51 4.3. Belanja Daerah
4.3.2 Realisasi Belanja Daerah
Sampai dengan Triwulan III 2014, realisasi belanja daerah pemerintah Provinsi NTT adalah sebesar Rp1,70 triliun atau 62,16% rencana anggaran belanja tahun 2014. Realisasi tersebut masih lebih rendah dibandingkan realisasi tahun lalu yang sebesar Rp1,57 triliun atau 65,51% dari rencana anggaran belanja 2013.
Tabel 4.4. Realisasi Anggaran Belanja Pemerintah Provinsi NTT
53
Realisasi tertinggi berada pada kelompok Belanja Operasi dengan persentase 67,82% yaitu sebesar Rp1,39 triliun. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan realisasi Belanja Operasi tahun lalu yang sebesar Rp1,40 triliun atau 69,15% dibandingkan rencana anggaran.
Komponen realisasi Belanja Operasi dengan realisasi tertinggi adalah Belanja Hibah dengan persentase 75,88% sebesar Rp700,78 miliar dari rencana anggaran sebesar Rp923,51 miliar. Realisasi ini lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan III-2013 yang sebesar 77,70% dengan nilai Rp756,13 juta rupiah.
K
KKEEETTTEEENNNAAAGGGAAAKKKEEERRJRJJAAAAAANNN &&& KKKEEESSSEEEJJJAAHAHHTTETEERRRAAAAAANNN
Perkembangan ketenagakerjaan dan kesejahteraan menunjukkan kondisi positif.
Jumlah angkatan kerja naik 3,31% (yoy) sehingga menjadi 2.174.228 jiwa pada triwulan laporan.
Partisipasi angkatan kerja meningkat dari 68,15% menjadi 68,91%.
Angka kemiskinan turun menjadi 19,82% (yoy).
5
5..11.. KKoonnddiissiiUUmmuumm
Perkembangan ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat NTT pada triwulan laporan secara umum menunjukkan kondisi yang positif. Berdasarkan data BPS, kondisi ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2014 memperlihatkan peningkatan yang tergambar dari bertambahnya kelompok penduduk yang bekerja disertai meningkatnya Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK). Jumlah angkatan kerja pada bulan Agustus 2014 mencapai 2.174.228 jiwa, meningkat sebesar 69.721 jiwa atau 3,31% (yoy) dibandingkan Agustus 2013. Sementara tingkat partisipasi angkatan kerja tercatat sebesar 68,91% atau sedikit di atas tahun sebelumnya yang sebesar 68,15%. Di sisi lain, tren perbaikan kondisi ketenagakerjaan juga tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan KPw BI Provinsi NTT. Hasil SKDU triwulan III-2014 menunjukkan indeks ketenagakerjaan1 tercatat mengalami ekspansi sebesar 2,76 setelah pada triwulan sebelumnya mengalami kontraksi sebesar -9,42.
Sementara itu, kondisi kesejahteraan masyarakat NTT per posisi Maret 2014 menunjukkan kondisi yang positif tercermin dari penurunan persentase penduduk miskin dari 20,03% pada periode yang sama tahun sebelumnya menjadi 19,82%. Indeks keparahan dan kedalaman kemiskinan serta tingkat optimisme masyarakat perkotaan juga membaik. Berdasarkan hasil Survei Konsumen bulan September 2014, terlihat adanya kenaikan tingkat optimisme, khususnya pada masyarakat dengan penghasilan menengah ke atas terhadap tingkat kesejahteraan saat ini dibandingkan enam bulan yang lalu. Indikator kesejahteraan di daerah pedesaan
1 angka indeks dihitung dengan metode SBT (Saldo Bersih Tertimbang) yang merupakan selisih dari disesuaikan dengan bobot masing-masing sektor.
55
yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP) turut mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya.
5
5..22.. PPeerrkkeemmbbaannggaann KKeetteennaaggaakkeerrjjaaaann
5
5..22..11KKoonnddiissiiKKeetteennaaggaakkeerrjjaaaannUUmmuumm
Kondisi ketenagakerjaan di Nusa Tenggara Timur pada Agustus 2014 memperlihatkan peningkatan yang tergambar dari bertambahnya kelompok penduduk yang bekerja. Dari total angkatan kerja, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebesar 2.174.228 jiwa, bertambah 69.721 jiwa atau 3,31% (yoy). Namun kondisi ini diiringi sedikit naiknya angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) dari 3,25% menjadi 3,26%.
Ditinjau dari lapangan pekerjaan utama, komposisi ketenagakerjaan menurut sektor ekonomi relatif sama dengan kondisi tahun-tahun sebelumnya, dengan sebagian besar penduduk (60,77%) bekerja di sektor pertanian. Hal ini disebabkan karena sektor pertanian merupakan salah satu sektor ekonomi utama di NTT sehingga mayoritas penduduk memiliki mata pencaharian pada sektor tersebut. Jumlah pekerja di sektor pertanian tercatat meningkat dibandingkan dengan Agustus 2013 sebesar 36.683 jiwa atau naik 2,86% (yoy).
Jumlah tenaga kerja di sektor industri juga mengalami peningkatan. Tenaga kerja di sektor industri tercatat naik sebesar 15.196 jiwa atau 10,06% (yoy) dibandingkan bulan Agustus 2013. Selain di sektor industri, sektor jasa-jasa juga menunjukkan peningkatan. Jumlah tenaga kerja di sektor jasa-jasa tercatat meningkat sebesar 17.820 jiwa atau 6,51% (yoy) dibandingkan dengan Agustus 2013.
Tabel 5.1 Jumlah Penduduk Usia 15+ Menurut Kegiatan
Dari 7 (tujuh) klasifikasi status pekerjaan yang terekam pada Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), diidentifikasikan dua kelompok utama terkait kegiatan ekonomi yaitu formal dan informal. Kegiatan formal terdiri dari mereka yang berstatus berusaha dibantu buruh tetap dan buruh/karyawan. Sementara kelompok kegiatan informal adalah mereka yang berstatus di luar itu. Melihat status pekerjaan berdasarkan klasifikasi formal dan informal, sebanyak 78,91% tenaga kerja di NTT pada bulan Agustus 2014 bekerja pada kegiatan informal.
Kondisi ini diperkuat oleh hasil SKDU, dimana daya serap tenaga kerja pada triwulan laporan tercatat meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh peningkatan penyerapan tenaga kerja di sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan. Sementara, sektor pertanian yang merupakan sektor penyerap tenaga kerja paling besar di Provinsi NTT tak berubah
Sumber : BPS Provinsi NTT
Tabel 5.3 Jumlah Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Status Pekerjaan Utama
Tabel 5.2 Jumlah Penduduk Usia 15+ yang Bekerja Menurut Lapangan Pekerjaan Utama
57
dibandingkan trwulan sebelumnya. Faktor ini mempengaruhi penyerapan tenaga kerja secara umum pada hasil SKDU.
5
5..22..2 2 PPeennggaanngggguurraann
Pengangguran merupakan salah satu indikator utama pada bidang ketenagakerjaan. Klasifikasi penduduk yang menganggur adalah penduduk yang sedang mencari pekerjaan ditambah penduduk yang sedang mempersiapkan usaha (tidak bekerja), yang mendapatkan pekerjaan tetapi belum mulai bekerja serta yang tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh BPS Provinsi NTT, jumlah pengangguran pada bulan Agustus 2014 sebanyak 73.210 jiwa, meningkat sebanyak 2.546 jiwa atau 3,60% dibandingkan dengan bulan Agustus 2013. Meski demikian, meningkatnya partisipasi angkatan kerja menyebabkan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) hanya naik sedikit dari 3,25% menjadi 3,26% pada Agustus 2014.
5
5..33 PPeerrkkeemmbbaannggaann KKeesseejjaahhtteerraaaann 5
5..33..11KKoonnddiissiiKKeesseejjaahhtteerraaaannUUmmuumm
Kondisi kesejahteraan secara umum sedikit membaik berdasarkan hasil Survei Konsumen (SK) yang dilakukan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT. Pada triwulan laporan terlihat adanya kenaikan tingkat optimisme,
Grafik 5.1 Indeks Ketenagakerjaan NTT
Sumber : SKDU Triwulan III-2014 KPw BI Provinsi NTT
-15 -10 -5 0 5 10 15 20 25 30
I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV* 2011 2012 2013 2014
in
d
eks
*Perkiraan
0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00 120,00 140,00 160,00 180,00
I II III IV I II III IV I II III
2012 2013 2014
Penghasilan saat ini dibandingkan 6 bln yang lalu
2001 2003 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 KHL 274 350 403 671 735 785 880 935 932 1,16 1,36 1,49 UMP 275 350 450 550 600 650 775 800 850 925 1,01 1,15 -200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 R p ri bu
khususnya pada masyarakat perkotaan dengan penghasilan menengah ke atas terhadap tingkat kesejahteraan. Hal ini tercermin dari indeks penghasilan saat ini dibandingkan 6 (enam) bulan yang lalu hasil SK bulan Juli sampai dengan September 2014. Berdasarkan hasil survei, indeks SBT mengalami sedikit kenaikan pada triwulan laporan. Momen bulan puasa dan hari raya Idul Fitri yang jatuh pada triwulan laporan, dan umumnya diiringi pembayaran insentif tunjangan hari raya (THR), diperkirakan menjadi pendorong peningkatan optimisme responden terhadap penghasilan mereka. Namun, pengaruh kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) masih cukup berpengaruh menahan optimisme masyarakat.
Di wilayah pedesaan, ukuran daya beli masyarakat diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP). Pada triwulan laporan, angka NTP pun meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada akhir triwulan laporan, dengan menggunakan tahun 2012 sebagai tahun dasar menggantikan tahun dasar 2007, Grafik 5.2 Perkembangan UMP NTT
Sumber : BPS Provinsi NTT
Grafik 5.4 Perkembangan NTP NTT
Sumber : Survei Konsumen KPw BI Provinsi NTT
Grafik 5.3 Perkembangan Indeks Penghasilan Tabel 5.4 Pendapat Konsumen Mengenai Penghasilan Saat
Ini Dibandingkan 6 Bulan yang Lalu
Sumber : SK Triwulan III-2014 KPw BI Provinsi NTT
Pengeluaran
per Bulan Lebih Baik Sama Lebih Buruk Jumlah 1-2 Juta 49.50% 44.55% 5.94% 100.00% 2.1-3 Juta 49.15% 45.76% 5.08% 100.00% 3.1-4 Juta 50.00% 45.00% 5.00% 100.00% 4.1-5 Juta 58.33% 33.33% 8.33% 100.00% 5Juta ke atas 75.00% 25.00% 0.00% 100.00% Jumlah 51.00% 43.50% 5.50% 100.00%
Penghasilan Saat Ini Dibanding 6 Bulan yll
95,00 96,00 97,00 98,00 99,00 100,00 101,00 102,00 103,00 104,00 100 102 104 106 108 110 112 114 116 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2014
59
indeks yang diterima (IT) tercatat sebesar 114,27. Sementara, indeks yang dibayar (IB) tercatat sebesar 111,26 sehingga angka NTP tercatat sebesar 102,71 atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dimana nilai NTP tercatat sebesar 99,65. Akselerasi peningkatan pendapatan petani selama triwulan laporan melebihi akselerasi peningkatan pengeluaran yang menyebabkan NTP pada triwulan laporan berada di atas 100. Hal ini mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan petani mulai membaik karena penghasilan dari penjualan produk pertanian berada di atas pengeluaran kebutuhan harian mereka, baik untuk kebutuhan pokok maupun kebutuhan produksi seperti pupuk/pangan maupun bibit.
5
5..33..22 TTiinnggkkaattKKeemmiisskkiinnaann
Jumlah penduduk miskin atau penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan pada bulan Maret 2014 tercatat sebesar 994,67 ribu jiwa atau 19,82% dari jumlah penduduk NTT. Angka tersebut meningkat sebesar 1,11 ribu jiwa atau 0,11% dibandingkan dengan bulan Maret 2013 (yoy), yang tercatat sebesar 993,56 ribu jiwa atau 20,03% dari total penduduk NTT. Namun angka tersebut menurun sebesar 14,48 ribu jiwa atau -1,43% dibandingkan bulan September 2013.
Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa
2005 133.50 1,037.70 1,171.20 17.85 30.46 28.19 2006 148.00 1,125.90 1,273.90 18.77 31.68 29.34 2007 124.90 1,038.70 1,163.60 16.41 29.95 27.51 2008 119.30 979.10 1,098.40 15.50 27.88 25.65 2009 109.40 903.70 1,013.10 14.01 25.35 23.31 2010 107.40 906.70 1,014.10 13.57 25.10 23.03 2011 117.04 895.87 1,012.91 12.50 23.36 21.23 Maret 2012 115.50 897.10 1,012.60 12.22 22.98 20.88 Sept 2012 117.40 882.90 1,000.30 12.21 22.41 20.41 Maret 2013 113.57 879.99 993.56 11.54 22.13 20.03 Sept 2013 98.05 911.10 1,009.15 10.10 22.69 20.24 Maret 2014 100.34 894.33 994.67 10.23 22.15 19.82
Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) Persentase Penduduk Miskin
Garis kemiskinan juga mengalami peningkatan dalam kurun waktu satu tahun terakhir sebesar 12,79% dari Rp235.805,00 per kapita/bulan menjadi Rp265.955,00 per kapita/bulan. Berdasarkan pembagian kelompok kemiskinan antara perkotaan dan pedesaan, garis kemiskinan di perkotaan dalam setahun terakhir tercatat mengalami peningkatan sebesar 9,51% dari Rp308.060,00 per
Tabel 5.5 Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di NTT tahun 2005 s.d. Maret 2014
kapita/bulan menjadi Rp337.367,00 per kapita/bulan. Sementara garis kemiskinan di pedesaan mengalami peningkatan sebesar 14,08% dari Rp217.918,00 per kapita/bulan menjadi Rp248.607,00 per kapita/bulan.
Jumlah Persentase
Bukan Penduduk Penduduk
Makanan Miskin (ribu) Miskin
Perkotaan Maret 2012 201,314 80,968 282,282 115.50 12.22 Sept 2012 209,582 84,325 293,907 117.40 12.21 Maret 2013 218,807 89,253 308,060 113.57 11.54 Sept 2013 226,641 94,522 321,163 98.05 10.10 Maret 2014 240,824 96,543 337,367 100.34 10.23 Perdesaan Maret 2012 159,990 34,732 194,722 897.10 22.98 Sept 2012 167,986 37,097 205,083 882.90 22.41 Maret 2013 177,215 40,703 217,918 879.99 22.13 Sept 2013 192,038 42,104 234,142 911.10 22.69 Maret 2014 203,864 44,743 248,607 894.33 22.15 Kota + Desa Maret 2012 168,044 43,743 211,787 1,012.60 20.88 Sept 2012 176,145 46,361 222,506 1,000.30 20.41 Maret 2013 185,468 50,337 235,805 993.56 20.03 Sept 2013 198,773 52,307 251,080 1,009.15 20.24 Maret 2014 211,088 54,867 265,955 994.67 19.82 Daerah/Tahun
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln)
Makanan Total
Secara besaran, peranan komoditas makanan meningkat sebesar 13,81% dari Rp185.468,00 per kapita/bulan menjadi Rp211.088,00 per kapita/bulan. Kondisi ini dipertegas dengan peranan komoditas makanan pada garis kemiskinan berdasarkan komponen yang mengalami kenaikan dari 78,65% pada Maret 2013 menjadi 79,37% pada Maret 2014. Sementara itu, pada komponen bukan makanan peningkatan tercatat hanya sebesar 9,00% dari Rp50.337,00 per kapita/bulan menjadi Rp54.867,00 per kapita/bulan. Peranannya pun menurun sedikit dari 21,35% pada Maret 2013 menjadi 20,63% pada Maret 2014.
Persoalan kemiskinan tidak hanya sekadar jumlah dan persentase penduduk miskin saja. Ada dimensi lain yang perlu diperhatikan selain upaya memperkecil jumlah penduduk miskin, terutama dalam kebijakan penanggulangan kemiskinan. Dimensi tersebut adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Badan Pusat Statistik mengukur dua hal tersebut menggunakan indeks kedalaman kemiskinan (P1) dan indeks keparahan kemiskinan (P2). Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap batas miskin. Semakin tinggi nilai indeks ini maka semakin besar rata-rata kesenjangan pengeluaran penduduk miskin terhadap
Tabel 5.6 Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Daerah tahun 2012 s.d. Maret 2014
61
garis kemiskinan atau dengan kata lain semakin tinggi nilai indeks menunjukkan kehidupan ekonomi penduduk miskin semakin terpuruk. Sedangkan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara penduduk miskin, dan dapat juga digunakan untuk mengetahui intensitas kemiskinan.
Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1)
September 2012 2.588 3.680 3.466 Maret 2013 1.411 3.884 3.393 September 2013 1.908 3.308 3.035 Maret 2014 1.820 3.707 3.338 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2)
September 2012 0.809 0.933 0.908 Maret 2013 0.453 0.980 0.875 September 2013 0.500 0.734 0.689 Maret 2014 0.555 0.892 0.826
Tahun Kota Desa Kota+Desa
Berdasarkan tabel 5.7, indeks kedalaman dan indeks keparahan kemiskinan di NTT pada Maret 2014 menurun dibandingkan Maret 2013. Hal ini mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin mendekati garis kemiskinan, dengan kesenjangan pengeluaran yang juga tidak selebar sebelumnya.
5
5..33..33 IInnddeekkssPPeemmbbaanngguunnaann MMaannuussiiaa
Pembangunan manusia adalah sebuah proses pembangunan yang bertujuan agar manusia, dalam hal ini penduduk, mampu memiliki lebih banyak pilihan khususnya dalam pendapatan, kesehatan dan pendidikan. Pembangunan manusia sebagai ukuran kinerja pembangunan secara keseluruhan dibentuk melalui tiga dimensi dasar. Dimensi tersebut mencakup umur panjang dan sehat, pengetahuan serta kehidupan yang layak, dan masing-masing dimensi direpresentasikan oleh indikator. Dimensi umur panjang dan sehat direpresentasikan oleh indikator angka harapan hidup. Dimensi pengetahuan direpresentasikan oleh angka melek huruf dan rata-rata lama sekolah, sementara dimensi kehidupan yang layak direpresentasikan oleh indikator kemampuan daya beli. Semua indikator yang merepresentasikan ketiga dimensi pembangunan manusia ini terangkum dalam satu nilai tunggal yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Sumber : BPS Provinsi NTT
Tabel 5.7 Indeks Keparahan dan Kedalaman Kemiskinan
Tabel 5.8 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi NTT
Keterangan 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012*
IPM (Indeks Pembangunan Manusia) 63.60 64.83 65.36 66.15 66.60 67.26 67.75 68.28 - Angka harapan hidup (tahun) 64.90 66.50 66.70 67.00 67.25 67.50 67.76 68.04 - Angka melek huruf (persen) 85.60 86.50 87.25 87.66 87.96 88.59 88.74 89.23 - Rata-rata lama sekolah (tahun) 6.30 6.40 6.42 6.55 6.60 6.99 7.05 7.09 - Pengeluaran Riil/Kapita disesuaikan (Rp. 000) 598.80 591.20 594.28 599.93 602.60 603.75 607.31 610.29
IPM Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengacu pada rilis yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik, terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2005, angka IPM Provinsi NTT hanya sebesar 63,60 dengan angka harapan hidup selama 64,90 tahun, angka melek huruf sebanyak 85,60% dari total penduduk, rata-rata lama sekolah 6,30 tahun serta pengeluaran riil per kapita sebesar Rp598,80 ribu. Menurut data terakhir tahun 2012, angka IPM Provinsi NTT telah mencapai 68,28 dengan angka harapan hidup selama 68,04 tahun, angka melek huruf sebanyak 89,23% dari total penduduk, rata-rata lama sekolah 7,09 tahun serta pengeluaran riil per kapita sebesar Rp610,29 ribu. Meskipun masih menempati peringkat 31 dari 33 provinsi yang ada (data tahun 2012), namun Provinsi NTT merupakan provinsi dengan perkembangan IPM terbaik ketiga di Indonesia dengan kenaikan IPM sebesar 4,68 poin.
63
IPM Harapan Hidup Melek Huruf Lama Sekolah Pengeluaran
1 DKI JAKARTA 78.33 73.49 99.21 10.98 635.29 2 SULAWESI UTARA 76.95 72.44 99.53 9.00 643.20 3 RIAU 76.90 71.69 98.45 8.64 654.48 4 D I YOGYAKARTA 76.75 73.33 92.02 9.21 653.78 5 KALIMANTAN TIMUR 76.71 71.58 97.55 9.22 649.85 6 KEPULAUAN RIAU 76.20 69.91 97.80 9.81 648.92 7 KALIMANTAN TENGAH 75.46 71.41 97.88 8.15 644.21 8 SUMATERA UTARA 75.13 69.81 97.51 9.07 643.63 9 SUMATERA BARAT 74.70 70.02 97.23 8.60 641.85 10 SUMATERA SELATAN 73.99 70.05 97.50 7.99 637.47 11 BENGKULU 73.93 70.39 95.69 8.48 634.74 12 JAMBI 73.78 69.44 96.20 8.20 640.82 12 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG 73.78 69.21 95.88 7.68 648.49 14 BALI 73.49 70.84 90.17 8.57 640.86 15 JAWA TENGAH 73.36 71.71 90.45 7.39 643.53 16 JAWA BARAT 73.11 68.60 96.39 8.08 638.90 17 JAWA TIMUR 72.83 70.09 89.28 7.45 651.04 18 SULAWESI SELATAN 72.70 70.45 88.73 7.95 643.59 19 NANGGROE ACEH DARUSSALAM 72.51 68.94 96.99 8.93 618.79 20 LAMPUNG 72.45 70.05 95.13 7.87 625.52 21 MALUKU 72.42 67.84 98.17 9.15 620.08 22 SULAWESI TENGAH 72.14 67.11 96.16 8.13 637.34 23 BANTEN 71.49 65.23 96.51 8.61 636.73 24 GORONTALO 71.31 67.47 96.16 7.49 630.01 25 KALIMANTAN SELATAN 71.08 64.52 96.43 7.89 643.66 26 SULAWESI TENGGARA 71.05 68.21 92.04 8.25 625.81 27 SULAWESI BARAT 70.73 68.27 88.79 7.32 639.56 28 KALIMANTAN BARAT 70.31 66.92 91.13 7.14 638.82 29 PAPUA BARAT 70.22 69.14 93.74 8.45 601.56 30 MALUKU UTARA 69.98 66.65 96.43 8.71 606.22 31 NUSA TENGGARA TIMUR 68.28 68.04 89.23 7.09 610.29 32 NUSA TENGGARA BARAT 66.89 62.73 83.68 7.19 645.72 33 PAPUA 65.86 69.12 75.83 6.87 611.99
INDONESIA 73.29 69.87 93.25 8.08 641.04
O
OOUUUTTTLLLOOOOOOKKKPPPEEERRRTTTUUUMMMBBBUUUHHHAAANNNEEEKKKOOONNNOOOMMMIIIDDDAAANNN
I
IINNNFFLFLLAASASSII I DDDII IDDDAAEAEERRRAAHAHH
Peningkatan kinerja konsumsi dan sektor PHR menjelang akhir tahun menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi NTT.
Laju perekonomian NTT pada triwulan IV-2014 diperkirakan mengalami perlambatan seiring melambatnya kinerja sektor Pertanian dan sektor Jasa-jasa.
Tekanan Inflasi pada triwulan mendatang diperkirakan meningkat
menjelang momen akhir tahun dan kekeringan sebagai dampak dari El-Nino.
6
6..11.. PPeerrttuummbbuuhhaannEEkkoonnoommii
Pada triwulan IV-2014, pertumbuhan ekonomi NTT diperkirakan tumbuh positif sedikit lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Berdasarkan berbagai indikator ekonomi terakhir serta hasil survei maupun liaison mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT triwulan IV-2014 diperkirakan akan berada pada rentang 4,85% - 5,25% (yoy).
Dari sisi sektoral, kinerja sektor Pertanian dan Jasa-jasa diperkirakan mengalami perlambatan sementara sektor Perdagangan, Hotel & Restoran (PHR) diperkiran meningkat. Pada sektor pertanian, kekeringan yang melanda NTT akibat adanya El-Nino berdampak terhadap mundurnya musim tanam 2014/2015. Selanjutnya, realisasi APBD yang tidak setinggi pada triwulan III diperkirakan menjadi penyebab utama perlambatan pada sektor Jasa-jasa.
Grafik 6.1 Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Nusa Tenggara Timur
Sumber : BPS dan Bank Indonesia diolah
0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00% 8.00% 9.00% 10.00% 0.00% 1.00% 2.00% 3.00% 4.00% 5.00% 6.00% 7.00%
I II III IV I II III IV I II III IV*
2012 2013 2014
PDRB Pertanian PHR Jasa-Jasa
65
Sementara sektor PHR (terutama subsektor perdagangan) diperkirakan meningkat seiring momen Natal & Tahun Baru.
Dari sisi penggunaan, konsumen masih cukup optimis atas kondisi ekonomi kedepan dan diikuti membaiknya ekspektasi pelaku usaha menjelang akhir tahun. Sementara kinerja investasi diperkirakan melambat seiring realisasi investasi pemerintah yang telah terealisasi pada triwulan sebelumnya. Begitu pula kinerja net ekspor yang diperkirakan masih dalam trend perlambatan seiring pelemahan nilai tukar.
6
6..11..11 SSiissiiSSeekkttoorraall
Musim kering sebagai dampak El-Nino merupakan salah satu penyebab melambatnya kinerja sektor pertanian. Musim kering yang lebih buruk dibandingkan tahun lalu menyebabkan kegagalan panen di beberapa sentra produksi terutama subsektor tabama dan perkebunan. Berdasarkan informasi dari BMKG Kota Kupang, musim kering sebagai dampak El-Nino diperkirakan berlangsung sampai akhir November 2014. Hal ini menyebabkan mundurnya musim tanam 2014/2015 yang semula diperkirakan pada minggu I-II November 2014. Sementara itu, dalam rangka mengdongkrak hasil produksi pertanian pada musim tanam 2014-2015, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi NTT mengucurkan dana Rp1,7 miliar untuk pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) bagi para petani di wilayah NTT. Saat ini Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Pertanian sedang melakukan penangkaran benih untuk memenuhi kebutuhan pada saat musim tanam.
No Sektor Kegiatan Usaha Harga Jual
Realisasi Tw III-14 Ekspektasi Tw IV-14 Fluktuasi Realisasi Tw III-14 Ekspektasi Tw IV-14 Fluktuasi 1 Pertanian 10.64 23.53 121.17% 16.72 16.66 -0.34% 2 Pertambangan 3 Industri Pengolahan 0.24 0.47 97.92% 0.72 0.96 32.98% 4 Listrik, Gas dan Air
Bersih 0.53 0.53 0.00% 0.53 0.53 0.00%
5 Bangunan 1.35 1.35 0.00% 0.00 0.00 0.00%
6 Perdagangan, Hotel dan
Restoran 5.67 6.39 12.71% 3.88 6.19 59.28%
7 Pengangkutan dan
Komunikasi 3.01 3.01 0.00% 3.01 2.42 -19.69%
8 Keuangan, Persewaan
dan Jasa Keuangan 0.55 1.09 100.00% 2.25 0.00 -100.00% 9 Jasa-jasa 18.76 19.26 2.64% 0.00 0.00 -100.00%
TOTAL 40.75 10.64 36.53% 27.12 26.76 -1.32%
Sumber: Survey Kegiatan Dunia Usaha diolah
Untuk subsektor perternakan diperkirakan turut mengalami perlambatan. Meskipun informasi yang didapat dari peternak di Kabupaten Malaka dan Kota Kupang bahwa produksi sapi tahun ini mengalami peningkatan, namun terkendala dengan pembatasan penjualan sapi antar pulau yang hampir memenuhi kuota tahun ini sebanyak 60 ribu ekor per tahun. Sementara kinerja subsektor perikanan diperkirakan mengalami peningkatan dengan adanya El-Nino menyebabkan kondisi perairan cenderung kondusif dan ikan yang melimpah. Namun demikian, musim hujan yang diperkirakan muncul pada bulan Desember 2014 yang biasanya diiringi dengan gelombang tinggi dan angin kencang perlu diwaspadai. Hasil Survey Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) menunjukkan bahwa kinerja sektor pertanian pada triwulan IV diperkirakan meningkat cukup signifikan (tabel 6.1).
Menjelang Hari Raya Natal & Tahun Baru menjadi stimulus bagi peningkatan sektor PHR. Momen Natal & Tahun Baru diperkirakan cukup signifikan dampaknya terhadap peningkatan kinerja subsektor perdagangan. Dimana pada perayaan tersebut biasanya tingkat konsumsi masyarakat NTT meningkat. Hasil SKDU pun menunjukkan bahwa subsektor perdagangan mengalami peningkatan.Sementara itu, subsektor Hotel & Restoran diperkirakan stabil. Musim liburan yang cukup panjang pada akhir tahun dimanfaatkan oleh sebagian besar masyarakat NTT untuk berkunjung ke rumah kerabat atau pun ke luar NTT. Namun demikian, hal tersebut masih terkompensasi oleh kedatangan wisatawan.
Realisasi APBD yang tidak setinggi triwulan sebelumnya menyebabkan kinerja sektor Jasa-jasa mengalami perlambatan. Berdasarkan pola historis dan komposisi pembentuk sektor Jasa-jasa yang mayoritas berasal dari subsektor jasa pemerintahan, pada triwulan IV biasanya realisasi anggaran APBD tidak terlalu tinggi karena realisasi tersebut telah dimaksimalkan pada triwulan sebelumnya.
6
6..11..2 2SSiissiiPPeenngggguunnaaaann
Dari sisi penggunaan, kinerja konsumsi rumah tangga tercermin dari hasil Survey Konsumen (SK) dan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU). Peningkatan kinerja tingkat konsumsi triwulan IV distimulasi oleh momen akhir tahun seperti perayaan Natal & Tahun Baru. Hasil SK pun menunjukkan
67
peningkatan indeks pembelian barang tahan lama dibandingkan triwulan sebelumnya.
Perkembangan kinerja komponen investasi diperkirakan akan mengalami perlambatan. Berdasarkan SKDU, perkiraan perkembangan kegiatan usaha mengalami perlambatan pada Triwulan IV. Hal ini dikarenakan adanya dampak kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) tahap IV pada bulan November yang merupakan salah satu komponen biaya utama dalam dunia usaha. Begitu pula investasi subsektor pemerintahan diperkirakan turut melambat. Mayoritas investasi yang terealisasi pada triwulan III menjadi faktor utama perlambatan tersebut.
Grafik 6.2 Perkembangan Indeks Tendensi Konsumen Grafik 6.3 Perkembangan Ekspektasi Konsumen
85 90 95 100 105 110 115
I II III IV I II III IV I II III IV*
2012 2013 2014
Indeks
Sumber : BPS Provinsi Nusa Tenggara Timur
ITK Pendapatan RT Rencana Pembelian Barang Tahan Lama
0.00 20.00 40.00 60.00 80.00 100.00 120.00 140.00 160.00
I II III IV I II III IV I II III IV*
2012 2013 2014
Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE)
Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK)
Sumber: SK diolah -30.00 -20.00 -10.00 0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00 -8.00% -6.00% -4.00% -2.00% 0.00% 2.00% 4.00% 6.00%
Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV*
2012 2013 2014
Indeks
PDRB (qtq) SKDU - Kegiatan Usaha
SKDU - Harga Jual
Sumber : SKDU diolah
Berdasarkan Realisasi Pertumbuhan Ekonomi Global, perkembangan kinerja ekspor-impor pada triwulan IV-2014 diperkirakan masih mengalami perlambatan. Meskipun saat ini perkembangan ekonomi global mulai menunjukkan hal positif, namun perlambatan perkembangan ekonomi negara-negara tujuan ekspor terutama negara-negara Tiongkok masih terus berlanjut. Berdasarkan consensus forecast, Negara Tiongkok diproyeksikan masih dalam trend perlambatan. Selain itu, kondisi nilai tukar rupiah yang masih berada di level Rp 12.000,00 atau trend peningkatan.
Tabel 6.2 Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Global
2013 Proyeksi 2014 2015 PDB Dunia 3.1 3.4 3.8 Negara Maju 1.4 2.0 2.4 Amerika Serikat 2.2 2.1 3.0 Kawasan Eropa -0.4 1.1 1.5 Jepang 1.5 1.6 1.1
Negara Emerging Market dan berkembang 4.7 4.6 5.0
Tiongkok 7.7 7.4 7.1
India 4.6 5.4 6.4
Negara Emerging Market Lainnya 3.1 3.1 3.6
Sumber: Recent Economic Development Indonesia, Edisi Oktober 2014 6
6..22. . IInnffllaassii
Pada triwulan IV atau akhir tahun 2014, inflasi diperkirakan meningkat. Berdasarkan perkembangan harga terkini, inflasi NTT di akhir tahun diperkirakan berada pada kisaran sebesar 4,23% - 4,63% (yoy). Adapun tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari meningkatnya permintaan pada perayaan Natal & Tahun Baru. Sementara itu, inflasi pada kelompok pangan berpotensi meningkat sebagai dampak dari penurunan produksi sektor pertanian akibat kekeringan. Inflasi Administered Prices (AP) diperkirakan meningkat sejalan dengan diberlakukannya kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) tahap akhir untuk beberapa kelompok termasuk kelompok rumah tangga serta peningkatan tarif batas atas angkutan udara sebesar 20%. Terkait wacana kenaikan harga Bahan Bakan Minyak (BBM) bersubsidi, setiap kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 1.000,00/liter berpotensi untuk menambah angka inflasi sebesar 1% dari kondisi normal dan begitu pula kelipatannya.
69
Komoditas bahan makanan diperkirakan masih mendominasi andil tertinggi terhadap laju inflasi NTT. Secara spasial, berdasarkan data historis selama 3 tahun terakhir (2011-2013), tingginya inflasi Kota Kupang terutama berasal dari komoditas beras, bawang merah dan tomat sayur. Sementara Kota Maumere, andil terbesar sebagian besar berasal dari kelompok ikan segar.