• Tidak ada hasil yang ditemukan

Realitas Homo Duplex Masyarakat Prancis yang Direpresentasikan oleh Keluarga Marcel Pagnol

MANIFESTASI PEMUJUAAN INDIVIDU DURKHEIM PADA TOKOH MARCEL PAGNOL

4.1 Realitas Homo Duplex yang Direpresentasikan oleh Pemikiran Tokoh Marcel Pagnol

4.1.2 Realitas Homo Duplex Masyarakat Prancis yang Direpresentasikan oleh Keluarga Marcel Pagnol

Data-data berikut ini menunjukkan analisis mengenai ideologi masyarakat Prancis yang tercermin oleh keluarga Marcel Pagnol. Keluarga Pagnol menjadi representasi kolektif masyarakat Prancis pada abad ke-20. Pagnol memulai roman La Gloire de Mon Père dengan menceritakan tentang tempat dia dilahirkan dan asal usul keluarganya. Kutipan berikut ini bercerita mengenai kakek Pagnol yang berprofesi sebagai seorang pemahat batu.

(5) Dès qu‟il avait un jour de liberté –c‟est-à-dire cinq ou six fois par an –

il emmenait toute la famille déjeuner sur l‟herbe, à cinquante mètres du

pont du Gard.

Pendant que ma grande-mère préparait le repas, et les enfants petaugeaient dans la rivière, il montait sur les tabliers du monument, prenait des messures, examinait des joints, relevait des coupes, caressait des pierres.

Après le déjeuner, il s‟asseyait dans l‟herbe, devant la famille en arc de cercle, en face du chef d‟œuvre millénaire, et jusqu‟au soir, il le

regardait.

C‟est pourqoui, trente ans plus tard, ses fils et ses filles, au seul nom du

pont du Gard, levaient les yeux au ciel, et poussaient de longs gémissements. (LGMP/1 /13-14)

„Segera setelah dia memiliki hari libur yaitu lima atau enam kali per-tahun, dia mengajak seluruh anggota keluarga untuk sarapan di atas rumput, berjarak lima puluh meter dari Pont du Gard.

Selama nenekku menyiapkan menu, sedangkan anak-anak bermain air di sungai, dia naik ke atas tirai bangunan, mengukur, menguji engsel, menangkap pukulan, membelai-belai batunya.

Setelah selesai sarapan, dia duduk di atas rerumputan, di depan keluarganya yang membentuk setengah lingkaran, di hadapan hasil karya agung yang berusia lebih dari seribu tahun, dan dia memandanginya sampai sore.

Itulah mengapa, tigapuluh tahun kemudian, anak-anaknya, ketika sekali saja mendengar nama Pont du Gard disebut, mereka langsung menengadahkan wajah ke langit dengan mata terbuka sambil

mengeluarkan keluhan yang panjang.‟

Tokoh Marcel Pagnol mencoba mengungkapkan sebuah perwujudan homo duplex melalui karakter kakeknya yang ketika memiliki hari libur ia sering

mengajak seluruh anggota keluarga untuk berekreasi di dekat Pont du Gard. Pont du Gard dibangun oleh Marcus Vipsanius Agrippa (63 - 12 SM). Pont-du-Gard adalah tempat untuk mengalirkan air yang terbuat dari batu yang beratnya mencapai enam ton. Bangunannya terdiri dari tiga tingkatan melintasi sungai Gardon, yang paling atas adalah kanal air walaupun tampak seperti jembatan. Pont-du-Gard terletak di kota Vers-Pont-du-Gard, dekat Remoulins, Departemen Gard di daerah selatan Perancis. Bangunan ini diciptakan untuk memasok air bagi Romawi dari Uzès ke Nimes (ketika masih menjadi kota Romawi kuno bernama Nemausus). Bangunan ini telah ditambahkan oleh UNESCO sebagai situs warisan dunia pada tahun 1985 karena adanya nilai sejarah yang penting (http://en.wikipedia.org/wiki/Pont_du_Gard).

Kakek Pagnol yang seorang tukang pahat batu sangat mengagumi jembatan tersebut, sebagaimana tampak dalam kutipan «il montait sur les tabliers du monument, prenait des messures, examinait des joints, relevait des coupes, caressait des pierres „dia naik ke atas tirai bangunan, mengukur, menguji engsel, menangkap pukulan, membelai-belai batunya‟» dan «en face du chef d‟œuvre millénaire, et jusqu‟au soir, il le regardait„di hadapan hasil karya agung yang berusia lebih dari seribu tahun, dan dia memandanginya sampai sore‟».

Dalam kutipan di atas tampak bahwa hakikat kakek Pagnol sebagai makhluk individu lah yang ditonjolkannya. Dalam hakikat dua diri manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial, tidak selamanya sisi sosial yang diutamakan. Sebagaimana data di atas, kakek Pagnol tidak mempedulikan bagaimana perasaan anak-anaknya sebagai makhluk sosial yang ada di sekitarnya. Pada kenyataanya, anak-anaknya tidak menyukai kegiatan tersebut. Namun

karena memerankan tokoh masyarakat sebagai seorang anak yang harus hormat dan taat kepada orang tua maka mereka pun menuruti keinginan ayahnya. Bentuk ketidaksenangan anak-anaknya tersirat dalam kutipan « C‟est pourqoui, trente ans

plus tard, ses fils et ses filles, au seul nom du pont du Gard, levaient les yeux au ciel, et poussaient de longs gémissements „Itulah mengapa, tigapuluh tahun

kemudian, anak-anaknya, ketika sekali saja mendengar nama Pont du Gard disebut, mereka langsung menengadahkan wajah ke langit dengan mata terbuka

sambil mengeluarkan keluhan yang panjang‟». Kutipan tersebut juga menunjukkan bahwa dikarenakan ayah mereka sangat mengagumi Pont du Gard, dengan sekali mendengar nama jembatan yang terkenal di Prancis itu disebut, anak-anaknya langsung teringat dengan ayahnya. Kemudian secara spontan, mereka mengeluarkan keluhan yang panjang.

Di dekat rumah Pagnol ada rumah pemotongan hewan. Selagi ada kesempatan dia memperhatikan proses penjagalan di tempat tersebut.

(6) Pendant que ma mere faisait son petit ménage, je grimpais sur une chaise, devant la fenêtre de la salla à manger, et je regardais l‟assasinat

des bœufs et des porcs avec le plus vif intérêt. Je crois que l‟homme est

naturellement cruel : les enfants et les sauvages en font la preuve chaque jour. (LGMP/1/30)

„« Selama ibuku mengerjakan pekerjaan rumah kecilnya, aku naik ke atas kursi, di depan jendela di ruang makan, dan aku menyaksikan pembunuhan sapi dan babi dengan perhatian yang paling besar. Aku yakin bahwa manusia memiliki sifal alami yang kejam : anak-anak dan binatang

buas membuktikannya setiap hari.‟

Dalam kalimat « Je crois que l‟homme est naturellement cruel : les enfants et les sauvages en font la preuve chaque jour „Aku yakin bahwa manusia

memiliki sifal alami yang kejam : anak-anak dan binatang buas membuktikannya

setiap hari‟», menggambarkan sebuah pemikiran homo duplex bahwa diri Pagnol secara pribadi menganggap manusia itu memiliki sifat dasar nakal karena tega

membunuh binatang, padahal beberapa hewan memang diciptakan untuk dikonsumsi manusia. Terlepas dari dia masih kanak-kanak, dia melihat pada anak- anak dan binatang-binatang buas yang tega melakukan pembantaian terhadap makhluk yang lebih lemah. Misalnya anak-anak tega membunuh semut. Dilihat dari kacamata masyarakat, hal itu memang wajar dan alami.

Hal tersebut terbukti dengan anggapan bahwa Pagnol yang masih anak- anak menganggap penyembelihan terhadap hewan-hewan ternak merupakan sesuatu yang lucu dan bisa membuat tertawa, namun ibunya ternyata memiliki pendapat lain.

(7) Mais ma mère, qui survenait toujours au meilleur moment, me faisait descendre de mon observatoire, et tout en coupant des cubes de viande pour le pot-au-feu familial elle me tenait des propos incompréhensible sur

la douceur du pauvre bœuf, la gentillesse du petit mouton frisé, et la

méchanceté de ce boucher. (LGMP/1/31)

„Tapi ibuku, yang selalu datang di saat yang terbaik, menurunkan diriku dari pengamatanku. Dan sambil memotong daging membentuk kubus untuk menu le pot-au-feu dia mencekokiku dengan omongan yang tak bisa dimengerti mengenai penderitaan si sapi yang malang, keramahan domba kecil yang berbulu keriting, dan tentang kekejaman si jagal itu.‟

Melalui kutipan « elle me tenait des propos incompréhensible sur la

douceur du pauvre bœuf, la gentillesse du petit mouton frisé, et la méchanceté de

ce boucher „dia mencekokiku dengan omongan yang tak bisa dimengerti mengenai penderitaan si sapi yang malang, keramahan domba kecil yang berbulu

keriting, dan tentang kekejaman si jagal itu‟», ibu Marcel Pagnol berusaha menanamkan perasaan simpati pada diri putranya. Pagnol menganggap proses penyembelihan dan proses hewan yang sekarat adalah sesuatu yang lucu dan untuk ditertawakan, padahal menurut ibunya dan bisa juga menurut orang lain di sekitarnya, proses penjagalan memang harus ada tetapi sebagai manusia tidak boleh menertawakannya atau menjadikannya lelucon melainkan harus kasihan,

karena hewan-hewan tersebut tidak punya pilihan lain selain agar dapat dikonsumsi manusia. Dari hal yang kecil itulah manusia akan mampu bersimpati dan berempati terhadap sesama makhluk hidup.

Realitas homo duplex yang terdapat dalam analisis di atas dapat dilihat ketika Pagnol mengamati proses penjagalan dan menganggapnya sebagai lelucon, di sisi lain dia harus mendengarkan pendapat ibunya meskipun dia menganggap pendapatnya itu tidak masuk akal. Namun karena pada kenyataanya selain Pagnol adalah makhluk individu dia juga makhluk sosial, maka dia pun lebih mengutamakan hakikat dirinya sebagai makhluk sosial sehingga dia tidak membantah ibunya meskipun ibunya dianggap memunculkan ide yang dianggapnya tidak logis.

Terkadang ibu Marcel Pagnol juga memiliki kekhawatiran yang berlebihan mengenai kecerdasan anaknya. Ketika ibunya hendak belanja ke pasar, Pagnol kecil yang belum berusia enam tahun selalu dititipkan di kelas ayahnya mengajar. Dia menjadi terbiasa melihat ayahnya mengajar di kelas membaca. Pagnol sendiri memiliki kecerdasan lebih dibanding anak-anak lain yang seusianya atau bahkan yang lebih tua darinya sehingga dia bisa membaca lebih dini hanya dengan sering melihat sang ayah mengajari murid-muridnya. Hal tersebut membuat ibunya ketakutan karena umurnya yang belum cukup untuk menerima pelajaran. Ibunya khawatir otaknya akan meledak. Kekhawatiran tersebut muncul pada kalimat berikut.

(8) Non, je n‟avais mal à la tête, mais jusqu‟à l‟age de six ans, il ne me fut plus permis d‟entrer dans une classe, ni d‟ouvrir un livre, par crainte

d‟une explosion cérébrale. Elle ne fut rassurée que deux ans plus tard, à

déclara que j‟étais doué d‟une mémoire surprenante, mais que ma

maturité d‟esprit était celle d‟un enfant au berceau. (LGMP/1/33)

„Tidak, saya tidak sakit kepala, tapi sampai umur enam tahun, ayah

tidak mengizinkan lagi saya untuk masuk ke dalam kelas, juga tidak boleh membuka sebuah buku, karena takut otak meletus. Ibu tidak percaya sampai dua tahun kemudian, pada akhir triwulan sekolahku, ketika guruku memberitahu dia bahwa saya memiliki bakat ingatan yang mengagumkan,

tapi kematangan psikologis saya adalah anak yang masih dalam buaian.‟

Pada dasarnya, Pagnol pandai membaca tetapi kedua orang tuanya melarang karena takut anaknya mengalami kerusakan otak. Mereka belum menyadari jika anak mereka memiliki bakat. Kutipan « Elle ne fut rassurée que deux ans plus tard, à la fin de mon premier trimestre scolaire, quand mon

institutrice lui déclara que j‟étais doué d‟une mémoire surprenante, mais que ma maturité d‟esprit était celle d‟un enfant au berceau„Ibu tidak percaya sampai dua

tahun kemudian, pada akhir triwulan sekolahku, ketika guruku memberitahu dia bahwa saya memiliki bakat ingatan yang mengagumkan, tapi kematangan

psikologis saya adalah anak yang masih dalam buaian‟» menunjukkan bahwa orang tua Pagnol tetap menghawatirkan jika otak anaknya rusak. Sejak kejadian Pagnol bisa membaca, dia tidak diizinkan lagi oleh kedua orang tua mereka mengikuti kelas sang ayah atau membaca buku apapun sampai dua tahun kemudian ketika dia sudah masuk sekolah. Bahkan ibunya baru percaya jika anaknya memiliki bakat setelah guru Pagnol mengatakan pada akhir triwulan bahwa, meskipun secara psikis Pagnol masih anak-anak namun secara kecerdasan dia memiliki tingkat intelelektualitas yang lebih tinggi dibanding anak-anak seusianya.

Dari kutipan (8) tampak adanya unsur homo duplex, karena adanya hakikat dua diri dalam individu ibu Pagnol yakni ketika dia melarang anaknya belajar membaca dengan ikut di kelas ayahnya atau membaca buku apapun.

Sebagai individu dia takut anaknya mengalami kerusakan otak, dia tidak mempedulikan keinginan anaknya untuk mengasah kemampuannya sejak usia dini dikarenakan ketidakmengertiannya mengenai bakat bawaan yang dimiliki oleh anak sulungnya tersebut.

Bentuk pemikiran homo duplex juga muncul saat Marcel Pagnol memperkenalkan adiknya, Paul.

(9) Mon frère Paul était un petit bonhomme de trois ans, la peau blanche, les

joues rondes, avec de grands yeux d‟un bleu très clair, et les boucles

dorées de notre grand-père inconnu. Il était pensif, ne pleurait jamais, et joait tout seul, sous une table, avec un bouchonou un bigoudi ; mais sa voracité était surprenante : de temps à autre, il y avait un drame éclaire :

on le voyait tout à coup s‟avancer, titubant, les bras écartés, la figure

violette. Il était en train de mourir suffoque.

Ma mère affolée frappait dans son dos, enfonçait un doight dans sa gorge, ou le secouait en le tenant par les talons, comme fit jadis la mère

d‟achille.

Alors dans un râle affreux, il expulsait une grosse olive noire, un noyau de pêche, ou une longue lanière de lard.

Après quoi, il reprenait ses jeux solitaires, accroupi comme un grand crapaud. (LGdMP/1/35)

„Adikku Paul adalah seorang anak kecil berumur tiga tahun, kulitnya putih, pipinya tembam, dengan bola mata besar berwarna biru cerah, dan rambut ikalnya yang berwarna keemasan didapatnya dari kakek kami yang tak dikenal. Dia asik dengan pikirannya sendiri, tidak pernah menangis, dan selalu bermain sendirian di bawah meja, dengan sebuah gabus atau dengan sebuah rol rambut ; tetapi kerakusannya mengejutkan : kadang-kadang, terjadi tragedi : tiba-tiba dia berjalan terhuyung-huyung dengan lengan direntangkan, wajahnya pucat pasi. Dia sedang setengah mati tercekik.

Ibuku memukuli punggungnya dengan bingung, dia memasukkan jari ke dalam tenggorokan Paul, atau menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memegangi tumitnya, seperti yang dilakukan ibunya Achille dulu.

Sesudah itu, dengan suara nafas yang menegerikan, dia memuntahkan buah zaitun berwarna hitam besar, biji persik, atau lemak babi yang dipotong panjang.

Setelah itu, dia kembali bermain sendirian dengan mainan- mainannya, berjongkok seperti seekor katak besar.‟

Pada kutipan « Il était pensif, ne pleurait jamais, et joait tout seul, sous une table, avec un bouchonou un bigoudi „Dia asik dengan pikirannya sendiri,

tidak pernah menangis, dan selalu bermain sendirian di bawah meja, dengan sebuah gabus atau dengan sebuah rol rambut‟», menegaskan bahwa Paul memiliki karakter penyendiri. Paul bisa menyenangkan dirinya sendiri hanya dengan bermain mainan remeh temeh. Pagnol mengatakan bahwa adiknya sangat rakus sampai membuatnya keheranan. Hal itu terlihat dengan kebiasaanya menelan makanan bulat-bulat tanpa perlu banyak mengunyahnya. Sampai-sampai anak itu pernah hampir mati tersedak makanan, sehingga ibunya yang berjuang mengeluarkan makanan yang menyumbat kerongkongan adiknya. Tampak dalam kalimat « Ma mère affolée frappait dans son dos, enfonçait un doight dans sa gorge, ou le secouait en le tenant par les talons „Ibuku memukuli punggungnya

dengan bingung, dia memasukkan jari ke dalam tenggorokan Paul, atau menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil memegangi tumitnya‟ », jika ibu Pagnol yang membantu mengeluarkan makanan-makanan yang hampir membunuh adiknya itu.

Usaha ibunya memberi bukti bahwa Paul sebagai makhluk sosial lebih utama daripada Paul sebagai makhluk individu. Meskipun pada akhirnya dia kembali kepada individualitasnya sebagai dirinya sendiri yang penyendiri yang tampak dalam kutipan «Après quoi, il reprenait ses jeux solitaires „Setelah itu, dia

kembali bermain sendirian dengan mainan-mainannya, berjongkok seperti seekor

katak besar‟». Meskipun demikian, Paul merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain, apalagi dia masih anak-anak yang berusia tiga tahun. Fenomena homo duplex pada diri Paul ialah ketika ia yang penyendiri ternyata masih membutuhkan ibunya untuk bertahan hidup ketika dia tersedak makanan yang biasa ditelannya tanpa banyak dukunyahnya.

Ketika umur Marcel Pagnol mendekati enam tahun, dia masuk ke sekolah taman kanak-kanak. Setiap hari kamis dan minggu, Bibi Rose mengajaknya jalan- jalan di taman Borély dan selalu duduk di bangku yang sama. Biasanya ketika bibinya sedang merajut, Pagnol akan bermain sendirian seperti yang terdapat dalam kalimat-kalimat berikut ini.

(10)Ma principale occupation était de lancer du pain aux canards. Ces stupides animaux me connaissaient bien. Dès que je montrai un croûton, leur flottille venait vers moi, à force de palmes, et je commençais ma distribution.

Lorsque ma tante ne me regardait pas, tout en leur disant, d‟une voix

suave, des paroles de tendresse, je leur lançais aussi des pierres, avec la

ferme intention d‟en tuer un. Cet espoir, toujours deçu, faisait le charme de ces sorties, et dans le grinçant tramway du Prado, j‟avais des frémissements d‟impatience. (LGMP/1/38-39)

Kesibukan utamaku adalah memberi roti pada itik-itik. Binatang bodoh ini sudah mengenalku dengan baik. Segera setelah saya mengangkat kulit roti, armada kecil mereka datang ke arahku, pada kaki selaput yang kuat, dan saya mulai membagikan.

Dikarenakan bibi tidak memperhatikanku, semua dari mereka berbicara, dengan suara merdu, berbicara lembut, saya juga melempari mereka dengan batu-batu, dengan niat yang kuat agar bisa membunuh satu ekor. Harapan itu, selalu kecewa, melakukan dengan indah pelepasan itu, dan deritan trem dari Prado, saya gelisah dalam ketidaksabaran.‟

Sebagai makhluk individu, tampak dalam kutipan di atas bahwa Marcel Pagnol memiliki karakter yang cukup bandel untuk ukuran anak-anak seusianya. Pada kutipan « je leur lançais aussi des pierres, avec la ferme intention d‟en tuer un „saya juga melempari mereka dengan batu-batu, dengan niat yang kuat agar

bisa membunuh satu ekor‟», menegaskan bahwa jika bibinya tidak melihat perbuatannya, dia ingin membunuh salah satu ekor itik. Dia berpura-pura menjadi anak yang manis dengan memberi roti pada itik-itik yang ada di sungai padahal dia juga menyertakan batu ketika melemparkan rotinya. Harapan Pagnol yang besar agar batu-batunya berhasil membunuh salah satu itik-itik itu selalu kandas,

dikarenakan kebisingan dari trem yang lewat sehingga dia merasa gelisah dan tidak sabar.

Realitas homo duplex pada data (10) di atas hadir ketika Pagnol secara individu berhasrat ingin membunuh salah satu itik namun dia menyadari jika dilihat dari moralitas masyarakat, hal itu merupaka perbuatan yang amoral. Oleh karena itu, dia melakukan aksinya dengan sembunyi-sembunyi, yaitu dengan cara berpura-pura membagikan roti pada para penghuni sungai Borély tersebut.

Begitu pula ketika penjaga taman tersebut memperhatikan apa yang dia lakukan, dia akan bersikap manis dan membagikan roti pada itik sambil melontarkan kalimat-kalimat menyenangkan. Kalimat berikut mempertegas ide mengenai homo duplex pada tokoh Marcel Pagnol.

(11) Le garde – un blassé – me parut peu intéressé par ce spectacle : il

tourna simplement le dos, et s‟en alla à pas comptés. Je sortis aussitôt

ma pierre, et j‟eus la joie – un peu inquiète –d‟atteindre en pleine tête le

vieux père canard. Mais au lieu de chavirer et de couler à pic – comme

je l‟espérais – ce dur-à-cuire vira de bord, et s‟enfuit à toutes palmes, en poussant de grands cris d‟indignation. A dix mètres du bord, il me lança toutes les injures qu‟il savait, soutenu par les cris déchirants de toute sa

famille. (LGMP/1/39-40)

„Penjaga yang bosan tampak olehku kurang tertarik pada

pertunjukan ini : dia berbalik dengan sederhana, dan dia beranjak dengan langkah pasti. Saya segera mengeluarkan batu, dan saya senang – sidikat cemas – mengenai tengah-tengah kepala bapak itik tua. Tapi di tengah- tengah terbalik karam dengan menukik – seperti yang saya harapkan – si sukar untuk dimasak ini menepi, dan melarikan kaki-kaki berselaputnya, sambil meneriakkan teriakan keras karena kesal. Sepuluh meter dari tepian dia berhenti dan kembali ke arah saya, masuk ke dalam air dan mengepak-epakkan sayapnya, dia melontarkan pada saya semua luka yang dia bisa, tertahan oleh jeritan yang menyayat hati dari semua

keluarganya.‟

Dari kutipan « il tourna simplement le dos, et s‟en alla à pas comptés. Je sortis aussitôt ma pierre, et j‟eus la joie – un peu inquiète –d‟atteindre en pleine tête le vieux père canard „dia berbalik dengan sederhana, dan dia beranjak dengan

langkah pasti. Saya segera mengeluarkan batu, dan saya senang – sidikat cemas –

mengenai tengah-tengah kepala bapak itik tua‟» dapat diketahui jika Pagnol hanya akan melakukan usahanya untuk membunuh itik-itik tersebut ketika tidak ada seorang pun yang melihat aksinya.

Realitas homo duplex dari data tersebut muncul ketika Marcel Pagnol tidak berani melempari itik dengan batu ketika ada penjaga taman. Sebaliknya ketika tidak ada penjaga yang mengamatinya dia segera melempari itik dengan