• Tidak ada hasil yang ditemukan

3.2.1.5 Rasio Penilaian

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 31-36)

Rasio penilaian adalah rasio yang menunjukkan ukuran kemampuan manajemen dalam menciptakan nilai pasar usahanya terutama kepada investor. Mengacu kepada penjelasan Gibson (2009), jenis-jenis dari rasio penilaian ini adalah :

1. Laba per saham ( Earning per Share / EPS )

Laba per lembar saham atau rasio nilai buku yaitu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen untuk menghasilkan laba bagi pemegang saham atau untuk menilai berapa laba yang didapat kan dari setiap lembar saham yang dimiliki. Rumus untuk menghitung EPS yaitu :

Earning per Share = Common stock income_ __

Outstanding of common stock shares

2. Price / Earning Ratio

Rasio ini digunakan untuk melihat bagaimana hubungan antara harga pasar saham perusahaan bila dibandingkan dengan keuntungan atau laba per lembar sahamnya. Rumus dalam menghitung rasio harga pasar terhadap laba saham ini yaitu :

40 Price / Earning Ratio = Market Price per Share

Earning per Share

3. Rasio pembayaran dividen ( Dividend Payout Ratio )

Rasio pembayaran dividen ini digunakan untuk melihat ukuran atau porsi dari keuntungan per saham yang didapat oleh perusahaan yang dibayarkan sebagai dividen. Rumus untuk menghitung rasio pembayaran dividen ini yaitu :

Dividend Payout = Dividends per Common Share Earning per Share 4. Dividend Yield

Rasio ini digunakan untuk melihat hubungan antara ukuran atau porsi pembayaran dividen bila dibandingkan dengan harga pasar per saham perusahaan. Rumus untuk melakukan perhitungan dividend yield ini adalah:

Dividend Yield = Dividend per Common Share Market Price per Common Share

II.3.2.2 Analisis Horizontal

Menurut Munawir (2007), metode analisis horizontal adalah metode yang dilakukan dengan cara membandingkan laporan keuangan untuk beberapa periode sehingga diketahui perkembangan dan kecenderungannya. Teknik analisis horizontal disebut juga teknik yang dinamis karena membandingkan laporan keuangan dari tahun ke tahun.

41 II.3.2.3 Analisis Vertikal

Mengacu kepada penjelasan Munawir (2007), metode analisis vertikal adalah metode analisis yang dilakukan dengan cara menganalisis laporan keuangan pada periode tertentu, yaitu dengan membandingkan antara pos yang satu dengan pos yang lain pada laporan keuangan yang sama dan periode yang sama. Analisis vertikal disebut juga analisis statis karena hanya membandingkan pos-pos yang terdapat pada laporan keuangan pada periode yang sama.

II.3.2.4 Analisis Laba Kotor

Mengacu kepada penjelasan Kasmir (2008), laba kotor adalah laba sebelum dikurangi oleh beban –beban tertentu perusahaan dalam satu periode termasuk beban pajak, yang artinya laba kotor adalah laba keseluruhan yang diperoleh oleh perusahaan secara utuh. Banyak hal yang mempengaruhi besarnya laba kotor yang didapat oleh perusahaan, seperti harga jual, harga pokok penjualan, dan hal lainnya. Analisis ini digunakan untuk melihat seberapa besar jumlah laba utuh yang didapat oleh perusahaan. Manfaat dari analisis ini yaitu untuk :

- Melihat penyebab meningkat atau menurunnya harga jual

- Melihat penyebab meningkat atau menurunnya harga pokok penjualan

- Bentuk pertanggungjawaban bagian penjualan sebagai akibat naik atau turunnya harga jual

- Bentuk pertanggungjawaban bagian produksi sebagai akibat naik atau turunnya harga pokok penjualan

42 - Sebagai bahan untuk menentukan kebijakan manajemen ke depannya.

II.3.2.5 Analisis Prospektif

Analisis prospektif dapat dilakukan dalam menganalisa laporan keuangan perusahaan. Dengan melakukan proyeksi terhadap laporan keuangan perusahaan, kita dapat memperkirakan bagaimana keadaaan keuangan perusahaan dalam beberapa tahun kedepan. Mengacu kepada penjelasan Subramanyam (2008), analisis ini juga berguna untuk menguji ketepatan rencana strategis perusahaan, apakah perusahaan memiliki arus kas yang cukup untuk membiayai pertumbuhan yang diharapkan atau perusahaan membutuhkan pendanaan modal dan utang dimasa mendatang. Analisis ini bermanfaat bagi manajemen untuk melihat apakah rencana strategisnya dapat bermanfaat seperti yang telah diperkirakan, serta bagi kreditor analisis ini berguna untuk membantu melihat apakah perusahaan dapat memenuhi kewajibannya dimasa mendatang.

II.3.2.6 Analisa Kebangkrutan

Mengacu kepada penjelasan Brigham dan Houston yang diterjemahkan oleh Ali Akbar Yulianto (2009), untuk menilai potensi kebangkrutan yang mungkin akan terjadi atas suatu perusahaan, maka metode Z score dapat digunakan. Metode ini diciptakan oleh Edward.I.Altman pada tahun 1968 dengan menggunakan teknik statistik Multiple Discriminant Analysis (MDA). Analisis diskriminan ini merupakan suatu teknik yang mengidentifikasi berbagai rasio yang dianggap paling penting dan paling mempengaruhi terjadinya suatu kejadian, lalu mengembangkannya menjadi suatu model sehingga mempermudah penarikan kesimpulan. Metode ini digunakan untuk mencari nilai z-score yang merupakan nilai yang menunjukkan apakah perusahaan berada dalam kondisi yang

43 sehat atau tidak, serta juga menunjukkan kinerja perusahaan yang sekaligus juga merefleksikan prospek perusahaan dimasa yang akan datang. Altman menggunakan 5 rasio keuangan untuk memprediksi kebangkrutan suatu perusahaan. Mengacu kepada penjelasan Gibson (2009), formula dari model z-score ini yaitu :

Zi =.717(X1)+.847(X2)+3.11(X3)+.420(X4)+.998(X5) Keterangan :

Zi = Prediktor peluang kebangkrutan

X1= Modal kerja bersih / total aktiva

X2= Laba ditahan / total aktiva

X3= Pendapatan sebelum pajak / total aktiva

X4= Ekuitas pemegang saham / total kewajiban

X5= Penjualan / total aktiva

Indikator hasil dari perhitungan metode Z-Score ini adalah sebagai berikut :

Hasil < 1,20 = Perusahaan berada dalam area tidak aman, yaitu bahwa kemungkinan perusahaan akan bangkrut sangatlah tinggi.

1,20 < Hasil < 2,90 = Perusahaan berada dalam area abu-abu, yaitu bahwa ada kemungkinan bahwa perusahaan akan bangkrut namun kemungkinan tersebut tidaklah terlalu tinggi sehingga masih kurang jelas atau meragukan.

44 Hasil > 2,90 = Perusahaan berada dalam area aman dan sehat, yaitu bahwa

tidak ada atau hanya ada sedikit sekali kemungkinan perusahaan akan mengalami kebangkrutan.

II.4 Metodologi Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan teknik penelitian studi komparatif dan metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif analitis, yaitu metode pengumpulan data yang sesuai dengan keadaan sebenarnya dan melakukan pengujian dan analisis pada data sehingga dapat memberikan perbandingan yang cukup jelas mengenai objek yang diteliti dan kemudian dapat ditarik kesimpulan.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan data sekunder yaitu berupa laporan keuangan PT. Yanaprima Hastapersada Tbk dan laporan keuangan perusahaan lain dalam industri sejenis yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan data didapat dari website Bursa Efek Indonesia yaitu www.idx.co.id , dan data lain berupa sejarah singkat perusahaan dan data lain terkait PT.Yanaprima Hastapersada dengan menggunakan data dari website perusahaan yaitu www.yanaprima.com. Data penelitian ini menggunakan data kombinasi yaitu gabungan dari deret waktu / time series dan satu waktu untuk satu fenomena / cross sectional dalam kurun waktu 3 tahun yaitu dari tahun 2008-2010.

Dalam penelitian ini penulis melakukan pengumpulan data dengan metode studi kepustakaan . Studi kepustakaan ini dilakukan untuk memperoleh landasan teori yang jelas. Dalam studi kepustakaan ini, penulis membaca buku-buku, literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dibahas oleh penulis.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 31-36)

Dokumen terkait