• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realisasi Pendapatan Daerah

BAB 2 Keuangan Pemerintah

2.2 Postur APBD Provinsi Gorontalo

2.2.1 Realisasi Pendapatan Daerah

Realisasi pendapatan daerah Pemerintah Provinsi Gorontalo pada triwulan II 2014 mencapai Rp644,47 miliar atau 53,57% dari pendapatan yang ditargetkan pada APBD 2014.

Realisasi ini lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2013 yaitu 50,32% dari rencana anggaran. Hal tersebut dipengaruhi oleh penerimaan dana perimbangan yang mencapai Rp451,75 miliar atau 56,36% dari target 2014. Sementara itu, penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) pada triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp129,49 miliar atau 47,21% dari yang ditargetkan, lebih rendah dari kinerja triwulan II 2013 yang sebesar 49,06%.

Hal tersebut disebabkan oleh belum optimalnya penerimaan pendapatan pajak daerah, terutama pada penerimaan akan bea balik nama kendaraan bermotor dan pajak kendaraan bermotor.

Dari sisi dana perimbangan, Dana Alokasi Umum yang diperoleh pada triwulan II 2014 sebesar Rp428,33 miliar atau 58,33% dari dana yang dianggarkan. Kinerja tersebut tercatat lebih baik dibandingkan triwulan II 2013 yang hanya 51,18% dari target anggaran. Kenaikan

Pajak

34 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014

perolehan Dana Alokasi Umum tersebut berpengaruh cukup signifikan terhadap penerimaan dana perimbangan secara keseluruhan disebabkan pangsanya yang mencapai 66,46% dari total realisasi penerimaan di triwulan II 2014.

Sejalan dengan pola historisnya, tingkat kemandirian fiskal daerah secara umum masih belum cukup baik, tercermin dari realisasi Pendapatan Asli Daerah yang relatif kecil yaitu 20,09% dari total realisasi pendapatan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa sumber pendapatan daerah dari awal sampai dengan akhir tahun sangat tergantung dengan bantuan dana dari pemerintah pusat yang terkumpul dalam komponen Dana Perimbangan. Dana Alokasi Umum yang dianggarkan pada tahun 2014 mengalami peningkatan 12,57%

dibandingkan tahun sebelumnya, sedangkan Dana Bagi Hasil Pajak dan Dana Alokasi Khusus mengalami penurunan masing-masing sebesar 13,90% dan 1,49%.

Tabel 2.1. Realisasi Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Tabel 2.2. Pangsa Pendapatan Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 35 2.2.2 REALISASI BELANJA DAERAH

Realisasi belanja daerah Pemerintah Provinsi Gorontalo hingga triwulan II 2014 masih relatif minim, yaitu tercatat hanya sebesar Rp446,93 miliar atau menyerap 34,52% dari pagu anggaran belanja. Kinerja tersebut lebih rendah jika dibandingkan dengan triwulan II 2013 dengan penyerapan realisasi belanja sebesar 37,41% dari anggaran. Penurunan tersebut terjadi pada beberapa komponen belanja seperti Belanja Modal, Belanja Tidak Terduga, dan Belanja Bagi Hasil. Sementara itu, komponen Belanja Operasi masih relatif stabil dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Komponen Belanja Operasi Pemerintah pada triwulan II 2014 tercatat sebesar Rp366,34 miliar dan berhasil menyerap 28,30% anggaran belanja. Realisasi pada komponen tersebut terdiri dari Belanja Pegawai, Belanja Barang, Belanja Hibah, dan Belanja Bantuan Sosial.

Penyumbang utama berasal dari Belanja Barang dan Jasa yaitu sebesar Rp145,04 miliar, diikuti Belanja Pegawai sebesar Rp127,50 miliar, dan Belanja Hibah sebesar Rp88,03 miliar. Apabila dilihat lebih rinci dari pangsanya, komposisi total belanja APBD triwulan II 2014 juga didominasi oleh ketiga kelompok tersebut dengan total pangsa mencapai 81,97%. Realisasi belanja pegawai yang belum optimal dipengaruhi oleh pemberian gaji ke-13 PNS, TNI, Polri, dan Pensiunan yang baru akan dilakukan pada awal triwulan III 2014.

Sementara itu, realisasi Belanja Modal pada triwulan II 2014 menurun cukup signifikan dibandingkan triwulan II 2013, yaitu dari Rp70,63 miliar menjadi Rp48,08 miliar. Kondisi tersebut menyebabkan belanja modal hanya menyerap 3,71% dari total APBD yang direncanakan. Beberapa pembangunan infrastruktur yang dilakukan oleh pemerintah ditengarai mengalami beberapa hambatan, terutama mengenai pembebasan lahan sehingga Gubernur Gorontalo menginstruksikan agar permasalahan tersebut dapat segera diselesaikan agar penyelesaian pekerjaan tidak tertunda.

Berdasarkan kondisi realisasi pendapatan yang lebih besar dibandingkan belanja tersebut, maka Provinsi Gorontalo berada dalam kondisi surplus yang relatif besar pada triwulan II 2014 yaitu mencapai Rp197,53 miliar, lebih tinggi dibandingkan triwulan II 2013 yang mengalami surplus Rp100,29 miliar. Ruang fiskal (fiscal space) yang relatif besar tersebut menunjukkan penggunaan anggaran Pemerintah Daerah belum cukup optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, surplus anggaran dapat dialokasikan untuk membantu pengembangan Kabupaten/Kota lainnya, sehingga dapat memberikan multiplier effect yang besar dan merata terhadap pertumbuhan ekonomi Provinsi Gorontalo.

36 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 Tabel 2.3. Realisasi Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2014

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Tabel 2.4. Pangsa Belanja Daerah Provinsi Gorontalo Triwulan II 2013 dan Triwulan II 2014

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Kinerja fiskal pada triwulan II 2014 belum menunjukkan perubahan yang signifikan dalam memberikan stimulan terhadap perkembangan sektor riil. Realisasi anggaran konsumsi pemerintah memberikan pangsa 12,17%, lebih rendah dibandingkan pangsa triwulan II 2013 yang sebesar 12,67%. Hal yang serupa juga terjadi pada belanja modal yang memiliki pangsa hanya 1,47% atau juga lebih rendah dibandingkan pangsa triwulan II 2013 yaitu 2,54%. Baik realisasi anggaran konsumsi maupun belanja modal mengalami penurunan dibandingkan triwulan II 2013. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah sebaiknya dapat memanfaatkan penggunaan dana APBN secara optimal sehingga dapat mendorong pertumbuhan komponen konsumsi dan investasi PDRB Provinsi Gorontalo.

Realisasi

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 37

Tabel 2.5. Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil

Sumber : Dinas Keuangan dan Aset Daerah Provinsi Gorontalo

Realisasi (Rp miliar)

% Realisasi thd PDRB

Realisasi (Rp miliar)

% Realisasi thd PDRB I Konsumsi Pemerintah 925.06 352.83 12.67 1,019.51 398.85 12.17

a. Belanja Pegawai 273.93 114.75 4.12 310.13 127.50 3.89 b. Belanja Subsidi - - - - - -c. Belanja Hibah 183.75 85.91 3.09 177.26 88.03 2.69 d. Belanja Bantuan Sosial 1.00 0.27 0.01 1.50 0.38 0.01 e. Belanja Bagi Hasil 82.21 34.25 1.23 114.78 32.52 0.99 f. Belanja Bantuan Keuangan 32.63 4.98 0.18 21.17 5.39 0.16 g. Belanja Tidak Terduga 2.50 0.33 0.01 5.40 - -h. Belanja Barang dan Jasa 349.05 112.34 4.03 389.27 145.04 4.43 II Pembentukan Modal Tetap Bruto 206.86 70.63 2.54 273.16 48.08 1.47

APBD 2014 (Rp miliar)

Triwulan II 2014 Uraian

No APBDP 2013

(Rp miliar)

Triwulan II 2013

38 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014

BOKS 2 : OPTIMALISASI REALISASI BELANJA FISKAL DALAM MENDORONG PEREKONOMIAN GORONTALO

Pemerintah daerah dan Kementerian/Lembaga memegang peranan penting dalam mendorong pergerakan roda perekonomian daerah, salah satunya melalui pengelolaan anggaran belanja, baik APBN maupun APBD. Hal tersebut setidaknya terefleksi dari data share belanja pemerintah terhadap PDRB pada triwulan II 2014 yang tercatat sebesar 32,17%.

Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir, pengelolaan anggaran oleh pemerintah daerah terlihat masih belum optimal antara lain tercermin dari penyerapan anggaran dan kualitas belanja daerah.

Belanja pemerintah daerah ataupun Kementerian/Lembaga telah menghasilkan pola belanja dengan karakteristik penyerapan yang rendah di semester pertama dan menumpuk pada akhir tahun anggaran berjalan. Hal ini tentunya perlu mendapat perhatian mengingat realisasi anggaran belanja pemerintah yang kurang optimal akan berpengaruh terhadap roda perekonomian daerah. Jika dana tersebut bisa diserap dengan baik dan direalisasikan untuk belanja barang dan modal, maka hal ini bisa meningkatkan output pelayanan masyarakat dan mendorong roda perekonomian daerah.

Di Provinsi Gorontalo sendiri, pada semester awal tahun 2014, penyerapan belanja oleh Pemerintah Daerah dan Kementerian/Lembaga Gorontalo masih belum sesuai dengan target yang ditetapkan di awal tahun anggaran. Realisasi penggunaan APBN provinsi Gorontalo di semester pertama 2014 hanya 31,38% lebih rendah dari target pagu Daftar Isian Penggunaan Anggaran (DIPA) 2014 Semester I sebesar 40%. Sementara, pada periode yang sama untuk penyerapan belanja anggaran yang bersumber dari APBD hanya sebesar 34,52% dari pagu belanja APBD 2014.

Untuk belanja modal yang dianggap memiliki multiplier effect yang tinggi, dari sisi APBN baru terealisasi 24,22% di semester pertama 2014. Begitu pula halnya dengan realisasi belanja modal dari APBD yang hanya sekitar 17,60% dari total pagu anggaran belanja di semester awal 2014. Rendahnya penyerapan belanja modal ini menyebabkan fungsi belanja pemerintah untuk mengakselerasi pembangunan di Gorontalo kurang berfungsi secara optimal. Kondisi ini memperlambat pembangunan ekonomi di Gorontalo terutama berkaitan dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai.

Analisis terhadap faktor-faktor penyebab rendahnya penyerapan belanja oleh Pemerintah Daerah dan Kementerian/Lembaga Gorontalo di semester awal tahun anggaran menjadi hal yang perlu dilakukan. Karena jika kondisi ini terus menerus mengalami pengulangan dari tahun ke tahun, pengembangan dan pembangunan Provinsi Gorontalo tidak akan berjalan optimal dan rentan terhadap resiko perlambatan pertumbuhan. Reydonnyzar

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 39 Moenoek, Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri, mengatakan bahwa rendahnya penyerapan belanja daerah khususnya di awal tahun disebabkan oleh dua faktor.

Pertama, keterlambatan daerah dalam menetapkan peraturan daerah tentang APBD mereka.

Faktor kedua dipicu oleh proses pengadaan barang dan jasa yang selama ini memang memerlukan waktu.1

Merujuk pada pernyataan Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri tersebut, keterlambatan yang terjadi biasanya dipicu oleh kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang lamban, lemahnya koordinasi antara perencanaan dan pelaksanaan anggaran, serta kurang terpadunya mekanisme kerja pada unit-unit tertentu. Faktor pendorong kendala-kendala tersebut antara lain dapat dipengaruhi oleh kurangnya pemahaman terhadap mekanisme pencairan anggaran, faktor kehati-hatian dalam pengelolaan anggaran, ataupun satuan harga yang ditetapkan tidak sesuai kebutuhan rill. Selain itu, juga bisa disebabkan oleh perencanaan kegiatan proyek yang kurang baik, seperti tidak adanya kerangka acuan kerja (TOR) dan rincian anggaran biaya (RAB) yang mengakibatkan terjadinya ketidaksesuaian antara kebutuhan dan alokasi anggaran pada kegiatan tersebut.

Terkait pengadaan, permasalahan yang timbul biasanya disebabkan oleh kendala spesifikasi teknis barang dan jasa yang tidak jelas ataupun biaya di lapangan yang tidak sesuai dengan Standar Biaya Umum dan Standar Biaya Khusus yang telah ditetapkan. Hal ini dapat mengakibatkan terbatasnya peserta lelang, pelaksanaan pelelangan ulang, atau bahkan menjadi temuan auditor. Selain itu, kendala lain yang mungkin timbul adalah banyaknya sanggahan dalam proses lelang, kurangnya panitia pengadaan yang bersertifikat, serta kurangnya sosialisasi mekanisme pengadaan barang dan jasa. Lebih lanjut, hal-hal seperti masalah dalam pengadaan dan pembebasan lahan atau tanah, dan tidak seimbangnya risiko pekerjaan dengan imbalan yang diterima oleh pejabat pelaksana pengadaan, dapat juga menjadi penghambat proses pengadaan yang dilakukan.

Sebagai tambahan, Direktur Jenderal Perbendaharaan Negara Kementerian Keuangan, Agus Suprijanto, mengatakan bahwa masih adanya ketakutan dari aparat pemerintah untuk mempercepat realisasi belanja mulai awal tahun, disebabkan oleh pemahaman yang lemah terkait implementasi peraturan pengadaan barang dan jasa terbaru. Padahal sekarang sudah ada Perpres 70/2012, yang mengatur bahwa pengadaan sampai Rp5 miliar bisa dilakukan dengan penunjukkan langsung, sehingga bisa lebih mampercepat proses realisasi belanja2.

1 Triyono, A (2014). “Realisasi Belanja Daerah masih saja Seret”. www.kontan.co.id. Diakses melalui http://nasional.kontan.co.id/news/realisasi-belanja-daerah-masih-saja-seret pada 11 Agustus 2014.

2 Burhani, R. (2013). “Kemenkeu Harapkan Realisasi Belanja Triwulan I Tinggi”. www.antaranews.com. Diakses melalui http://www.antaranews.com/berita/359863/kemenkeu-harapkan-realisasi-belanja-triwulan-i-tinggi pada 11 Agustus 2014

40 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014

Sementara itu untuk pos belanja modal, kendala yang dihadapi sering dipengaruhi antara lain oleh keterlambatan dalam tender dan termin pembayaran yang belum jatuh tempo.

Selain itu, salah satu faktor terbesar yang menyebabkan rendahnya penyerapan belanja modal pada awal tahun adalah ketidaksiapan aparat dalam menyiapkan dokumen pencairan anggaran.

Melalui kajian dan analisis terhadap faktor-faktor penyebab rendahnya penyerapan belanja di awal tahun, diharapkan dapat merubah pola dan kondisi yang selama ini terjadi.

Evaluasi kinerja dan kesiapan aparat berdasarkan faktor-faktor tersebut akan mampu mengantisipasi hambatan atau kendala rill yang terjadi di lapangan, yang sebelumnya tidak diperhitungkan dalam melakukan proses penganggaran. Perubahan yang diharapkan adalah terjadinya sebaran yang lebih merata, baik di semester pertama maupun di semester kedua, dengan kata lain diharapkan realisasi belanja tidak mengalami penumpukan pada akhir tahun.

Terakhir, monitoring terhadap dana Pemerintah Daerah yang belum digunakan dalam belanja atau pengeluaran pembiayaan menjadi penting untuk diinformasikan secara rutin.

Monitoring realisasi penyerapan belanja oleh Pemerintah Daerah sangat penting dilakukan untuk mendorong perencanaan anggaran yang lebih baik, penetapan anggaran yang lebih tepat waktu, serta pelaksanaan program kerja yang lebih disiplin. Dalam hal ini, apresiasi pada pemerintah Provinsi Gorontalo layak diberikan, karena komitmen yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi untuk menyajikan data realisasi anggarannya secara langsung di lobi gedung Kantor Gubernur Provinsi Gorontalo. Namun demikian, akan lebih baik lagi jika realisasi anggaran yang ditampilkan dapat mencapai target yang ditetapkan di awal tahun.

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 41

BAB 3 : I NFLASI D AERAH

Laju inflasi Gorontalo pada triwulan II 2014 relatif terkendali, yaitu tercatat sebesar 5,82% (yoy. Sesuai pola historisnya, inflasi menjelang bulan puasa Ramadhan cenderung meningkat. Realisasi inflasi pada triwulan II 2014 tersebut sesuai dari proyeksi sebelumnya yang berkisar antara 5,43%-6,43% (yoy). Realisasi inflasi Gorontalo pada triwulan laporan tercatat lebih rendah dari inflasi nasional yang sebesar 6,70% (yoy).

Dari sisi permintaan, peningkatan harga pada beberapa komoditas volatile foods seperti tomat sayur, cabai rawit, bawang merah, ayam hidup, cabai merah, dan daging ayam menjadi salah satu faktor penyebab inflasi di triwulan II 2014. Sedangkan komoditas yang mengalami penurunan harga terjadi pada komoditas ikan segar seperti ikan ekor kuning, ikan cakalang, ikan layang, ikan malalugis, dan ikan tuna. Selain karena pasokan ikan cukup melimpah, penurunan harga pada komoditas ikan-ikanan tersebut juga disebabkan oleh tradisi masyarakat Gorontalo untuk mengkonsumsi daging ayam pada awal bulan puasa, sehingga terjadi penurunan konsumsi ikan.

Dari sisi penawaran, beberapa komoditas pada kelompok administered prices menjadi salah satu faktor penyebab yang meningkatkan inflasi. Kenaikan harga rokok di tingkat penjualan eceran serta kenaikan harga angkutan udara memberikan sumbangan inflasi pada triwulan II 2014. Dari sisi eksternal, tekanan inflasi juga dipengaruhi oleh depresiasi nilai tukar Rupiah, meskipun sedikit diminimalkan oleh berlanjutnya penurunan harga komoditas global.

3.1 PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Secara umum inflasi Gorontalo pada triwulan II 2014 cukup terkendali, karena perkembangan harga komoditas tiap bulan yang relatif stabil meskipun mendapatkan tekanan yang cukup besar pada bulan April 2014. Hal ini dapat dilihat pada laju inflasi bulanan (mtm) Gorontalo pada April, Mei dan Juni 2014 secara berturut-turut adalah sebesar 0,89%, -0,34%

dan 0,45%.

Pada triwulan II 2014, kelompok bahan makanan tercatat mengalami inflasi sebesar 3,72% (yoy), kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 8,72% (yoy), kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 4,61% (yoy), kelompok sandang sebesar 5,43% (yoy), kelompok kesehatan sebesar 6,57% (yoy), kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 2,26% (yoy), serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 8,27% (yoy).

42 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 Tabel 3.1. Inflasi Tahunan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (yoy)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

Jika dilihat secara tahunan, maka tingkat inflasi Gorontalo pada akhir triwulan II 2014 adalah sebesar 5,82% (yoy), lebih tinggi jika dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 5,10% (yoy). Inflasi pada triwulan II 2014 tersebut juga searah dengan perkiraan sebelumnya yang berada pada kisaran 5,43%-6,43% (yoy), serta lebih rendah dari realisasi inflasi nasional yang sebesar 6,70% (yoy).

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

Tabel 3.2. Inflasi Bulanan Menurut Kelompok Barang dan Jasa (mtm)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo

Pada triwulan II 2014 tersebut, kelompok komoditas yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,31%,

I II III IV I II III IV I II III IV I II

1 Bahan makanan 8.50 12.04 -0.70 -0.62 1.90 3.58 6.02 6.66 9.62 3.32 0.42 6.61 0.16 3.72

2

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

8.32 7.44 4.82 7.69 6.00 7.04 7.11 5.48 7.91 6.37 6.18 8.17 6.79 8.72

3 Perumahan, Air, Listrik,

Gas dan Bahan Bakar 4.21 5.05 6.58 7.85 12.67 10.47 7.59 7.05 1.70 2.82 2.97 3.69 4.62 4.61

4 Sandang 4.14 5.12 12.33 9.78 9.44 7.12 0.44 1.83 1.92 0.90 1.45 1.09 2.70 5.43

5 Kesehatan 2.22 3.43 3.50 4.64 3.81 2.91 2.83 5.02 5.10 6.39 7.55 5.95 5.68 6.57

6 Pendidikan, Rekreasi

dan Olahraga 1.18 0.60 3.88 3.96 3.72 4.26 0.88 0.61 -0.14 0.04 0.00 0.28 1.81 2.26

7 Transpor, Komunikasi

dan Jasa Keuangan 2.44 3.36 1.38 2.44 3.18 3.00 2.18 1.74 1.21 3.92 9.18 9.14 12.27 8.27

5.77 7.11 3.27 4.08 5.90 5.95 5.40 5.31 5.18 3.59 3.40 5.84 5.10 5.82

No. Kelompok

1 Bahan makanan 6.39 4.79 -10.97 1.10 2.78 4.02 0.79 -5.01 0.04 2.75 -2.12 0.13 2 Makanan Jadi,

Minuman, Rokok dan 0.45 0.14 0.98 0.03 1.99 0.74 0.40 0.38 0.17 0.78 0.44 0.71 3 Perumahan, Air, Listrik,

Gas dan Bahan Bakar 0.17 0.64 0.25 0.38 0.51 0.38 0.82 0.42 0.02 0.13 0.07 0.30

4 Sandang -0.17 0.50 1.43 0.25 -0.19 0.22 0.02 -0.42 1.30 0.71 0.30 1.46

5 Kesehatan 0.13 1.11 0.53 0.77 0.34 0.63 0.96 0.28 0.70 0.56 0.60 0.77

6 Pendidikan, Rekreasi

dan Olahraga -0.01 0.09 0.04 0.18 0.02 0.00 0.56 0.39 0.02 0.38 -0.02 0.50

7 Transpor, Komunikasi

dan Jasa Keuangan 4.91 0.46 -0.17 0.28 0.03 0.03 -0.95 0.02 0.88 0.16 0.09 0.47 2.78 1.89 -3.43 0.53 1.35 1.54 0.36 -0.98 0.31 0.89 -0.34 0.45

2014 2013

Umum

No. Kelompok

Grafik 3.1. Inflasi Nasional dan Gorontalo Grafik 3.2. Peta Inflasi Nasional

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 43 dengan komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi adalah rokok kretek filter.

Peningkatan harga rokok tersebut disebabkan oleh adanya pajak rokok yang diberlakukan sejak Januari 2014 yaitu sebesar 10% dari total nilai cukai yang dikenakan. Kelompok komoditas kedua yang memberikan sumbangan inflasi terbesar adalah kelompok bahan makanan, komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi adalah tomat sayur, cabe rawit, bawang merah, ayam hidup dan daging ayam. Sedangkan yang ketiga dari kelompok transpor, komunikasi & jasa keuangan terjadi peningkatan harga pada jasa angkutan udara. Peningkatan laju inflasi tersebut searah dengan peningkatan laju inflasi secara nasional akibat masuknya bulan puasa Ramadhan. Sumbangan inflasi pada kelompok lainnya bisa dilihat pada Tabel 3.3.

Tabel 3.3. Andil Inflasi Kelompok Barang dan Jasa

Sumber: BPS (diolah)

Tabel 3.4. Inflasi Provinsi Kawasan Sulampua

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

April Mei Juni Triwulan I 2014 1 Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau 0.12 0.07 0.11 0.31

2 Bahan Makanan 0.63 -0.48 0.03 0.18

3 Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0.03 0.02 0.09 0.14 4 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 0.04 0.02 0.08 0.14

5 Sandang 0.04 0.02 0.08 0.13

6 Kesehatan 0.02 0.03 0.03 0.08

7 Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga 0.02 0.00 0.03 0.04

0.89 -0.33 0.45

(Makassar, Pare-pare, Palopo, Watampone, Bulukumba) 0.30 5.92 1.94 7 Provinsi Sulawesi Utara

(Sulawesi, Maluku dan Papua) 0.42 6.72 1.95

No Provinsi Triwulan II 2014

44 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014

Provinsi Gorontalo menjadi provinsi yang memiliki tingkat inflasi tahun kalender paling rendah dari 10 provinsi yang berada di wilayah Sulampua (Sulawesi, Maluku dan Papua), dengan inflasi sebesar 0,67% (ytd). Sedangkan provinsi yang memiliki inflasi tahun kalender tertinggi di wilayah Sulampua adalah Provinsi Maluku sebesar 3,60% (ytd).

Tabel 3.5. Perbandingan Inflasi Kota di Sulampua Grafik 3.3. Peta Inflasi Sulawesi

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah) Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

Jika dilihat dari tingkat inflasi tahun kalender seluruh kota di Sulampua (tabel 3.4), maka Gorontalo menduduki peringkat kedua terendah sebesar 0,67% (ytd) dibawah kota Kendari yang menempati urutan pertama dengan inflasi sebesar 0,51% (ytd). Perkembangan laju inflasi tahun kalender pada triwulan II 2014 tersebut merupakan yang terendah dalam tiga tahun terakhir di periode yang sama. Laju inflasi kumulatif (ytd) Gorontalo pada triwulan II 2014 di tahun 2011, 2012, dan 2013 berturut-turut sebesar 1,04%, 2,85%, dan 1,17% (tabel 3.5).

Tabel 3.6. Inflasi Tahun Kalender Menurut Kelompok Barang dan Jasa (ytd)

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

mtm yoy ytd

1 Bahan makanan -2.66 -1.57 -1.80 -0.62 -0.20 2.59 4.77 6.66 2.57 -0.62 -1.37 6.61 -4.22 -3.55

2

Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan Tembakau

2.61 3.37 5.12 7.69 1.01 2.75 4.56 5.48 3.33 3.61 5.25 8.17 0.96 2.92

3

Perumahan, Air, Listrik,

Gas dan Bahan Bakar 1.73 2.99 6.70 7.85 6.28 5.49 6.44 7.05 0.97 1.32 2.39 3.69 1.26 1.76

4 Sandang 0.18 2.46 10.59 9.78 -0.13 -0.02 1.18 1.83 -0.04 -0.93 0.81 1.09 0.90 3.41

5 Kesehatan 1.57 2.69 3.47 4.64 0.76 1.00 1.68 5.02 0.83 2.31 4.13 5.95 1.95 3.93

6 Pendidikan, Rekreasi

dan Olahraga 0.62 0.24 3.76 3.96 0.39 0.53 0.69 0.61 -0.36 -0.04 0.08 0.28 0.97 1.85

7 Transpor, Komunikasi

dan Jasa Keuangan -0.04 0.66 1.60 2.44 0.68 1.21 1.34 1.74 0.16 3.37 8.76 9.14 -0.06 0.66

0.02 1.04 2.89 4.08 1.77 2.85 4.20 5.31 1.65 1.17 2.31 5.84 -0.32 0.67 Umum

No. Kelompok 2011 2012 2013 2014

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 45 3.2 DISAGREGASI INFLASI

Laju inflasi Gorontalo pada triwulan II 2014 yang berada pada level 5,82% (yoy) disumbang oleh kelompok administered prices dan kelompok core inflation, sementara itu tekanan inflasi pada kelompok volatile foods berada pada level yang relatif rendah.

Perkembangan harga pada komoditas tersebut dapat terlihat pada tabel 3.6. Inflasi administered prices meningkat dari sebelumnya sebesar 4,99% (yoy) pada triwulan II 2013 menjadi 7,38% (yoy) pada triwulan II 2014. Peningkatan juga terjadi pada kelompok core inflation dan volatile foods dimana laju inflasi kedua kelompok tersebut pada triwulan II 2014 secara berturut-turut sebesar 4,55% dan 5,36%, lebih tinggi jika dibandingkan triwulan yang sama di tahun 2013 yang sebesar 3,14% dan 3,31% (tabel 3.8).

Tabel 3.7. Perkembangan Harga Beberapa Komoditas Hasil Survei Pemantaun Harga (SPH)

Sumber: SPH Bank Indonesia Gorontalo

I II III IV I II III IV I II

1 Beras

Super Win kg 8,500 8,500 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000 9,000

Ciheran kg 8,000 8,000 8,500 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000

IR 64 kg 7,500 7,500 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000 8,000

2 Minyak Goreng

Kemasan Bimoli liter 15,000 15,000 15,000 15,000 15,000 15,000 15,000 15,000 15,500 16,500

Curah kg 13,000 12,000 12,000 10,000 11,000 11,000 12,000 13,000 13,500 13,000

3 Daging&telur

Daging Sapi kg 75,000 75,000 80,000 80,000 80,000 80,000 90,000 90,000 90,000 90,000

Daging Ayam ekor/kg 40,000 40,000 45,000 40,000 35,000 45,000 40,000 50,000 40,000 50,000

Telur Ayam Ras butir 1,200 1,200 1,250 1,250 1,250 1,300 1,250 1,250 1,250 1,300

4 Cabe Merah

Cabe Rawit kg 20,000 18,000 16,000 40,000 50,000 30,000 20,000 30,000 54,000 30,000

Cabe Keriting kg 10,000 18,000 12,000 20,000 20,000 15,000 10,000 26,000 12,000 10,000

5 Bumbu-bumbuan

Bawang Merah kg 14,000 20,000 14,000 20,000 45,000 35,000 28,000 40,000 26,000 36,000

Bawang Putih kg 12,000 22,000 24,000 20,000 70,000 30,000 15,000 15,000 18,000 24,000

Tomat Sayur kg 5,000 5,000 6,000 7,000 8,000 12,000 4,000 10,000 7,000 25,000

6 Ikan

Ekor Kuning kg 18,000 20,000 17,000 25,000 23,500 27,000 27,000 35,000 25,000 28,000

Tude/Oci kg 25,000 25,000 19,000 25,000 15,000 22,000 25,000 25,000 20,000 20,000

Malalugis kg 17,500 15,000 22,500 17,500 17,500 13,500 15,000 25,000 12,500 15,000

Cakalang Kg 15,000 15,000 13,000 12,000 10,000 12,500 11,000 17,000 15,000 10,000

Mujair Kg 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000 35,000

7 Gula

Gula Pasir kg 11,000 11,000 11,000 11,000 11,000 12,000 12,000 12,000 11,500 11,000

8 Semen

Semen Tonasa sak 70,000 67,500 69,000 70,000 69,000 67,000 68,000 67,000 66,500 67,000

9 Emas

Perhiasan 23 Karat 1 Gr 70,000 67,500 69,000 70,000 560,000 505,000 550,000 440,000 530,000 540,000 2014

No Komoditas Satuan 2012 2013

46 KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 Grafik 3.4. Disagregasi Inflasi Tahunan (yoy) dan Kumulatif (ytd) Gorontalo

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

Tabel 3.8 Disagregasi Inflasi Gorontalo

Sumber : BPS Provinsi Gorontalo (diolah)

3.2.1 CORE INFLATION

Inflasi kumulatif atau tahun kalender kelompok core inflation pada triwulan II 2014 tercatat sebesar 1,57% (ytd), lebih tinggi dibanding inflasi tahun kalender pada periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 1,46% (ytd). Apabila dilihat secara tahunan, inflasi kelompok core inflation juga mengalami peningkatan dari sebelumnya 3,14% (yoy) pada triwulan II 2013 menjadi 4,55% (yoy) pada triwulan II 2014. Peningkatan tekanan inflasi pada kelompok core inflation tersebut berasal dari kenaikan harga beberapa komoditas seperti kayu balokan, daging ayam kampung, sabun detergen, makanan ringan/snack, seragam sekolah anak, biaya sekolah dasar, air kemasan dan bahan pelumas/oli. Peningkatan harga beberapa komoditas tersebut juga sejalan dengan hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) yang dilakukan secara mingguan oleh Bank Indonesia.

Peningkatan harga komoditas kayu balokan disebabkan oleh mulai terealisasinya proyek-proyek pemerintah sehingga terjadi peningkatan permintaan, serta banyak masyarakat yang melakukan renovasi rumah dan tempat ibadah pada saat menjelang puasa. Hal ini terlihat dari peningkatan laju pertumbuhan sektor bangunan Gorontalo yang mencapai 10,85% di triwulan II 2014 dari sebelumnya sebesar 10,63% di triwulan I 2014. Sehubungan dengan hal tersebut, SPH yang dilakukan oleh Bank Indonesia mencatat terjadinya kenaikan harga semen di

5.82

Core Inflation 9.71 8.44 5.64 5.47 3.18 3.14 3.47 4.44 3.92 4.55

Volatile Foods 1.71 3.50 6.07 6.61 9.70 3.31 0.41 6.64 0.52 5.36

Administred Prices 4.12 4.31 3.89 3.03 3.06 4.99 7.74 7.72 8.25 7.38

Total Inflasi 5.90 5.95 5.40 5.31 5.17 3.58 3.39 5.84 5.10 5.82

Core Inflation 3.66 3.75 4.89 5.47 1.42 1.46 2.90 4.44 0.91 1.57

Volatile Foods -0.29 2.55 4.68 6.61 2.61 -0.63 -1.40 6.64 -3.29 -1.83

Administred Prices 0.52 1.13 1.77 2.84 0.75 3.25 6.63 7.72 1.24 2.92

Total Inflasi 1.77 2.85 4.20 5.31 1.65 1.17 2.31 5.84 -0.32 0.67

1. Tahunan (%,yoy)

2. Tahun Kalender (%,ytd)

Disagregasi 2012 2013 2014

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 47 triwulan II 2014. Sementara itu peningkatan ekspektasi inflasi pada jasa sekolah dasar dan

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI GORONTALO TRIWULAN II 2014 47 triwulan II 2014. Sementara itu peningkatan ekspektasi inflasi pada jasa sekolah dasar dan