RELEVANSI PEMIKIRAN ALI HASJMY TENTANG NEGARA ISLAM TERHADAP PELAKSANAAN SYARIAT ISLAM DI ACEH
A. Relevansi Paradigma Negara Islam dengan Sistem Republik
Doktrin konsep Negara Islam dalam pandangan Ali Hasjmy memiliki relevansi dengan formalisasi syariat Islam di Aceh sejak 2001. Lahirnya formalisasi syariat Islam sangat dipengaruhi oleh peran kaum modernis muslim generasi penerus Ali Hasjmy yang memanfaatkan ketegangan Aceh dengan Pemerintah Pusat untuk membangun lobi-lobi politik sehingga pemerintah Pusat menerbitkan UU tentang formalisasi syariat Islam.301
Dari pola pikir, Ali Hasjmy memiliki banyak kesamaan dengan Daud Beureueh. Tetapi karena sejak muda telah bergelut dalam dunia politik Modern, Ali Hasjmy sama-sekali tidak tertarik dengan gagasan-gagasan subversif seperti yang dicetuskan sebagian cendikiawan PUSA. Kedewasaan berpolitik membuat Ali Hasjmy tidak mudah pesimis apalagi bersikap apatis dalam menghadapi setiap permasalahan.302
Mengenai kekecewaan sebagian intelektual PUSA, khususnya Daud Beureueh yang menganggap Pemerintah Pusat mengkhianati rakyat Aceh, Ali Hasjmy lebih memilih cara-cara diplomatis dan menempuh jalur diplomasi dalam menyelesaikan masalah tersebut.
Konsep Negara Islam memang telah menjadi diskursus penting dalam sejarah intelektualisme Islam khususnya pasca kolonialisme. Perdebatan ini berangkat dari penafsiran atas Piagam Madinah yang dibuat Nabi Muhammad bersama suku-suku yang ada di Madinah. Sebagian menganggap perjanjian itu sebagai deklarasi berdirinya Negara Islam. Kaum intelektual yang menganggap bahwa negara Islam itu ada berpodoman pada penafsiran demikian. Sementara kaum intelektual yang mengganggap Piagam Madinah itu adalah sebuah perjanjian politik biasa menganggap eksistensi Negara Islam itu tidak ada, bukan sebuah tuntutan dan hanya sebuah utopia.303
Dalam konsep berpikirnya, Ali Hasjmy lebih melihat Piagam Madinah itu adalah deklarasi berdirinya Negara Islam. Sehingga menurutnya bagi setiap kaum
301
Wawancara: Fauzan, seniman Aceh, di Banda Aceh, Rabu,10 Agustus 2017.
302
Hasan Basri, Melampaui Islam…, h. 76.
303 Ibid,.
muslim, mendirikan Negara Islam itu wajib hukumnya. Namun karena sosok Hasjmy itu lebih dewasa dalam berpolitik, dia tidak mengusahakan berdirinya negara Islam dalam makna membangun simbol-simbol Islam dalam bernegara atau memproklamirkan negara baru untuk menggantikan Indonesia.304
Pola pikir administratif pemerintahan diwariskan dengan baik oleh Ali Hasjmy para generasi modernis setelahnya, khusunya para mahasiswa dan akademisi IAIN tidak lepas dari pengaruh bacaan-bacaan dari karya para intelektuil masa lalu, baik di masa klasik maupun modern. Para penulis yang menjadi rujukan kaum modernis umumnya adalah mereka yang berposisi sama seperti kaum modernis di Muslim di Indonesia, yaitu orang-orang yang juga bersentuhan langsung dengan pemerintahan dan segala bentuk sistem dan administrasinya.305 Sehingga dapat dimaklumi kenapa mereka melihat sejarah Nabi Muhamad dalam asumsi politik dan memiliki paradigma formalisasi syariat Islam.
Bagaimana Ali Hasjmy dapat menganggap pembagian kekuasaan dalam sistem kesultanan dapat relevan dengan sistem republik? Terdapat kemungkinan pandangan tersebut muncul sebagai betuk pola pikir realistik yang dimiliki Ali Hasjmy. Seorang modernis memang sangat pandai menjaga harmonisasi dengan kekuasaan. Mereka tidak melakukan perlawanan frontal dengan sebuah sistem kekuasaan. Mereka lebih mengedepankan bagaimana utopia itu disimpan dengan baik dan diinfiltrasikan ke dalam sistem sejauh yang bisa dilakukan. Batas boleh atau tidak adalah pada kemungkinan infiltrasi nilai pada regulasi yang ada. Sekaligus juga mengupayakan regulasi-regulasi yang ada dapat terus bergerak kepada terbukanya peluang diisi oleh nilai-nilai Islam. Cara itu pulalah yang dilakukan Ali Hasjmy untuk menanam, memupuk, memelihara dan mengembangkan imajinasi negara Islam bagi kaum modernis di Aceh. Imajinasi
304
Safwan Idris, dalam Badruzzaman Ismail, et.al. A. Hasjmy: Aset Sejarah, h. 261-262.
305
itu terawat dalam romantisme sejarah yang diturunkan secara lisan dari generasi ke generasi dalam bentuk petuah filosofi Aceh (hadih maja).306
"Hokom ngen adat, lagee zat ngoen sifeuf." Terjemahannya: Hukum dan adat, seperti zat dan sifat. Begitu penggalan terakhir filosofi itu. Di sini dapat menjadi titik temu yang sangat jelas bagaimana Ali Hasjmy memiliki pandangan tentang konsep negara Islam yang sangat relevan dengan konteks pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Dia melihat hukum dan politik harus seperti hubungan antara zat dengan sifat. Meskipun Ali Hasjmy tidak menjabarkan bagaimana hubungan zat dan sifat dalam pandangan pribadinya, namum secara umum dapat diketahui bahwa identitas zat dapat dikenal melalui sifatnya. Sehingga dalam konteks politik sebagai sifat bagi hukum, dalam konteks filosofi hidup orang Aceh, politik Islam harus menjadi penjelas bagi hukum Islam, maka dengan jelas dapat ditemukan bahwa dalam pandangan Ali Hasjmy, di Aceh, atau untuk masyarakat Aceh, sesuai dengan filosofi hidupnya, sifat sistem politiknya harus menjadi penjelas identitas hukumnya, yaitu hukum Islam.307
Dari alur penalaran di atas, dapat dilihat bagaimana kaum modernis di Aceh, Ali Hasjmy dalam konteks ini, yang terus-menerus menjadi aktor dalam dunia perpolitikan, berusaha agar politik yang dijalankan harus menjadi penjelas bagi hukum Islam. Politik baginya adalah ranah aktualisasi syariat Islam. Dari sinilah muncul imajinasi formalisasi syariat Islam meskipun bukan dalam sebuah daulah islamiah, meskipun dalam sistem Republik Indonesia yang berdasarkan kepada UUD 45 dan Pancasila.308
Kalangan yang berpandangan irrelevansi formalisasi syariat Islam di bawah Pancasila dan UUD 45 melihat bahwa dua landasan hukum yang berbeda mustahil dapat dilaksanakan.309 Tetapi hal ini bukan persoalan, dengan catatan
306
Miswari, Filsafat Langit dan Bumi, (Lhokseumawe: Unimal Press, 2018), h. 201.
307
Hasan Basri, Melampaui Islam…, h. 206.
308
Wawancara: Dr. Yasir, dosen UIN Ar-Raniry, di Banda Aceh, Selasa, 09 Agustus 2017.
309
melihat Pancasila dan UUD '45 adalah sebuah nilai dasar tentang manusia. Sementara hukum Islam adalah aturan tentang cara hidup orang Islam. Kemanusiaan dan keislaman, dalam makna Islam sebagai sebuah konsep teologis, adalah sinergi seperti analogi pembagian genus dan spesies dalam sistem logika, misalnya hewan sebagai genus dengan manusia sebagai spesies. Manusia adalah bagian dari hewan, bukan kontradiksi dengan hewan.310 Namun dari sini dapat ditemukan bahwa GAM memang tdak melihat formalisasi syariat Islam bisa berjalan dengan sempurna bila Aceh masih bergabung dengan Indonesia.311
Konsep Negara Islam yang dianut Ali Hasjmy bukan sebuah identitas landasan Negara sebagaimana utopian Negara Islam yang dibangun kelompok Hizbut Tahrir, ISIS dan Jamaah Ansorut Tauhid yang tidak bisa mempertemukan Islam dengan sistem lainnya seperti Pancasila. Dalam pandangan Ali Hasjmy, landasan negara itu boleh Pancasila, tetapi nilai-nilai dalam sistem bisa diisi dengan nilai-nilai Islam. Karena Ali Hasjmy melihat Pancasila sebagai nilai bukan sistem atau ideologi sehingga tidak berkontradiksi dengan Islam. Tipikal pemikiran ini sama dengan beberapa gerakan Islam lainnya di Indonesia seperti Muhammadiyah, Al-Wasliyah dan DDII yang dapat berkompromi dengan Pancasila sebagai landasan Negara dan meyakini pelaksanaan syari‟at Islam itu tidak bertentangan dengan landasan Negara Indonesia.312
Paradigma pemikiran Negara Islam yang digagas Ali Hasjmy tentang dasar-dasar Negara Islam313 menjadi relevan dengan formalisasi syariat Islam di Aceh karena, baik Keputusan Perdana Mentreri Republik Indonesia Nomor 1/Missi/1959 Tentang Keistimewaan Provinsi Aceh maupun UU Nomor 44 Tahun 1999 Tentang pelaksanaan Syari‟at Islam di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam314 sama-sama berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
310
Abdul Hadi Fadli, Logika Praktis: Teknik Bernalar Benar, Jakarta: Sadra Press, 2014, h. 18
311
Wawancara: Nasruddin, Mantan petinggi GAM, di Bireuen, Kamis, 22 Februari 2018
312
Carool Kersten,Berebut Wacana, h. 59.
313
Hasjmy, Di Mana Letaknya…, h. 50-52
314
Terkait keharusan kebersamaan antara politik dan hukum, Ali Hasjmy menegaskan bahwa, segala cabang kehidupan negara dan rakyat haruslah berjiwa dan bersendi Islam. Wajah politik dan wajah agama Islam pada batang tubuh masyarakat dan negara telah menjadi satu.315 Bangun imajinasi ini sangat relevan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum modernis dalam keseharian mereka. Dari sisi mereka menemukan bagaimana ideologi Islam mereka selalu bertolak-belakang dengan sistem administrasi dan birokrasi pemerintahan. Sehingga mereka semakin merasa yakin bahwa memformulasikan atau membirorakratisasikan syariat Islam adalah sebuah solusi atas masalah-masalah yang mereka hadapi. Kaum modernis menilai masyarakat umum khususnya kaum tradisionalis juga menghadapi masalah yang sama dengan yang mereka hadapi. Meskipun, masyarakat tradsional tidak bersentuhan langsung dengan sistem pemerintahan, tetapi kaum modernis memilih formalisasi syariat Islam dengan asumsi sistem tersebut dapat melindungi pelaksanaan syariat Islam oleh segenap masyarakat.316
B. Relevansi Bidang Kepegawaian dalam Konsep Negara Islam dengan