• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Landasan Teori

1.6.5 Relasi Pengarang dan Karya

Membicarakan sebuah karya sastra rasanya tidak komplit kalau kita melihat bagaimana suatu karya yang otonom membentuk garis lurus relasi yang ajek dengan pegarangnya. Hal demikian perlu dilakukan demi melihat bagaimana pengarang mengaktualisasikan gagasan dan pemikirannya mengenai suatu pokok persoalan melalui karya gubahannya. Dengan begitu, kita dapat

dengan jeli memeriksa ideologi apa yang hendak dihamparkan pengarang secara implisit dalam sebuah hasil cipta.

Untuk perkara tersebut, kita dapat mengecek kembali empat istilah yang dirumuskan Abrams (Pradotokusumo, 2002: 45). Ia memberikan sebuah kerangka sederhana untuk menggambarkan empat istilah dasar dalam situasi karya sastra secara menyeluruh dan yang hubungannya berpusat pada karya sastra. Empat istilah itu kemudian menjadi sebuah pendekatan yang terdiri atas pendekatan objektif, pendekatan ekspresif, pendekatan mimetik, dan pendekatan pragmatik. Pendekatan ekspresif adalah pendekatan yang menekankan hubungan karya sastra dengan pengarang.

Aspek ekspresif sudah ditonjolkan sejak zaman klasik kebudayaan Barat. Mungkin hal ini merupakan suatu akibat dari penonjolan diri manusia sebagai pencipta. Pada abad pertengahan, manusia selaku pencipta mencontoh tuhan. Karya seni dianggap tekhne ‘kepandaian/kemahiran’ yang selalu ditempatkan dalam rangka imitatio natural, alam sebagai ciptaan tuhan yang menjadi teladan, yang mau tak mau harus diikuti seniman. Tuhanlah yang menjadi maha pencipta, dan kegiatan manusia sebagai homo artifax (penguasa alam tetapi hanya sebagai pembantu dan hamba tuhan) tak bisa lain kecuali hanya mengambil proses penciptaan tuhan sebagai teladan. Baru pada abad ke-18 manusia sebagai kreator yang otonom dilepaskan dari imitatio natural.

Pada akhir abad ke-18 sinar romantisisme dan ekspresionisme mulai pudar. Menurut pandangan modern, penulis harus menghilang dari karyanya;

penulis roman ada jaraknya dengan cerita atau plot. Pembaca harus sadar bahwa dalam membaca roman ia tidak langsung menghadapi penulis. Ini menjadi pokok analisis yang makin menarik, yaitu point of view ‘sudut pandang’ dan banyak kemungkinan teknis untuk menyajikannya.

Masalah point of view terutama penting sebagai gejala yang menggarisbawahi usaha untuk melepaskan pengarang dari karyanya dan menentukan serta mempertahankan otonomi roman terhadap diri penulis.

Menurut pandangan ini, tidak perlu kita mengindentifikasi arti atau amanat sebuah karya seni sesuai dengan niat si penulis. Misalnya, dalam roman modern, juru kisah sering seorang yang ‘gila’, bodoh, atau penipu; dan tanggung jawab atas pandangannya tidak dapat dan tidak perlu dibebankan kepada penulis. Pandangan ini terserah kepada pembaca dalam menentukan arti sebuah karya yang sesuai dengan susunan bahasa serta konvensi kebahasaan dan kesastraan yang membatasi kerangka interpretasi.

Tidak semua peneliti sastra modern setuju dengan menghilangkan pengarang dan niatnya seperti pandangan yang kuat dalam kalangan new critisism di Amerika dan gerakan otonomi lainnya. H.A. Gomperts mengatakan bahwa yang penting bukan vokalisator instansi naratif atau implied author yang ditonjolkan oleh aliran strukturalis tertentu, melainkan penulis hidup, yaitu penulis dalam keunikannya. Selian itu, P.D. Yuhl sangat menentang pendirian strukturalistik dan otonom yang melepaskan karya sastra dari niat penulis. Ia berpendapat bahwa dalam interpretasi ada tiga dalil (tesis):

1. kaitan logik antara pernyataan mengenai niat penulis;

2. penulislah yang nyata terlibat dalam dan bertanggung jawab atas proposisi yang diajukan dalam karya. Karya sastra tidak otonom, ada kaitan antara karya sastra dan hidup;

3. karya sastra mempunyai satu arti; intention, niat yang terwujud dalam proses perumusan masalah; kalimat yang dipakai dalam karya.

Pendapat lain datang dari Gadamer Iawan Hirsch. Menurutnya, interpretasi selalu merupakan Horizontrverschmelzung ‘pembauran cakrawala’

dalam proses pemahaman antara masa lampau (pada waktu teks tercipta) dan masa kini si pembaca. Pemahaman tidak berarti subjektifnya pembaca sebagai individu sebab pemahamanan ikut ditentukan oleh situasi dalam sejarah.

Objketivitas diberikan dalam tradisi kesejarahan.

Sementara itu E.D. Hirsch menyatakan bahwa melepaskan arti sebuah teks dari maksud penulis pada prinsipnya menyangkal atau meniadakan kemungkinan pemahaman yang objektif—seperti dilakukan oleh Gadamer dan New Critisism. Identifikasi arti karya sastra dengan maksud penulis memberi jaminan bahwa arti determine adalah pasti. Ia dan Gadamer tidak membedakan meaning ‘arti’ dan significance ‘makna’. Juga ia berpendapat bahwa niat penulis esensial dan menentukan untuk interpretasi karya sastra.

Simpulan yang dapat ditarik ialah bahwa pembaca karya sastra berada dalam berbagai tegangan, yaitu:

1. tegangan antara sistem bahasa dan penerapan sistem secara individual;

2. tegangan antara sistem sastra dan karya individual; pada suatu pihak merupakan perwujudan sistem sastra dan penerapan konvensi serta kompetensi yang dikuasai, namun pada lain pihak juga sekaligus penyimpangan dan pemberontakan terhadap sistem struktur konsep yang bukan tidak ada ambiguitasnya.

Pembahasan mengenai hubungan antara pengarang dan karya juga disinggung oleh Wellek dan Warren dalam buah pemikiran mereka. Sebuah karya sastra lebih merupakan perwujudan mimpi si pengarang daripada hidupnya (Wellek, 2014: 78). Karya sastra mungkin merupakan topeng atau pribadi yang berlawanan, yang tersembunyi di balik pengarang. Karya sastra mungkin juga merupakan gambaran hidup yang justru ingin dihindari pengarang. Lagi pula, harus kita ingat bahwa untuk karyanya, pengarang bisa

‘mengalami’ hidup dengan cara yang berbeda: pengalaman hidup dipakainya untuk bahan karya sastra dan pengalaman itu pun sudah dibentuk oleh tradisi sastra dan prakonsepsi.

Ketika membaca Dante dan Tolstoy, kita tahu bahwa ada sesosok pribadi di balik karya-karyanya itu. Ada kesamaan ciri-ciri fisik di antara karya seorang pengarang. Apakah tidak sebaliknya dibedakan kepribadian seorang pengarang dan kepribadian yang muncul—secara-metaforik—melalui karyanya? Ada sesuatu yang khas Milton (Miltonic) dan khas Keats (Keatsian) pada tulisan kedua pengarang ini. Tetapi ciri ini harus dilihat dari karyanya saja, tidak bisa diketahui dari data biografis. Kita tahu apa yang disebut Virgillian

atau Shakespearian, tanpa perlu mengetahui riwayat hidup Virgil dan Shakespeare.

Bagaimanapun, tetap ada hubungan, kesejajaran, dan kesamaan tidak langsung antara karya dan pengarangnya. Karya penyair bisa merupakan topeng, atau suatu konvensi yang dipakai jelas berdasarkan pengalaman dan hidupnya sendiri. Jung mengatakan bahwa ada pengarang yang menunjukkan tipe aslinya melalui tulisan-tulisannya, dan ada yang justru menampilkan antitipenya, yakni tipe pelengkap yang kontras dengan kepribadiannya.

Proses kreatif meliputi seluruh tahapan, mulai dari dorongan bawah sadar yang melahirkan karya sastra sampai pada perbaikan terakhir yang dilakukan pengarang. Bagi sejumlah pengarang, justru bagian akhir ini merupakan tahapan yang paling kreatif.

1.7 Metode Penelitian dan Teknik Analisi Data

Dokumen terkait