• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEOR

4. Perhitungan Waktu Normal

3.2. Rating Factor (Penyesuaian)

Rating Factor (Penyesuaian) adalah perbandingan antara kerja (performance) seorang operator dengan konsep normalnya. Selama pengukuran berlangsung pengukur harus mengamati kewajaran kerja operator.

Untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari hasil pengamatan, maka hal ini dilakukan dengan mengadakan penyesuaian yaitu dengan cara mengalikan waktu pengamatan rata-rata (bisa waktu siklus ataupun waktu untuk tiap-tiap elemen) dengan faktor penyesuaian (rating) “P”. Dari faktor ini adalah sebagai berikut :

1. Apabila operator dinyatakan terlalu cepat yaitu bekerja diatas batas kewajaran (normal) maka rating factor ini akan lebih besar dari pada satu (p > 1 atau p > 100 %).

4

Sritomo Wigujasoebroto; Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu; Teknis Analisis untuk Pengendalian Produktivitas Kerja; Penerbit Guna Widya; Edisi Pertama Cetakan Kedua; 2000, Surabaya. Hal : 174

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

2. Apabila operator dinyatakan terlalu lambat yaitu bekerja dengan kecepatan dibawah batas kewajaran (normal) maka rating factor ini akan lebih kecil dari pada satu (p < 1 atau p < 100 %).

3. Apabila operator bekerja secara normal atau wajar maka rating factor ini diambil sama dengan satu (p = 1 atau p = 100 %). Untuk kondisi kerja dimana operasi penuh dilaksanakan oleh mesin (operating atau machine time) maka waktu yang diukur dianggap merupakan waktu yang normal. Guna melaksanakan pekerjaan secara normal maka dianggap bahwa operator tersebut cukup berpengalaman pada saat bekerja melaksanakannya tampa usaha-usaha yang berlebihan sepanjang hari kerja, menguasai cara kerja yang ditetapkan, dan menunjukkan kesungguhan dalam menjalankan pekerjaanya.

Penilaian wajar atau tidak wajar performance seorang operator dapat dilakukan dengan pendekatan diantaranya :

a. Cara Persentase

Merupakan cara paling sederhana dimana faktor penyesuaian (p) ditentukan berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh pengukur. Harga p yang ditetapkan pengukur kemudian dikalikan dengan jumlah siklus. Ketelitian dari cara ini kurang baik dan sangat ditentukan subjektivitas pengukur.

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

Performance operator dibagi kedalam beberapa kelas, kemudian masing- masing kelas diberi patokan nilai yang menggambarkan tingkat performance dari operator tersebut.

c. Cara Westing House

Penilaian performance operator ada empat faktor yang berpengaruh terhadap suatu kerja yaitu keterampilan (skill), usaha (effort), kondisi kerja (condition), dan konsistensi (consistency). Setiap faktor mempunyai beberapa kelas dengan nilai tersendiri.

3.3. Penetapan Waktu Longgar (Allowance)

Waktu normal untuk suatu elemen operasi kerja adalah semata-mata menunjukkan bahwa seorang operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan/tempo kerja yang normal. Walaupun demikian pada prakteknya kita akan melihat bahwa tidaklah bisa diharapkan operator tersebut akan mampu bekerja secara terus-menerus sepanjang hari tampa adanya interupsi sama sekali. Disini kenyataannya operator akan sering memperhatikan kerja dan membutuhkan waktu-waktu khusus untuk keperluan seperti personal needs, istirahat melepas lelah, dan alasan-alasan lain yang diluar kontrolnya.

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

Allowance (kelonggaran) adalah waktu yang ditambahkan pada waktu normal dan disediakan untuk kebutuhan pribadi, hambatan tak terhindarkan, dan fatigue. Ada dua metode yang sering digunakan dalam mengembangkan data standard allowance. Teknik pertama adalah studi produksi yang mengharuskan pengamat untuk mempelajari dua atau tiga operasi untuk periode waktu yang panjang. Pengamat pencatat durasi dan alasan untuk masing-masing interval waktu menganggur. Setelah menentukan sample yang representatif, pengamat menyimpulkan hasil pengamatan untuk menentukan persen kelonggaran untuk masing-masing karakteristik. Data yang diperoleh harus digunakan untuk level performansi normal. Kerugian dari metode ini adalah kecenderungan untuk mengambil sample yang kecil mengakibatkan hasil yang besar.5

5

Sutalaksana Aggawisastra; Teknik Tata Cara Kerja; Jurusan Teknik Industri ITB; 1979, Bandung

Teknik kedua melibatkan studi work sampling. Metode ini membutuhkan jumlah observasi acak yang besar, sehingga hanya membutuhkan sedikit waktu dalam pengamatan. Dalam menggunakan metode ini stopwatch tidak digunakan. Pengamat hanya melihat dan memcatat kegiatan yang dilakukan operator pada waktu-waktu tertentu saja. Jumlah hambatan dibagi dengan jumlah pengamatan selama operator bekerja produktif dianggap sudah mendekati allowance yang dibutuhkan operator dalam mengakomodasi hambatan normal yang ada.

Kelonggaran ini dibagi atas hambatan tak terhindarkan, hambatan terhindarkan, kelonggaran tambahan (extra allowance), dan policy allowance.

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

a. Personal Needs (Kebutuhan Pribadi)

Personal Needs (Kebutuhan Pribadi) adalah hal-hal seperti minum sekedarnya untuk menghilangkan rasa haus, kekamar kecil, bercakap- cakap dengan teman sekerja sekedar untuk menghilangkan ketegangan ataupun kejemuan dalam kerja. Kebutuhan ini jelas terlihat sebagai suatu yang mutlak, tidak bisa misalnya seseorang diharuskan terus bekerja dengan rasa dahaga atau melarang pekerja untuk sama sekali tidak bercakap-cakap sepanjang jam-jam kerja. Larangan demikian tidak saja merugikan pekerja (karena merupakan tuntutan psikologis dan fisiologis yang wajar) tetapi juga merugikan perusahaan karena dengan kondisi demikian pekerja tidak akan dapat bekerja dengan baik bahkan hampir dapat dipastikan produktivitasnya menurun. Besarnya kelonggaran yang diberikan untuk kebutuhan pribadi seperti itu berbeda-beda dari satu pekerjaan kepekerjaan lainnya karena setiap pekerjaan mempunyai karakteristik sendiri-sendiri dengan tuntutan yang berbeda-beda.

b. Basic Fatigue Allowance

Basic fatigue allowance adalah ketetapan dalam menghitung jumlah energi yang dikeluarkan dalam menyelesaikan pekerjaan.

2. Variable Fatigue Allowance

Variable fatigue allowance adalah kelonggaran yang diberikan untuk menghilangkan fatigue pekerja yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

dan kondisi kerja. Penentuan besarnya kelonggaran ini biasanya ditetapkan oleh pihak perusahaan. Penentuan kelonggaran untuk variable fatigue dapat dilihat dari :

a. Abnormal posture b. Muscular force c. Atmospheric conditions d. Noise level e. Illumination levels f. Visual strain g. Mental strain h. Monotony 3. Special Allowance

a. Unavoidable Delays (Hambatan Tak Terhindarkan)

Dalam melaksanakan pekerjaanya, pekerja tidak akan lepas dari hambatan. Ada hambatan yang dapat dihindarkan dan ada pula hambatan yang tidak dapat dihindarkan karena berada diluar kendali pekerja. Beberapa contoh yang termasuk kedalam hambatan tak terhindarkan adalah :

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

- Melakukan penyesuaian-penyesuaian mesin

- Memperbaiki kemacetan-kemacetan singkat seperti pendorongan crate pada conveyor, penambahan botol ke crate bila terdapat yang kosong setelah di mesin uncaser dan sebagainya.

- Mengambil peralatan khusus atau bahan-bahan khusus di gudang

- Hambatan karena kesalahan pemakaian alat atau bahan

- Mesin berhenti karena matinya aliran listrik

b. Avoidable Delays (Hambatan Terhindarkan)

Biasanya tidak diberikan kelonggaran untuk hambatan yang dapat dihindarkan seperti mengunjungi operator lain untuk alasan sosial, mengobrol yang berlebihhan atau menganggur dengan sengaja.

c. Extra Allowance

Extra allowance adalah kelonggaran yang diberikan untuk operator dalam menjaga fasilitas kerja agar tetap dapat digunakan sepanjang jam kerja.

d. Policy Allowance

Policy alIowance digunakan untuk memberikan tingkat kepuasan pendapatan untuk tingkat performance khusus dalam keadaan tertentu. Contoh kelonggaran seperti ini adalah penggantian pekerja, kemahiran yang berbeda, atau pekerja dengan tugas khusus. Kelonggaran ini

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

ditetapkan oleh manajemen perusahaan, bahkan mungkin dengan negosiasi antar perusahaan.6

Salah satu kriteria pengukuran kerja adalah pengukuran waktu (time study) pengukuran kerja yang dimaksudkan adalah pengukuran waktu standard atau waktu baku. Waktu standard didefenisikan sebagai waktu yang dibutuhkan seorang operator untuk menyelesaikan satu siklus kerja atau kegiatan yang dilakukan menurut metode kerja tertentu pada kecepatan normal dengan mempertimbangkan faktor-faktor ketelitian, kelonggaran untuk kebutuhan pribadi dan lainnya. Waktu standard yang dicari bukanlah waktu tercepat yang dapat dicapai seorang pekerja, tetapi waktu kerja yang dilakukan secara wajar, didalam suatu sistem kerja terbaik. Yang dimaksud dengan pekerjaan yang dilakukan secara wajar disini adalah pekerja tetap bekerja sebagaimana biasa walaupun sedang diamati dan pekerja yang diamati tersebut adalah pekerja normal, bukan pekerja terlalu terampil dan bukan pula yang lamban dan pemalas.

3.4. Waktu Standard (Standard Time)

7

6

Sritomo Wigujasoebroto; Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu; Teknis Analisis untuk Pengendalian Produktivitas Kerja; Penerbit Guna Widya; Edisi Pertama Cetakan Kedua; 2000, Surabaya. Hal : 201-206.

7

Sritomo Wigujasoebroto; Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu; Teknis Analisis untuk Pengendalian Produktivitas Kerja; Penerbit Guna Widya; Edisi Pertama Cetakan Kedua; 2000, Surabaya. Hal : 203.

Langkah-langkah untuk menentukan waktu standard dari suatu pekerjaan dapat dilihat pada Gambar 3.2.

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009 DATA PENGAMATAN Waktu Terpilih Waktu Standard Waktu Normal KELONGGARAN PENYESUAIAN

Gambar 3.2. Langkah-langkah Penentuan Waktu Standard

Berdasarkan skema diatas, maka rumus-rumus yang digunakan untuk menentukan waktu standard tersebut adalah :

Waktu Normal = WT x RF Waktu Standard (WS) = WN x ALL % % 100 % 100 − Dimana :

WN = Waktu Normal (Normal Time) WT = Waktu Terpilih (Selected Time)

RF = Faktor Prestasi Kerja (Rating Factor) dalam % ALL = Allowance dalam %

Nurhayati Munthe : Pengukuran Allowance Real Terhadap Operator Pengepakan Produk Frestea Sebagai Basis Penentuan Waktu Standar Di PT. Coca Cola Bottling Indonesia Medan, 2009.

USU Repository © 2009

BAB IV