• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasionalitas Mustahik Lembaga Amil Zakat SP

6.5.2. Rasionalitas Aktor Badan Amil Zakat Jambi

6.5.3.3. Rasionalitas Mustahik Lembaga Amil Zakat SP

Pengelolaan zakat yang tepat bagi mustahik disekitar perusahaan PT. SP, adalah oleh orang yang tahu agama, dan mengerti bagaimana zakat seharusnya

dimanfaatkan menurut ajaran agama, karena mengelola zakat itu adalah ibadah. Oleh HR (42 tahun) dikatakan bahwa :

―….zakat itu kewajiban untuk orang Islam, zakat fitrah untuk semua dan zakat harta khusus untuk yang kaya… supaya orang kaya rajin berzakat, harus ada yang mengurusnya, seperti amil… ‖.

Kutipan wawancara ini menujukkan bahwa mustahik menganggap bahwa zakat itu kewajiban untuk semua orang yang beragama Islam dan zakat harta dikhususkan untuk orang yang memiliki kelebihan harta (kaya). Pentingnya keberadaan lembaga tatakelola zakat bertujuan agar orang kaya berzakat dengan baik. Artinya bagi mustahik bahwa keberadaan Lembaga tatakelola zakat itu penting guna mendorong, memudahkan dan mengelola dana zakat dari kaum kaya.

Terhadap LAZ-SP, HR (42 tahun) yang merupakan mustahik lembaga ini, beranggapan bahwa pengelolaan zakat karyawan yang menurutnya zakat perusahaan, adalah bentuk pengelolaan zakat yang baik, karena telah mampu mengumpulan dana zakat dan memanfaatkan untuk membantu kaum miskin di Lubuk Kilangan. Seperti yang diungkapkannya dalam wawancara yaitu : “… Bazis (LAZ) SP, bagus telah memanfaatkan zakat perusahaan untuk membantu orang miskin di Lubuk Kilangan…”. Keterangan mustahik tersebut menujukkan bahwa logika mustahik ini tentang tatakelola zakat terbatas pada pengumpulan dan pemanfaatan dana zakat secara ekonomi. Artinya bagi mustahik tersebut, pengelolaan zakat itu harus sesuai dengan ajaran agama dan tujuan pokoknya adalah untuk mengumpulkan dan mendistribusikan dana zakat dari orang kaya kepada yang berhak dengan baik.

Tercapainya akumulasi dana zakat yang besar yang kemudian termanfaatkan dengan baik untuk kepentingan kaum miskin sesuai dengan ajaran agama, itu sudah cukup bagi mustahik LAZ-SP. Persoalan bagaimana zakat di pungut dan dikelola itu tidak penting. Bagi mereka :

―…semua orang Islam tahu zakat adalah kewajiban bagi orang memiliki kelebihan harta dan dana zakat itu adalah hak kaum fakir miskin, Cuma banyak yang tak mau tau…‖. Zakat sebagai kewajiban bagi orang yang kaya, agar zakat itu diberikan ―…harus ada orang memungut dan mengelolanya untuk diserahkan kepada yang berhak…‖.

Pengelolaan bagi mustahik LAZ-SP, dikelola dengan tujuan mengumpulkan dana zakat dari kaum kaya untuk membantu mengatasi masalah ekonomi yang dihadapi oleh kaum miskin. Bantuan untuk mengatasi kebutuhan itu lebih ditekankan kepada orang yang paling miskin dengan adil. Sebagaimana diungkapkan oleh AK (2009), bahwa :

―….pembagian dana zakat itu sebaiknya merata kepada semua mustahik yang ada di sini dengan adil…. Jangan pilih-pilih, … syarat harus ada permohonan baru diberikan zakat, itu kurang tepat tapi apa mau dikata itu sudah ketentuan Bazis (LAZ) SP…yah kami sebagai orang susah yang butuh bantuan terpaksa memohon seperti pengemis dan yang paling tidak enak waktu kita diperiksa oleh petugas dari perusahaan…‖

Ungkapan mustahik diatas, menujukkan adanya protes atas mekanisme pemberian bantuan zakat yang menyatakan ―terpaksa memohon seperti pengemis… apalagi harus diteliti oleh pengurus LAZ‖. Di sini muzakki masih beranggapan bahwa zakat itu hak mereka yang harus diberikan tanpa harus meminta seperti yang berlaku pada tatakelola zakat komunitas. Warisan sistem tatakelola zakat berbasis masjid masih memberikan pengaruh dan masih melekat dalam logika mustahik di Lubuk Kilangan, meski mereka telah menjadi mustahik LAZ-SP. Ada ungkapan keterpaksaan mematuhi persyaratan permohonan dalam bentuk proposal, yang di desak oleh kondisi perekonomian yang serba kekurangan sehingga memohon yang umpamakan seperti pengemis terpaksa dilakukan. Mekanisme tatakelola modern dengan mensyaratkan adanya mekanisme administrasi dalam pendistribusian dana zakat, bagi mereka bukan hal yang baik, tapi malah membuat mereka seperti terhina.

Yang menarik adanya inisiatif dari para mustahik yang telah pernah mendapatkan bantuan zakat untuk menyebarkan informasi kepada orang lain bahwa, ada bantuan dana zakat dari PT. SP. Inisiatif ini membuat informasi menyebar kemana-mana sehingga pemohon yang minta bantuan dana zakat selalu meledak untuk setiap saat. Fenomena ini secara sederhana dan sementara dibaca sebagai bentuk upaya kelompok miskin untuk membantu orang sesamanya sebagai kelompok orang yang sama-sama miskin. Ada dugaan lebih jauh bahwa dikalangan mustahik telah terbangun jejaring pemburu bantuan yang menyebar dalam masyarakat miskin sekitar perusahaan, namun

tidak meyakinkan karena tidak punya waktu yang cukup untuk mencari data pendukung dugaan tersebut.

6.6. Ikhtisar

Tiga model tatakelola zakat yang diteliti ditemukan bahwa masing-masing memiliki landasan etika moral yang berbeda-beda. LAZ Komunitas pedesaan Jambi dengan landasan etika moral asketisisme dan altruisme, menilai bahwa tatakelola zakat merupakan keharusan dan menjadi tugas dan kewajiban bagi pemimpin agama selaku pewaris Nabi. Tatakelola zakat komunitas berorietansi pada pencapaian derajat keshalehan. Shaleh karena taat pada perintah agama secara individu dan shaleh karena telah melakukan kebajikan yang memberikan manfaat bagi banyak orang khususnya meningkatkan kesadaran beragama muzakki dan membantu kesulitan kaum mustahik (kaum lemah) serta menciptakan kehidupan yang nyaman dan damai secara lahir dan bathin kepada komunitas. Keberadaan LAZ dianggap sebagai wujud keshalehan para aktor zakat dalam bentuk penguatan ajaran agama, penguatan ummat dan komunitas.

BAZDA Jambi, landasan etika moral developmentalisme dan meyakini bahwa tatakelola zakat adalah hak dan tanggungjawab negara, dan mengharuskan pengelolaan zakat berada ditangan pemerintah dengan orientasi pada pencapaian stabilitas masyarakat dan negara melalui penyeragaman sistem tatakelola. Zakat dipandang sebagai instrumen pembangunan dan pemberdayaan oleh itu BAZDA dianggap sebagai wujud kepedulian negara beserta aparatnya terhadap fenomena kemiskinan ummat, sekaligus sebagai wujud pembangunan spiritual. Masing-masing aktor zakat di BAZDA, ditemukan memiliki orientasi tersendiri. Aparat dari unsur agamawan, unsur pemukan masyarakat dan unsur pemerintah serta muzakki, masing-masing berorietasi pada penudukan pada negara dan birokrasi pemerintahan serta kepentingan penguatan status sosial serta pengamanan sosial ekonomi, sementara mustahik hanya berkepentingan pengamanan kebutuhan ekonomi subsisten.

LAZ SP dengan landasan etika moral ekonomi maximize utility atau maximize profit, menganggap zakat sebagai potensi ekonomi ummat yang berpeluang menjadi instrumen penguatan dan pengamanan ekonomi. Tatakelola zakat adalah hak perorangan yang bisa didelegasikan kepada lembaga profesional yang dianggap bisa mewujudkan tujuan zakat sesuai dengan

hamparan agama dan muzakkinya. LAZ-SP sebagai lembaga tatakelola zakat swasta, berorietasi untuk mengatasi persoalan sosial masyarakat khususnya sekitar perusahaan. Penekanannya difokuskan untuk mengatasi persoalan sosial dan ekonomi masyarakat. Keberadaan LAZ dianggap bisa membantu mengatasi persoalan kemiskinan masyarakat sekitar perusahaan dan ini membangun citra sebagai perusahaan yang baik, dan bertanggungjawab, sehingga keberadaan perusahaan akan disambut dengan bersahabat oleh masyarakat setempat. Selain kepentingan perusahaan, para aktor zakat pada LAZ-SP dalam berzakat berorientasi pada kepentingan pengamanan kerja dan pekerjaan sebagai sumber pendapatan keluarga. Sementara bagi mustahik tidak ada bedanya dengan pada LAZ komunitas dan BAZDA, mereka semua hanya berkepentingan pada pengamanan ekonomi dan konsumsi pada level ekonomi survival.

Tabel 20 : Pengetahuan, Rasionalitas, dan Kepentingan dalam Tiga Lembaga Tatakelola Zakat

Basis Kuasa

Basis Pengetahuan

Landasan Etik dan

Rasionalitas Kepentingan Aktor

Bangunan Kekuasaan Komunitas Local Knowledge / wisdom Asketisisme dan Altruisme: pahala, penguatan ummat dan Kesejahteraan kolektif Asketisime dan Altruisme (Keshalehan Individu dan Sosial) : Commonality & Togetherness menuju Kemadirian lokal Imam Masjid dan Tokoh Masyarakat lokal Egaliter yang menonjolkan pastisipasi masyarakat yang tinggi. Namun Hegemoni Elit Lokal dan penundukan nilai. Muzakki dan mustahik tunduk pada nilai dan budaya yang terpusat pada kuasa

agamawan dengan Kepatuhan Nilai Negara Sains Modern Etika

Developmentalisme (Pembangunan dan tanggungjawab politik negara) Stabilitas politik berorientasi Kekuasaan Birokrat Militer Dominasi dengan kekuasaan aparat pemerintah Penundukan Sistemik ketika Muzakki dan mustahik

tertundukkan oleh aturan negara dan Birokrasi Pemerintah Swasta Sains Modern Etika Produksi

dengan Rasionalitas Ekonomi menuju Maximize Provit (memanfaatkan modal sekecil-kecilnya untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya) Stabilitas Produksi berorientasi Kesejahteraan Industrialis Buruh Dominasi dengan kuasa manajemen swasta Penundukan Sistemik ketika Muzakki dan mustahik tertundukkan oleh aturan negara dan Birokrasi Pemerintah

Fenomena rasionalitas termodifikasi terlihat terjadi dalam rasionalitas tatakelola zakat. Pada LAZ komunitas, rasionalitas asketisisme dan altruisme disertai dengan rasionalitas commonality dan togetherness yang menonjolkan tujuan kemandirian lokal yang terlihat pada penguatan ajaran dan ikatan sosial komunitas. Pertimbangan kepatuhan pada ajaran dan membangun semangat keberagamaan secara bersama dalam ikatan yang hangat antara anggota komunitas khsusus kaum lemah dan kaum kaya dibawah kuasa dan kontrol agamawan. Sementara rasionalitas asketisisme dan altruism pada BAZDA dan LAZ Swasta, termodifikasi dengan adanya sintesis dengan etika moral developmentalisme pada BAZDA dan etika moral profit dan utility maximization pada LAZ Swasta. Pertibangan askrtik dan altruis dalam tatakelola zakat BAZDA dan LAZ Swasta termodifikasi dengan pertimbangan pemberdayaan dan pembangunan pada BAZDA dan pencapaian kesejaheteraan dan pengamanan usaha serta investasi pada LAZ Swasta.