Tahun Target (%) Realisasi (%) Capaian (%) Kategori
2. Rasio Luas Serangan OPT Tanaman Jagung yang Terjadi Terhadap Luas Serangan yang Diramalkan Tahun 2019
Capaian rasio luas serangan OPT Tanaman Jagung yang terjadi terhadap luas serangan yang diramalkan pada tahun 2019 adalah sebesar 87,8 %. Angka rasio ini diperoleh rata-rata tertimbang hasil Evaluasi Peramalan MT 2018/2019 (Musim Hujan) dan Evaluasi Peramalan MT 2019 (Musim Kemarau). Target yang tertera dalam IKU untuk rasio untuk luas serangan OPT Tanaman Jagung yang terjadi terhadap luas serangan yang diramalkan adalah sebesar 66 %. Berdasarkan capaian rasio untuk tanaman jagung yang sebesar 87,8 % yang di bawah target IKU sebesar 66 % (kriteria cukup berhasil). Meskipun di atas target, realisasi luas serangan OPT tanaman jagung yang terjadi masih di bawah luas serangan yang diramalkan. Hal ini mengindikasikan bahwa rekomendasi peramalan serangan OPT jagung yang yang dikeluarkan oleh BBPOPT telah dijadikan acuan/rujukan dan telah didesiminasikan ke Dinas Pertanian Provinsi melalui BPTPH sebagian besar sudah ditindaklanjuti, sehingga angka kejadian serangan OPT yang terjadi dapat dikendalikan.
a. Evaluasi Prakiraan Serangan MT 2018/2019
Tabel 15. Evaluasi Prakiraan Serangan OPT Utama Jagung MT 2018/2019
1 Lalat Bibit 838,2 574,4 68,5 2 Penggerek Batang 4.272,3 3.501,4 82,0 3 Bulai 2.710,6 1.063,7 39,2 4 Tikus 1.628,0 1.821,6 111,9 5 Penggerek Tongkol 2.440,6 2.707,5 110,9 6 Ulat Grayak 1.167,6 2.624,6 224,8 Jumlah 13.057,3 12.293,2 94,1 No OPT Ramalan Serangan OPT MT 2018/2019 (ha) Kejadian Serangan OPT MT 2018/2019 (ha) Rasio Kejadian Serangan OPT thd Ramalan (%)
Berdasarkan hasil evaluasi yang disajikan pada tabel tersebut, diketahui bahwa kejadian luas serangan OPT Utama Jagung pada MT 2018/2019 (Musim Hujan) secara nasional adalah seluas 12.293 ha atau sebesar 94,1 % dari luas prakiraannya yaitu 13.057 ha. Rasio kejadian serangan OPT jagung yang di atas angka ramalan adalah jenis OPT Tikus (111,9 %), Penggerek Tongkol (110,9 %) dan Ulat Grayak (224,8 %).
b. Evaluasi Prakiraan Serangan MT 2019
Tabel 16. Evaluasi Prakiraan Serangan OPT Utama Jagung MT 2019
Berdasarkan hasil evaluasi yang disajikan pada tabel tersebut, diketahui bahwa kejadian luas serangan OPT Utama Jagung pada MT 2019 (Musim Kemarau) secara nasional adalah seluas 16.195 ha atau sebesar 83,0 % dari luas prakiraannya yaitu 19.506 ha. Rasio kejadian serangan OPT jagung yang di atas angka ramalan adalah jenis OPT Tikus (105,3 %) dan Ulat Grayak (212,6 %). Serangan OPT Tikus pada jagung di atas angka ramalan disebabkan petani pada umumnya belum melakukan pengendalian tikus pada jagung dengan intensif dan cenderung menganggap jagung merupakan tanaman yang tidak memerlukan pengendalian. Populasi tikus ini dipengaruhi oleh tiga hal yaitu sumber air, sarang dan sumber makanan. Tikus umumnya menyerang tanaman jagung pada fase generatif atau fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang telah masak susu dimakan oleh tikus sehingga tongkol menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur. Pengendalian yang sebaiknya dilakukan adalah dengan mengurangi sarang-sarang tikus, sanitasi lingkungan, pengembangan rumah burung hantu (rubuha) dan memutus rantai makanan yang tersedia dengan menerapkan jeda tanam.
1 Lalat Bibit 1.028,0 539,8 52,5 2 Penggerek Batang 6.717,6 2.612,6 38,9 3 Bulai 1.722,3 1.156,9 67,2 4 Tikus 2.585,5 2.721,9 105,3 5 Penggerek Tongkol 3.976,6 1.773,6 44,6 6 Ulat Grayak 3.476,5 7.391,1 212,6 Jumlah 19.506,5 16.195,9 83,0 No OPT Ramalan Serangan OPT MT 2019 (ha) Kejadian Serangan OPT MT 2019 (ha) Rasio Kejadian Serangan OPT thd Ramalan (%)
OPT Penggerek tongkol (Helicoverpa armigera) angka kejadian serangan OPT pada tanaman jagung MH 2018/2019 di atas angka ramalan. Hal ini disebabkan sebagian besar petani belum menerapkan rekomendasi untuk pengendalian penggerek tongkol yang seharusnya dimulai dengan melakukan pengolahan tanah secara sempurna, sehingga mampu merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H.armigera berikutnya serta mengaplikasikan musuh alami sebagai pengendali hayati untuk mengendalikan penggerek tongkol seperti
Trichogramma spp, yang merupakan parasitoid telur, dimana tingkat parasitasinya
pada semua tanaman inang bervariasi bisa sampai 49 %.
Tabel 17. Realisasi dan Capaian Rasio Luas serangan OPT Jagung yang Terjadi Terhadap Luas Serangan yang Diramalkan Tahun 2018 dan 2019
Penghitungan indikator rasio luas serangan OPT tanaman jagung yang terjadi terhadap luas serangan yang diramalkan pada Tabel di atas merupakan target
minimize atau semakin kecil realisasinya semakin baik. Berdasarkan Tabel di atas,
capaian indikator rasio tersebut untuk komoditas tanaman jagung pada tahun 2019 mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu menjadi 67,0 % dari semula pada tahun 2018 sebesar 125,8 %.
Permasalahan yang menyebabkan penurunan capaian indikator rasio luas serangan OPT tanaman jagung yang terjadi terhadap luas serangan yang diramalkan pada tahun 2019 adalah tingginya angka kejadian serangan ulat grayak pada tahun 2019 pada hampir di seluruh Indonesia. Hal ini dikarenakan masuknya hama invasif ulat grayak S.frugiperda yang menyerang pertanaman jagung di 24 Provinsi se-Indonesia sejak awal tahun 2019. Spodoptera frugiperda atau fall army
worm (Lepidoptera: Noctuidae) merupakan hama invasif penting yang menyerang
tanaman jagung pada beberapa negara di dunia. S. frugiperda adalah hama asli atau native species dari Amerika. Hama ini sudah menyebar ke negara-negara lain seperti Afrika (2016), India (2018), Thailand (2018), China (2019), Myanmar (2019) (CABI, 2019). S.frugiperda dapat berpindah sejauh 1.700 km pada musim semi
hingga musim gugur. Dalam satu malam, ngengat S. frugiperda mampu terbang sejauh ratusan kilometer dengan bantuan angin (Westbrook et al., 2016). S.
Tahun Target (%) Realisasi (%) Capaian (%) Kategori
2018 67 49,7 125,8 Sangat Berhasil
frugiperda bersifat polifag dan dilaporkan memiliki 353 tanaman inang dari 76 famili
tanaman di antaranya tanaman padi, sorgum, tebu, kedelai, kapas, bawang, tomat, kentang, serta beberapa jenis gulma rumput-rumputan. Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada periode April-Desember 2019, S. frugiperda telah ditemukan di 24 Provinsi yang ada di Indonesia seperti Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Bali, NTB dan Maluku. Besarnya luasan serangan S. frugiperda ini dipicu dengan kemampuan terbang ngengat yang cukup jauh serta memiliki tanaman inang alternatif selain jagung. Pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan serangan ulat grayak
S. frugiperda ini adalah dengan melakukan penanaman jagung secara serempak
untuk memutus rantai makanannya. Selain itu dengan melakukan pengumpulan kelompok telur dan larva kemudian mematikannya.
3. Rasio Luas Serangan OPT Tanaman Kedelai yang Terjadi Terhadap Luas