• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekening laba dan rugi yang berguna bagi tim perunding

Rekening-rekening berikut ini yang tampak pada sisi “pengeluaran” atau “biaya” dari laporan pendapatan harus diperiksa secara cermat oleh seorang pemimpin serikat buruh yang sedang mempersiapkan perundingan bersama.

(1) Biaya direksi. Ada pembayaran yang dilakukan kepada direksi perusahaan untuk menghadiri rapat-rapat direksi dan pembayaran insidentil lainnya. Sebagian direksi mungkin adalah manajer perusahaan dimana dalam hal ini, angka tersebut mungkin termasuk gaji mereka. Dengan membandingkan angka-angka selama dua atau tiga tahun terakhir, kita dapat melihat apakah direksi tersebut telah menaikkan gaji mereka, prosentase kenaikan tersebut dan bagaimana perbandingannya dengan kenaikan (jika ada) yang diberikan kepada para pekerja. Apabila ada kenaikan, maka hal tersebut mungkin dikarenakan oleh kenaikan jumlah dewan direksi perusahaan yang harus dilapokan dalam pengumuman ketua di rapat tahunan atau informasi ini dapat dilaporkan kepada kalangan pers.

(2) Biaya depresiasi. Adalah tunjangan atas penurunan nilai sebagai akibat dari depresiasi mesin, gedung, peralatan tetap dan peraturan, perlengkapan (termasuk kendaraan) perusahaan. Perkiraan perbedaan antara nilai properti di awal dan akhir tahun disebut nilai buku.

Hal yang patut dilakukan, pada kondisi dimana tunjangan untuk depresiasi

merupakan perkiraan yang adil dari penurunan nilai secara aktual. Alasannya adalah perusahaan harus mengganti mesin dan properti lain yang sudah aus setelah beberapa waktu tertentu untuk memelihara atau meningkatkan efisiensi. Namun perkiraan depresiasi mungkin mudah disalah gunakan untuk memperoleh proporsi yang tidak wajar. Juru runding serikat buruh harus mengajukan pertanyaan tentang mengapa biaya penggantian diakumulasikan terlalu cepat dari biasanya yang diperbolehkan untuk aset-aset terkait. Ini merupakan taktik yang biasa digunakan majikan waktu negosiasi perundingan bersama akan dilakukan, guna memperkuat argumentasi mereka tentang ketidak mampuan mereka untuk membayar.

(3) Upah dan gaji, biaya langsung tenaga kerja adalah item-item yang seharusnya menjadi

kepentingan khusus dari serikat buruh. Item ini mencakup prosentase biaya pengoperasian yang mereka sajikan dan dapat dianggap merupakan pengembalian langsung kepada para pekerja yang seharusnya menjadi sumber nilai yang produktif di industri ini. Prosentase ini akan bervariasi tergantung pada apakah perusahaan atau industri tertentu adalah intensif modal (upah merupakan prosentase kecil dari biaya keseluruhan) atau intensif tenaga kerja (upah yang merupakan bagian utama dari biaya keseluruhan). Apabila perusahaan tersebut merupakan intensif modal, maka kemungkinan besar serikat buruh tersebut akan menghadapi sedikit hambatan tentang kemampuan untuk membayar. Di sisi lain, apabila ia merupakan intensif tenaga kerja maka akan ada hambatan tentang masalah ini. Namun pertanyaan utama yang perlu dipertimbangkan adalah apakah perusahaan telah memperoleh cukup laba untuk memenuhi permintaan serikat buruh.

(4) Biaya produksi. Biaya ini mengacu pada biaya untuk memproduksi barang atau biaya untuk membuat dan mengirim barang ke lokasi penjualan (atau pasar).

Pabrik dan peralatan perusahaan memainkan peran besar dalam proses produksi. Idealnya semua biaya adalah terkait dengan beberapa produk fisik atau barang yang dikeluarkan.

Biaya bahan mental, tenaga kerja langsung dan beberapa jenis pengeluaran tambahan di pabrik dapat dilacak denga mudah berdasarkan produksi fisik karena hubungan di antara usaha dan pencapaian agak jelas. Masalah akan timbul bila sistem pendekatan ini juga diterapkan pada rekening pengeluaran seperti penjualan, gaji, pengeluaran untuk iklan dan promosi, pengeluaran administratif serta insentif manajerial (yang bersifat insidentil). Argumentasi sering terjadi sewaktu melacak jenis-jenis rekening ini

yang secara jelas terkait dengan produksi barang. Manajer akuntansi sering

menganggap penting untuk mengadopsi asumsi-asumsi yang sewenang-wenang tapi “wajar” untuk rekening-rekening yang terkait dengan produksi ini.

Juru runding serikat buruh mungkin harus menawarkan asumsi yang sedikit berbeda dari alokasi biaya wajar untuk jenis-jenis rekening pengeluaran ini.

(5) Pengeluaran pajak. Untuk badan usaha, ada dua kategori pengeluaran pajak yang

paling relevan yaitu pajak pendapatan perusahaan dan pajak usaha. Pajak usaha adalah pajak yang dibayar oleh perusahaan kepada pemerintah atas pengoperasian perusahaan namun jumlahnya tidak besar bila dibandingkan dengan pajak pendapatan perusahaan.

Pajak pendapatan perusahaan adalah jumlah yang harus dibayarkan oleh perusahaan berdasarkan undang-undang kepada pemerintah suatu negara dimana perusahaan tersebut beroperasi dan bila laba dihasilkan. Laba ini kemudian dinilai berdasarkan prosentase laba perusahaan yang sudah ditetapkan. Untuk serikat buruh, angka ini biasanya tidak dapat diperbedatkan karena undang-undang menetapkan jumlah pajak yang tepat dimana perusahaan tersebut dikenakan pajak.

Di atas tingkat pendapatan tertentu, undang-undang di sebagian besar negara menetapkan bahwa pajak pendapatan harus dibayar. Pendapatan yang berasal dari investasi selalu dikenakan pajak, dan di sebagian besar negara, prosentasinya adalah sama seperti yang digunakan untuk menilai pajak perusahaan.

(6) Deviden dibayar. Dalam laporan keuangan, pengeluaran pajak tampak bersama dengan deviden bruto yang dibayarkan kepada para pemegang saham perusahaan. Oleh karena itu, bagian laporan ini membutuhkan penelitian yang cermat oleh juru runding. Deviden sepuluh poin biasanya diterima sebagai jumlah pengembalian yang adil di sebagian besar negara. Namun deviden di atas 10% akan menimbulkan beberapa kritik dan sistem pendekatan perundingan yang lebih terus menerus dari panel negosiasi serikat buruh. Apabila upah telah dinaikkan atau manfaat yang lebih baik diberikan, maka bagaimana kalau dibandingkan dengan deviden yang dibayarkan kepada para pemegang saham?

Deviden tunai dalam pengertian kata yang seksama, merupakan pendapatan yang

didistribusikan kepada para pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang mereka miliki di perusahaan tersebut. Namun perusahaan mendistribusikan saham-saham tambahan dari stok mereka sendiri, dan ini yang disebut “deviden saham” dimana tidak ada bidang sumber daya yang sebenarnya didistribusikan. Di samping itu, perusahaan kadang-kadang juga dapat memilih untuk membayar deviden dalam bentk barang atau properti lain seperti surat-surat berharga atau sekuritas.

Sumber: Perundingan Bersama serta Keterampilan Negosiasi, ILO (2003):

http://tinyurl.com/gpsm6oc

Dokumen terkait