• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN UMUM MENGENAI SENGKETA

D. Relevansi Pemberlakuan Hukum Humaniter Internasional dengan

pembagian Jenis Sengketa Bersenjata

Dalam berbagai kesepakatan atau perjanjian internasional berkenaan dengan Hukum Humaniter Internasional, jelas bahwa sedikitnya ada dua jenis perang atau sengketa bersenjata yang sering disebut dan dibedakan satu sama lainnya, yaitu sengketa bersenjata internasional dan sengketa bersenjata non internasional. Umumnya pembagian itu dilakukan untuk membedakan atau menetapkan aturan dari hukum humaniter internasional yang seharusnya diberlakukan pada masing masing situasi tersebut.

Aturan – aturan Hukum Humaniter Internasional yang merupakan bagian dari hukum Internasional, lebih banyak ditujukan untuk diberlakukan pada situasi sengketa bersenjata internasional. Hal ini dapat dipahami, mengingat situasi sengketa bersenjata internasional, atau perang sipil biasanya dianggap sebagai persoalan dalam negeri oleh pemerintah negara yang menghadapinya. Oleh karena itu, keinginan pemerintah negara untuk melepaskan

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

kedaulatannya kepada hukum internasional berkenaan dengan perang dalam negeri agak terbatas jika dibandingkan dengan perang melawan negara lainnya atau perang internasional.

Ketegasan bahwa aturan Hukum Humaniter Internasional ditujukan untuk diberlakukan pada situasi sengketa bersenjata internasional jelas termuat dalam Konvensi-konvensi Jenewa 1949. Adapun ketentuan-ketentuan dalam Konvensi-konvensi Jenewa 1949, yang dengan tegas mengatakan wajib berlaku untuk sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional adalah ketentuan yang termuat dalam pasal 3 Konvensi Jenewa 1949 , yang dikenal sebagai aturan Hukum Humaniter Internasional yang paling utama atau disebut sebagai standard minimum humaniter. Aturan ini berlaku pada semua jenis konflik bersenjata, antara lain mengatur kewajiban para pihak yang berkonflik untuk memberikan perlakuan yang manusiawi kepada para korban serta memberikan kesempatan kepada para korban untuk dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, termasuk dengan memungkinkan mereka memperoleh bantuan kemanusiaan yang diperlukan dari pihak – pihak netral yang berasal dari dalam maupun luar negeri.

Ketika aturan – aturan Hukum Humaniter dilengkapi dengan dua Protokol Tambahan 1977, aturan tambahan dalam situasi sengketa bersenjata Internasional masih lebih lengkap dibandingkan dengan aturan untuk sengketa bersenjata non internasional. Sebagaimana dapat dilihat, Protokol Tambahan 1/1977 Tentang Perlindungan Korban Sengketa Bersenjata Internasional terdiri dari 102 pasal sedangkan Protokol Tambahan II/1977 Tentang Perlindungan Korban Sengketa non internasional terdiri dari 28 pasal.

Saat ini, perkembangan sistem Hukum Humaniter Internasional menunjukkan ada beberapa aturan yang semula hanya untuk diberlakukan pada situasi sengketa bersenjata internasional, tetapi kemudian dinyatakan juga berlaku untuk situasi bersengketa

non-Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

internasional. Sebagai contoh, aturan-aturan Hukum Humaniter Internasional yang termuat dalam konvensi PBB 1980 tentang Senjata konvensional tertentu telah diamandemen pada tahun 2001 sehingga aturan Hukum Humaniter Internasional tentang Larangan dan Pembatasan Penggunaan Senjata Konvensional yang termuat dalam konvensi 1980 tersebut, juga diperluas berlakunya dari sekedar untuk sengketa bersenjata internasional. Dengan demikian, aturan–aturan Hukum Humaniter Internasional yang semula untuk sengketa bersenjata internasional menjadi berlaku juga untuk situasi sengketa bersenjata yang tidak bersifat internasional atau sengketa bersenjata non internasional. Perluasan pemberlakuan ini juga telah disepakati berkenaan dengan aturan–aturan hukum Humaniter Internasional yang termuat dalam Perjanjian Ottawa tentang Larangan Penggunaan, Penimbunan Produksi dan Pengiriman Ranjau Anti Personal serta tentang Penghancurannya yang termuat dalam Konvensi-konvensi Tentang Perlidungan Benda-benda Budaya.

Kecenderungan Hukum Internasional meluas ke wilayah sengketa bersenjata non internasional, dapat pula dilihat dari perhatian masyarakat internasional terhadap pelanggaran–pelanggaran hukum humaniter internasional yang terjadi dalam perang dalam negeri. Sebagai contoh, perhatian masyarakat internasional untuk menyelenggarakan peradilan atau penegakan hukum terhadap pelanggaran – pelanggaran hukum yang terjadi semasa konflik di Rwanda maupun Yugoslavia. Bahkan, dalam Statuta Roma 1998 yang memuat dasar-dasar pembentukan dan penyelenggaraan Mahkamah Pidana Internasional, ditegaskan pula bahwa Mahkamah Pidana Internasional mempunyai Yurisdiksi terhadap pelanggaran Hukum Humaniter Internasional semasa perang yang tidak bersifat internasional atau sengketa bersenjata non internasional. Padahal, Konvensi – Konvensi Jenewa 1949 dan

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

Protokol Tambahan 1977 menekankan perlunya kerja sama internasional dalam penegakan hukum hanya terhadap pelaku pelanggaran berat yang terjadi semasa perang internasional.

Sejauh ini, memang telah terdapat aturan – aturan serupa bagi kedua jenis konflik berkenaan perilaku terhadap korban perang dan tentang penggunaan alat dan cara perang. Namun demikian, keabsahan status kombatan bagi anggota angkatan perang internasional belum dapat diakui oleh negara atas pemberontak yang dihadapinya dalam konteks perang dalam negeri. Begitu juga, hak atas status tawanan yang ditahan oleh pihak negara lawan belum dapat diakui oleh pemerintah negara terhadap anggota pemberontak yang ditahannya. Oleh karena itu, pembedaan sengketa bersenjata internasional dengan sengketa bersenjata non internasional masih relevan.

E. Orang – Orang Yang Dilindungi Saat Sengketa Bersenjata

Dalam Hukum Perang, sering terdengar istilah “hors de combat“. Istilah tersebut merupakan istilah dari bahasa Perancis yang ditujukan terhadap kombatan yang luka-luka, sakit, korban karam, atau yang menyerah dan tidak mempunyai daya atau kemampuan lagi untuk memberikan perlawanan kepada musuhnya, maka disebut sebagai “hors de combat” (”out of combat“). Apabila terdapat seorang kombatan yang berada dalam keadaan ‘hors de combat’, dan jatuh ke tangan pihak musuh, maka ia harus dikumpulkan dan dirawat, dan mendapatkan status sebagai tawanan perang (prisoner of war).

Dalam ketentuan pasal 4A Konvensi III menyatakan mereka yang berhak mendapatkan status sebagai tawanan perang yang termasuk dalam kategori kombatan adalah :

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

1. Para anggota angkatan perang dari pihak yang bersengketa, anggota-anggota misili atau korps sukarela yang merupakan dari angkatan perang itu;

2. Para anggota milisi lainnya, termasuk gerakan perlawanan yang diorganisasikan (organized resistance movement) yang tergolong pada satu pihak yang bersengketa dan beroperasi di dalam atau di luar wilayah mereka, sekalipun tempat itu diduduki;

3. Para anggota angkatan perang reguler yang menyatakan kesetiaannya pada satu pemerintah atau kekuasaan yang tidak diakui oleh negara penahan;

4. Penduduk wilayah yang belum diduduki, yang tatkala musuh mendekat, atas kemauannya sendiri dan dengan serentak mengangkat senjata untuk melawan pasukan-pasukan yang datang menyerbu, tanpa memiliki waktu yang cukup untuk membentuk kesatuan-kesatuan bersenjata secara teratur, asal saja mereka membawa senjata secara terbuka dan menghormati hukum dan kebiasaan berperang.17

Sedangkan yang termasuk dalam kategori penduduk sipil dalam Pasal 4 Konvensi ini adalah :

1. orang-orang yang menyertai angkatan perang tanpa dengan sebenarnya menjadi anggota dalam angkatan perang itu, seperti anggota sipil awak pesawat terbang militer, wartawan perang, leveransir, anggota kesatuan-kesatuan kerja atau dinas-dinas yang bertanggung jawab atas kesejahteraan angkatan perang yang disertainya dan dilengkapi diri mereka dengan sebuah kartu pengenal.

17

Arlina. Dasar-dasar Hukum Humaniter Internasional. Bab 9 Orang-orang yang dilindungi pada saat sengketa bersenjata. Hal.164-165.

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

2. awak kapal niaga termasuk nahkoda, pandu laut, dan taruna serta awak pesawat tebang sipil dari pihak-pihak yang bersengketa yang tidak mendapat perlakuan yang lebih baik menurut ketentuan-ketentuan apapun dalam hukum internasional.

Menurut Gasser, mereka inilah yang disebut sebagai defenceless person (orang-orang yang kurang mendapatkan perlindungan). Pada prinsipnya, terhadap mereka, pihak-pihak yang bersengketa harus melakukan tindakan-tindakan sebagai berikut :18

1. Menjamin penghormatan, artinya mereka harus diperlakukan secara manusiawi; 2. Menjamin perlindungan, artinya mereka harus dilindungi dari ketidakadilan dan

bahaya yang mungkin timbul dari suatu peperangan, dan terhadap kemungkinan atas perkosaan integritas kepribadian mereka. Harus ada tindakan-tindakan yang perlu untuk menjamin hal ini;

3. Memberikan perawatan kesehatan, artinya mereka berhak atas perawartan kesehatan yang setara dan tidak boleh diabaikan, walaupun ia pihak musuh.

Gasser meringkas perlakuan yang diberikan kepada tawanan perang sebagaimana diatur dalam Konvensi III sebagai berikut:19

1. Pada waktu tertangkap, para tawanan diwajibkan memberikan keterangan mengenai nama, pangkat, tanggal lahir dan nomor anggotanya. Mereka tidak boleh dipaksa memberikan keterangan lebih jauh dalam keadaan apapun. Penyiksaan dan perlakuan kejamterhadap mereka dipandang sebagai kejahatan perang;

18

Arlina., op. cit, hlm. 166. 19

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

2. Segera setelah tertangkap, tawanan perang berhak dilengkapi kartu penangkapan. Kartu penangkapan ini selanjutnya dikirim ke Biro Penerangan Resmi di negara asal tawanan perang melalui Badan Pusat Pencarian ICRC. Badan Pusat Pencarian ini memiliki tugas memberikan keterangan kepada keluarga para tawanan. Dengan cara ini maka hubungan tawanan dengan keluarga mereka dapat tetap dijalin; 3. Secepatnya para tawanan perang harus dipindahkan dari kawasan berbahaya ke

tempat yang aman. Kondisi kehidupan mereka harus setara dengan kondisi kehidupan dari anggota angkatan perang negara penawan yang tinggal ditempat itu;

4. Sedapat mungkin kondisi penawanan mempertimbangkan adat dan kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan para tawanan;

5. Para tawanan yang sehat, dapat diminta untuk bekerja, tetapi mereka dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya, apabila mereka menyetujuinya. Contohnya dalam hal ini adalah pekerjaan membersihkan ranjau;

6. Tawanan perang boleh melakukan korespondensi dengan keluarganya. Mereka juga boleh menerima bantuan dalam bentuk bingkisan perorangan;

7. Tawanan perang tunduk kepada hukum negara penahan, khususnya hukum yang berlaku untuk angkatan bersenjata;

8. Tawanan yang dihukum berhak mendapatkan jaminan peradilan yang wajar dan bila terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman, maka ia tetap berstatus sebagai tawanan perang. Artinya setelah menjalani hukumannya, ia berhak untuk dipulangkan kembali ke negara asalnya;

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

Tindakan berikut ini dengan hormat tidak boleh dilakukan kepada tawanan perang dan kombatan :

1. Kekerasan terhadap hidup seseorang terutama segala bentuk pembunuhan, mutilasi, perlakuan kejam dan penganiayaan;

2. Penyanderaan;

3. Menghina martabat seseorang, terutama perlakuan yang tidak manusiawi dan bersifat merendahkan;

4. Mendahului hukum dan melakukan eksekusi tanpa keputuan hukum tetap dari pengadilan, memberikan semua jaminan pengadilan yang sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang beradab.

Hak mendasar yang diperoleh kombatan dan tawanan perang antara lain :

1. Mendapatkan makanan sehingga kesehatan mereka terjamin; 2. Mendapatkan pakaian yang layak (seragam tawanan);

3. Para kombatan dan tawanan perang harus dilindungi dari kekerasan atau intimidasi, penghinaan dan dipertontonkan kepada public;

4. Para kombatan dan tawanan perang itu harus dibebaskan dan dikembalikan segera setelah terjadi gencatan senjata;

Setiap perlakuan yang menyimpang dari pihak penahan adalah dilarang keras dan dikategorikan sebagai pelanggaran yang amat serius terhadap Konvensi Jenewa. Sehingga untuk memberikan pemahaman tentang peran Hukum Humaniter Internasional dalam upaya Harmonisasi Hukum Nasional terutama dalam mengiplementasikan Konvensi Jenewa Tahun 1949 mengenai Perlindungan Perang (International Conventions for the Protection of Victims

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

of War) kedalam Sistem Hukum Nasional. Misalnya Indonesia, yang menyatakan ikut dalam Konvensi tersebut dengan cara aksesi berdasarkan Undang-undang No. 59 tahun 1958 yang mencakup Konvensi Jenewa mengenai :

(1) Perbaikan Keadaan yang Luka dan Sakit dalam Angkatan Bersenjata di Medan Pertempuran Darat.

(2) Perbaikan Keadaan Anggota Bersenjata di Laut yang Luka, Sakit dan Korban Karam.

(3) Perlakuan Tawanan Perang.

(4) Mengenai Perlindungan Sipil di Waktu Perang.

Selain itu, Indonesia sendiri masih ditunggu untuk meratifikasi Protokol Tambahan I dan II untuk Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 yang menyangkut: Perlindungan Korban Konflik Bersenjata Internasional (Protokol I) dan mengenai Perlindungan Korban Konflik Bersenjata Non-Internasional (Protokol II). HHI adalah seperangkat aturan yang membatasi penggunaan senjata dan cara berperang. Aturan ini menjadi penting untuk diterapkan dan perlu terus di diseminasikan mengingat kecendrungan korban sipil dalam perang terus meningkat. Hukum Humaniter Internasional ini adalah salah satu instrumen terkuat yang dimiliki oleh masyarakat Internasional untuk memastikan keselamatan dan martabat manusia di masa perang. Dari sinilah muncul peran Hukum Humaniter Internasional yang pada pokoknya berupaya memelihara kemanusiaan, dengan berpedoman pada prinsip bahwa perang pun ada batas-batasnya.

Konvensi Jenewa tahun 1949 mengenai Perlindungan Korban Perang sering disebut juga Konvensi Palang Merah, mencakup empat buah konvensi salah satunya adalah Konvensi

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

Jenewa ke-III tahun 1949 mengenai Perlakuan Tawanan Perang. Da1am Pasal 14 Konvensi tersebut dikatakan bahwa tawanan perang dalam segala keadaan berhak atas penghormatan terhadap diri pribadi dan martabatnya. Tawanan perang wanita harus diperlakukan dengan kehormatan yang patut diberikan mengingat jenis kelamin mereka. Mereka dalam segala hal harus mendapat perlakuan yang sama baiknya dengan kaum laki-laki.

Ketentuan apabila mereka yang disebut kombatan jatuh ke tangan musuh juga diatur dalam pasal 44 Protokol Tambahan I 1977, tentang hak kombatan sebagai tawanan perang.

1. Setiap kombatan, seperti yang telah ditentukan dalam pasal 43, yang jatuh ketangan musuh, akan menjadi tawanan perang (prisoner of war atau POW).

2. Meskipun semua kombatan harus mentaati ketentuan-ketentuan hukum internasional yang berlaku dalam pertikaian bersenjata, namun pelanggaran atas ketentuan tersebut tidak akan menghilangkan haknya untuk menjadi kombatan, apabila ia jatuh ke tangan pihak lawan. Ketentuan ini dikecualikan pada ayat 3 dan 4 pada pasal ini.

3. Untuk menambah perlindungan dari penduduk sipil dari akibat permusuhan, kombatan harus membedakan diri dari penduduk sipil pada waktu mereka sedang menyerang atau di dalam suatu operasi militer yang mendahului serangan tersebut. Akan tetapi, mengingat dalam suatu pertikaian bersenjata terdapat situasi dimana, mengingat sifat dari permusuhan tersebut, kombatan tidak dapat membedakan diri, ia akan tetap memperoleh statusnya sebagai kombatan asalkan pada saat itu ia membawa senjata secara terbuka:

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

b. Selama ia dapat dilihat oleh musuh pada waktu ia terlibat dalam suatu persiapan militer mendahului serangan dimana ia turut serta. Perbuatan yang memenuhi ketentuan ini tidak boleh dianggap sebagai perbuatan yang licik atau curang (perfidious) sebagaimana dalam arti pasal 37 ayat 1 huruf c. 4. Seorang kombatan yang jatuh ketangan pihak musuh, sedangkan ia tidak

memenuhi syarat yang ditentukan dalam kalimat kedua dari pasal 3, maka ia akan kehilangan haknya sebagai tawanan perang, tetapi ia akan diberikan perlindungan yang sama dalam segala aspek seperti yang diberikan pada tawanan perang oleh Konvensi Jenewa III dan protokol ini.

5. Setiap kombatan yang jatuh ketangan pihak lawan pada waktu sedang tidak terlibat dalam serangan atau dalam suatu operasi militer sebagai persiapan suatu serangan tidak akan kehilangan haknya sebagai kombatan dan tawanan perang sebagai akibat dari kegiatan sebelumnya.

6. Pasal ini tidak mengurangi hak setiap orang untuk menjadi tawanan perang sesuai dengan pasal 4 Konvensi Jenewa III.

7. Pasal ini tidak dimaksudkan untuk mengubah kebiasaan perang yang secara umum telah diterima negara-negara yang berhubungan dengan pemakaian seragam oleh kombatan yang termasuk personel kesatuan reguler yang berseragam dan bersenjata dari pihak yang bertikai.

7. Sebagai tambahan dari kategori orang tersebut dalam pasal 13 Konvensi Jenewa I dan II, semua anggota angkatan bersenjata dari pihak bertikai seperti yang dirumuskan dalam pasal 43 protokol ini berhak atas perlindungan yang diatur

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

dalam konvensi tersebut, apabila mereka terluka atau sakit, baik di darat maupun di laut.

Selain mengatur perlindungan terhadap kombatan dan tawanan perang, di dalam Protokol Tambahan I 1977 yang diatur dalam pasal 48 juga memberikan perlindungan kepada penduduk sipil, dalam bentuk pembedaan, yang berbunyi,

“Untuk menjamin hak dan perlindungan terhadap penduduk sipil dan objek sipil, pihak-pihak dalam konflik senantiasa harus dibedakan antara penduduk sipil dan kombatan, dan antara objek sipil dan objek militer dan akan mengarahkan operasi militer hanya terhadap objek militer pihak musuh saja.”

Jadi pada intinya, secara luas Hukum Humaniter Internasional hanya ingin “memanusiawikan” perang. Terlebih lagi, Hukum Humaniter Internasional telah diratifikasi oleh ratusan negara, termasuk Indonesia, yang berarti penghormatan terhadap korban konflik bersenjata, kombatan dan tawanan perang tidak dapat ditawar-tawar lagi.20

20 Emmy Latifah. PERAN PMI DALAM DISEMINASI HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL. Jurnal Hukum YUSTISIA Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Edisi 70. Tahun 2005.

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

BAB III

STATUS TENTARA BAYARAN DALAM PEPERANGAN MENURUT HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL

A. Keberlakuan Hukum dalam Perang

Dalam sejarah manusia, perang sudah dikenal bahkan sebelum adanya peradaban. Di dalam bukunya, seorang ahli sejarah bernama Lawrence menjelaskan bahwa dalam penelitian archeologi telah ditemukan berbagai bukti konflik bersenjata antar suku yang terjadi pada masa prehistoric, antara lain bukti fosil manusia pada masa itu yang mati terbunuh dalam perang, senjata-senjata, serta lukisan batu di dalam gua yang menceritakan tentang suatu pertempuran. Bukti lain menunjukkan bahwa separuh kerangka yang ditemukan dalam Nubian, sebuah kuburan prasejarah yang berusia 12.000 tahun, menunjukkan mereka tewas karena kekerasan yang menggunakan senjata. 21

21

War Before Civilization, www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 1 Oktober 2009, dikutip dari Lawrence H. Keeley, War Before Civilization, Oxford University Press, 1996.

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

Seiring berkembangnya peradaban, dikenal suatu konsep kenegaraan, kemudian berlanjut dengan hubungan antar negara, baik bilateral maupun multilateral. Hubungan antar negara inilah yang menjadi suatu landasan berkembangnya hukum internasional yang merupakan suatu kebiasaan internasional yang lazim dilakukan oleh negara-negara dalam berhubungan dengan negara lain. Kebiasaan internasional ini tentu saja juga mengatur tentang perang.

Perang dalam pengertian yang umumnya dipahami dalam dunia internasional adalah sebuah sengketa hubungan internasional, yang merupakan suatu bentuk kekerasan atau penggunaan kekuatan bersenjata yang dilakukan oleh unit militer negara pihak yang bersengketa dengan maksud untuk memperjuangkan dan mencapai suatu tujuan. Carl Von Clausewitz dalam tulisannya yang berjudul On War berpendapat, “war is a continuation of political intercourse, carried on with other means.22selanjutnya ditambahkan bahwa War is an interaction in which two or more militaries have a struggle of wills.”23

Menurut beberapa ahli hukum, pengertian perang adalah apabila negara pihak yang berkonflik melakukan pernyataan perang (declaration of war), akan tetapi apabila kita melihat konflik bersenjata yang terjadi di dunia internasional dalam perang modern, sebagian besar merupakan konflik bersenjata yang terjadi tanpa adanya pernyataan perang terlebih dahulu dari negara pihak (undeclared war), hal ini dikarenakan apabila suatu negara mendeklarasikan perang, maka negara tersebut akan di anggap sebagai agresor, sehingga didalam perang modern dewasa ini, tidak lagi relevan apabila menganggap bahwa perang harus didahului dengan pernyataan perang. Selain itu, di dalam perkembangan hukum

22

War, www.wikipedia.com, diakses pada tanggal 1Oktober 2009, dikutip dari Clausewitz, Carl Von,

On War, Princeton University Press, 1976, hal. 87

23

Jeffry : Penegakan Hukum Terhadap Tentara Bayaran Dalam Sengketa Bersenjata Ditinjau Dari Hukum Humaniter Internasional, 2010.

internasional, penggunaan istilah armed conflict lebih banyak digunakan menggantikan istilah perang.

Dieter Fleck, seorang pakar dalam hukum internasional, berpendapat bahwa armed conflict adalah suatu tindakan berupa penggunaan armed force oleh suatu pihak terhadap wilayah pihak lain. Tidak menjadi persoalan apakah salah satu pihak atau kedua belah pihak menolak untuk menyatakan pernyataan perang atau declaration of war, serta tidak dipengaruhi seberapa lamanya konflik itu berlangsung dan jumlah korban yang berjatuhan di kedua belah pihak. Berdasarkan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977, secara garis besar konflik bersenjata dibagi menjadi empat bentuk, yaitu:

1. International Armed Conflict; 2. Wars of National Liberation;

3. Non-International Armed Conflict berdasarkan Pasal 3 Konvensi Jenewa 1949; 4. Non-International Armed Conflict berdasarkan Protokol Tambahan II 1977.

Berawal dari kebiasaan internasional yang berkaitan dengan perang tersebut kemudian berkembang menjadi sebuah hukum internasional, seperti yang pernah dikemukakan oleh Morris Greenspan bahwa “war, like most other field of human activity, today is regulated and contained by body of laws.” 24

24

Customary Law, adalah istilah untuk hukum yang penciptaannya berawal dari suatu kebiasaan yang berlaku secara internasional dan pada umumnya menjadi sumber Hukum Internasional.

. Secara awam, lazimnya kita mengenal hukum yang mengatur perang sebagai Hukum Perang, Laws of War, Kriegsrecht, Oologsrecht, dan sebagainya. Hukum perang itu sendiri dalam pengertian yang lebih spesifik dikemukakan oleh beberapa ahli hukum, antara lain H. Lauterpacht, “Laws of war are the

Dokumen terkait