HASIL DAN PEMBAHASAN Heterogenitas Masyarakat di Hutan Lindung Sungai Wain
4) Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Sasamba
3) Pembangunan Jembatan Teluk Balikpapan
Rencana pembangunan jembatan Teluk Balikpapan merupakan salah satu prioritas dalam upaya peningkatan pelayanan jalan lintas “Kalimantan Poros Selatan” yang berada di Wilayah Kalimantan Timur.
Khusus untuk Wilayah Balikpapan, hampir sepenuhnya posisi jalan yang akan dibangun berbatasan langsung dengan Kawasan HLSW yang berada di Bagian Selatan dan Barat kawasan. Rencana pembangunan jembatan Teluk Balikpapan berarti membangun sarana angkutan dan perekonomian bagi masyarakat luas, akan tetapi kemudahan tersebut akan dimanfaatkan oleh sekelompok masyarakat dengan cara merambah dan memiliki lahan secara tidak sah disepanjang jalan.
Oleh karena itu para pengambil kebijakan hendaknya berusaha mencari alternatif ataupun solusi yang lebih baik secara ekonomi maupun ekologis sehingga pembangunan ekonomi yang dilakukan tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan misalnya dengan cara memindahkan lokasi jembatan ketempat lain yang tidak berbatasan langsung dengan HLSW tetapi secara ekonomi masih menguntungkan. Karena apapun alasannya suatu kawasan konservasi atau kawasan yang dilindungi tidak dapat dirubah dan digantikan kondisinya baik dari segi jenis maupun habitatnya itu sendiri
4) Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Sasamba
Keberadaan Hutan Lindung Sungai Wain pada kajian proyek ini sangat diabaikan. Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain direncanakan sebagai areal terbuka bagi pengembangan kawasan industri dimana berdasarkan pada Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) Kalimantan Timur “Rencana Pengembangan Kawasan Andalan Sasamba” ditetapkan sebagai salah satu dari 8 kawasan strategis/andalan yang direncanakan di Kalimantan Timur dengan cakupan wilayah Samarinda, Sanga-Sanga, Muara Jawa, dan Balikpapan (BPHLSW, 2007). Perlu ada upaya serius dari segenap komponen masyarakat agar pemerintah mengkaji ulang dan merevisi kajian proyek tersebut dan memasukan arti penting keberadaan HLSW baik secara ekonomi maupun ekologi dimana keberadaannya merupakan sesuatu yang tak ternilai dan tergantikan dimasa depan.
Kerusakan lingkungan yang bisa ditimbulkan sebagai akibat dari berbagai kejadian tersebut diatas akan memberikan dampak ekologi yang besar bagi Hutan Lindung Sungai Wain. Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain yang mempunyai keragaman gen, spesies dan habitat yang sangat khas akan mengalami penurunan dan perubahan nilai ekologi apabila kegiatan tersebut terus berlangsung. Deforestasi akan menyebabkan rusaknya berbagai habitat mahluk hidup di alam, kerusakan habitat akan menyebabkan terganggunya pertumbuhan jenis-jenis tumbuhan hutan bahkan dapat secara langsung menyebabkan kemusnahan jenis. Teori species-area relationship menyatakan jika 50% dari areal hutan rusak, sekitar 10% jenis tumbuhan yang hidup di area tersebut akan punah. Jika 90% habitat rusak, area akan kehilangan 50% jenis dan jika 99% habitat hilang, maka 75% jenis akan hilang (Primarck et al., 1998). Deforestasi mengurangi keanekaragaman jenis dan mengikis dasar genetik dari banyak jenis pohon hutan, termasuk jenis yang dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat lokal untuk keperluan rumah tangga dan pangan (Leakey & Newton, 1994).
Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Konservasi HLSW
Upaya pengelolaan dan penyelamatan HLSW tersebut diusahakan dengan melalui berbagai kebijaksanaan pengelolaan dan pengembangan HLSW yang didasarkan pada kebijakan pengelolaan kawasan lindung di Indonesia pada umumnya yaitu diarahkan untuk mencapai tujuan agar kawasan yang dimaksud mempunyai fungsi perlindungan terhadap sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di dalam pelaksanaannya diupayakan agar kawasan lindung tersebut bebas dari segala gangguan dan permasalahan, dikelola dengan baik dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya.
Komitmen yang dicetuskan bersama pada tanggal 15 Maret 2001 di Aula Kantor Walikota Balikpapan menghasilkan suatu kesepakatan bersama yaitu berupa “Deklarasi Penyelamatan Hutan Lindung Sungai Wain” dan rekomendasi untuk segera membentuk “Badan Pengelola” yang independen yang selanjutnya
secara teknis dan di rumuskan oleh suatu tim khusus dengan tetap melibatkan para pihak (stakeholders) dalam pengambilan keputusan. Dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, maka pemerintah Kota Balikpapan beserta semua pihak berkepentingan dengan HLSW telah menetapkan kebijakan yang menjadi dasar bagi Badan Pengelola, pihak-pihak terkait, dan masyarakat untuk bersikap dan bertindak. Kebijakan tersebut adalah (BHLSW, 2007):
1. HLSW harus diselamatkan dan dikembalikan sesuai fungsinya untuk daerah tangkapan air serta kawasan perlindungan flora dan fauna, serta dimanfaatkan untuk pendidikan lingkungan dan ekowisata sehingga mampu membantu penyediaan air bagi warga Balikpapan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
2. HLSW dikelola oleh Badan Pelaksana yang terdiri dari unsur Dewan Pengarah yang mewakili berbagai pihak berkepentingan dan Unit Pelaksana yang terdiri dari pengurus yang dikontrak untuk jangka waktu tertentu dan bekerja secara professional. Hal ini terwujud dalam SK Walikota Balikpapan No. 6 tahun 2001 tentang pendirian Badan Pengelola.
3. Berbagai unsur pemerintahan membantu dan berkordinasi dengan Badan Pengelola untuk menyelesaian masalah dan sinergi kebijakan pengelolaan di dalam dan sekitar kawasan.
Badan Pengelola (BP) yang telah dirancang bersama-sama tersebut mempunyai prinsip dasar sebagai berikut :
1. BP adalah perwujudan pengelolaan yang terintegrasi untuk HLSW dengan melibatkan semua pihak terkait (stakeholder).
2. Badan Pengelola HLSW bersifat independent, mengelola anggaran sendiri yang bersumber dari APBD Balikpapan, Dana Internasional, sumbangan masyarakat, usaha sendiri yang tidak akan merusak kelestarian sumber daya alam serta ekosistem kawasan.
3. Badan Pengelola HLSW untuk pertama kali dibentuk dengan Surat Keputusan Walikota Balikpapan.
4. Untuk selanjutnya agar Badan tersebut mempunyai kekuatan hukum pasti, dengan persetujuan DPRD dapat dibuatkan Peraturan Daerah (PERDA)
yang akan mengatur tugas dan kewenangan dari pada Badan Pengelola itu sendiri.
5. Badan Pengelola bertanggung jawab kepada Walikota Balikpapan dengan cara membuat laporan berkala untuk semua pihak dan akan dilakukan audit secara terbuka.
6. Agar dapat diperoleh suatu hasil yang maksimal, Badan Pengelola HLSW tersebut akan terdiri dari unsur “Dewan Pengarah” dan “Unit Pelaksana Harian”.
7. Dewan Pengarah terdiri dari berbagai pihak yang mempunyai kepentingan langsung dengan Kawasan HLSW dan akan mempunyai fungsi utama memberikan arahan strategis maupun kebijakan pengelolaan kawasan. 8. Sedangkan secara teknis pengelolaan HLSW akan dikelola oleh
“Pelaksana Harian (Badan Eksekutif)” yang dapat bekerja secara professional dengan harapan pengelolaan HLSW akan tersusun dan terencana dengan maksimal sehingga fungsi dan manfaat kawasan hutan lindung tersebut dapat memberikan hasil yang optimal bagi sekitar, masyarakat Kota Balikpapan, serta dapat menjadi contoh bagi sebuah manajemen pengelolaan kawasan perlindungan alam di Kalimantan Timur khususnya dan di Indonesia pada umumnya.
Badan Pengelola yang dibentuk tersebut merupakan suatu bentuk kerjasama atau koordinasi agar pihak-pihak yang selama ini “secara sendiri-sendiri” telah melakukan kegiatan di Kawasan HLSW dapat bahu membahu menyelamatkan kawasan tersebut dengan satu tujuan dapat tercapai hasil yang lebih maksimal. Agar lebih memiliki kekuatan secara hukum maka komitmen dan kebijakan pemerintah tersebut ditindak lanjuti dalam bentuk yang lebih konkrit dengan dikeluarkannya Perda Kota Balikpapan No. 11 tahun 2004 yang mengukuhkan keberadaan HLSW dan menetapkan asas serta tujuan pengelolaan HLSW. Asas pengelolaan HLSW adalah manfaat dan lestari, kerakyatan, keadilan, kebersamaan, keterbukaan, keterpaduan, dan berkelanjutan yang dilaksanakan secara partisipatif, demokratis, profesional, dan bertanggungjawab. Sedangkan tujuan pengelolaan kawasan HLSW adalah :
- memaksimalkan seluruh fungsi kawasan
- meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar - meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai (DAS)
- menjamin pemanfaatan yang berkeadilan, berkelanjutan, dan lestari.
Semua komitmen dan berbagai kebijakan tersebut diatas merupakan wujud nyata upaya serius pemerintah daerah Balikpapan untuk menyelamatkan dan melestarikan keberadaan HLSW beserta segenap fungsi dan potensinya di masa depan.