• Tidak ada hasil yang ditemukan

TAHUN 1945 Oleh: Beni Ahmad Saebani

D. Refleksi SosiologisTentang Kekuasaan Kehakiman

Hukum adalah jelmaan dari realitas masyarakat yang merupakan kenyataan dinamis dari berbagai cara pandang dan variasi perilaku yang dikotomis dengan kenyataan lainnya. Manusia adalah creator kehidupan sosial yang potensial dalam melakukan tindakan sesuai dengan hasratnya masing-masing. Sebagaimana ketika konsep masyarakat dan budaya berlaku, maka secara langsung potensi individual akan terjebak dalam sistem kehidupan normatif yang dapat menghentikan proses dinamis dari berbagai potensi individual yang dimaksud.

Perilaku manusia yang terbentuk oleh norma sosial potensi kultural individualnya diadaptasikan dan diintegrasikan secara sosialistik sehingga menjadi sistem sosial yang muatan simboliknya diterima dan menjadi citra khas masyarakat tertentu. Dengan demikian pembentukan masyarakat secara serta merta merupakan pemolaan karakteristik sosial dan budaya yang memiliki daya ikat dan daya atur tersendiri.

www.mpr.go.id

86 Kekuasaan Kehakiman dalam UUD NRI Tahun 1945

Bersandarkan pada pemahaman tersebut, secara logika perilaku yang berbeda dengan kesepakatan social normative kemungkinan dapat menimbulkan konflik dan berakhir dengan penolakan atas sistem sosial yang telah lebih dulu ada. Budaya baru lebih logis apabila dinyatakan sebagai bentuk penyimpangan atas kemapanan kultural yang telah akut, meskipun perilaku baru dapat memberikan implikasi positif dan menguntungkan, tetapi karena budaya sosial yang berlaku telah dirasakan manfaatnya, maka proses penerimaan terhadap budaya baru atau asing memerlukan waktu yang lama dan panjang, dilengkapi berbagai strategi yang dapat lebih meyakinkan harapan masyarakat yang bersangkutan. Sistem sosial yang diyakini kebenarannya semakin menguat jika ikatan yang ada di masyarakat dilengkapi oleh nilai-nilai yang diinternalisasikan secara sistematis, regulatif, dan rasional dilengkapi konsekuensi sanksi yang proporsional.

Kaidah sosial normatif memiliki pengaruh yang besar dalam menyatukan persepsi kehidupan masyarakat tentang semua harapan hidup. Sebagai salah satu arah kehidupan sosial yang proses pemolaannya lebih sistematis-internalistik. Dalam pemolaan perilaku sosial normatif memasuki hati nurani manusia, sehingga akal pikiran utama mencari makna hidup belum sempurna apabila substansi norma yang berlaku tidak dijadikan rujukan terpenting secara sosiologis.

Kehidupan tradisional normatif yang ada dalam masyarakat dapat dipandang sebagai gejala sosial yang melahirkan hukum tentang kehidupan bermasyarakat, selain kehidupan imanen yang menjadi keyakinan setiap individu dalam masyarakat. Hukum dipandang berada setelah manusia menghendaki ketelaturan dan kemapanan sosial, sebaliknya kemapanan sosial menjadi tujuan dari hukum yang diberlakukan. Demikian pula dengan kaidah sosial normatif, secara substansial tujuannya tidak melebihi hukum formal.

Berkaitan dengan pemahaman di atas, muncul pertanyaan:

apakah hukum itu memutlakan dirinya sebagai sakedar teks-teks yang berisi perintah, larangan, dan sanksi-sanksi? Atau merupakan representasi dari gejolak sosial yang menghendaki keadilan yang tanpa dimensi. Pertemuan yang asosiatif antara keduanya merupakan proses interaksi struktural dan kultural, sehingga antara hukum –darimana saja sumbernya- dengan masyarakat memiliki makna dan fungsi yang saling menentukan.

www.mpr.go.id

Kekuasaan Kehakiman dalam UUD NRI Tahun 1945 87

Komunitas yang dilandasi oleh sistem nilai dan sistem hukum tidak akan ada kesimpangsiuran dalam pemahaman mengenai pedoman dan landasan yang menentukan arah keyakinan atas manfaat hukum yang dirasakan oleh masyarakat yang ketelaturan sosialnya dimantapkan oleh adanya norma yang berlaku dalam kehidupan.

Dengan demikian, kehidupan yang berdasarkan atas norma hukum adalah aturan perilaku bagi masyarakat yang perilakunya dibentuk oleh nilai tertentu sehingga membangun tradisi normatif yang terinternalisasi juga menyatukan keanekaragaman interpretasi tentang sistem nilai yang berlaku. Integritas keanekaragaman terjadi karena pada hakikatnya dalam setiap kehidupan sosial terdapat pola interaksi yang menyatukan tujuan utama dari tindakannya yang telah terpola dengan diarahkan kepada tujuan sistem nilai yang dianut. Agar tindakan kelompok terintegrasikan, proses sosialisasi hukum bukan hanya dilakukan secara personal, lebih jauh lagi melalui sistem kepemimpinan dan pola institusional atau pranata hukum sehingga masyarakat tidak hanya diatur dan diikat oleh konstitusi negara melainkan juga oleh norma sosial yang berlaku.

Tujuan hukum, dalam perspektif sosiologi diperkuat oleh norma yang berlaku, yakni suatu keyakinan yang berisikan penjelasan dan petunjuk untuk memahami gejala-gejala dan pengalaman-pengalaman, dan penjelasan yang menghasilkan kehidupan rasional dan kenyataan hidup yang dialami manusia yang terkadang irrasional.

Masyarakat yang beropegang pada norma sosialnya akan menerima berbagai realitas. Kehidupan adalah riil, nyata dan jelas, tetapi dalam mengarungi kehidupan tidak semua yang riil dapat dirasionalisasi.

Keyakinan sosial terhadap sumber nilai akan ikut menentukan pola kehidupan dan mewujudkan hukum sosial hukum negara dapat membantu meringankan beban sosialnya atau mencapai hasrat tertinggi yang mulia, yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hidup bermasyarakat bukan sekadar kewajiban sosial atau kewajiban kultural, lebih jauh dari itu merupakan kewajiban agama.

Taat kepada hukum yang termasuk ke dalam kesepakatan sosial normatif dan kesepakatan berbangsa dan bernegara di atas prinsip negara hukum. Norma sosial yang bersumber dari negara merupakan proyeksi masyarakat sendiri dalam kesadarannya untuk menjadi warga

www.mpr.go.id

88 Kekuasaan Kehakiman dalam UUD NRI Tahun 1945

negara yang baik, maka selama masyarakat ada norma sosialnya akan tetap lestari. Dengan norma yang ada masyarakat akan tetap menghasilkan simbol-simbol pengertian diri kolektifnya dan dengan demikian menciptakan kaidah-kaidah hukum serta keyakinan sosial yang abadi.

Hukum sebagai gejala sosial diartikan sebagai implikasi dari gejolak sosial yang bergerak tanpa batas yang disebabkan oleh terjadinya kemajuan teknologi komunikasi global. Keadilan dan hak azasi manusia sebagai prinsip sosial yang utama menjadi paradigma baru yang memunculkan berbagai gejolak. Hukum yang selama ini diperalat oleh kekuasaan sebagai dalil perbuatan yang menyimpang dari kemanusiaan dan keadilan, dengan mudah diamandemen, diutak-atik dan diinterpretasi oleh dan demi kepentingan masing-masing. Hukum yang menggejala merupakan peraturan sesaat dengan menapikan kebenaran universal dari tujuan yang paling substansial dalam hukum.

Di lain pihak, perilaku normatif dalam kehidupan sosial memasung dinamika intelektual dan dinamika kultural setiap individu yang merupakan potensi eksternal dalam kerangka struktur masyarakat bersangkutan. Dalam bahasa lain, perilaku individu akan dipandang komprontatif apabila dipaksakan memasuki wilayah hukum yang sudah memiliki kepastian perilaku kolektif institusional.

Hukum dan norma sosial adalah suatu perilaku yang telah melembaga jika dari aspek orientasi nilai dengan dan standar personalitasnya telah ada penyesuaian, oleh karena itu perilaku yang dimaksudkan tidak mungkin terbentuk jika antara orientasi nilai dan orientasi motivasional tidak sesuai. Dalam bahasa lain, telah ada penyesuaian antara sistem kepribadian dengan sistem sosial; kesesuaian antara internalitas dengan institusionalitas suatu tindakan. Selain kebutuhan terhadap kesesuaian antara sistem kepribadian dengan sistem sosial, dan sistem budaya, terdapat esensi lain, yaitu kebutuhan individu yang secara situasi dan kondisi berbeda-beda dipadukan oleh sistem hukum yang berlaku.

Kebutuhan akan hukum menentukan berlaku tidaknya hukum dalam kehidupan sosial. Apabila masyarakat tidak peduli dan kurang perhatian terhadap hukum dengan berbagai sebab tertentu, maka keberadaan hukum akan sia-sia, karena hukum yang tidak dipedulikan apalagi tidak dibutuhkan tidak akan membentuk suatu adaptasi sosial

www.mpr.go.id

Kekuasaan Kehakiman dalam UUD NRI Tahun 1945 89

apalagi menjadi norma sosial. Saling peduli atau adaptabilitas sosial dalam merespons hukum ke dalam bentuk kolektivitas perilaku yang diorganisasikan melalui proses penyesuaian fungsi-fungsi struktural dan sistem budaya dalam pola interaksi tertentu, merupakan indikator utama terbentuknya sosial normatif. Fungsi-fungsi struktural dengan semua sistem yang ada diarahkan dan bisa saja dipimpin oleh berbagai orientasi nilai dan motivasinya.