KHM KONSUMSI SEBULAN KHM MUTU JENISI KHL KONSUMSI SEBULAN KHL 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Beras Sumberkarbohidrat The Kopi Sewa Runah Tempat Tidur Kasur danBantal Meja danKursi Kw sedang Kw sedang Kw sedang Kw sedang Type 21 Nomor 3polos Kain strip KwSedang 12 Kg 6 Kg 0,3 Kg 0,5 Kg 1/12 1/36 1/24 1/36 Kw sedang Kw sedang Teh celup 4 Bungkus @75 Gram Kamar Sederhana Busa KwSedang 10 Kg 3 Kg 25 Buah 300 Gram 1 Bulan 1/48 1/48 1/48 49
Laporan Survei DPP GSBI tentang kualitas KHL dalam Permenaker No.17 tahun 2005
9. 10. Gelas Minum Bohlam KwSedang Philips 30 Watt / 25 4/12 6/12 KwSedang 25 Watt/15 3/12 6/12
Istilah KHL terlihat secara jelas sisi manipulatifnya. Sebab, upah minimum sifatnya adalah jaring pengaman yang seharusnya merupakan bentuk perlindungan dasar kepada buruh, yang upahnya sangat rentan berhadapan dengan pasar tenaga kerja serta kenaikan rata-rata harga barang dan jasa. Maka, pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang meliputi kebutuhan fisik, non-fisik, maupun sosial, haruslah dijamin oleh pemerintah sebagai standar kualitas hidup buruh. Jadi meskipun sudah berdasarkan KHL dalam penetapan upah, namun secara kualitas tidak mengalami perubahan, dan hal itu sama sekali tidak membawa perubahan terhadap peningkatan atau perbaikan kesejahteraan kaum buruh. Ini karena perubahan tersebut tidak menyentuh substansi, tetapi hanya bersifat formal. Hanya sekedar berubah nama saja. Upah buruh tetaplah murah. Itu semua terjadi karena rezim yang berkuasa dari dulu hingga sekarang adalah skema politik upah murah. Perubahan kebijakan di tataran regulasi hanya untuk memperhalus praktek politik upah murah di Indonesia.
Kemudian dalam survei harga yang dilakukan oleh tim yang terdiri dari unsur tripartit (buruh, pengusaha dan pemerintah) di Dewan Pengupahan, tidak berdasar pada situasi objektif, Sebab, pemilihan atas Waktu dan Tempat survei, nyatanya memiliki persoalan tersendiri pula. Survei yang menjadi dasar penetapan nilai KHL, dilakukan pada saat situasi harga dan pasokan masih stabil, yaitu di sekitar pertengahan tahun. Tetapi, lonjakan kenaikan harga secara umum malahan terjadi di penghujung tahun (khususnya di 3 bulan terakhir penghujung tahun). Hal itulah yang menjadi selubung dari dasar alasan mengapa Upah Minimum Provinsi selambat-lambatnya harus ditetapkan 60 hari sebelum tanggal berlakunya upah minimum (yaitu setiap tanggal 1 Januari) dan upah minimum
Kota/Kabupaten adalah 40 hari sebelumnya. Penentuan waktu survei itu, secara gamblang menggambarkan bahwa berapapun kenaikan upah minimum buruh tentunya akan terlibas dengan laju kenaikan harga-harga kebutuhan pokok tahun berikutnya.
Begitu juga dengan tempat survei yang dipilih di pasar-pasar induk atau tradisional, yang tentu saja harganya akan jauh lebih rendah dari harga di tingkat retail, dimana rantai perdagangannya masih pendek. Padahal kenyataannya buruh selama ini berbelanja barang di toko-toko kelontong serta di warung-warung yang berada di sekitar perkampungannya! Dimana harganya sudah jauh melambung disebabkan panjangnya rantai perdagangan. Artinya, dengan dasar komponen barang survei yang terbatas dan itupun kuantitas serta kualitasnya rendah, penentuan waktu serta tempat survei semakin menenggelamkan hasil dari nilai KHL yang akan dicapai.
Tabel 2.5
Upah Minimum Provinsi Tahun 2005-2011 Berdasarkan Permenaker
No.17 tahun 200550 Propinsi 2005 (Rp) 2006 (Rp) 2007 (Rp) 2008 (Rp) 2009 (Rp) 2010 (Rp) 2011 (Rp) Aceh 620,0 820,0 850,0 1.000,0 1.200,0 1.300,0 1.350,0 Sumatera Utara 600,0 737,8 761,0 822,2 905,0 965,0 1.035,5 Sumatera Barat 540,0 650,0 750,0 800,0 880,0 950,0 1.055,0 Riau 551,5 637,0 710,0 800,0 901,6 1.016,0 1.120,0 Jambi 485,0 563,0 658,0 724,0 800,0 900,0 1.028,0 Sumatera Selatan 503,7 604,0 753,0 743,0 824,7 927,8 1.048,4 Bengkulu 430,0 516,0 644,8 683,5 728,0 780,0 815,0 Lampung 405,0 505,0 555,0 617,0 691,0 767,5 855,0 Bangka Belitung 560,0 640,0 830,0 813,0 850,0 910,0 1.024,0 50
“Perkembangan Upah Minimum Regional/Propinsi di Seluruh Indonesia 1997-2014 (Dalam Ribuan Rupiah)” diakses dari https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1427 pada tanggal 5 Oktober 2016 pada pukul 3:51 Wib
Kepri 557,0 760,0 805,0 833,0 892,0 925,0 975,0 DKI Jakarta 711,8 819,1 816,1 972,6 1.069,9 1.118,0 1.290,0 Jawa Barat 408,3 447,7 447,7 568,2 628,2 671,5 732,0 Jawa Tengah 390,0 450,0 500,0 547,0 575,0 660,0 675,0 DI Yogyakarta 400,0 460,0 460,0 586,0 700,0 745,7 808,0 Jawa Timur 340,0 390,0 448,5 500,0 570,0 630,0 705,0 Banten 585,0 661,6 661,6 837,0 917,5 955,3 1.000,0 Bali 447,5 510,0 622,0 682,7 760,0 829,3 890,0 NTB 475,0 550,0 550,0 730,0 832,5 890,8 950,0 NTT 450,0 550,0 600,0 650,0 725,0 800,0 850,0 Kalimantan Barat 445,2 512,0 560,0 645,0 705,0 741,0 802,5 Kalimantan Tengah 523,7 634,3 666,0 765,9 873,1 986,5 1.134,6 Kalimantan Selatan 536,3 629,0 745,0 825,0 930,0 1.024,5 1.126,0 Kalimantan Timur 600,0 684,0 766,5 815,0 955,0 1.002,0 1.084,0 Sulawesi Utara 600,0 713,5 750,0 845,0 929,5 990,0 1.050,0 Sulawesi Tengah 490,0 575,0 615,0 670,0 720,0 777,5 827,5 Sulawesi Selatan 510,0 612,0 673,2 740,5 905,0 1.000,0 1.100,0 Sulawesi Tenggara 498,6 573,4 640,0 700,0 770,0 860,0 930,0 Gorontalo 435,0 527,0 560,0 600,0 675,0 710,0 762,5
Sulawesi Barat n.a 612,0 691,5 760,5 909,4 944,2 1.006,0
Maluku 500,0 575,0 635,0 700,0 775,0 840,0 900,0
Maluku Utara 440,0 528,0 660,0 700,0 770,0 847,0 889,4
Papua Barat n.a n.a n.a n.a n.a 1.210,0 1.410,0
Papua 700,0 822,5 987,0 1.105,5 1.216,0 1.316,5 1.403,0
RATA-RATA
INDONESIA 507,7 602,2 667,9 743,2 830,7 908,8 988,8
.*n.a = belum menggunakan standart upah minimum
Pada hakikatnya, survei harga barang dan jasa sebagai dasar penetapan nilai KHL telah mewakili akan inflasi itu sendiri. Tetapi, dengan dasar konsepsi
kebutuhan hidup buruh yang sangat bermasalah (yang katanya “layak” itu), dimana komponen barang yang di survei sangat terbatas ditambah dengan kuantitas serta kualitas barang yang rendah, ditambah lagi dengan penentuan waktu serta tempat survei yang juga bermasalah, tentu saja nilai KHL yang dihasilkan tidak akan dapat mewakili inflasi yang ada. Itupun, nilai KHL yang dihasilkan ternyata merupakan salah satu bahan pertimbangan! Sangat bertubi-tubi dan sistematis upaya untuk menjaga upah minimum buruh agar tetap rendah. Karena, jangankan upah minimum yang tidak sesuai KHL, yang sesuai KHL sekalipun sudah rendah dan bermasalah.
Kemudian permenaker no.17 tahun 2005 direvisi untuk penyesuaian karena dinilai sudah tidak lagi relevan dengan kondisi di lapangan maka di susunlah permen no 13 tahun 2012 yang esensinya malah lebih buruk daripada permen no 17 tahun 2005 bisa dilihat dalam permen no 13 tahun 2012 KHL di artikan sebagai Kebutuhan hidup layak yang selanjutnya disingkat KHL adalah standar kebutuhan seorang pekerja/buruh lajang untuk dapat hidup layak secara fisik untuk kebutuhan 1 (satu) bulan. Dapat disimpulkan dari pengertian KHL di tiap permen berbeda secara substansial permenaker no 13 tahun 2012 justru memangkas kebutuhan buruh, karena tidak lagi ditanggung kebutuhan non fisiknya dan kebutuhan sosialnya.
KHL sebagai dasar dalam penetapan upah minimum merupakan peningkatan dari kebutuhan hidup minimum (KHM) yang besarnya diperoleh melalui survei harga. Survei harga dilakukan oleh tim yang terdiri dari unsur tripartit yang dibentuk oleh ketua dewan pengupahan propinsi dan/atau kabupaten/kota. Dewan pengupahan propinsi atau kabupaten/kota adalah suatu lembaga non struktural yang bersifat tripartit, dibentuk oleh Gubernur/Bupati/ Walikota dan bertugas memberikan saran serta pertimbangan kepada Gubernur/Bupati/Walikota dalam penetapan upah minimum.
Secara sistematis mekanisme proses penetapan Upah Minimum berdasarkan standar komponen hidup layak (KHL) adalah sebagai berikut :
Ketua Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota membentuk tim survey yang anggotanya terdiri dari unsur tripartit: perwakilan serikat pekerja, pengusaha, pemerintah, dan pihak netral dari akademisi.
Standar KHL ditetapkan dalam Kepmen No. 13 tahun 2012, berdasarkan standar tersebut, tim survey Dewan Pengupahan melakukan survey harga untuk menentukan nilai harga KHL yang nantinya akan diserahkan kepada Gubernur Provinsi masing-masing.
Survey dilakukan setiap satu bulan sekali dari bulan Januari s/d September , sedang untuk bulan Oktober s/d Desember dilakukan prediksi dengan membuat metode least square. Hasil survey tiap bulan tersebut kemudian diambil rata-ratanya untuk mendapat nilai KHL.
Nilai KHL ini akan digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam penetapan upah minimum yang berlaku bagi pekerja/buruh dengan masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun. Upah bagi pekerja dengan masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih dirundingkan secara bipartit antara pekerja atau serikat pekerja dengan pengusaha di perusahaan yang bersangkutan.
Berdasarkan nilai harga survey tersebut, Dewan Pengupahan juga mempertimbangkan faktor lain : produktivitas, pertumbuhan ekonomi, usaha yang paling tidak mampu, kondisi pasar kerja dan saran/pertimbangan dari Dewan Pengupahan Provinsi, kabupaten/kota. Gubernur nantinya akan menetapkan besaran nilai upah minimum.
Penetapan Upah Minimum ini dilakukan 60 hari sebelum tanggal berlakunya yaitu setiap tanggal 1 Januari.
Kemudian dilakukan penyesuaian dengan perkembangan kebutuhan buruh dengan menambahkan 14 komponen menjadi 60 komponen yakni sebagai berikut :
Dalam Sebulan Dengan 3.000 K Kalori Per Hari51
NO
KOMPONEN DAN JENIS KEBUTUHAN KUALITAS/ JUMLAH SATUAN HARGA SATUAN NILAI SEBULAN KRITERIA KEBUTUH AN (Rp) (Rp)
I. MAKANAN DAN MINUMAN
1 Beras Sedang 10.00 Kg
2 Sumber Protein :
a. Daging Sedang 0.75 Kg
b. Ikan Segar Baik 1.20 Kg
c. Telur ayam Telur ayam ras 1.00 Kg 3 Kacang-kacangan :
Tempe/tahu Baik 4.50 Kg
4 Susu bubuk Sedang 0.90 Kg
5 Gula pasir Sedang 3.00 Kg
6 Minyak goreng Curah 2.00 Kg
7 Sayuran Baik 7.20 Kg
8 Buah-buahan (setara pisang/pepaya) Baik 7.50 Kg 9 Karbohidrat lain (setara tepung terigu) Sedang 3.00 Kg
10 Teh atau Celup 1.00 Dus isi 25
Kopi Sachet 4.00 75 gr
11 Bumbu-bumbuan (nilai 1 s/d 10) 15.00 % JUMLAH
II. SANDANG
12 Celana panjang/rok/Pakaian Muslim katun Sedang 6/12 Potong 13 Celana pendek katun sedang 2/12 potong 14 Ikat Pinggang
Kulit sintetis,
Polos, 1/12 Buah Tidak Branded
15 Kemeja lengan pendek/blus setara katun 6/12 Potong 16 Kaos oblong /BH Sedang 6/12 Potong
17 Celana dalam Sedang 6/12 Potong
18 Sarung/kain panjang Sedang 3/24 Helai 19 Sepatu kulit sintetis 2/12 Pasang
51
20 Kaos Kaki Katun,Polyester, 4/12 Pasang Polos, Sedang
21 Perlengkapan pembersih sepatu :
a. Semir Sepatu Sedang 6/12 Buah
b. Sikat Sepatu Sedang 1/12 Buah
22 Sandal jepit Karet 2/12 Pasang
23 Handuk mandi 100 cm x 60 cm 1/12 Potong 24 Perlengkapan Ibadah :
a. Sajadah Sedang 1/12 Potong
b. Mukenah Sedang 1/12 Potong
c. Peci, dll Sedang 1/12 Potong
JUMLAH
III. PERUMAHAN
25 Sewa kamar dapat menampung 1.00 Bulan jenis KHL
lainnya
26 Dipan/tempat tidur No.3, polos 1/48 Buah 27 Perlengkapan tidur :
a. Kasur Busa Busa 1/48 Buah
b. Bantal Busa Busa 2/36 Buah
28 Seprei dan sarung bantal Katun 2/12 Set 29 Meja dan kursi 1 meja/4 kursi 1/48 Set 30 Lemari pakaian Kayu Sedang 1/48 Buah
31 Sapu Ijuk Sedang 2/12 Buah
32 Perlengkapan makan :
a. Piring makan Polos 3/12 Buah
b. Gelas minum Polos 3/12 Buah
c. Sendok dan garpu Sedang 3/12 Pasang 33 Ceret almunium ukuran 25cm 1/24 Buah 34 Wajan almunium ukuran 32cm 1/24 Buah 35 Panci almunium ukuran 32cm 2/12 Buah
36 Sendok masak almunium 1/12 Buah
37 Rice Cooker ukuran 1/2 liter 350 watt 1/48 Buah 38 Kompor dan Perlengkapannya :
b. Selang dan regulator SNI 1/24 Set c. Tabung Gas 3 kg Pertamina 1/60 Buah
39 Gas Elpiji @ 3 kg 2.00 tabung
40 Ember plastik isi 20 liter 2/12 Buah
41 Gayung Plastik Sedang 1/12 Buah
42 Listrik 900 watt 1.00 Bulan
43 Bola Lampu hemat energi 14 watt 3/12 Buah
44 Air bersih standar PAM 2.00
Meter Kubik 45 Sabun cuci pakaian cream/ 1.50 Kg
Deterjen
46 Sabun cuci piring (colek) 500 gr 1.00 buah
47 Seterika 250 Watt 1/48 buah
48 Rak Piring Portable plastik Sedang 1/24 buah
49 Pisau dapur Sedang 1/36 buah
50 Cermin 30 x 50 cm 1/36 Buah
JUMLAH
IV. PENDIDIKAN
51 Bacaan/ Tabloid/ 4 atau Eks atau
Radio 4 band 1/48 buah
52 Ballpoint/pensil Sedang 6/12 buah JUMLAH
V. KESEHATAN 53 Sarana kesehatan :
a. Pasta gigi 80 gram 1.00 Tube
b. Sabun mandi 80 gram 2.00 Buah c. Sikat gigi produk lokal 3/12 Buah d. Shampoo produk lokal 1.00 Botol 100
ml e. Pembalut atau isi 10 1.00 Dus
alat cukur 1.00 set
54 Deodorant 100 ml/g 6/12 Botol
56 Potong rambut Ditukang 6/12 Kali cukur/salon
57 Sisir Biasa 2/12 Buah
JUMLAH
VI. TRANSPORTASI
58 Transport kerja dan lainnya Angkutan Umum 30 Hari (PP) JUMLAH
VII. REKREASI DAN TABUNGAN
59 Rekreasi daerah sekitar 2/12 Kali 60 Tabungan (2% dari nilai 1 s.d 59) 2 %
JUMLAH
JUMLAH (I + II + III + IV + V + VI + VII)
Dasar pijakan pengupahan di Indonesia terus berkembang dari waktu kewaktu, istilah penentuan upah juga terus berkembang tetapi esendinya tetap sama saja mulai dari kebutuhan fisik minumum (KFM), kebutuhan hidup minimum (KHM) hingga penentuan upah berdasarkan kebutuhan hidup layak (KHL). Untuk memahami tentang penetapan upah di Indonesia dapat kita telusuri di dalam perkembangan dasar penentuan upah yang bisa dilihat dari istilahnya, sudah sangat jelas bahwa penentuan upah di Indonesia adalah semangat dari politik upah murah yang sangat menempatkan upah sebagai kebijakan yang murah.
Hal ini dapat dilihat dan nyata dari semangatnya yaitu upah berdasarkan kebutuhan fisik minimum (KFM) dan upah berdasarkan kebutuhan hidup minimum (KHM) artinya bahwa buruh Indonesia hanya diperbolehkan hidup minimum untuk mempertahankan kehidupannya agar bisa bekerja, meskipun perkembangan berikutnya dasar penentuan upah ini menjadi kebutuhan hidup layak (KHL) tetapi pertanyaannya apakah kemudian dapat serta merta memberikan perubahan mendasar dari sistem kebijakan pengupahan di Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan buruh. Meskipun sudah berdasarkan KHL
namun perubahan tersebut tidak menyentuh substansi, tetapi hanya bersifat formal, hanya sekedar berubah nama saja upah buruh tetaplah murah, Dalam sistem pengupahan yang digariskan oleh kebijakan dari sistem pengupahan tersebut diatas bahwa perhitungan atas upah di Indonesia adalah standar kebutuhan hidup untuk kebutuhan hidup lajang, meskipun sudah ditentukan untuk kebutuhan hidup lajang masih terus dimanipulasi pada pelaksanaan teknis dalam penentuan upah.
Lebih lanjut pemerintah memang dengan sangat terang melakukan kampanye politik upah murah melalui kebijakan ini hal ini dapat dilihat pada daftar barang dan jasa yang menjadi panduan survei untuk menentukan upah yang diatur dalam lampiran Permen No. 13 tahun 2012 tentang komponen dan pelaksanaan tahapan pencapaian kebutuhan hidup layak. Meskipun dalam Permen 13 tahun 2012 ini terdapat perbedaan dari peraturan sebelumnya dengan adanya penambahan yang diatur dalam peraturan sebelumnya dari 46 komponen menjadi 60 komponen ini artinya ada 14 komponen yang ditambahkan. Tapi salah satu hal yang tidak pernah berubah dengan Permen n0.17 tahun 2005 adalah standar barang dan jasanya tidak pernah berubah kualitasnya sehingga peraturan ini dengan sangat jelas mengatakan bahwa buruh Indonesia, tidak boleh berkeluarga, buruh Indonesia tidak boleh tinggal ditempat yang lebih baik dan buruh di Indonesia juga tidak boleh memiliki rumah dan lain sebagainya semua barang dan jasa yang menjadi dasar perhitungan adalah barang dan jasa kelas 3 atau dalam lampiran tersebut disebutkan kualitas sedang.
Meskipun upah telah ditentukan oleh pemerintah dalam hal ini oleh Gubernur tetapi pergolakan upah terus berkembang dengan adanya penangguhan upah sebagaimana dengan Peraturan Menteri Tenagakerja No. 1 tahun 1999 tentang penangguhan pelaksanaan upah yang dilakukan oleh pengusaha sampai pada pengingkaran dengan sangat terang dipabrik-pabrik dimana para pengusaha tidak melaksanakan pembayaran upah berdasarkan ketentuan yang telah ditentukan oleh Gubernur dengan berbagai alasan, belum lagi dengan tidak
berjalanya aparat pemerintah dalam menjalankan fungsinya (pengawasan) diberbagai daerah dalam memastikan bahwa pengusaha menjalankan kebijakan pengupahan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2.2 Peraturan Pemerintah No.78 Tahun 2015
2.2.1 Lahirnya Peraturan Pemerintah No.78 Tahun 2015
Di tahun 2015 pemerintah secara beruntun telah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi I sampai V selama bulan September-Oktober 2015, pemerintah mentargetkan akan merombak 98 peraturan untuk menghilangkan duplikasi, memperkuat koherensi dan konsistensi untuk membuka keran seluas luasnya untuk para investor asing dalam menanamkan modalnya di Indonesia. Upaya ini dilakukan untuk mengatasi krisis nasional yang dibuktikan dengan melemahnya nilai rupiah sampai pada angka Rp13.000 per dolar. Hal ini sesuai dengan isi paket kebijakan ekonomi yang menyatakan bahwa pemerintah akan mendorong daya saing industri nasional melalui deregulasi, debirokratisasi, serta penegakan hukum dan kepastian usaha. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah dengan memberikan sebuah pelayanan kepada investor dalam bentuk skema pengupahan dibidang ketenagakerjaan, dimana hal ini akan menarik minat para investor karena adanya jaminan terhadap sistem pengupahan yang stabil dan rendah sebagai usaha untuk menjaga iklim investasi yang dicanangkan pemerintah.
Implementasi dari Paket Kebijakan Ekonomi IV terkait ketenagakerjaan, secara lebih khusus membahas tentang formulasi upah buruh. Fleksibilitas pasar tenaga kerja, upah buruh murah yang sudah berlaku di Indonesia dianggap masih belum cukup untuk menjawab kepentingan para investastor atas kepastian usaha di Indonesia. Sistem pengupahan yang berlaku dianggap oleh para Investor masih memberikan peluang besar untuk terjadinya gelombang demonstrasi buruh setiap tahun jelang kenaikan upah, dan dimata investor ini mengganggu iklim investasi. Oleh karenanya, tepat pada hari jumat 23 oktober Jokowi kemudian
menandatangani sebuah sistem pengupahan baru bernama PP No.78/2015 sebelum melakukan kunjungan kenegaraan ke Amerika Serikat. PP No.78 Tahun 2015diyakini memiliki peranan ganda, pertama menjaga kenaikan upah buruh relatif stabil, kedua melemahkan secara sistematis gerakan buruh yang berjuang atas perbaikan upahnya dengan menekankan pemerataan upah secara nasional dengan formulasi khusus. Salah satunya adalah digunakannya variabel angka inflasi nasional dan pertumbuhan ekonomi nasional sebagai variabel utama dalam perhitungan kenaikan upah minimum.
Terbitnya Peraturan Pemerintah No.78 tahun 2015 akan diikuti tujuh Peraturan Menteri Ketenagakerjaan yang akan dikeluarkan pemerintah yakni: Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang Formula Upah Minimum, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang Penetapan UMP/UMK, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang Penetapan UMS, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang Struktur Skala Upah, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang THR, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang Uang Service, Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Tentang KHL.
2.2.2 Tinjauan Kebijakan dalam Peraturan Pemerintah No.78 Tahun 201552
Dalam PP No.78 Tahun 2015 bab I ayati 1 dalam ketentuan umumnya yang dimaksud dengan upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Sementara pihak yang terlibat dalam hubungan kerja adalah buruh sebagai tenaga kerja dan pengusaha sebagai majikan. Pekerja/Buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Pengusaha adalah orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang menjalankan suatu perusahaan milik sendiri;orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan perusahaan bukan miliknya, atau orang perseorangan, persekutuan, atau badan hukum yang berada di Indonesia mewakili perusahaan yang berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
Untuk melihat hubungan kerja antara pengusaha dan buruh maka wadah tersebut adalah perusahaan. Dalam PP No.78 Tahun 2015 yang dimaksud dengan Perusahaan adalah setiap bentuk usaha yang berbadan hukum atau tidak, milik orang perseorangan, milik persekutuan, atau milik badan hukum, baik milik swasta maupun milik negara yang mempekerjakan pekerja/buruh dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain. Sementara defenisi lain dari perusahaan dalam kebijakan ini adalah adalah usaha-usaha sosial dan usaha-usaha lain yang mempunyai pengurus dan mempekerjakan orang lain dengan membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Sementara itu upah buruh akan timbul ketika ada hubungan kerja antara buruh/pekerja dengan pengusaha, dan berakhir ketika ada pemutusan hubungan kerja. Timbulnya hubungan kerja adalah akibat perjanjian kerja bersama yang disepakati oleh serikat buruh/pekerja yang terdaftar dalam instansi dengan pengusaha yang membahas seputar hak dan kewajiban kedua belah pihak. Peran pemerintah dalam hal ini mentri adalah selaku penyelenggara pemerintahan di bagian ketenagakerjaan. Sedangkan serikat Pekerja/Serikat Buruh adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh dan keluarganya yang didalamnya juga kan membahas seputar tingkat upah yang diterima pekerja.
Pada bab 2 pasal 3 dalam kebijakan ini dibahas mengenai kebijakan pengupahan baru secara umum yang dijelaskan sesuai dengan kategori dari upah
tersebut. Kebijakan pengupahan diarahkan untuk pencapaian penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi Pekerja/Buruh. Kebijakan pengupahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. Upah minimum. b. Upah kerja lembur.
c. Upah tidak masuk kerja karena berhalangan.
d. Upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di luar pekerjaannya.
e. Upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya. f. Bentuk dan cara pembayaran Upah.
g. Denda dan potongan Upah.
h. Hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan Upah. i. Struktur dan skala pengupahan yang proporsional. j. Upah untuk pembayaran pesangon; dan
k. Upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
Kebijakan pengupahan dalam PP No.78 Tahun 2015 diarahkan untuk penghasilan yang layak. Dijelasskan dalam bab ini penghasilan yang layak merupakan jumlah penerimaan atau pendapatan Pekerja/Buruh dari hasil pekerjaannya sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidup Pekerja/Buruh dan keluarganya secara wajar. Penghasilan yang layak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan dalam bentuk upah dan pendapatan non upah. Pada pasal 5 upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf a terdiri atas komponen:
Upah tanpa tunjangan;
Upah pokok dan tunjangan tetap; atau
Upah pokok, tunjangan tetap, dan tunjangan tidak tetap.
Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan tunjangan tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, besarnya upah pokok paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah upah pokok dan tunjangan tetap. Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok, tunjangan tetap, dan
tunjangan tidak tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, besarnya upah pokok paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Upah pokok dan tunjangan tetap.
Pendapatan non upah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) huruf b berupa tunjangan hari raya keagamaan. Selain tunjangan hari raya keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pengusaha dapat memberikan pendapatan non upah yang terdapat pada pasal (7) berupa: bonus,uang pengganti fasilitas kerja; dan/atau uang servis pada usaha tertentu.
Sementara untuk Tunjangan hari raya keagamaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) wajib diberikan oleh Pengusaha kepada Pekerja/Buruh. Tunjangan hari raya keagamaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dibayarkan paling lambat 7 (tujuh) hari sebelum hari raya keagamaan. Ketentuan mengenai tunjangan hari raya keagamaan dan tata cara pembayarannya diatur dengan peraturan pelaksanayang diatur dalam peraturan Menteri. Untuk bonus, perusahaan dapat memebrikannya kepada buruh/pekerja sesuai keuntungan yang didapat oleh perusahaan yang diatur pada pasal 8. Penetapan perolehan bonus untuk masing-masing Pekerja/Buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan, atau Perjanjian Kerja Bersama.