• Tidak ada hasil yang ditemukan

E. Orisinalitas Penelitian

2. Rasm Madinah dan Rasm Indonesia

menggunakan satu model rasm metode tertentu untuk penulisan,

kemudian rasm itu menjadi tersiar luas di antara mereka.24

2. Rasm Madinah dan Rasm Indonesia

Mushaf Al-Qur’an yang dicetak dan beredar ditemukan bebagai tipe format cetak yang beragam. Meskipun ada perbedaan dalam tipe format cetak, namun kesemuanya menunjukkan adanya kesamaan ciri-ciri pokok

yang menjadi standar penyalinan sesuai standarisasi mushaf usmani.25

Dalam rangka memelihara kemurnian, kesucian, dan kemuliaan Al-Qur’an, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an yang secara kelembagaan resmi dibentuk pada 01 Oktober 1959 berdasarkan peraturan menteri Muda

Agama No.11 tahun 1959.26

Sebelum tahun 1984, Al-Qur’an yang beredar di Indonesia sangat bevariasi, baik dari sisi khat (bentuk tulisan), acuan rasm (meliputi rasm ‘arudli dan usmani), ornament yang menghiasi ayat, baris, dan sebagainya.

Misalnya baris, baris bukan merupakan salah satu kriteria pentashihan.27 Oleh

sebab itu, lajnah membebaskan para penerbit Qur’an untuk mencetak Al-Qur’an berapapun barisnya. Ada 10, 12, 14, 15, 16, 17, 18, 21, dan lain-lain.

24 Ibid., h. 184.

25 Gus AA dan Ziyad Ul-Haq At-Tubany, Struktur Matematika Al-Qur’an (Solo: Rahma Media Pustaka, 2009), h. 66.

26 Ali Akbar, “Pencetakan Mushaf Al-Qur’an di Indonesia”,

http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/57, h. 5.

27 Gus AA dan Ziyad Ul-Haq At-Tubany, Struktur Matematika Al-Qur’an (Solo: Rahma Media Pustaka, 2009), h. 62.

25

Salah satu Al-Qur’an yang beredar di Indonesia adalah Mushaf cetakan Mujamma’ Al Malik Fahd li Thiba’atil Mushafis Syarif yang terletak di kota Madinah. Al-Qur’an cetakan Saudi tersebut banyak dibawa oleh para jamaah

haji dan umrah ke Indonesia.28

Al-Qur’an cetakan Madinah selalu konsisten berbaris 15. Setiap halamannya selesai satu ayat dan tidak disambung pada halaman berikutnya. Mushaf jenis ini disebut juga Al-Qur’an Bahriyyah atau Qur’an Pojok. Lazim digunakan rujukan para penghafal Qur’an untuk menambah atau muraja’ah (mengulang) hafalan, sebab satu halaman ayatnya utuh tidak terpotong

sehingga memudahkan mereka dalam mengejar target hafalannya.29

Demi tersebarnya mushaf, penerbit Indonesia diizinkan oleh Lajnah Pentashih Mushaf Departemen Agama Republik Indonesia untuk mengopi dan mencetak keseluruhan (tanpa mengubah penomoran ayat, ornament, dan lain-lain) Al-Qur’an terbitan Negara lain. Misalnya tertian PT. Taj Company, Karachi, Pakistan. Al-Qur’an terbitan Pakistan tersebut pernah dikopi dan diedarkan atas seijin Lajnah di Indonesia oleh PT. Gita Karya pada tahun

1982.30

Seiring dengan semakin “asingnya” Al-Qur’an di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas beragama Islam, khususnya dalam hal baca Al-Qur’an serta banyaknya keluhan yang masuk ke Lajnah perihal sulitnya

28 Ibid., h. 62.

29 Ibid., h. 62.

30

26

belajar Al-Qur’an dengan memakai rasm Usmani, maka perlu kiranya Lajnah membuat Al-Qur’an standar Indonesia yang mengacu pada rasm ‘arudli atau imla’i.31

Pada tahun 1984, Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur’an sebagai sebuah institusi yang bertanggung jawab terhadap peredaran Al-Qur’an di Indonesia memberlakukan Al-Qur’an standar yang ditulis menggunakan rasm imla’i. salah satu spesifikasi rasm imla’i, apa yang tertulis itulah yang terbaca. Berbeda dengan rasm Usmani, apa yang tertulis belum tentu terbaca. Masalah penulisan Qur’an ini dibahas khusus dalam suatu cabang ilmu Al-Qur’an yaitu ‘Ilm Rasm Usmany. Dalam penulisannya, salah satu fomat 18 baris Al-Qur’an cetakan Taj Company, Pakistan pada surah Al-Baqarah ayat

5 dan Luqman ayat 5.32

Di sisi lain, kebijakan Lajnah memberlakukan Al-Qu’an standar membawa dampak pada peredaran Qur’an di Indonesia. Diantaranya, Al-Qur’an yang ditulis memakai rasm usmani dan diterbitkan oleh penerbit Indonesia tidak lagi boleh beredar bebas sampai disesuaikan dengan Al-Qur’an standar Indonesia yang ditulis dengan memakai rasm Imla’i. Namun kebijakan ini tidak berlaku pada mushaf Al-Qur’an yang langsung

didatangkan dari luar negeri.33

31 Ibid., h. 64.

32 Ibid., h. 64.

33

27

Saat ini, Indonesia memiliki mushaf Al-Qur’an Standar yang menjadi patokan dalam penulisan dan penerbitan Al-Qur’an sejak tahun 1984. Ada tiga varian mushaf standar Indonesia, yaitu: (1) mushaf Al-Qur’an Standar Usmani untuk orang awas; (2) Mushaf Al-Qur’an standar Bahriyah untuk para penghafal Al-Qur’an; dan (3) Mushaf Al-Qur’an Standar braille untuk

para tunanetra.34

Sejak ditetapkan pada tahun 1984, tiga varian mushaf ini tersebar dan digunakan di Indonesia, baik itu sebagai bacaan maupun objek kajian atau penelitian. Di antara ketiganya, yang paling banyak dicetak adalah Mushaf

Al-Qur’an Standar Usmani (MASU).35

Secara bahasa, “Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia” dapat dipahami dari kata “standar” yang berarti patokan atau standar baku. Hal ini kemudian dikuatkan dengan dokumen terjemahan Arab-Inggris pada Muker Ulama ke-IX yang mengistilahkannya sebagai Mushaf Mi’yarii al-Induunisii atau The Indonesian Standarized Al-Qur’an. Dapat dipahami bahwa MASU adalah mushaf resmi/standar yang beredar dan berlaku di

Indonesia.36

Adapun secara terminologi, MASU adalah mushaf Al-Qur’an yang dibakukan cara penulisannya, tanda baca (harakat)nya, dan tanda waqaf-nya,

34 Zainal Arifin, “Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia”, http://jurnalsuhuf.kemenag.go.id/index.php/suhuf/article/view/62, 2015, h. 1-2.

35 Ibid., h. 2.

36

28

sesuai hasil yang disepakati dalam Musyawarah Kerja (Muker) Ulama Ahli Al-Qur’an yang berlangsung sampai 9 kali sejak tahun 1974-1983 dan

menjadi pedoman bagi Al-Qur’an yang diterbitkan di Indonesia.37

Dokumen terkait