Rasio solvabilitas mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemiliknya dengan dana yang dipinjam dari kreditur perusahaan tersebut. Rasio ini dimaksudkan untuk mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai oleh hutang dan rasio ini menunjukkan indikasi tingkat keamanan dari para pemberi pinjaman (Bank). Menurut Kasmir (2008), rasio solvabilitas adalah ukuran kemampuan bank mencari sumber dana untuk membiayai kegiatannya. Bisa juga dikatakan rasio ini merupakan alat ukur untuk melihat kekayaan bank untuk melihat efisiensi bagi pihak manajemen bank tersebut. Adapun menurut Fahmi (2012), rasio solvabilitas adalah rasio solvabilitas / leverage adalah mengukur seberapa besar perusahaan dibiayai dengan utang. Penggunaan utang yang terlalu tinggi akan membahayakan perusahaan karena perusahaan akan masuk dalam kategori extreme leverage (utang ekstrem) yaitu perusahaan terjebak dalam tingkat utang yang tinggi dan sulit untuk melepaskan beban utang tersebut.
Pengurus Bank dan Kreditor jangka pendek sangat berminat pada kemampuan perusahaan untuk membayar hutangnya dalam jangka pendek. Tetapi para kreditor jangka panjang atau pemegang saham selain berminat pada kondisi jangka pendek justru terutama berminat pada kondisi jangka panjang karena posisi keuangan jangka pendek betapapun baiknya tidaklah selalu paralel dengan posisi keuangan jangka panjang. Dengan demikian kondisi keuangan yang baik dalam jangka pendek tidak menjamin adanya kondisi keuangan yang baik juga dalam jangka panjang.
2.1.9.2 Pengertian Capital Adequacy Ratio
Rasio solvabilitas yang diteliti diwakili oleh capital adequacy ratio (CAR). CAR adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR diukur dari rasio antara modal sendiri terhadap Aktiva Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Rasio modal terhadap aktiva mulai dipergunakan karena ukuran kecukupan modal harus menunjukkan seberapa jauh modal bank dapat menyerap kerugian dan melindungi nasabahnya. Menurut Peraturan Bank Indonesia Nomor 10/15/PBI/2008 pasal 2 ayat 1 tercantum bahwa Bank wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari aset
tertimbang menurut resiko (ATMR), CAR adalah rasio yang memperlihatkan seberapa besar jumlah seluruh aktiva bank yang mengandung resiko (kredit, penyertaan, surat berharga, tagihan pada bank lain) ikut dibiayai dari modal sendiri disamping memperoleh dana-dana dari sumber-sumber diluar bank. Menurut Dendawijaya (2009), CAR adalah kecukupan modal yang menunjukkan kemampuan bank dalam mempertahankan modal yang mencukupi dan kemampuan manajemen bank dalam mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan mengontrol risiko-risiko yang timbul dan dapat mempengaruhi besarnya modal bank.
Capital Adequacy Ratio dapat dihitung dengan rumus : CAR = x100%
Ketentuan CAR tersebut pada dasarnya merupakan suatu ukuran modal yang diharapkan dapat menjamin bank yang beroperasi secara internasional maupun nasional akan beroperasi secara baik atau prudent.
2.1.10 Saham
2.1.10.1 Pengertian Saham
Salah satu surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal adalah saham. Saham adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh sebuah perusahaan yang berbentuk perseroan terbatas. Saham menyatakan bahwa pemilik saham tersebut adalah juga pemilik sebagian dari perusahaan itu. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan kertas saham tersebut sesuai dengan proporsi kepemilikannya yang tertera pada saham. Menurut Martono dan Harjito (2007), saham adalah tanda bukti kepemilikan atau penyertaan pemegangnya atas perusahaan yang mengeluarkan saham tersebut (emiten). Saham juga merupakan bukti pengambilan bagian atau peserta dalam perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan Terbatas). Adapun menurut Fahmi (2012), saham adalah saham yang dimaksud disini adalah saham yang berasal dari perusahaan lain, yang dibeli oleh pihak manajemen perusahaan dan selanjutnya sewaktu-waktu bisa dijual kembali
jika membutuhkan dana. Dan hasil keuntungan penjualan tersebut akan masuk ke kas perusahaan.
Dapat disimpulkan bahwa saham adalah tanda bukti kepemilikan perusahaan yang dibeli dari emiten (perusahaan yang menjual sahamnya) dan mempunyai hak atau sebagian kekayaan perusahaan itu dan proporsinya sesuai dengan jumlah saham yang dimiliki oleh investor tersebut.
2.1.10.2 Jenis-Jenis Saham
Menurut Martono dan Harjito (2007), menyebutkan bahwa pada dasarnya ada dua jenis saham, yaitu :
1. Saham Preferen / Preffered Stock
Saham preferen merupakan pendanaan yang memiliki sifat kombinasi antara hutang dan saham biasa. Jika terjadi likuidasi, tuntutan pemegang saham preferen atas aktiva berada pada urutan setelah kreditur namun sebelum pemegang saham biasa. Dari sisi perusahaan yang mengeluarkan saham preferen, manfaat utama yang diperoleh adalah bahwa pembayaran dividen atas saham preferen relatif lebih fleksibel dibandingkan dengan bunga hutang. Karena walaupun saham preferen memiliki dividen, namun pembayarannya dividen cenderung bersifat sebagai kebijakan perusahaan. Pada dasarnya ada dua jenis saham preferen, yaitu saham preferen kumulatif dan saham preferen partisipasi. Pada saham preferen kumulatif selalu diperhitungkan kewajiban pembayaran dividennya sebelum membayar dividen kepada pemegang saham biasa. Sedangkan saham preferen partisipasi merupakan saham preferen dimana pemiliknya juga berhak menerima dividen tambahan. Dengan saham preferen partisipasi berarti pemegang saham preferen jenis ini diberikan kesempatan untuk menikmati nilai sisa laba perusahaan berdasarkan jumlah yang disepakati.
2. Saham Biasa / Common Stock
Saham biasa yaitu saham yang tidak mencantumkan nama pemilik dan kepemilikannya melekat pada pemegang sertifikat tersebut. Saham biasa merupakan saham yang tidak memperoleh hak istimewa. Pemegang saham biasa perusahaan merupakan pemilik akhir perusahaan. Secara kelompok
mereka memiliki perusahaan dan menanggung risiko terakhir kepemilikan. Kepemilikan mereka dibatasi sesuai dengan investasi. Jika terjadi likuidasi, pemilik saham biasa memiliki hak atas sisa tuntutan terhadap aktiva perusahaan setelag tuntutan kreditur dan pemegang saham preferen dipenuhi seluruhnya. Saham biasa tidak memiliki jatuh tempo, namun pemegang saham dapat melikuidasi investasinya dengan menjual saham yang dimiliki pada pasar sekunder. Menurut Fahmi (2012), saham biasa ini memiliki beberapa jenis yaitu :
a. Blue Chip Stock / Saham Unggulan b. Growth Stock
c. Defensive Stock / Saham Defensif
d. Cyclical Stock e. Seasonal Stock f. Speculative Stock
2.1.10.3 Hubungan antara Rasio Keuangan dengan Harga Saham
Setiap akhir periode waktu perusahaan akan menerbitkan laporan keuangan / annual report. Laporan keuangan yang telah diterbitkan setelah dianalisis akan memberikan informasi-informasi yang sangat bermanfaat terutama berkaitan dengan rasio keuangan perusahaan yang berguna untuk menunjukkan apakah posisi keuangan perusahaan tersebut membaik atau tidak selama periode waktu tersebut. Hal ini akan sangat membantu bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan atas laporan keuangan perusahaan tersebut, terutama pihak investor, manajemen dan pihak lainnya yang potensial. Berdasarkan nilai rasio keuangan yang telah diperoleh, maka manajemen perusahaan yang bersangkutan maupun investor akan dapat menentukan keputusan ekonomi, setelah menilai kinerja perusahaan yang dilihat dari rasio keuangan tersebut dan melakukan penilaian terhadap harga saham perusahaan. Sebagai contoh adalah rasio ROI (Return On
Investment), jika diperoleh ROI yang cukup tinggi, maka dapat diasumsikan
bahwa perusahaan tersebut beroperasi secara efektif untuk menghasilkan keuntungan atau profit dengan pemanfaatan modal sendiri, hal ini merupakan
daya tarik bagi investor yang mengharapkan tingkat pengembalian (return) dari investasi yang ditanamkan di perusahaan yang bersangkutan.