BAB VIII TATA IRINGAN
8.3. Nama Instrumen Dan Fungsinya
8.3.1. Rebab
Rebab adalah instrumen (ricikan) gamelan yang bahan ba- kunya terdiri dari kayu, kawat(string), semacam kulit yang tipis untuk menutup lubang pada badan rebab (babat), bagian rebab atau ba- dan rebab yang berfungsi sebagai resonator (bathokan), rambut ekornya kuda yang berfungsi sebagai alat gesek (kosok) namun un-
tuk saat ini lazim menggunakan senar plastik, dan kain yang dibordir sebagai penutup bathokan. Cara membunyikan rebab dengan cara digesek dengan alat yang disebut kosok.
Dalam sajian karawitan rebab berfungsi sebagai Pamurba Yatmoko atau jiwa lagu, rebab juga sebagai pamurba lagu melalui garap melodi lagu dalam gending-gending, melaksanakan buka atau introduksi gending, senggrengan, dan Pathetan agar terbentuk su- asana Pathet yang akan dibawakan. Rebab juga berfungsi untuk me- ngiringi vokal yang dibawakan oleh ki dalang. Utamanya pada lagu jenis Pathetan dan Sendhon.
Gambar 4.30 Rebab
8.3.2. Kendang
Kendang adalah instrumen gamelan yang bahan bakunya terbuat dari kayu dan kulit. Cara membunyikan kendang dengan cara dipukul dengan tangan (di-kebuk atau di-tepak). Ukuran kendang Ja- watimuran yang dipakai dalam pedalangan terdiri dari 3 (tiga) jenis kendang. Yakni kendang Gedhe, kendang Penanggulan (tradisi Ja- wa Tengah dinamakan ketipung), dan kendang Gedhugan (tradisi Jawa Tengah dinamakan kendang ciblon atau sejenis).
Dalam sajian karawitan tradisi, ricikan kendang berfungsi sebagai pengatur atau pengendali (pamurba) irama lagu/gending.
Cepat lambatnya perjalanan dan perubahan ritme gending-gending tergantung pada pemain kendang yang disebut pengendang. Hidup atau berkarakter dan tidaknya sebuah lagu atau gending itu tidak ter- lepas dari keterampilan serta kepiawaian seorang pengendang da- lam memainkan ukel atau wiled kendangannya dalam mengatur laya atau tempo.
Mengingat begitu pentingnya peranan ricikan kendang da- lam tata iringan karawitan, biasanya seorang dalang membawa pe- ngendang sendiri dalam setiap pementasannya. Dengan membawa pengendang sendiri seorang dalang akan lebih mantap dalam meng- gelar pakelirannya.
Para dalang menganggap kendang adalah bagian dari be- lahan jiwanya ketika ki dalang menggelar pakelirannya. Seorang pe- ngendang bawaan dalang (gawan) biasanya sudah memahami de- ngan baik selera atau keinginan ki dalang. Ibarat pengemudi ia me- mahami betul bagaimana selera tuannya.
Gambar 5.1 Kendang Jawa Timuran
8.3.3. Gender
Gender merupakan bagian dari perangkat ricikan gamelan yang bahan bakunya terbuat dari logam perunggu, kuningan dan/ atau besi. Sedangkan bahan yang paling bagus adalah yang terbuat dari perunggu. Gender dari bahan perunggu selain tampilannya me- narik, bunyinya juga lebih bagus karena bahan tersebut mampu me- nghasilkan suara yang nyaring dan jernih bila perbandingan campur- an logamnya seimbang, yakni antara tembaga dengan timah putih. Gender terdiri dari rangkaian bilah-bilah yang di sambung oleh tali yang disebut pluntur dan di topang oleh sanggan yang terbuat dari bahan logam, bambu, dan/ atau tanduk binatang (sungu) yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga terkesan serasi dan bagus.
Untuk menghasilkan bunyi atau suara yang bagus dan tam- pilan indah, rangkaian bilah-bilah gender diletakkan di atas rancakan
yang ditengah-tengah bagian bawahnya diberi bumbung (bahan dari bambu) dan atau logam (seng) yang berfungsi sebagai resonator. Bentuk dan ukurannya diwujudkan sedemikian rupa berdasarkan be- sar kecilnya bilah dan ditambah dengan asesoris serta ukir-ukiran pada rancaknya.
Jumlah ricikan gender yang ada dalam seperangkat gamel- an ageng terdiri dari 2 (dua) set, yakni Gender Barung (Babok) dan Gender Penerus (Lanang). Adapun larasnya terdiri dari gender laras Pelog yaitu Pelog barang dan Pelog nem (dua rancak) dan gender
larasSlendro (satu rancak).
Fungsi gender khususnya dalam tata iringan karawitan pa- keliran gaya Jawatimuran adalah sebagai panuntuning laras agar ki dalang tidak kehilangan ngeng (suasana laras/nada dalam Pathet). Dan juga berfungsi sebagai pengiring sulukan dalang ketika sedang membawakan Sendhon, Pathetan, Bendhengan, maupun tembang. Di samping itu juga mempunyai peranan untuk membangun suasana
kelir (adegan wayang yang sedang berlangsung), ketika mengiringi janturan atau pocapan melalui gadhingan yang di minta oleh dalang.
Dalam tata iringan pakeliran gaya Jawatimuran peranan ri- cikan gender lanang atau gender penerus sangat penting, karena berfungsi sebagai penuntun atau membimbing laras dalang dalam membawakan sulukan dan melakukan buka atau introduksi pada sa- jian gadhingan yang dikehendaki oleh dalang melalui sasmita terten- tu, biasanya dengan dhodhogan mbanyu tumetes.
Gambar 5.2 gender penerus (lanang)
8.3.4. Bonang
Bonang merupakan bagian perangkat ricikan gamelan yang berbentuk pencon yang ukurannya lebih kecil dari kenong. Bahan bakunya bisa perunggu, kuningan, dan besi. Dalam pengelompokan
ricikan gamelan, bonang termasuk dalam ricikan garap ngajeng, se- lain ricikan gender, rebab, dan kendang.
Ricikan Bonang pada sajian karawitan utamanya untuk me- nyajikan gending-gending Bonanganatau Soran, dalam tabuhan tra- disi karawitan Jawatimuran adalah penyajian gending-gending Giro dan Gagahan, serta juga berfungsi sebagai instrumen pembuka atau introduksi gending. Di dalam seperangkat gamelan jumlah bonang ada 2 set yakni satu set bonang berlaras Slendro terdiri dari bonang barung (babok) dan bonang penerus dengan jumlah pencon kurang lebih 12 bilah. Sedangkan laras Pelog dalam satu set terdiri dari bo- nang barung dan bonang penerus, dengan jumlah 14 bilah pencon.
Adapun teknik memainkan atau menabuh bonang dengan cara dipukul dengan alat pemukul khusus bonang. Teknik tabuhan terdiri dari (a) Gembyang yaitu cara memukul dua nada bonang yang sama secara bersama dengan jarak satu gembyang (oktaf). Contoh nada 6 atas dengan 6 bawah ditabuh secara bersama-sama. (b) Mi- pil yaitu teknik memukul nada bonang dengan cara satu persatu se- cara bergantian. Contoh 1 2 1 2 3 2 3 2 ditabuh secara bergantian antara tangan kiri dengan kanan. (c) Kempyung yaitu teknik memu- kul dua nada bonang yang berbeda dengan jarak 2 nada secara ber- sama. Contoh nada 5 dengan 1, nada 6 dengan 2 ditabuh secara bersama-sama. (d) Pancer yaitu teknik memukul satu nada bonang lebih dari sekali secara terus menerus. Contoh 1 1 1 - 3 3 3 - dan seterusnya.
Gambar 5.3 Bonang Babok
8.3.5. Slentem
Slentem adalah bagian ricikan gamelan yang berbentuk bi- lah seperti gender, namun ukurannya lebih besar yaitu panjang dan lebarnya. Jumlah slentem dalam satu perangkat gamelan ada 2 ran- cak yakni slentem larasSlendro dan slentem larasPelog.
Teknik tabuhan ricikan slentem dalam tata iringan karawitan terdiri dari mbalung, gemakan, paparan, dan pinjalan. Khusus teknik tabuhan slentem yang dinamakan gemakan dan paparan adalah yang ada pada sajian karawitan gaya Jawatimuran. Dalam tata saji- an karawitan slentem berfungsi sebagai pamangku lagu.
Gambar 5.4 Slenthem
8.3.6. Demung
Demung merupakan bagian ricikan gamelan berbentuk bi- lah seperti saron tetapi ukurannya lebih besar, berfungsi sebagai pamangku lagu dalam sajian karawitan dan juga untuk tabuhan ba- lungan gending. Dalam satu set gamelan jumlah demung minimal ada 2 rancak yakni demung laras Slendro dan demung laras Pelog. Dewasa ini dalam satu perangkat gamelan ageng jumlah instrumen demung sering lebih dari satu set.
Penambahan jumlah perangkat ini bertujuan ganda yaitu untuk membuat suasana tabuhan lebih ramai atau regeng, sehingga tujuan yang ingin di capai dalam penataan iringan bisa terwujud. Pa- da sisi yang lain, penambahan jumlah instrumen juga untuk menam- pilkan kesan kolosal atau semarak, sehingga semakin menarik pe- nonton.
8.3.7. Saron
Saron merupakan bagian ricikan gamelan berbentuk bilah dengan ukuran lebih kecil dari pada demung. Untuk iringan pakeliran
wayang kulit Jawatimuran, minimal terdiri dari 2 set saron Slendro
dan 2 set saron Pelog. Jumlah bilah saron Slendro untuk wayangan Jawatimuran ada 9 bilah, dengan urutan bilah nada di mulai dari na- da 6 (nem) rendah atau ageng sampai dengan nada 3 (lu) tinggi atau
alit. Dalam pedalangan Jawatimuran peranan saron sangat dominan, karena saron sebagai pembuat lagu atau melodi, terutama untuk bentuk gending-gending Ayak, Gedog Rancak, Krucilan, dan Gem- blak/Alap-alapan.
Posisi keberadaan saron di lihat dari aspek fungsinya da- lam iringan pedalangan Jawatimuran bisa dikategorikan dalam ke- lompok ricikan garap, karena ricikan saron memiliki berbagai macam
cengkok sekaran atau kembangan sesuai dengan Pathetnya. Dan sebagai tanda (tengara) bahwa tabuhan akan berganti Pathet, misal- nya di dalam wayangan semalam suntuk ketika suasana PathetWo- lu akan berubah ke Pathet Sanga, maka kembangan atau cengkok
saronan gending ayak Wolu menggunakan pancer 3 (lu).
Adapun teknik tabuhannya meliputi teknik tabuhan mba- lung, imbal, dan kinthilan yaitu khusus teknik tabuhan gaya Jawati- muran.
Gambar 5.6 Saron Penerus (Peking)