BAB 3 DESKRIPSI KETERSEDIAAN SDM KESEHATAN PROVINSI
3.3 Rumah Sakit
Dalam UU RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit disebutkan bahwa rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Pelayanan rumah sakit merupakan salah satu bentuk upaya yang diselenggarakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan kesehatan.
Pelayanan rumah sakit berfungsi untuk memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu yang dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan yang bermutu dan terjangkau dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Penyelenggaraan pelayanan rumah sakit dilaksanakan oleh pemerintah dan swasta.
Sesuai peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2017 tentang Akreditasi Rumah Sakit dan amanat Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit pasal 40 ayat 1 mewajibkan rumah sakit untuk melakukan akreditasi RS dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan secara berkala setiap 3 tahun. Akreditasi wajib bagi semua rumah sakit pemerintah maupun rumah sakit swasta/BUMN/TNI. Akreditasi adalah pengakuan terhadap mutu pelayanan rumah sakit, setelah dilakukan penilaian bahwa rumah sakit telah memenuhi standar akreditasi.
Pada tahun 2021, seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Kepulauan Riau telah memiliki minimal 1 RS terakreditasi sehingga pencapaian indikator sebesar 100% jauh melampaui target yang hanya 42,8%. Dalam pelaksanaan akreditasi yang dilakukan oleh Komite Akreditasi Rumah Sakit (KARS) di Provinsi Kepulauan Riau terdapat 29 Rumah Sakit yang telah terakreditasi dan 7 rumah sakit yang belum terakreditasi dengan rincian sebagai berikut:
Tabel 3.27 Jumlah Rumah Sakit Menurut Kabupaten/Kota Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2020
NO KAB/KOTA
PEMERINTAH PUSAT / TNI/BUMN
PEMDA SWASTA
RS TERAKREDI
TASI
RS BELUM AKREDITASI
1 Karimun 0 2 1 2 1
2 Bintan 0 2 0 2 0
3 Natuna 1 1 0 1 1
4 Lingga 0 2 0 2 0
5 Anambas 0 3 0 2 1
6 Batam 3 1 17 17 4
7 Tanjungpinang 1 2 0 3 0
TOTAL 5 13 18 29 7
Sumber : SI-SDMK, November 2021
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa penyebaran rumah sakit yang terbanyak adalah terdapat di Kota Batam. Hal ini sejalan dengan jumlah penduduk yang jumlahnya juga terbanyak di Kota Batam.
Jumlah RSUD Kabupaten/ Kota kelas C milik pemerintah yang ada di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 5 rumah sakit. Rumah sakit pemda
kelas C antara lain RSUD M. Sani, RSUD Tanjungpinang, RSUD Bintan, RSUD Engku Haji Daud, dan RSUD Natuna. Sementara RS tipe D di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 5 rumah sakit antara lain RSUD Encik Maryam, RSUD Dabo Singkep, dan RSUD Matak, RSUD Tarempa dan RSUD Jemaja. Dari 10 RS Pemda tersebut, dapat dilihat bahwa 4 spesialis dasar pada umumnya sudah terpenuhi, kecuali Rumah Sakit di Kabupaten Kepulauan Anambas. Sementara untuk dokter spesialis penunjang belum terpenuhi pada 10 rumah sakit tersebut. Pada tabel 3.28 dapat dilihat kecukupan dari masing-masing jenis dokter spesialis.
Tabel 3.28 Ketersediaan Dokter Spesialis di Rumah Sakit Tipe C dan D di Provinsi Kepulauan Riau
No Nama RS
Spesialis Anak Spesialis Obgyn Spesialis Bedah Spesialis Penyakit Dalam Spesialis Anastesi Spesialis Radiologi Spesialis Patologi Klink
1 RSUD Tanjungpinang v v v v v v v
2 RSUD Bintan v v v v v v v
3 RSUD Engku H.Daud v v v v v v v
4 RSUD M. Sani v v v v v v v
5 RSUD Natuna v v v v v v v
6 RSUD Dabo v v v v - - -
7 RSUD Encik Maryam v v - v - - -
8 RSUD Matak v v v v v - v
9 RSUD Jemaja - v v - - - -
10 RSUD Tarempa - v - v - - -
Sumber: SI-SDMK, November 2021 3.4 Fasilitas Kesehatan Lainnya
Berdasarkan Sistem Kesehatan Nasional, Fasilitas pelayanan kesehatan meliputi fasilitas pelayanan kesehatan perorangan dan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, yang diselenggarakan Pemerintah (termasuk TNI/POLRI), pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, dan/atau masyarakat yang sifatnya sesuai kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat. Tabel 3.29 menunjukkan jumlah SDM Kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas kesehatan lainnya (klinik swasta/perorangan) yang sudah terdata di SI-SDMK.
Tabel 3.29 Jumlah SDM Kesehatan di Fasilitas Kesehatan Lainnya di Provinsi Kepulauan Riau yang Terdata di SI-SDMK
Adapun data SDM Kesehatan pada tabel di atas dapat dikatakan belum mencakup seluruh fasilitas kesehatan lainnya. Akan diupayakan untuk perluasan pendataan pada tahun berikutnya.
No Fasilitas Kesehatan Jumlah SDMK
1 Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan
(Poltekkes Kemkes Tanjungpinang) 105
2 Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) - Tanjungpinang 3 Sarana Kefarmasian dan Alkes
- Tanjungpinang
- Tanjungpinang (45 klinik) - Bintan (8 klinik)
- Tg.Balai Karimun (5 klinik) - Natuna (4 klinik)
632 94 250
48
5 Laboratorium Kesehatan 109
6 Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian
Penyakit 69
Total 2.369
BAB 4
DESKRIPSI UPAYA PEMENUHAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
Dalam rangka mendukung terlaksananya pembangunan kesehatan dan pelayanan kesehatan di Kepulauan Riau maka pemerintah perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas SDM kesehatan yang ada.
Peningkatan kuantitas SDM kesehatan dapat dilaksanakan melalui pengadaan CPNS, atau pengangkatan tenaga tidak tetap (Non PNS).
Pengadaan tenaga kesehatan berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah dan atau masyarakat melalui pendidikan dan atau pelatihan (pasal 25). Penyelenggaraan pendidikan dan atau pelatihan tersebut menjadi tanggungjawab pemerintah dan pemerintah daerah.
Pemerintah daerah dapat mengadakan tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan daerahnya. Pengadaan tenaga kesehatan perlu dilakukan dengan memperhatikan jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat, jumlah sarana pelayanan kesehatan dan jumlah tenaga kesehatan sesuai dengan beban kerja pelayanan kesehatan yang ada.
1. Rekapitulasi Tenaga Kesehatan Dokter, Dokter Gigi dan Bidan Non PNS Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021
Tabel 4.1 Rekapitulasi Tenaga Kesehatan Dokter, Dokter Gigi dan Bidan Non PNS Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021
NO KABUPATEN/KOTA DOKTER DOKTER
GIGI BIDAN
1 Tanjungpinang 23 5 39
2 Batam 7 1 47
3 Karimun 0 - 21
4 Bintan 8 0 29
5 Natuna 6 - 28
6 Lingga 0 1 7
7 Anambas 3 - 0
PROVINSI 47 7 171
Untuk menjaga agar pelayanan kesehatan dapat tetap berjalan secara optimal yang disokong oleh ketersediaan tenaga kesehatan khususnya dokter, dokter gigi dan bidan, maka Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah melakukan terobosan dengan pengangkatan tenaga medis (dokter dan dokter gigi) dan tenaga paramedis (bidan) dengan status non PNS. Program ini telah berjalan sejak tahun 2011 dengan sumber pembiayaan dari APBD Provinsi Kepulauan Riau. Tenaga medis dan paramedis non PNS di Provinsi Kepulauan Riau ini berkewajiban membina dan mengunjungi masyarakat di wilayah kerjanya dalam bentuk home visit.
Hingga tahun 2021, jumlah tenaga medis non PNS sebanyak 54 orang dan tenaga paramedis berjumlah 171 orang (Tabel 4.1).
2. Rekapitulasi SDM Kesehatan yang Melanjutkan Pendidikan Berdasarkan Jenis Dikjut dan Jenjang Pendidikan
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Kabupaten/Kota se-Provinsi Kepulauan Riau juga menyelenggarakan pendidikan yang berkelanjutan dalam upaya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan.
Penyelenggaraan pendidikan berkelanjutan ini dilaksanakan dengan pembiayaan oleh Pemerintah Pusat, Daerah maupun pihak lain. Jenis pendidikan yang berkelanjutan yaitu Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS), Program Pendidikan Dokter Gigi Spesialis (PPDGS), Program Tugas Belajar Pusat, Program Tugas Belajar Daerah, dan Izin Belajar. Para peserta tugas belajar yang telah selesai pendidikan memiliki kewajiban untuk mengabdi di fasilitas kesehatan yang memberikan rekomendasi dengan lama pengabdian minimal selama 2n+1 tahun (n= lamanya pendidikan yang ditempuh). Dengan program pendidikan berkelanjutan, saat ini keberadaan dokter spesialis yang sangat dibutuhkan masyarakat, dapat dikatakan semakin terpenuhi di Kepulauan Riau. Data rekapitulasi SDM kesehatan yang mengikuti pendidikan berkelanjutan pada tahun 2021 dapat dilihat grafik berikut.
Gambar 4.1 Rekapitulasi SDM Kesehatan yang Melanjutkan Pendidikan Berdasarkan Jenis Pendidikan Berkelanjutan
Tahun 2021
Sumber: SI-SDMK, 2021
3. Rekapitulasi SDM Kesehatan yang Mengikuti Diklat Berdasarkan Rumpun Diklat
Upaya lainnya dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia kesehatan adalah melalui program pendidikan dan pelatihan. Secara umum pendidikan dan pelatihan bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada personil dalam meningkatkan kecakapan dan keterampilan mereka, baik yang meliputi teknis bidang pekerjaannya, manajerial ataupun kepemimpinan. Semuanya ini dalam rangka untuk mencapai tujuan organisasi.
Tabel 4.2 Rekapitulasi SDM Kesehatan yang Mengikuti Diklat Berdasarkan Rumpun Diklat di Provinsi Kepulauan Riau Sampai
Dengan Tahun 2021
JENIS DIKLAT JUMLAH
Prajabatan 778
Teknis Program/Upaya Kesehatan 365
Teknis Profesi Kesehatan 1.040
Fungsional Kesehatan 293
Fungsional Non Kesehatan (Umum) 53
Manajemen Kesehatan 81
Teknis Umum /Administrasi & Manajemen 35
Penjenjangan 20
Pratugas 3
Tanpa Keterangan 52
TOTAL 2.720
Sumber: SI-SDMK, 2021
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa dalam SI-SDMK, jumlah tenaga kesehatan Provinsi Kepulauan Riau yang telah mengikuti diklat sebanyak 2.720 orang. Jenis Diklat yang paling banyak diikuti adalah jenis diklat teknis profesi kesehatan yaitu sebanyak 1.040 orang, kemudian diklat prajabatan sebanyak 778 orang. Sementara untuk diklat fungsional non kesehatan (umum) tercatat 53 orang diikuti oleh SDM kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau, padahal dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, fungsional non kesehatan seperti bendaharawan atau arsiparis juga dibutuhkan dan tentunya membutuhkan diklat yang akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pemangku tugas tersebut.
BAB 5
DESKRIPSI PENDAYAGUNAAN SDM KESEHATAN
Pendayagunaan tenaga kesehatan adalah upaya pemerataan dan pemanfaatan serta pengembangan tenaga kesehatan. Pendayagunaan tenaga kesehatan, utamanya dalam rangka pemerataan tenaga kesehatan dilaksanakan sesuai dengan rencana kebutuhan tenaga kesehatan, baik untuk memenuhi kebutuhan pada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun fasilitas pelayanan kesehatan swasta. Pemerataan tenaga kesehatan juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan sebagai administrator kesehatan, regulator, pendidik, peneliti, dan tenaga pemberdayaan masyarakat.
Pendayagunaan tenaga kesehatan mencakup pendayagunaan tenaga kesehatan di dalam negeri dan di luar negeri. Dalam rangka Upaya Pendayagunaan SDM Kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau, Pemerintah Pusat bekerjasama dengan Pemerintah Daerah melakukan upaya penempatan tenaga kesehatan yang ditujukan untuk mencapai pemerataan yang berkeadilan dalam pembangunan kesehatan.
Dalam rangka penempatan tenaga kesehatan untuk kepentingan pelayanan publik dan pemerataan, pemerintah melakukan berbagai pengaturan untuk memberikan imbalan material atau non material kepada tenaga kesehatan untuk bekerja di bidang tugas atau daerah yang tidak diminati, seperti daerah terpencil, daerah tertinggal, daerah perbatasan, pulau-pulau terluar dan terdepan, serta daerah bencana dan rawan konflik.
Pemerintah, baik Pusat maupun Daerah dan Swasta melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga kesehatan dan tenaga pendukung kesehatan yang diperlukan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan dan atau menjalankan tugas dan fungsi institusinya. Pemerintah Daerah bersama UPT-nya dan masyarakat melakukan rekrutmen dan penempatan tenaga penunjang yang diperlukan untuk mendukung UKBM sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan.
Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menggunakan strategi penguatan kuantitas tenaga kesehatan melalui program pengangkatan dokter/dokter gigi, Non PNS, dan bidan Non PNS Provinsi Kepulauan Riau, yang pendayagunaannya di Puskesmas, Pustu, Polindes dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya milik pemerintah. Dukungan pendayagunaan tenaga kesehatan juga diperkuat dengan adanya program Penugasan Khusus Nusantara Sehat (NS) serta Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS) yang pengadaan dan pembiayaan oleh Kementerian Kesehatan RI. Rekapitulasi jumlah akan dijelaskan pada tabel sebagai berikut:
1. Program Penugasan Khusus Melalui Nusantara Sehat
Tabel 5.1 Rekapitulasi Tenaga Kesehatan Nusantara Sehat Individual di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021
No Jenis Tenaga Unit Kerja Kabupaten Periode
1 Gizi
Siantan Timur Kep. Anambas
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 2 Bidan
Siantan Timur Kep. Anambas
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022)
3 Bidan Puskesmas
Jemaja Timur Kep. Anambas
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
4 Dokter Umum Puskesmas
Siantan Tengah Kep. Anambas
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
5 Kesling Puskesmas
Siantan Timur Kep. Anambas
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
6 Analis Kesehatan
Puskesmas
Siantan Selatan Kep. Anambas
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 10 Perawat Puskesmas
Pulau Tiga Natuna
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022)
11 Gizi Puskesmas
Serasan Timur Natuna
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022)
12 Dokter Umum Puskesmas
Pulau Laut Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
13 Bidan Puskesmas
Pulau Laut Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
14 Perawat Puskesmas
Pulau Laut Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
15 Kesling Puskesmas
Subi Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
16 Bidan Puskesmas
Subi Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
17 Farmasi Puskesmas
Sedanau Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
18 Kesmas Puskesmas
Kelarik Natuna
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
19 Gizi Puskesmas
Kelarik Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
20 Gizi Puskesmas
Kelarik Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
21 ATLM Puskesmas P.
Laut Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
22 Bidan Puskesmas P.
Laut Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
23 ATLM Puskesmas
Serasan Timur Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
24 ATLM Puskesmas
Subi Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
25 Bidan Puskesmas
Subi Natuna
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
Pulau Tiga Natuna
Periode 1 April 2021 - 31 Maret 2023
31 Kesling
Puskesmas
Pulau Tiga Natuna
Periode 1 April 2021 -
34 Kesmas
Serasan Timur Natuna
Periode VI (1 Agustus 2021 - 31 Juli 2023)
Periode VIII (1 Oktober 2021 - 30 September 2023) 43 Dokter Gigi Puskesmas
Serasan
Natuna
Periode IX (1 November 2021 - 31 Oktober 2023) 44 Dokter Gigi Puskesmas
Serasan Timur
Natuna
Periode IX (1 November 2021 - 31 Oktober 2023) 45 Kesling Puskesmas
Kundur Barat Karimun
Periode X (21 47 Kesling Puskesmas
Tg.Berlian Karimun
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021) 51
Farmasi
Puskesmas
Kula Sempang Bintan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021) 52
Gizi
Puskesmas
Teluk Bintan Bintan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021)
53
Kesmas
Puskesmas
Teluk Bintan Bintan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021) 54
Kesmas
Puskesmas
Teluk Sasah Bintan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021) 55
ATLM
Puskesmas
Teluk Sasah Bintan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2021) 57 Gizi
Puskesmas
Kuala Sempang Bintan
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 58 Kesmas
Puskesmas
Mantang Bintan
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 59
Farmasi
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
60
Dokter Umum
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
61 Gizi
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
62
Kesmas
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
63 Kesmas Puskesmas
Numbing Bintan
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023 64 Farmasi Puskesmas
Numbing Bintan
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023 65 Gizi
Puskesmas
Numbing Bintan
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023 66 Perawat
Puskesmas
Mantang Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
67 Perawat
Puskesmas
Kelong Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
68 Perawat
Puskesmas
Mantang Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
69 Perawat
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
70 Perawat
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
71 Perawat
Puskesmas
Mantang Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
72 Perawat
Puskesmas
Kelong Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
73 Farmasi
Puskesmas
Mantang Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
74 Analis Kesehatan
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
75 Dokter Umum
Puskesmas
Tambelan Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
76 Perawat
Puskesmas
Kelong Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
77 Kesmas
Puskesmas
Kelong Bintan
Periode IV (1 Juni 2021 - 31 Mei 2023)
Teluk Sasah Bintan
Periode V (1 Juli 2021 - 30 Juni 2023)
80 Kesling Puskesmas Kuala Sempang
Bintan
Periode VIII (1 Oktober 2021 - 30 September 2023)
81 Farmasi Puskesmas Kawal 83 Dokter Gigi Puskesmas
Tambelan
Periode I Tahun 2020 (31 Januari 2020 - 31 Desember 2022) 87 Gizi
Puskesmas
Pancur Lingga
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 88 Dokter Umum
Puskesmas
Pancur Lingga
Periode IV (1 Agustus 2020 - 31 Juli 2022) 89
Kesmas
Puskesmas
Posek Lingga
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
90
Farmasi
Puskesmas
Tajur Biru Lingga
Periode V (01 Oktober 2020 - 30 September 2022)
91 Gizi
Puskesmas
Tajur Biru Lingga
Periode 1 Februari 2021 - 31 Januari 2023
Tajur Biru Lingga
Periode 1 April 2021 -
Periode VI (1 Agustus 2021 - 31 Juli 2023)
96 ATLM Puskesmas
Sungai Pinang Lingga
Periode VI (1 Agustus 2021 - 31 Juli 2023) 97 Farmasi Puskesmas
Raya
Periode VIII (1 Oktober 2021 - 30 September 2023)
Periode VIII (1 Oktober 2021 - 30 September 2023)
Berdasarkan tabel di atas, tampak bahwa jumlah tenaga kesehatan penugasan khusus melalui Program Nusantara Sehat di Kepulauan Riau sebanyak 107 orang yang tersebar di beberapa Puskesmas di Kabupaten Kota. Keberadaan tenaga kesehatan Nusantara Sehat ini sangat besar pengaruhnya bagi program pelayanan kesehatan di Puskesmas.
2. Program Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS) Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021
Dalam rangka peningkatan akses dan pemenuhan kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan spesialistik, pemerintah melakukan upaya pemerataan dokter spesialis di seluruh Provinsi di
Indonesia. Sebelumnya, program pemenuhan kebutuhan dokter spesialias di atur dalam Perpres Nomor 4 Tahun 2017 tentang Wajib Kerja Dokter Spesialis. Beberapa pasal Perpres nomor 4 tahun 2017 tidak mempunyai kekuatan mengikat, sehingga berdasarkan Putusan Mahkamah Agung nomor 62P/HUM/2018 Perpres tersebut di ganti dengan Perpres nomor 39 tahun 2021 tentang Pendayagunaan Dokter Spesialis (PGDS). Pemenuhan tenaga dokter PGDS di Provinsi Kepulauan Riau pada Tahun 2021 sebanyak 9 orang dokter spesialis (Tabel 5.2).
Tabel 5.2 Rekapitulasi PGDS Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021 No Kab/Kota RS Jenis Spesialis Jumlah
1 Bintan RSUD
Bintan
Sp. Obgyn Sp. Penyakit Dalam
2
2 Lingga RSUD Encik
Maryam RSUD Dabo
Sp.Bedah, Sp. Penyakit Dalam Sp. Penyakit Dalam
3
3 Kep.Anambas RSUD Palmatak,
Sp.Penyakit Dalam,
1
4 Tg.Pinang RSUD Tg.Pinang
Sp. Obgyn 1
5 Natuna RSUD Ranai Sp. Obgyn Sp. Anak
1 1
TOTAL 9
BAB 6
DESKRIPSI PEMBINAAN DAN PENGAWASAN MUTU SDM KESEHATAN
Pembinaan tenaga kesehatan adalah upaya untuk mengarahkan, memberikan dukungan, serta mengawasi pengembangan tenaga kesehatan. Pembinaan tenaga kesehatan dimulai dari institusi yang menggunakan/mendayagunakan tenaga kesehatan baik di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah maupun swasta, institusi pendidikan dan pelatihan, instansi pemerintah, pusat/lembaga penelitian, dan tenaga kesehatan sebagai individu (9).
Salah satu komponen penting dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas adalah pengembangan sumber daya manusia kesehatan yang berkualitas. Untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia kesehatan diperlukan upaya pembinaan dan pengawasan mutu sebagai bagian dari pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia kesehatan. Tujuan utama pembinaan dan pengawasan mutu SDM Kesehatan adalah untuk meningkatkan kualitas SDM Kesehatan sesuai kompetensi yang diharapkan dalam mendukung kebutuhan pembangunan kesehatan. Hal tersebut juga untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat sebagai pelaku pembangunan kesehatan dan konsumen pelayanan kesehatan.
Pembinaan dan pengawasan mutu SDM Kesehatan berupa pembinaan dan pengawasan mutu terhadap standardisasi profesi, sertifikasi dan perizinan tenaga kesehatan, yang dilakukan bekerjasama dengan pemangku kepentingan lainnya misalnya Organisasi Profesi Kesehatan dan pemerintah daerah.
Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan utamanya ditujukan untuk meningkatkan kualitas tenaga kesehatan sesuai kompetensi yang diharapkan dalam mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi seluruh penduduk Indonesia. Pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan dilakukan melalui peningkatan
komitmen dan koordinasi semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tenaga kesehatan serta legislasi yang meliputi antara lain sertifikasi melalui uji kompetensi, registrasi, perizinan (licensing), dan hak-hak tenaga kesehatan. Hak-hak-hak tenaga kesehatan tersebut antara lain meliputi kesejahteraan dan kesempatan yang seluas-luasnya dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan karirnya (9).
Upaya Pembinaan dan Pengawasan SDM Kesehatan di berbagai tingkatan dan atau organisasi memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah dan dukungan peraturan perundang-undangan mengenai pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan tersebut. Pembinaan dan pengawasan praktik profesi bagi tenaga kesehatan profesi dilakukan melalui sertifikasi, registrasi, uji kompetensi dan pemberian lisensi bagi tenaga kesehatan yang memenuhi syarat.
Menindaklanjuti amanah Pasal 21 Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, mahasiswa bidang kesehatan pada akhir masa pendidikan vokasi dan profesi harus mengikuti uji kompetensi secara nasional. Selain itu, uji kompetensi secara nasional diperlukan dalam upaya standardisasi dan penjaminan mutu lulusan pendidikan tinggi bidang kesehatan. Uji komptensi dilaksanakan oleh Perguruan Tinggi bekerja sama dengan Organisasi Profesi, lembaga pelatihan, atau lembaga sertifikasi yang terakreditasi. Uji kompetensi untuk tenaga bidan dan perawat telah diberlakukan sejak Agustus 2013. Dan sejak November 2018 ini, uji kompetensi juga telah diwajibkan untuk lulusan elektromedik, terapi wicara, Teknik laboratorium medis, rekam medis, gizi, radiografi, terapis gigi dan mulut, okupasi terapi, refraksi optisi, teknik gigi, kesehatan lingkungan, dan akupuntur.
Adapun untuk registrasi tenaga kesehatan diberikan dengan Surat Tanda Registrasi (STR). Dan untuk penerbitan STR, maka telah dibentuk Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI). Sementara itu, untuk perizinan/lisensi tenaga kesehatan profesi untuk melakukan praktik, setiap tenaga kesehatan wajib memiliki Surat Izin Praktek (SIP) diberikan oleh
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota setelah mendapatkan rekomendasi dari organisasi profesi terkait.
Pembinaan dan pengawasan SDM Kesehatan dilakukan melalui sistem karier, penggajian, dan insentif untuk hidup layak sesuai dengan tata nilai di masyarakat dan beban tugasnya agar dapat bekerja secara profesional. Pengawasan SDM Kesehatan dilakukan untuk mencegah terjadinya pelanggaran disiplin melalui pengawasan melekat dan pengawasan profesi.
Dalam hal terjadi pelanggaran disiplin oleh tenaga kesehatan maupun tenaga pendukung/penunjang kesehatan yang bekerja dalam bidang kesehatan dan menyebabkan kerugian pada pihak lain, maka sanksi administrasi maupun pidana harus dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat maupun tenaga yang bersangkutan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.
1. Rekapitulasi SDM Kesehatan yang memiliki ijin dan registrasi Dalam Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2014 disebutkan bahwa Setiap tenaga kesehatan yang menjalankan praktik wajib memiliki STR (Surat Tanda Registrasi). Pada pasal 80-81 pembinaan dan pengawasan mutu tenaga kesehatan bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayan, melindungi penerima pelayan dan member kepastian hukum. Bila tenaga kesehatan tersebut menjalankan praktik di bidang pelayanan kesehatan wajib memiliki izin. Untuk memperoleh STR, tenaga kesehatan harus memiliki ijazah dan sertifikat kompetensi. Ijazah dan sertifikat kompetensi diberikan kepada peserta didik setelah dinyatakan lulus ujian program pendidikan dan uji kompetensi. Dalam menyelenggarakan penerbitan STR bagi para tenaga kesehatan, telah dibentuk Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) yang berupaya untuk penerbitan STR tenaga medis (dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi spesialis). Sementara untuk penerbitan STR bagi tenaga kesehatan selain tenaga medis telah dibentuk Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia (KTKI) sebagaimana diamanahkan dalam Peraturan Presiden Nomor 86 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas
Perpres Nomor 90 Tahun 2017 tentang Konsil Tenaga Kesehatan Indonesia.
Tabel 6.1 Rekapitulasi Jumlah Tenaga Kesehatan yang Memiliki Izin dan Registrasi Tenaga Kesehatan di Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2021
JENIS PROFESI AKTIF STR SIP
01. Medis 2.617 2.119 1.693
02. Psikologi Klinis 15 8 6
03. Keperawatan 4.926 3.502 2.226
04. Kebidanan 2.533 2.057 1.239
05. Kefarmasian 946 655 466
06. Kesehatan Masyarakat 299 109 11
07. Kesehatan Lingkungan 275 162 37
08. Gizi 199 153 66
09. Keterapian Fisik 85 62 46
10. Keteknisan Medis 268 161 106
11. Tehnik Biomedika 588 420 232
12. Kesehatan Tradisional - - -
13. Nakes Lainnya 383 82 37
TOTAL 13.134 9.490 6.165 Sumber: SI-SDMK, 2021
Berdasarkan data pada SI-SDMK sebagaimana pada tabel diatas, jumlah tenaga kesehatan yang sudah memiliki STR di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 9.490 orang. Bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan se-Provinsi Kepulauan Riau, tentu jumlah tenaga yang memiliki
Berdasarkan data pada SI-SDMK sebagaimana pada tabel diatas, jumlah tenaga kesehatan yang sudah memiliki STR di Provinsi Kepulauan Riau sebanyak 9.490 orang. Bila dibandingkan dengan jumlah tenaga kesehatan se-Provinsi Kepulauan Riau, tentu jumlah tenaga yang memiliki