• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reinkarnasi di Jepang

Dalam dokumen Fungsi Patung Ojizo Dalam Masyarakat Jepang (Halaman 31-37)

BAB II TINJAUAN UMUM TERHADAP MASYARAKAT JEPANG

2.2 Reinkarnasi di Jepang

Reinkarnasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berati penjelmaan (penitisan) kembali makhluk yg telah mati. Reinkarnasi berasal dari untuk "lahir kembali" atau "kelahiran semula", merujuk kepada kepercayaan bahwa seseorang itu akan mati dan dilahirkan kembali dalam bentuk kehidupan lain. Yang dilahirkan itu bukanlah wujud fisik sebagaimana keberadaan kita saat

ini. Yang lahir kembali itu adalah jiwa orang tersebut yang kemudian mengambil wujud tertentu sesuai dengan hasil pebuatannya terdahulu.

Seperti yang diketahui bahwa orang Jepang mempercayai bahwa bayi-bayi yang baru lahir merupakan reinkarnasi dari kakek atau leluhur mereka, dari itu mereka berpendapat jika bayi-bayi meninggal maka sebenarnya leluhur merekalah yang meninggal untuk kesekian kalinya, sehingga sangat berhubungan dengan

taatnya mereka memberikan sesajen dan penyembahan untuk Ojizo.

Terdapat dua aliran utama yaitu pertama, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan terus menerus lahir kembali. Kedua, mereka yang mempercayai bahwa manusia akan berhenti lahir semula pada suatu ketika apabila mereka melakukan kebaikan yang mencukupi atau apabila mendapat kesadaran

a

Kelahiran kembali adalah suatu proses penerusan kelahiran di kehidupan sebelumnya. Dalam manusia untuk sadar terhadap kebahagiaan yang sebenarnya dan bertanggung jawab terhadap nasib yang sedang diterimanya. Selama manusia terikat pada siklus reinkarnasi, maka hidupnya tidak luput dari duka. Selama jiwa terikat pada hasil perbuatan yang buruk, maka ia akan bereinkarnasi menjadi orang yang selalu duka. Dalam kesempatan untuk menikmati kebahagiaan yang tertinggi. Hal tersebut terjadi apabila manusia tidak terpengaruh oleh kenikmatan maupun kesengsaraan duniawi sehingga tidak pernah merasakan duka, dan apabila mereka mengerti arti hidup yang sebenarnya.

Dalam agama Buddha dipercayai bahwa adanya suatu proses kelahiran kembali. Semua makhluk hidup yang ada di alam semesta ini akan terus menerus mengalami tumimbal lahir selama makhluk tersebut belum mencapai tingkat kesuci baik akan terlahir di alam bahagia, bila ia jahat ia akan terlahir di alam yang

menderitakan. Kelahiran kembali juga dipengaruhi oleh Garuka Kamma yang

artinya karma pada detik kematiannya, bila pada saat ia meninggal dia berpikiran baik maka ia akan lahir di alam yang berbahagia, namun sebaliknya ia akan

terlahir di alam yang menderitakan, sehingga segala sesuatu tergantung dari

masing-masing. (http://id.wikipedia.org/wiki/Reinkarnasi) 2.2.1 Proses Reinkarnasi

Pada saat

yang rusak, sehingga

hasil perbuatannya. Pada saat memasuki badan yang baru, roh yang utama membawa hasil perbuatan dari kehidupannya yang terdahulu, yang mengakibatkan baik-buruk nasibnya kelak. Roh dan jiwa yang lahir kembali tidak akan mengingat kehidupannya yang terdahulu agar tidak mengenang duka yang bertumpuk-tumpuk di kehidupan lampau. Sebelum mereka bereinkarnasi,

biasanya jiwa pergi ke

Dalam filsafat agama yang menganut faham reinkarnasi, neraka dan surga adalah suatu tempat persinggahan sementara sebelum jiwa memasuki badan yang baru. Neraka merupakan suatu pengadilan agar jiwa lahir kembali ke badan yang sesuai dengan hasil perbuatannya dahulu. Dalam hal ini, manusia bisa

bereinkarnasi menjadi makhluk berderajat rendah seperti hewan, dan sebaliknya hewan mampu bereinkarnasi menjadi manusia setelah mengalami kehidupan sebagai hewan selama ratusan, bahkan ribuan tahun. Sidang neraka juga memutuskan apakah suatu jiwa harus lahir di badan yang cacat atau tidak.

2.2.2 Akhir Proses reinkarnasi

Selam

ia tidak akan mencapai kebahagiaan yang tertinggi, yakni lepas dari siklus

reinkarnasi. Maka, untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi tersebut

utama melalui badan kasarnya berusaha melepaskan diri dari belenggu duniawi dan harus mengerti hakikat kehidupan yang sebenarnya. Jika tubuh terlepas dari belenggu duniawi dan jiwa sudah mengerti makna hidup yang sesungguhnya, maka perasaan tidak akan pernah duka dan jiwa akan lepas dari siklus kelahiran

kembali. Dalam keadaan tersebut, jiwa menyatu dengan

(http://id.wikipedia.org/wiki/Reinkarnasi)

Menurut Situmorang (2009: 45) Roh manusia pada waktu berada di dunia dan pada waktu berada di dunia kematian dipercaya mengalami proses perubahan (tsuka). Perubahan tersebut dapat dibagi dua yaitu perubahan dari masa kelahiran hingga mati dan dari kematian sampai menjadi leluhur (sorei).

Proses tersebut merupakan perubahan dari kondisi kekotoran kepada

kondisi kesucian. Dalam proses pendewasaan dan dalam proses menjadi sosen

dilakukan banyak acara-acara setiap melakukan tahapan. Yang termasuk kekotoran dalam pandangan Jepang adalah darah dan mayat. Oleh karena itu bayi yang baru lahir karena dianggap baru bersentuhan dengan darah ibu yang

melahirkan dianggap dalam kondisi kotor, sedangkan roh yang baru mati dianggap kotor karena baru keluar dari tubuh. Kondisi kekotoran ini mengakibatkan roh seseorang dianggap dalam keadaan labil dan berbahaya. Sehingga diperlukan upacara-upacara dan doa-doa untuk penyucian.

Menurut pandangan Jepang umumnya kekotoran dibagi dua yaitu akafuju

dan shirofuju. Tetapi di Okinawa terdapat tiga yaitu akafuju berarti darah,

shirofuju berarti kelahiran dan kurofuju yang berarti kematian (Ikegami dalam Situmorang 2009: 46)

Sesuatu benda yang bersentuhan dengan yang kotor (tercemar) maka akan ikut tercemar juga, sebab itu apabila ada benda-benda suci maka harus dijauhkan dari yang tercemar.

Menurut Sasaki dalam Situmorang (2009: 46) dalam kepercayaan masyarakat Jepang yang tercemar itu adalah mayat, kelahiran dan keluar darah. Sehingga ibu yang sedang melahirkan juga termasuk dalam kondisi tercemar karena mengeluarkan darah. Namun seiring waktu bayi yang dianggap kotor kini

tumbuh dan mengenal masyarakat luas maka didakan girei atau acara selamatan,

artinya ketika seseorang beralih dari suatu usia tertentu ke usia lain maka kekotorannya dianggap sudah menipis sehingga diadakan acara selamatan.

Setelah menikah masih ada lagi upacara bagi pribadi, tetapi bukan upacara pendewasaan atau untuk menenangkan roh melainkan upacara menjauhkan dari musibah, seperti upacara selamatan bagi laki-laki umur 42 tahun dan upacara selamatan bagi perempuan umur 33 tahun. Bagi laki-laki umur 42 tahun disebut dengan shini (mati) karena itu dianggap usia yang berbahaya, sedangkan wanita

tidak melahirkan di umur 33 tahun. Tujuan upacara-upacara tersebut dilakukan untuk menjauhkan dari musibah.

Upacara-upacara selamatan lainnya adalah bagi mereka yang berusia 66

tahun (kankrekiiwai), 70 tahun (kokiiwai), 77 tahun (kijuuiwai), 80 tahun

(sotsujuu), 88 tahun (beijuuiwai), dan 99 tahun (hakujuuiwai). Upacara tersebut ditujukan untuk mengutarakan rasa terima kasih dari anak-anak kepada orang tuanya. Di mana status orang tuanya yang sebelumnya adalah merupakan kepala keluarga yang kemudian berubah menjadi penasehat di dalam keluarga.

Upacara untuk kehamilan disebut obiiwai yang bertujuan agar bayi lahir dalam keadaan selamat. Dalam kehidupan orang Jepang dari lahir hingga mati, mengikuti beberapa acara yang memiliki tahapan. Tahapan-tahapan tersebut adalah acara untuk proses pendewasaan dan acara kedewasaan, juga acara setelah mati yaitu acara proses menjadi sorei dan acara untuk sorei itu sendiri. Manusia dalam perpindahan dari satu tahap ketahap lainnya memiliki tempat khusus,

misalnya pada waktu lahir masuk ke sanya atau rumah bersalin kemudian pada

waktu menikah masuk ke konshukuya atau rumah perkawinan dan kemudian pada

saat meninggal masuk ke moya atau rumah untuk orang meninggal lalu pada tahap

menjadi dewa masuk ke shinshi (Tsuboi dalam Situmorang 2009: 46-48)

Manusia dari lahir hingga mati, atau dari waktu mati hingga tomurai age

mengalami reinkarnasi, dan setiap reinkarnasi tersebut memiliki tempat khusus setiap tempat-tempat tersebut merupakan batas antara dunia kotor dan dunia suci, dan juga merupakan tempat meninggalkan suatu tahap dan memasuki tahap lainnya dalam hidup.

Tahapan untuk menjadi hotoke adalah acara kematian, acara ke 7 hari, acara ke 49 hari, acara 100 hari, acara isshuki (1 tahun), sankaiki (ke 3 tahun),

nanakaiki (ke 7 tahun), juusankaiki (ke13 tahun), juunanakaiki (ke 17 tahun),

nijuusankaiki (ke 23 tahun), dan sanjusankaiki (ke 33 tahun) (Tsuboi dalam Situmorang 2009: 49)

Setelah menjadi sonsen, tidak perlu lagi diadakan upacara khusus, karena

roh tersebut sudah masuk kedalam senzodaidai (kelompok nenk moyang). Roh

tersebut dianggap pergi ke gunung dan dari sanalah mereka mengawasi anak dan

cucunya. Kemudian di waktu-waktu tertentu misalnya pada waktu obon, tahun

baru, dan roh leluhur tersebut dipercaya datang berkunjung ke rumah anak cucunya.

Senzo (roh nenek moyang) adalah ubusunagami (dewa daerah). Roh dalam kondisi ini berada dalam keadaan suci dan kondisi tenang. Kemudian dalam kondisi ini dipercaya roh akan lahir kembali sebagai roh anak cucunya. Oleh sebab itu di Jepang jika anak yang baru lahir sering kali diberi nama yang sama dengan nama kakeknya. Namun terkadang masyarakat tradisional Jepang juga memilih nama untuk anak melalui orang yang terhormat seperti pendeta budha dan shinto, memilih nama dengan cara omikuji (kertas digulung) dari kuil shinto, atau dengan mencocokkan nama dengan situasi sewaktu anak dilahirkan.

Dalam dokumen Fungsi Patung Ojizo Dalam Masyarakat Jepang (Halaman 31-37)

Dokumen terkait