• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rasulullah sebagai Teladan Dakwah

DAKWAH RASUL SAW

D. Rasulullah sebagai Teladan Dakwah

Rasulullah saw, adalah teladan didalam berdakwah, beliau telah melakukan khutbah berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kali pedoman beliau adalah al-Qur’an, Rasulullah saw berkhutbah kadang-kadang hanya berdiri diatas tanah, dan ada pula di atas mimbar, atau diatas onta. Mimbar beliau mempunyai anak tiga tangga. Sebelum mengunakan mimbar, beliau berkhutbah sambil bersandar pada pohon kurma.30

Bila Rasulullah berkhutbah maka matanya menjadi merah dan suaranya meninggi, keras dan lantang seolah-olah sedang mengarahkan pasukan perang, pada pembukaan khutbahnya beliau selalu membaca Hamdallah, adapun pendapat sebagian fukaha yang bahwa beliau memulai khutbah istisqa dengan ucapan Istiqfar dan khutbah dua hari raya dengan takbir, maka itu tidak ada dasarnya, sunnah beliau adalah membuka seluruh khutbah dengan Hamdalah.31

Dalam berkhutbah, beliau mengajarkan kepada para sahabat kaidah syariat Islam. Jika ada kejadian yang berkaitan dengan perintah atau larangan, beliau langsung

30

Indrus H.A. Khutbah Jaman Rasulullah, ( Solo: CV Aneka, 1987), Cet. Ke –1, h. 9

31

memerintah dan melarang mereka. Minsalnya, beliau menyuruh masuk masjid untuk shalat sunnah dan melarang melangkahi orang.

Dalam ad-Diin al-Khaalish, jus 4, yang berjudul ”Makruuhatul-Khutbah”, hal-hal yang makruh dalam berkhutbah. Disebutkan sebagai berikut:

a. Makruh meningalkan sunnah khutbah, khatib mengetok-ngetok mimbar. Ini salah, tidak ada dalilnya.

b. Makruh mengakat tangan ketika berdoa, cukup dengan mengangkat telunjuk, dalilnya perkataan Husain bin Abdurrahman. ”saat itu aku berada disamping Imarah Ru’aibah as salamy. Bisyar sedang menyampaikan khutbah kepada kami, ia mengangkat kedua tanganya ketika berdoa, Imarah berkata ”semoga Allah memburukan tangan mu” aku melihat Rasulullah hanya mengangkat telunjuk bila berdo’a.

c. Khatib makruh mengunakan kalimat ganda dan kata-kata sulit dipahami.

Ketiga hal tersebut perlu diperhatikan, karena masih sering terjadi pelangaran-pelangaran baik khatib mengakat kedua tangan sewaktu berdo’a dalam khutbah, atau khatib berkata yang sulit dimengerti oleh jama’ah, padahal seorang khotib/juru jama’ah tersebut terdiri dari, anak-anak, remaja, dewasa, dari orang yang awam sampai kepada intlek. Imam Ali berkata: ”Berbicaralah kepada orang lain dengan kalimat yang mereka pahami, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR Ahmad, Muslim, dan lain-lain)

E. Dakwah-dakwah Rasulullah Saw

Nabi Muhamad saw telah melakukan khutbah berpuluh-puluh kali, bahkan beratus-ratus kali, baik sewaktu beliau berada di Mekah maupun di Madinah, berikut penulis akan mencantumkan beberapa contoh khutbah Rasulullah di Mekah dan Madinah.

1. Dakwah Rasulullah di Mekah

Priode Mekah berlangsung selama 12 tahun plus tiga puluh hari terhitung mulai dari 17 Ramadhan tahun 41 sampai awal bulan rabiul Awal tahun 54 dari tahun kelahiran Nabi. Yang berarti priode ini terhitung sejak Rasulullah menetap di kota Mekah yang bertepatan dengan masa beliau diangkat menjadi Rasul sampai beliau hijrah ke Madinah.32

Pada priode Mekah, ummat Islam masih terisolir dan lemah dari segi kualitas dan jumlahnya masih sedikit, sehingga belum dapat membentuk suatu pemerintahan yang kuat. Oleh karena itu yang menjadi prioritas Rasulullah pada periode ini adalah penyebaran/penanaman dakwah dalam rangka mengesakan Allah. Serta berusaha mengikis kemusrikan dan menegakan kalaimat “Laailaaha Illallah Muhamadur Rasulullah”. Selanjutnya penulis akan mencantumkan beberepa contoh dakwah /khutbah Rasulullah pada priode Mekah.

a. Dakwah Rasulullah Kepada Kaumnya Pada saat turun firman Allah Swt,

32

Sopiuddin, Tarikh Tasyri’ Sejarah Pembentukan Hukum Islam, (Jakarta: Amri, 2005 ) Cet. Ke -1. h. 8

”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat“ (Q.S. asyu’araa/26:214)

Rasulullah saw. Memerintahkan Ali untuk menyiapkan makanan. Untuk menjamu kaum Quraisy. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah berdiri, lalu membaca hamdalah, selanjutnya beliau bersabda:

“Seorang pemimpin tidak mendustai keluarganya. Demi Allah kalaupun aku mendustai seluruh ummat manusia, aku tidak akan mendustai kalian. Kalaupun aku memperdaya seluruh ummat manusia, aku tidak akan memperdaya kalian. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, aku benar-benar seorang utusan Allah kepada kalian secara khusus dan kepada umat manusia secara menyeluruh. Demi Allah, kalian pasti akan mati seperti kalian tidur, kalian juga pasti akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun tidur. Kalian pasti akan dihisab atas amal kalian dan kalian pasti akan dibalas kebaikan dengan kebaikan dan keburukan dengan keburukan. Dan disana hanya ada surga selamanya atau neraka selamanya”. (H.R. Abu Dawud, Ibnu Maajah, dan at-Tirmidzi)33

b. Dakwah Rasulullah di Bukit Shafa

33

Syekh Thaha Abdullah al-Afifi, Khobah-khotbah Rasul, (Jakarta: Gema Insani, 2004) Cet ke-1, h. 66

Setelah Allah memerintah Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan, maka beliau Pergi menuju bukit Shafa dan berseru wahai pagi hari! Maka penduduk Quraisy pun berkumpul mendatangi beliau. kemudian beliau berkhutbah:

“Wahai Bani Abdi Manaf, wahai Bani Abdul Muthalib, apa pendapat kalian jika aku kabarkan sekawanan kuda telah mengeluarkan kaki bukit ini; apakah kalian percaya padaku?” mereka menjawab, “Sunguh kamu tidak pernah berbohong” maka beliau bersabda: “Sesunguhnya aku peringatkan kepada kalian bahwa dihadapku terdapat azab yang pedih.”34

c. Khotbah Rasulullah Tentang Tauhid

Dari Ibnu Abbas r.a, ia berujar: “Sesunguhnya aku hendak mengajarkan padamu beberapa kalimat yaitu jagalah Allah pasti Allah akan menjaga dirimu. Peliharalah Allah tentu Dia akan memuliakan dirimu. Kalau engkau hendak meminta sesuatu, mohonlah kepada Allah. Bila engkau mengharapkan pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah jua! Bahwa meski bagaimanpun sekelompok bersepakat untuk

34

. Muhamad Amahzun, Manhaj Da’wah Rasulullah, ( Jakarta Qisthi Press, 2004), Cet ke-1, h. 61

memberikan manfaat kepadamu, maka mereka pasti tidak akan dapat melakukannya kecuali bila sesuatu manfaat itu telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka bersepakat buat menimpakan musibah pada dirimu, mereka tentu tidak akan kuasa melaksanakannya kecuali bila suatu musibah tersebut sungguh-sungguh sudah dicatat oleh Allah atas dirimu.” ( HR. At-Tarmidzi dan ia mengatakan bahwa hadits ini bagus atau sah ) 35

d. Khutbah Rasulullah Mengenai Syirik

Abu Ali, seorang dari bani Kaahil, mengatakan bahwa Abu Musa al-Asy berkata,”Wahai manusia, waspadailah syirik karena ia lebih samar dari pada rayapan semut”. Mendengar pernyataan tersebut Abdullah bin Hazan dan Qais bin al-Mudharib mendekat, mereka berkata kamu harus tunjukan kepada kami dalilnya, aku akan tunjukan dalilnya, kata Abu Musa pada suatu hari Rasulullah saw, berkhutbah didepan kami, beliau bersabda: “Wahai manusia, waspadailah syirik, karena syirik lebih samar dari pada rayapan semut”. 36

e. Khutbah Perintah menyelamatkan Dari Neraka

Abu hurairah mengatakan bahwa ketika turun ayat asyu’araa yang berbunyi:

”Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat“ (Q.S. asyu’araa:214)

35

Hamzah Muhamad Shalih Ajaj, Menyikap Tirai 55 Wasiat Rasul, (Jakarta: Pustaka Panjimas), h. 7

36

Rasulullah, memangil seluruh warga Quraisy, setelah mereka berkumpul beliau bersabda: “Wahai bani Ka’ab bin Lu’ay selamatkan diri kalian dari neraka. wahai bani Murrah bin Ka’ab, selamatkan diri kalian dari neraka, wahai bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari neraka, wahai bani Abdul Muthalib, selamatkan diri kalian dari neraka. Wahai Fatimah, selamatkan dirimu dari neraka. Aku tidak dapat menolong kalian dari siksa Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, at-Tamidzi, dan an-Nasa’I) 37

2. Dakwah di Madinah

Priode Madinah dimulai dari Rasulullah hijrah, sampai beliau wafat, lamanya 9 tahun 9 bulan 9 hari, dari awal bulan Rabiul Awal tahun 54 sampai 9 Dzulhizah tahun 63 dari kelahiran Nabi. Atau sering dibulatkan lama priode ini adalah digenapkan 10 tahun, pada priode ini Islam telah memperlihatkan kekuatannya, dari segi kualitas jumlah ummat pun bertambah banyak. Ummat Islam pada priode ini telah membetuk sebuah komunitas yang mendirikan sebuah Negeri.

Pada sisi lain ummat Islam pada priode Madinah ini, sudah kondosif dan lebih maju, kondisi ini menyababkan dakwah Islam bukan lagi terfokus kepada masalah keimanan seperti yang terjadi di masa Mekah, tapi pada masa ini ajaran Islam sudah menyentuh segala aspek, seperti asfek ibadah, moral, dan sosial dan lain-lain, perkembangan dakwah Rasulullah saw di Madinah di atur mengikuti urutan berikut :

a) Penyatuan kaum Muhajirin dan Ansar melalui institusi masjid.

37

b) Tarbiah Rasulullah saw dikalangan umat Islam di Madinah dalam bidang akidah, ibadah, sosial, ekonomi dan politik.

c) Penyatuan kaum muslimin melalui: persaudaraan, perkawinan, perwarisan, dan sedekah

d) Membuat perjanjian perdamaian dengan yahudi

e) Membuat Shaqifah Madinah (pelembagaan Madinah) yang menjadi teras kenegaraan Islam. 38

Maka untuk selanjutnya penulis akan mencantumkan beberapa khutbah Rasulullah di Madinah yang berkaitan dengan ibadah.

a. khutbah Pertama di Madinah

Dalam sirah-nya, Ibnu Hisyam mengatakan bahwa Khutbah pertama yang disampaikan oleh Rasulullah., sesuai dengan riwayat yang disampaikan kepadaku dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa beliau berdiri di hadapan mereka. Beliau mengucapkan hamdalah dan pujian-pujian yang layak baginya, selanjutnya beliau bersabda:

38

“ Amma ba’du. Wahai manusia beramalah untuk bekal diri kalian. Kalian pasti akan mengetahui bahwa diantara kalian yang mati, lalu ia meningalkan kambingnya tanpa ada yang mengembalakannya. Lalu Tuhannya bertanya kepadanya, tanpa ada juru bicara atau pengawal yang menghalanginya,’ Bukankah Rasul-Ku telah datang kepadamu dan menyampaikan dakwah kepadamu? bukankah Aku juga telah memberimu harta kekayaan dan karunia yang besar? Apa yang telah kamu kerjakan sebagai bekal dirimu? ia mememandang ke kiri kanan, namun tidak melihat apa-apa. Ia memandang ke depan, namun ia hannya melihat neraka jahanam. Oleh karena itu, barang siapa yang dapat melindungi dirinya dari neraka, meski hanya dengan sebiji kurma, hendaknya ia melakukannya. Jika tidak ada, bisa dengan mengucapkan dengan kata-kata baik. Perkataan yang baik akan dibalas dengan sepuluh kali lipat dan terus dilipat sampai tujuh ratus kali. Wassalamu’alaikum wa’ala Rasulillahi wa rahmatullahi wa barakatuh.” (HR al-Baihaqi).39

Ibnu ishak berkata: Kemudian Rasululah shallaaahu alaihi wa sallam berkhutbah pula pada kali yang lain, katanya:

39

Artinya : Sesunguhnya puja puji itu hanya pantas untuk Allah aku memanjatkan pujian dan memohon pertolongan kepada-Nya, dan kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan nafsu kami dan dari keburukan perbuatan kami. Barang siapa yang ditunjuki oleh Allah niscaya tidak ada yang mampu menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada yang mampu menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Sesunguh-Nya sebaik-baik perkataan itu adalah Kitab Allah, Sesunguh beruntung orang yang telah dihiasi Allah hatinya dengan kitab-Nya., dan telah dimasukan oleh Allah kedalam Islam setelah kekafirannya, dan dia memilih jalan Allah dari pada yang selainnyanyakitab Alllah itu adalah sebaik-baik dan sesempurna-sempurna perkataan.

Cintailah apa-apa yang dicintai Allah Cintailah Allah dengan sepenuh hatimu jangan kamu merasa bosan terhadap kalam Allah dan dzikir-Nya. Jangan sampai hati kalian keras dari padanya, sebab Dia menamakan itu amal yang terbaik. Sembahlah Allah jangan kamu sekutukan Dia dengan sesuatupun. Takutlah kepadanya dengan sebenar-benarnya. Dan buktikan kebenaran Allah apa yang telah kamu katakan dengan lidahmu. Dan saling cintailah di antara sesamamu karena Allah. Sesunguhnya Allah sangat murka bila janji kepada-Nya diingkari Wasalamu alaikum wa Rohmatullahi wa baraakatuh.

b. khutbah Jum’at di Madinah

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Yunus bin Abdul-A’la mengabarinya dari Ibnu Wahab dari Said bin Abdurrahman al-Jumahi bahwa ia mendengar khutbah Rasulullah saw, pada shalat jum’at pertama yang beliau laksanakan di Madinah, tepatnya di bani Salim

bin Amru bin Auf inilah khutbah Rasulullah saw: “Alhamdulillah. Aku memuji-Nya, meminta pertolongan-Nya, meminta ampunan-Nya, dan meminta hidayah Nya. Aku beriman kepada-Nya, tidak kafir kepada-Nya. Aku memusuhi orang yang mengingkari-Nya, aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah yang maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhamad adalah hamba dan Rasul-Nya. Dia mengutusnya dengan pentunjuk dan agama yang benar, dengan cahaya, dan mau’zhah setelah lama tidak diutus para Rasul, ditengah sedikitnya ilmu dan kesesatan manusia serta kedekatan dengan kiamat. Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia telah lurus. Dan barang siapa mendurhakai mereka, maka ia telah melampui batas dan sesat dengan jelas.

Aku berwasiat kepada kalian dengan takwa kepada Allah. Hal terbaik yang aku wasiatkan kepada seorang muslim adalah mendorongnya agar beramal demi akhirat dan menyuruhnya bertakwa kepada Allah. Takutlah kepada hal yang telah diperingatkan-Nya kepada kalian tidak ada nasehat yang lebih afdhal dari pada itu. Tidak ada peringatan yang lebih baik dari pada itu. Itu adalah ketakwaan bagi orang

yang mengamalkannya dengan perasaan takut dan gentar. Merupakan penyokong yang kuat atas pahala akhirat kalian dambakan. Barangsiapa memperbaki rahasia dan terang-terangan antara ia dan Allah dengan tidak meniatkannya kecuali untuk Allah, maka hal itu akan menjadi pengikat baginya pada kehidupan dunianya dan bekal setelah mati ketika seorang manusia membutuhkan apa yang telah ia kerjakan.

”Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; Ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya” (Q S Ali Imran/3:30)

Zat yang firman-Nya benar dan Dia mewujudkan janji-Nya, Dia berfirman,

”Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku” (Q S Qaaf:29)

Bertakwalah kepada Allah dalam masalah dunia dan akhirat kalian, baik yang rahasia maupun yang terang-terangan karena:

”Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu; dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya (Q S ath-Thalaq/65:5)

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya ia telah mendapat untung yang sangat besar. Sesunguhnya, takwa kepada Allah akan melindungi kalian dari murka-Nya, hukuman-Nya, dan amarah-Nya. Takwa kepada Allah akan mencerahkan wajah, Membuat Tuhan dan meningikan derajat. Carilah keberuntungan kalian jangan melalaikan hak Allah. Allah telah mengajarkan kitab-Nya kepada kalian dan menjelaskan jalan-Nya agar dia mengetahui mana orang yang benar dan mana orang yang berbohong. Oleh karena itu, berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik

kepada kalian. Musuhilah musuh-musuh-Nya dan berjihadlah dijalan Allah dengan sebenar-benarnya, dia telah memilih kalian dan menamai kalian muslimin”.40

c. Khutbah Tentang Tobat dan Amal Saleh

Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. Berkhutbah diatas mimbar, beliau bersabda: “Wahai manusia, bertobatlah kepada Tuhan kalian sebelum kalian mati, segera beramal saleh sebelum kalian tidak dapat melakukannya. Sambunglah hubungan diantara kalian dan Tuhan kalian dengan banyak mengingat-Nya dan banyak bersedekah, baik secara rahasia maupun terang-terangan, niscaya kalian akan diberi rizki, pahala, kemenangan, pujian, serta pertolongan”. Ketahuialah, bahwa Allah telah mewajibkan jum’at atas kalian di tempatku berdiri ini, pada hari ini, pada bulan ini, pada tahun ini, sampai hari kiamat, kewajiban atas orang yang mampu melaksanakannya. Barangsiapa meningalkannya sewaktu aku masih hidup atau setelah aku mati dengan mengingkari kewajibannya atau meremehkan haknya, sementara ia memiliki pemimpin yang adil, maka aku berdoa semoga Allah tidak mengumpulkan persatuaanya dan tidak memberkahinya, shalatnya tidak diterima, puasanya tidak diterima, wudhunya tidak diterima, dan kebaikannya tidak diterima hingga ia bertobat ”. Barangsiapa bertobat, Allah akan mengampuninya. Ketahuilah, wanita hendaknya tidak mengimani seorang pria dalam shalat. Seorang badui hendaknya tidak mengimani orang muhajirin, hendaknya orang durjana tidak mengimani orang mukmin, kecuali orang

40

mukmin itu dipaksa oleh seorang pemimpin yang ia takuti pedang dan cambuknya. (HR Ibn Maajah dan al-Baihaqi) 41

d. Khutbah Mengenai Keutamaan Bulan Ramadhan

Salman al-Farisi mengatakan bahwa Rasulullah saw. Berkhutbah kepada kami pada akhir bulan Sya’ban. Rasulullah bersabda : “Wahai manusia, sebuah bulan yang agung dengan penuh berkah telah menaungi kalian. Bulan yang didalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang puasanya dijadikan fardhu oleh Allah dan shalat malamnya dijadikan sunnah. Barangsiapa yang mendekatkan diri kepada Allah pada bulan itu, maka ia seperti orang yang menunaikan sebuah tujuh puluh fardhu pada bulan yang lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran pahalanya adalah syurga. Ia adalah bulan pelipur lara dan bulan yang didalamnya rezki mukmin ditambah. Barangsiapa yang memberi buka kepada seorang yang berpuasa pada bulan itu, maka hal itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya dan pembebasan dirinya dari neraka. Ia juga mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tanpa dikurangi sedikitpun”

e. Khutbah Tentang Menunaikan Hak Orang Lain

Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah saw, berkutbah. Beliau bersabda: “Allah telah memberi setiap orang yang berhak haknya. Dia menetapkan yang fardhu serta sunnah serta hudud, Dia menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Dia mengisyaratkan agama, menjadikannya mudah, toleran, lapang, dan tidak menjadikan

41

sempit. Ketahuilah bahwa tidak ada iman bagi orang yang tidak memilki amanah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji …” (HR. ath-Thabrani) 42

f. Khutbah Mengenai Perbuatan Baik

Jarir berkata, siang itu kami sedang bersama Rasulullah saw. Tiba-tiba beliau didatangi sekelompok orang mereka mengenakan nimar dan ‘abaa’ sambil membawa padang. Kebanyakan, atau bahkan seluruh kabilah Mudhar. Wajah Rasulullah berubah melihat kemiskinan mereka, beliau masuk rumah dan keluar lagi dan menyuruh bilal mengumandangkan azan lalu iqamah. Selesai salat beliau berkhutbah:

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.( an-Nisaa /4:1)

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjaka”. ( al-Hasyr/59:18)

42

Seorang pria menyedekahkan dinarnya, pakaiannya, gandumnya, dan kurmanya, hingga beliau berkata: “…Muskipun dengan kecuali kurma” Maka seorang Anshar datang membawa satu buntalan yang nyaris telapak tangannya tidak sangup membawanya. Kemudian berduyun-duyun orang-orang mengikutinya sampai aku melihat terkumpul dua gundukan makanan dan pakaian, aku melihat wajah Rasulullah berseri-seri, seperti berlapis emas, beliau bersabda. ”Barang siapa dalam Islam membuat contoh yang baik, maka ia mendapat pahalanya dan pahala orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang pahala mereka sedikit pun. Dan barang siapa yang membuat contoh yang buruk dalam Islam, maka ia mendapat dosanya dan dosa yang mengerjakannya setelahnya tanpa berkurang sedikit pun dosa mereka’ (HR Muslim, Ibnu Maajah, dan at-Tirmidzi) 43

g. Khutbah Agar Menyebarkan Salam, Memberi Makan, Menyambung Silaturahmi Abu Yusuf Abdullah bin Salam mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah Saw, bersabda, “Wahai manusia, sebarkan salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi ….” (HR at-Tirmidzi) 44

h. Khutbah yang lainnya

43

Ibid,. h. 95

44

Amma ba’du sesunguhnya sebenar-benar perkataan itu adalah kitab Allah Ta’ala, sekuat-kuat pegangan itu adalah kalimat taqwa, sebaik-baik agama adalah agama Ibrahim, dan sebaik-baik agama itu adalah sunnah itu adalah sunnah Muhamad.

Semulia-mulia perkataan adalah dzikrullah, sebaik-baik kisah adalah al-Qur’an, sebaik-baik urusan adalah perkara yang telah diniati dan seburuk-buruk urusan itu ialah perkara yang diada-adakan.

Sebaik-baik petunjuk itu ialah petunjuk para Nabi, semulia-mulia ialah mati syahid, buta yang paling sangat itu ialah sesat sesudah petunjuk

Sebaik-baik amal itu ialah yang bermanfaat, sebaik-baik petunjuk itu ialah yang diikuti, seburuk-buruk buta ialah buta hati.

Tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah (maksudnya: pemberi lebih baik dari peminta), sesuatu yang sedikit namun mencukupi itu baik dari pada banyak namun melalaikan.

Seburuk-buruk permohonan ampun itu ialah ketika menjelang maut, dan seburuk-buruk penyesalan itu ialah penyesalan pada hari kiamat .

Diantara manusia ada yang mengerjakan shalat setelah waktunya hampir habis(diakhir waktunya, dan diantara mereka ada orang yang tidak menyebut Allah kecuali dengan perkataan buruk. Diantara dosa besar lidah itu adalah dusta. Sebaik-baik kaya itu ialah kekayaan hati, sebaik-baik bekal ialah takwa,

Dokumen terkait