• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V PEMBAHASAN

5.7. Distribusi Proporsi Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Keadaan

5.8.4. Rata-Rata Lama Rawatan Berdasarkan Penatalaksanaan Medis

Distribusi proporsi rata-rata lama rawatan berdasarkan penatalaksanaan medis penderitakanker payudara yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 2011- 2013 dapatdilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.17. Diagram Batang Rata-Rata Lama Rawatan Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Penatalaksanaan Medis di RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011-2013

Berdasarkan gambar 5.17 dapat dilihat rata-rata lama rawatan berdasarkan jenis penatalaksanaan medis yaitu penderita diberi penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi rata-rata lama rawatan adalah 10,5 hari, operasi rata-rata lama rawatan adalah 6,92 hari, kemoterapi rata-rata lama rawatan 6,52 hari dan konservatif lama rawatan rata-rata 3,17 hari.

Uji statistik Annova tidak dapat digunakan karena hasil Test of Homogenity of variances data tidak homogen maka dilakukan uji Kruskal-Wallis dengan nilai p= 0,001 (p<0,05), artinya ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata lama rawatan penderita kanker payudara berdasarkan jenis penatalaksanaan medis. Lama rawatan setiap penderita kanker payudara sangat bervariasi, tergantung pada jenis penatalaksanaan medis yang diberikan kepada penderita, bila penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi maka lama rawatan juga akan semakin lama.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Hutasoit (2008) pada tahun 2004-2007 di RSU Dr. Pirngadi Medan yang menemukan ada perbedaan lamarawatan rata-rata berdasarkan penatalaksanaan medis (p = 0,019).35

26,1% 45,7% 22,6% 53,3% 0 30,4% 17,1% 38,7% 0 100% 34,8% 31,4% 32,3% 46,7% 0 8,7% 5,7% 6,5% 0 0 0 20 40 60 80 100 120

Askes Jamkesmas JKPROVSU Medan Sehat Umum

Operasi (O) Kemoterapi (K)

O+K Konservatif

5.8.5. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Sumber Biaya

Distribusi proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya penderitakanker payudara yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 2011- 2013 dapatdilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.18. Diagram Penatalaksanaan Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Sumber Biaya di RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011-2013

Berdasarkan gambar 5.18 dapat dilihat proporsi penderita kanker payudara yang berobat dengan sumber biaya Askes 34,8% diberi penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi, 30,4% kemoterapi, 26,1% operasi dan 8,7% konservatif. Penderita kanker payudara yang berobat dengan sumber biaya Jamkesmas 45,7% diberi penatalaksanaan medis operasi, 31,4% operasi+kemoterapi, 17,1% kemoterapi dan 5,7% konservatif. Penderita kanker payudara yang berobat dengan sumber biaya JKPROVSU 38,7% diberi penatalaksanaan medis kemoterapi, 32,3% operasi+kemoterapi, 22,6% operasi dan 6,5% konservatif. Penderita kanker payudara

yang berobat dengan sumber biaya Medan sehat 53,3% diberi penatalaksanaan medis operasi dan 46,7% diberi penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi. Penderita kanker payudara yang berobat dengan sumber biaya Umum 100% diberi penatalaksanaan medis kemoterapi.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-squaretidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 9 sel (45%) yang mempunyai expected count<5.

Tingginya proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan sumber biaya yang digunakan tidak dapat diartikan bahwa setiap sumber biaya yang digunakan akan menentukan penatalaksanaan medis yang diberikan kepada pasien penderita kanker payudara. Hal ini berkaitan dengan penderita kanker payudara yang memiliki kartu jaminan sehat dari pemerintah yang didapatkan/diurus oleh pemerintah pada periodenya. Data yang diperoleh dari kartu status penderita ditemukan pasien yang berobat dengan menggunakan sumber biaya umum sebanyak 2 orang dengan status pendidikan tertinggi SMA dan pekerjaan sebagai IRT. Dapat diartikan bahwa pengobatan yang dibiayai sendiri tanpa menggunakan jaminan kesehatan dari pemerintah ini bisa terjadi karena pasien yang kurang sosialisasi akan kartu jaminan sehat dari pemerintah ataupun pasien yang berasal dari golongan mampu sehingga tidak menggunakan kartu jaminan sehat, dan dikarenakan pada periode tahun 2011- 2013 BPJS belum direalisasikan.

Maka dapat disimpulkan bahwa penatalaksanaan medis yang diberikan kepada penderita kanker payudara tidak berhubungan dengan sumber biaya yang digunakan penderita kanker payudara.

35,9% 37,5% 16,7% 27,2% 12,%5 16,7% 35,9% 0 50% 1,1% 50% 16,7% 0 10 20 30 40 50 60 PBJ PAPS Meninggal Operasi (O) Kemoterapi (K) O+K Konservatif

5.8.6. Penatalaksanaan Medis Berdasarkan Keadaan sewaktu pulang

Distribusi proporsi penatalaksanaan medis berdasarkan keadaan sewaktu pulang penderitakanker payudara yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 2011-2013 dapatdilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.19. Diagram Batang Penatalaksanaan Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011-2013

Berdasarkan gambar 5.19 dapat dilihat penderita kanker payudara yang pulang berobat jalan (PBJ) 35,9% adalah penderita yang diberi penatalaksanaan medis operasi, 27,2% kemoterapi, 35,9% operasi+kemoterapi dan 1,1% konservatif.Penderita kanker payudara yang pulang atas permintaan sendiri (PAPS) 50% adalah penderita yang diberi penatalaksanaan medis konservatif, 37,5% operasi, 12,5% penatalaksanaan kemoterapi.Penderita kanker payudara yang pulang dalam keadaan meninggal 50% adalah penderita yang diberi penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi, 16,7% diberi penatalaksanaan operasi, kemoterapi dan konservatif.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 8 sel (66,7%) yang mempunyai expected count <5.

Case Fatality Rate (CFR) penderita kanker payudara adalah 5,66%. 5 orang meninggal pada stadium lanjut dan 1 orang meninggal pada stadium dini.Dari 6 orang yang meninggal terdapat 5 orang berusia > 40 tahun dan 1 orang berusia < 40 tahun dengan riwayat stadium IIB dan komplikasi TB paru.

Penderita pulang berobat jalan (PBJ) dengan penatalaksanaan medis paling tinggi adalah operasi sebesar 35,9%, hal ini dikarenakan setelah menjalani penatalaksanaan medis operasi, penderita hanya dirawat sekitar ±3 hari dan pasien akan pulang berobat jalan karena tindakan medis yang diberikan umumnya masektomi, insisi dan eksisi yang tidak memerlukan perawatan yang intensif sehingga pasien dapat pulang berobat jalan. Pasien dengan PBJ mayoritas dengan stadium dini yaitu 43,5%.

Penderita dengan pulang atas permintaan sendiri (PAPS) adalah konservatif sebesar 50%. Berdasarkan data yang diperoleh dari kartu status adalah pasien dengan riwayat PAPS adalah pasien dengan stadium lanjut yang belum mendapatkan tindakan medis spesifik terhadap penyakit kanker payudara, penderita hanya diberikan obat penghilang rasa nyeri. Sebelum penatalaksanaan medis secara spesifik dilakukan, penderita sudah memutuskan untuk pulang dengan beberapa alasan seperti rasa takut akan tindakan operasi ataupun kemoterapi serta pasien yang merasa putus asa akan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh.

43,5% 50% 16,7% 56,5% 50% 83,3% 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 PBJ PAPS Meninggal stadium dini stadium lanjut

Penderita pulang dalam keadaan meninggal dengan penatalaksanaan medis paling tinggi adalah operasi+kemoterapi sebesar 50%. Penderita yang meninggal lama rawatan paling banyak adalah 28 hari dengan penatalaksanaan medis operasi+kemoterapi, Stadium IV dan umur 40 tahun.

5.8.7. Stadium Klinik Berdasarkan Keadaan sewaktu pulang

Distribusi proporsi stadium klinik berdasarkan keadaan sewaktu pulang penderitakanker payudara yang dirawat inap di RSU Dr. Pirngadi Medan tahun 2011- 2013 dapatdilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 5.20. Diagram Batang Penatalaksanaan Penderita Kanker Payudara Berdasarkan Keadaan Sewaktu Pulang di RSU Dr. Pirngadi Medan Tahun 2011-2013

Berdasarkan gambar 5.20 dapat dilihat penderita kanker payudara yang pulang berobat jalan (PBJ) 56,5% adalah stadium lanjut dan 43,05% adalah stadium dini. Penderita kanker payudara yang pulang atas permintaan sendiri (PAPS) 50% adalah stadium dini dan stadium lanjut. Penderita kanker payudara yang pulang dalam keadaan meninggal 83,3% adalah stadium lanjut dan 16,7% adalah stadium dini.

Analisa statistik dengan menggunakan uji Chi-square tidak memenuhi syarat untuk dilakukan karena terdapat 4 sel (66,7%) yang mempunyai expected count <5.

Dari hasil penelitian didapatkan pasien PBJ stadium lanjut lebih tinggi dibandingkan stadium dini, ini disebabkan karena stadium lanjut lebih tinggi yaitu sebanyak 61 kasus. Hal ini dapat dijelaskan karena pada stadium lanjut (IIIA,IIIB,IIIC dan IV) rata- rata yang melakukan tindakan operasi+kemoterapi menunjukkan keadaan yang lebih membaik sehingga memutuskan untuk melakukan berobat jalan dan mayoritas adalah stadium IIIA dan IIIB. Sedangkan stadium IIIC dan IV lebih dominan pulang atas permintaan sendiri ataupun meninggal.

Pada pasien pulang dalam keadaan meninggal terdapat 1 kasus stadium dini meninggal. Dari data rekam medis yang diperoleh pasien yang meninggal saat stadium dini adalah pasien berusia 39 tahun, stadium IIB, dengan penatalaksanaan medis yang diberikan adalah kemoterapi dan lama rawatan selama 18 hari. Pasien stadium dini meninggal disebabkan oleh penyakit komplikasi lain yang dideritanya yaitu TB paru.

Dokumen terkait