BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.2. Landasan Teori
2.2.6. Rasio CAMEL
Untuk menilai kinerja perusahaan perbankan umumnya digunakan lima aspek penilaian yaitu CAMEL (Capital, Assets, Management, Earnings, dan Liquidity). Empat dari lima aspek tersebut masing-masing
capital, assets, earnings, dan liquidity dinilai dengan menggunakan rasio keuangan. Hal ini menunjukkan bahwa rasio keuangan bermanfaat dalam menilai kondisi keuangan perbankan. Selain itu, rasio keuangan juga
bermanfaat dalam memprediksi laba perusahaan. Dalam hal ini akan dijelaskan rasio CAMEL dalam hubungannya dengan rasio keuangan.
1. Capital
Modal (capital) adalah dana yang diinvestasikan oleh pemilik dalam pendirian badan usaha yang dimaksudkan untuk membiayai kegiatan usaha bank disamping memenuhi peraturan yang ditetapkan. Permodalan sering disebut juga sebagai analisa solvabilitas yaitu sebagai ukuran kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka panjangnya atau kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban-kewajiban jika terjadi likuidasi bank (Dendawijaya, 2000 : 122).
Fungsi modal bank yang paling utama adalah untuk memberikan perlindungan terhadap nasabah atas kemungkinan terjadinya kerugian yang melebihi jumlah yang diperkirakan oleh bank (Martono, 2002 : 84).
Berdasarkan surat edaran Bank Indonesia perihal kewajiban modal (capital) minimum bagi bank umum, diukur dari prosentase tertentu dari aktiva tertimbang menurut resiko (ATMR) yang dapat dilihat dengan:
Capital Adequacy Ratio (CAR)
Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio yang
risiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari dana modal sendiri bank, di samping memperoleh dana dari sumber-sumber di luar bank, seperti dana masyarakat, pinjaman (utang), dan lain-lain. Dengan kata lain, capital adequacy ratio adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan (Dendawijaya, 2005 : 121).
Capital Adequacy Ratio merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko. CAR menurut standar BIS (Bank for International Settlements) minimum sebesar 8%, jika kurang dari itu maka akan dikenakan denda oleh Bank Sentral (Nurhafita dan Tintri, 2010 : 3).
2. Assets Quality
Menurut Dendawijaya (2001 : 144), assets quality adalah semua aktiva dalam rupiah maupun valuta asing yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk memperoleh penghasilan yang sesuai dengan fungsinya, yang meliputi:
1. Kredit yang diberikan bank dan telah dicairkan.
2. Surat-surat berharga.
4. Tagihan pada bank lain.
Penilaian kualitas aktiva produktif terdiri dari (Dendawijaya, 2001:153)
1. Perbandingan (rasio) antara penyisihan penghapusan aktiva produktif dan jumlah aktiva produktif yang diklasifikasikan.
2. Perbandingan (rasio) antara penyisihan penghapusan aktiva produktif yang dibentuk dan penyisihan penghapusan aktiva produktif yang wajib dibentuk.
Menurut Dahlan Siamat (2001 : 134), aktiva produktif adalah semua penanaman dana dalam rupiah dan valuta asing yang dimaksudkan untuk memperoleh pengahsilan sesuai dengan fungsinya. Pengelolaan dana dalam aktiva produktif merupakan sumber pendapatan yang digunakan untuk membiayai keseluruhan biaya operasional bank termasuk biaya bunga dan biaya tenaga kerja.
Penilaian asset yang digunakan adalah menggunakan rasio NPL (Non Performing Loans). Rasio Non Performing Loans (NPL) menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Kelangsungan hidup bank sangat tergantung pada kesiapan bank tersebut dalam menghadapi kerugian sebagai akibat adanya kredit bermasalah.
Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum, semakin tinggi nilai NPL di atas 5% maka bank tersebut tidak sehat.
3. Earnings
Earnings adalah kemampuan bank untuk mendapatkan keuntungan (laba) dalam kurun waktu tertentu yang dinyatakan dalam prosentase assets dan modal (Muljono T., 1999 : 130). Laba yang diperoleh bank atas usaha yang dilakukan dari waktu ke waktu haruslah mampu digunakan sebagai sumber dana (internal generated funds) guna menutupi kerugian-kerugian yang mungkin timbul di kemudian hari. Dengan demikian, akan dapat dipertahankan suatu struktur permodalan yang kuat, khususnya bagi kepentingan pemeliharaan stabilitas posisi solvabilitasnya.
Penilaian kuantitatif terhadap rentabilitas bank didasarkan pada dua rasio dengan bobot yang sama, yaitu:
1. Rasio perbandingan laba sebelum pajak dalam 12 bulan terakhir terhadap rata-rata volume usaha (ROA) dalam periode yang sama. Ratio Return on Assets (ROA) ini merupakan penilaian atas dasar kemampuan bank dalam memperoleh laba atau penghasilan dari assets yang dimiliki. Hal ini digunakan untuk
menilai sejauh mana assets yang dimiliki oleh bank dapat menghasilkan return.
2. Rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional dalam periode yang sama.
Rasio ini merupakan perbandingan antara biaya operasional yang menjadi beban bank terhadap pendapatan operasional bank selama periode tertentu yang bertujuan menilai efisiensi dan efektivitas bank dalam menekan biaya operasional (operating expense) bank, karena dengan menekan pengeluaran untuk biaya operasional maka laba akan meningkat.
4. Liquidity
Liquidity adalah kemampuan suatu bank untuk
menyediakan alat likuid untuk membayar segala kewajibannya serta penyediaan berbagai jenis likuid untuk meningkatkan kredit dan menambah harta lainnya.
Menurut Oliver G. Wood dan Robert J. Porter pengertian likuiditas suatu bank adalah sebagai berikut:
“Bank’s liquidity its ability to met deposit withdrawls, maturing it is
Ada beberapa kriteria yang secara murni dapat dipakai sebagai alat ukur dari suatu bank yang dikatakan likuid (Muljono, 1999 : 249) yaitu:
1. Bank yang bersangkutan mempunyai cash assets baik yang ada di rekening Bank Sentral atau rekening bank-bank lain yang jumlahnya seimbang dengan perkiraan kebutuhan likuiditasnya.
2. Apabila cash assets yang dimiliki tersebut kurang memadai, tetapi bank yang bersangkutan juga memiliki assets lain terutama surat-surat berharga yang dapat ditunaikan dengan segera tanpa mengalami kerugian.
3. Bank yang bersangkutan mempunyai kemampuan untuk memperoleh cash assets dengan menciptakan hutang-hutang baru dengan segera.
Penilaian atas likuiditas bank didasarkan pada rasio Loan to Deposit Ratio (LDR). Loan to Deposit Ratio menyatakan seberapa jauh kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai sumber likuiditasnya. Dengan kata lain, seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah kredit dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit.
Semakin tinggi rasio tersebut memberikan indikasi semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai kredit semakin besar.