• Tidak ada hasil yang ditemukan

REFORMASI DAN TUNTUTAN PERUBAHAN UUD 1945

Dalam dokumen BAB II LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945 (Halaman 39-47)

Kembali ke UUD 1945

B. REFORMASI DAN TUNTUTAN PERUBAHAN UUD 1945

Reformasi dan tuntutan perubahan UUD 1945 merupakan suatu rangkaian ikhtiar yang dilakukan bangsa Indonesia dalam menyongsong perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Salah satu konsekuensi logis dari momentum reformasi ialah perubahan UUD 1945. Sebagai konstitusi negara, UUD 1945 dipandang tidak sesuai lagi dengan kebutuhan rakyat indonesia. Bahkan, dalam beberapa hal, ketentuan-ketentuan yang ada di dalam UUD 1945 justru menjadi penghambat kemajuan bangsa.

Reformasi dipilih sebagai upaya jalan keluar dari berbagai kebuntuan dalam sistem sosial, politik, hukum, dan ekonomi yang dihadapi Indonesia. Alih-alih membawa rakyat Indonesia menuju cita-cita luhur yang digariskan para pendiri negara, sistem yang berlaku justru menenggelamkan rakyat ke dalam krisis multidimensional yang berkepanjangan. Krisis itu menyadarkan rakyat Indonesia untuk melakukan perubahan secara damai melalui pergantian kekuasaan sebagai pintu masuk.

Gerakan Reformasi

Dua bulan setelah Pemilu 1997 dilaksanakan, yaitu pada pertengahan bulan Juli 1997, terjadi krisis moneter di seluruh negara di kawasan Asia Tenggara. Tingkat krisis yang dialami masing-masing negara tidak sama satu sama lain. Selain Korea Selatan, Thailand, dan Taiwan, Indonesia termasuk negara yang mengalami krisis cukup parah.

Untuk mengatasi krisis moneter yang menimpa Indonesia,

International Monetary Fund (IMF) memberikan paket bantuan

42

Pemerintah Indonesia sendiri mengambil langkah “gawat darurat” dengan melikuidasi 16 bank pada 1 November 1997. Namun, hingga memasuki Januari 1998 keadaan terus memburuk. Nilai rupiah terhadap dollar merosot dari Rp.2.400,00 ke Rp.16.000,00 per US$1. Pada 15 Januari 1998, di bawah tekanan IMF, Soeharto menandatangani letter of intent yang berisi 50 butir kesepakatan. Butir-butir kesepakatan itu, antara lain revisi RAPBN 1998/1999, penghapusan monopoli Bulog dan Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC), dihapuskannya fasilitas pajak bagi industri mobil nasional Timor, dan ditutupnya sumber pendanaan untuk Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).65

Semakin jatuhnya nilai rupiah terhadap dollar mengakibatkan kepanikan konsumen golongan menengah atas. Mulai 9 Januari 1998 mereka memborong bahan-bahan pokok di pasar-pasar swalayan dan pasar-pasar tradisional. Pembelian bahan-bahan pokok besar-besaran itu terjadi secara serempak di kota-kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Akibatnya, harga-harga kian melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh konsumen kelas bawah di pasar-pasar tradisional.66

Dalam perkembangannya, krisis moneter yang telah membuat harga-harga melambung itu kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi. Nilai perusahaan menjadi merosot tajam seiring dengan bangkrutnya sejumlah perusahaan secara drastis. Hal itu disebabkan utang mereka dalam mata uang dollar begitu berat untuk dibayar akibat depresiasi rupiah yang begitu tajam. Produksi juga sulit dijalankan karena sebagian bahan baku berasal dari impor dengan harga beli dollar yang dipandang sangat mahal. Akibatnya, terjadilah gelombang Pemutusan Hubungan kerja (PHK) besar-besaran akibat penutupan berbagai perusahaan tersebut, tidak hanya di ibu kota Jakarta, tetapi juga melanda berbagai kawasan di Indonesia. Hal itu kian menambah

65 Muridan S. Widjojo, “Turunkan Harga, Atau Kami Turunkan Kamu…” dalam Muridan S. Widjojo (at al.), Penakluk Rezim Orde Baru, Gerakan Mahasiswa „98”, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1999), hal. 156-157.

66 Ibid.

43 jumlah pengangguran yang sejak tahun 1995 cenderung mengalami peningkatan. Pengangguran terbuka pada tahun 1977 berjumlah sekitar 4,68 juta orang dan pada tahun 1998 mengalami kenaikan drastis menjadi 5,46 juta orang.67

Akibat dampak krisis ekonomi itu mendatangkan krisis sosial karena jumlah orang miskin membengkak dan dalam tempo yang begitu singkat. Pendapatan per kapita penduduk turun drastis dan menjadikan negara Indonesia tergolong salah satu negara termiskin di dunia. Indikatornya ialah pendapatan per kapita penduduk yang langsung merosot tajam. Golongan orang miskin baru ialah mereka yang terkena PHK dan tidak punya cukup tabungan untuk bertahan hidup. Kelompok masyarakat yang terkena PHK sebagian tidak dapat terus bertahan karena pada umumnya tidak mempunyai tabungan dan tidak memperoleh pesangon yang memadai. Selanjutnya, muncullah kemudian berbagai tindak kejahatan yang pada perkembangannya menjadi kerusuhan massal.68

Situasi chaos yang diakibatkan krisis lantas merongrong kewibawaan pemerintah di mata masyarakat. Pemerintah dipandang tidak mampu lagi mengendalikan jalannya negara. Wibawa pemerintah turun secara drastis dan menjadi sasaran kritik berbagai kalangan, mulai dari para pakar, praktisi dunia usaha, kalangan LSM, hingga masyarakat bawah, apalagi telah lama disinyalir berkembang biaknya korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di berbagai sektor kehidupan, baik di lingkungan pemerintahan maupun kalangan dunia usaha, dengan sorotan utama kepada kroni dan keluarga Soeharto. Tiadanya tindakan hukum yang tegas kepada mereka yang dituduh KKN menyebabkan makin tidak berharganya pemerintah di mata rakyat.

67

Bacharuddin Jusuf Habibie, Detik-detik yang Menentukan. Jalan Panjang Indonesia menuju Demokrasi, (Jakarta: THC Mandiri, 2006), hal. 3.

68

44

Krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi pada gilirannya merembet menjadi krisis politik. Sidang Umum MPR yang berlangsung pada 1--11 Maret 1998 kembali memilih Soeharto menjadi Presiden Republik Indonesia untuk kelima kalinya. Tak lama setelah dilantik sebagai presiden, Soeharto menyusun Kabinet Pembangunan VII yang sebagian anggotanya dipilih dari keluarga, kerabat dan orang-orang terdekat Soeharto sendiri. Terpilihnya Soeharto mendapat penolakan yang luas dari masyarakat dalam wujud aksi-aksi demonstrasi. Hampir setiap hari terjadi aksi demonstrasi yang dipelopori mahasiswa dengan tuntutan agar Soeharto dan harga bahan-bahan pokok diturunkan.69

Aksi-aksi demonstrasi yang dimotori mahasiswa di berbagai kota memperoleh dukungan dari civitas akademika dan masyarakat umum. Mereka menuntut agar negara Indonesia melakukan reformasi di bidang politik dan ekonomi sebagai upaya jalan keluar dari krisis multidimensi yang dihadapi rakyat Indonesia. Secara garis besar, butir-butir tuntutan reformasi tersebut antara lain amendemen UUD, pemberantasan KKN, pencabutan Dwi Fungsi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), penegakan hukum, penegakan hak asasi manusia dan demokrasi, penegakan kebebasan pers, dan pemberian hak otonomi kepada daerah-daerah.

Pada Selasa 12 Mei 1998 terjadi insiden penembakan terhadap sejumlah mahasiswa dalam aksi unjuk rasa di Kampus Trisakti di kawasan Grogol, Jakarta Barat. Insiden penembakan oleh aparat keamanan itu justru terjadi pada petang hari setelah barisan mahasiswa yang bermaksud mendatangi gedung MPR/DPR itu gagal menembus barikade aparat keamanan dan pulang ke kampus mereka.70 Insiden itu mengakibatkan empat mahasiswa gugur dan belasan lainnya luka-luka. Pada saat

69

Lihat Fadli Andi Natsir, Prahara Trisakti & Semanggi, Analisis Sosio-Yuridis Pelanggaran HAM Berat di Indonesia, Toaccae, 2006, hal. 61.

70

45 insiden terjadi, Presiden Soeharto sedang melakukan kunjungan ke Cairo, Mesir.71

Gugurnya mahasiswa mendatangkan perasaan duka serta simpati di tengah masyarakat. Sehari setelah insiden berdarah itu, yakni pada 13 – 14 Mei 1998 terjadi kerusuhan massal di ibu kota Jakarta dan sekitarnya. Ratusan kantor, gedung, toko, pasar, mobil, motor, kompleks perumahan, dan berbagai fasilitas umum menjadi sasaran amuk massa dan dibakar. Aksi kerusuhan serupa merembet ke Jawa Tengah, tepatnya di Boyolali, Delanggu, Kartasura, Sukoharjo, dan Surakarta. Selain melakukan perusakan, massa juga melakukan penjarahan dan tindakan kekerasan. Hal itu mengakibatkan lumpuhnya jaringan distribusi ekonomi, terutama di kota-kota yang dilanda kerusuhan.

Maraknya kerusuhan di tanah air membuat ribuan etnis Tionghoa menyingkir ke luar negeri, khususnya ke Singapura, Bangkok, Hong Kong, dan Australia. Langkah etnis Tionghoa tersebut diikuti oleh ratusan warga asing lainnya, antara lain staf kedutaan, pejabat IMF, para pengusaha, dan para pekerja profesional . Mereka pergi dengan maksud untuk menyelamatkan diri dari berbagai aksi perampokan dan tindak kekerasan lainnya.72

Situasi politik, ekonomi, dan keamanan yang kian hari kian memburuk memaksa Soeharto segera kembali ke tanah air dari kunjungannya ke Mesir. Untuk mengatasi persoalan yang berkembang, Soeharto melakukan pertemuan dengan jajaran pimpinan MPR/DPR di kediamannya pada 16 Mei 1998. Hadir dalam pertemuan itu antara lain Ketua MPR/DPR, Harmoko, bersama para Wakil Ketua MPR/DPR, yaitu Abdul Gafur, Syarwan Hamid, Fatimah Achmad, Ismail Hasan Metareum, dan Sekretaris Jenderal DPR, Afif Ma'ruf.

71

Lihat S. Sinansari Ecip, Kronologi Situasi Penggulingan Soeharto, (Bandung: Mizan, 1999), hal. 52 – 57.

72

James Luhuma, Hari-hari Terpanjang Menjelang Mundurnya Presiden Soeharto dan Beberapa Peristiwa Terkait, (Jakarta: Kompas, 2001), hal. 130.

46

Dalam pertemuan itu, para pimpinan MPR/DPR

menyampaikan kepada Presiden aspirasi berbagai lapisan mayarakat yang masuk ke DPR. Aspirasi itu pada intinya terdiri dari tiga hal. Pertama, desakan agar dilakukan reformasi secara total. Kedua, adanya keinginan rakyat agar Presiden Soeharto mengundurkan diri. Ketiga, desakan dilaksanakannya Sidang Istimewa MPR.73

Menganggapi informasi yang disampaikan jajaran pimpinan MPR/DPR, Soeharto menyatakan akan segera melakukan tiga hal. Pertama, mengambil langkah-langkah kewenangan yang ada pada Presiden demi keselamatan bangsa dan negara untuk melindungi hak hidup warga negara, mengamankan harta dan hak milik rakyat, mengamankan pembangunan dan aset nasional, memelihara persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengamankan Pancasila dan UUD 1945. Kedua, melakukan reformasi di segala bidang. Ketiga, mengadakan reshuffle Kabinet Pembangunan VII karena untuk memikul tugas dan tanggung jawab pembangunan nasional yang sangat berat, diperlukan kabinet yang kuat dan tangguh.74

Meskipun Presiden Soeharto telah menyampaikan tekadnya untuk melakukan reformasi, gejolak politik tidak kunjung mereda. Aksi demonstrasi mahasiswa menuntut dilakukannya reformasi secara total justru semakin menjadi-jadi. Bagi mahasiswa, reformasi secara total hanya bisa terjadi apabila Soeharto diturunkan dari kursi kepresidenan.

Pada 18 Mei 1998, puluhan ribu mahasiswa yang berunjuk rasa berhasil menduduki gedung MPR/DPR. Mereka bertekad untuk tidak keluar dari gedung MPR/DPR hingga Soeharto diturunkan. Ketua MPR/DPR Harmoko yang menemui puluhan ribu mahasiswa, dengan suara tegas menyatakan bahwa pimpinan MPR/DPR, baik Ketua maupun para Wakil Ketua, mengharapkan Presiden Soeharto mengundurkan diri secara arif

73

Habibie, Op.Cit, hal. 10.

47 dan bijaksana, demi persatuan dan kesatuan bangsa. Harmoko saat itu didampingi seluruh Wakil Ketua DPR, yakni Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad.75

Namun, pada malam harinya, Menhankam/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mengemukakan bahwa ABRI menganggap

pernyataan pimpinan DPR agar Presiden Soeharto

mengundurkan diri itu merupakan sikap dan pendapat individual meskipun pernyataan itu disampaikan secara kolektif.

Keesokan harinya, gelombang mahasiswa yang mendatangi gedung MPR/DPR semakin banyak. Mereka datang dengan bus-bus carteran maupun bus-bus resmi universitas masing-masing. Mereka bukan saja memadati pelataran gedung MPR/DPR, melainkan juga menaiki kubah gedung, memenuhi taman-taman,

lorong-lorong maupun ruangan lobi.76 Ini merupakan

demonstrasi terbesar yang pernah dilakukan mahasiswa selama Presiden Soeharto berkuasa.

Pada hari yang sama, Presiden Soeharto bertemu beberapa tokoh masyarakat di Ruang Jepara, Istana Merdeka. Tokoh-tokoh yang diajak bicara Soeharto itu ialah Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama K.H. Abdurrahman Wahid, budayawan Emha Ainun Nadjib, Ketua Yayasan Wakaf Paramadina Nucholish Madjid, Ketua Majelis Ulama Indonesia Ali Yafie, Prof. Malik Fadjar (Muhammadiyah), Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Indonesia Yusril Ihza Mahendra, K.H. Cholil Baidowi (Muslimin Indonesia), Sumarsono (Muhammadiyah), serta Achmad Bagdja dan Ma'ruf Amin dari NU.77

Dalam pertemuan itu Soeharto mengemukakan rencananya untuk membentuk Komite Reformasi. Menurut Soeharto, tugas Komite Reformasi, antara lain, menyelesaikan Undang-Undang Pemilu; Undang-Undang Kepartaian; Undang-Undang Susunan

75 “Cerita di Balik Mundurnya Soeharto” dalam Kompas, 27 Mei 1998. 76 “Puluhan Ribu Mahasiswa „Duduki‟ DPR”, dalam Kompas, 20 Mei 1998. 77 “Cerita di Balik Mundurnya Soeharto”, Op.Cit.

48

dan Kedudukan MPR, DPR, dan DPRD; Undang-Undang Antimonopoli; dan Undang-Undang Antikorupsi, sesuai dengan keinginan masyarakat. Anggota komite ini terdiri atas unsur masyarakat, perguruan tinggi, dan para pakar.78

Seusai pertemuan, Presiden mengemukakan rencananya untuk me-reshuffle Kabinet Pembangunan VII sekaligus mengganti namanya menjadi Kabinet Reformasi. Namun, baik rencana me-reshuffle kabinet maupun membentuk Komite Reformasi mendapat reaksi negatif dari para ekonom senior.79 Mereka menganggap tindakan itu sebagai upaya Soeharto mengulur-ulur waktu pengunduran diri.

Pada 20 Mei 1998, sebanyak 14 menteri bidang ekonomi dan industri (ekuin)80 mengadakan pertemuan di Gedung Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Mereka bersepakat untuk menolak duduk dalam Komite Reformasi ataupun Kabinet Reformasi hasil reshuffle. Hasil pertemuan itu kemudian disampaikan kepada Presiden Soeharto melalui surat yang dititipkan kepada Kolonel Sumardjono. Setelah menerima surat, Soeharto meminta kepastian apakah Wakil Presiden B.J. Habibie siap dan bisa menerima penyerahan jabatan presiden. Habibie pun menyatakan kesiapannya.81

Puncak dari segala gejolak politik itu adalah kemunculan Soeharto di ruang Credentials Istana Merdeka pada Kamis pagi 21 Mei 1998 setelah sebelumnya bertemu dengan pimpinan MPR/DPR selama lima menit. Di hadapan para wartawan, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya,

78 “Pak Harto: Saya Kapok Jadi Presiden” dalam Kompas, 20 Mei 1998.

79 Para ekonom senior yang mengkritik rencana Soeharto tersebut antara lain Emil Salim, Soebroto, Arifin Siregar, Moh Sadli, dan Frans Seda.

80 Keempat belas menteri bidang ekuin tersebut adalah Ir Akbar Tandjung; Ir Drs AM Hendropriyono SH, SE, MBA; Ir Ginandjar Kartasasmita; Ir Giri Suseno Hadihardjono MSME; Dr Haryanto Dhanutirto; Prof Dr Ir Justika S. Baharsjah M.Sc; Dr Ir Kuntoro Mangkusubroto M.Sc; Ir Rachmadi Bambang Sumadhijo; Prof Dr Ir Rahardi Ramelan M.Sc; Subiakto Tjakrawerdaya SE; Sanyoto Sastrowardoyo M.Sc; Ir Sumahadi MBA; Drs Theo L. Sambuaga; dan Tanri Abeng MBA. Dua menteri lain, yakni Mohamad Hasan dan Menkeu Fuad Bawazier tidak hadir. 81 “Cerita di Balik Mundurnya Soeharto”, Op.Cit.

49

... Saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan ke-7. Namun demikian, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara-cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia. 82

Seusai Soeharto mengundurkan diri dari jabatannya, B.J. Habibie mengucapkan sumpah sebagai Presiden Republik Indonesia. Selanjutnya, untuk mengatasi kemacetan dalam

penyelenggaraan pemerintahan negara, Habibie segera

membentuk Kabinet Reformasi Pembangunan. Untuk mengatasi krisis politik dalam masa transisi tersebut, Habibie mengagendakan pelaksanaan pemilu dalam tempo secepat-cepatnya.

Dalam dokumen BAB II LATAR BELAKANG PERUBAHAN UUD 1945 (Halaman 39-47)

Dokumen terkait