• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

C. Deskripsi Teoritik

3. Relasi Islam dan Tradisi

Islam merupakan Konsep ajaran agama yang humanis yakni agama yang mementingkan manusia sebagai tujuan sentral dengan mendasarkan konsep “Humanisme Theosentrik”. Konsep ini menunjukkan bahwa poros Islam dalam ajaran tauhid yang diarahkan untuk menciptakan kemaslahatan kehidupan dan perdaban umat manusia.118 Secara bahasa kata Islam berasal dari bahasa Arab yang di ambil dari kata “salima” yang mempunyai arti “selamat”. Dari kata “salima” tersebut maka terbetuk kata

“aslama” yang memiliki arti “menyerah, tunduk, patuh, dan taat”. Kata “aslama” menjadi pokok kata Islam, mengandung segala arti yang

117

Jawadi Amuli, Keindahan dan Keagungan Wanita: Pandangan Illahi, penerjemah: Muhdor Ahmad dkk, Jakarta: Penerbit Lentera, 2005, h. 442-444.

118Muhammad Alfan, Filsafat Budaya, Bandung: CV Pustaka Setia, 2013, h. 128.

50

terkandung dalam arti pokoknya, sebab itu orang yang melakukan

“aslama” atau masuk Islam dinamakan muslim.119

Berdasarkan pengertian di atas dapat dikatakan seorang muslim berarti orang itu telah menyatakan dirinya taat, menyerahkan diri, dan patuh kepada Allah dengan melakukan “aslama” maka orang terjamin keselamatannya di dunia dan di akhirat. Kata Islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada kepada Allah SWT dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.120

Islam dan tradisi memiliki relasi yang tak terpisahkan, dalam Islam sendiri ada nilai universal dan absolut sepanjang zaman. Namun demikian, Islam sebagai dogma tidak kaku dalam menghadapi zaman dan perubahannya. Islam selalu memunculkan dirinya dalam bentuk yang luwes, ketika menghadapi masyarakat yang dijumpainya dengan beraneka ragam budaya, adat kebiasaan atau tradisi. Sebagai sebuah kenyatan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Sedangkan dalam

119A.Yusof, Relasi Islam dan Budaya Lokal, alamat: https://media.neliti.com/media/publications/67299-ID-relasi-islam-dan-budaya-lokal-studi-tent.pdf, diakses pada tanggal 12 November 2017 pukul 08:00 WIB.

120A.Yusof, Relasi Islam dan Budaya Lokal, alamat: https://media.neliti.com/media/publications/67299-ID-relasi-islam-dan-budaya-lokal-studi-tent.pdf, diakses pada tanggal 12 November 2017 pukul 08:00 WIB

51

kebudayaan terdapat pengetahuan, keyakinan, seni, moral adat-istiadat dan lain sebagainya121

Tradsi juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup didalamnya. Antara tradisi dan agama perlu dibedakan yakni agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan tradisi merupakan kebiasaan yang sudah lama dibuat untuk menciptakan suatu makna atau simbol. Berbicara tentang tradisi atau adat-istiadat bukan lagi sesuatu yang langka bagi masyarakat Indonesia mengingat ada puluhan suku yang hidup di dalamnya dan dapat dipastikan setiap suku mempunyai tradisi yang berbeda dengan tradisi suku lainnya. Istilah tradisi atau adat istiadat mengacu pada tata kelakuan yang kekal dan turun temurun dari generasi ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola-pola perilaku masyarakat.122

Kitab suci Alquran umat Islam sebagai pedoman hidup telah menjelaskan bagaimana kedudukan tradisi (adat-istiadat) dalam agama itu sendiri. Nilai-nilai yang termaktub dalam sebuah tradisi dipercaya dapat mengantarkan keberuntungan, kesuksesan, kelimpahan, keberhasilan bagi

121Marpuah, “Nilai-Nilai Budaya Lokal Berwawasan Multikultural”, Penamas, Vol. XXI, No. 1, 2008, h. 112.

122Fauziah Ramdani, Menyikapi Tradisi Adat-istiadat dalam Perspektif Islam , alamat: http://wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam/. diakses pada tanggal 16 November 2017 pukul 13:00 WIB.

52

masyarakat tersebut. Akan tetapi eksistensi adat- istiadat tersebut juga tidak sedikit menimbulkan polemik jika ditinjau dari kacamata Islam.123

Setiap aturan-aturan, anjuran, perintah tentu saja akan memberi dampak positif dan setiap larangan yang diindahkan membawa keberuntungan bagi hidup manusia. Salah satu larangan yang akan membawa maslahat bagi manusia adalah menjauhkan diri dari kebiasaan-kebiasaan nenek moyang terdahulu yang bertentangan dengan ajaran Islam. Syariat Islam tidak serta merta berupaya menghapuskan tradisi atau adat-istiadat.124

Islam menyaring tradisi tersebut agar setiap nilai-nilai yang dianut dan diaktualisasikan oleh masyarakat setempat tidak bertolak belakang dengan Syariat. Sebab tradisi yang dilakukan oleh setiap suku bangsa yang notabennya beragama Islam tidak boleh menyelisihi syariat, karena kedudukan akal tidak akan pernah lebih utama dibandingkan wahyu Allah SWT.

Keyakinan Islam sebagai agama universal dan mengatur segala sendi-sendi kehidupan bukan hanya pada hubungan yang mengatur antara hamba dan Pencipta tetapi juga aspek hidup lainnya seperti ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Selama adat-istiadat atau tradisi itu masih bisa disesuaikan dengan ketentuan syariat maka masih

123Fauziah Ramdani, Menyikapi Tradisi Adat-istiadat dalam Perspektif Islam , alamat: http://wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam/ .tgl 16/11/2017 diakses pada tanggal 16 November 2017.

124Fauziah Ramdani, Menyikapi Tradisi Adat-istiadat dalam Perspektif Islam , alamat: http://wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam/ .tgl 16/11/2017 diakses pada tanggal 16 November 2017.

53

dapat dipertahankan tetapi jika menyimpang dari ajaran nash dan hadis maka adat-istiadat atau tradisi tidak bisa ditoleransi (untuk dilakukan oleh masyarakat) karena syariat Islam terhadap adat-istiadat senantiasa mendahulukan dalil-dalil dalam Alquran dan Hadist dibanding adat atau tradisi.125

Islam adalah agama yang mudah dan tidak mempersulit penganutnya tetapi Islam juga dapat bersifat tegas kepada penganutnya apabila hal-hal tersebut menyimpang dan tidak sesuai dengan nash-nash maupun hadis. Setiap Tradisi bisa diterima apabila itu baik dan mengandung kemaslahatan bagi masyarakat. Masih banyak tradisi di sekitar masyarakat belum tentu sesuai dengan tuntunan ajaran Islam, karena hanya berdasarkan warisan dari orangtua-orangtua mereka secara lisan tanpa terkodifikasi dan sesuai dengan tuntunan ajaran Islam. Maka perlu disini untuk kembali berfikir, menilai makna dari tradisi tersebut apakah menimbulkan kemaslahatan dan tidak menentang syariat Islam. Apabila tradisi itu tidak bersesuaian dengan nash maupun hadis tetapi bisa diasimilasikan dengan tradisi keislaman maka itu lebih baik dan dapat diterima oleh syari‟at ketimbang harus mempertahankannya.

125fauziah ramdani, Menyikapi Tradisi dalam Perspektif Islam, alamat: http://wahdah.or.id/menyikapi-tradisi-adat-istiadat-dalam-perspektif-islam/ diakses pada tanggal 10 Desember 2017 pukul 14: 00 WIB.

54

D. Kerangka Pikir dan Pertanyaan Penelitian

Dokumen terkait