• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KEPUASAN STAF

SURPLUS UNIT POTENSIAL

I. RASIO KEUANGAN 1. Rasio kas

Menunjukan tingkat ketersediaan kas yang dimiliki rumah sakit untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Di tahun 2014 mendapatkan skor 1 meningkat jika dibandingkan tahun 2013 dengan skor 0.50 skor tertinggi adalah 2, hal ini menunjukkan kas di RSUPN-CM masih likuid.

No KINERJA KEUANGAN

Rasio Keuangan 2014 2013 2012 2011 2010

1 Rasio Kas/RK (Cash Ratio) 1.00 0.50 15.00 15.00 15.00

2 Rasio Lancar/RL (Current Ratio) 0.50 0.50 15.00 15.00 15.00

3 Periode Penagihan Piutang/PPP (Collection Period) 1.50 0.50 13.50 15.00 15.00

4 Perputaran Aset Tetap/PAT (Fixed Asset Turnover) 2.00 2.00 7.00 6.00 5.00

5 Imbalan atas Aktiva Tetap/ROFA (Return on Fixed Asset) 0.00 0.00 13.00 13.00 18.00

6 Imbalan Ekuitas/ROE (Return on Equity) 0.00 0.00 4.00 5.00 11.00

7 Perputaran Persediaan/PP (Inventory Turnover) 2.00 2.00 10.00 10.00 10.00

8 Rasio Pendapatan PNBP thd Biaya Operasional/PB 2.50 2.50

9 Rasio Subsidi Biaya Pasien/SBP 1.50 2.00

11.00 10.00 77.50 79.00 89.00

Asas Kepatuhan

1 Rencana Bisnis dan Anggaran (RBA) Definitif 2.00 2.00 2 Laporan Keuangan Berdasarkan SAK : 1.80 1.85 3 Surat Perintah Pengesahan Pendapatan dan Belanja BLU (SP3B BLU) 2.00 2.00

4 Tarif Layanan 1.00 0.75

5 Sistem Akuntansi 1.00 1.00

6 Persetujuan Rekening 0.50 0.50 7 SOP Pengelolaan Kas 0.50 0.50 8 SOP Pengelolaan Piutang 0.50 0.50 9 SOP Pengelolaan Utang 0.50 0.50 10 SOP Pengadaan Barang dan Jasa 0.50 0.50 11 SOP Pengelolaan Barang Inventaris 0.50 0.50

10.80

10.60

Total skor 21.80 20.60

42

2. Rasio lancar

Rasio ini menunjukan kemampuan rumah sakit dalam memenuhi seluruh kewajiban jangka pendek dengan menggunakan asset yang paling likuid (kas, piutang dan persediaan). Skor tertinggi 2,5 tahun 2014 dan tahun 2013 RSUPN-CM mendapat skor 0,5 jadi masih dibawah target hal ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% asset likuid rumah sakit digunakan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Namun demikian rasio lancar RSUPN-CM masih dalam kondisi likuid. Untuk tahun 2010-2012 rasio ini memiliki skor tertinggi 15 artinya dalam periode tersebut RSUPN-CM sangat likuid. Secara umum selama 5 tahun rasio lancar RSUPN-CM dalam kondisi likuid.

3. Periode penagihan piutang

Rasio ini menunjukan kemampuan rumah sakit dalam menagihkan piutang usahanya yang diukur dalam satuan waktu. Skor teringgi untuk rasio ini adalah 2 dimana waktu yang dibutuhkan untuk menagihkan piutangnya adalah kurang dari 30 hari. Di tahun 2014 skor yang didapat adalah 1,5 dimana waktu yang dibutuhkan rumah sakit untuk menagihkan piutangnya adalah 30 hari, jika tahun 2013 waktu yang dibutuhkan 77 hari. Maka RSUPN-CM sudah telah berhasil melakukan percepatan penagihan piutangnya selama 47 hari, tahun 2010-2012 membutuhkan waktu 40-60 hari. Terlihat kinerja RS dalam proses penagihan piutang mengalami peningkatan.

4. Perputaran aset tetap

Rasio ini menunjukan efisiensi relatife penggunaan asset rumah sakit (diluar kontruksi dalam pengerjaan) untuk menghasilkan pendapatan rumah sakit (PNBP). Skor tertinggi untuk rasio ini adalah 2 di mana rasio pendapatan operasional berbanding asset tetap di atas 20%. Di tahun 2013 dan 2014 RS mendapat skor 2, maka dapat dikatakan rumah sakit sudah efisien dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan pendapatan. Terdapat perbedaan difinisi pendapatan di tahun 2014 dan 2013 dengan tahun 2010-2012. Di tahun 2013 dan 2014 yang dimaksud pendapatan adalah pendapatan rumah sakit (PNBP) saja sementara di tahun 2010-2012 pendapatan adalah total pendapatan (PNBP dan APBN). Skor tertinggi untuk rasio ini adalah 10, di mana rasio pendapatan berbanding asset adalah >120%. Skor yang didapat periode 2010-2012 berkisar antara 40-50%, hal ini menggambarkan RS belum mampu menggunakan asetnya secara efisien.

5. Imbalan atas aktiva tetap/ROFA

Rasio ini menunjukkan perbandingan antara surplus/defisit dengan aset tetapnya. Surplus/defisit yang diperhitungkan di sini tidak termasuk investasi APBN dan biaya penyusutan. Skor tertinggi dari rasio ini adalah 2 dimana ROFA ynag diharapkan diatas dari 6%. Dalam tahun 2014 dan 2013,

RSUPN-43 CM mendapatkan skor 0 (nul) karena mengalami defisit mengingat investasi APBN tidak diperhitungkan. Hal ini menunjukkan RSUPN-CM masih membutuhkan bantuan dana dari pemerintah dalam melakukan operasionalnya. Untuk tahun 2010-2012 , rasio yang diperhitungkan berupa rasio aktiva bersih terhadap total aktiva. Dalam periode ini investasi APBN diperhitungkan dalam pendapatan sehingga terjadi surplus. Dalam periode ini skor tertinggi adalah 20 dimana tingkat rasio sebesar 30-40% , sedangkan skor yang diperoleh RSUPN-CM 13-18 yang menggambarkan lebih dari 90% ekuitas yang diperoleh RSUPN-CM digunakan untuk menambah aset tetapnya

6. Imbalan ekuitas/ROE

Rasio ini menunjukkan perbandingan antara surplus/defisit dengan selisih antara ekuitas dengan surplus/defisit. Skor tertinggi adalah 2 di mana rasio ROE di atas 8%. Di tahun 2014 dan 2013, skor yang didapat RSUPN-CM adalah 0 (nul). Sama halnya dengan ROFA, RSUPN-CM masih membutuhkan bantuan investasi dari pemerintah (APBN), tanpa APBN RSUPN-CM mengalami defisit sehingga ROE nya sebesar 0% . Di tahun 2010-2012 rasio yang diperhitungkan adalah ROI (Return on Investment). Pada rasio ini pendapatan yang bersumber dari APBN diperhitungkan. Skor tertinggi dari ROI adalah 15 dengan rasio di atas 18% , dan RSUPN-CM mendapatkan skor 11 (th 2010), 5 (th 2011) dan 4 (th 2012) . Rata rata rasio ROI dalam 3 tahun tersebut adalah di bawah 10%. Hal ini menunjukan bahwa tingkat keuntungan yang diharapkan atas investasi yang dilakukan belum optimal.

7. Perputaran persediaan

Rasio ini menunjukkan rata - rata jumlah hari yang dibutuhkan rumah sakit untuk mengubah persediaan menjadi pendapatan. Skor tertinggi adalah 2 dengan jumlah waktu kurang dari 35 hari. Di tahun 2014 dan 2013, RSUPN-CM mendapatkan skor tertinggi yakni 2 karena RSUPN-CM membutuhkan waktu 15 hari (th 2014) dan 12 hari (th 2013) untuk mengubah persediaan menjadi pendapatan. Jika dibandingkan dengan tahun 2013, di tahun 2014 kinerja RSUPN-CM menurun, namun masih dalam range skor tertinggi. Untuk tahun 2010-2012, RSUPN-CM juga mendapatkan skor tertinggi yaitu 10 karena rata rata waktu yang dibutuhkan untuk mengubah persediaan menjadi pendapatan di bawah 30 hari. Secara umum kinerja RSUPN-CM untuk rasio ini sudah sangat baik.

8. Rasio pendapatan PNBP terhadap biaya operasional

Rasio ini baru diperhitungkan di tahun 2013 sesuai dengan peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor Per-54/PB/2013. Rasio ini membandingkan pendapatan rumah sakit (PNBP) dengan seluruh biaya operasionalnya. Skor tertinggi untuk rasio ini adalah 2,5 dengan rasio di atas 65% . Di tahun 2014 dan 2013 RSUPN-CM memperoleh skor 2,5, dengan rasio 87% (th 2014) dan

44 69% (th 2013). Rasio ini menggambarkan kemampuan rumah sakit dalam melakukan kegiatan operasionalnya tanpa bantuan dari pemerintah. Dan RSUPN-CM memiliki kinerja yang bagus untuk rasio ini.

9. Rasio subsidi biaya pasien

Rasio ini menggambarkan perbandingan subsidi rumah sakit terhadap pasien jaminan dengan total pendapatan BLU rumah sakit. Skor tertinggi adalah 2 (dua) dengan rasio antara 10 - 15% . Di tahun 2014 skor RSUPN-CM 1,5 dengan rasio 7% dan di tahun 2013 skor RSUPN-CM 2 dengan rasio 11% . Terjadi penurunan subsidi rumah sakit salah satunya dikarenakan sudah diberlakukannya formularium nasional untuk pasien BPJS.

Asas Kepatuhan

Terdapat 11 aspek penilaian yang dinilai dalam asas kepatuhan ini, yaitu rencana bisnis dan anggaran (RBA) definitif, laporan keuangan berdasarkan SAK, surat perintah pengesahan pendapatan dan belanja BLU (SP3B BLU), tarif layanan, sistem akuntansi, persetujuan rekening, SOP pengelolaan kas, SOP pengelolaan piutang, SOP pengelolaan utang, SOP pengadaan barang dan jasa, SOP pengelolaan barang inventaris .

Di tahun 2014 ini skor RSUPN-CM untuk asas kepatuhan ini mendapatkan skor 10,8 dari skor maksimal 11. Ketidaktercapaian asas kepatuhan ini atas kinerja rumah sakit dalam hal laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan. RSUPN-CM dalam menyampaikan laporan keuangan ke Direktorat Pembinaan PK BLU belum dapat tepat waktu, sehingga skor yang didapat sebesar 0,15 (untuk tiap penerbitan laporan keuangan TW I, SMT I, TW 3 dan akhir tahun) dari yang seharusnya 0,2 .

Di tahun 2013 skor yang didapat RSUPN-CM 10,6 dari skor maksimal yaitu 11. Ketidakcapaian atas kepatuhan ini atas kinerja rumah sakit hal laporan keuangan berdasarkan standar akuntansi keuangan dan tarif layanan. RSUPN-CM dalam menyampaikan laporan keuangan ke Direktorat Pembinaan PK BLU belum dapat tepat waktu dan juga pelaksanaan audit laporan keuangan di atas tanggal 31 Mei tahun anggaran berikutnya. Untuk tarif layanan, pada tahun 2013 masih dalam proses penilaian di Kementerian Keuangan. Tarif RSUPN-CM mendapatkan Surat Keputusan dari Kementerian Keuangan pada tanggal 10 Februari 2014 yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK Nomor 34/PMK.05/2014).

Demikian uraian atas kinerja keuangan RSUPN-CM dari tahun 2010 sampai tahun 2014 . Untuk tahun 2014 kinerja keuangan RSUPN-CM mendapatkan skor 73%

45 Hasil perhitungan Kinerja BLU tahun 2014 :

1. Indikator Kinerja Keuangan Nilai Riil = 21.80

2. Indikator Kinerja Pelayanan = 30.25

3. Indikator Kinerja Mutu Pelayanan & Manfaat Bagi Masyarakat= 29.42(+) Total = 81.47

Dari ketiga indikator BLU yang meliputi indikator kinerja keuangan, indikator kinerja pelayanan dan indikator mutu, RSUPN-CM secara keseluruhan mendapatkan jumlah total 81,41 dengan kategori tinggi dengan nilai AA, meningkat dari tahun 2013, yang capaiannya 80,15

Dokumen terkait