Umum Pasal 24
(1) Rencana pola ruang kabupaten meliputi:
a. rencana kawasan lindung;
b. rencana kawasan budidaya; dan
c. rencana kawasan yang belum ditetapkan perubahan peruntukan ruangnya (Holding Zone).
(2) Rencana pola ruang kabupaten sebagaimana dimaksud pada ayat (1) digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1 : 50.000 sebagaimana tercantum didalam Lampiran II, yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
Bagian Kedua
Rencana Kawasan Lindung Pasal 25
Rencana kawasan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. kawasan hutan lindung;
b. kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
c. kawasan perlindungan setempat;
d. kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
e. kawasan rawan bencana alam; dan f. kawasan lindung lainnya.
34 Paragraf 1
Kawasan Hutan Lindung Pasal 26
Kawasan hutan lindung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf a dengan luasan kurang lebih 16.612,3 Ha, meliputi :
a. kawasan hutan lindung di Kecamatan Telaga Antang dengan luasan kurang lebih 11.142,6 Ha; dan
b. kawasan hutan mangrove yang terdapat di Kecamatan Pulau Hanaut dan Kecamatan Teluk Sampit dengan luasan kurang lebih 5.469,7 Ha.
Paragraf 2
Kawasan Yang Memberikan Perlindungan Terhadap Kawasan Bawahannya
Pasal 27
(1) Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf b yaitu kawasan resapan air dengan luasan kurang lebih 88.899,7 Ha, meliputi :
a. perbukitan yang terdapat di Kecamatan Telaga Antang, Kecamatan Bukit Santuai, dan Kecamatan Antang Kalang dengan luasan kurang lebih 70.473,2 Ha; dan
b. rawa yang terdapat di Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Seranau, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Telawang, Kecamatan Cempaga, Kecamatan Cempaga Hulu, Kecamatan Parenggean, dan Kecamatan Mentaya Hulu dengan luasan kurang lebih 18.426,5 Ha.
Paragraf 3
Kawasan Perlindungan Setempat Pasal 28
(1) Kawasan perlindungan setempat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf c, terdiri atas :
a. kawasan sempadan pantai;
b. kawasan sempadan sungai;
c. kawasan sekitar danau/bendungan;
d. kawasan lindung spiritual; dan
e. kawasan ruang terbuka hijau perkotaan.
35
(2) Kawasan sempadan pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dengan luasan kurang lebih 450,6 Ha, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit dan Kecamatan Pulau Hanaut, ditetapkan pada kawasan sepanjang tepian pantai sejauh 100 meter dari titik pasang air laut tertinggi ke arah darat secara proporsional sesuai dengan bentuk, letak dan kondisi fisik pantai.
(3) Kawasan sempadan sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dengan luasan kurang lebih 27.824,0 Ha, terdapat di seluruh kecamatan dalam wilayah kabupaten, dengan ketentuan :
a. sekurang-kurangnya 100 m di kiri kanan sungai besar yang berada di luar kawasan permukiman;
b. sekurang-kurangnya 50 m di kiri kanan anak sungai yang berada di luar kawasan permukiman; dan
c. sekurang-kurangnya 10 m untuk sungai besar dan anak sungai yang melewati kawasan permukiman
(4) Kawasan sekitar danau/bendungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dengan luasan kurang lebih 659,0 Ha, ditetapkan dengan lebar sempadan danau atau bendungan adalah 50 m sampai dengan 100 m dari titik pasang air danau atau bendungan tertinggi, meliputi :
a. danau-danau yang terdapat di Kecamatan Mentaya Hulu, Kecamatan Bukit Santuai, Kecamatan Telaga Antang, dan Kecamatan Antang Kalang; dan
b. bendungan Tanjung Harapan yang terdapat di Kecamatan Telaga Antang.
(5) Kawasan lindung spiritual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dengan luasan kurang lebih 1.735,1 Ha, terdapat di Kecamatan Bukit Santuai.
(6) Kawasan ruang terbuka hijau kota/perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e, meliputi :
a. Hutan Kota dengan luasan kurang lebih 439,4 Ha, terdapat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang;
b. rencana ruang terbuka hijau (RTH) privat sebesar minimal 10%
dari luas perkotaan Sampit; dan
c. rencana ruang terbuka hijau (RTH) publik sebesar minimal 22% dari luas perkotaan Sampit.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai kawasan ruang terbuka hijau kota/perkotaan diatur dalam Rencana Detail Tata Ruang yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.
Paragraf 4
Kawasan Suaka Alam, Pelestarian Alam dan Cagar Budaya Pasal 29
(1) Kawasan suaka alam, pelestarian alam, dan cagar budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf d, terdiri atas :
a. kawasan taman hutan raya; dan
b. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan.
36
(2) Kawasan taman hutan raya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dengan luasan kurang lebih 1.656,7 Ha, direncanakan meliputi :
a. hutan mangrove dengan luasan kurang lebih 1.074,4 Ha, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit; dan
b. Hutan Monumental dengan luasan kurang lebih 582,3 Ha, berada dalam wilayah Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, dan Kecamatan Baamang.
(3) Kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi :
a. Rumah Adat Betang Tumbang Gagu di Kecamatan Antang Kalang; dan
b. komplek bekas pabrik NV Bruynzeel di Kota Sampit.
Paragraf 5
Kawasan Rawan Bencana Alam Pasal 30
(1) Kawasan rawan bencana alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf e, terdiri atas :
a. kawasan rawan tanah longsor;
b. kawasan rawan kebakaran hutan/lahan;
c. kawasan rawan banjir; dan d. kawasan rawan abrasi pantai.
(2) Kawasan rawan tanah longsor sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dengan luasan kurang lebih 1.162,6 Ha, terdapat di Kecamatan Telaga Antang dan Kecamatan Bukit Santuai.
(3) Kawasan rawan kebakaran hutan/lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdiri atas :
a. kawasan rawan kebakaran hutan/lahan dengan tingkat kerawanan sangat rendah, terdapat di Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Mentaya Hulu, dan Kecamatan Telaga Antang dengan luasan kurang lebih 4.781,1 Ha;
b. kawasan rawan kebakaran hutan/lahan dengan tingkat kerawanan rendah, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Seranau, Kecamatan Baamang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Cempaga, Kecamatan Telawang, Kecamatan Parenggean, dan Kecamatan Mentaya Hulu, Kecamatan Bukit Santuai, Kecamatan Telaga Antang, Kecamatan Antang Kalang, dan Kecamatan Tualan Hulu dengan luasan kurang lebih 204.944,8 Ha;
c. kawasan rawan kebakaran hutan/lahan dengan tingkat kerawanan sedang, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 727.112,1 Ha; dan
37
d. kawasan rawan kebakaran hutan/lahan dengan tingkat kerawanan tinggi, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 605.183,8 Ha.
(4) Kawasan rawan banjir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. kawasan rawan banjir dengan tingkat kerawanan rendah, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Seranau, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Telawang, Kecamatan Cempaga, Kecamatan Cempaga Hulu, Kecamatan Parenggean, Kecamatan Mentaya Hulu, Kecamatan Bukit Santuai, Kecamatan Telaga Antang, Kecamatan Antang Kalang, dan Kecamatan Tualan Hulu dengan luasan kurang lebih 864.843,5 Ha;
b. kawasan rawan banjir dengan tingkat kerawanan sedang, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 541.482,9 Ha; dan
c. kawasan rawan banjir dengan tingkat kerawanan tinggi, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Seranau, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Baamang, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Telawang, Kecamatan Cempaga, Kecamatan Cempaga Hulu, Kecamatan Parenggean, Kecamatan Mentaya Hulu, dan Kecamatan Tualan Hulu dengan luasan kurang lebih 136.469,0 Ha.
(5) Kawasan rawan abrasi pantai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d dengan luasan kurang lebih 323,5 Ha, terdapat di Kecamatan Teluk Sampit.
(6) Daerah evakuasi bencana diarahkan pada ruang terbuka, kantor kecamatan, kantor desa/kelurahan, tempat ibadah, dan gedung sekolah terdekat yang aman dari bencana.
(7) Jalur evakuasi bencana menggunakan jaringan jalan dan jalur sungai yang berada di seluruh wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur.
Paragraf 6
Kawasan Lindung Lainnya Pasal 31
(1) Kawasan lindung lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf f, yaitu kawasan koridor bagi jenis satwa yang dilindungi yang merupakan kawasan perlindungan bagi habitat orang utan dan hewan dilindungi lainnya di daerah-daerah yang diindikasikan terdapat habitat orang utan dan hewan dilindungi lainnya.
38
(2) Kawasan koridor bagi jenis satwa yang dilindungi yang merupakan kawasan perlindungan bagi habitat orang utan dan hewan dilindungi lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Bupati.
Bagian Ketiga
Rencana Kawasan Budidaya Pasal 32
Rencana kawasan budidaya di Kabupaten Kotawaringin Timur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf b, terdiri atas : a. kawasan peruntukan hutan produksi;
b. kawasan peruntukan pertanian;
c. kawasan peruntukan perikanan;
d. kawasan peruntukan pertambangan;
e. kawasan peruntukan industri;
f. kawasan peruntukan pariwisata;
g. kawasan peruntukan permukiman; dan h. kawasan peruntukan lainnya.
Paragraf 1
Kawasan Peruntukan Hutan Produksi Pasal 33
(1) Kawasan peruntukan hutan produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf a, terdiri atas :
a. kawasan hutan produksi terbatas;
b. kawasan hutan produksi tetap; dan
c. kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi.
(2) Kawasan hutan produksi terbatas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di Kecamatan Telawang, Kecamatan Mentaya Hulu, Kecamatan Antang Kalang, Kecamatan Telaga Antang, dan Kecamatan Bukit Santuai dengan luasan kurang lebih 178.918,8 Ha.
(3) Kawasan hutan produksi tetap sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 391.413,7 Ha.
(4) Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 174.855,5 Ha.
39 Paragraf 2
Kawasan Peruntukan Pertanian Pasal 34
(1) Kawasan peruntukan pertanian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf b, terdiri atas :
a. kawasan pertanian tanaman pangan;
b. kawasan pertanian hortikultura;
c. kawasan perekebunan; dan d. kawasan peternakan.
(2) Kawasan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 82.569,8 Ha.
(3) Kawasan pertanian hortikultura sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, terdapat di Kecamatan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Baamang, Kecamatan Seranau, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Pulau Hanaut, Kecamatan Kota Besi dan Kecamatan Parenggean, dengan luasan kurang lebih 3.989,7 Ha, meliputi komoditas : biofarmaka, sayur-sayuran, nanas, jeruk, durian, rambutan, dan pisang.
(4) Kawasan perkebunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 581.183,4 Ha, meliputi komoditas : kelapa dalam, kelapa sawit, karet, dan komoditas andalan lainnya.
(5) Kawasan peternakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) haruf d, terdiri atas :
a. peternakan unggas yaitu ayam dan itik terdapat di seluruh kecamatan;
b. peternakan kecil yaitu kambing dan domba terdapat di seluruh kecamatan; dan
c. peternakan besar yaitu sapi dan kerbau terdapat di seluruh kecamatan dengan pengembangan yang terintegrasi dengan kawasan perkebunan.
(6) Kawasan pertanian tanaman pangan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) sebagian akan ditetapkan sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B) yang akan diatur lebih lanjut dengan peraturan Bupati.
Paragraf 3
Kawasan Peruntukan Perikanan Pasal 35
(1) Kawasan peruntukan perikanan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 haruf c , terdiri atas :
a. kawasan peruntukan perikanan tangkap;
b. kawasan peruntukan budidaya perikanan; dan
40
c. kawasan pengolahan ikan dan prasarana kegiatan perikanan.
(2) Kawasan peruntukan perikanan tangkap sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. perikanan tangkap darat terdapat di danau dan sungai-sungai yang tersebar di seluruh kecamatan; dan
b. perikanan tangkap laut terdapat di Kecamatan Pulau Hanaut dan Teluk Sampit.
(3) Kawasan peruntukan budidaya perikanan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b dengan luasan kurang lebih 4.986,6 Ha, terdiri atas :
a. budidaya karamba terdapat di Kecamatan Kota Besi dan Kecamatan Mentaya Hulu; dan
b. budidaya tambak dan kolam terdapat di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hulu, dan Kecamatan Pulau Hanaut.
(4) Kawasan pengolahan ikan dan prasarana kegiatan perikanan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. pasar ikan terdapat di Desa Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit, Desa Sei Ijum Raya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, dan Kota Sampit;
b. kawasan pengolahan ikan terdapat di Desa Ujung Pandaran Kecamatan Teluk Sampit dan Desa Sei Ijum Raya Kecamatan Mentaya Hilir Selatan;
c. Balai Benih Ikan terdapat di Kecamatan Mentaya Hilir Utara;
dan
d. pelabuhan tempat pendaratan ikan (PPI) terdapat di Desa Ujung Pandaran, Kecamatan Teluk Sampit.
Paragraf 4
Kawasan Peruntukan Pertambangan Pasal 36
(1) Kawasan peruntukan pertambangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf d, terdiri atas :
a. kawasan pertambangan mineral logam;
b. kawasan pertambangan mineral non logam;
c. kawasan pertambangan batuan;
d. kawasan pertambangan batubara; dan e. kawasan pertambangan gas bumi.
(2) Kawasan pertambangan mineral logam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, terdapat di seluruh kecamatan.
(3) Kawasan pertambangan mineral non logam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b, terdapat di seluruh kecamatan.
(4) Kawasan pertambangan batuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf c, terdapat di seluruh kecamatan.
(5) Kawasan pertambangan batu bara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf d, terdapat di seluruh kecamatan.
41
(6) Kawasan pertambangan gas bumi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf e, terdapat di Kecamatan Seranau, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, dan Kecamatan Pulau Hanaut.
Paragraf 5
Kawasan Peruntukan Industri Pasal 37
(1) Kawasan peruntukan industri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf e yaitu Kawasan Industri Bagendang, terdapat di Kecamatan Mentaya Hilir Utara dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dengan luasan kurang lebih 2.186,3 Ha.
(2) Setiap perusahaan industri yang akan menjalankan industri setelah Peraturan Daerah ini mulai berlaku, wajib berlokasi di Kawasan Industri kecuali :
a. industri yang menggunakan bahan baku dan/atau proses produksinya memerlukan lokasi khusus, meliputi : industri pengolahan crude palm oil, industri pertambangan, dan industri pengolahan bahan mentah yang tidak bisa jauh dari sumber bahan baku;
b. industri mikro, kecil, dan menengah; dan
c. perusahaan Industri yang akan menjalankan industri akan tetapi seluruh kaveling industri dalam Kawasan Industri telah habis.
(3) Industri yang menggunakan bahan baku dan/atau proses produksinya memerlukan lokasi khusus sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf a harus memenuhi kelayakan teknis dan kelayakan lingkungan untuk penentuan lokasinya.
Paragraf 6
Kawasan Peruntukan Pariwisata Pasal 38
(1) Kawasan peruntukan pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf f, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan pariwisata budaya;
b. kawasan peruntukan pariwisata alam; dan c. kawasan peruntukan pariwisata buatan.
(2) Kawasan peruntukan pariwisata budaya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, meliputi :
a. Rumah Adat Betang Tumbang Gagu di Kecamatan Antang Kalang;
b. Desa Wisata Budaya Pemantang di Kecamatan Mentaya Hulu;
dan
c. Desa Wisata Budaya Rubung Buyung di Kecamatan Cempaga.
(3) Kawasan peruntukan pariwisata alam sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, meliputi :
42
a. ekowisata Sagonta Kota di Kecamatan Baamang dengan luasan kurang lebih 197,4 Ha;
b. pantai Ujung Pandaran di Kecamatan Teluk Sampit dengan luasan kurang lebih 80,2 Ha;
c. ekowisata Danau Burung di Kecamatan Teluk Sampit;
d. ekowisata Danau Buaya di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan;
dan
e. wisata susur Sungai Mentaya.
(4) Kawasan peruntukan pariwisata buatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c, meliputi :
a. Taman Kota di Kota Sampit;
b. Taman Miniatur Budaya di Kota Sampit; dan c. Museum Kayu di Kota Sampit.
Paragraf 7
Kawasan Peruntukan Permukiman Pasal 39
(1) Kawasan peruntukan permukiman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 huruf g, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan permukiman perkotaan; dan b. kawasan peruntukan permukiman perdesaan.
(2) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdapat di Kota Sampit dan ibu kota kecamatan.
(3) Kawasan peruntukan permukiman perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdapat di seluruh kecamatan.
(4) Kawasan peruntukan permukiman perkotaan dan perdesaan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 90.764,6 Ha.
Paragraf 8
Kawasan Peruntukan Lainnya Pasal 40
(1) Rencana pengembangan kawasan peruntukan lainnya sebagaimana tecantum dalam Pasal 32 huruf h, terdiri atas : a. kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan;
b. kawasan peruntukan pendidikan;
c. kawasan peruntukan kesehatan;
d. kawasan peruntukan budidaya walet; dan e. kawasan peruntukan tanah adat.
(2) Kawasan peruntukan pertahanan dan keamanan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a, terdiri atas :
a. Komando Distrik Militer (Kodim) 1015 / Sampit di Kota Sampit;
b. Kompi – A, Yonif-631 / Antang di Kota Sampit;
43
c. Komando Rayon Militer (Koramil) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Kotawaringin Timur;
d. Pos Angkatan Laut di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan;
e. Markas Polairud di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang:
f. Markas Brimob di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang; dan g. Kawasan Latihan Militer di Kecamatan Mentawa Baru
Ketapang.
(3) Kawasan peruntukan pendidikan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b terdapat di Kota Sampit khususnya untuk Perguruan Tinggi, dan tingkat pendidikan lainnya tersebar di seluruh kecamatan.
(4) Kawasan peruntukan kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf c terdiri dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr.
Murdjani yang ada di kota Sampit, serta rencana peningkatan Puskesmas Rawat Inap di Parenggean dan Samuda menjadi RSUD, dan pusat-pusat pelayanan kesehatan lainnya tersebar di seluruh kecamatan. Tidak menutup kemungkinan akan didirikan rumah sakit swasta.
(5) Kawasan peruntukan budidaya walet sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf d ke depan pengembangannya akan diarahkan di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Pulau Hanaut, dan Kecamatan Teluk Sampit di luar areal permukiman. Sedangkan untuk usaha penangkaran sarang walet yang terdapat di kawasan permukiman akan dilakukan upaya penertiban, dengan mengembalikan fungsi bangunan kepada peruntukan awal sebagai kawasan permukiman.
(6) Kawasan peruntukan tanah adat sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf e ditetapkan di masing-masing kecamatan, dan pemanfaatannya disesuaikan dengan rencana peruntukan ruang yang telah ditetapkan. Lokasi, luasan, serta pengaturannya lebih lanjut diatur dengan Peraturan Bupati.
Bagian Keempat
Rencana Kawasan Yang Belum Ditetapkan Perubahan Peruntukan Ruangnya (Holding Zone)
Pasal 41
Rencana kawasan yang belum ditetapkan perubahan peruntukan ruangnya (Holding Zone) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) huruf c, terdiri atas :
a. kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan pertanian tanaman pangan terdapat di Kecamatan Teluk Sampit, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kecamatan Pulau
44
Hanaut, Kecamatan Seranau, Kecamatan Baamang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kecamatan Kota Besi, Kecamatan Cempaga, Kecamatan Telawang, Kecamatan Parenggean, Kecamatan Mentaya Hulu, Kecamatan Bukit Santuai, Kecamatan Antang Kalang, dan Kecamatan Tualan Hulu dengan luasan kurang lebih 67.279,3 Ha;
b. kawasan peruntukan pertanian hortikultura yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi, selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan pertanian hortikultura terdapat di Kecamatan Baamang dan Kecamatan Kota Besi dengan luasan kurang lebih 3.484,7 Ha;
c. kawasan peruntukan perkebunan yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap, dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi, selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan perkebunan terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 266.464,5 Ha;
d. kawasan peruntukan perikanan yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan perikanan terdapat di Kecamatan Teluk Sampit dan Kecamatan Pulau Hanaut dengan luasan kurang lebih 2.734,3 Ha;
e. kawasan peruntukan industri yang berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi, selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan industri terdapat di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang dan Kecamatan Mentaya Hilir Utara dengan luasan kurang lebih 1.602,3 Ha; dan f. kawasan peruntukan permukiman yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan di bidang kehutanan masih ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung, kawasan hutan produksi terbatas, kawasan hutan produksi tetap dan kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi selanjutnya disebut kawasan hutan/kawasan peruntukan permukiman terdapat di seluruh kecamatan dengan luasan kurang lebih 21.391,5 Ha.
45 BAB V
RENCANA KAWASAN STRATEGIS KABUPATEN