka budidaya tanaman itu semestinya hanya pestisidanya, bahan baku itu se-benarnya hanya unsur kimia yartg tidak termasuk di dalam ruang lingkup budidaya tanaman, dan itu menjadi wewenang barangkali Direktur Jenderal Kimia Dasar untuk perizinan impor, ekspor dan lain-lainnya itu. Sehingga mungkin kita pikirkan lebih lanjut apakah perlu dengan menulis bahan

baku-nya itu. ·

KETUA RAPAT:

Apa tidak ada yang mengetahui, Komisi pestisida ada tidak dari

Depar-temen. Mungkin ada ketentuan-ketentuan mengenai bahan baku ini. Kalau kita masukkan di sini kita mengatur-ngatur bagian orang pula ini maksudnya Pak Suko.

FABRI (F. SUKORAHARDJO):

Jadi kalau bahan baku itu belum termasuk pestisida dalam ruang lingkup budidaya tanaman Pak.

KETUA RAPAT:

Di luar ini konteknya. bahan baku itu bisa bukan hanya untuk pestisida, apa itu untuk bahan semprot nyamuk baygon, bukan termasuk budidaya.

FABRI (F. SUKORAHARDJO):

Tapi termasuk obat-obatan untuk manusia segala.

KETUA RAPAT:

Obat-obatan barangkali.

FABRI (F. SUKORAHARDJO):

Jadi bahan bakunya tidak perlu diatur. Kembali ke usul kami semula tadi.

KETUA RAPAT:

Bagaimana Pak Mardinsyah apa, karena yang menjadi terkaitan budidaya tanaman dengan bahan kimia ini juga jadi pertisida.

Silakan Pak Mardinsyah.

FPP (DRS. H. MARDINSYAH):

Bapak Ketua, dan Bapak-bapak ini kan Pemerintah, kita tidak mengata-kan Menteri Pertanian. Pemerintah, dan itu juga sesuai dengan ketentuan internasional tentang ini Pak bahan baku ini. Itu kalau sependapat, kalau tidak ya tak apa-apa. Tapi kami mengingatkan ini Pemerintah, tadi kalau tidak salah tangkap dari Pak Suko itu seolah-olah Menteri Perindustrian atau Per-tanian, ta pi Pemerintah siapa saja Pak. Sebab bahan baku ini Pak kita mengikuti peraturan intemasional, tidak hanya Jegalitas saja tapi melingkupi daripada internasional. lni yang kami mohonkan apakah ini wajar atau tidak.

Ini untuk karni bersama. bukan untuk apa-apa ini. Jadi kami maksudkan ini untuk kitalah ya untuk menyempurnakan daripada RUU ini. Sebab dari-pada Pak Menteri ini memahami aturan-aturan pestisida ini selain inter-nasional.

KETUA RAPAT:

Kalau ada dari komisi pestisida bisa membantu kita barangkali. Ketentu-an-ketentuan perundangan yang ada mengenai bahan baku ini, kalau tidak ada tak relevan diatur di sini begitu.

Silakan.

FPP (H. IMAM CHURMEN):

Kalau diizinkan karena ini memang sangat prinsipial, kalau Fraksi kami mengusulkan masalah ini ada dasarnya. Sehin.gga karena ini kalau diizinkan kami minta di lobi, supaya kami juga akan menunjukkan ketentuan inter-nasional yang menyangkut BFO maupun FHO itu ada, ditulis secara jelas dan ini masuk justru dari PAN yang mengharapkan kami supaya merangkum mengakomodasi, sehingga kami secara moril berkewajiban. Jadi seperti maka-lah yang kami sajikan kepada Pimpinan itu mengharapkan kami seperti hal-nya kalau kami baca Pasal 27 sehingga kami memahami dan mengerti bahwa FKP bertahan, memang menurut PAN itu tidak perlu adanya perubahan tambahan dan, jika cukup dengan konsep Pemerintah, kami memahami.

Sehingga ditegaskan olehnya mengenai harga dasar gabah sebagaimana yang dimaksudkan oleh PAN. Ini sekedar permohonan kami apabila disepakati untuk minta diskors karena masalah ini tanggung jawab kita semua. Seperti halnya kalau tadi rekan dari FABRI mengemukakan pengamat daripada yang dimuat daripada Suara Pembaruan itu memang patut untuk dipertimbangkan sehingga keperhatian kita terhadap masalah ini memang perlu dicermati dan secara tegas.

Demikian, dan kalau memang disepakati min ta diskors barang 10 menit untuk mengadakan suatu pendekatan:. Kalau tidak ya tidak menjadi masalah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baiklah, kami apa ini sudah ada di tangan anda semua, dari PAN itu?

Memang menarik juga ini. Kami kira usul FPP dapat diterima untuk kita lobikan sebentar, lobikan antar Fraksi dengan Pemerintah atau di intern Fraksi sendiri.

Dapat disetujui? Kira-kira 10 menit.

(RAPAT SETUJU) Tepat l 0 menit rapat dapat dibuka kembali.

Bapak Ibu yang kahli hormati.

10 menit kita cukup untuk berpikir dengan tenang dan mencari ke-kurangan yang ada pada kita. Sebab kami pikir-pikir apa ini istilahnya tapi

tidak ke luar-ke luar di otak ini, maka keluarlah istilah bahan baku. Padahal istilah bahan baku ini amat luas. nanti akan dijelaskan oleh Pemerintah.

Sehingga Pasal 30 Ayat (2) itu perlu kita ca but palunya dulu sebentar. Karena ternyata istilah bahan baku ini tidak tepat di dalam pestisida.

Kami silakav Pemerintah lebih dulu.

PEMERINTAH (MENTERI PERTANIAN/IR. WAROOYO):

Bapak Pimpinan dan Bapak Ibu sekalian yang kami hormati.

Di dalam istilah yang biasa kita gunakan di dalam pengaturan pestisida ini kita tidak menggunakan istilah bahan baku tetapi bahan aktifnya. Karena di samping bahan aktif itu ada carier dan kadang-kadang kandungan bahan aktif itu hanya beberapa prosen. Misalnya saja Fora dan 3 D itu bahan a,.ktif-nya keguguran haa,.ktif-nya 3% yang laina,.ktif-nya pasir haa,.ktif-nya itu bahan bakua,.ktif-nya pasir.

Jadi kami kira, oleh karena itu kami kira lebih tepat kalau kita gunakan bahan aktif.

Yang kedua, karena memang bahan aktif termasuk juga di daftar diawasi juga, mungkin bisa dikatakan bahwa kita tambahkan saja di dalam Penjelasan bahwa yang dimaksud pestisida ini adalah sesuai dengan berikut bahan aktif-nya. Jadi dengan demikian lalu ketentuan-ketentuan tadi kami kira bisa ber-laku semua.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

Te rim a kasih.

Kami kira cukup jelas mengenai bahan aktif ini sudah merupakan bagian tak terpisahkan dari pestisida, sehingga tak perlu barangkali disebutkan secara eksplosif di dalarn pasal nanti dijelaskan di dalam penjelasan pasal itu.

Jadi kalau kita melihat pengertian pestisida, ini tadi bahan aktif ini yang dari kimia ya Pak, jadi itu diperlukan penjelasan. Mengenai pestisida yang dari bahan kimia, karena di semua dari bahan kimia, jadi semua Pak, jadi perlu penjelasan. Pestisida yang menggunakan bahan kimia termasuk di

dalamnya adalah bahan aktifnya. ·

Sehingga dari naskah RUU yang sudah kita ketok paJu kita cabut bahan baku yang salah istilah itu. sehingga hilangkan ini dari situ. Dihilangkan dari naskah dan ini dijelaskan, karena pestisida menurut ketentuan umum luas sekali, ada bahan iainnya virus dan sebagainya, sehingga tak kenal kita sebut bahan bakunya, virus tidak ada bahan bakunya Pak. Yang perlu dijelaskan adalah pestisida yang menggunakan bahan kimia itu sudah termasuk bahan aktifnya. Inilah yang kita tangkap dari Pemerintah.

Silakan FKP.

FKP (IR. UMBU MEHANG KUNDA):

Terima kasih Bapak Ketua.

Dan terima kasih kepada Bapak Menteri, yang telah memberikan pen-jelasan dan kami kir.a FKP kembali menyadari bahwa essensi yang dikemuka-kan oleh Bapak Menteri memang itulah yang betul dan mestinya kami dengan Pak Ketua minta maaf karena tak ke luar barang tadi itu. Padahal ilmu kita itu memang kami kira perlu kita pahami ini, dan oleh karena itu FKP sangat sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Bapak Menteri sehingga dalam penjelasan bila perlu kita jelaskan sejelas-jelasnya mengenai essensi yang di-kemukakan FPP tadi.

Kami kira demikian Bapak Ketua.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Silakan FABRI.

FABRI (F. SUKORAHARDJO):

FABRI juga demikian Pak, selain terima kasih kepada Pemerintah telah menjelaskan, juga kepada rekan kami FPP yang telah memunculkan permasalahan ini sehingga RUU ini betul-betul lebih baik.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Memang tadi Pak Mardinsyah tidak cut ke cut lebih jelas tapi cara mem-bentuk kita untuk membenarkan apa yang harus kita, ini keliru Pak sudah jelas bahan baku tidak ada istilahnya.

Silakan FPP.

FPP (DRS. H. MARDINSYAH):

Terima kasih Menteri dan Bapak-bapak dari Fraksi.

Dengan koreksi dari Pak Menteri bahan baku menjadi bahan aktif in suatu hal yang lebih menyempumakan daripada RUU kita. Namun dimasuk kan di dalam penjelasan apakah sudah tertampung ini Pak, kalau sudah ter-ta,mpung tidak menjadi masalah. Artinya urgensi daripada bahan aktif ini sudah tertampung di dalam Ketetapan Pemerintah. Apa ini termasuk di dalamnya bahwa di dalam Peraturan Pemerintah ini apa ada kaitan dengan sanksi hukum atau tidak. Kalau tidak perlu sanksi hukumnya di dalam pen-jelasan perlu kita buatkan, tapi kalau ada sanksi hukum yaitu kita buat di dalam suatu masukkanlah suatu ayat. Sedangkan kami lihat kepada sanksi hukum tidak ada Pak dalam pasal ini sebelum dirubah. perubahannya masuk nggak? Kalau masuk itu disatukan ayatnya Pak. Di PasaJ 30 itu hanya Ayat

(I) yang dimasukkan di dalam sanksi hukum. Jadi ·masih mohon penjelasan P'ak Menteri apa ini sudah tepat di dalam penjelasan tanpa dikaitkan denga.n suatu ketentuan Peraturan Perundangan atau oleh Pemerintah ditetapkan.

Hanya itu Pak, hanya kami mohon penjelasan Bapak Menteri apa perlu ditetapkan dengan suatu Peraturan Pemerintah atau denga.n Peraturan Pe-merin tah saja Pak.

Terima kasih P-ak.

K.ETUA RAPAT:

Terima kasih.

Kami rasa tadi sudah dijelaskan Pak kalau kita baGa k~tentuan pesti'sida bukan hanya bahan kimia, yang punya bahan aktif hanya pestisida dari yang kimia, sedangkan virus tidak a.da sedangkan bahan lainnya ~rangkali tak ada.

Jadi kalau kita tempel di situ kata itu maka dia hanya bahan kimia, padahal pestisida itu bukan hanya bahan kimia. Sehingga. dijelaskanlah pestisida dalam kata pestisida pasal itu pestisida yang bahan kimia termasuk bahan aktif.

Dan kami kira penjelasan itu tidak terlepaskan dari, kita letakkan di sini jadi kaku, nanti pestisida itu rnenjadi hanya bahan kimia. Ini hanya mem-bantu.

Kami persilakan Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI PERTANIAN/IR. WARDOYO):

Hanya yang dikatakan oleh Pak Ketua. · KETUA RAPAT:

Kami kembalikan FPDI dulu.

FPDI (RR. DJADJA WINATAKUSUMAH):

Saudara Ketua.

Mengenai apa yang dikemukakan dari rekan kami dari FPP, pertama kita sudah komitmen di dalam penjelasan umum mengenai pestisida. Yang kedua, kalau mengenai masalah bahan baku yang dikemukakan oleh teman kami itu tadi, kami lebih cenderung di dalam hal ini mohon izin agar pihak Pemerintah diberi kesempatan untuk berkonsultasi denga.n Departemen yang terkait denga.n masalah perkimiaan ini. Yang ketiga.nya, kami mengusulkan apa yang dikemukftkan oleh teman kami itu tadi di-Panja-kan saja Pak Ketua.

Sekian dan terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, kalau perlu diputar lagi.

Silakan dari FPP.

FPP (DRS. H. MARDINSYAH):

Kita sepakat Pak, bukan bahan baku menjadi bahan aktif. Pak Djadja tadi sudah ada koreksi dari Pemerintah itu bahan aktif bukan ·bahan baku.

Kalau ini memang sudah tepat di dalam penjelasan, ka~l' tidak ada masalah tapi kalau tidak tepat ini yang kita masalahkan Pak. Jadi kalau Bapak-bapak clan Pemerintah istilah itu tepat di 'pet\ielasan. Kalau tidak tepat di mana tempatnya, kita carikan.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

Ada lagi, tidak ada. Apakah bisa kita menarik kesimpulan ini, kita tadi sudah angkat palu terpaksa dicabut lagi untuk Pasal 30 karena satu kata koma saja ini masalah di Undang-undang, kita harus ketuk kembali ini, koreksi yang sangat penting, mendasar, yang sangat dibantu oleh pemikiran yang ber-kembang dari FPP tadi. Sehingga kelalaian kita bisa dikoreksi.

Kami kira formulasinya.

FPP (R IMAM CHURMEN); INTER UPSI

Jadi dengan penjelasan Pemerintah dan serta ungkapan dari FPP apabila pencantuman masalah bahan aktif dalam pengertian yang terkandung di dalam pestisida itu di dalam penjelasan telah mencakup apa makna yang terkandung di dalamnya seperti apa yang dikemukakan oleh FPP kami kira tidak ada masalah, jadi kami tidak ingin, tapi karena ini merupakan tanggung jawab kita bersama, apabila disepakati ya kalau benar, benar kita semuanya, kalau salah ya salah kita semua, bukan salah di luar kami, kami juga ikut bersalah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Kami kira kita sudah benar Pak, tidak salah lagi. Maka formulasi Ayat (2) .Pasal 30 kembali ke naskah yang ada di layar. Pemerintah menetapka'n standar mutu pestisida sebagaimana yang dimaksud dalatn Ayat (1) dan jenis pestisida yang boleh diimpor. Ini keputusan pertama.

Kedua, mengenai pestisida yang bahan kimia dijelaskan sudah tennasuk bahan aktifnya di dalarn penjelasan pasal ini.

Inilah yang dapat kami suguhkan.

Dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU)

Selesai, sehingga yang lain-lainnya nanti akan terjawab semua pacla pasal benkutnya, peredaran dan sebagainya termasuk bahan aktifnya itu. Asal suclah nama pestisida kalau yang dari bahan kimia termasuk bahan aktifnya.

Sehingga kita suclah bisa melanjutkan ke P-asal 35. FPP hanya nomor, FPDI tetap, FA.SRI ada catatan kami lihat, FKP acla?

Silakan FABRI dulu.

FABRI (F. SUKORAHARDJO):

Dari FABRI melakukan koreksi sedikit bahwa menetapkan standar alat clan pengawasannya P-ak, sehingga Ayat (l) berbunyi; Pemerintah me-netapkan standar alat clan mesin budidaya tanaman yan~ diproduksi serta melakukan pengawasan peredarannya.

Terima kasih.

KETUARAPAT:

Silakan FKP.

FKP (H. MUHAMMAD ALI SRI INDERADJAJA) :

Mengenai Pasal 35 Ayat (l) kami persilakan untuk memeriksa halaman 39. P-asal 35 Ayat (1 ) rumusannya disempurnakan dengan menambah kata-kata jenis dan di antara kata-kata menetapkan dan kata-kata standar. Yang selanjutnya berbunyi sebagai berikut :

Satu. Pemerintah menetapknan jenis dan standar alat dan mesin budidaya ta-naman yang produksi dan peredarannya perlu diawasi.

Ayat (2) : Alat dan mesin budidaya tanaman sebagaimana tersebut di dalam Ayat (1 ) diuji terlebih dahulu sebelum diedarkan.

Alasan : Yang perlu diterapkan bukan hanya standar alat dan mesin budidaya tetapi juga jenis sehingga dapat dicegah atau dikurangi adanya banyak dan berbagai macam alat dan mesin yang melindungi konsumen atau petani atau-pun dapat mematikan industri alat dan mesin produksi dalam negeri.

Alasan : Yang perlu diterapkan bukan hanya standar alat dan mesin budidaya tetapi juga jenis sehingga dapat dicegah atau dikurangi adanya banyak dan berbagai macam alat dan mesin yang melindungi konsumen atau petani atau-pun dapat mematikan industri alat dan mesin produksi dalam negeri.

Dokumen terkait