• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN REKOMENDAS

C. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan dan implikasi di atas, peneliti mengajukan rekomendasi berupa (1) sebuah kerangka penguatan peran kepala sekolah dalam Organisasi Pembelajar untuk mewujudkan sekolah efektif dan (2) saran bagi Dinas Pendidikan Kab./Kota, Dinas Pendidikan Provinsi, dan Kementerian Pendidikan Nasional bahwa urusan birokrasi kepala sekolah perlu dipetakan secara menyeluruh sehingga dapat diambil suatu ide/solusi untuk lebih menyibukkan kepala sekolah dalam urusan professional sebagai pemimpin sekolah yang berperan sebagai desainer, guru, dan pelayan dalam organisasi pembelajar. (3) saran bagi peneliti lainnya untuk melakukan penelitian pada peran kepala sekolah yang belum diteliti.

210

1. Beberapa Catatan Penting dari Hasil Penelitian

a. Hasil uji kecenderungan pada dimensi-dimensi peran kepala sekolah sebagai desainer dalam OP menunjukkan kondisi rendah dan sedang. Karena itu penguatan kemampuan Kepala SMA dalam mendesain Organisasi Pembelajar menjadi teramat penting untuk dilakukan di Kabupaten Indramayu.

b. Intensitas perilaku kepala sekolah yang mencerminkan perannya sebagai guru dalam OP pada lokasi penelitian ada dalam kategori intensitas yang rendah atau jarang terjadi. Dan intensitas perilaku kepala sekolah dalam mewujudkan karakteristik sekolah efektif berada pada kategori sedang. Perilaku kepala sekolah dalam penyelenggaraan SMA berdasarkan penilaian warga sekolah menunjukkan jarangnya kepala sekolah mendefinisikan realitas yang dihadapi oleh sekolah secara tepat dan jarangnya kepala sekolah membina guru dan warga sekolah lainnya untuk berpikir secara sistematis dan sistemik dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

c. Peran Kepala Sekolah sebagai Pelayan dalam OP, dari hasil uji rerata menunjukkan sedang. Artinya intensitas keberlangsungan perilaku kepala sekolah dalam memerankan pelayan dalam OP dikategorikan sedang.

2. Hal-hal yang Perlu Dipecahkan

211

kepala sekolah dalam: (1) membuat kebijakan sekolah untuk mewujudkan sekolah efektif melalui Organisasi Pembelajar, (2) membuat strategi untuk mewujudkan sekolah efektif melalui aplikasi Organisasi Pembelajar, dan (3) membuat sistem yang memadai dan kondusif untuk mewujudkan sekolah efektif melalui Organisasi Pembelajar.

b. Kepala sekolah dalam perannya sebagai guru dalam OP perlu untuk memandang bahwa realitas dan masalah yang dialami oleh sekolah adalah suatu kondisi yang harus dicari pemecahannya untuk mencapai tujuan sekolah. Kepala sekolah perlu untuk diberikan pemahaman bahwa apa yang dia persepsikan tentang realitas yang dihadapi oleh sekolah dan masalah yang dihadapi oleh institusi akan mempengaruhi bagaimana warga sekolah berperilaku. Demikian halnya dengan intensitas kepala sekolah dalam mengarahkan warga sekolah untuk berpikir secara sistematis dan sistemik dalam melaksanakan tugas-tugas masing-masing akan mempengaruhi kemampuan warga sekolah dalam memecahkan masalah dari waktu ke waktu.

c. Kepala sekolah perlu untuk memulai perubahan sekolah menuju sekolah efektif dengan memberikan keteladanan kepada warga sekolah mengenai pencapaian komitmen bersama (warga sekolah). Artinya Organisasi Pembelajar pada suatu lembaga atau sekolah tidak akan pernah terwujud jika kepala sekolah tidak menjadi teladan bagi warga sekolah dalam hal komitmen terhadap pencapaian tujuan sekolah. Sistem birokrasi yang

212

terbangun sejak lama ikut mempengaruhi peran kepala sekolah sebagai pelayan dalam OP. Dalam kacamata OP, perwujudan sekolah efektif akan terjadi manakala kepala sekolah memberikan peluang kepada para guru untuk merancang dan melakukan penelitian tindakan dalam pelaksanaan tugasnya, walupun hasil yang didapatnya tidak memuaskan. Kondisi ini perlu untuk diciptakan senyaman mungkin bagi warga sekolah, yakni iklim yang terbuka, mempromosikan pengambilan resiko, dan menghindarkan rasa takut gagal.

3. Desain Kerangka Pemecahan Masalah Perwujudan Sekolah Efektif

Melalui Peran Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar

Untuk memecahkan masalah di atas (point 2) perlu dikembangkan suatu kerangka penguatan bagi kepala sekolah untuk mewujudkan sekolah efektif. Kerangka kerja pemecahan masalah di atas dapat dilihat ilustrasi gambar dibawah ini :

213

Gambar 5.5. Kerangka Kerja Pemecahan Masalah Perwujudan Sekolah Efektif

Kerangka di atas menunjukkan bahwa temuan penelitian menunjukkan sekolah-sekolah yang diteliti memiliki intensitas perilaku kepala sekolah yang masih kurang inten dalam hal implementasi perannya sebagai Desainer dalam OP, Guru dalam OP, dan Pelayan dalam OP. Untuk itu, selain penguatan ketiga peran tersebut untuk mewujudkan sekolah efektif, perlu dikembangkan keteladanan kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah, pembangunan iklim yang terbuka, promosi pengambilan resiko, menghindari rasa takut gagal. Dalam gambar di atas, hal-hal yang harus diperkuat diberi warna hitam yang berada di samping kiri dan kanan.

Berdasarkan kerangka kerja di atas, maka untuk mewujudkan sekolah KETELADANAN KEPALA SEKOLAH IKLIM YANG TERBUKA PROMOSI PENGAMBI- LAN RESIKO HINDARI RASA TAKUT GAGAL

ORGANISASI PEMBELAJAR DI SEKOLAH UNTUK MEWUJUDKAN

SEKOLAH EFEKTIF PENGUATAN KEPALA SEKOLAH UNTUK MEWUJUDKAN SEKOLAH EFEKTIF MELALUI OP Prestasi Akademik meningkat 1 2 3 4 5 6 PENGUATAN KS SBG DESAINER OP PENGUATAN KEPALA SEKOLAH SBG GURU OP PENGUATAN KEPALA SEKOLAH SBG PELAYAN OP

214

efektif, perlu adanya tindakan penguatan peran kepala sekolah dalam hal (1) Perilaku kepala sekolah yang teladan, (2) Penciptaan iklim sekolah yang terbuka, (3) Promosi pengambilan resiko dalam mengelola sekolah, dan (4) Penghindaran rasa takut gagal untuk melakukan suatu hal yang baru dalam merespon tupoksi sebagai warga sekolah. hal ini menjadi perlu bagi kepala sekolah untuk mewujudkan sekolah efektif melalui program penguatan kapasitas peran kepala sekolah dalam Organisasi Pembelajar.

215

DAFTAR PUSTAKA

Aadne, J.H., von Krogh, G., and Roos, J., ‘Representationism: the traditional approach to cooperative strategies”, Chapter 1 in von Krogh, G., and Roos, J., (eds), Managing knowledge. Perspectives on cooperation and

competition, (London, Sage, 1996).

Ary, Donald. 1982. Alih bahasa oleh Arif Furchan. Pengantar Penelitian Dalam

Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.

Athik Illa Qurroti. 2009. Upaya Kepemimpinan Transformasional Menuju

Sekolah Efektif; Studi Kasus di MTs Surya Buana Malang. (Tesis PPS

Universitas Negeri Malang). Tersedia online: http://karya- ilmiah.um.ac.id/index.php/disertasi/article/view/1534 05 Januari 2010 Bennett, N., Crawford, M., and Riches, C. 1992. Managing Change in Education

and Organizational Perspective. London: The Open University – Paul

Chapman Publishing Ltd.

Brennen, Annick M. 2001. A Comprehensive Paper on Staff Development. Online: http://www.soencouragement.org/comprehensive-paper-on-staff- developmemt.htm. 15 Januari 2010.

Burhan Bungin. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Prenada Media.

Davenport & Prusak, 1998; Rosset, 1999; yang dikutif oleh Noe, Colquitt, Simmering, and Alvarez, 2003, Knowledge Management Developing

Intellectual and Social Capital. Dalam Buku: Managing Knowledge for Sustained competitive Advantage: Designing Strategies for Effective Human Resources Management. Jossey Bass: John Wiley & Sons, Inc

Direktorat Mandikdasmen Depdiknas RI. 2006. Arah Pengembangan

Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.

Dessler, Garry. 1978. Organizational and Management: A Contingency

Approach. Englewood Cliffs New York: Prentice Hall.

Dierkes, Meinolf., Antal, Ariane, Berthoin., and Nonaka, Ikujiro. 2002.

Handbook of Organizational Learning and Knowledge. Great Britain:

216

Domingo, R.T. 1997. Quality Means Survival: Caveat Vendidor, Let The Seller

Beware. Singapore: Simon and Schuster (Asia) Pte. Ltd.

Esmahan Agaoglu. The Reflection of the Learning Organization Concept to

School of Education. (Turkish Online Journal of Distance Education-

TOJDE January 2006 ISSN 1302-6488 Volume: 7 Number: 1 Article: 12.) Fasli Jalal, Makalah Seminar Pendidikan Kejuruan di Universitas Negeri

Gorontalo (27 Februari 2006: 4).

Gourlay, Stephen., 2002, Tacit Knowledge, tacit knowing or behaving. UK. [online]:

http://www.alba.edu.gr/OKLC2002/Proceedings/pdf_files/ID269.pdf. Halia Silins, Silja Zarins, & Bill Mulford. What characteristics and processes

define a school as a learning organisation? Is this a useful concept to apply to schools? (International Education Journal Vol 3, No 1, (2002). http://iej.cjb.net.)

Hallinger, Philip., dan Murphy, Joseph F. 1986. The Social Context of Effective

Schools. The University of Chicago Press: American Journal of

Education, Vol. 94, No. 3, (May, 1986), pp. 328-355.

Hersey, Paul., and Blanchard, Kenneth H. 1992. Management Organizational

Behavior. Utilizing Home Recources, Englewood Cliffs, New Jersey:

Prentice Hall.

Hoy, Wayne and Miskel, Cecil G. 1978. Educational Administration: Theory,

research and Practice. New York: Ramdone House.

Infed. (2001). Peter Senge and The Learning Organization. Tersedia online: http://www.infed.org/thinkers/senge.htm. [Maret 2010].

Iqbal Hasan M. 2002, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan

Aplikasinya, Jakarta: Ghalia Indonesia

Jackson, Susan E., Hitt, Michael A., Denisi, Angelo S. (2003). Managing Knowledge for Sustained Competitive Advantage: Designing Strategies for Effective Human Resources Management. San Fransisco: Jossey-Bass. Jaedun, Amat. 2009. Pengembangan Model Indikator Kinerja Sekolah Efektif

Jenjang SMP (Disertasi pada Program Pasca Sarjana UNY).

http://pps.uny.ac.id/index.php?pilih=pustaka&mod=yes&aksi=lihat&id=9 5. 22 Desember 2009.

217

Jansen., Jonathan D., 1995. School Effective?. Tersedia online: www.jstor.org/stable/3099646. 22 Desember 2009.

Kast, Fremont E. and Rosenzweig. 1982. Organization and Management. Alih bahasa Yasin, Jakarta: Bina Aksara.

Komariah. Aan. Pengaruh Visionary Leadership dan Budaya Sekolah Terhadap

Efektifitas Sekolah di Era Desentralisasi Pada SMAN di Lingkungan Dinas Pendidikan Kota Propinsi Jawa Barat. (Disertasi – SPS UPI.

2005)

Leksana TH. 2004. Learning organization. Jakarta: Strategic Solution Center. Mark K. Smith. The Learning Organization. (Tersedia online:http://www.infed.o

rg/biblio/learning-organization.htm, 10 May 2008).

Nasihin, Sukarti., Rosmiaty, Tatty., dan Mulyati, Yati Siti. 2008. Mewujudkan

Budaya Sekolah Melalui Visionary Leadership Untuk Mencapai Sekolah Efektif (Suatu Studi tentang Pengaruh Visioary Leadership Kepala Sekolah Wanita dan Budaya Sekolah Efektif di Era Desentralisasi Pada Sekolah Menengah Pertama Negeri di Lingkungan

Dinas Pendidikan Kota

Bandung). Tesedia online: www.lppm.upi.edu/penelitian/.../Sukarti%20N asihin%20(FIP)%20SKW.doc

Nasution, M.N. 2005. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta: Ghalia Indonesia. Natawijaya, R. 2002. Struktur Profesi Kependidikan. Bandung: UPI.

Nimran, Umar. 1999. Perilaku Organisasi. Surabaya: Citra Media.

Nonaka, I., Toyama, R., Byosiere, P. A theory of organization knowledge

creation: understanding the dynamic process of creating knowledge, in

Dierkes, M., Antal, A.B., Child, J., Nonaka, I. (Eds), Handbook of

Organizational Learning and Knowledge, (Oxford University Press,

Oxford, 2003).

Office of School Education Department of Education & Training. 2005. Professional Learning in Effective Schools: The Seven Principles of Highly Effective Professional Learning. Melbourne: Department of

Education & Training.

Puspendik. 2009. Laporan Hasil Wilayah 2008/2009. Tersedia online: http://puspendik.info/un09/laphasil/index.html. [22 Desember 2009].

218

Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional 2005-2009

Ridwan. 2008. Sekolah Efektif. Tersedia online:

http://ridwan202.wordpress.com/2008/10/16/sekolah-efektif/ 22 Desember 2009

Rosenholtz. 1989. Teacher’s Workplace: The Social Organization of Schools. New York: Longman.

Sallis, Edgar. 1993. Total Quality Management in Education. Philadelphia – London: Kogan Page Limited.

Sammons, P., Hillman, J. and Mortimore, P. (1995a) Key Characteristics of

Effective Schools: A review of school effectiveness research A report by

the Institute of Education for the Office for Standards in Education.

Senge Peter M. Disiplin Kelima. Seni dan Praktek Dari Organisasi Pembelajar. Alih Bahasa: Nunuk Adiarni. (Bina Rupa Aksara, Jakarta Barat,1996 Terjemahan dari: Fifth Discipline.)

Sergiovanni, T.J. dan R.J. Starrat. 1979. Supervision: Human Perspective. New York: McGraw-Hill Book Company

Slamento Margono. 1996. Filsafat dan Prinsip-prinsip Manajemen Mutu

terpadu di Perguruan Tinggi. Jakarta: Heds Project.

Smith, P.C., Kendall, L.M., and Huli, C.L. 1969. Measurement of Satisfaction in

Work and Retirement: A Strategy for Study of Attitude. Chicago, Illionis:

Rud Mertally & Company.

Taylor, Barbara M., Pearson, P. David., Peterson, Debra., dan Rodriguez, Michael C. The CIERA School Change Project: Supporting Schools as

They Implement Home-Grown Reading Reform. Tersedia Online:

http://www.ciera.org/library/reports/inquiry-2/2-016/2-016h.html. 05

Januari 2010.

Timpe A.D. 1993. Kinerja. Jakarta: Gramedia

Ukat, Joni. 2008. Konsep Sekolah Efektif. Tersedia online:

http://www.timorexpress.com/index.php?act=news&nid=25689 22

219

Wahyuningsih, Indra. 2008. Pengertian Sekolah Efektif. Tersedia online: http://manajemensekolah.teknodik.net/?p=76 22 Desember 2009

Wexley, K.N and Yukl, G.A. 1977. Organizational Behavior and Personal

Psychology. Homewood – Illionis: Richard D Irwin Inc.

Wilson, G. Kenneth and Davis, Bennet. 1994. Redesigning Education. New York: Henry Holt and Company.

Woodring, P. 1975. The Development of Teacher education in K. Ryan (ed).

Teacher Education: The Seventy Fourth yearbook of The National Society for A Study of Education. Chicago: The University of Chicago

Dokumen terkait