• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Percobaan

4.1.13. Rasio Tajuk Akar

Data pengamatan rasio tajuk akar disajikan pada (Lampiran 52). Hasil analisis ragam rasio tajuk akar (Lampiran 53) menunjukkan penggunaan varietas yang berbeda memberikan pengaruh tidak nyata, tetapi frekuensi penyiraman memberikan pengaruh yang nyata terhadap rasio tajuk akar mentimun dan tidak terdapat interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut. Hasil uji BNT rasio tajuk akar disajikan pada (Tabel 14).

Tabel 14. Rasio tajuk akar tanaman mentimun akibat perbedaan varietas dan frekuensi penyiraman.

Penggunaan Frekuensi Penyiraman (X)

Rata-rata

Varietas (V) 1 hari sekali 2 hari sekali 3 hari sekali

Varietas Mercy F1 66,52 84,34 87,14 79,33

Varietas Sukoi 51,98 74,82 91,54 72,78

Varietas Manora F1 50,82 80,80 95,14 75,59

Rata-rata 56,44 a 79,98 b 91,27 b

BNT X= 17,74

Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf sama tidak berbeda nyata menurut uji BNT 5%.

Hasil uji BNT (Tabel 14) menunjukkan bahwa frekuensi 3 hari sekali dan 2 hari sekali meningkatkan rasio tajuk akar lebih baik 61,71% dan 41,71% dibandingkan dengan frekuensi penyiraman 1 hari sekali.

4.2. Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan varietas yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata, yang didukung oleh peubah umur panen, panjang buah, bobot per tanaman, hasil per plot, asumsi per hektar. Pada varietas Mercy F1 menunjukkan hasil terbaik dibandingkan varietas Sukoi dan Manora F1, tetapi pada peubah umur panen, memtimun varietas Mercy F1 menunjukkan umur panen yang relatif lama di bandingkan varietas Sukoi dan Manora F1. Hal ini diduga semua varietas memiliki kemampuan untuk memberikan pertumbuhan dan hasil yang berbeda. Hal ini sejalan dengan pendapat Syarif dkk., (2010) menyatakan bahwa penggunaan varietas yang berbeda menghasilkan hasil panen/produksi dan karakter buah yang berbeda. Hal itu karena setiap varietas memiliki sifat genetik yang berbeda. Perbedaan sifat genetik antara beberapa varietas menyebabkan tanaman memberikan respon yang berbeda terhadap lingkungannya. Masing-masing varietas memiliki karakteristik yang berbeda, yang disebabkan oleh adanya perbedaan sifat genetik pada masing-masing tanaman.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Bahri (2011) bahwa pertumbuhan dan hasil mentimun dipengaruhi oleh varietas yang ditanam, varietas Mercy F1 memberikan efek lebih baik terhadap komponen hasil dan hasil yaitu jumlah buah per tanaman, panjang buah, berat setiap buah, berat buah per tanaman, dan produktivitas mentimun. Rata-rata produktivitas Mercy F1 adalah 58.73 t/ha.

Penggunaan varietas yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, yang didukung oleh peubah panjang tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, jumlah buah per tanaman, diameter buah, bobot tajuk kering, bobot kering akar, dan rasio tajuk akar. Varietas Mercy F1 menunjukkan rata-rata hasil yang lebih baik pada peubah jumlah daun, jumlah cabang, bobot tajuk kering, dan rasio tajuk akar, pada varietas Sukoi juga menunjukkan hasil lebih baik yang ditunjukan oleh peubah diameter buah dan bobot kering akar, sedangkan pada varietas Manora F1 menunjukan hasil yang lebih baik yang ditunjukan pada peubah panjang tanaman, jumlah buah per tanaman. Hal ini diduga kurangnya kemampuan setiap varietas beradaptasi pada lingkungan setempat sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman.

Kurangnya adaptasi dari setiap varietas pada lingkungan setempat adalah sebagai respons dari tekanan-tekanan lingkungan. Hal ini sejalan dengan pendapat Jumini dkk., (2008) bahwa pertumbuhan dan produksi yang tinggi pada setiap varietas disebabkan oleh adanya adaptasi terhadap lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan dari tanaman tersebut. Menurut penelitian Simanulang dkk., (2012) menunjukkan bahwa penggunaan varietas yang berbeda belum menunjukkan perbedaan yang nyata pada peubah jumlah cabang. Varietas Mercy F1 memberikan rata-rata jumlah cabang 5,00 dan varietas Harmony memberikan rata-rata jumlah cabang 5,00.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa frekuensi penyiraman yang berbeda memberikan perbedaan yang nyata, yang didukung oleh peubah panjang tanaman, jumlah daun, jumlah cabang, umur panen, jumlah buah, panjang buah, bobot buah

per tanaman, hasil per plot, bobot tajuk akar, bobot kering akar, asumsi hasil per hektar, dan rasio tunas akar. Frekuensi penyiraman 1 hari sekali menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan frekuensi penyiraman 2 hari sekali dan 3 hari sekali. Hal ini diduga frekuensi penyiraman 1 hari sekali dapat menjaga air tidak terlalu tergenang dan kemungkinan kebutuhan air pada kondisi tersebut optimal, hingga berpengaruh terhadap pembelahan sel-sel tanaman dan transport hara dari tanah ke tanaman. Semakin baik tanah dalam melakukan transport hara, kebutuhan akan hara juga akan semakin tercukupi, sehingga tanaman mampu memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pendapat Harjadi (1996), bahwa air adalah komponen utama dalam tanaman, merupakan salah satu unsur utama yang dibutuhkan pertumbuhan, karena air berfungsi sebagai penyusun utama jaringan, proses fotosintesis, dan pembelahan sel-sel tanaman, sehingga tanaman mampu memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik.

Penyiraman yang semakin sering diberikan memberikan pengaruh yang lebih baik bagi tanaman. Nurlaili (2009) menyatakan bahwa pemberian air setiap hari dengan dosis yang sama memberikan hasil terbaik, karena pemenuhan kebutuhan air untuk digunakan dalam pertumbuhan dan pengeluaran air yang selanjutnya merangsang pertumbuhan bagian-bagian tanaman seperti batang, akar lebih panjang dan daun lebih lebar. Semakin diperjarang periode pemberian air terhadap tanaman, maka air tanah akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara keseluruhan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Junita dkk., (2001) bahwa frekuensi penyiraman 1 hari mampu menghasilkan pakchoi berberat

segar 173,84 gram lebih berat dibandingkan frekuensi penyiraman 2 hari sekali dengan rata-rata berat segar 118,71 g, dan 69,54 g berat segar pada frekuensi penyiraman 3 hari sekali.

Namun frekuensi penyiraman tidak menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap peubah diameter buah. Frekuensi penyiraman 1 hari sekali memeberikan hasil rata-rata diameter buah 3,95 cm lebih baik dari perlakuan frekuensi penyiraman 2 hari sekali dengan rata-rata diameter buah 3,88 cm dan 3,83 pada frekuensi penyiraman 3 hari sekali. Hal ini diduga kurang tersedianya air tanah menyebabkan pertumbuhan terhambat, karena zat-zat yang dihasilkan tidak terdistribusi merata, sehingga berpengaruh terhadap kandungan unsur hara pada tanaman untuk perkembangan buah. Menurut penelitian Sriwijaya dan Hariyanto (2005) frekuensi penyiraman tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi frekuensi penyiraman 1 hari sekali memberikkan rata-rata diameter buah lebih baik 3,76 mm dari pada frekuensi penyiraman 2 hari sekali dengan rata-rata 3,69 mm dan 3,12 mm.

Terdapat interaksi antara penggunaan varietas yang berbeda dan frekuensi penyiraman yang ditunjukkan pada peubah jumlah buah, bobot per tanaman, hasil per plot, dan asumsi hasil per hektar. Hal ini diduga karena semua varietas memiliki potensi hasil yang lebih tinggi dan pada frekuensi penyiraman 1 hari sekali dapat memberikan ketersediaan air yang cukup dibandingkan frekuensi penyiraman 2 hari sekali dan 3 hari sekali. Sehingga proses fotosintesis yang menghasilkan fotosintat untuk perkembangan buah dapat terpenuhi. Hal ini sejalan dengan pendapat Sriwijaya dan Haryanto (2005), bahwa ketersediaan air

yang cukup selama pertumbuhan akan digunakan secara optimal pada proses fotosintesis dan menghasilkan substansi yang dibutuhkan untuk pemeliharaan pertumbuhan tanaman maupun ditranslokasikan untuk pertumbuhan generatif, sehingga tanaman memberikan hasil yang optimal. Budianto (1984) menambahkan, bahwa tanaman yang mengalami kekurangan air stomatanya menutup lebih awal untuk mengalami kehilangan air, tetapi penutupan stomata juga menghambat jalan masuknya CO2 sehingga fotosintesis berkurang. Laju fotosintesa berkurang menyebabkan hasil fotosintat berkurang sehingga menghambat produksi tanaman.

Dokumen terkait