• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Pengembangan Sistem Permukiman Perdesaan

PROFIL SANITASI SAAT INI 2.1 GAMBARAN WILAYAH

B. Rencana Pengembangan Sistem Permukiman Perdesaan

Wilayah perdesaan sebagai daerah hinterland kota, perlu

diintegrasikan dengan sistem kota-kota yang ada agar wilayah perdesaan juga dapat tumbuh dan berkembang selaras dengan pertumbuhan dan perkembangan kawasan

perkotaan. Berdasarkan sistem hirarki kota-kota yang telah disebutkan di

atas, untuk mengintegrasikan kawasan perdesaan terhadap kawasan

perkotaan, Wilayah Kabupaten Wakatobi perlu dikembangkan menjadi beberapa kawasan pengembangan dalam hal ini dapat dibentuk beberapa desa-desa dari tiap-tiap kecamatan yang

PEMERINTAH KABUPATEN WAKATOBI KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN WAKATOBI

PEMUTAKHIRAN SSK KABUPATEN WAKATOBI | BAB II 25

sekitarnya (desa pusat pertumbuhan/DPP). Desa-desa pusat pertumbuhan tersebut

menjadi orientasi pelayanan dalam skala lingkungan bagi

desa-desa sekitarnya. Berdasarkan hasil identifikasi dan analisa pelayanan skala desa yang dilakukan, terdapat desa-desa yang diproyeksikan menjadi pusat permukiman skala desa/lingkungan, yang memegang peranan dan fungsi strategis di masing-masing kecamatan di Wilayah Kabupaten Wakatobi meliputi :

a. Kecamatan Wangi-wangi, desa pusat pelayanan: Desa Waha

b. Kecamatan Wangi-wangi Selatan, desa pusat pelayanan: Desa Liya Mawi.

c. Kecamatan Kaledupa, desa pusat pelayanan: Kelurahan Buranga. d. Kecamatan

Kaledupa Selatan, desa pusat pelayanan: Desa Peropa. e. Kecamatan Tomia, desa

pusat pelayanan: Desa Patua.

f. Kecamatan Tomia Timur, desa pusat pelayanan: Desa Kahianga. g. Kecamatan Binongko, desa pusat pelayanan: Desa Lagongga. h. Kecamatan Togo Binongko, desa pusat pelayanan: Desa Waloindi.

3.2 Rencana Sistem Jaringan Transportasi

Transportasi merupakan hal pokok bagi aktivitas dan mobilitas masyarakat yang dapat berpengaruh terhadap penyediaan barang dan jasa, kebutuhan konsumsi serta kualitas hidup. Sistem transportasi yang ada di Kabupaten Wakatobi belum menunjukkan adanya pengelolaan yang maksimal, dimana dipengaruhi terbatasnya

sarana dan prasarana transportasi, sehingga perlu adanya perencanaan

pembangunan prasarana dan sarana transportasi yang dapat mendukung kelancaran pola interaksi antar maupun inter wilayah baik transportasi darat, laut maupun udara.

Fungsi utama sistem prasarana transportasi adalah suatu kegiatan untuk memindahkan manusia dan barang dari suatu tempat ke tempat lain. Sistem transportasi berfungsi untuk menjembatani keterkaitan fungsional antar kegiatan

sosio-ekonomi di Kabupaten Wakatobi. Sesuai dengan fungsi tersebut,

maka kebijakan pengembangan sistem transportasi diarahkan

untuk menunjang pengembangan wilayah di Kabupaten Wakatobi. Tujuan pengembangan sistem transportasi adalah :

a. Meningkatkan pertumbuhan wilayah Kabupaten Wakatobi agar dapat berkembang secara serasi bersama-sama dengan wilayah yang ada di sekitarnya, dengan sasarannya adalah:

PEMERINTAH KABUPATEN WAKATOBI KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN WAKATOBI

PEMUTAKHIRAN SSK KABUPATEN WAKATOBI | BAB II 26 Wakatobi;

 meningkatkan interaksi antar dan inter wilayah Kabupaten

Wakatobi; dan

 menunjang perkembangan sektor-sektor kegiatan utama di

Kabupaten Wakatobi.

b. Pengembangan sistem transportasi yang bertujuan untuk mendukung pemerataan pembangunan, yaitu dengan sasaran :

 memperlancar koleksi dan distribusi arus barang dan jasa serta meningkatkan mobilitas penduduk di Kabupaten Wakatobi; dan

 meningkatkan keterhubungan ke wilayah-wilayah potensi yang masih terisolasi. c. Pengembangan sistem transportasi yang bertujuan untuk mendukung kegiatan

pariwisata, yaitu dengan sasaran:

 meningkatkan hubungan kawasan pariwisata dengan dunia luar (asing maupun domestik).

 mempertinggi aksesibilitas dan mobilitas pergerakan penumpang dan barang. Rencana pengembangan infrastruktur moda transportasi darat, laut dan udara adalah :

1. Mengembangkan sistem jalan lingkar setiap pulau, Pulau Wangi- Wangi, P. Kaledupa, P. Tomia dan P. Binongko untuk mengakses wilayah di sekeliling pulau utama;

2. Meningkatkan/membuka jalan jalur antar kecamatan sebagai upaya

membuka aksesibilitas pergerakan manusia dan barang sekaligus dalam upaya

membuka daerah terisolir serta mempercepat

pembangunan wilayah;

3. Mengembangkan dan meningkatkan fungsi jalan Lokal Primer sebagai penghubung antar

PKWp, PPK dan PPL, seperti Ibukota Kecamatan Kaledupa

dengan Ibukota Kecamatan Kaledupa Selatan (P. Kaledupa) dan antar ibukota kecamatan di setiap pulau;

4. Meningkatkan jalan kolektor primer sebagai penghubung antara Ibukota kabupaten dengan outlet (bandara udara dan pelabuhan ferry);

5. Meningkatkan fungsi bandara udara di Pulau Wangi-Wangi sebagai pintu masuk bagian Barat Kabupaten Wakatobi dan Pulau Tomia sebagai pintu masuk bagian Selatan Kepulauan Wakatobi;

PEMERINTAH KABUPATEN WAKATOBI KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN WAKATOBI

PEMUTAKHIRAN SSK KABUPATEN WAKATOBI | BAB II 27

Sumber : RTRW Kabupaten Wakatobi

PEMERINTAH KABUPATEN WAKATOBI KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN WAKATOBI

PEMUTAKHIRAN SSK KABUPATEN WAKATOBI | BAB II 28

Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Wakatobi

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Wakatobi, merupakan penjabaran dari Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara yang dijabarkan dalam bentuk pola pemanfaatan ruang yang dapat dijadikan acuan dalam pengembangan struktur tata ruang wilayah Kabupaten Wakatobi. Pola ruang meliputi; rencana kawasan lindung dan kawasan budidaya

Secara umum materi yang terkandung dalam rencana pola ruang

wilayah adalah sebagai berikut; (i) arahan

pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya, (ii) pengembangan kawasan permukiman, kehutanan, pertanian, perkebunan, perikanan,

perindustrian, pariwisata dan kawasan lainnya, dan (iii) rencana

pengembangan permukiman perdesaan dan perkotaan.

Pada dasarnya ketentuan teknis dalam pola ruang wilayah secara makro didasarkan pada kondisi fisik dasar wilayah perencanaan. Dengan kondisi karakteristik fisik wilayah, maka dapat diketahui deliniasi antara kawasan lindung dan kawasan budidaya.

Rencana Kawasan Lindung

Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama

melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup

sumberdaya alam serta sumberdaya buatan guna pembangunan

berkelanjutan, yang juga dapat diartikan bahwa kawasan lindung

apabila dijamah akan berakibat terhadap daerah bawahannya atau daerah sekitarnya.

Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, maka perlu dilakukan penetapan kawasan lindung.

Pada dasarnya, penetapan kawasan lindung merupakan

perwujudan dan pengembangan struktur tata ruang yang berdasarkan pada prinsip pembangunan berkelanjutan. Kawasan-Kawasan Lindung seperti yang dimaksud di atas disesuaikan dengan Keppres No. 32 Tahun

1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung meliputi :

Dokumen terkait