BAB IV : PROSPEK KEDEPAN PENYELESAIAN SENGKETA HASIL
B. Pembentukan Badan Peradilan Khusus
Setelah disahkannya Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-undang. dan telah diadakan penyempurnaan dengan lahirnya Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016, yang pada pokoknya menyatakan bahwa kewenangan untuk menyelesaikan sengketa hasil Pilkada diserahkan kepada badan peradilan khusus.
Menurut Mochtar Kusumaatmadja lembaga peradilan mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sistem hukum Indonesia, karena melakukan fungsi yang pada hakikatnya melengkapi ketentuan hukum tertulis melalaui pembentukan hukum, dan penemuan hukum. Sehingga peran peradilan sangat strategis.151 Sehingga badan peradilan khusus ini diharapkan nantinya akan menggantikan kewenangan dari Mahkamah Konstitusi untuk memutus sengketa hasil Pilkada.
151 Supriyadi dan Aminuddin, “Desain Badan Peradilan Khusus Pemilihan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013”, Jurnal Konstitusi, Nomor 3, September 2020, hlm. 692.
Keberadaan peradilan khusus ini haruslan independen dan imparsial agar dapat menjalankan fungsinya dalam rangka saling mengawasi dan saling mengimbangi antar lembaga negara (check and balance), sehingga badan peradilan khusus sebagai lembaga peradilan dapat menjalankan kewenangan untuk memeriksa dan mengadili perselisihan hasil Pilkada.
Pembentukan Badan Peradilan Khusus direncanakan akan dilaksanakan sebelum Pilkada serentak pada tahun 2024 mendatang. Kedudukan dari Badan Peradilan Khusus hanya dapat dibentuk dalam salah satu lingkungan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung.152 Namun pada kenyataan sejarahnya Mahkamah Agung sesungghuhnya telah menolak untuk menjadi lembaga penyelesaian sengketa hasil Pilkada.153 Sehingga dimungkinkan lembaga di luar Mahkamah Agung menjadi lembaga peradilan khusus penyelesai sengketa hasil Pilkada.
Dewasa ini dalam perkembangannya ada beberapa lembaga yang menjadi alternatif untuk memutus sengketa hasil Pilkada yaitu Peradilan Tata Usaha Negara dan Bawaslu.
1. Pengadilan Tata Usaha Negara
Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) adalah salah satu bagian dari lingkup pengadilan dibawah Mahkamah Agung yaitu pengadilan umum, pengadilan militer, pengadilan agama dan pengadilan tata usaha negara.154 Tugas dari
152 Pasal 27 ayat (1) Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
153 Refly Harun, “Rekonstruksi Kewenangan Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilihan Umum”, Jurnal Konstitusi, Volume 13, Nomor 1, Maret 2016, hlm.13.
154
pengadilan Tata Usaha Negara adalah mengadili sengketa dalam bidang tata usaha negara antar orang atau badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara termasuk sengketa kepegawaian, beradasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.155 Ketentuan mengenai PTUN diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan sudah diadakan dua kali perubahan, menjadi Undang-undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Kehadiran dari Pengadilan Tata Usaha Negara dianggap sebagai salah satu ciri dari konsep negara hukum yang diperkenalkan oleh Julish Sthal dikenal dengan rechtstaat yang mencakup empat elemen yakni, perlindungan hak asasi manusia, pembagian kekuasaan, pemerintahan berdasarkan Undang-undang dan terakhir adanya Peradilan Tata Usaha Negara.156 Oleh sebab itu lahirnya PTUN dalam sebuah negara dianggap sebagai bentuk perlindungan konstitutional yang diberikan oleh negara kepada warga negara dari kesewenang-wenangan negara melalui keputusan pejabatnya.
Kewenangan khusus dari PTUN adalah kemampuannya untuk mengadili perkara keputusan administrasi atau yang biasa disebut beschikking.157 Keputusan Tata Usaha Negara yang dimaksud adalah keputusan yang bersifat konkrit, individual dan final yang menimbulkan akibat hukum, sehingga keputusan
155 Pasal 1 angka 10 Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
156 Ni’matul Huda, Dinamika Ketata Negaraan Indonesia, Op. Cit, hlm. 7.
157https://ptun_jakarta.go.id/wpcontent/uploads/file/berita/daftar_artikel/Kompetensi%20Pe ngadilan%20Tata%20Usaha%20Negara%20Dalam%20Sistem%20Peradilan%20Di%20Indonesia.
Diakses pada, Minggu 11 April 2021.
administrasi juga dilahirkan sebagai produk kekuasaan eksekutif murni.158 Oleh karena itu yang dimaksud dengan Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang belaku, yang bersifat konkret, individual dan final.
yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.159 Jika dikaitkan dengan perkara perselisihan hasil Pilkada maka surat keputusan penetapan hasil Pilkada juga termasuk dalam kategori keputusan administrasi (beschiccing) sesuai dengan Keputusan Tata Usaha Negara yang dimuat dalam Pasal 1angka 10 Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, karena KPU sebagai penyelenggara Pemilihan juga merupakan badan eksekutif pejabat negara yang mengeluarkan surat keterangan penetapan hasil Pilkada. Selanjutnya surat keterangan penetapan hasil Pilkada bersifat konkrit, individual dan final bagi para pihak dalam Pilkada. Namun di ayat 2 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 disebutkan Bahwa yang tidak termasuk dalam Keputusan Tata Usaha Negara dalam undang-undang ini :
a. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan perbuatan hukum perdata;
b. Keputusan Tata Usaha Negara yang merupakan pengaturan yang bersifat umum;
c. Keputusan Tata Usaha Negara yang memerlukan persetujuan;
d. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan Kitan Undang-undang Hukum Pidan atau Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana atau peraturan lainnya yang bersifat hukum pidana;
e. Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
158 Qurrata Ayuni, “Gagasan Pengadilan Khusus Untuk Sengketa Hasil Pemilihan Kepala Daerah”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Volume 48, Nomor 1, hlm. 212.
159 Pasal 1 angka 9 Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas
f. Keputusan Tata Usaha Negara mengenai Tata Usaha Angkatan Bersenjata Republik Indonesia;
g. Keputusan Panitia Pemilihan, baik di pusat maupun di daerah, mengenai hasil Pemilu.
Pasal 2 huruf g Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara nantinya dapat dirubah jika hendak memberikan kewenangan perselisihan hasil Pilkada kepada PTUN.
Pengadilan khusus sebenarnya telah mendapatkan defenisi di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yaitu pengadilan yang mempunyai kewenangan untuk memeriksa, mengadili, dan memutus prkara tertentu yang hanya dapat dibentuk dalam satu lingkungan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung yang diatur dalam Undang-undang.160
Dalam pengadilan khusus nantinya dapat diangkat hakim ad hoc untuk memeriksa dan, mengadili dan memutus perkara, hakim yang dipilih adalah hakim yang sudah berpengalaman dalam bidangnya.161 Pengangkatan hakim ini dilakukan dengan peraturan perundang-undangan.162
Dengan kecukupan syarat utama yang dimiliki oleh Peradilan Tata Usaha Negara dalam hal perangkat dan hukum, maka PTUN bisa menjadi salah satu alternatif bagi pemerintah untuk menajdikannya sebagai peradilan khusus Pilkada.
Jika diperlukan banding, maka bisa dilakukan ke Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara atau PTTUN atau juga bisa ke Mahkamah Agung.
160Ibid, Pasal 1 angka 5.
161Ibid, Pasal 9A ayat (2).
162Ibid, Pasal 9A ayat (3)
Apabila Mahkamah Agung ada kekuatiran dalam hal bertambahnya beban kasus. Pasal 158 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota telah memberikan ambang batas yang sangat ketat dalam penyelesaian sengketa hasil Pilkada. Yaitu sebagai berikut :
(1) Peserta pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan suara dengan ketentuan :
a. Provinsi dengan jumlah penduduk sampai dengan 2.000.000 (dua juta jiwa), pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan pai\ling banyak sebesar 2 % (dua persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditentukan oleh KPU.
b. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 2.000.000 (dua juta) sampai dengan 6.000.000 (enam juta), pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan suara paling banyak sebesar 1,5 % (satu koma lima persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditentukan oleh KPU Provinsi.
c. Provinsi dengan jumlah penduduk lebih dari 6.000.000 (enam juta) sampai dengan 12.000.000 (dua belas juta) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak 1 % (satu persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Provinsi;
dan
d. Provinsi dengan jumlah penduduk 12.000.000 (dua belas juta) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 0,5% (nol koma lima persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Provinsi.
(2) Peseta pemilihan Bupati dan Wakil Bupati serta Walikota dan Wakil Walikota dapat mengajukan permohonan pembatalan penetapan hasil penghitungan perolehan suara dengan ketentuan :
a. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk sampai dengan 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa, pengajuan perselisihan hasil suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak 2 % (dua persen) dari total sura sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten/Kota.
b. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) jiwa sampai dengan 500.000 (lima ratus ribu) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan apabila terdapat perbedaan paling banyak 1,5 % (satu koma lima persen)
perolehan suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir yang ditetapkan oleh KPU Kabupaten/Kota.
c. Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 500.000 (lima ratus ribu) jiwa sampai dengan 1.000.000 (satu juta ) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 1 % (satu persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir KPU Kabupaten/Kota; dan d. KPU Kabupaten/Kota dengan jumlah penduduk lebih dari 1.000.000 (satu juta) jiwa, pengajuan perselisihan perolehan suara dilakukan jika terdapat perbedaan paling banyak sebesar 0,5 % (nol koma lima persen) dari total suara sah hasil penghitungan suara tahap akhir KPU Kabupaten/Kota.
Ada beberapa kelebihan yang dimiliki oleh PTUN apabila nantinya menjadi lembaga yang menyelesaikan sengketa hasil Pilkada, yakni dapat menghemat anggaran karena tidak perlu membentuk lembaga baru, juga PTUN sudah tersebar di seluruh Indonesia yang meliputi ibu kota Provinsi dan Ibu kota Kabupaten sehingga akan memudahkan pihak yang akan berperkara.
2. Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu)
Gagasan untuk menjadikan Badan Pengawas Pemilu atau Bawaslu menjadi lembaga yang berwenang dalam perselisihan hasil Pilkada bukanlah hal yang mustahil, hal ini karena adanya perubahan fungsi Bawaslu yang mulanya hanya bertugas untuk menjadi pengawas pemilu, menjadi memiliki kewenangan quasi judisial atau pelaksanaan proses sengketa bukan melalui pengadilan (semi pengadilan),163 yakni dalam sengketa administrasi Pemilu dan tindak pidana Pemilu.
Badan Pengawas Pemilu nantinya dapat memeriksa dan memutus perkara tata usaha negara yang dikeluarkan oleh KPU yang tidak terkait dengan hasil
163 https://bawaslu.go.id/en/berita/upaya-cepatbawaslu-dalam-penyelesaiansengketa-proses-pemilu. Diakses pada Minggu 11 April 2021.
verifikasi partai politik peserta Pemilu, penetapan daftar calon tetap peserta Pemilu, dan penetapan pasangan calon.164 Karena sesuai dengan Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 34/KMA/HK.01/II/2013 menyatakan bahwa dalam sengketa Pemilu dimungkinkan adanya banding administrasi. Sehingga Bawaslu dimungkinkan untuk memeriksa ulang Keputusan Tata Usaha Negara yang dikeluarkan oleh instansi dari badan/pejabat yang mengeluarkan Keputusan Tata Usaha Negara yakni KPU.
Sengketa tata usaha negara dalam Pilkada diartikan sebagai sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara Pemilihan antara Calon Gubernur dan Wakil Gubernur, Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati, serta Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota dengan KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan KPU Provinsi dan/atau KPU Kabupaten/Kota.165 Dalam hal ini peran dari Bawaslu adalah menerima keberatan dari peserta yang merasa dirugikan dengan dikeluarkannya Keputusan KPU, dengan jangka waktu paling lama tiga hari setelah KPU menetapkan putusan.166 Sehingga dapat disimpulkan bahwa Bawaslu dipertegas sebagai pelaksana upaya banding administratif, dimana peserta Pilkada diharuskan mengajukan keberatannya kepada Bawaslu dalam urusan keputusan tata usaha negara Pemilu.
Kewenangan Bawaslu juga dalam ranah memeriksa, mengkaji, dan memutus pelanggaran administrasi Pemilu, juga mengkaji dan memutus pelanggaran politik
164 Pasal 74 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tetang Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
165 Pasal 153 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-undang.
166
uang.167 Selain itu Bawaslu juga berwenang untuk memeriksa, memediasi, mengadjudikasi dan memutus penyelesaian sengketa peroses Pemilu.168 Bawaslu diharuskan untuk memutus sengketa proses Pemilu paling lama 12 (dua belas) hari sejak diterimanya permohonan. Bawaslu melakukan sejumlah tahapan sebelum diadakannya adjudikasi yaitu melakukan pengkajian permohonan dan mempertemukan pihak yang bersengketa untuk melakukan mediasi.169
Melihat kenyataan dalam Undang-undang Pemilu dapat dilihat bahwa ada kecenderungan Bawaslu sebagai lembaga yang mampu memutus perkara dan menjadi lembaga quasi judicial. Sehingga melihat kecenderungan ini mungkin saja Bawaslu nantinya diberi tambahan wewenang yakni memutus perselisihan hasil Pilkada sehingga dapat bertransformasi menjadi Badan Peradilan Khusus sengketa hasi Pilkada.
Namun dalam hal menyelesaikan sengketa hasil Pilkada nantinya Bawaslu tetap harus mempunyai forum banding, dengan tujuan apabila para pihak yang berperkara nantinya merasa tidak puas atas keputusan dari Bawaslu dapat mengajukan banding. Dalam hal banding nantinya bisa dibawa ke Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) sebagai forum terakhir dari penyelesaian sengketa hasil Pilkada.
167 Pasal 95 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum.
168 Ibid, Pasal 95 huruf d.
169 Qurrata Ayuni, “Gagasan Pengadilan Khusus Untuk Sengketa Hasil Pemilihan Kepala Daerah”, Op. Cit, hlm. 216.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam memutus sengketa hasil Pilkada adalah kewenangan sementara, kewenangan ini dilaksanakan sampai dengan terbentuknya badan peradilan khusus yang nantinya akan menjadi lembaga pemutus sengketa hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah.
2. Prospek kedepan penyelesaian sengketa hasil Pilkada yaitu Penyelesaian sengketa hasil Pilkada akan dilaksankan oleh badan peradilan khusus. Dewasa ini ada beberapa lembaga yang menjadi alternatif untuk menjadi badan peradilan khusus penyelesaian sengketa hasil Pilkada yaitu Peradilan Tata Usaha Negara dan Badan Pengawas Pemilu.
B.Saran
1. Pembentukan badan peradilan khusus sengketa hasil Pilkada harus segera diwujudkan. Untuk segera mewujudkan gagasan ini maka dibutuhkan peran dari pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat sebagai pembentuk Undang-undang, untuk segera merumuskan Undang-undang yang nantinya akan menjadi payung hukum badan peradilan khusus tersebut.
2. Berdasarkan Perjalanan sejarah, Bawaslu adalah lembaga yang tepat untuk menyelesaikan sengketa hasil Pilkada. Upaya yang dilakukan adalah dengan melakukan restrukturisasi dalam kelembangaannya dan melakukan perombakan dalam regulasinya.
DAFTAR PUSTAKA A. Buku
Ashiddiqie, Jimly. Konstitusi dan Konstitusionalisme di Indonesia, Jakarta : Sinar Grafika, 2010
Asshiddiqie, Jimly dan Syahrizal, Ahmad. Peradilan Konstitusi di 10 Negara, Jakarta : Sinar Grafika, 2011.
Asshiddiqie, Jimly. Setahun Mahkamah Konstitusi : Refleksi Gagasan dan Penyelenggaraan, serta Setangkup Harapan”, Konstitusi Press, Jakarta, 2004 __________. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia, Edisi Revisi, Jakarta : Konstitusi Press, 2005.
Aziz, Asmaeny dan Izlindawati, Constitutional Complain dan Constitutional Question Dalam Negara Hukum, Makassar : Pranedamedia Grup, 2018.
Budiarjo, Miriam. Dasar-dasar Ilmu Politik, Jakarta : PT Gramedia, 1988
Cipto Handoyo, Hestu. Hukum Tata Negara Indonesia, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta, 2009,
Harun, Refly. Hukum Sengketa Pemilu, Jakarta, Konstitusi Press : 2019.
Huda, Ni’matul. Dinamika Ketatanegaraan Indonesia dalam Putusan Mahkamah Konstitusi, Yogyakarta : FH UII Press, 2011.
J. Kaloh, Kepemimpinan Kepala Daerah (Pola Kegiatan, Kekuasaan, dan Perilaku Kepala Daerah Dalam Pelaksanaan Otonomi Daerah), Sinar Grafika, Jakarta, 2009.
Kamis, Margarito. Jalan Panjang Konstitusionalisme Indonesia, Jakarta : Setara Press, hlm.
Kusnadi, Moh. Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta : Sinar Bakti, 1987.
Prihatmoko, Joko. Pilkada Langsung, Pustaka Pelajar, Semarang, 2005,
Projodikoro, Wirjono. Asas Ilmu Negara dan Ilmu Politik, Bandung : Eresco, 1971.
Rosyada, Ihksan. Mahkamah Konstitusi : Memahami Keberadaan Dalam Sitem Ketatanegaraan Republik Indonesia, Jakarta : Rineka Cipta. 2004.
Soehino. Ilmu Negara, Yogyakarta : Liberty, 1998.
Soejono dan H Abdurahman, Metode Penelitian Hukum, Jakarta: Rineka Cipta, 2003.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press, 1985.
Soekanto, Soerjono. Pengantar Penelitian Hukum , Jakarta : UI Press, 2010.
Soemantri, Sri. Hak Uji Materiel di Indonesia, Bandung : Alumni, 1997
Suharizal, Pemilukada : Regulasi, Dinamika, dan Konsep Mendatang, Depok, PT Raja Grafindo Persada, 2012.
Sulardi dan Suliastyaningsih, Tri. Hukum Pemerintah Daerah, Malang : Intelegensia Media, 2017,
Widodo, Heru. Hukum Acara Sengketa Pemilukada Dinamika di Mahkamah Konstitusi, Jakarta : Konstitusi Press, 2018.
Zainal Arifin Hoesein, Kekuasaan Kehakiman di Indonesia, Malang : Setara Perss, 2016.
B. Jurnal
Andy Omara, “Sengeta Pemilihan Umum Kepala Daerah”, Mimbar Hukum, Volume 23, Nomor 1, Februari 2011.
Hamdan Zoelva, “Problematika Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilukada di Mahkamah Konstitusi”, Jurnal Konstitusi, Volume 10, Nomor 3, September 2013.
Haposan Siallagan, “Masalah Putusan Ultra Petita Dalam Pengujian Undang-undang”, Mimbar Hukum, Volume 22 Nomor 1, Februari 2010.
Intonius Samsul, “Sengketa Pemilihan Kepala Daerah Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi : Kewenangan Siapa?”, Info Singkat Hukum, Volume VI, Nomor 10, Mei 2014.
Qurrata Ayuni, “Gagasan Pengadilan Khusus Untuk Sengketa Hasil Pemilihan Kepala Daerah”, Jurnal Hukum dan Pembangunan, Volume 48, Nomor 1, 2018.
Refly Harun, “Rekonstruksi Kewenangan Penyelesaian Sengketa Hasil Pemilihan Umum”, Jurnal Konstitusi, Volume 13, Nomor 1, Maret 2016.
Slamet Suhartono, “Badan Peradilan Khusus dan Mahkamah Konstitusi dalam Penyelesaian Sengketa Hasil Pilkada Langsung”, Jurnal Konstitusi, Volume 12, Nomor 3, September 2015.
Supriyadi dan Aminuddin, “Desain Badan Peradilan Khusus Pemilihan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013”, Jurnal Konstitusi, Nomor 3, September 2020.
C. Peraturan perundang-undangan
Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 Tentang Peraturan Mengenai Kedudukan Komite Nasional Daerah.
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintah Daerah.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
Undang-undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman.
undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah.
Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 Tentang Perubahan Kedua atas Undang- undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi menjadi Undang-undang.
Undang-undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Perpu Nomor 1 Tahun 2014
tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi menjadi Undang-undang.
undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 1 Tahun 2015 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernu, Bupati dan Walikota mejadi Undang-undang.
Perppu Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota.
Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Pedoman Beracara dalam Perselisihan Hasil Pemilihan Umum Kepala Daerah.
Peraturan Mahkamah Konstitusi Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pedoman Beracara Perselisihan Hasil Pemilihan Kepala Daerah di Mahkamah Konstitusi.
D. Putusan Mahkamah Konstitusi
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 5/PUU-V/2007
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 41/PHPU.D-VI/2008 Perselisihan Pemilihan Umum Kepala Daerah Jawa Timur.
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 97/PUU-XI/2013 Tentang Pengujian Undang-undang Undang-undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.
E. Internet
Https://www.mkri.id/indeks.php?page=web.ProfilMK&id=1, diakses pada 24 Maret 2021.
https://www.mkri.id/index.php?page=web.Berita&id=11766, diakses Februari 2021.
https://ptun_jakarta.go.id/wpcontent/uploads/file/berita/daftar_artikel/Kompetensi
%20Pengadilan%20Tata%20Usaha%20Negara%20Dalam%20Sistem%20P eradilan%20Di%20Indonesia. Diakses pada, Minggu 11 April 2021.
https://bawaslu.go.id/en/berita/upaya-cepatbawaslu-dalam
penyelesaiansengketa-proses-pemilu. Diakses pada Minggu 11 April 2021.