• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. LANDASAN TEORI

3.9 Reliabilitas

Pengertian reliabilitas menurut Anastasia (2014) adalah sesuatu yang merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir - butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau dibawah kondisi pengujian yang berbeda. Sedangkan menurut Masri Singarimbun (2010), realibilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan. Bila suatu alat pengukur dipakai dua kali – untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukur tersebut reliabel. Dengan kata lain, realibitas menunjukkan konsistensi suatu alat pengukur di dalam pengukur gejala yang sama. Kegunaan dari reabilitas data adalah untuk mengetahui atau menunjukkan keajekan suatu tes dalam mengukur gejala yang sama pada waktu dan kesempatan yang berbeda dan ada beberapa cara pengujian reliabilitas antara lain yaitu

30

a. Test-retest

Pengujian test-retest dilakukan dengan cara dicobakan beberapa kali pada responden. Jadi dalam hal ini instrumennya sama, respondennya sama dan waktunya yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan reliable dan pengujian ini sering disebut stability (Singarimbun, 2010).

b. Ekuivalen

Rina (2011) mengemukakan bahwa instrumen yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda akantetapi maksudnya sama.

Sebagai contoh (untuk satu hari saja), Berapa tahun pengalaman kerja anda dilembaga ini? Pertanyaan tersebut dapat ekuivalen dengan pertanyaan berikut. Tahun berapa anda mulai bekerja dilembaga ini ?

Pengujian instrumen dengan cari ini cukup dilakukan hanya sekali, tetapi instrumennya dua, pada responden yang sama, waktu sama, instrumennya berbeda. Reliabilitas instrumen dihitung dengan cara mengkorelasikan antara data instrumen yang satu dengan data instrument yang dijadikan ekuivalen. Bila korelasi positif dan signifikan, maka instrument dapat dikatakan reliable (Rina, 2011).

c. Gabungan

Pengujian reliabilitas ini dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang ekuivalen itu beberap kali ke responden yang sama. Jadi cara ini merupakan gabungan pertama dan kedua. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua instrumen, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua dan selanjutnya dikorelasikan secara silang. Jika dengan dua kali pengujian dalam waktu yang berbeda, akan dapat dianalisis enam koefisien reliabilitas. Bila keenam koefisien korelasi itu semuanya positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan bahwa instrumen tersebut reliable (Rina, 2011).

31

d. Internal Consistency

Pengujian ini dilakukan dengan cara mencobakan instrument sekali saja, kemudian yang data yang diperoleh dianalisis dengan teknik tertentu.

Hasil analisis dapat dilakukan untuk memprediksi reliabilitas instrument (Rina, 2011).

Menurut Ismaryanti (2012) Reliabilitas instrumen yaitu suatu instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, maka akan menghasilkan data yang sama. Hasil pengukuran yang memiliki tingkat reliabilitas yang tinggi akan mampu memberikan hasil yang terpercaya. Tinggi rendahnya reliabilitas instrumen ditunjukan oleh suatu angka yang disebut koefisien reliabilitas. Jika suatu instrumen dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil pengukurannya yang diperoleh konsisten, instrumen itu reliabel. Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan menggunakan Persamaan 3.5 Alpha Cronbach berikut ini

ri = (3.5)

Dimana :

ri = Realiabilitas instrumen n = jumlah butir pertanyaan

= varians butir

= varians total

Hasil perhitungan ri dibandingkan dengan r hitung pada α = 10% dengan kriteria kelayakan jika ri > r hitung berarti dinyatakan reliabel, dan jika ri < r hitung maka dinyatakan tidak reliabel. Perhitungan dalam pengujian reliabilitas menggunakan bantuan SPSS. Adapun tolak ukur untuk menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen yang diperoleh sesuai dengan Tabel 3.7 berikut ini

32

Tabel 3.7 Interpretasi reliabilitas

Koefisien korelasi Kriteria Reliabilitas 0,81 < r < 1,00 Sangat Tinggi

0,61 < r < 0,80 Tinggi 0,41 < r < 0,60 Cukup 0,21 < r < 0,40 Rendah 0,00 < r < 0,20 Sangat Rendah Sumber : Sugiyono (Metode Penelitian, 2013)

Tabel 3.7 menunjukkan bahwa nilai r yang berada pada tingkatan koefisien memiliki kriteria masing – masing tergantung diantara angka berapa koefisien tersebut.

33 BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Lokasi Penelitian

Lokasi Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau berada di Jl. Jendral Sudirman No. 375 Kota Pekanbaru. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 4.1 dibawah ini.

Gambar 4.1 Denah Lokasi Penelitian Batas-batas wilayah lokasi penelitian ini adalah sebagai berikut : Sebelah Utara : Gedung Kantor Kepolisian Daerah Sebelah Selatan : Gedung Pelayanan Pajak Pratama Sebelah Barat : Gedung Kantor Gubernur

Sebelah Timur : Jalan Sumatera

POLDA RIAU

KANTOR GUBERNUR

RIAU

KEJAKSAAN TINGGI RIAU

RIAU PUSTAKA

WILAYAH

RIAU

Jl. Sumatera

Jl. Jendral Sudriman Jl. Gajah Mada Jl. Cut Nyak Dien

KANTOR PELAYANAN

PAJAK PRATAMA

34

4.2 Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan proses untuk dapat melakukan penelitian sesuai dengan rumusan masalah yang ingin dicapai maka dibutuhkan data primer yaitu data yang didapat dilapangan dan data sekunder sebagai data pendukung yang berkaitan dengan penelitian ini. Adapun proses pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penyelesaian penelitian ini diantaranya :

1. Data primer

Merupakan data yang diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan, dokumentasi, dan wawancara dengan responden yang dianggap mengetahui tentang faktor – faktor penyebab waste. Dengan demikian dapat mengetahui apasaja faktor – faktor yang menyebabkan waste di proyek pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau.

2. Data sekunder

Merupakan data yang dikumpulkan dari instansi terkait yang berhubungan dengan penelitian ini yaitu PT. Hutama Karya (Kontraktor), Konsultan Perencana, Konsultan Pengawas, dan owner serta dokumen – dokumen yang terkait dengan pengembangan proyek tersebut. Data sekunder tersebut terdiri dari RAB, As Built Drawing, Data Logistik. Data sekunder ini bertujuan sebagai data pendukung dan untuk melengkapi analisa perhitungan.

4.3 Variabel Penelitian

Waste diartikan sebagai segala macam kehilangan yang dihasilkan dari sebuah aktivitas yang menghasilkan biaya, baik secara langsung maupun secara tidak langsung, tetapi tidak menambah manfaat atau nilai suatu produk dari sudut pandang klien (Alwi, 2000). Dalam buku “The Toyota Way”, Jeffrey K. Liker (2004) menuliskan kategori waste yaitu overproduction, waiting time, transporting, processing itself, unnecessary stock on hand, unnecessary motion, dan defective goods.

Pada penelitian Mudzakir (2017) yang berjudul Evaluasi Waste Dan Implementasi Lean Construction (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Gedung Serbaguna Taruna Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang) terdapat 7 kategori variabel waste dan 17 kategori indikator penyebab waste. Pada penelitian Adlin (2016) yang berjudul Analisa Waste Material Konstruksi Dengan Aplikasi Metode

35

Lean Construction (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Showroom Auto 2000) terdapat 7 Kategori variabel waste dan 11 kategori indikator penyebab waste.

Pengambilan pertanyaan kuesioner variabel pada penelitian ini berdasarkan pada variabel yang telah dilakukan oleh penelitian sebelumnya. Pertanyaan ini ditujukan kepada responden yang representatif seperti pemimpin proyek, manajer lapangan atau praktisi yang memiliki pengalaman dalam proyek serupa terkait dengan permasalahan penelitian ini. Hasil identifikasi faktor penyebab waste dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Hasil identifikasi variabel penyebab waste Referensi

Wawancara Mudzakir (2017) Adlin (2016)

1. Defect

36

Dari hasil identifikasi variabel penyebab waste diatas maka didapat pertanyaan untuk kuesioner yang akan disebarkan pada penelitian ini diambil dari hasil wawancara yang telah dilakukan. Kemudian dibuat dalam bentuk tabel pertanyaan tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2 dan bentuk kuesioner yang disebarkan dapat dilihat pada lampiran C.

37 14 X4 Over Processing

15 X4.1 - Pembuatan laporan yang rumit dan tidak wajib

Sumber : Faktor penyebab waste yang didapat dari wawancara 4.4 Tahapan Analisa Data Menggunakan SPSS

Diagram alir pengambilan data penelitian dengan program SPSS dapat dilihat pada Gambar 4.2 dibawah ini:

Gambar 4.2 Tahapan input data SPSS Mulai

Buka Program SPSS

Input data sesuai dengan kuesioner

Klik variabel view ( dengan mengisi item1, item2 dst untuk soal pertanyaan kuesioner

Menginput data untuk setiap jawaban responden

38

Gambar 4.2 menunjukkan tahapan – tahapan dalam memulai menggunakan aplikasi SPSS dari mulai pertama sampai kelaur hasil analisa dari SPSS.

Pengujian dilakukan pada SPSS untuk mendapatkan hasil analisa validitas untuk mengetahui tingkat valid dari penelitian yang digunakan. Sebuah penelitian dikatakan valid apabila r hitung > r tabel.

Uji reliabilitas pada aplikasi SPSS digunakan untuk mengetahui konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan pertanyaan yang merupakan variabel dan disusun dalam bentuk kuesioner. Uji reliabilitas dilakukan dengan perhitungan Alpha Cronbach, yang menunjukkan bahwa indikator yang digunakan untuk mengukur konsep dalam penelitian ini cukup reliabel dengan syarat hasil Cronbach Alpha > 0.6

4.5 Tahapan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan bebrapa tahapan. Adapun tahapan – tahapan pada penelitian ini sebagai berikut :

1. Persiapan

Tahapan persiapan yang dilakukan yaitu merumuskan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan metode penelitian.

2. Mengumpulkan Data

Tahapan pengumpulan data pada penelitian ini adalah

a. Data primer dengan melakukan observasi, kuesioner, dan dokumentasi di Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau.

b. Data sekunder yaitu data RAB, data logistik, dan gambar As Built Drawing. Data tersebut digunakan sebagai data pendukung untuk melakukan analisa perhitungan.

3. Analisa Data

Adapun langkah – langkah teknik analisis data yang diperlukan dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Mengidentifikasi material apa saja yang ada pada material yang berbiaya besar pada Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau

b. Menghitung volume material pada material yang berbiaya besar

39

c. Melakukan Analisa Waste Level

d. Melakukan pengamatan langsung pada pekerjaan yang terdapat waste dilapangan dan wawancara tentang waste yang terdapat pada proyek.

Responden yang menjadi tujuan wawancara ini adalah responden yang representatif dengan tujuan penelitian ini seperti pemimpin proyek, manajer lapangan, atau praktisi yang memiliki pengalaman dalam proyek serupa terkait dengan penelitian ini. Wawancara yang dilakukan menggunakan wawancara terstruktur dengan pertanyaan langsung ke topik khsusus yang diajukan.

e. Kemudian menyebarkan kuesioner dengan menggunakan data hasil wawancara.

f. Menganalisa data kuesinoer menggunakan aplikasi SPSS untuk menguji validitas dan reliabilitas pada kuesioner yang telah disebarkan 4. Hasil dan Pembahasan

Tahapan yang dilakukan adalah melakukan pembahasan dari hasil penelitian terhadap perhitungan menggunakan Waste Level untuk mendapatkan nilai berapa persen waste material berbiaya besar yang dihasilkan proyek dan penanganannya melalui wawancara. Kemudian hasil dari wawancara dibuatkan sebuah lembaran kuesioner untuk mendapatkan hasil validitas dan realibilitas.

5. Kesimpulan dan Saran

Tahapan yang dilakukan adalah memberikan kesimpulan dan saran atas hasil yang di peroleh dari penelitian ini. Sehingga dapat memberikan saran kepada pembaca tentang meminimalkan waste dengan menerapkan lean construction.

Dari hasil program SPSS dan uji validitas dan reliabilitas maka diperoleh masing-masing faktor dominan dan peringkat paling tinggi yang berakibat ekstrim yang menyebabkan waste pada proyek pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau. Tahapan penelitian dapat dilihat pada bagan alir seperti pada Gambar 4.3

40

`

Tidak

Iya

Gambar 4.3 Bagan Alir Tahapan Penelitian (Flow Chart) Mulai

Data Primer : a. Wawancara

b. Observasi Lapangan c. Kuesioner

Analisa Data :

- Identifikasi material yang berbiaya besar dan berpotensi menimbulkan waste

- Menghitung volume material terpasang - Analisa Waste Level

- Identifikasi faktor – faktor penyebab waste

Hasil Penelitian

Kesimpulan dan Saran

Selesai Persiapan

Pengumpulan Data

Data Sekunder :

a. RAB (Rencana Anggaran Biaya)

b. Laporan Pembelian Material c. As Built Drawing

Instrument Faktor Penyebab

Uji Validitas Uji Reliabilitas

41

BAB

V

ANALISA DAN

PEMBAHASAN

5.1 Identifikasi Material

Dalam melakukan identifikasi material, pertama kali yang harus dilakukan adalah merangking daftar material dari data sekunder yaitu RAB yang telah diperoleh dan dapat lihat pada lampiran B. Material yang diidentifikasi adalah material consumable berdasarkan total harganya sehingga didapatkan harga yang besar menjadi urutan pertama. Material – material yang digunakan pada proyek pembangunan gedung Kejaksaan Tinggi Riau dapat dilihat pada Tabel 5.1

Tabel 5.1 Daftar material

Sumber : Rencana Anggaran Biaya Pembangunan Kejaksaan Tinggi Riau

Pada Tabel 5.1 didapat berdasarkan identifikasi harga dan volume yang terdapat pada Bill Of Quantity dan Shop Drawing proyek. Dari tabel daftar material consumable di atas terdapat 3 material yang berbiaya besar yaitu Beton

Beton Ready Mix K350 3,536.53 Rp 2,101,518.00 Rp 7,432,087,443.97 Besi D22 167,504.00 Kg Rp 20,994.47 Rp 3,516,657,702.88

42

Ready Mix K -350 yakni sebesar Rp7.432.087.443,97, Besi D22 sebesar Rp3.516.657.702,88 dan Besi D25 sebesar Rp3.489.310.726,15. Material tersebut akan dianalisa pada pekerjaan balok, kolom, dan pondasi. Menghitung material yang terpasang menggunakan gambar as built drawing untuk mendapatkan volume yang terpasang di gedung utama dan gedung serbaguna.

5.1.1 Hasil Analisa Material Beton Ready Mix K-350

Beton Ready Mix K-350 akan dihitung dengan mencari volume material yang terpasang pada as built drawing. Menghitung volume beton tergantung pada bentuk bangunan tersebut dan menggunakan satuan .

1. Kolom

Adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok dan berfungsi sebagai penerus beban seluruh bangunan ke pondasi. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A dan hasil dari perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.2

Tabel 5.2 Perhitungan volume beton kolom gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

K10 0.25 0.25 4.35 4 1.0875

Lantai Dag Lantai Dag

Mesin Lift K10 0.25 0.25 2.35 2 0.29375

Gedung Utama

Gedung Serbaguna

Lantai Kolom Panjang Lebar Tinggi Jumlah

Kolom Volume Beton ( ) Lantai Kolom Panjang Lebar Tinggi Jumlah

Kolom Volume Beton ( )

Lantai Dasar

Lantai 1 s/d 7

43

2. Balok

Balok merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan pengikat kolom lantai atas. Fungsinya adalah sebagai rangka penguat horizontal bangunan akan beban-beban. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A dan hasil dari perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.3

Tabel 5.3 Perhitungan volume beton balok gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

3. Pondasi

Pondasi adalah adalah bagian dari eleman gedung yang berhubungan langsung dengan tanah. Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A.

Hasil dari perhitungan bore pile dapat dilihat pada Tabel 5.4 dan hasil perhitungan Pile Cap dapat dilihat pada Tabel 5.5

Tabel 5.4 Perhitungan volume beton bore pile gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

B1 2369.57 0.4 0.7 1 663.48

B2 1246.29 0.35 0.6 1 261.72

B3 306 0.2 0.4 1 24.48

B4 758 0.2 0.3 1 45.48

B5 22.4 0.25 0.4 1 2.24

B1 437.5 0.35 0.6 1 91.875

B2 232 0.3 0.5 1 34.8

B3 223.725 0.25 0.4 1 22.3725

B4 87.2 0.2 0.3 1 5.232

B5 110.4 0.25 0.4 1 11.04

B7 6.09 0.15 0.15 1 0.137025

Gedung Serbaguna Balok Panjang Lebar Tinggi Jumlah

Balok Volume Beton ( ) Balok Panjang Lebar Tinggi Jumlah

Balok Volume Beton ( )

44

Tabel 5.5 Perhitungan volume beton pile cap gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

5.1.2 Hasil Analisa Material Besi D22

Besi D22 adalah besi ulir yang berdiameter 22 mm dengan panjang 1 batang 12 meter. Berdasarkan Bill of Quantity dan As Bulit Drawing pekerjaan yang terpasang besi D22. Kejaksaan Tinggi Riau. Tujuan dari perhitungan pembesian ini adalah untuk mendapatkan berat total besi yag terpasang dalam satuan kilogram (Kg). Besi D22 hanya dipakai pada balok B1 dan K1 pada gedung utama, B1’ dan B5’ pada gedung serbaguna.

1. Balok

Perhitungan pembesian pada balok yaitu dengan membuat tabulasi dari tipe tulangan, diameter, berat besi (Kg/m), panjang besi dari as ke as (m), jumlah besi, panjang total (m), yang pada akhirnya didapatkan berat total (Kg). Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.6

PC 1 2.4 2.4 1 21 120.96

PC 2 1.8 1.8 1 17 55.08

PC 3 10 7 1.05 1 73.5

PC 4 5 5.4 1 2 54

PC 5 10 4 1.05 1 42

PC 6 4.45 2.4 1 2 21.36

PC 6' 6.4 2.4 1 2 30.72

PC 7 1.8 1.8 1 5 16.2

PC 8 4.8 6.4 0.1 2 6.144

PC 2 1.8 1.8 1 17 55.08

PC 9 4.6 4.6 1 1 21.16

Gedung Serbaguna

Pile Cap Panjang Lebar Tinggi Jumlah Pile Cap Volume Beton ( ) Pile Cap Panjang Lebar Tinggi Jumlah Pile Cap Volume Beton ( )

Gedung Utama

45

Tabel 5.6 Hasil perhitungan berat besi D22 pada balok gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

2. Kolom

Perhitungan pembesian pada kolom yaitu dengan membuat tabulasi dari tipe tulangan, diameter, berat besi (Kg/m), jumlah besi, dan panjang besi (m). Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A dan hasil dari perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.7

Tabel 5.7 Hasil perhitungan berat besi D22 pada kolom gedung utama

Sumber : Analisa Perhitungan

5.1.3 Hasil Analisa Material Besi D25

Besi D25 adalah besi ulir dengan diameter 25mm dengan panjang 1 batang 12 meter. Berdasarkan Bill of Quantity dan As Bulit Drawing pekerjaan yang terpasang besi D25 adalah gedung utama dan gedung serbaguna Kejaksaan Tinggi Riau. Tujuan dari pembesian ini adalah untuk mendapatkan berat total besi yang terpasang dalam satuan kilogram (Kg). Besi D25 hanya digunakan pada struktur pondasi yaitu pada bore pile.

Perhitungan pembesian D25 pada pondasi yaitu dengan membuat tabulasi dari tipe tulangan, diameter, berat besi (Kg/m), panjang besi dari as ke as (m), jumlah besi, panjang total (m), yang pada akhirnya didapatkan berat total (Kg).

Untuk perhitungannya dapat dilihat pada lampiran A dan hasil perhitungannya dapat dilihat pada Tabel 5.8 dan Tabel 5.9

Balok Dia. Tulangan Berat ( Kg )

B1 D22 77,497.19

Balok Dia. Tulangan Berat ( Kg )

B1' D22 19,866.68

B5' D22 83.464

Gedung Utama

Gedung Serbaguna

Kolom Dia. Tulangan Berat ( Kg )

K1 D22 68,747.09

Gedung Utama

46

Tabel 5.8 Hasil perhitungan berat besi D25 pada pondasi bore pile gedung utama

Sumber : Analisa Perhitungan hasil dari perhitungan telah dibuat dalam Tabel 5.10

Tabel 5.10 Hasil perhitungan volume beton ready mix k 350 dan besi pada gedung utama dan gedung serbaguna

Sumber : Analisa Perhitungan

5.2 Hasil Analisa Waste Level

Berdasarkan hasil perhitungan keseluruhan volume material beton Ready Mix K350, besi D22 dan besi D25 dari as built drawing dan data logistik untuk gedung utama dan gedung serbaguna yang dapat dilihat pada lampiran A, maka waste level dihitung sesuai Pers 3.1 seperti berikut ini

Dia. Tulangan Panjang tulangan ( m ) Jumlah titik Jumlah tulangan ( Bh ) Volume berat besi/meter ( Kg ) Berat ( Kg )

D25 30.56 45 24 0.000490625 128,945.08

D25 30.56 23 18 0.000490625 49,658.47

Bore Pile

Gedung Utama

Dia. Tulangan Panjang tulangan Jumlah titik Jumlah tulangan ( Bh ) Volume berat besi/meter ( Kg ) Berat ( Kg )

D25 16.33 m 21 18 0.000490625 24,228.00

D25 11.33 m 4 12 0.000490625 2,134.57

Bore

47

Dimana waste level material diketahui =

x 100%

Beton ready mix K-350 =

x 100%

=

x 100%

= 0,02043 x 100%

= 2%

Adapun hitungan waste level 3 material yang dihitung pada bangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau dapat dilihat pada Tabel 5.11

Tabel 5.11 Hasil analisa waste level

Sumber : Analisa Perhitungan

Tabel 5.11 menunjukkan bahwa material yang memiliki persentase waste level terbesar adalah Besi D22 dengan volume waste sebesar 16,181.58 kg dan waste level sebesar 8.87%. Sedangkan material yang memiliki persentase waste level terkecil adalah Besi D25 dengan volume waste sebesar 2,335.116 kg dan waste level sebesar 1,12%.

5.3 Faktor Penyebab Waste Dengan Menggunakan Pertanyaan Kuesioner Tentang 7 Waste

Pada penelitian ini untuk mendapatkan faktor penyebab waste maka harus dilakukan penyebaran kuesioner. Kuesioner yang disebarkan akan diberikan kepada responden, Responden penelitian ini ditujukan kepada para pekerja PT.

Hutama Karya di Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau. Para 1 Beton Ready Mix K-350 7,616.50 7,463.98 152.52 2.00%

2 Besi D22 182,376.00 Kg 166,194.42 16,181.58 8.87%

3 Besi D25 207,900.00 Kg 205,564.88 2,335.12 1.12%

Kedatangan Sat

Logistik Terpasang Vol. Waste Waste Level ( % )

No Material

48

pekerja tersebut terdiri dari latar belakang usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir dan jabatan pekerjaan. Untuk menghitung penentuan jumlah sampel dari populasi tertentu yang dikembangkan, maka digunakan metode pendekatan dari Persamaan 3.2

n = N

N ( ) + 1

= 34

34 ( ) + 1

= 31,3364 ~ 31 Responden Jadi responden pada penelitian ini berjumlah 31 responden.

Dari hasil penjumlahan sampel responden maka diperoleh 31 profil responden yang terpilih menjadi sampel dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 5.12

Tabel 5.12 Profil responden

No Nama Responden Jabatan Responden

1 Wisnu Wardana Project Manager

2 Irwan Hardiyanto Deputy Project Manager

3 Afif Syukroni Site Engineer

4 Erdilla Septiani Site Administration

5 Harjana Site Administration

6 Sapto Priyono Koordinator SPU

7 Moch Taufiq Ardianto Koordinator SPU

8 Edward Emakana Ginting Koordinator SPU

9 Sugimin Supervisor Finishing

10 Hendy Kuswanto Plumbing

11 Adi Irawan General Affairs

12 Ponco Sutantiono Edy Concrete Supervisor

13 Bimo Adyaksa Procurement

14 Pambudi Aji Nugroho Logistic

15 Yudi Kusuma Putra Logistic

49

16 Sukoco Logistic

17 Azizul Fikri Surveyor

18 Solikin Surveyor

19 Ridianto Surveyor

20 Suripto Surveyor

21 Joko Susilo Surveyor

22 Sugiyanto Surveyor

23 Gunadi QC

24 Umar Rohadi HSE

25 Ahmad Farid Rifai Malik HSE

26 Anindya Astuti Rimadhani ACC Officer

27 Rezki Juli Syahputra Labor

28 Fenty Putri Alista Monitoring

29 Rizal Raisa Site Operational

30 Wahyu Drafter

31 Syafriko Drafter

Sumber : Daftar responden kuesioner PT. Hutama Karya & Citra Prasasti KSO

5.3.1 Umur responden

Pengelompokkan responden berdasarkan tentang umurnya dibuat dalam bentuk diagram dan dapat dilihat pada Gambar 5.1 berikut ini

Gambar 5.1 Diagram persentase responden di PT. Hutama Karya & Citra Prasasti KSO

3%

19%

36%

29%

13%

20 - 25 tahun 26 - 30 tahun 31 - 35 tahun 36 - 40 tahun 46 - 50 tahun

50

Gambar 5.1 menunjukkan bahwa umur dari responden pekerja di Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau yang dijadikan sampel. Umur responden diantara 20 – 25 tahun pada pie chart adalah 3%, antara 26 – 30 tahun sebesar 19%, antara 31 – 35 tahun sebesar 36%, antara 36 – 40 tahun sebesar 29%, dan terakhir umur responden diantara 41 – 45 tahun sebesar 13%.

Sedangkan diagram umur responden diantara 46 – 50 tahun lebih tidak ada.

5.3.2 Jenis kelamin responden

Adapun jenis kelamin para Pekerja di PT. Hutama Karya & Citra Prasati KSO dibuat dalam bentuk diagram dan dapat dilihat pada Gambar 5.2 berikut ini

Gambar 5.2 Diagram jenis kelamin responden

Berdasarkan diagram pada Gambar 5.2, jumlah pekerja yang berjenis kelamin laki – laki adalah sebanyak 27 orang dan perempuan hanya berjumlah 4 orang.

5.3.3 Pendidikan terakhir responden

Tingkat pendidikan terakhir para pekerja PT. Hutama Karya & Citra Prasasti KSO dibuat dalam bentuk diagram dan dapat dilihat pada Gambar 5.3

Gambar 5.3 Diagram pendidikan terakhir responden 87%

13%

Laki - laki Perempuan

7% 16%

77%

SMA / Sederajat D III

S1

51

Gambar 5.3 menunjukkan bahwa diagram pendidikan terakhir responden SMA / Sederajat berjumlah 2 orang, D3 berjumlah 5 orang dan S1 berjumlah 24 orang.

5.4 Uji Validitas

Uji Validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu instrument dikatakan valid jika pernyataan pada suatu instrument mampu atau handal untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Pada uji validitas, sampel yang digunakan sebanyak 31 responden yang merupakan pekerja PT. Hutama Karya & Citra Prasasti KSO pada Proyek Pembangunan Gedung Kejaksaan Tinggi Riau. Kriteria penilaian uji validitas yaitu sebagai berikut :

a. Jika r hitung > r tabel maka variabel pernyataan dikatakan valid b. Jika r hitung < r tabel maka variabel pernyataan dikatakan tidak valid Nilai r tabel diperoleh dengan persamaan N – 2 = 31 – 2 = 29 ( lihat ditabel r dengan signifikan 0,02 ) maka diperoleh r tabel = 0,4158 . Pengujiannya dapat dilihat pada lampiran A dan nilai uji validitas dapat dilihat pada Tabel 5.13 berikut ini

Tabel 5.13 Hasil uji validitas instrumen

Sumber : Output SPSS, 2019

Sumber : Output SPSS, 2019

Dokumen terkait