BAB II LANDASAN TEORI
D. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham
2. Rasio Leverage
Rasio ini menunjukkan seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Dengan demikian semakin besar proporsi utang yang digunakan untuk menanggung aktiva, maka pemilik modal akan menanggung resiko yang semakin besar pula.
Debt to Equity Ratio (DER)
Rasio ini menunjukkan besarnya aktiva yang di tanggung oleh modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini maka semakin besar risiko yang dihadapi dan investor akan meminta tingkat keuntungan yang semakin tinggi. (Sartono, 2001; 121). Rasio ini menunjukkan perbandingan antara dana pinjaman atau utang dan modal dalam upaya pengembangan perusahaan (Dharmastuti, 2004:18). Utang adalah kewajiban yang harus dibayar oleh parusahaan dengan uang atau jasa pada suatu saat tertentu di masa yang akan datang (Haryono Jusup, 2003; 2003), sedangkan menurut Suwardjono (1994; 71) utang adalah suatu jumlah rupiah yang harus diserahkan kepada pihak lain (dalam bentuk uang atau jasa) menggunakan
kekayaan perusahaan. Untuk dapat disebut sebagai utang, suatu objek atau pos harus mempunyai karakteristik sebagai berikut (1994; 71):
a) Menjadi pengorbanan sumber ekonomik yang cukup pasti di masa datang.
b) Menjadi kewajiban saat atau perioda ini untuk menyerahkan kas, barang atau jasa di masa datang.
c) Terjadi karena transaksi masa lalu.
Modal adalah hak pemilik perusahaan atas kekayaan perusahaan (Jusup, 2003: 23). Modal sendiri adalah kekayaan bersih pemilik/para pemilik yang besarnya dapat diukur dengan cara mencari selisih antara jumlah aktiva dengan jumlah hutang-hutang perusahaan (Sukardji, 1981: 25). Rumus dari rasio ini adalah sebagai berikut (Sartono, 2001: 121)
Debt to Equity Ratio =
Total utang Total Modal sendiri
B. Saham
Suatu perusahaan dalam memberikan hak kepemilikan dapat dilakukan dalam bentuk menerbitkan saham. Dengan saham seseorang dapat dianggap sebagai pemilik dari sebagian perusahaan yang mewakilkan kepada manajemen dalam mengoperasikan perusahaan. Jika perusahaan menerbitkan satu jenis saham saja maka saham tersebut disebut saham biasa.
Dengan memiliki saham biasa pemegang saham dapat memperoleh hak-hak sebagai pemegang saham biasa antara lain:
1. Hak kontrol
Pemegang saham biasa memiliki hak untuk memilih dewan direksi melalui rapat umum pemegang saham.
2. Hak menerima pembagian keuntungan
Pemegang saham dapat memperoleh pembagian keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan dalam bentuk deviden, keuntungan ini dibagikan seteleh perusahaan membagi deviden kepada pemegang saham preferen terlebih dahulu, kemudian sisanya dibagikan kepada pemegang saham biasa.
3. Hak preemptive
Hak untuk mendapatkan presentasi yang sama apabila perusahaan mengeluarkan tambahan lembar saham untuk melindungi control bagi pemegang saham biasa dan untuk mempertahankan kemerosotan harga dari saham baru.
Untuk menarik lebih banyak investor yang mau menanamkan modal bagi perusahaan maka perusahaan menerbitkan jenis saham lain. Jenis saham lain yang biasanya diterbitkan selain saham biasa adalah saham preferen.
Saham preferen mempunyai beberapa karakteristik, beberapa karakteristik tersebut antara lain (Jogiyanto, 2003; 68-69) :
1. Hak terhadap preferen, pemegang saham preferen mempunyai hak untuk menerima deviden pertama kali sebelum pembagian deviden kepada pemegang saham biasa.
2. Hak deviden kumulatif, pemegang saham preferen mempunyai hak memperoleh deviden di tahun-tahun yang sebelumnya yang belum dibagikan, maka deviden yang belum dibagikan akan diakumulasikan sampai deviden tersebut dibagikan kepada pemegang saham preferen. 3. Hak preferen pada waktu likuidasi, pemegang saham preferen
mempunyai hak terhadap aktiva perusahaan terlebih dahulu sebelum pemegang saham biasa pada saat perusahaan dilikuidasi.
Untuk menarik para investor dalam menanamkan modalnya di perusahaan, perusahaan memberikan alternative yang menguntungkan bagi para investor dengan menerbitkan bermacam-macam saham preferen, beberapa macam saham preferen antara lain (Jogiyanto, 2003;70-73):
1. Convertible preferred stock
Dengan saham preferen ini pemegang saham preferen dapat menukarkan saham preferen dengan saham biasa dengan rasio keuangan yang sudah ditentukan.
2. Callable preferred stock
Bentuk lain dari saham preferen adalah perusahaan dapat membeli kembali saham dari pemegang saham pada tanggal tertentu di masa yang akan datang dengan nilai tertentu.
Selain menerbitkan saham biasa dan saham preferen, perusahaan juga menerbitkan jenis saham lain. Saham tersebut adalah saham treasuri. Saham ini merupakan saham milik perusahaan yang sudah beredar kemudian oleh perusahaan dibeli kembali. Hal ini dilakukan untuk (Jogiyanto, 2003; 77);
1. Akan diberikan kepada manajer-manajer atau karyawan perusahaan sebagai bonus atau kompensasi.
2. Meningkatkan volume perdagangan dengan harapan meningkatkan nilai pasarnya.
3. Menambahkan jumlah saham yang tersedia untuk menguasai perusahaan lain.
4. Mengurangi jumlah per lembar saham untuk menaikkan harga saham 5. Dengan mengurangi saham yang beredar maka perusahaan dapat
membatasi perusahaan lain agar dapat menguasai perusahaan dengan cara tidak bersahabat.
Dalam proses penilaian saham perlu dibedakan antara nilai dan harga. Nilai adalah nilai intrinsik yang merupakan nilai yang nyata, nilai ini dipengaruhi oleh faktor fundamental perusahaan. Factor yang mempengaruhi harga saham antara lain:
a. Faktor internal perusahaan
1) Pengaruh pendapatan, para pemegang saham sangat memperhatikan factor pendapatan, karena pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan dapat meramalkan arus dividen di masa datang
2) Pengaruh deviden, pengumuman terhadap deviden terutama pengaruh kenaikan deviden, karena apabila deviden yang di peroleh pemegang saham naik maka harga saham juga berubah.
3) Pertumbuhan laba, perkembangan laba digunakan untuk mengukur oleh lembaga-lembaga keuangan dan para pemegang saham.
b. Faktor eksternal
1) pertumbuhan ekonomi 2) tingkat suku bunga 3) kondisi social politik
4) peraturan-peraturan pemerintah 5) keamanan
C. Harga Saham
Menurut Jogiyanto (2003; 88) menjelaskan bahwa harga saham adalah harga saham yang terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar. Harga pasar saham ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa. Menurut Salim (2003; 7) elemen-elemen yang mendefinisikan harga dan volume di dalam harga saham antara lain:
1. Open
Open adalah harga pembuka atau harga perdagangan pertama untuk suatu periode.
2. High
High adalah harga tertinggi atau harga perdagangan tertinggi untuk suatu periode. High juga mencerminkan harga tertinggi di mana pembeli bersedia membayar.
3. Low
Low adalah harga terendah atau harga perdagangan terendah untuk suatu periode. Low juga mencerminkan di mana penjual bersedia menerima.
4. Close
Close adalah harga penutup atau harga perdagangan terakhir untuk suatu periode. Karena ketersediaannya, close adalah harga yang paling sering digunakan untuk analisis.
5. Volume
Volume adalah jumlah saham yang diperdagangkan untuk satu periode.
6. Bid
Bid adalah harga di mana pembeli bersedia membayar untuk suatu saham.
7. Ask
Ask adalah harga di mana penjual bersedia menerima untuk suatu saham. Menurut Jogiyanto (2003, 80) terdapat beberapa nilai yang berhubungan dengan nilai saham, yaitu nilai buku, nilai pasar dan nilai intrinsik.
1. Nilai buku
Nilai buku merupakan nilai saham menurut pembukuan perusahaan emiten, untuk dapat menghitung nilai buku, diperlukan beberapa nilai yang berhubungan dengan nilai buku, antara lain :
a. Nilai nominal
Nilai nominal merupakan nilai kewajiban yang ditetapkan untuk tiap lembar saham. Nilai nominal mempunyai implikasi terhadap hokum, nilai nominal tidak dapat dikurangi dalam bentuk deviden.
b. Agio saham
Agio saham merupakan selisih antara nilai pasar saham dengan nilai nominal saham.
c. Nilai modal disetor
Nilai modal disetor merupakan total yang dibayarkan pemegang saham kepada perusahaan emiten untuk ditukarkan dengan saham preferen atau dengan saham biasa.
d. Laba ditahan
Laba ditahan merupakan laba yang diperoleh oleh perusahaan namun tidak dibagikan ke dalam bentuk deviden. Laba yang tidak dibagikan akan diinvestasikan kembali sebagai dana internal. 2. Nilai pasar
Nilai pasar merupakan nilai saham yang dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran saham di bursa saham.
3. Nilai intrinsik
Nilai intrinsik merupakan nilai saham yang sebenarnya diperusahaan. Para investor biasanya akan membandingkan nilai intrinsic dengan nilai pasar untuk mengambil keputusan apakah akan membeli saham atau menjual saham. Dalam membeli atau menjual saham, investor akan membandingkam nilai intrinsik dengan nilai pasar saham yang bersangkutan. Pedoman yang digunakan oleh para onvestor adalah sebagai berikut (Husnan, 2005; 282).
a. Apabila NI > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai
undevalued (harganya terlalu rendah) dan karenanya seharusnya saham dibeli atau ditahan apabila saham tersebut telah dimiliki. b. Apabila NI < harga pasar saat ini, maka saham tersebut overvalued
(harganya terlalu mahal), dan karenanya seharusnya dijual.
c. Apabila NI = harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai wajar harganya dan berada dalam kondisi keseimbangan.
Untuk menentukan nilai intrinsic terdapat dua macam analisis yang banyak digunakan, antara lain;
a. Analisis fundamental
Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknik ini menitik beratkan pada rasio finansial dan kejadian - kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang dibeli untuk jangka panjang.
Karena banyaknya faktor yang mempengaruhi harga saham, maka untuk melakukan analisis fundamental diperlukan beberapa tahapan analisis. Tahapan yang dilakukan dimulai dengan analisis dari kondisi makro ekonomi atau kondisi pasar, diikuti dengan analisis industri dan akhirnya analisis kondisi spesifik perusahaan (Husnan, 2005; 308).
b. Analisis teknikal
Analisis teknikal dapat dilakukan untuk saham-saham individual ataupun untuk kondisi pasar secara keseluruhan. Analisis teknikal menggunakan grafik maupun berbagai indikator teknis. Informasi tentang harga dan volume perdagangan merupakan alat utama untuk analisis. Analisis teknikal pada dasarnya merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli atau menjual saham, dengan memanfaatkan indikator-indikator teknis ataupun menggunakan analisis grafis (Husnan, 2005; 341).
D. Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Harga Saham 1. Rasio Profitabilitas
a. Pengaruh Net Profit Margin Terhadap Harga Saham
Net Profit Margin merupakan perbandingan antara laba setelah pajak dengan penjualan. Menurut Dharmastuti (2004; 14-28) Net Profit Margin menunjukkan tingkat keuntungan bersih perusahaan terhadap total penjualan. Dengan demikian apabila perusahaan memperoleh laba bersih yang tinggi, menunjukkan bahwa tingkat profitabilitas perusahaan tinggi. Dengan tingginya tingkat profitabilitas yang diperoleh perusahaan menandakan bahwa perusahaan mampu dalam mengelola usahanya.
Dengan demikian Net Profit Margin dapat digunakan oleh para investor dalam melakukan penilaian terhadap harga saham suatu
perusahaan dan dengan menggunakan Net Profit Margin para investor juga dapat menilai dividen yang akan diperoleh. Apabila Net Profit Margin tinggi maka menunjukkan bahwa perusahaan memperoleh laba yang lebih besar dari hasil penjualannya. Hal ini dapat menarik perhatian para investor yang akan membeli saham perusahaan. Meningkatnya permintaan saham namun penawaran saham tetap, maka akan mengakibatkan harga saham akan meningkat. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat diketahui bahwa Net Profit Margin berpengaruh positif terhadap harga saham.
b. Pengaruh Return On Investment Terhadap Harga Saham
Return On Investment merupakan perbandingan antara laba setelah pajak dengan total aktiva. Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang dipergunakan (Sartono, 2001). Rasio ini sering digunakan oleh para pemimpin perusahaan dalam menilai efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan (Munawir, 2002; 89). Rasio ini juga menghubungkan keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan dengan jumlah investasi atau jumlah aktiva yang digunakan untuk memperoleh keuntungan operasi tersebut (Munawir, 2002: 89).
Return On Investment juga menunjukkan seberapa jauh asset perusahaan untuk menghasilkan laba atau perusahaan telah mengelola seluruh aktiva yang ada di dalam perusahaan secara efisien sehingga
keuntungan perusahaan untuk memperoleh keuntungan semakin tinggi. Apabila Return On Investment suatu perusahaan tinggi, menandakan bahwa perusahaan efektif dalam menggunakan seluruh aktiva yang tersedia di perusahaan, pada prinsipnya semakin baik prestasi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan, apabila keuntungan perusahaan tersebut dibagikan ke dalam bentuk deviden dan tidak di investasikan ke dalam laba ditahan maka prosentase deviden yang diterima para pemegang saham akan meningkat, meningkatnya prosentase deviden yang diterima oleh para pemegang saham akan menarik para investor untuk membeli saham perusahaan, maka akan meningkatkan permintaan saham perusahaan tersebut, sehingga pada gilirannya akan meningkatkan pula harga saham perusahaan (Sasongko dan Wulandari, 2006 64-80). Dengan meningkatnya permintaan saham perusahaan namun penawaran tetap akan meningkatkan harga saham perusahaan. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui bahwa
Return On Inveestment berpengaruh positif terhadap harga saham.
c. Pengaruh Return On Equity Terhadap Harga Saham
Return On Equity merupakan perbandingan antara laba setelah pajak dengan modal sendiri. Rasio ini menunjukkan keberhasilan atau kegagalan pihak manajemen dalam memaksimumkan tingkat hasil pengembalian investasi pemegang saham dan menekankan pada hasil pendapatan sehubungan dengan jumlah yang diinvestasikan (Dewi
Astuti, 2004; 37). Return On Equity merupakan salah satu alat yang paling sering digunakan oleh para investor untuk meningkatkan profitabilitasnya Husnan dikutip oleh Daito (2005; 39)
Semakin besar profitabilitas yang diperoleh maka semakin besar pula dana yang tersedia bagi pemegang saham. Dengan demikian, dengan meningkatnya Return On Equity, besar kemungkinan perusahaan akan membayarkan deviden lebih tinggi sehingga mempunyai resiko yang lebih kecil (Daito, 2005; 40). Dengan meningkatnya Return on Equity maka prosentase deviden yang diterima para pemegang saham juga akan meningkat, dengan meningkatnya prosentse deviden yang diterima para pemegang saham akan menarik perhatian para investor untuk membeli saham perusahaan, hal ini akan meningkatkan permintaan akan saham perusahaan. Meningkatnya permintaan saham namun tidak diikuti oleh penawaran atau penawaran tetap maka akan mengakibatkan harga saham perusahaan tersebut meningkat. Dari penjelasan di atas dapat kita ketahui bahwa Return On Equity
berpengaruh positif terhadap harga saham.
2. Rasio leverage
Pengaruh Debt To Equity Ratio Terhadap Harga Saham
Debt Equity Ratio merupakan perbandingan antara total aktiva dengan total modal. Rasio ini menunjukkan perbandingan antara dana pinjaman atau utang dan modal dalam upaya mengembangkan
perusahaan (Dharmastuti, 2004: 14-28). Apabila Debt to Equity Ratio perusahaan tinggi maka menandakan bahwa struktur permodalan perusahaan lebih banyak menggunakan hutang-hutang atau modal yang ditanamkan oleh investor. Semakin besarnya Debt to Equity Ratio
menandakan bahwa resiko perusahaan yang relative tinggi. Dengan tingginya Debt to Equity Ratio juga menandakan bahwa resiko perusahaan ada kemungkinan laba yang diperoleh oleh perusahaan akan digunakan untuk membayar kewajiban-kewajiban dari perusahaan daripada membagikannya dalam bentuk deviden kepada para pemegang saham (Dharmastuti, 2004: 14-28).
Dengan tingginya Debt to Equity Ratio suatu perusahaan memungkinkan para investor enggan untuk membeli saham atau menanamkan modalnya pada perusahaan tersebut. Hal ini dikarenakan para investor ingin memperoleh laba yang dibagikan dalam bentuk deviden dapat diterima secara teratur. Namun apabila Debt to Equity Ratio rendah maka resiko yang dihadapi oleh para investor rendah. Dengan rendahnya resiko yang dihadapi oleh perusahaan maka akan menarik para investor untuk menanamkan modalnya. Semakin rendah rasio ini maka semakin besar peluang pemegang saham akan memperoleh deviden, dengan adanya pembagian deviden bagi para pemegang saham maka akan meningkatkan prosentase deviden yang diterima para pemegang saham. Dengan demikian akan menarik perhatian para investor untuk membeli saham perusahaan yang akan
meningkatkan permintaan perusahaan. Meningkatnya permintaan perusahaan namun penawaran tetap maka akan mengakibatkan harga saham tersebut juga meningkat. Dari penjelasan diatas maka dapat diketahui bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh negative terhadap harga saham.
E. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Banyak penelitian terdahulu yang telah dilakukan untuk mengetahui apakah harga saham berpengaruh terhadapa harga saham. Berikut ini adalah beberapa hasil penelitian terdahulu.
Anastasia, Gunawan dan Wijiyanti (2003), meneliti tentang Analisis Faktor Fundamental dan Risiko SIstematik Terhadap Harga Saham Properti di BEJ. Dalam penelitiannya menggunakan beberapa faktor fundamental yaitu ROA, ROI, ROE, BV, DER dan risiko sistematik (beta). Dari hasil uji F hasil penelitiannya menjelaskan bahwa semua variabel bebas yang terdiri dari ROA, ROI, ROE, BV, DER dan risiko sistematik (beta) secara bersama-sama berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan dari uji t hanya rasio book value
yang berpengaruh terhadap harga saham.
Sasongko dan Wulandari (2006) penelitian yang dilakukan tentang pengaruh EVA dan rasio-rasio profitabilitas terhadap harga saham. Dalam penelitiannya Sasongko dan Wulandari menggunakan bebrapa rasio profitabilitas, rasio itu antara lain ROA, ROE, ROS, BEP dan EPS. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hasil uji t menunjukkan bahwa EPS berpengaruh terhadap harga saham.
Artinya EPS dapat digunakan untuk menentukan nilai suatu perusahaan, sedangkan rasio ROA, ROE ROS BEP dan EVA tidak berpengaruh terhadap harga saham.
Utami (2005) meneliti tentang pengaruh rasio keuangan terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Dalam penelitiannya Utami menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio, Capital Ratio, Return on Asset, Return to Equity, Net Profit Margin, Earning per Share dan Divident per Share. hasil penelitiannya menyatakan bahwa Loant to Deposit Ratio, Capital Ratio, Return on Equity, Net Profit Margin dan Earning per Share
berpengaruh terhadap harga saham, sedangkan Return on Asset, Dividen per Share dan Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham.
Murtini dan Mareta (2006) meneliti tentang pengaruh rasio keuangan terhadap perubahan harga saham, dalam penelitiannya Murtini dan Mareta menggunakan rasio EAT, PER, DER NPM dan ROA. hasil penelitian menunjukkan bahwa baik secara parsial maupun secara bersama-sama keempat variabel independen yaitu PER, DER, NPM dan ROA berpengaruh terhadap perubahan harga saham.
Susilawati (2005) meneliti tentang pengaruh keuangan terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur selama periode 1997-2003. Di dalam penelitiannya dia menggunakan beberapa rasio antara lain ROA, NPM, OPM, PER dan PBV. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa variabel yang paling berpengaruh antara lain ROE dan PER berpengaruh pada tahun (1999), PBV, NPM, PBV, OPM, ROA, ROE berpengaruh pada tahun (2000), ROE, ROA, NPM
dan OPM berpengaruh pada tahun (2001), ROE, NPM dan OPM berpengaruh pada tahun (2002), PBV dan OPM berpengaruh pada tahun (2003)
Leo (1999) meneliti tentang analisis pengaruh EPS, PER dan ROI terhadap perubahan harga saham pada perusahaan LQ45 di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitian membuktikan bahwa EPS, PER, dan ROI secara bersama-sama maupun secara parsial berpengaruh terhadap harga saham.
Siswanti (2001) meneliti tentang pengaruh EPS, Retained Earnings dan ROI terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa EPS, Retained Earnings dan ROI berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan manufaktur.
Priyono (2000) meneliti tentang pengaruh EPS, ROE, PER, DPS, DER dan PBV terhadap harga saham pada perusahaan yang terdaftar di BEJ. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa harga saham memiliki keterkaitan dengan kinerja fundamental keuangan emiten. EPS berpengaruh kuat, positif dan signifikan terhadap harga saham, ROE berpengaruh lemah, positif, dan signifikan terhadap harga saham, PER tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham, DPS berpengaruh sedang, positif dan signifikan terhadap harga saham, DER memiliki pengaruh lemah, positif dan signifikan tetapi tidak searah harga saham saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ. PBV memliki pengaruh lemah, positif, dan signifikan terhadap harga saham perusahaan. Semua variabel independen yaitu EPS, ROE, PER, DPS, DER dan PBV secara bersama-sama berpengaruh kuat, positif dan signifikan terhadap harga saham perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ.
Arwanta dan Gentyowati (2004) meneliti tentang kemampuan prediksi rasio keuangan terhadap perubahan harga saham. Di dalam penelitiannya Arwanta dan Gentyowati menggunakan rasio ROI, EPS dan ROE. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ROI tidak berpengaruh terhadap harga saham sedangkan EPS dan ROE mempunyai pengaruh terhadap harga saham.