• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil penelitian, analisis, refleksi, dan pembahasan mengenai penerapan model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama, maka dapat dikemukakan simpulan dan rekomendasi yang terkait dengan penelitian ini.

A. Simpulan

Secara umum penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kemampuan bermain drama di kelas VB SD Negeri 6 Cibogo dapat meningkat dengan mengimplementasikan model SAVI. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa simpulan yang diperoleh sebagai berikut.

1. Perencanaan pembelajaran bermain drama dengan mengimplementasikan model SAVI dilaksanakan selama tiga siklus setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pertemuan pertama yaitu penyampaian materi dan pertemuan kedua merupakan penampilan hasil. Perencanaan pembelajaran diawali dengan membuat RPP serta instrumen penilaian. Sistematika yang tertulis pada RPP sesuai dengan KTSP. RPP dalam penelitian ini meliputi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, indikator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, langkah pembelajaran, sumber belajar, serta penilaian/evaluasi. RPP dalam penelitian tindakan ini merupakan implementasi model SAVI yang melibatkan aktivitas fisik dan intelektual. Di dalam RPP terdapat unsur-unsur SAVI yaitu somatis artinya bergerak (menirukan aktivitas tokoh), auditori artinya mendengarkan dan berbicara (melalui demonstrasi atau video), visual artinya melihat (melalui demonstrasi atau video), dan intelektual artinya berpikir (menyebutkan unsur intrinsik drama dan menceritakan kembali). Tahap-tahap dalam RPP sama seperti

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

tahap-tahap pada model pembelajaran SAVI yang terdiri dari persiapan, penyampaian, pelatihan dan penampilan hasil. Selain RPP, dalam perencanaan dipersiapkan media, sarana dan prasarana untuk pembelajaran bermain drama.

2. Pada dasarnya pelaksanaan pembelajaran bermain drama dengan menggunakan model SAVI berjalan lancar. Langkah pembelajaran dengan menggunakan SAVI yaitu (1) guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, (2) guru menyajikan materi, (3) siswa menirukan gerakan tokoh (somatis), (4) siswa mendengarkan dialog melalui video (auditori), (5) siswa mengamati video (visual), (6) siswa melakukan tanya jawab dengan guru (intelektual), (7) guru mendemonstrasikan lafal, intonasi dan ekspresi, (8) siswa menirukan ekspresi dan gestur tubuh sesuai tokoh dalam teks drama (somatis), (9) siswa membaca teks drama secara nyaring dengan lafal dan intonasi sesuai tokoh dalam teks drama (auditori), (10) siswa membaca teks drama secara nyaring dengan ekspresi dan gestur tubuh yang tepat (visual), (11) siswa berdiskusi mengenai unsur intrinsik drama (intelektual), (12) siswa menggabungkan dialog dengan ekspresi dan gestur tubuh sesuai tokoh dalam teks drama, (13) perwakilan siswa menceritakan kembali isi cerita. Siswa terlihat antusias dalam pembelajaran bermain drama. Kesulitan yang dihadapi siswa dalam pembelajaran drama menjadi teratasi oleh model SAVI. Model SAVI sangat cocok dengan pembelajaran bermain drama karena terdapat langkah persiapan, penyampaian, pelatihan dan penampilan hasil yang sangat sesuai ketika diimplementasikan.

3. Kemampuan bermain drama mengalami peningkatan setelah mendapatkan pembelajaran dengan mengimplementasikan model SAVI. Hal ini dapat terlihat dari peningkatan kemampuan siswa dalam bermain drama yang mengalami peningkatan pada setiap siklus. Peningkatan kemampuan bermain drama dapat dilihat dari rata-rata siklus I hanya 55,73 dengan persentase 50%,

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

rata-rata siklus II meningkat menjadi 60,88 dengan persentase 64,70% dan rata-rata siklus III yaitu 78,82 dengan persentase 94,11%. Selain kemampuan psikomotor, terdapat peningkatan dari setiap siklus terhadap kemampuan kognitif dengan menyebutkan unsur intrinsik drama dan menceritakan kembali isi cerita drama serta kemampuan afektif berupa keaktifan dan kedisiplinan pada siswa.

B. Rekomendasi

Berdasarkan simpulan mengenai kemampuan bermain drama dengan menggunakan implementasi model SAVI, maka rekomendasi yang peneliti berikan sebagai berikut.

1. Bagi sekolah, mengingat model SAVI mengaktifkan seluruh indera yang melibatkan aktivitas fisik dan pikiran. Maka, pihak sekolah perlu menyediakan sarana dan prasarana yang lengkap serta menunjang agar pembelajaran dapat optimal.

2. Bagi guru SD, implementasi model SAVI perlu dijadikan model dalam pelaksanaan pembelajaran sebagai upaya meningkatkan kemampuan bermain drama. Dengan implementasi model SAVI, guru dapat meningkatkan kemampuan siswa secara optimal, menumbuhkan minat dan motivasi terhadap pembelajaran bermain drama yang selama ini dianggap sulit. Sebaiknya perlu diperhatikan persiapan dengan matang apabila akan melaksanakan penelitian mengenai implementasi model SAVI terhadap bermain drama karena kendala yang ditemukan dalam pembuatan RPP, proses belajar, media, sarana dan prasarana harus lengkap serta perlu mempertimbangkan dana untuk penelitian agar dapat diantisipasi.

3. Bagi siswa, dapat menggunakan model SAVI dengan mengaktifkan seluruh tubuh siswa. Hal ini dapat memudahkan siswa dalam mengungkapkan dialog, menunjukkan ekspresi dan gestur tubuh sesuai tokoh drama dengan tepat karena dalam drama sebenarnya mengandung unsur SAVI. Namun perlu

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

diperhatikan pula kondisi kesiapan siswa dalam pelaksanaan tindakan agar belajar dapat optimal karena apabila kondisi siswa kurang siap tidak dapat memenuhi keempat unsur SAVI secara optimal.

4. Bagi peneliti selanjutnya, dapat menggunakan penelitian untuk penelitian pendahuluan sehingga dapat dilanjutkan kepada penelitian yang lebih luas, mendalam dan terukur dengan statistik, serta lebih lama (longitudinal). Dengan begitu, hasilnya lebih terukur. Selain itu, diharapkan melakukan perencanaan dengan matang dan memperhatikan sarana dan prasarana dalam pelaksanaan tindakan. Peneliti juga merekomendasikan agar membuat penelitian implementasi model SAVI pada kelas dan mata pelajaran yang berbeda agar dapat dijadikan perbandingan untuk meminimalisir kendala yang terjadi.

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Y. (2012). Pembelajaran bahasa berbasis pendidikan karakter. Bandung: PT Refika Aditama.

Aminuddin. (2013). Pengantar apresiasi karya sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo.

Arifin, Z. (2011). Evaluasi pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Arikunto, S., Suhardjono, & Supardi. (2010). Penelitian tindakan kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Aqib, Z. dkk. (2011). Penelitian tindakan kelas. Bandung: CV. Yrama Widya.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus besar bahasa indonesia pusat

bahasa (edisi keempat). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Desmita. (2010). Psikologi perkembangan peserta didik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar. (2011). Pedoman penilaian hasil belajar

dan kalender pendidikan di sekolah dasar. Jakarta: Kementerian

Pendidikan Nasional.

Djuanda, D. & Iswara, P.D. (2006). Apresiasi sastra indonesia. Bandung: UPI PRESS.

Gunawan, A. (2006). Genius learning strategy. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Harymawan. (1986). Dramaturgi. Yogyakarta: PT. Remaja Rosdakarya.

Hopkins, D. (2011). Panduan guru penelitian tindakan kelas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2011). Pedoman penyusunan kurikulum

tingkat satuan pendidikan di sekolah dasar. Jakarta: Kementerian

Pendidikan Nasional.

Kementerian Pendidikan Nasional. (2011). Standar kompetensi dan kompetensi

dasar sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah kelas V. Jakarta: Kementrian

Pendidikan Nasional.

Kosasih, E. (2012). Dasar-dasar keterampilan bersastra. Bandung: Yrama Widya.

Kunandar. (2012). Langkah mudah penelitian tindakan kelas sebagai

pengembangan profesi guru. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

Kurniawan, H. (2013). Sastra anak dalam kajian strukturalisme, sosiologi,

semiotika, hingga penulisan kreatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Lyesmaya, D. (2013). Pendekatan proyek dalam pembelajaran menulis laporan pengamatan sebagai upaya menumbuhkembangkan nilai (karakter). Jurnal

Pedagogik Pendidikan Dasar, 1 (1), hlm. 39-58.

Meier, D. (2004). The accelerated learning handbook: Panduan kreatif dan efektif

merancang program pendidikan dan pelatihan. Bandung: Kaifa, PT Mizan

Pustaka.

Milawati, T. (2011). Peningkatan kemampuan anak memahami drama dan menulis teks drama melalui model pembelajaran somatis suditori visual intelektual (SAVI). Jurnal Edisi Khusus No. 2, hlm. 70-78.

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Mulyani, S. dkk. (2010). Pembelajaran apresiasi drama di sekolah dasar. [Online]. Tersedia di: http://www.scribd.com/doc/113656244/Makalah-Pengajaran-Drama Diakses 20 Juli 2014.

Ngalimun. (2013). Strategi dan model pembelajaran. Kalimantan Selatan: Scripta Cendekia.

Nurgiyantoro, B. (2001). Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. Yogyakarta: BPFE.

Nurgiyantoro, B. (2013). Sastra anak. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Rahmanto, B. (1988). Metode pengajaran sastra. Yogyakarta: Kanisius.

Rendra. (1989). Tentang bermain drama. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.

Rendra. (2013). Seni drama untuk remaja. Bandung: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Riani, I. (2013). Penggunaan alat peraga akuarium bilbul untuk meningkatkan

pemahaman konsep bilangan bulat pada mata pelajaran matematika kelas IV sekolah dasar (penelitian tindakan kelas di SD negeri bukanagara kelas IV semester 2 tahun ajaran 2012/2013 kecamatan lembang kabupaten bandung barat). (Skripsi). Program Studi PGSD Bumi Siliwangi FIP,

Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Rose, C. & Nicholl, M.J. (2002). Cara belajar cepat abad XXI. Bandung: Nuansa.

Rusman. (2011). Model-model pembelajaran mengembangkan profesionalisme

guru. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Rusyana, Y. (1984). Bahasa dan sastra dalam gamitan pendidikan. Bandung: CV. Diponegoro.

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Sanjaya, W. (2011). Penelitian tindakan kelas. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sekarningsih, F. & Rohayani, H. (2006). Pendidikan seni tari dan drama. Bandung: UPI PRESS.

Semi, A. (2012). Metode penelitian sastra. Bandung: CV Angkasa.

Sudjana, N. (2013). Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Sufanti, M. (2010). Strategi pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Surakarta: Yuma Pustaka.

Sugiyono. (2010). Memahami penelitian kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. (2012). Metode penelitian kombinasi (mixed methods). Bandung: Alfabeta

Sugiyono. (2013). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. (2013). Metode penelitian pendidikan tindakan kelas. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Sukmawati, D. (2013). Penerapan model concept sentence untuk meningkatkan

hasil belajar menulis karangan narasi siswa kelas IV sekolah dasar negeri 2 cibodas kabupaten bandung barat. (Skripsi). Program Studi PGSD Bumi

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Tanpa nama (2011). Kelebihan dan kelemahan model savi. [Online]. Tersedia di: http://goez17.wordpress.com/2011/11/23/pendekatan-savi/ Diakses 24 September 2013.

Tarigan, H.G. (2011). Dasar-dasar psikosastra. Bandung: Angkasa.

Tarigan, H.G. (2011). Prinsip-prinsip dasar sastra. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. (2013). Sastra dan ilmu sastra. Bandung: PT. Dunia Pustaka Jaya.

Toha, R.K. & Sarumpaet (2010). Pedoman penelitian sastra anak. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.

Waluyo, H.J. (2002). Drama teori dan pengajarannya. Yogyakarta: PT. Hanindita Graha Widya.

Wiriaatmadja, R. (2012). Metode penelitian tindakan kelas. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

WS., H. (1996). Drama karya dalam dua dimensi kajian teori, sejarah dan

analisis. Bandung: Angkasa.

Wulandari, R.T. (2013). Efektivitas model somatis, auditori, visual, dan

intelektual (SAVI) dalam pembelajaran menulis karangan narasi: penelitian eksperimen semu pada siswa kelas X SMA negeri 3 cimahi tahun ajaran 2012/2013. (Skripsi). FPBS, Universitas Pendidikan

Indonesia, Bandung.

Zulela. (2012). Pembelajaran bahasa indonesia apresiasi sastra di sekolah dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Ajeng Haryatisari, 2014

Implementasi model SAVI (Somatis Auditori Visual Intelektual) untuk meningkatkan kemampuan bermain drama siswa sekolah dasar

Dokumen terkait