• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realisasi Kinerja Direktorat Pemanfaatan Ruang TA 2015

BAB 3 AKUNTABILITAS KINERJA

3.1. Capaian Kinerja Organisasi

3.1.1. Realisasi Kinerja Direktorat Pemanfaatan Ruang TA 2015

Terdapat 7 Indikator Kinerja Kegiatan yang dirumuskan untuk Direktorat Pemanfaatan Ruang. Secara umum, seluruh indikator tercapai sesuai Perjanjian Kinerja (100%) sehingga dapat dinilai baik (lihat Tabel 2). Hal ini berarti realisasi input, baik sumber daya manusia, peralatan dan perlengkapan, serta dana dapat dituangkan ke dalam realisasi keluaran, yang dalam hal ini dituangkan dalam realisasi target output. Hal ini juga mengindikasikan bahwa perencanaan dan

Tabel 2. Realisasi Kinerja Direktorat Pemanfaatan Ruang TA 2015

Sasaran Strategis

Indikator Kinerja Target Realisasi Persentase

Realisasi Keterangan

Indikator Kinerja Kegiatan : Terlaksananya Pengaturan, Perencanaan Tata Ruang, Pemanfaatan Ruang, serta Pengembangan KSN

1 Jumlah Dokumen Kebijakan, Strategi, dan Pelaksanaan Program Bidang Pemanfaatan Ruang

10 dokumen 10 dokumen 100% Dokumen output menjadi masukan untuk peningkatan kualitas perencanaan (program, rencana strategis, dan anggaran) serta untuk peningkatan keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha dalam penataan ruang. 2 Jumlah NSPK yang Dilegalkan 12 dokumen 12 dokumen 100% Kajian, materi teknis dan pedoman menjadi masukan

pelaksanaan pemanfaatan RTR dan sebagian besar diproses lebih lanjut sesuai tahapan legalisasi NSPK. 3 Jumlah Forum Lintas Sektor dan

Lintas Wilayah yang Difasilitasi

8 dokumen 8 dokumen 100% Hasil fasilitasi menjadi masukan untuk penguatan koordinasi lintas sektor dalam penataan ruang dalam penyusunan RDTR dan pelaksanaan RTR.

4 Jumlah Lembaga Lintas Sektor dan Wilayah yang Terkoordinasi

6 dokumen 6 dokumen 100% Hasil fasilitasi menjadi masukan untuk penguatan kelembagaan penataan ruang di tingkat nasional, pulau/kepulauan dan daerah dalam mengawal pelaksanaan RTR.

5 Jumlah Dokumen Hasil Sinkronisasi Program Sektor

9 dokumen 9 dokumen 100% Hasil sinkronisasi program sektor menjadi bahan untuk pembahasan program Kementerian/Lembaga (K/L) dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2016.

6 Jumlah SKPD Pengelolaan KSN 39 dokumen 38 dokumen 97.44% Dokumen output menjadi masukan untuk perbaikan pengelolaan KSN.

7 Jumlah Dokumen Hasil Monev Implementasi RTRWN, RTR Pulau/Kepulauan/KSN

3 dokumen 3 dokumen 100% Hasil Monitoring Evaluasi Implementasi RTR menjadi masukan untuk review/revisi RTRWN dan perbaikan pelaksanaan RTR.

pelaksanaan kegiatan di Direktorat Pemanfaatan Ruang telah berjalan dengan baik. Walaupun demikian, perlu menjadi catatan bahwa akibat waktu efektif pelaksanaan kegiatan di tahun 2015 yang terbatas hanya 5 bulan, pencapaian ini diraih dengan kerja sangat intensif dan secara substansi, masih banyak hal yang perlu disempurnakan. Target seluruh kegiatan secara formal berupa dokumen (seperti contohnya Berita Acara Kesepakatan, agenda kerja, buletin, materi teknis, draft pedoman, buku profil, buku monitoring dan evaluasi), namun jika melihat lebih jauh ke dalam sejumlah kegiatan, terdapat keluaran lain dalam bentuk produk seperti contohnya album peta, media interaktif dan sistem database.

Bagian berikutnya akan mengelaborasi kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Pemanfaatan Ruang pada tahun 2015 lebih lanjut sesuai pengelompokkan indikator output. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain:

A. Indikator Output 1

Terdapat 10 (sepuluh) paket pekerjaan dalam indikator output 1, yaitu :

Kegiatan-kegiatan dalam indikator output ini bertujuan untuk menyiapkan kebijakan, strategi dan pelaksanaan program bidang pemanfaatan ruang dan secara garis besar dapat dikategorikan ke dalam 3 kegiatan besar, yaitu:

 Penyusunan rencana tahunan (program, rencana strategis, laporan kinerja dan

anggaran);

Penyiapan kebijakan, strategi dan database profil pelaksanaan pemanfaatan ruang di KSN.

Ada beberapa kendala yang dapat diidentifikasi dari pelaksanaan paket pekerjaan dalam indikator output 1, diantaranya:

 Belum terselesaikannya Renstra Direktorat Jenderal Tata Ruang sebagai implikasi

perubahan Struktur Organisasi dan Tata Kerja (SOTK).

Sulitnya mengundang partisipasi aktif representatif stakeholder yang terlibat untuk

kegiatan peningkatan dan pelibatan masyarakat dan dunia usaha dalam penataan ruang.

Belum lengkapnya kebutuhan data dan peta KSN untuk penyiapan database KSN.

Perbedaan konsep, analisis dan desain rancangan struktur database profil KSN dan

aplikasinya dari penyedia jasa kegiatan.

Hasil kegiatan antara lain berupa Program Tahunan dan Draft Renstra Direktorat Pemanfaatan Ruang 2015-2019, Buku Profil Pemanfaatan Ruang KSN beserta media interaktif (kompilasi foto, peta), sistem database dan dokumen lainnya yang menjadi masukan untuk peningkatan kualitas perencanaan tahunan (program, rencana strategis, laporan kinerja dan anggaran) dan di KSN serta untuk peningkatan keterlibatan aktif masyarakat dan dunia usaha dalam penataan ruang.

B. Indikator Output 2

Tujuan pelaksanaan kegiatan-kegiatan dalam indikator output ini adalah untuk menyediakan pedoman pemanfaatan ruang/kawasan untuk pemerintah daerah, diantaranya ruang udara, ruang dalam bumi, kawasan perkotaan, kawasan minapolitan, kawasan agropolitan dan perdagangan.

Beberapa kendala yang dapat diidentifikasi dari penyelesaian paket-paket pekerjaan dalam indikator output ini antara lain:

 Belum terpadunya pengaturan berbagai ruang (berbagai instansi pemerintah memiliki

landasan perundang-undangan masing-masing mengenai sektor atau wilayah tertentu) sehingga kebijakan pemanfaatan ruang dalam bumi menjadi parsial, belum terfokus dan penanganannya tidak menyeluruh.

 Belum tersedianya landasan hukum pada tingkat peraturan yang lebih tinggi dan belum

jelasnya kriteria untuk pemanfaatan dan/atau pengelolaan ruang/kawasan tertentu.

 Belum disepakatinya pembagian kewenangan untuk pengelolaan ruang/kawasan

tertentu, contoh: ruang dalam bumi.

 Masih adanya perbedaan pemahaman terkait hal yang akan dijadikan pedoman.

 Terbatasnya ketersediaan data untuk penyusunan pedoman.

Jumlah NSPK

yang dilegalkan Penyusunan Materi Teknis Pedoman Pengembangan Kawasan Perkotaan Baru

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penentuan Lokasi Pasar Tradisional dan Pasar Modern

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penataan Ruang Kawasan Minapolitan

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penentuan Koefisien Wilayah Terbangun (KWT) Koefisien Zona Terbangun (KZT) dan Koefisien Dasar Bangunan (KDB) di Kawasan Strategis Nasional (KSN) Perkotaan

Penyusunan Materi Teknis Pedoman Penyusunan Rencana Terpadu Program Jangka Menengah Kawasan Strategis Nasional (KSN) Kajian Standar Alokasi Ruang Di Kawasan Perkotaan

Penyusunan Pedoman untuk Kawasan Transit (TOD)

Penyusunan Pedoman Pedoman Penataan Ruang Kawasan Agropolitan Penyusunan Mekanisme Sinkronisasi Program Pengembangan Wilayah Berbasis Penataan Ruang KSN

Kajian Pemanfaatan Ruang Dalam Bumi di Indonesia Identifikasi Pemanfaatan Ruang Udara di Indonesia

Hasil kegiatan berupa dokumen dalam bentuk materi teknis, draft pedoman dan kajian, yang akan menjadi masukan bagi pemanfaatan ruang berbasis RTR dan akan diproses lebih lanjut sesuai tahapan legalisasi NSPK agar dapat ditetapkan melalui Peraturan Menteri.

C. Indikator Output 3

Dalam indikator output 3 ini terdapat 8 (delapan) paket pekerjaan, yaitu :

Kegiatan-kegiatan yang tercakup dalam indikator output 3 diselenggarakan untuk memfasilitasi penyelenggaraan berbagai forum penataan ruang lintas sektor dan lintas wilayah, diantaranya dalam lingkup Koridor Ekosistem Rimba, KSN Merapi dan KSN Danau Toba. Adapun kendala dalam pelaksanaan sejumlah kegiatan di atas, yaitu:

 Terbatasnya ketersediaan data di K/L dan pemerintah daerah sehingga diperlukan

analisis yang lebih mendalam terkait kelembagaan KSN.

 Bencana kabut asap di Pulau Sumatera yang membuat waktu pelaksanaan kegiatan

semakin singkat.

 Minimnya masukan yang diterima untuk perbaikan akibat banyaknya pemangku

kepentingan yang belum memahami esensi kegiatan.

 Sulitnya menentukan jadwal pelaksanaan koordinasi dengan BIG untuk melakukan

konsultasi peta lampiran dokumen dengan ketelitian peta 1:5.000 terkait penyusunan RDTR KSN. Jumlah Forum Lintas Sektor dan Lintas Wilayah yang Difasilitasi

Peningkatan Forum Koordinasi Penataan Ruang Nasional dalam Penyelenggaraan Penataan Ruang

Pembentukan/ Operasionalisasi Kelembagaan RTR KSN

Koordinasi Penyediaan Lahan dalam Rangka Perwujudan Kedaulatan Pangan

Pendampingan Program GEF – RIMBA

Pengembangan Kawasan Perdesaan di Koridor Ekosistem Rimba Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Rawan Bencana di KSN Merapi

Penyusunan Rencana Pengembangan Kawasan Pariwisata di KSN Danau Toba

Hasil fasilitasi yang dikumpulkan dalam bentuk dokumen menjadi masukan untuk penguatan koordinasi lintas sektor dalam penataan ruang. Diharapkan ke depannya, terbentuk lebih banyak forum sejenis untuk mendukung penyusunan RDTR dan pelaksanaan RTR.

D. Indikator Output 4

Dalam indikator output 4 ini terdapat 6 (enam) paket pekerjaan, yaitu :

Hal yang dapat digarisbawahi dari pelaksanaan sejumlah kegiatan di atas adalah penyelenggaraan koordinasi kelembagaan penataan ruang di tingkat nasional, pulau/kepulauan, lintas wilayah dan lintas regional. Mengingat banyaknya pemangku kepentingan yang terlibat, maka dibutuhkan upaya untuk membentuk forum/lembaga atau memantapkan kelembagaan yang sudah terbentuk dalam rangka memperkuat fungsi dalam rangka melakukan koordinasi para pemangku kepentingan pada masing-masing tingkatan pemerintahan untuk mewujudkan rencana struktur ruang dan pola ruang sesuai dengan indikasi program RTR yang telah disusun. Di tingkat nasional, telah terbentuk Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) yang menjadi wadah koordinasi 14 Kementerian/Lembaga (K/L) pengguna ruang. Pembentukan kelembagaan ad-hoc ini didasarkan pada Keputusan Presiden No. 4 Tahun 2009 tentang BKPRN. Namun demikian, dengan terbentuknya struktur Kabinet Kerja sebagaimana diamanatkan Perpres No. 165 Tahun 2011, serta memperhatikan tugas dan fungsi Kementerian ATR/BPN sebagaimana Perpres No. 17 Tahun 2011, maka tugas, struktur dan keanggotaan BKPRN tengah ditelaah kembali karena terdapat sejumlah tugas dan fungsi BKPRN yang telah tercakup dalam tugas dan fungsi Kementerian ATR/BPN.

Di tingkat pulau/kepulauan, tidak terdapat kelembagaan khusus untuk operasionalisasi RTRWN, akan tetapi forum Gubernur yang telah diinisiasi di sejumlah pulau besar telah menjadi wadah komunikasi dalam rangka mendukung implementasi pembangunan wilayah, pemanfaatan ruang maupun pengendalian pemanfaatan ruang pulau/kepulauan. Sementara itu, koordinasi lintas

Jumlah

Lembaga Lintas Sektor dan Wilayah yang Terkoordinasi

Fasilitasi Penyelenggaraan Rakernas BKPRN

Fasilitasi Kerjasama Lintas Wilayah dan Lintas Regional Fasilitasi Forum Penataan Ruang di Pulau Sumatera Fasilitasi Forum Penataan Ruang di Pulau Jawa – Bali

Fasilitasi Forum Penataan Ruang di Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi Fasilitasi Forum Penataan Ruang di Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Papua, dan Kepulauan Maluku

wilayah dan lintas regional lainnya dilakukan melalui kelembagaan yang mencakup pimpinan-pimpinan daerah dengan kepentingan yang sama.

Ada beberapa kendala yang muncul dalam penyelenggaraan koordinasi kelembagaan di tingkat nasional maupun pulau/kepulauan. Kendala-kendala tersebut adalah sebagai berikut:

 Dampak terbitnya UU Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan Perpres No.

165 Tahun 2014 tentang Penataan Tugas dan Fungsi Kabinet Kerja mengakibatkan perlunya sinkronisasi kelembagaan terkait Penataan Ruang antara pusat dan daerah.

 Perbedaan jangka waktu dan masa berlaku dimana produk rencana dalam Sistem

Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) dibagi berdasarkan RPJP (20 Tahun), RPJM (5 Tahun) dan RKP (1 Tahun). Sedangkan jangka waktu rencana tata ruang dalam sistem Perencanaan Spasial adalah sama, yaitu 20 tahun untuk semua produk rencana tata ruang, sehingga sulit dalam pengintegrasiannya.

 Adanya dinamika pembangunan eksternal disebabkan oleh adanya gejolak

perekonomian global dan isu strategis nasional yang menuntut Pemerintah Daerah terfokus pada prioritas kebijakan untuk mengantisipasi permasalahan yang lebih krusial, contoh kebijakan nasional terkait Nawacita.

 Belum lengkapnya pedoman pembentukan kelembagaan dan pengaturan kerjasama.

 Belum disepakatinya fokus kerjasama lintas sektor dan wilayah dalam penataan ruang.

 Untuk Rakernas BKPRN, waktu pelaksanaan di akhir tahun menyulitkan

Kementerian/Lembaga untuk mengintegrasikan hasil kesepakatan ke dalam program/kegiatan Tahun Anggaran 2016.

Hasil fasilitasi yang salah satunya berupa rancangan agenda kerja menjadi masukan untuk penguatan kelembagaan penataan ruang di tingkat nasional, pulau/kepulauan dan daerah dalam mengawal pelaksanaan RTR.

E. Indikator Output 5

Indikator Output 5 ini merupakan bagian dari PK Direktorat Pemanfaatan Ruang vis a vis PK Menteri, yaitu indikator kinerja “Jumlah Operasionalisasi Rencana Tata Ruang Nasional/Pulau/Kepulauan/Kawasan Strategis Nasional” dengan total 40. Indikator output 5 mencakup operasionalisasi 20 RTR sementara 20 lainnya tercakup dalam indikator output 6. Dalam indikator output 5, terdapat 9 (sembilan) paket pekerjaan, yaitu:

Latar belakang pelaksanaan berbagai kegiatan ini adalah karena permasalahan dalam keterpaduan pembangunan infrastruktur di Indonesia seperti belum fokusnya sasaran kewilayahan yang akan didorong pembangunan infrastrukturnya, belum sinergisnya program pembangunan infrastruktur antar kementerian/lembaga terkait dan pemerintah daerah, serta belum efektifnya sistem penganggaran pembangunan infrastruktur. Kegiatan-kegiatan dalam indikator output 5 dimaksudkan untuk mensinkronkan berbagai program K/L, utamanya terkait pembangunan infrastruktur sebagai inisiasi pelaksanaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah untuk pulau/kepulauan dan KSN sehingga dapat diidentifikasi program-program yang menjadi prioritas untuk jangka waktu 5-20 tahun ke depan. Adapun kendala dalam pelaksanaan paket pekerjaan ini dapat dikategorikan ke dalam aspek teknis dan substantif.

a. Teknis

 Data yang tersedia di K/L dan pemerintah daerah kurang lengkap sehingga menyulitkan

dalam penyelesaian matriks program.

 Terbatasnya cakupan kajian hanya pada infrastruktur bidang pekerjaan umum saja.

Jumlah

Dokumen Hasil Sinkronisasi Program Sektor

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Pulau Sumatera

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Pulau Jawa – Bali

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah Kepulauan Nusa Tenggara, Pulau Papua, dan Kepulauan Maluku

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah KSN Danau Toba, KSN Merapi, dan KSN Borobudur

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah KSN Mebidangro dan KSN BBK Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah KSN Perbatasan Maluku, Maluku Utara - Papua Barat, dan Papua

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah KSN Sarbagita dan KSN

Mamminasata

Review dan Penyempurnaan Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah KSN Perbatasan Kalimantan dan NTT

 Belum tersedianya pedoman sinkronisasi program sektor. b. Substantif/Non Teknis

 Perbedaan pemahaman terhadap jenis data/dokumen sektoral yang diperlukan.

 Perbedaan kedalaman informasi yang ditemukan dalam dokumen rencana pembangunan

sektor yang menjadi input penyusunan program prioritas. Hasil kegiatan, yang antara lain berupa:

 Dokumen Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah

yang telah di-review dan disempurnakan;

 Peta program prioritas pembangunan infrastruktur per tujuan per sektor yang telah

disempurnakan;

 Berita acara pembahasan pemerintah provinsi dan Kementerian/Lembaga terkait Rencana

Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah; dan

 Booklet Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah

menjadi bahan untuk pembahasan program Kementerian/Lembaga (K/L) Tahun 2017 dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional (Musrenbangnas) Tahun 2016.

F. Indikator Output 6

Dalam indikator output 6 ini terdapat 2 (dua) kategori pekerjaan, yaitu:

Pada Tahun 2015 terdapat 30 provinsi yang mendapatkan dana dekonsentrasi yg dialokasikan menjadi 4 kegiatan Fasilitasi dan Koordinasi Keterpaduan Program Pengembangan Infrastruktur KSN, Peningkatan Kelembagaan Pengelola KSN, Fasilitasi Sinkronisasi Prioritas Program Tahunan RTR KSN dan Fasilitasi Penyusunan Raperpres RTR KSN seperti yang terlihat pada tabel berikut. No Provinsi Fasilitasi dan Koordinasi Keterpaduan Program Pengembangan Infrastruktur KSN Peningkatan Kelembagaan Pengelola KSN Fasilitasi Sinkronisasi Prioritas Program Tahunan RTR KSN Fasilitasi Penyusunan Raperpres RTR KSN TOTAL 1 Aceh 860.132.000 0 0 860.132.000 2 Sumatera Utara 659.236.000 254.099.000 500.000.000 1.413.335.000 Jumlah SKPD Pengelolaan KSN

Melaksanakan Penataan Ruang KSN Wilayah I Melaksanakan Penataan Ruang KSN Wilayah II

3 Kep, Riau 583.300.000 0 0 583.300.000 4 Jambi 0 0 0 260.134.000 - 5 Bengkulu 0 0 0 277.526.000 - 6 Riau 832.477.000 0 0 832.477.000 7 Lampung 409.138.000 0 0 409.138.000 8 Banten 443.450.000 0 0 443.450.000 9 Sumatera Barat 0 0 0 483.858.000 - 10 Sumatera Selatan 0 0 0 335.926.000 - 11 Kalimantan Barat 815.742.000 0 0 815.742.000 12 NTT 1.187.260.000 0 0 1.187.260.000 13 NTB 431.321.000 0 0 431.321.000 14 Kalimantan Tengah 572.324.000 0 0 572.324.000 15 Kalimantan Selatan 414.502.000 0 0 414.502.000 16 Kalimantan Timur 1.165.241.000 0 0 1.165.241.000 17 Jawa Barat 362.614.000 0 405.488.000 768.102.000 18 Jawa Tengah 472.464.000 240.453.000 253.664.000 966.581.000 19 Jawa Timur 0 492.165.000 400.000.000 892.165.000 20 Sulawesi Utara 715.526.000 0 0 715.526.000 21 Gorontalo 383.516.000 0 0 383.516.000 22 Sulawesi Tengah 1.379.632.000 0 0 1.379.632.000 23 Sulawesi Selatan 1.325.513.000 0 450.000.000 1.775.513.000 24 Sulawesi Tenggara 482.006.000 0 0 482.006.000 25 Maluku 921.997.000 0 0 921.997.000 26 Maluku Utara 661.400.000 0 0 661.400.000 27 Papua 985.450.000 0 0 985.450.000 28 Papua Barat 864.394.000 0 0 864.394.000 29 DIY 554.618.000 0 0 554.618.000 30 Bali 0 448.859.000 594.000.000 1.042.859.000

Total keseluruhan dokumen target untuk output ini adalah 39 Dokumen. Terdapat 16 provinsi dengan total 20 KSN yang masuk kedalam PK Menteri sehingga pada PK menteri terdapat 40 KSN, terdapat pada kegiatan Fasilitasi dan Koordinasi Keterpaduan Program Pengembangan Infrastruktur KSN dan Fasilitasi Sinkronisasi Prioritas Program Tahunan RTR KSN hal ini dilakukan dengan asumsi DIPA provinsi yang medapatkan dekon masih dikutsertakan pada DIPA awal pusat. Akan tetapi seiring dengan dilakukannya Rev.1 dan dipisahkannya DIPA pusat dan

DIPA masing-masing provinsi Dekon, maka yang dapat dimasukkan sebagai kinerja pusat hanyalah kegiatan yang terdapat pada DIPA pusat sebanyak 20 KSN.

G. Indikator Output 7

Sebagai feedback suatu peraturan perundangan, perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap peraturan perundangan tersebut untuk melihat tingkat efektivitas dan implementasinya. Kegiatan dalam indikator output 7 dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan penataan ruang dengan peningkatan fungsi pengawasan dan meninjau implementasi RTRWN, RTR Pulau/Kepulauan dan RTR KSN melalui kegiatan pengkajian, evaluasi, dan penilaian terhadap rencana tata ruang dan penerapannya. Terdapat 3 (tiga) paket pekerjaan yang termasuk ke dalam indikator output ini, yaitu :

Beberapa kendala dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan-kegiatan ini, diantaranya:

Provinsi yang dijadikan sample tengah menyusun Peninjauan Kembali RTRW-nya

sehingga masukan yang disampaikan baik dari sisi struktur ruang, pola ruang, kawasan strategis masih belum final dan masih menunggu proses untuk dapat dimasukkan ke dalam usulan Peninjauan Kembali RTRWN.

 Belum digunakannya RTR sebagai acuan utama K/L dalam penyusunan program.

 Keterbatasan data pendukung untuk melakukan proses monitoring dan evaluasi

menyebabkan terkendalanya proses monev pada tahap perencanaan.

 Perbedaan komponen program K/L (lokasi, waktu, tahapan, klasifikasi) sehingga ditemui

kesulitan dalam pengklasifikasian berdasarkan parameter monitoring dan evaluasi. Dokumen Laporan Monitoring Evaluasi Implementasi RTR menjadi masukan untuk review/revisi RTRWN dan perbaikan pelaksanaan RTR.

Dokumen terkait