G. Verifikasi Penelitian

2. Reliabilitas

Reliabilitas yang digunakan adalah reliabilitas interobserver. Reliabilitas intraobserver adalah melihat adanya konsistensi dan stabilitas dalam pencatatan yang dilakukan oleh lebih dari satu observer. Observer akan mengamati subjek yang sama, dalam waktu yang bersamaan, dan format pencatatan yang sama (Kusdiyati dan Fahmi, 2015). Dalam penelitian ini yang akan berperan sebagai observer adalah peneliti dan rekan peneliti.

49

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Responden Penelitian 1. Responden 1 (R1)

Responden 1 adalah seorang anak laki-laki yang berusia 11 tahun. Saat ini, ia duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Luar Biasa. Responden 1 menyandang tunarungu sejak ia berusia 2 tahun. Kedua orangtua responden tidak mengetahui pasti penyebab disabilitas yang menimpa responden. Informasi yang didapat dari orangtuanya, kelainan tersebut mulai diketahui ketika Responden 1 menderita panas tinggi hingga kejang-kejang. Sejak saat itu Responden 1 tidak mampu untuk merespon suara. Tingkat pendengaran Responden 1 masuk dalam kategori profoundly losses dengan intensitas bunyi sebesar 110 dB. Responden 1 menyandang disabilitas tersebut sebelum ia mengenal bahasa.

Responden 1 berinteraksi dengan teman-teman sesama tunarungu saat Akan tetapi, di lingkungan rumah, Responden 1 berinteraksi dengan anak-anak seusianya yang tidak menyandang disabilitas.

2. Responden 2 (R2)

Responden 2 merupakan seorang anak perempuan yang berusia 11 tahun. Saat ini, Responden 2 duduk di kelas 3 Sekolah Dasar Luar Biasa. Responden 2 didiagnosa menyandang disabilitas tunarungu saat ia berusia 2 tahun. Penyebab pastinya tidak diketahui oleh kedua orangtuanya.

Perubahan Responden 2 terasa saat Responden 2 tidak mampu merespon panggilan orangtuanya. Responden 2 tidak mampu merespon suara yang ada sebelum ia mengenal bahasa. Awalnya Responden 2 pernah terjatuh dan terjadi benturan di kepalanya. Saat itu, Responden 2 baik-baik saja sampai tiba-tiba ia tidak mampu merespon suara. Tingkat pendengaran responden 2 masuk dalam kategori profound losses dengan intensitas bunyi sebesar 110 dB.

Saat di sekolah Responden 2 berinteraksi dengan teman-temannya sesama tunarungu. mereka menggunakan bahasa yang mereka pahami bersama. Sedangkan di lingkungan rumah, Responden 2 berinteraksi dengan teman-teman sebaya yang tidak memiliki disabilitas seperti Responden 2. Ia berinteraksi dengan „anak-anak dengar‟ saat mengikuti kegiatan di lingkungan rumah.

3. Responden 3 (R3)

Responden 3 adalah seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Ia duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Luar Biasa. Responden 3 kehilangan fungsi pendengarannya sejak ia berusia 2,5 tahun. Ia kehilangan fungsi pendengaran sebelum ia mengenal bahasa. Tingkat pendengaran responden masuk dalam kategori profoundly losses dengan intensitas bunyi 120 dB. Selain itu, penyebab Responden 3 menyandang tunarungu tidak diketahui. Responden 3 tiba-tiba saja tidak merespon suara orangtuanya dan mengalami keterlambatan bicara. Ia tidak mengalami jatuh atau panas tinggi seperti dua responden sebelumnya.

Saat ini, Responden 3 duduk di kelas 4 Sekolah Dasar Luar Biasa. Responden 3 berinteraksi dengan sesama tunarungu ketika berasa di lingkungan sekolah. Ketika di lingkungan rumah, Responden 3 berinteraksi dengan teman-teman sebayanya yang tidak menyandang disabilitas. Mereka berinteraksi ketika sdang ada acara khusus, seperti mengaji saat bulan Ramadhan. Selain itu, ia berinteraksi dengan adiknya yang memenuhi kriteria „anak dengar‟.

B.Pelaksanaan Penelitian

Pengambilan data dilakukan sejak 25 April 2016 hingga 30 Mei 2016. Rentang waktu ini merupakan rentang waktu pengambilan data untuk ketiga responden. Observer datang setiap hari ke sekolah untuk melakukan pendekatan sekaligus pengamatan di sekolah. Setiap hari observer mengamati 1 responden. Observer datang dari pagi hari jam 10.00 hingga jam 14.00 untuk mengamati lingkungan dan berdinamika dengan responden.

Pengambilan data dilakukan pada saat jam istirahat sekolah sehingga tidak mengganggu kegiatan belajar mengajar. Pengambilan data saat di sekolah berlangsung pada pukul 12.00 WIB hingga pukul 13.00. Waktu ini merupakan saat istirahat siang responden di sekolah yang cukup lama. Biasanya mereka mengawali istirahat dengan makan siang bersama, shalat berjamaah, dan dilanjutkan dengan menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Selama observasi berlangsung, observer dan rekan observer harus berpindah-pindah tempat untuk mengamati responden. Hal ini disebabkan

tempat yang bersekat-sekat dan tidak memungkinkan untuk mengamati kegiatan responden. Selain itu, responden juga menyadari kehadiran kamera yang sedang merekam kegiatan mereka. Terkadang responden justru memperhatikan kamera daripada bermain dengan teman-temannya. Ada pula siswa lain yang menganggu dengan meminjam kamera yang sedang digunakan atau berdiri di hadapan lensa sehingga menutupi perilaku responden.

Setelah melakukan pengambilan data di sekolah, observer melanjutkan mengamati kegiatan para responden ketika di lingkungan rumah. Pengamatan dilakukan bertepatan dengan bulan Ramadhan sehingga setiap sore responden 1 dan responden 2 mengikuti kegiatan TPA di masjid. Pengamatan dilakukan dari pukul 16.30 WIB hingga pukul 17.45 WIB. Hal ini berbeda dengan responden 3 yang hanya berkegiatan di rumah bersama adiknya.

Ketika pengambilan data berlangsung di lingkungan rumah, observer datang sekitar pukul 16.00 WIB. Hal ini disebabkan responden baru pulang sekolah pukul 15.00 WIB. Selama di rumah responden, observer mengamati kegiatan untuk persiapan TPA kemudian berangkat ke masjid bersama responden. Lingkungan di masjid sangat ramai dengan anak-anak seusia responden akan tetapi mereka jarang yang berinteraksi dengan responden. Terkadang responden juga kesulitan memahami pesan yang disampaikan teman-temannya secara verbal.

Kesulitan komunikasi yang dialami oleh responden justru menjadi distraksi bagi observer. Selama melakukan pengamatan saat di masjid, responden banyak membutuhkan bantuan observer atau orang lain untuk

berkomunikasi dengan „anak dengar‟. Sesekali observer membantu untuk menterjemahkan pesan yang disampaikan kepada anak tunarungu oleh „anak dengar‟ dan begitu pun sebaliknya. Hal ini menjadi distraksi observer ketika sedang melakukan pengamatan.

Pengamatan responden 3 dilakukan di rumahnya ketika sedang bermain bersama adiknya. Observer datang pada malam hari karena rumah subjek yang cukup jauh dan jam pulang sekolah yang hampir sore. Ketika observer datang, responden sedang bercengkrama dengan keluarganya. Responden terlihat malu-malu dan memilih untuk menemani adiknya.

C.Hasil Penelitian 1. Kontak Sosial

a. Anak Tunarungu dengan Sesama Anak Tunarungu

Berdasarkan hasil observasi, kontak sosial yang terjadi antara anak tunarungu dengan sesamanya melibatkan kesadaran responden dan kontak fisik, serta adanya ajakan interaksi. Kesadaran akan kehadiran orang lain tampak pada perilaku R1 yang menghampiri teman-temannya untuk memberitahukan kedatangan teman yang lain.

“Ketika jam istirahat R1 melihat ada teman lamanya yang datang dan duduk di samping sekolah.”

“R1 menghampiri temannya yang berada di aula.”

Perilaku lain tampak pada perilaku R2 yang melihat temannya sedang menangis.

“Setelah R2 melihat temannya menangis, tidak lama ibu guru datang

Perilaku berbeda tampak dari R3 yang menyadari kehadiran sesama anak tunarugu dengan berbagi makanan yang dimiliki.

“Lalu, R3 mengambil 2 wafer dan membagikan wafernya pada teman

yang lain.”

Setelah menyadari kehadiran sesama anak tunarungu, para responden menyadari kegiatan yang dilakukan oleh sesama anak tunarungu. R1 memperhatikan temannya yang sedang bermain game pada tabnya.

“R1 berdiri di samping temannya sambil menyilangkan tangannya di

dada dan melihat temannya yang sedang bermain game di tab tersebut.”

R2 dan R3 memperhatikan teman-temannya yang sedang bermain tebak- tebakan dan bola kertas.

“Lalu, R2 duduk dan melihat teman-temannya yang sekarang bermain tebak-tebakan.”

“Selama itu sambil duduk, R3 juga melihat kakak kelas dan teman-teman sebaya yang laki-laki ketika mereka sedang bermain bola.”

Ketiga responden menyadari bahwa mereka sedang direkam dengan kamera sehingga mereka beberapa kali melihat ke arah kamera. Hal ini tampak pada:

“R1 juga sesekali melihat ke arah kamera.” “R2 juga terkadang melihat ke arah kamera.” “R3 juga sempat melihat ke arah kamera.”

Kemudian, R2 dan R3 juga menyadari kepemilikan sebuah benda. Hal ini tampak pada perilaku R2 yang mengembalikan sebuah benda kepada temannya. Sedangkan perilaku R3 tampak ketika ia

memperhatikan ponsel milik temannya. Akan tetapi perilaku ini tidak tampak pada R1.

“Saat di tangga R2 memegang sesuatu dan dikembalikan kepada temannya yang lebih kecil.”

“Kemudian, R3 juga melihat ke arah HP temannya.”

Ketiga responden tidak hanya sadar akan kehadiran sesama tunarungu atau kegiatan sesama tunarungu. Responden juga sadar akan lingkungan atau situasi yang ada di sekitarnya.

“Kemudian R1 berjalan-jalan kecil dan hanya melihat sekitarnya.”

“Kemudian R2 mengamati teman-teman di sekililingnya sambil

bertopang dagu.”

“R3 sempat melihat ke arah pintu masuk.”

Selain melibatkan kesadaran, kontak sosial juga melibatkan kontak fisik yang tampak pada tatapan wajah dan sentuhan fisik. Perilaku menatap wajah sesama anak tunarungu lain tampak pada:

“Kemudian, R1 berhadapan dengan teman yang berada pada urutan terakhir.”

“Sampai di depan kelasnya R2 menatap wajah temannya yang mengajaknya berkomunikasi.”

“Sambil makan R3 melihat wajah dan gerakan tangan teman di

hadapannya yang sedang berbicara.”

Sedangkan perilaku yang melibatkan sentuhan fisik tampak pada:

“R1 berbicara sambil dirangkul oleh temannya.”

“R2 berjalan mundur dan tidak sengaja langkahnya terkena lutut

temannya yang sedang duduk.”

“R3 juga makan sambil bersandar dengan temannya dengan meletakkan siku R3 di atas lutut temannya di sampingnya.”

R1 juga sadar akan adanya ajakan interaksi. Perilaku ini tampak pada:

b. Anak Tunarungu dengan ‘Anak Dengar’

Kontak sosial yang terjadi antara anak tunarungu dengan „anak dengar‟ juga melibatkan kesadaran, kontak fisik, serta adanya ajakan interaksi. Kesadaran yang terlibat adalah kesadaran akan kehadiran „anak dengar‟, sadar akan kegiatan „anak dengar‟, dan sadar akan lingkungan/situasi.

R1 sadar akan kehadiran „anak dengar‟ ketika ia bertemu dengan „anak dengar‟.

“Disana R1 bertemu dengan anak kecil yang tadi bermain dengannya.”

Sedangkan R2 duduk bersama „anak dengar‟ dan R3 mendekati „anak dengar‟.

“Seperti biasa, R2 datang ke masjid lebih awal daripada teman-

temannya.Sesampainya di masjid R2 duduk di dekat 2 orang temannya.” “Kemudian R3 mendekati kardus mainan dan adiknya.”

Mereka juga menyadari kegiatan yang dilakukan oleh „anak dengar‟.Misalnya, R1 yang melihat adik kecil yang sedang makan.

“Kemudian R1 kembali melanjutkan makan sambil melihat adik kecil yang juga makan di sampingnya.”

Ada juga R2 yang melihat teman-temannya berkejar-kejaran dan R3 yang melihat adik yang sedang bermain keyboard.

“Lalu R2 sempat melihat ke arah temannya yang sedang berkejar-

kejaran.”

“R3 berdiri di sebelah adiknya yang sedang bermain keyboard.”

Dari ketiga responden, hanya R1 yang sadar akan lingkungan/situasi. R1 melihat-lihat sekitarnya ketika sedang mengikuti kegiatan TPA.

“Setelah itu R1 hanya berdiri dan melihat sekelilingnya.”

Dari ketiga responden, hanya R3 yang melibatkan tatap wajah dengan „anak dengar‟ ketika sedang bersama.

“R3 bergantian melihat wajah adiknya dan kardus yang dipegang

adiknya.”

Ajakan interaksi tampak pada R1 yang mengajak seorang „anak dengar‟ yang berusia lebih muda untuk berkomunikasi dengan menampilkan ekspresi-ekspresi lucu.

“Kemudian R1 menghampiri balita tersebut dan menggoyang-goyangkan

pinggulnya sambil berekspresi lucu (membuka mulutnya lebar dan berkedip-kedip).”

Pada R2, justru ia yang diajak berinteraksi terlebih dahulu oleh „anak dengar‟.

“Tidak lama satu per satu teman R2 datang ke masjid.Ada satu

temannya yang mendekati R2 dan bertanya sesuatu kepada R2.” Akan tetapi, ajakan interaksi tidak tampak pada R3.

2. Komunikasi

a. Komunikasi Linguistik

1) Anak Tunarungu dengan Sesama Anak Tunarungu

Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan tiga bentuk komunikasi linguistik, yaitu melafalkan pesan, menangkap pelafalan pesan, dan berkomunikasi dengan abjad jari. R2 dan R3 menyampaikan pesan kepada sesama anak tunarungu dengan menggerakkan mulut/bibir mereka.

“R1 bertanya kepada temannya dengan cara menunjuk tab tersebut sambil menggerakkan mulutnya.”

“R2 diminta untuk memberikan jawaban dan R2 menatap wajah temannya sambil menggerakan mulutnya untuk memberikan

jawaban.”

“R3 banyak menghabiskan waktu dengan bercerita kepada T bahkan terkadang sampai menutupi mulut dan berbisik kepada T.”

Selain menyampaikan pesan, R1, R2, dan R3 juga menangkap pesan dengan gerakan bibir. Misalnya, R1, R2, dan R3 melihat teman yang sedang berbicara.

“R1 melihat teman yang sedang berbicara sambil menyilangkan tangannya di belakang badan.”

“Lalu, R2 berdiri sambil melihat temannya yang berbicara.” “R3 juga melihat gerakan mulut teman.”

Selain menggerakkan bibir untuk menyampaikan dan menangkap pesan, ketiga responden juga menggunakan bahasa isyarat berupa abjad jari untuk berkomunikasi secara verbal.R1 dan R3 menyampaikan pesan dengan gerakan abjad jari.

“R1 menyampaikan pesan dengan cara membentuk abjad-abjad

dengan tangannya dan mulutnya ikut melafalakan.”

“R2 melihat wajah temannya sambil berbicara dengan menggerakan jarinya membentuk abjad”

“R3 juga membentuk abjad dengan jari-jarinya ketika

berkomunikasi.”

2) Anak Tunarungu dengan ‘Anak Dengar’

Komunikasi linguistik antara anak tunarungu dengan „anak dengar‟ terdapat tiga perilaku. Perilaku tersebut adalah melafalkan pesan, menangkap pelafalan pesan, dan menuliskan pesan.

Melafalkan pesan tampak pada kegiatan R1 yang sedang mengajari „anak dengar‟ bahasa isyarat dengan melafalkan abjad.

“R1 mengajari sambil tersenyum dan melafalkan huruf-huruf tersebut

dengan gerakan mulutnya.”

Menangkap pelafalan pesan tampak pada R2 yang dihampiri dan diajak berbicara oleh „anak dengar‟. Selain itu, R3 juga melihat gerakan bibir adiknya.

“Lalu temannya mengajak berbicara sambil menunjukkan buku yang dipegangnya dan R2 mencondongkan badannya untuk melihat.”

“R3 melihat gerakan mulut adiknya kemudian melihat ke arah

ibunya.”

Ketika „anak dengar‟ tidak memahami pesan yang disampaikan oleh anak tunarungu, ia mencoba untuk menuliskan pesan. Hal ini tampak pada R2 yang menuliskan pesan di lantai menggunakan jari tangannya.

“R2 juga mencoba menggunakan bahasa isyarat dan mencoba

menuliskan di lantai menggunakan jarinya.”

b. Komunikasi Nonlinguistik

Komunikasi nonlinguistik juga merupakan bagian dari komunikasi. Hal ini tampak dalam kebersamaan antara anak tunarungu dengan sesama anak tunarungu dan anak tunarungu dengan „anak dengar‟.

1) Anak Tunarungu dengan Sesama Anak Tunarungu

Emblems merupakan perilaku pengganti kalimat atau pesan yang akan disampaikan. Berdasarkan hasil penelitian, emblems tampak dalam menyampaikan pesan dengan lambaian tangan, menyampaikan pesan dengan sentuhan fisik, menyampaikan pesan

dengan tindakan langsung, menyampaikan pesan dengan simbol, menyampaikan pesan dengan peragaan, dan menunjuk pesan yang dimaksud.

Menyampaikan pesan dengan lambaian tangan tampak pada perilaku R1 yang akan memanggil teman.

R1 memanggil teman-temannya yang lain dengan cara

melambaikan tangannya”

Cara yang sama untuk menyampaikan pesan yang berbeda tampak pada perilaku R2. R2 melambaikan tangannya untuk mengatakan bergeser kepada temannya.

“R2 menginstruksikan ke teman-temannya untuk bergeser

menggunakan tangannya kemudian melanjutkan bermain”

R3 melambaikan tangannya untuk mengajak temannya pergi.

“R3 tersenyum dan melambaikan tangannya untuk mengajak temannya mengikutinya.”

Cara lain untuk menyampaikan pesan adalah dengan melibatkan sentuhan fisik. Cara ini biasanya digunakan R1, R2, dan R3 untuk memanggil temannya. R1, R2 dan R3menepuk pundak untuk memanggil temannya.

“R1 menepuk pundak temannya yang sedang bermain dan

bertanya bagaimana cara memainkannya.”

“R2 hanya ditanggapi sesekali oleh teman-temannya sehingga ia menepuk pundak dan menarik lengan temannya karena tidak

melihat dirinya.”

“Selama bercengkrama dengan temannya, R3 terlihat beberapa

kali menepuk bahu temannya untuk memanggil dan mengajak

Setelah lambaian tangan dan sentuhan fisik, responden juga menyampaikan pesan dengan tindakan langsung, seperti R1 yang memegang bahu teman dengan maksud jangan pergi.

“R1 memegang bahu temannya untuk menahan temannya agar tidak pergi.”

R2 terlihat menarik baju temannya agar temannya kembali pada posisinya.

“R2 juga menarik baju temannya agar temannya kembali mundur ke posisinya.”

R3 tampak menjulurkan tangannya untuk mengambil kertas yang dibagikan.

“R3 menjulurkan tangannya untuk mengambil kertas yang

dibagikan.”

Setelah itu, responden menyampaikan pesan dalam bentuk simbol. R1 menempelkan jari telunjuknya di bibir untuk mengatakan diam kepada temannya.

“Kemudian R1 juga berbalik badan dan meminta temannya untuk

diam dengan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.” R2 menunjukan angka-angka dengan jarinya.

“R2 menunjuk temannya sambil tertawa-tawa dan seperti

menghitung karena jari-jari R2 menunjukkan angka 1 sampai 3.” R3 tampak mengangkat jempol atau kelingkingnya.

“R3 sesekali mengangkat jempol atau kelingkingnya untuk

Setelah itu, responden juga menyampaikan pesan dengan peragaan. Hal ini tampak pada perilaku R1 yang memperagakan kegiatan memompa.

“R1 menggerakkan kedua tangannya dan menirukan gerakan

orang yang sedang memompa.”

R3 juga memperlihatkan penyampaian pesan dengan peragaan. Hal ini tampak ketika R3 memperagakan kegiatan bermain computer.

“R3 memperagakan seperti bermain computer dan menggerakkan tangannya untuk menyampaikan pesan.”

Penyampaian pesan dengan peragaan hanya tampak dalam perilaku R1 dan R3. Hal in justru tidak tampak pada R2.

Selain dengan gerakan tangan atau tubuh, sering pula responden menunjuk pesan yang dimaksud. Misalnya, R1 menunjuk dirinya untuk menyampaikan pesan terkait dirinya.

“Lalu, ada teman R1 yang menunjuk-nunjuk kamera, R1 tersenyum

kepada temannya dan menunjuk dirinya dengan jari telunjuk yang

di arahkan ke dadanya.”

R3 juga tampak menunjukkan pesan dengan menunjuk rambut dan menggaris poni.

“R3 juga menunjuk rambutnya dan menggaris dahinya dengan

telunjuknya untuk menyampaikan tentang poni.”

Selanjutnya adalah illustrators. Illustrator adalah sebuah perilaku yang tampak untuk mempertegas pesan yang disampaikan. Berdasarkan hasil observasi ditemukan bahwa ketiga responden menyertakan gerakan tangan/jari dan menangkap pesan verbal yang

disertai gerakan tangan/jari. Menyertakan gerakan tangan/jari tampak pada perilaku R1 yang menurunkan jari-jari tangan seperti berhitung.

“R1 berbicara dengan 2 orang teman yang berada di sampingnya

dengan melihat wajah dan gerakan tangannya.R1 juga menggerakkan tangannya seperti orang menghitung karena R1

menurunkan jarinya satu per satu.”

R2 tampak menunjuk wajah teman sambil berbicara dan R3 menggerakkan mulut disertai gerakan tangan.

“R2 terlihat menunjuk wajahnya ketika sedang berbicara dengan seorang temannya.”

“R3 O berbincang dengan temannya sambil memegang botol

minumnya, melafalkan pesan, dan menggerakkan tangannya seperti mengibas-ngibaskan.”

Adapula penyampaian pesan yang disertai dengan gerakan tubuh. Hal ini hanya tampak pada R1 dan R3, sedangkan pada R2 tidak tampak. Perilaku R1 yang menyertakan gerakan tubuh adalah menyampaikan pesan disertai peragaan kegiatan.

“Kemudian R1 berjalan menjauh, bercakap-cakap dengan

temannya sambil menggerakkan tangan dan mulutnya.R1 memperagakan seseorang yang sedang makan dan ditunjukkan

kepada temannya.”

Sedangkan R3 memberikan contoh cara berjalan saat menyampaikan pesan.

“Mereka membicarakan tentang tarian karena R3 memberikan

contoh cara berjalan seperti model dan beberapa gerakan seperti

menari.”

Setelah emblems dan illustrators, ada yang disebut dengan affects atau ungkapan perasaan. Affects muncul dalam dua bentuk

yaitu mimik wajah dan perilaku. Ketiga responden memunculkan ungkapan perasaan mimik wajah dengan tersenyum dan tertawa.

“R1 tersenyum ketika melihat temannya menyampaikan pesan.” “R2 memperhatikan temannya yang sedang bernyanyi sambil tersenyum.”

“R3 juga tersenyum ketika menyampaikan pesan.”

Ungkapan perasaan tertawa tampak pada:

“R1 tertawa-tawa dengan membuka lebar mulutnya ketika melihat

temannya datang.”

“R2 tertawa-tawa dengan membuka lebar mulutnya dan

mengeluarkan suara.”

“R3 tertawa-tawa dan mengangkat botol minumnya.”

Selain tersenyum dan tertawa, ada pula ungkapan perasaan lain yang hanya muncul pada masing-masing responden. Misalnya, R1 yang matanya sayu, bibir yang dilengkungkan ke bawah, dan menangis.

“Matanya terlihat sayu dan bibirnya di lengkungkan ke

bawah.Kemudian R1 ditanya oleh temannya yang naik tangga kenapa menangis. R1 terdiam dan menghapus air matanya dengan

tangannya.”

Kemudian, R2 menunjukkan perasaan bingung dengan mengerutkan dahi.

“R2 juga mengerutkan dahi ketika berbicara dengan teman yang

ada di sampingnya dan berjalan keluar sambil berbicara dengan

temannya.”

Lalu, R3 menunjukkan perasaan kesal dengan raut wajah yang ditekuk.

“R3 juga menunjukkan sikap pura-pura kesal dengan ekspresi wajah muka yang ditekuk tidak lama kemudian ia tersenyum

Ada pula ungkapan perasaan yang tampak pada perilaku responden. R1 tampak berpura-pura akan terjatuh ketika didorong kakak kelasnya. Selain itu, R1 juga berteriak dan melompat-lompat kecil.

“R1 didorong pelan oleh kakak kelasnya dan mengayunkan

tangannya ke depan seakan-akan akan terjatuh.”

“R1 melompat-lompat kecil dan tersenyum sambil berpindah-

pindah tempat di aula sekolah.”

“R1 bersandar pada pagar kayu di dekatnya sambil memainkan

jari telunjuknya. Mereka seperti tidak sependapat tentang jam

tarawih.”

Ungkapan perasaan melalui perilaku yang tampak pada R2 adalah menggaruk-garuk kepala, menari-nari, dan menghentakkan kaki.

“Kemudian R2 melanjutkan pembicaraan dengan temannya sambil

menggaruk-garuk kepalanya.”

“R2 menari-nari ketika menunggu untuk dipanggil dan I

memegang kedua telinganya.”

“R2 mengerutkan dahi, menghentakan kaki dan mencubit tangan

teman laki-laki yang datang.”

Ungkapan perasaan dengan menari-nari juga tampak pada R3.

“Kemudian R3 menari-nari dan melihat ke arah temannya.” R3 terlihat menundukkan kepala dan menutupi wajahnya.

“R3 juga sempat menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan tangannya ketika berbicara.”

Lalu, ada yang disebut dengan regulators. Regulators merupakan perilaku yang tampak untuk mengklarifikasi pesan, baik benar atau salah, setuju atau tidak setuju. Selain itu, penyampaian pesan melalui kontak mata juga masuk dalam regulators.

Berdasarkan hasil penelitian, regulators yang tampak adalah melambaikan tangan untuk menyanggah, menganggukkan kepala, menggelengkan kepala, dan menyampaikan pesan dengan kontak mata.

Melambaikan tangan untuk menyanggah pesan tampak dalam perilaku ketiga responden.

“R1 juga melambaikan tangan untuk mengatakan tidak dan

berteriak sambil mengangkat tangan.”

“Setelah temannya menangkap bola R2 melambaikan tangan

menyatakan “bukan begitu” kemudian memberikan contoh

bagaimana posisi tangan untuk menangkap bola.” “R3 juga melambaikan tangan menandakan tidak.”

Menganggukan kepala hanya tampak pada perilaku R2 dan R3.

“R2 sambil memegang buku. R2 bercerita dengan menggerakan

tangan dan menganggukan kepala”

Dalam dokumen Interaksi sosial antar anak tunarungu dan anak tunarungu dengan ` Anak Dengar (Halaman 63-90)