SESI I (10.1511.20), Moderator Prof. Soeyitno Sudirman.
Pointers Presentasi Kriteria dan )ndikator Pemilihan Provinsi Pilot dalam rangka )mplementasi Lo) )ndonesia ‐ Norwegia DR. Agus Justianto lihat bahan presentasi
Klarifikasi sesi I
Moderator:
Terimakasih atas penyampaiannya, tadi dikatakan sebagai kewajiban Norwegia dalam Kyoto Protocol, ada kewajiban menurunkan emisi dan kewajiban kompensasai. Bagi )ndonesia ini peluang, tadi disampaikan juga resiko dan manfaat. Yang menjadi catatan saya dan dipahami adalah merubah strategi pembangunan daerah, membangun system distribusi kompensasai di tingkat lokal.
Ade Fadli (Bebsic)
Tanya :
. Dalam Lo) apakah penurunan emisi merupakan masuk dalam komitmen % komitmen atau komitmen % dari % komitmen R).
. Tentang K&) lahan gambut disebutkan hanya meliputi kedalaman > meter padahal ada lokasi‐lokasi yang memiliki kedalaman gambut < meter yang juga perlu diselamatkan. Sehingga menurut saya, K&) > meter tidak perlu dan cukuo merujuk pada peraturan perundang‐undangan ada?
. Belum jelas yang dimaksud dalam moratorium dalam Lo) ini apakah hutan atau kawasan hutan?
. Mekanismen finansial apak masuk dalam skema pendanaan negara atau punya skema sendiri?
Jawab :
. Apakah kita melaksanakan dengan komitmen menurunkan %, berarti bener pak, )ndonesia berkomitmen mengurangi emisi %, implikasinyanya sangat menarik. angkanya hitung‐itunganya tidak jelas, karena sudah menjadi komitmen ini tugas kita bersama bagaimana menjabarkan. Jika kita melihat kerangka pengurangan emisi % atau % pendekatannya harus ke semua sektor REDD, kami mohon kepada bapak untuk mendorong sektro‐sektor lain REDD + tidak cukup mampu mengurangi pada tahun , komitmen ini juga upaya memperbaiki governace ditingkat lokal dan nasional.
LAMPIRAN 4 :
31 Saya kira kita mengambil momentum ini untuk berpikir positif bahwa kita mampu, negara annex wajib menurunkan emisi, jika tidak mampu maka wajib bagi negara‐ngara itu memberikan kompensasi. Jadi kita siapkan saja, kewajiban kita baru volunteri, namun secara politis berdampak positif. . Mengenai lahan gambut, saya pikir ini harus mengacu perundangan yang berlaku. . Mencakup kawasan hutan atau hutan? )ni masih dinegosiasikan, kalau kita baca dalam lo) disebutkan forest, ini masih dapat kita negosiasikan, ini kesempatan bagi kita untuk menyampaikan definisi yang menguntungkan bagi kita, kita juga mohon masukan mana yang lebih menguntungkan dengan adanya definisi tersebut.
Dengan adanya negoisisasi )PCC dan UNFCC dalam menetapkan definisi sangat lama dan ribet, apa yang disampaikan bapak tadi sangat valid ini harus clear.
. Mekanisme pembiayaan, ini masih digodok, Depkeu. Depkeu sudah menyiapkan studi, sebagai bocoran, nanti akan masuk dalam penerimaan negara bukan pajak akan disalurkan lewat APBN. Namun ini masih dalam proses studi, kita bisa sharing bagaimana mekanisme pembiayaan yang baik, kami sudah berdiskusi namun ternyata ini tidak mudah.
Nasir (Balitbang Provinsi Kaltim)
Tanya :
. Februari , kami ikut sebagai peserta dari )ndonesia, hasilnya adalah Kaltim diinisiasi sebagai salah satu yang ditujuk. Di Kaltim diantaranya adalah Bukit Suharto dan daerah pesisir. Pada pertemuan itu dibahas juga penandatangan kerja sama, penentuan sharing dana, bulan oktober sudah jalan. Apakah hal ini masuk dalam skema REDD+
. Provinsi Aceh sudah masuk penjualan karbon? Bagaimana kesiapan bagi daerah yang belum mempersiapan sharing dananya?
Jawab :
. Workshop mengenai REDD +, sudah ada dua lokasi yang ditunjuk, namun sebaiknya tidak hanya terpaku hanya pada mekanisme yang dibangun oleh Lo) )ndonesia‐Norwegia. )ni masih dalam pilot project, akan lebih baik jika ada pilot project di daerah, semua kesempatan harus dibuka seluas‐luasnya kepada semua pihak, sehingga database akan terbangun, jadi tidak terpaku pada loi )ndonesia–Norwegia saja meskipun Lo) belum agreement. Saat ini yang kami dorong infrasturktur, sehingga jika di verifikasi akan siap. . Di Aceh ini dilihat sebagai peluang untuk berdagang karbon, sebenarnya ada dua yang
berbeda yaitu pendanaan karbon dan perdagangan karbon, kedua hal ini harus dibedakan. pendanaan karbon merupakan kewajiban dari Negara annex ) melalui mekanisme bilateral dan unilateral melalui bank dunia sedangkan Pedagangan karbon merupakan mekanisme yang masih volunteri, kalau ada penjual dan pembeli itulah, dapat dilihat dengan adanya brokerbroker, misalnya aceh ada mou itu lewat perdagangan karbon, karbon dianggap sebagai komoditi lewat perjualan saham.
32
. Pendanaan karbon yang dorong oleh pemerintah dilaksanakan secara legal, pemerintah )ndonesia akan menjamin.
Taman Alex (Poliagro Samarinda)
Tanya
. Berkaitan dengan resiko, saya sendiri sangat ragu apakah SDM kita siap? Apalagi ini nanti tingkat propinsi? Saya ragu , ditingkat kabupaten misal kab kukar, begitu banyaknya pertambangan, pertambagan luar biasa? Apakah mungkin?
. Yang menjadi masalah adalah masa persiapan, apakah ada dana APBD untuk menyiapkan masa persiapan ini?
Jawab:
. Pak alex, SDM yang belum siap, saya berpendapat karena ini sudah menjadi komitmen nasional, maka semua harus dipersiapkan, kita siapkan infrasrtuktur termasuk SDM, dan kemudian mekanisme pembiayaan, saya harap kita perpikir optimis, niat pemerintah kita mempersiapkan dengan harapan akan memberikan benefit kepada provinsi.
. Yang perlu dipersiapkan segera adalah kegiatan dalam tahap persiapan.
. Kita sedang menyiapkan lokasi yang akan menjadi pilot proyek lokasi REDD+. Mengenai Prov. Kaltim nanti silakan meneliti kriteria dan )ndikator yang telah diusulkan pada rapat parapihak se belumnya, apakah memenuhi kriteria tersebut. Dari komitmen Provinsi, sudah sangat jelas mendukung dan bersedia. Tapi jawaban tidak harus sekarang.
Abdul Azis (Kantor Lingkungan Hidup Kab. PPU)
Tanya :
Saya pernah bertanya, mengapa yang di danai/ mendapat kompensasi oleh skema REDD adalah hutan yang sudah rusak sedangkan hutan kita yang bagus seperti TNKM maslah tidak? Pengertian ini mohon dijelaskan?
Jawab :
REDD hanya salah satu skema, yang ditawarkan oleh Negara maju adalah mendorong mitigasi, diantaranya yang dijadikan mekanisme adalah REDD, hal ini tergantung negosiator kita, kalau negosisasi kita cerdas kita arahkan pada hutan‐hutan konservasi, semua akan mengarah pada ekonomi global. Secara ekonomi kita akan kalah bernegosisasi.
Jika kita melakukan moratoium konsensi, ini akan berdampak pada sektor‐sktor lain ini dan berdampak pada perekonomian, bagaimana negosiator kita menetapkan definisi? Nilai ekonomi hutan lebih tinggi daripada nilai ekonomi karbon karena harga karbon rendah,
33
Zulfira Warta (WWF)
Salah satu prinsip adalah multipihak, participatory harapan adanya masukan‐masukan, pertanyaan dari Ade Fadli tadi sangat relevan untuk diskusikan? Untuk menentukan Kriteria dan indicator? Tarmasuk mendiskusikan kawasan hutan atau hutan? Mekanisme pembiayaan? Saya pikir ini hal‐ hal yang sangat valid,
Prof. Soeyitno Soedirman :
Saya analogikan, dulu ada SFM, pada saat itu kita bertanya‐tanya kenapa sih harus disertifikasi, hikmahnya apakah kita sudah seperti itu sesuai dengan kriteria dan indikator yang telah ditentukan, dengan hal demikian juga, ini merupakan peluang baru.
Beberapa catatan pada sesi ) ini :
a. Perubahan system perencanaan pembangunan secara substansi harus mampu mempertimbangkan nilai jasa lingkungan termasuk didalamnya nilai karbon sebagai bagian dari nilai SD( yang mempunyai kaitan dengan perubahan iklim .
b. (arus mampu mengembangkan system perencanaan secara transparan melalui proses multipihak dimensi dan sektoral termasuk dalam proses implementasinya di lapangan keterlibatan masyarakat perlu mendapat perhatian.
c. perubahan tersebut mempunyai konsekuensi Pemahaman tentang peran SD( dalam pembangunan yang multi demensi, Perubahan iklim merupakan bagian dari pembangunan dengan memanfaatkan SDA SD(, pembangunan ekonomi melalui pemanfaatan SDA perlu mempertimbangkan benefit dan resiko bagi keberlanjutan pembangunan, untuk mewujudkan hal‐ di atas, maka perencanaan Tata Ruang Wilayah harus disusun secara rasional, obyektif dan transparan dengan mengalokasikan SDA secara rasional mempertimbangkan kesimbangan antara benefit dan Resiko .
34
SESI II (11.20 – 13.00), moderator : Ir. Alfan Subekti, M.Sc
Pointers Presentasi Kesiapan Kaltim dalam Pelaksanaan REDD+ Drs. Tuparman, MM Lihat bahan Presentasi
Klarifikasi Sesi II
Abdul Azis (Kantor Lingkungan Hidup Kab. PPU)
Tanya :
Berkaitan dengan batu bara Kideco dan KPC, menaikkan produksi, KPC menyumbang emisi besar, tidak menutup pit yang besar, sementara yang kecil‐kecil diwajibkan menutup Pit, kalau itu dilakukan rugi. Mohon gubenur menegur.
Jawab :
Kita melakukan pemantuan sesuai dengan perundang‐undangan termasuk misalnya asam tambang. Reklamasi di KPC sudah lebih dari %, ini sesuai dengan rencana RPT.
Ibu Uun RJ (APHI)
Tanya :
Mengenai upaya Provinsi Kaltim didalam pilot project yang akan dinyatakan angka %, kondisi Kaltim dengan kriteri dan persyaratan yang diharuskan dipenuhi, ada beberapa hal yang belum siap Provinsi Kaltim untuk melaksanakan kedepan. Belum ada ke arah untuk penyempurnaan kriteria dan indikator,
Kemudian dari sosial ekonomi terdapat banyaknya konflik yang masih banyak terlihat sampai saat ini, ini perlu dipaparkan. Berkaitan dengan MRV keterukuran indikator , belum ada metodolgi bahwa Provinsi Kaltim siap menjadi wilayah percontohan, adanya upaya‐upaya persiapan mesti ada.
Jawab :
Nanti akan kita bahas dalam diskusi ini, inilah saatnya kita memberikan masukan karena itu kegiatan hari ini pointnya baru di gagasan. Untuk konflik sosial, kita menginisiasi adanya kotak pos pengaduan bila ada permasalahan yang ada dilapangan, untuk MRV belum jelas itu nanti akan kita lengkapi.
35
Jufriyansah (stabil)
Tanya :
Nyambung dengan pak abdul aziz, berkaitan dengan masalah tambang, apa ini sesuai dengan program kita terkait REDD, mengkaji alternatif energy ini perlu sehingga dukungan terhadap isu REDD. Di sisi lain dokumen RTRW Kota Balikpapan dan Kab. Kutai Kartanegara di overlay maka akan terlibat kontras kebijakannya. Kegiatan di Teluk Balikpapan sangat berbeda semangatnya dengan program Kaltim hijau
Jawab :
Kami mohon peran dari semua pihak, terkait energy altenatif kita mesti bekerja keras, untuk RTRW kami mohon penjelasan dari kementrian kehutanan sejauh mana keterkaitannya. Sehingga pemanfaatan SDA sesuai dengan daya dukung yang ada.
36