• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

B. REALISASI ANGGARAN

Pengelolaan Keuangan Daerah merupakan bagian integral dari seluruh proses dan mekanisme pengelolaan keuangan negara yang diwujudkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pengelolaan keuangan daerah meliputi perencanaan,pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah yang didasarkan atas prinsip tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan dan bertanggungjawab dengan memperhatikan asas keadilan, kepatuhan dan manfaat untuk masyarakat.

Kebijakan pengelolaan keuangan daerah diarahkan selain untuk mempercepat realisasi visi dan misi daerah juga untuk mengatasi berbagai permasalahan pokok seperti penanganan kemiskinan, perluasan kesempatan kerja, perbaikan mutu pelayanan publik utamanya pelayanan dasar, peningkatan produktifitas sektor dominan yang mempengaruhi PDRB, dan perluasan daya saing investasi. Untuk mewujudkan kebijakan tersebut perlu didukung kebijakan penajaman APBD yang sesuai visi dan misi daerah melalui efektifitas dan efisiensi belanja daerah dan upaya peningkatan pendapatan daerah yang tetap mendukung iklim investasi daerah serta adanya komitmen seluruh elemen pengelola keuangan daerah. Sebagai rencana pengelolaan keuangan tahunan daerah, APBD Kota Salatiga Tahun Anggaran 2019, disusun dengan pendekatan kinerja dan mengutamakan pencapaian hasil kerja dari perencanaan alokasi biaya yang didasarkan pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Salatiga Tahun 2017-2022 dan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2019.

Usulan program kegiatan dan anggaran dinilai tingkat kewajarannya melalui rasionalisasi dan sinkronisasi program. Penilaian kewajaran dan kesesuaian tugas dan fungsi perangkat daerah dengan program dan kegiatan yang diusulkan, dapat dilihat dari pelaksanaan program yang

sudah diselesaikan oleh perangkat daerah dengan prioritas program dan kegiatan yang diusulkan dalam capaian kinerja yang direncanakan.

Struktur APBD merupakan satu kesatuan yang terdiri dari Pendapatan Daerah, Belanja Daerah dan Pembiayaan Daerah. Belanja Daerah tahun 2019 dianggarkan sebesar Rp.1.165.421.773.000,- dapat terealisasi sebesar Rp. 942.687.426.593,- atau sebesar 80,89%. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 sebesarRp923.538.238.485,- maka mengalami peningkatan sebesar Rp.19.149.188.108,-

1. Pengelolaan Pendapatan Daerah

Pendapatan Daerah adalah semua hak daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan. Pendapatan daerah merupakan unsur penting dalam mendukung penyediaan kebutuhan Belanja Daerah dan diharapkan dapat memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi yang akan memberikan konsekuensi logis bagi peningkatan potensi penerimaan daerah.

a. Kebijakan Pengelolaan Pendapatan Daerah

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 2 ayat 2 menyatakan bahwa Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) merupakan salah satu jenis pajak yang menjadi pajak daerah kabupaten/kota. Dengan amanat undang-undang tersebut kebijakan Pemerintah Kota Salatiga yang tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 11 tahun 2011 tentang Pajak Daerah, mulai 1 Januari tahun 2011 telah melaksanakan pengelolaan BPHTB, ABT (Air Bawah Tanah) dan PBB perkotaan dan Perdesaan mulai 1 Januari 2014. Beberapa upaya strategis untuk mendukung terwujudnya good governance dalam pengelolaan keuangan dan barang daerah yang profesional, terbuka dan bertanggung jawab ditempuh dengan :

a. Mempedomani kebijakan pemerintah dalam pengelolaan keuangan dan barang daerah;

b. Membentuk kerjasama dengan instansi terkait untuk mengadakan pelatihan pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah;

c. Mengikuti pelatihan dan workshop mengenai perkembangan peraturan pengelolaan keuangan yang dilaksanakan oleh pemerintah pusat maupun lembaga keuangan lainnya;

d. Mengupayakan adanya informasi sedini mungkin dari Pemerintah agar prediksi penerimaan daerah yang masuk ke dalam APBD makin realistis;

e. Mengupayakan Sistem Informasi Pengelolaan Pajak Daerah yang terintegrasi.

f. Meningkatkan koordinasi antar instansi untuk memonitor dan melaporkan pengelolaan keuangan yang menjadi tanggung-jawabnya;

g. Mengupayakan Sistem Informasi Pengelolaan Keuangan Daerah dan Barang Daerah yang terintegrasi.

h. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan keuangan berdasarkan prinsip ekonomi dan produktivitas melalui pembentukan dan pengembangan Badan Layanan Usaha Daerah (BLUD). Terbentuknya BLUD ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam pembaharuan manajemen keuangan sektor publik, demi meningkatkan pelayanan pemerintah kepada masyarakat.

b. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah

Sumber pendapatan daerah Kota Salatiga tahun 2019 terdiri dari Pendapatan Asli Daerah, Pendapatan Transfer (Dana Perimbangan), dan Lain-Lain Pendapatan yang Sah baik dari Pemerintah Pusat maupun dari Pemerintah Provinsi yang sudah diterimadi Rekening Kas Umum Daerah, Bendahara Penerimaan OPD, Bendahara Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) dan Bendahara Operasional (BOS) selama tahun 2019. Pengelolaan pendapatan daerah bertujuan mengoptimalkan sumber pendapatan daerah untuk meningkatkan kapasitas fiskal daerah dengan tujuan memaksimalkan penyelenggaraan pemerintah daerah dalam rangka pelayanan kepada masyarakat. Pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah dalam melaksanakan fungsi pelayanan dasar publik masih banyak bergantung pada penerimaan dari danaperimbangan yang terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi Khusus, dan Dana Bagi Hasil Pajak dan bukan Pajak.

Adanya otonomi daerah diharapkan dapat memacu daerah menuju ke tingkat kemampuan keuangan yang lebih baik yang tercermin dengan semakin meningkatnya kapasitas fiskal dan berkurangnya celah fiskal dari tahun ke tahun. Perlu dilakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kapasitas fiskal dengan mengoptimalkan sumber-sumber pendapatan daerah yang merupakan komponen kapasitas fiskal daerah. Kebijakan pendapatan tahun 2017-2022 difokuskan untuk memberdayakan potensi pendapatan daerah dan mendorong peningkatan dana perimbangan melalui :

a. Optimalisasi penggalian sumber-sumber pendapatan daerah (ekstensifikasi dan intensifikasi).

b. Peningkatan pengelolaan, pemanfaatan dan pengawasan aset daerah yang berdaya guna dan berhasil guna.

c. Peningkatan Sistem Pelayanan Unit Pelayanan Teknis Daerah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

d. Peningkatan profesionalisme sumber daya manusia dalam pengelolaan pendapatan daerah.

e. Peningkatan koordinasi dengan OPD penghasil.

f. Pengembangan fasilitas sarana dan prasarana untuk peningkatan investasi dan sumber-sumber pendapatan.

g. Pengembangan dan peningkatan pengelolaan perusahaan daerah.

h. Peningkatan pengelolaan keuangan dan aset daerah.

i. Peningkatan koordinasi dengan pemerintah pusat terkait dana perimbangan.

j. Penyesuaian tarif pajak dan retribusi daerah melalui revisi Perda-perda yang berhubungan dengan pendapatan daerah.

2. Target dan Realisasi Pendapatan Daerah

Realisasi pendapatan daerah Kota Salatiga tahun 2019 secara keseluruhan tidak mencapai target yang telah ditetapkan. Dari target anggaran pendapatan sebesar Rp 931.351872.000,-hanya terealisasi Rp 928.019.899.150,- atau 99,64,- Jika dibandingkan realisasi tahun 2018 sebesar Rp 889.992.411.250,- maka realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp 38.027.487.900,- atau 4,27%. Data target dan realisasi pendapatan daerah kota Salatiga tahun 2019 (sebelum diaudit BPK) disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 3.56

Data target dan Realisasi Pendapatan Daerah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

URAIAN TARGET 2019 (Rupiah) REALISASI 2019 (Rupiah) % REALISASI 2018 (Rupiah) PENDAPATAN 931.351.872.000 928.019.899.150 99,64 889.992.411.250 PENDAPATAN ASLI DAERAH 221.089.796.000 236.086.218.372 106,78 208.926.057.032 Pendapatan Pajak Daerah 56.371.900.000 66.367.826.348 117,73 55.520.176.329 Pendapatan Retribusi Daerah 8.786.380.000 11.032.737.575 125,57 10.658.079.170 Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan 15.931.464.000 15.931.465.280 100 13.731.835.187 Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

140.000.052.000 142.754.189.169 101,97 129.015.966.346 PENDAPATAN

TRANSFER

URAIAN TARGET 2019 (Rupiah) REALISASI 2019 (Rupiah) % REALISASI 2018 (Rupiah) DANA PERIMBANGAN 584.936.137.000 569.354.886.045 97,34 561.012.927.696 Dana Bagi Hasil Pajak 23.082.421.000 17.560.657.049 76,08 23.076.286.894 Dana Bagi Hasil Bukan

Pajak (SDA)

2.202.431.000 1.304.803.990 59,24 1.341.711.048 Dana Alokasi Umum 469.563.338.000 467.967.335.000 100,09 448.067.710.000 Dana Alokasi Khusus 90.087.947.000 80.522.090.006 89,38 88.527.219.754 TRANSFER

PEMERINTAH PROVINSI

68.502.810.000 65.931.265.733 96,25 63.905.143.279

Pendapatan Bagi Hasil Pajak

62.542.810.000 60.258.481.733 96,35 61.236.355.279 Pendapatan Bagi Hasil

Lainnya 5.960.000.000 5.672.784.000 95,18 2.668.788.000 LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH 19.280.000.000 19.104.400.000 99,09 17.648.283.243 Pendapatan Hibah 19.280.000.000 19.104.400.000 99,09 17.648.283.243 Pendapatan Dana Darurat 0 0 0 0 Pendapatan Lainnya 0 0 0 0

Sumber: Badan Keuangan Kota Salatiga (Angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

a. Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang potensial untuk ditingkatkan, walaupun kontribusi PAD terhadap APBD saat ini masih relatif rendah. Untuk menentukan pengelolaan komponen PAD diperlukan identifikasi potensi komponen PAD yang digunakan untuk mengetahui posisi komponen PAD sebagai sumber pendapatan daerah dengan menganalisis rasio pertumbuhan jenis penerimaan dengan proporsi atau sumbangannya terhadap rata-rata total penerimaan. Salah satu tolak ukur dari perkembangan ekonomi daerah adalah besarnya pendapatan daerah pada pos Pendapatan Asli Daerah (PAD). Besarnya PAD secara umum menunjukkan kemajuan aktivitas perekonomian pada masyarakat yang dapat dijadikan obyek pungut. Oleh karena itu, pencapaian target PAD merupakan faktor penting dalam menilai laju pembangunan di daerah.

Struktur PAD meliputi:

1) Pendapatan Pajak Daerah 2) Pendapatan Retribusi Daerah

a) Retribusi Jasa Umum b) Retribusi Jasa Usaha

c) Retribusi Perizinan Tertentu

3) Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

4) Pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

Permasalahan yang dihadapi dalam rangka upaya peningkatan pendapatan daerah meliputi:

1) Keterbatasan potensi sumber daya alam di Kota Salatiga; 2) Ketergantungan pada transfer dari Pemerintah Pusat sangat

besar;

3) Keterbatasan SDM dalam pendataan pajak dan retribusi untuk memperoleh informasi data potensi wajib pajak/retribusi yang riil;

4) Sistem informasi pendapatan daerah belum optimal.

Upaya-upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Salatiga dalam mencapai target pendapatan antara lain:

1) Dengan adanya keterbatasan potensi sumber daya alam di Kota Salatiga dibangun iklim investasi yang kondusif dan kompetitif bagi Investor.

2) Melaksanakan Intensifikasi dan Ekstensifikasi potensi Pendapatan Daerah secara berkelanjutan, antara lain melalui peningkatan penyertaan modal pada BUMD.

3) Meningkatkan kesadaran Wajib Pajak dan Wajib Retribusi Daerah dengan cara:

a) Meningkatkan pelayanan kepada wajib pajak;

b) Melaksanakan sosialisasi pajak dan retribusi daerah;

c) Pelaksanaan undian pajak daerah untuk wajib pajak daerah; d) Menyelenggarakan pekan panutan pembayaran PBB;

e) Mengadakan operasi yustisi bersama instansi terkait;

f) Mengintensifkan upaya penagihan piutang pajak dengan melaksanakan operasi sisir PBB.

g) Meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM bidang pendataan dan penagihan;

h) Pemutakhiran basis data PBB-P2 bekerjasama dengan Kecamatan dan kelurahan;

i) Meningkatkan Sistem Informasi Pendapatan Daerah (SIPPD), antara lain dengan melakukan integrasi SIPPD dengan SIPKD, pemasangan tapping box pada wajib pajak besar.

j) Penerapan tarif pajak restoran sebesar 10% dan pemasangan sertifikat pemungutan pajak restoran pada restoran-restoran besar

RealisasiPendapatan Asli Daerah (PAD) pada perubahan tahun 2019mencapai Rp. 236.086.218.372,- atau 106,78% dari target sebesar Rp. 221.089.796.000,-. Jika dibandingkan realisasi tahun

2018 yang mencapai Rp. 208.926.057.032,- , maka realisasi tahun 2019 meningkat sebesar Rp. 27.160.161.340 atau 13%.

Uraian Pendapatan Asli Daerah tahun 2019 dapat digambarkan sebagai berikut :

Tabel 3.57

Target dan Realisasi PAD Tahun 2019

No PAD Target Realisasi %

1 Pajak Daerah 56.371.900.000 66.367.826.348 117,73 2 Retribusi Daerah 8.786.380.000 11.032.737.575 125,57 3 HasilPengelolaan

kekayaan Daerah Yang dipisahkan

15.931.464.000 15.931.465.280 100

4 Lain Lain PAD Yang Sah 140.000.052.000 142.754.189.169 101,97 Total 221.089.796.000 236.086.218.372 106,78

Sumber : Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga (diolah)

Adapun target dan realisasi Pendapatan Asli Daerah dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2019 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 3.58

Perkembangan PAD Kota Salatiga Tahun 2012 - 2019

Tahun Target PAD Realisasi PAD Pendapatan Daerah (Realisasi) Proporsi % 2012 63.171.463.000 77.798.870.961 562.323.845.006 13.84 % 2013 87.723.650.000 106.100.450.499 603.204.201.915 17.59 % 2014 114.781.747.000 165.747.645.080 727.619.868.812 22.78% 2015 143.835.170.000 167.010.555.173 673.865.039.498 24,78% 2016 172.775.326.000 203.768.652.017 879.784.189.262 23,16% 2017 188.391.649.000 218.453.587.980 880.956.308.959 24.80% 2018 209.772.712.000 208.926.057.032 889.992.411.250 23,48% 2019 . 221.089.796.000 236.086.218.372 928.019.899.150 25,44%

Sumber : Badan Keuangan Daerah Kota Salatiga (diolah)

Data Realisasi Pendapatan Pajak Daerah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.59

Data Realisasi Pendapatan Pajak Daerah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Pajak Daerah Target (Rupiah)

Realisasi 2019 (Rupiah) %

Realisasi 2018 (Rupiah)

Pajak Daerah Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Pajak Hotel 6.198.500.000 6.871.735.916 110,86 6.271.643.143 2 Pajak Restoran 5.415.500.000 6.288.868.823 116.13 5.183.671.956 3 Pajak Hiburan 746.400.000 725.805.410 97,24 641.727.197 4 Pajak Reklame 1.106.500.000 1.548.892.900 139,98 1.360.053.500 5 Pajak Penerangan Jln 16.000.000.000 15.567.527.192 97,30 15.054.794.234 6 Pajak Parkir 205.000.000 247.542.810 120,75 216.405.490 7 Pajak Air Tanah 450.000.000 475.528.100 105,67 420.597.865 8 Pajak PBB P-2 8.000.000.000 9.525.295.403 119,07 8.647.886.272 9 Pajak BPHTB 18.250.000.000 25.116.629.794 137,63 17.723.396.672

Jumlah 56.731.900.000 66.367.826.348 117,73 55.520.176.329

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK) PajakDaerahditargetkan sebesarRp. 56.371.900.000,- dan realisasi mencapai Rp. 66.367.826.348,- atau 117,73%. Jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 sebesar Rp. 55.520.176.329,- maka

realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp. 10.847.659.019,-atau 19,54%.

Data Realisasi Pendapatan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabelsebagai berikut:

Tabel 3.60

Data Realisasi Pendapatan Retribusi Daerah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Retribusi Daerah Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Retribusi Jasa Umum 4.781.230.000 5.036.130.434 105,33 4.916.024.702 2 Retribusi Jasa Usaha 2.099.650.000 2.390.526.621 113,85 3.727.263.243 3 Retribusi Perizinan Tertentu 1.905.500.000 3.606.080.520 189,25 2.014.791.225 Jumlah 8.786.380.000 11.032.737.575 125,57 10.685.079.170

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

PendapatanRetribusi Daerahtahun2019ditargetkan sebesar Rp.8.786.380.000,- dan realisasinya mencapai Rp. 11.032.737.575,- atau sebesar 125,57%. Jika dibandingkan realisasi tahun 2018

sebesar Rp. 10.658.079.170,00 maka realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp.374.658.405,- atau 3,52%.

Data realisasi pendapatan Retribusi Jasa Umum tahun anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan tahun anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.61

Data Realisasi Pendapatan RetribusiJasa Umum Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Retribusi Jasa Umum Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Retribusi Pelayana Kesehatan 55.000.000 75.754.000 137,73 64.917.000 2 Retribusi Pelayanan Persampahan 982.400.000 1.096.224.000 111,59 1.301.824.950 3 Retribusi Pelayanan Pemakaman 110.000.000 137.455.740 124,96 152.004.180 4 Retribusi Parkir di Jalan Umum 1.200.000.000 1.256.024.000 104,67 1.245.658.000 5 Retribusi Pelayanan Pasar 2.040.350.000 2.064.443.194 101,18 1.744.425.572 6 Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor 378.480.000 360.137.000 95,15 394.375.000 7 Retribusi Penyedia dan/atau Penyedotan Kakus 15.000.000 46.092.500 307,28 12.820.000 Jumlah 4.781.230.000 5.035.130.434 105,33 4.916.024.702

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

Pendapatan Retribusi Jasa Umum ditargetkan sebesar Rp.4.781.230.000,- dan realisasinya mencapai Rp.5.036.130.434,- atau 105,33%. Realisasi tersebut bila dibandingkan dengan realisasi Tahun Anggaran 2018 yaitu sebesar Rp. 4.916.024.702,- maka realisasi Tahun Anggaran 2019 mengalami kenaikan sebesar Rp. 20.105.732,00 atau 2,44%.

Data Realisasi Pendapatan Retribusi Jasa Usaha Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.62

Data Realisasi Pendapatan RetribusiJasa Usaha Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Retribusi Jasa Usaha Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah)

Retribusi Jasa Usaha Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Retribusi Jasa Pemakaian Kekayaan Daerah 1.667.550.000 1,879.892.621 112,73 3.174.945.243

2 Retribusi Jasa Terminal 81.600.000 79.532.000 97,47 82.110.000 3 Retribusi Jasa tempat

Khusus Parkir

125.000.000 126.804.000 101,44 142.824.000 4 Retribusi Jasa Rumah

Potong Hewan

85.500.000 111.111.000 129,95 140.442.000

5 Retribusi Jasa tempat Rekreasi dan Olah Raga

140.000.000 197.187.000 137,99 186.942.000 Jumlah 2.099.650.000 2.390.526.621 113,85 3.727.263.243

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

Pendapatan Retribusi Jasa Usaha ditargetkan sebesar Rp.2.099.650.000,- dan realisasinya mencapai Rp.2.390.526.621,- atau 113,85%. Realisasi tersebut bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 yaitu sebesar Rp.3.727.263.243,- maka realisasi tahun 2019 mengalami penurunan sebesar Rp.1.336.736.622,- atau 35,86%.

Data Realisasi Pendapatan Retribusi Perizinan Tertentu Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.63

Data Realisasi Pendapatan RetribusiPerizinan Tertentu Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Retribusi Perijinan Tertentu Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Retribusi Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) 1.400.000.000 2.988.780.120 99,21 1.388.974.425

2 Retribusi Ijin tempat penjualan minuman beralkohol

0 0 0 2.000.000

3 Retribusi Ijin Ganguan /Keramaian

0 0 165,64 149.072.000 4 Retribusi Ijin Trayek 5.500.000 9.400.000 128,00 5.120.000

5 Retribusi

Perpanjangan IMTA

500.000.000 607.900.400 121,58 469.624.800 Jumlah 1.905.500.000 3.606.080.520 189,25 2.014.791.225

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

Pendapatan Retribusi Perijinan Tertentu ditargetkan sebesar Rp.1.905.500.000,- dan realisasinya mencapai Rp.3.606.080.520,- atau 189,25%. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 yaitu sebesar Rp. 2.014.791.225,- maka realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp.1.591.289.295,- atau 78,98%.

DataRealisasi Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada sebagai berikut:

Tabel 3.64

Data Realisasi Pendapatan

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Target (Rupiah) Realisasi 2018 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah)

Perusahaan Daerah Air Minum 2.281.538.000 2.281.538.000 100 2.131.908.000 Perusahaan Daerah Aneka Usaha/SPBU 29.062.000 29.062.395 100 27.649.723 PT. Bank Jateng 13.620.864.000 13.620.864.885 100 11.343.887.660 BPR Kota Salatiga 0 0 0 0 BKK 0 0 0 228.389.804 Jumlah 15.931.464.000 15.931.465.280 100 13.731.835.187

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

PendapatanHasilPengelolaanKekayaanDaerahyang

DipisahkandianggarkansebesarRp.15.931.464.000,- dan realisasinya sebesar Rp. 15.931.465.280,0- atau 100,00%. Bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2018 sebesar Rp13.731.835.187,-realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp. 2.199.630.093,- atau sekitar 16,02%.

Data Realisasi Pendapatan Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.65

Data Realisasi Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah:

Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Hasil Penjualan Aset Daerah yang tak dipisahkan 167.637.000 617.574.399 368,40 755.687.995 2 Penerimaan Jasa Giro 3.825.000.000 3.918.406.212 102,44 5.204.533.088 3 Penerimaan Bunga Deposito 12.500.000.000 16.288.930.639 130,31 16.321.977.315 4 Denda Keterlambatan Pelaksanaan Pekerjaan 6.921.000 143.926.070 2079,56 351.902.674 5 Pendapatan Denda Pajak 158.985.000 431.936.588 271,68 279.689.560 6 Pendapatan dari Pengembalian 7.330.000 17.323.000 236,33 2.385.351.009 7 Pendapatan BLU-RSUD 418.606.000 1.881.508.160 449,47 96.369.218.855 8 Dana Kapitasi JKN pada FKTP 115.000.000.000 110.214.851.952 95,84 7.347.605.850 Jumlah 140.000.052.000 142.754.189.169 101,97 129.015.966.346

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK) Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah targetkan sebesar Rp. 140.000.052.000,- sedangkanrealisasinya mencapai Rp142.754.189.169,00 atau 101,97%. Bila dibandingkan denganrealisasi tahun 2018 sebesar Rp. 129.015.966.346,- maka realisasi tahun 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp. 13.738.222.823,- atau 10,65%.

b. Pendapatan Transfer

Pendapatan Transfer tahun Anggaran 2019 ditargetkan sebesar Rp.690.982.076.000,- sedangkan realisasinya sebesar Rp.672.829.280.778,- atau 97,37%. Realisasi tersebut apabila dibandingkan dengan realisasi Tahun Anggaran2018 sebesar Rp.663.418.070.975,- terdapat peningkatan sebesar Rp.9.411.209.803,- atau 1,42%.

Dana Perimbangan Kota Salatiga tahun Anggaran 2019 mengalami penurunan tiap tahunnya. Data Realisasi Transfer Pemerintah Pusat berupa Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2019 (sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Data RealisasiTransfer Pemerintah Pusat-Dana Perimbangan Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Transfer Pem Pusat-Dana Perimbangan Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Dana Bagi Hasil Pajak 23.082.421.000 23.076.286.894 76,08 23.076.286.894 2 Dana Bagi Hasil Bukan Pajak (Sumber Daya Alam) 2.202.431.000 1.341.711.048 59,24 1.341.711.048 3 Dana Alokasi Umum 469.563.338.000 448.067.710.000 100,09 448.067.710.000 4 Dana Alokasi Khusus 90.087.947.000 88.527.219.754 89,38 88.527.219.754 Jumlah 584.936.137.000 561.012.927.696 97,34 561.012.927.696

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK) Transfer Pemerintah Pusat atau Dana Perimbangan dianggarkan sebesar Rp. 584.936.137.000,- realisasinya sebesar Rp. 69.354.886.045,- atau 97,34%, mengalami peningkatan sebesar Rp. 8.341.958.349,- atau 1,49% bila dibanding dengan realisasi Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp. 561.012.927.696,-

Data Realisasi Transfer Pemerintah Provinsi Tahun Anggaran 2019 (sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.67

Data Realisasi Transfer Pemerintah Provinsi Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Transfer Pemerintah Provinsi Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Pendapatan Bagi Hasil Pajak 62.542.810.000 60.258.481.733 96,35 61.236.355.279 2 Pendapatan Bagi Hasil Lainnya 5.960.000.000 5.672.784.000 95,18 2.668.788.000 Jumlah 68.502.810.000 65.931.265.733 96,25 63.905.143.279

Transfer Pemerintah Provinsi Tahun Anggaran 2019 dianggarkan sebesar Rp.68.502.810.000,- realisasinya sebesar Rp.65.931.265.733,- atau 96,25%. Namun bila dibandingkan dengan realisasiTahun Anggaran 2018 yaitu sebesar Rp. 63.905.143.279,- maka realisasi untuk Tahun Anggaran 2019 mengalami peningkatan sebesar Rp.2.026.122.454,00 atau 3,17%.

Data Realisasi Lain-lain Pendapatan yang Sah Tahun Anggaran 2019 (sebelum diaudit BPK) dibandingkan Tahun Anggaran 2018 disajikan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 3.68

Data Realisasi Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Tahun Anggaran 2019(sebelum diaudit BPK)

Dibandingkan Tahun Anggaran 2018

Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah Target (Rupiah) Realisasi 2019 (Rupiah) % Realisasi 2018 (Rupiah) 1 Pendapatan Hibah 19.280.000.000 19.104.400.000 99.09 17.648.283.243 2 Pendapatan Dana Darurat 0 0 0 0 3 Pendapatan Lainnya 0 0 0 0 Jumlah 19.280.000.000 19.104.400.000 99.09 17.648.283.243

Sumber : Badan Keuangan Daerah (angka bersifat sementara belum diaudit BPK)

3. Pengelolaan Belanja Daerah

Dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan peningkatan pelayanan publik pengaturan alokasi belanja diupayakan untuk efisien, efektif dan proporsional. Belanja daerah dikelompokkan ke dalam Belanja Langsung dan Belanja Tidak Langsung yang masing-masing mempunyai fungsi untuk meningkatkan pelayanan baik untuk aparatur maupun pelayanan kepada masyarakat.

a. Kebijakan Umum Belanja Daerah

Secara umum kebijakan belanja daerah harus diarahkan berdasarkan prinsi-prinsip sebagai berikut :

1) Efisiensi dan efektivitas anggaran

2) Dana yang tersedia harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk dapat meningkatkan pelayanan pada masyarakat yang

harapan selanjutnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan kualitas pelayanan masyarakat dapat diwujudkan dengan meningkatkan kompetensi SDM aparatur daerah, terutama yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat. Dalam rangka efisiensi dan efektivitas anggaran diharapkan mempertimbangkan analisis standar belanja, standar harga, tolok ukur kinerja, dan standar pelayanan minimal.

3) Ketepatan alokasi belanja menurut skala prioritas

4) Penggunaan anggaran tahun 2017-2022 diprioritaskan untuk mendanai kegiatan-kegiatan di bidang pelayanan publik yang langsung berdampak pada kesejahteraan masyarakat serta pembangunan sektor-sektor yang memiliki daya dukung tinggi pada pertumbuhan ekonomi daerah.

5) Target pencapaian kinerja program

6) Belanja daerah pada setiap kegiatan disertai tolak ukur dan target pada setiap indikator kinerja yang meliputi masukan, keluaran dan hasil sesuai dengan tugas pokok, fungsi dan peran.

Arah kebijakan belanja daerah disusun berdasarkan prinsip-prinsip penganggaran dengan pendekatan anggaran yang berbasis kinerja, dengan memperhatikan tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD, prioritas pembangunan sesuai potensi dan permasalahannya, serta perkiraan situasi dan kondisi pada tahun depan.Belanja Daerah diklasifikasikan menurut organisasi, fungsi, program dan kegiatan, serta kelompok belanja dengan rincian sebagai berikut:

1) Klasifikasi belanja menurut organisasi disesuaikan dengan susunan organisasi Pemerintah Daerah.

2) Klasifikasi belanja menurut fungsi terdiri dari klasifikasi berdasarkan urusan pemerintahan dan klasifikasi fungsi pengelolaan keuangan negara. Klasifikasi belanja berdasarkan urusan pemerintahan diklasifikasikan menurut kewenangan pemerintahan provinsi dan kabupaten/kota. Klasifikasi belanja menurut fungsi pengelolaan keuangan negara digunakan untuk tujuan keselarasan dan keterpaduan pengelolaan keuangan negara terdiri dari pelayanan umum, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup, perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata dan budaya, pendidikan, serta perlindungan sosial.

3) Klasifikasi belanja menurut program dan kegiatan disesuaikan dengan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

4) Klasifikasi belanja menurut kelompok belanja terdiri dari kelompok belanja tidak langsung dan kelompok belanja langsung dengan rincian sebagai berikut:

a. Kelompok belanja tidak langsung

Kelompok belanja tidak langsung merupakan belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan. Kelompok belanja tidak langsung dibagi menurut jenis belanja yang terdiri dari belanja pegawai, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan dan belanja tidak terduga.

b. Belanja langsung, yaitu belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dengan arah peningkatan proporsi belanja publik yang didukung oleh efektivitas dan efisiensi belanja aparatur, yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang dan jasa, dan belanja modal.

Belanja daerah diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar antara lain pendidikan, penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak, serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Peningkatan alokasi anggaran belanja yang direncanakan oleh setiap SKPD harus terukur jelas untuk setiap indikator kinerjanya diikuti dengan peningkatan kinerja pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

1) Prioritas penggunaan dana perimbangan

a. Dana bagi hasil pajak: untuk mendanai perbaikan lingkungan pemukiman di perkotaan, pembangunan irigasi, jaringan jalan dan jembatan.

b. Dana alokasi umum: untuk mendanai kebutuhan belanja pegawai dan urusan wajib dalam rangka peningkatan pelayanan dasar dan pelayanan umum.

c. Dana alokasi khusus: untuk mendanai kebutuhan fisik, yaitu sarana/prasarana dasar yang menjadi urusan daerah (antara lain jalan, jembatan, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain) sesuai dengan petunjuk teknis yang ditetapkan.

Kebijakan Belanja Tidak Langsung (Belanja Pegawai, Bunga, Subsidi, Hibah, Bantuan Sosial, Belanja Bagi Hasil, Bantuan Keuangan, Dan Belanja Tidak Terduga)

Belanja tidak langsung terdiri atas komponen belanja pegawai, bunga, subsidi, hibah, bantuan sosial, belanja bagi hasil, bantuan keuangan, dan belanja tidak terduga, dengan rincian kebijakan penggunaan sebagai berikut :

1) Belanja pegawai direncanakan untuk kebutuhan gaji dan tunjangan lainnya (gaji PNS) dan accres;

2) Belanja bunga ditujukan untuk membayar bunga pinjaman;

3) Belanja bagi hasil digunakan untuk menganggarkan bagi hasil pendapatan kepada pemerintah daerah tertentu kepada pemerintah daerah lainnya;

4) Belanja bantuan keuangan digunakan untuk menganggarkan bantuan keuangan yang bersifat umum ; dan

5) Belanja tidak terduga dianggarkan untuk belanja yang sifatnya darurat seperti adanya bencana alam dan bencana sosial serta mendesak untuk dilaksanakan.

Kebijakan Belanja langsung (Belanja pegawai, belanja barang

Dokumen terkait