• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian

4.2.2. Rasio Likuiditas (X 1 )

Rasio likuiditas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka. Skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio dalam persen (%). Indikator yang digunakan adalah current ratio (rasio lancar) dengan rumus: Rasio Likuiditas = X100% Lancar Kewajiban Lancar Aktiva

Untuk lebih jelasnya akan ditampilkan data rasio likuiditas dari tahun 2008-2010 dibawah ini :

Tabel 4.2. Tabel Rasio Likuiditas Perusahaan Manufaktur Tahun 2008 - 2010

Sumber data : diolah tahun 2008 – 2010, Lampiran 3

Dari tabel 4.1. diatas menunjukkan bahwa nilai rasio lancar pada tahun 2008 dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Merck, Tbk dengan nilai sebesar 777,38 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk dengan nilai sebesar 88,08. Pada tahun 2009 nilai rasio lancar dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Mustika Ratu, Tbk dengan nilai sebesar 717,88 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. AKR, Tbk dengan nilai sebesar 95,87. Pada tahun 2010 nilai rasio lancar dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Mustika Ratu, Tbk dengan nilai sebesar 761,33 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. AKR, Tbk dengan nilai sebesar 104,79.

RASIO LIKUIDITAS (X1)

NO NAMA PERUSAHAAN 2008 2009 2010

1 PT. AKR Tbk. 101,07 95,87 104,79

2 PT. CAHAYA KALBAR Tbk. 734,69 479,86 167,23 3 PT. FAST FOOD INDONESIA Tbk. 131,97 158,56 170,82

4 PT. GUDANG GARAM Tbk. 221,74 246 270,08 5 PT. HANJAYA MANDALA SAMPOERNA Tbk. 144,43 188,06 161,25 6 PT. INDOCEMENT TUNGGAL PERKASA Tbk. 178,57 300,19 555,37 7 PT.INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. 88,08 116,31 203,65 8 PT. KALBE FARMA Tbk. 333,35 298,70 439,36 9 PT. MAYORA INDAH Tbk. 218,87 229,04 258,08 10 PT. MERCK Tbk. 777,38 511,16 622,75 11 PT. MUSTIKA RATU Tbk. 631,06 717,89 761,33 12 PT. SEMEN GRESIK (Persero) Tbk. 338,82 358,15 291,70 13 PT. SIANTAR TOP Tbk. 122,64 168,85 170,92 14 PT. TUNAS BARU LAMPUNG Tbk. 172,24 166,07 152,68 15 PT. ULTRA JAYA MILK Tbk. 180,54 211,63 200,07

4.2.3. Rasio Profitabilitas (X2)

Rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan perusahaan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dengan seluruh modal yang bekerja di dalamnya untuk menghasilkan laba. Skala pengukuran yang digunakan adalah rasio dalam persen (%). Indikator yang digunakan adalah Return On Total Assets (ROA), dengan rumus:

ROA = X 100% Assets Total Bersih Laba

Untuk lebih jelasnya akan ditampilkan data Rasio Profitabilitas dari tahun 2008 – 2010 sebagai berikut :

Tabel 4.3. Tabel Rasio Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Tahun 2008 - 2010

Sumber data : diolah tahun 2008 – 2010, Lampiran 4

RASIO PROFITABILITAS (X2)

NO NAMA PERUSAHAAN 2008 2009 2010

1 PT. AKR Tbk. 4,31 4,53 4,06 2 PT. CAHAYA KALBAR Tbk. 4,6 8,7 3,48 3 PT. FAST FOOD INDONESIA Tbk. 15,96 17,48 16,15 4 PT. GUDANG GARAM Tbk. 7,81 12,69 13,49 5 PT. HANJAYA MANDALA SAMPOERNA Tbk. 24,14 28,72 31,29 6 PT. INDOCEMENT TUNGGAL PERKASA Tbk. 15,47 20,69 21,01 7 PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk 2,61 5,14 6,25 8 PT. KALBE FARMA Tbk. 12,39 14,33 18,29 9 PT. MAYORA INDAH Tbk. 6,71 11,46 11 10 PT. MERCK Tbk. 26,29 33,8 27,32 11 PT. MUSTIKA RATU Tbk. 6,28 5,75 6,32 12 PT. SEMEN GRESIK (Persero) Tbk. 23,8 25,68 23,35 13 PT. SIANTAR TOP Tbk. 0,77 7,49 6,57 14 PT. TUNAS BARU LAMPUNG Tbk. 2,26 9,01 6,76 15 PT. ULTRA JAYA MILK Tbk. 17,67 3,53 5,34

Dari tabel 4.2. diatas menunjukkan bahwa pada perusahaan PT. Merck, Tbk memperoleh nilai ROA tertinggi pada tahun 2008 yaitu sebesar 26,29 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Siantar Top , Tbk dengan nilai sebesar 0,77. Pada tahun 2009 nilai rasio profitabilitas dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Hanjaya Mandala Sampoerna, Tbk dengan nilai sebesar 28,72 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Ultra Jaya Milk, Tbk dengan nilai sebesar 3,53. Pada tahun 2010 nilai rasio profitabilitas dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Merck, Tbk dengan nilai sebesar 27,32 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Cahaya Kalbar, Tbk dengan nilai sebesar 3,48.

4.2.4. Ukuran Perusahaan (X3)

Merupakan ukuran dari kondisi perusahaan dengan melihat pada besar kecilnya suatu perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini. Variabel ini diukur dari total aktiva perusahaan yang dihitung melalui mentransformasikan total aktiva selama 3 tahun (2005, 2006, dan 2007). Ukuran Perusahaan = Total Aktiva

Untuk lebih jelasnya akan ditampilkan data Ukuran Perusahaan dari tahun 2008 – 2010 sebagai berikut :

Tabel 4.4. Tabel Ukuran Perusahaan Perusahaan Manufaktur Tahun 2008 - 2010

Sumber data : diolah tahun 2008 – 2010, Lampiran 5

Dari tabel 4.4. diatas menunjukkan bahwa ukuran perusahaan pada tahun 2008 dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk dengan nilai sebesar 39.591.309untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Mustika Ratu, Tbk dengan nilai sebesar 354.781. Pada tahun 2009 ukuran perusahaan dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk dengan nilai sebesar 40.382.953 untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Mustika Ratu, Tbk dengan nilai sebesar 365.636. Pada tahun 2010 ukuran perusahaan dengan nilai tertinggi yaitu pada perusahaan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk dengan nilai sebesar 47.275.955untuk nilai terendah yaitu pada perusahaan PT. Mustika Ratu, Tbk dengan nilai sebesar 386.352.

UKURAN PERUSAHAAN (X3)

NO NAMA PERUSAHAAN 2008 2009 2010

1 PT. AKR Tbk. 4.874.851 6.059.070 7.665.590

2 PT. CAHAYA KALBAR Tbk. 605.545 568.603 850.470

3 PT. FAST FOOD INDONESIA Tbk. 784.759 1.041.409 1.236.043

4 PT. GUDANG GARAM Tbk. 24.072.959 27.230.965 30.741.679

5 PT. HANJAYA MANDALA SAMPOERNA Tbk. 16.133.819 17.716.447 20.525.123

6 PT. INDOCEMENT TUNGGAL PERKASA Tbk. 11.286.707 13.276.516 15.346.146

7 PT. INDOFOOD SUKSES MAKMUR Tbk. 39.591.309 40.382.953 47.275.955

8 PT. KALBE FARMA Tbk. 5.703.832 6.482.447 7.032.497

9 PT. MAYORA INDAH Tbk. 2.922.998 3.246.498 4.399.191

10 PT. MERCK Tbk. 375.064 433.971 434.768

11 PT. MUSTIKA RATU Tbk. 354.781 365.636 386.352

12 PT. SEMEN GRESIK (Persero) Tbk. 10.602.964 12.951.308 15.562.999

13 PT. SIANTAR TOP Tbk. 626.750 548.720 649.274

14 PT. TUNAS BARU LAMPUNG Tbk. 2.802.497 2.786.340 3.651.105

4.3. Analisis dan Pengujian Hipotesis 4.3.1. Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah data tersebut mengikuti sebaran normal atau tidak. Untuk mengetahui apakah data tersebut mengikuti sebaran normal atau tidak dapat dilakukan dengan berbagai metode diantaranya dengan uji statistik non parametik Kolmogorov-Smirnov (K-S) (Sumarsono, 2004 : 40). Adapun hasil olah data menggunakan SPSS 19.0 diperoleh hasil sebagai berikut :

Tabel 4.5. Uji Normalitas

Sumber : Lampiran 7

Dari hasil tabel uji normalitas diatas menunjukkan besarnya Kolmogorov-Smirnov adalah 0,620 dan nilai signifikan sebesar 0,836,

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 45

Mean .0000000

Normal Parametersa,b

Std. Deviation .04306614

Absolute .092

Positive .092

Most Extreme Differences

Negative -.072

Kolmogorov-Smirnov Z .620

Asymp. Sig. (2-tailed) .836

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

karena nilai signifikan lebih besar dari 0,05 maka H0 ditolak yang berarti data residual berdistribusi normal.

4.3.2. Uji Asumsi Klasik

Tujuan dari uji asumsi klasik analisis regresi adalah untuk mengetahui secara pasti apakah model regresi linear berganda, menghasilkan keputusan yang BLUE (Best Linear Unbiased Estimator).

4.3.2.1.Multikolinieritas

Identifikasi secara statistik ada atau tidaknya gejala multikolineritas dapat dilakukan dengan menghitung nilai Variance Inflation Factor (VIF) (Ghozali, 2005: 91).

Tabel 4.6. Uji Multikolinieritas

Sumber : Lampiran 9

Berdasarkan perhitungan di atas diperoleh hasil bahwa nilai VIF pada seluruh variabel bebas lebih kecil dari 10. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak mengindikasikan adanya multikolinieritas sehingga asumsi terpenuhi.

Variabel Toleransi VIF Keterangan

Rasio Likuiditas (X1) 0,862 1,160 Non Multikolinieritas Rasio Profitabilitas (X2) 0,930 1,075 Non Multikolinieritas Ukuran perusahaan (X3) 0,915 1,093 Non Multikolinieritas

4.3.2.2.Heteroskedastisitas

Pada regresi linier, nilai residual tidak boleh ada hubungan dengan variable X. Hal ini Bisa diidentifikasikan dengan menghitung korelasi Rank Spearman antara residual dengan seluruh variable bebas. Diperoleh tingkat signifikasi Korelasi Rank Spearman untuk semua variable bebas terhadap nilai residual harus lebih besar 0,05 agar tidak terjadi Heteroskedastisitas (Santoso, 1999: 231).

Tabel 4.7. Uji Heteroskedastisitas Dengan Korelasi Rank Spearman

Sumber : Lampiran 10 Correlations Unstandardized Residual Correlation Coefficient 1.000 Sig. (2-tailed) . Unstandardized Residual N 45 Correlation Coefficient .013 Sig. (2-tailed) .933 Rasio Likuiditas (X1) N 45 Correlation Coefficient .010 Sig. (2-tailed) .946 Rasio Profitabilitas (X2) N 45 Correlation Coefficient .058 Sig. (2-tailed) .706 Spearman's rho Ukuran Perusahaan (X3) N 45

Berdasarkan tabel 4.7 di atas dapat dilihat nilai profitabilitas untuk semua variabel lebih dari 0,05 yang berarti seluruh variabel bebas pada penelitian ini tidak terdapat heteroskedastisitas.

4.3.2.3.Autokorelasi

Pada penelitian yang menggunakan data urut waktu, kemungkinan terjadinya autokorelasi relatif besar. Untuk menguji variabel-variabel yang diteliti apakah terjadi autokorelasi atau tidak, dapat digunakan uji Durbin Watson.

Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan ternyata DW tes sebesar 1,717 (Lihat model Summary Lampiran 8). Kriteria pengujian adanya autokorelasi menurut Ghozali (2005: 96).

Tabel 4.8. Uji Autokorelasi

Sumber : Lampiran 8

Berdasarkan perhitungan di atas DW tes sebesar 1,717 karena angka DW terletak diantara 1,67 sampai 2,33 berarti data tersebut tidak ada autokorelasi. Sehingga asumsi tidak ada autokorelasi terpenuhi.

Nilai Durbin Watson Kriteria

0 < DW < 1,38 Ada autokorelasi positif 1,38 < DW < 1,67 Tanpa kesimpulan 1,67 < DW < 2,33 Tidak ada autokorelasi 2,33 < DW < 2,62 Tanpa kesimpulan

4.3.3. Teknik Analisis

Teknik analisis pada penelitian ini menggunakan regresi linier berganda. Hasil perhitungan dengan menggunakan program komputer SPSS 19.0 (Statistical Product and Service Solutions) diperoleh sebagai berikut:

Tabel 4.9. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda

Sumber : Lampiran 9

Berdasarkan hasil perhitungan regresi pada tabel di atas maka diperoleh suatu persamaan regresi linier berganda yaitu :

Y = 0,307 + 3,451 x 10-5 X1 + 0,001 X2 - 7,694 x 10-10 X3

(Suharjo, 2008: 71) Penjelasan dari nilai yang dihasilkan dapat diuraikan melalui penjelasan sebagai berikut :

β0 = Konstanta = 0,307

Artinya apabila rasio likuiditas (X1), rasio profitabilitas (X2), ukuran perusahaan (X3) sama dengan nol, maka kelengkapan pengungkapan laporan keuangan sebesar 0,307 satuan.

Coefficientsa

Unstandardized Coefficients

Model B

(Constant) .307

Rasio Likuiditas (X1) 3.451E-5

Rasio Profitabilitas (X2) .001

1

Ukuran Perusahaan (X3) -7.694E-10

a. Dependent Variable: Tingkat Kelengkapan Pengungkapan Laporan Keuangan (Y)

β1 = Koefisien regresi untuk X1 = 3,451 x 10-5

Artinya apabila rasio likuiditas naik 1 satuan, maka tingkat kelengkapan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia akan turun sebesar 3,451 x 10-5, dengan asumsi rasio profitabilitas dan ukuran perusahaan adalah konstan / tidak berubah.

β2 = Koefisien regresi untuk X2 = 0,001

Artinya apabila rasio profitabilitas naik 1 satuan, maka tingkat kelengkapan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia akan turun sebesar 0,001, dengan asumsi rasio likuiditas dan ukuran perusahaan adalah konstan / tidak berubah.

β3 = Koefisien regresi untuk X3 = 7,694 x 10-10

Artinya apabila ukuran perusahaan naik 1 satuan, maka tingkat kelengkapan laporan keuangan pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia akan turun sebesar 7,694 x 10-10, dengan asumsi rasio likuiditas dan rasio profitabilitas adalah konstan / tidak berubah.

Dokumen terkait