BAB III METODOLOGI PENELITIAN
D. Refleksi Kateketis
a. Pengertian Katekese
Dalam Direktorium Kateketik Umum Tahun 1971 ditegaskan mengenai pengertian katekese sebagai salah satu upaya pelayanan sabda, yang ditujukan untuk
iman umat yang hidup, dasar dan aktif lewat cara pengajaran (DKU. Art 17). Dengan melalui cara inilah terutama dalam lingkup kegiatan pastoral, katekese juga diartikan sebagai “Karya gerejani yang menghantarkan kelompok maupun perorangan kepada iman yang dewasa” (DKU. Art 31).
b. Tujuan Katekese
Dalam anjuran apostolic Catechesi Trandendae artikel 25, ditegaskan bahwa tujuan katekese adalah mendewasakan iman dan pribadi manusia. Ketika seseorang mengalami kedewasaan iman, maka secara pribadi akan mengusahakan dirinya menjadi dewasa pula. Artinya seseorang yang dewasa dapat menempatkan diri sesuai dengan norma, nila dan moral dalam kehidupan baik itu di dalam Gereja maupun di dalam masyarakat.
Maka katekese bisa dinamakan sebagai sekolah iman yang menggunakan pendagogi iman yang mengimani Kristus dan Pendagogi Gereja untuk pelayanan serta sebagai edukasi bagi seseorang tentang Gereja. Dengan diartikannya katekese sebagai sekolah iman diharapkan dapat mengubah proses-proses akal budi, hati nurani, kebiasaan dan tindakan seseorang menjadi lebih baik (PUK. Art 147).
c. Katekese dalam Sakramen Krisma
Vatikan ke II berbicara tentang Hakikat Sakramen, antara lain : Sakramen sakramen dimaksudkan untuk mengkuduskan manusia, membangun Tubuh Kristus dan pada akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah. Tetapi sebagai tanda sakramen juga dimaksudkan untuk mendidik. Sakramen tidak hanya mengadakan
iman. Melainkan juga memupuk, meneguhkan dan mengungkapkan dengan kata-kata dan benda. Maka juga disebut sakramen iman. Memang sakramen memperolehkan rahmat. Tetapi perayaan sakramen itu sendiri juga dengan amat baik menyiapkan kaum beriman untuk menerima rahmat itu yang membuahkan hasil nyata. Untuk menyembah Allah secara benar dan untuk mengamalkan cinta kasih (SC Art. 59).
Didalam Sakramen Krisma, seseorang dipersiapkan dalam sebuah tugas dan perutusan dari Allah untuk mewartakan Sabda Allah. Sabda Allah inilah yang terus-menerus direnungkan dan dimengerti secara lebih mendalam, melalui pengalaman-pengalaman iman seluruh umat secara bersama-sama. Katekese pada Sakramen Krisma terlebih berpusat pada Kristosentris dengan berpusat pada karya keselamatan Yesus Kristus pada manusia. Oleh karenanya, katekese sangat perlu memperhatikan hal yang memiliki kaitan tentang struktur internal yang harus bersifat kristosentris, melalui Kristus kepada Bapa dalam Roh Kudus, mengikuti pedagogi Yesus Kristus yang menunjukkan hidup Allah paling dalam karya keselamatan dan demi kesejahteraan manusia serta mempunyai implikasi penting dalam hidup manusia (PUK art. 100).
d. Aspek Sakramen Krisma bagi kaum muda di dalam Gereja
Kaum muda katolik merupakan pondasi untuk Gereja di masa depan. Untuk mempersiapkan kaum muda untuk dapat memahami tugas Gereja dan tanggungjawabnya. Dibutuhkan untuk katekese pendampingan, hal ini diupayakan
untuk menggali lebih dalam lagi partisasi kaum muda dan tanggungjawab kaum muda dalam tugas Gereja.
Sakramen Krisma dianggap sebagai sebuah moment dimana kaum muda dididik dalam imannya untuk mempersiapkan tugas-tugas Gereja. seperti halnya tujuan Sakramen Krisma yaitu siap sedia dalam tugas dan perutusanNya dengan ditandai oleh “Minyak Suci” sebagai materai Allah atau janji dengan Allah. Maka dalam pendampingan menuju penerimaan, sangat penting melihat aspek apa saja yang ingin di capai dalam tiap Paroki. Namun yang dipelajari dalam Sakramen Krisma tidak dapat lepas dari yang namanya pengalaman dan situasi hidup yang dialami oleh para peserta katekese. Diharapkan dari pengalaman hidup para peserta ini mereka dapat menarik kesimpulan dan menilai dirinya masing-masing “apakah sudah sesuai dengan yang dimaksudkan apa belum”.
Dengan adanya Sakramen Krisma Gereja mengharapkan kaum muda menjadi aktif dalam kegiatan Gereja. Misalnya mulai ikut dalam kegiatan Liturgi, organisasi kaum muda di Gereja misalnya OMK dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan Gereja.
2. Refleksi Hasil Penelitian
Penghayatan Sakramen Krisma merupakan apa yang dipahami, diresapi dan diterima dalam Sakramen Krisma itu sendiri yang meliputi arti, tujuan dan maknannya bagi sendiri dan orang lain. Dengan diadakannya penerimaan Sakramen Krisma, Paroki St Maria di Fatima Sragen peduli dengan perkembangan
iman kaum muda yang kian dihimpit oleh kemajuan zaman. Maka dengan melihat situasi yang kritis ini Gereja mengumpulkan kaum muda dan menjadikan satu wadah untuk dididik imannya untuk siap menjadi kaum muda katolik yang mau bergulat dengan kehidupan menggereja.
Penelitian yang dilaksanakan oleh penulis dengan judul : PENGHAYATAN SAKRAMEN KRISMA DALAM HIDUP MENGGEREJA KAUM MUDA DI PAROKI SANTA MARIA DI FATIMA SRAGEN. Dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pihak Paroki Santa maria di Fatima Sragen. Penelitian yang berkaitan tentang Penghayaran Sakramen Krisma dalam hidup Menggereja kaum muda ini mendapatkan dukungan mulai dari Romo Paroki, Dewan Paroki St Maria di Fatima. Penelitian yang menyangkut tentang Sakramen Krisma belum pernah di laksanakan oleh pihak Paroki sebelumnya. Dengan demikian, pihak Paroki dengan penuh keterbukaan mendukung berlangsungnya penelitian ini, agar nantinya menjadi bahan pertimbangan dan evaluasi bagi kelangsungan penerimaan Sakramen Krisma yang efektif dan berkualitas.
Dalam penyusunan penelitian ini, penulis sangat bersyukur karena dapat belajar menimba berbagai pengalaman baru terutama dalam bidang penelitian kualitatif, baik persiapan, pelaksanaan, analisis hingga penyususnan skripsi ini. Pengalaman berkaitan tentang penghayatan Sakramen Krisma dari kaum muda di Paroki St Maria di Fatima Sragen. Selain itu penulis juga dapat mengambil nilai-nilai kebaikan yang dapat menjadi bekal bagi perkembangan penulis menjadi seorang guru. Penulis dapat belajar menjadi pribadi yang sabar, tekun dan selalu
berusaha dalam proses selama penelitian itu berlangsung, hingga selesainya penyususnan penelitian ini.
Maka berdasarkan hasil penelitian, dapat diketahui bahwa penghayatan Sakramen Krisma dalam hidup Menggereja kaum muda cukup menunjukan hasil yang positif dengan melihat perubahan kaum muda yang mulai aktif dalam kegiatan Gereja. Namun untuk memperoleh hasil yang lebih maksimal perlu adanya perhatian kembali dari Gereja pasca penerimaan Sakramen Krisma, yaitu berupa “Mistagogi”. Dengan diadakan pertemuan setelah penerimaan Sakramen Krisma diharapkan dapat kembali mematangkan iman kaum muda dalam tugas dan petutusan Gereja.
Hasil penelitian yang telah diperoleh oleh penulis, diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam proses pendampingan calon Penerima Sakramen Krisma kedepannya di Paroki St Maria di Fatima Sragen. Selain itu hasil penelitian ini juga dapat menjadi sebuah bahan pertimbangan bagi paroki, yang berkaitan dengan keaktifan kaum muda dalam hidup menggereja setelah mennerima Sakramen Krisma. Hal ini sebagai tolok ukur keberhasilan Paroki dalam mendamping para calon penerima Sakramen Krisma.