• Tidak ada hasil yang ditemukan

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN, INDIKATOR KINERJA, KELOMPOK

Dalam dokumen Perubahan Renstra Inspektorat Kulon Progo (Halaman 7-45)

BAB VI. INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

6

BAB II

GAMBARAN PELAYANAN INSPEKTORAT DAERAH

2.1 Tugas, Fungsi dan Struktur Organisasi Inspektorat Daerah

Berdasarkan Peraturan Bupati Kulon Progo Nomor 71 Tahun 2012 tentang Uraian Tugas Unsur Organisasi Terendah pada Inspektorat Daerah, maka Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo mempunyai Tugas dan Fungsi. Fungsi : Inspektorat Daerah mempunyai fungsi perencanaan program

pengawasan, perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan, serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang pengawasan.

Untuk menyelenggarakan fungsi tersebut Inspektorat mempunyai tugas : a. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kelompok urusan

bidang pemerintahan;

b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kelompok urusan bidang perekonomian;

c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kelompok urusan bidang kesejahteraan rakyat;

d. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan kelompok urusan bidang prasarana wilayah dan lingkungan hidup; dan

e. melaksanakan kegiatan ketatausahaan.

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Kulon Progo Nomor 16 Tahun 2012 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Peraturan Bupati Kulon Progo Nomor 71 Tahun 2012 tentang Uraian Tugas pada Unsur Organisasi Terendah pada Inspektorat Daerah, maka struktur organisasi dan uraian tugasnya adalah sebagai berikut :

1. Inspektur Daerah 2. Sekretariat terdiri dari :

- Sub Bagian Umum dan Kepegawaian;

Mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kerumahtanggaan, perlengkapan ketatausahaan, kehumasan serta administrasi kepegawaian

7

Mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program kerja, evaluasi dan laporan

- Sub Bagian Keuangan

Mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan dan

pertanggungjawaban keuangan 3. Inspektur Pembantu Bidang Pemerintahan

Inspektur Pembantu Bidang Pemerintahan mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan, evaluasi dan pemantauan tindak lanjut kegiatan pengawasan terhadap kelompok urusan bidang pemerintahan. 4. Inspektur Pembantu Bidang Perkonomian

Inspektur Pembantu Bidang Perekonomian mempunyai tugas melakukan pengawasan, evaluasi dan pemantauan tindak lanjut kegiatan pengawasan terhadap kelompok urusan bidang perekonomian.

5. Inspektur Pembantu Bidang Kejahteraan Rakyat

Inspektur Pembantu Bidang Kesejahteraan Rakyat mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan, evaluasi dan pemantauan tindak lanjut kegiatan pengawasan terhadap kelompok urusan bidang kesejahteraan rakyat.

6. Inspektur Pembantu Bidang Prasarana Wilayah dan Lingkungan Hidup Inspektur Pembantu Bidang Prasarana Wilayah dan Lingkungan Hidup mempunyai tugas menyelenggarakan pengawasan, evaluasi dan pemantauan tindak lanjut kegiatan pengawasan terhadap Bidang Prasarana Wilayah dan Lingkungan Hidup.

7. Kelompok Jabatan Fungsional Tertentu

Kelompok Jabatan Fungsional Tertentu mempunyai tugas melaksanakan sebagian tugas Inspektorat Daerah sesuai dengan keahlian dan kebutuhan.

8

BAGAN STRUKTUR ORGANISASI INSPEKTORAT DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERDASAR PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 71 TAHUN 2012

INSPEKTUR

SEKRETARIAT

Sub Bagian Umum

Dan Kepegawaian Sub Bagian

Keuangan Sub Bagian Perencanaan Inspentur Pembantu Bidang Pemerintahan Inspentur Pembantu Bidang Perekonomian Inspentur Pembantu Bidang Kesejahteraan Rakyat Inspentur Pembantu Bidang Sarana Prasarana Wilayah dan Lingkungan KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL

9

2.2 Sumber Daya Inspektorat Daerah

Dalam melaksanakan tugas dan fungsi Inspektorat Daerah, Sumber Daya Manusia (SDM) yang tersedia sebanyak 56 pegawai terdiri :

Tabel 2.1

Pegawai Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo Menurut Jenis Kelamin dan Golongan Pangkat Tahun 2014

Unit Pria Wanita Gol.II Gol.III Gol.IV Jumlah

Kepala 1 - - - 1 1

Sekretariat 12 7 6 12 1 19

Irban Bidang Pemerintahan 2 - - 1 1 2

Irban Bidang Perekonomian - 3 - 2 1 3 Irban Bidang Kesejahteraan Rakyat 1 1 1 - 1 2

Irban Bidang Prasarana Wilayah dan Lingkungan Hidup

3 - - 1 2 3

Auditor 17 9 3 18 5 26

Jumlah 36 20 10 34 12 56

Tabel 2.2

Tingkat Pendidikan Pegawai Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo Tahun 2014

Unit SLTP SLTA D-3 S-1 S-2 Jumlah

Kepala - - - 1 - 1

Sekretariat 3 5 2 9 - 19

Irban Bidang Pemerintahan - - - 1 1 2

Irban Bidang Perekonomian - - - 3 - 3

Irban Bidang Kesejahteraan Rakyat

- 1 - - 1 2

Irban Bidang Prasarana Wilayah dan Lingkungan Hidup

- 1 - 1 1 3

Auditor - 2 2 13 9 26

Jumlah 3 9 4 28 12 56

Kondisi sarana dan prasarana pendukung pelaksanaan tugas Inspekotat Daerah adalah sebagai berikut :

10

Tabel 2.3

Sarana dan Prasarana Yang Dimiliki Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo Tahun 2014

No. Nama Barang Jumlah Kondisi Baik (%) Tahun

2012 2013 2014

1. Gedung (Sekretariat) 1 unit - - -

2. Gedung (Irban) 1 unit 100 100 100

3. Gedung (Auditor) 1 unit 100 100 100

4. Kendaraan Dinas roda 4 3 unit 66 66 66

5. Kendaraan Dinas roda 2 6 unit 34 34 34

6. Wireless 1 unit 100 100 100

7. Mesin Ketik 5 unit - - -

8. Telepon 1 line 100 100 100

9. Pesawat (i phone) 2 unit 100 100 100

10. Laptop 2 unit - - -

11. Komputer 3 unit 33 33 33

12. Ruang Rapat (Aula) 1 unit 100 100 100

13. AC 3 unit 33 33 33

14. PABX 1 unit 100 100 100

15. Almari 4 unit - - -

16. Rak buku 3 unit 100 100 100

17. Printer 4 unit - - -

Jumlah 41 unit

2.3 Kinerja Pelayanan Inspektorat Daerah

Inspektorat Daerah mempunyai fungsi perencanaan program pengawasan, perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan, pemeriksaan serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang pengawasan.

Berdasarkan Rencana Strategis Inspektorat Daerah Tahun 2011-2016, Inspektorat Daerah telah melaksanakan kegiatan pemeriksaan sebagai berikut

11

Tabel 2.4

Kegiatan Pemeriksaan Inspektorat Daerah dari Tahun 2011-2014

Jenis Pemeriksaan Tahun

2011 2012 2013 2014*) Reguler 36 21 20 6 Kasus 8 6 6 2 Desa 32 22 30 34 LKM 37 42 15 4 Tematik SKPD 7 6 24 8 Jumlah 120 97 95 54

*) Sampai dengan 31 Juli 2014

Pencapaian kinerja pelayanan Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo selama 2 periode RKPD dapat dilihat secara berturut-turut pada Tabel 2.5.

12

Tabel 2.5

Pencapaian Kinerja Pelayanan SKPD Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo

No. Indikator Kinerja sesuai tugas dan fungsi

SKPD Satuan Target SPM Target IKK Target Indikator Lainnya

Target Renstra SKPD Tahun

Realisasi Capaian Tahun

Rasio Capaian Pada Tahun

2012 2013 2014 2015 2016 2012 2013 2012 2013

A. Urusan Wajib Otonomi Daerah,

Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

1. Indeks Kinerja Kunci

Rasio Rekomendasi Temuan BPK-RI yang ditindaklanjuti

% 90 90 90 90 90 90 80,59 81,58 89,54% 90,64%

2. Indikator Lainnya (RPJMD)

Jumlah Pengawasan dan Pengendalian Kebijakan KDH

- Reguler Unit 45 18 20 15 41 45 21 20 111,11% 100%

- Khusus / Tematik Unit 40 65 60 76 38 40 76 75 116,92% 125%

13

Tabel 2.6

Anggaran dan Realisasi Belanja Pendanaan Pelayanan SKPD Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo

Uraian Anggaran pada Tahun

Realisasi Anggaran pada Tahun Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun Rata-rata Pertumbuhan (%) 2012 2013 2014 2012 2013 2012 2013 Anggaran Realisasi

Belanja Tidak Langsung 2.706.713.370 2.898.368.629 3.008.399.829 2.684.258.359 2.796.165.664 0,9 0,9 7,08 4,17

Belanja Pegawai 2.706.713.370 2.898.368.629 3.008.399.829 2.684.258.359 2.796.165.664 0,9 0,9 7,08 4,17

Belanja Langsung 901.751.229 1.016.004.137 945.228.175 865.856.755 963.524.557 0,92 0,94 12,67 11,28

Belanja Pegawai 297.433.000 435.486.000 574.077.500 287.164.500 426.620.000 0,96 0,97 46,40 48,56

Belanja Barang dan Jasa 604.318.200 580.518.137 366.150.675 578.692.262 536.904.557 0,95 0,92 -3,90 -7,22

14

Tabel 2.7

Anggaran dan Realisasi Program Pendanaan Pelayanan Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo

Uraian Anggaran Pada Tahun

Realisasi Anggaran Pada Tahun

Rasio antara Realisasi dan Anggaran Tahun

Rata-Rata Pertumbuhan (%) 2012 2013 2014 2012 2013 2012 2013 Anggaran Realisasi Program Pelayanan Administrasi Perkantoran 140.350.100 135.551.400 152.889.225 126.502.947 124.816.973 90,13 92,08 -0,97 -0,99

Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

81.665.500 86.850.000 90.550.600 81.646.015 85.017.309 99,98 97,89 1,06 1,04

Program Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur

10.600.000 8.500.000 9.750.000 10.600.000 7.662.500 100 90,15 -0,80 -0,72

Program Peningkatan Pengembangan Sistem Pelaporan Capaian Kinerja dan Keuangan

2.238.000 2.506.000 2.400.000 2.214.900 2.273.970 98,97 90,74 1,12 1,03

Program Penyusunan

Dokumen Perencanaan SKPD

3.040.000 1.506.000 2.200.000 2.935.900 1.419.000 96,58 94,22 -0,50 -0,48

Program Pengawasan dan Pengendalian Program

1.541.000 1.605.000 1.100.000 1.398.000 1.565.925 90,72 97,57 1,04 1,12 Program Peningkatan Sistem

Pengawasan Internal dan Pengendalian Pelaksanaan Kebijakan KDH

15

2.4. Tantangan dan Peluang Pengembangan Pelayanan Inspektorat Daerah

Tantangan :

1. Semakin pesatnya perkembangan sistem dan prosedur baru pada pengelolaan keuangan maupun kinerja SKPD.

2. Semakin besarnya alokasi APBD di Desa semakin meningkatkan kuantitas pengelolaan anggaran desa yang perlu diperiksa.

3. Adanya tuntutan masyarakat akan pencegahan dan penanganan paktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Peluang :

1. Adanya komitmen untuk mengefektifkan sistem pengawasan dan sistem akuntabilitas kinerja dalam mewujudkan aparatur negara yang bersih dan bebas KKN.

2. Adanya dukungan Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor, Pusdiklat Pengawasan BPKP serta lembaga lain yang berkompeten dalam bidang pengawasan.

3. Adanya semangat Pemerintah Kabupaten Kulon Progo memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan pada Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan mempertahankan opini tersebut untuk tahun berikutnya.

16

BAB III

ISU-ISU STRATEGIS

3.1 Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD

Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo dalam melaksanakan tugas dan fungsi dibidang pengawasan mempunyai fungsi perencanaan program pengawasan, perumusan kebijakan dan fasilitasi pengawasan, pemeriksaan, pengusutan, pengujian dan penilaian tugas pengawasan, pemeriksaan serta pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Bupati di bidang pengawasan.

Untuk menyelenggarakan fungsi tersebut Inspektorat mempunyai tugas : a. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan pemerintahan b. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan perekonomian c. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan kesejahteraan

sosial

d. melaksanakan pengawasan terhadap pelaksanaan urusan keuangan dan asset

e. melaksanakan kegiatan ketatausahaan

Identifikasi permasalahan berdasarkan tugas dan fungsi Inspektorat Daerah dan identifikasi isu-isu strategis dapat dilihat pada tabel 3.1 dan tabel 3.2 :

17

Tabel 3.1

Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo

Aspek Kajian Capaian / Kondisi Saat ini

Standar yang Digunakan Faktor yang Mempengaruhi Permasalahan Pelayanan SKPD Internal (Kewenangan SKPD) Eksternal (Diluar Kewenangan SKPD) Kajian Terhadap Kinerja Pengawa-san  Pemeriksaan Tematik SKPD, Reguler, Kasus, Desa, LKM  UU No. 32 Tahun 2004  PP No. 60 Tahun 2008  Permendagri PU No. 23 Tahun 2007

 Permendagri No. 28 tahun 2007

 Permenpan No.

04/MPAN/03/2008

 Permenpan No.

05/MPAN/03/2008

 Permenpan No. 059 Tahun 2009

 Permenpan No. 019 Tahun 2009

 Perbup No 1 Tahun 2014

 Dengan berubahnya status LKM Binangun menjadi Perumdes belum ada kejelasan kewenangan Inspektorat Daerah dalam melaksanakan pengawasan pengelolaan keuangan-nya.

 Adanya rencana alokasi dana desa 1miliar per

tahun menuntut

Inspektorat Daerah untuk lebih meningkatkan frekuensi pengawasan keuangan di desa, namun keterbatasan

JFA,anggaran, waktu, dan sarana prasarana menyebabkan belum dapat dilaksanakan secara optimal.

 Inspektorat Daerah membuka klinik kosultasi namun belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh SKPD, Desa, ataupun LKM. Kajian terhadap penyelesaian tindak lanjut rekomendasi atas temuan  Daftar obyek pemeriksaan yang sudah selesai tindak lanjutnya, dalam proses tindak lanjut ataupun belum selesai tindak lanjutnya.

 Pasal 20 UU No. 15 Tahun 2006

 Fungsi tim tindak lanjut internal dan eksternal.  Koordinasi tim tindak

lanjut.

 Sarana prasarana penunjang olah data tindak lanjut

Auditee yang menindaklanjuti.

 Belum dapat diaplikasikannya SIMWAS karena software yang ada telah rusak dan SIMWAS baru masih dalam pendampingan BPKP.

 Tidak hadirnya pihak yang masih mempunyai tunggakan tindak lanjut (dalam proses atau belum ditindaklanjuti).

18

Tabel 3.2

Identifikasi Isu-Isu Strategis (Lingkungan Eksternal)

No Isu Strategis

Dinamika Internasional Dinamika Nasional Dinamika Regional / Lokal Lain-lain

1 Harapan masyarakat dunia terhadap tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dan celan governance, bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kemampuan untuk mempertahankan opini BPK.

Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah yang terus diupayakan dengan cara menjaga kualitas sistem pengendalian internal.

-

Tuntutan masyarakat terhadap penegakan hukum.

Semakin kritisnya masyarakat terhadap penyelenggaraan pemerintahan atas diberlakukannya transparansi.

-

Rencana aksi daerah dalam upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Upaya pendampingan akuntabilitas penyelenggaraan pemerintah daaerah.

19

3.2 Telaahan Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah Terpilih

3.2.1. V i s i

Visi Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Kulon Progo Tahun 2011-2016 yang hendak dicapai dalam tahapan kedua Pembangunan Jangka Panjang Daerah Kabupaten Kulon Progo adalah :

“Terwujudnya Kabupaten Kulon Progo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa”.

Dari penjabaran visi tersebut maka Inspektorat Daerah untuk lima tahun kedepan diharapkan akan mampu mewujudkan peningkatan kualitas aparatur dan kelembagaan pemerintahan sehingga mampu memberikan pelayanan prima, dengan prinsip transparan, dan akuntabel.

3.2.2. M i s i

Untuk mencapai visi Kabupaten Kulon Progo Tahun 2016 yaitu Terwujudnya Kulon Progo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa maka dirumuskan 6 misi pembangunan sebagai berikut :

1. Mewujudkan sumberdaya manusia berkualitas tinggi dan berakhlak mulia melalui peningkatan kemandirian, kompetensi, ketrampilan, etos kerja, tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan kualitas keagamaan.

2. Mewujudkan peningkatan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintahan yang berorientasi pada prinsip-prinsip clean government dan good governance.

3. Mewujudkan kemandirian ekonomi daerah yang berbasis pada pertanian dalam arti luas, industri dan pariwisata yang berdaya saing dan berkelanjutan bertumpu pada pemberdayaan masyarakat.

4. Meningkatkan pelayanan infrastruktur wilayah

5. Mewujudkan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara optimal dan berkelanjutan

6. Mewujudkan ketentraman dan ketertiban melalui kepastian, perlindungan dan penegakan hukum

Berdasarkan visi, misi, dan tugas dan fungsi pelayanan, maka Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo mempunyai peran dalam mewujudkan visi di atas melalui misi kedua, Mewujudkan peningkatan kapasitas kelembagaan dan aparatur pemerintahan yang berorientasi pada prinsip-prinsip clean government dan good

20

pemerintahan yang bersih (clean government), demokratis dan efektif. Prinsip-prinsip good public governance meliputi wawasan ke depan (visioner), keterbukaan dan transparansi, partisipasi masyarakat, tanggung gugat, supremasi hukum, demokrasi, profesionalisme dan kompetensi, daya tanggap, efisiensi dan efektivitas, desentralisasi, kemitraan dengan dunia usaha, komitmen pada pengurangan kesenjangan, komitmen pada perlindungan lingkungan hidup dan komitmen pada pasar yang fair. Dengan prinsip-prinsip tersebut diharapkan akan tercipta tata pemerintahan yang baik sehingga mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

21

Tabel 3.3

Faktor Penghambat dan Pendorong Pelayanan SKPD

Terhadap Pencapaian Visi, Misi, dan Program Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah

Visi : Terwujudnya Kabupaten Kulon Progo yang sehat, mandiri, berprestasi, adil, aman dan sejahtera berdasarkan iman dan taqwa.

No Misi dan Program

KDH dan Wakil KDH terpilih

Permasalahan Pelayanan SKPD Faktor

Penghambat Pendorong

1 Misi 2

Mewujudkan peningkatan kapasitas

kelembagaan dan aparatur pemerintahan yang berorientasi pada prinsip-prinsip clean government dan good governance.

Belum optimalnya

pengawasan dalam rangka mewujudkan tatakelola pemerintahan yang baik.

- Kemampuan Anggaran - Tidak proporsionalnya

cakupan obyek pemeriksaan dengan SDM yang ada - Sarana prasarana kurang

memadai.

- Belum diaplikasikannya SIMWAS.

- Lambatnya tindak tanjut rekomendasi atas temuan.

- Motivasi kerja yang kuat - Kualitas JFA menuju level 3 - Staf yang bersertifikat

auditor

- Adanya instrumen Penilaian Mandiri Pelaksanaan Reformasi Birokrasi (PMPRB)

Program Peningkatan sistem pengawasan internal dan pengendalian pelaksanaan kebijakan KDH.

Program peningkatan kapasitas sumber daya aparatur.

22 3.3. Telaahan Rencana Strategis Inspektorat DIY

Visi Pembangunan Daerah Istimewa Yogyakarta yang akan dicapai selama Tahun 2012 -2017 adalah ”Daerah Istimewa Yogyakarta Yang Lebih Berkarakter, Berbudaya, Maju, Mandiri dan Sejahtera Menyongsong Peradaban Baru”. Dari Visi tersebut maka Inspektorat Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan misi Meningkatkan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik yang dimaknai sebagai misi yang diemban untuk mendorong pemerintah daerah ke arah katalisator dan mampu mengelola pemerintahan secara efisien, efektif, mampu menggerakkan dan mendorong dunia usaha dan masyarakat lebih mandiri. Melalui misi Mewujudkan Pengelolaan Pemerintahan secara Efisien dan Efektif dengan sasaran meningkatnya akuntabilitas kinerja pemerintah daerah dan meningkatnya akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.

Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo dalam melaksanakan tugas dan fungsi dibidang pengawasan menemukan beberapa permasalahan diantaranya :

a. Kemampuan APBD yang terbatas sehingga alokasi anggaran untuk pengawasan kurang sesuai dengan cakupan obyek pemeriksaan (obrik), hanya sebagian kecil dari jumlah seluruh obyek pemeriksaan.

Kendala tersebut diatas kemungkinan akan berpengaruh terhadap kinerja pengawasan pada khususnya maupun SKPD di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo pada umumnya karena fungsi pengawasan tidak dapat dilaksanakan secara proporsional sesuai dengan beban kerja pengawasan (jumlah obrik). Disamping itu, fungsi pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen, sehingga apabila salah satu fungsi manajemen tidak dapat dilaksanakan secara optimal maka besar kemungkinan akan berpengaruh terhadap efektivitas organisasi / SKPD.

b. Jumlah kendaraan operasional yang dibutuhkan untuk kegiatan ke lapangan dalam rangka pemeriksaan belum memadai.

Jumlah kendaraan roda 4 ada 4 unit, selama ini penugasan pemeriksaan untuk satu kali penugasan sebanyak 8 tim pemeriksa, sehingga masih kekurangan kendaraan operasional roda 4 sebanyak 4 unit. Sedangkan kondisi keuangan Daerah belum memungkinkan untuk pengadaan kendaraan dinas operasional di Inspektorat Daerah

b. Kesenjangan antara jumlah aparat pengawasan terutama jumlah Pejabat Fungsional Auditor (PFA) yaitu sebanyak 25 orang dibandingkan dengan jumlah obyek pemeriksaan yang diampu oleh Inspektorat Daerah yaitu sebanyak kurang lebih 648 unit.

23

Menurut hasil analisis jabatan , jumlah kebutuhan JFA pada Inspektorat Daerah setelah disesuaikan dengan beban kerja, adalah sebanyak 54 orang. Saat ini jumlah JFA sebanyak 25 orang sehingga masih kurang 29 orang. Permasalahan ini untuk sementara dapat teratasi dengan mengoptimalkan kinerja JFA yang tersedia. Di samping itu jumlah obyek pemeriksaan yang dapat diperiksa tidak banyak karena menyesuaikan dengan jumlah anggaran pemeriksaan.

c. Belum adanya JFA yang mempunyai kompetensi di bidang kesehatan serta kekurangan JFA yang mempunyai kompetensi di bidang tehnik

d. Struktur kelembagaan Inspektorat Daerah yang belum dapat dilaksanakan secara mantap. Hal ini terjadi karena eselon III yaitu Inspektur Pembantu (Irban) tidak mempunyai staf eselon IV di bawahnya maupun staf administrasi sehingga Irban selaku pejabat eselon III lebih banyak melaksanakan tugas-tugas teknis yang seharusnya dilaksanakan oleh eselon IV.

e. Belum dapat diaplikasikannya SIMWAS karena software SIMWAS yang ada telah rusak di samping itu program SIMWAS yang baru sedang dalam pendampingan BPKP untuk aplikasinya.

f. Tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan yang belum dapat diselesaikan 100 % , untuk itu perlu upaya peningkatan koordinasi dalam rangka penyelesaian tindak lanjut temuan hasil pemeriksaan, baik pemeriksaan internal maupun eksternal

24

Tabel 3.4

Permasalahan Pelayanan Inspektorat Daerah Berdasarkan Sasaran Renstra Inspektorat DIY

Beserta Faktor Penghambat dan Pendorong Keberhasilan Penanganannya

No Sasaran Jangka Menengah Renstra Inspektorat DIY

Permasalahan Pelayanan Inspektorat Daerah

Sebagai Faktor

Penghambat Pendorong

1 Meningkatkatkan tata kelola pemerintahan secara efesien dan efektif

Belum optimalnya jangkauan sasaran pengawasan

Terbatasnya jumlah JFA dan JFA yang mempunyai

kompetensi bidang tertentu

Pengoptimalan JFA yang ada dan peningkatan SDM melalui bintek dan diklat

Belum diaplikasikannya Sistem Informasi Manajemen Pengawasan

Terbatasnya jenis pemeriksaan yang dapat di input dalam Sistem Informasi Manajemen Pengawasan

Tersedianya data tindak lanjut hasil pemeriksaan secara manual

25 3.5 Penentuan Isu-Isu Strategis

Isu strategis adalah permasalahan yang belum dapat diselesaikan pada periode sebelumnya (2005-2010) dan harus diselesaikan pada pelaksanaan pembangunan pada periode selanjutnya (2011-2016). Isu strategis juga mencakup potensi masalah yang akan dihadapi dan akan berdampak dalam jangka panjang. Isu strategis adalah kondisi atau hal yang harus diperhatikan atau dikedepankan dalam perencanaan pembangunan karena dampaknya yang signifikan bagi entitas (daerah/masyarakat) dimasa datang. Suatu kondisi / kejadian yang menjadi isu strategis adalah keadaan yang apabila tidak diantisipasi, akan menimbulkan kerugian yang lebih besar atau sebaliknya, dalam hal tidak dimanfaatkan, akan menghilangkan peluang untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Isu-isu strategis yang dihadapi oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo adalah :

1. Harapan masyarakat yang sangat tinggi terhadap tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme.

2. Tuntutan masyarakat yang sangat tinggi terhadap penegakan hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM).

3. Tuntutan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia. 4. Cepatnya Kemajuan Teknologi di Bidang Teknologi Informasi yang menuntut

adanya adaptasi penerapan di lingkungan kerja.

5. Rencana realisasi mega proyek pembangunan di wilayah Kabupaten Kulon Progo untuk beberapa tahun yang akan datang untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.

26

BAB IV

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN

KEBIJAKAN

4.1 Visi Dan Misi Inspektorat Daerah

Dengan mengacu pada Perubahan RPJM Kabupaten Kulon Progo Tahun 2011–2016, maka Visi Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo yaitu :

“Terwujudnya Pengawasan Daerah Yang Profesional Menuju Tata Kelola Pemerintahan Yang Akuntabel ”

Penerapan prinsip-prinsip good governance dalam penyelenggaraan pemerintahan tak lepas dari masalah akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah, karena aspek keuangan menduduki posisi strategis dalam proses pembangunan daerah, baik dari segi sifat, jumlah, maupun pengaruhnya terhadap kemajuan, ketahanan, dan kestabilan perekonomian.

Sesuai dengan bidang tugasnya yang menyangkut bidang pengawasan khususnya pengawasan pengelolaan keuangan daerah, maka setiap tugas-tugas pengawasan akan dijalankan dengan cermat dan seksama oleh aparat yang kompeten dan independen sehingga senantiasa menghasilkan produk-produk yang bermutu, baik pada tingkat perencanaan, pelaksanaan, maupun pelaporan.

Merespon tuntutan reformasi keberadaan Inspektorat Kabupaten Kulon Progo juga mengalami perubahan paradigma yang meluas dari kecenderungan penemuan penyimpangan kepada efektifitas pencapaian misi dan tujuan organisasi, yang mendorong kepada pemberian nilai tambah yang optimal yakni pemberian altenatif peningkatan efisiensi dan efektifitas, serta pencegahan atas potensi kegagalan manajemen. Intinya Inspektorat Daerah harus mampu memberikan nilai tambah bagi peningkatan kinerja penyelenggaraan manajemen pemerintahan.

Itu semua mencerminkan bahwa Inspektorat harus berorientasi pada peningkatan mutu (quality insurance) yang harus dilakukan secara idependen, obyektif, dan profesional. Serta senantiasa consent di bidang tugas pokok dan fungsinya. Oleh karenanya pendidikan yang berkelanjutan terhadap aparatur pengawasan, sarana dan prasarana yang memadai dan data base pengawasan yang handal menjadi persyaratan yang senantiasa perlu diperhatikan.

Pengawasan fungsional yang ingin diwujudkan oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo adalah pengawasan fungsional yang memenuhi dimensi-dimensi profesionalisme meliputi keterampilan pelaksanaan tugas pengawasan didasarkan pada pengetahuan, pendidikan dan pelatihan pengawasan yang terus

27

dikembangkan, adanya pengujian kompetensi dari petugas pengawasan, adanya kode etik dan standar pengawasan, serta pelayanan prima dalam bidang pengawasan.

Adapun Misi adalah suatu upaya yang harus dilaksanakan oleh instansi pemerintah agar visi organisasi dapat terwujud dengan baik. Dengan pernyataan misi oleh Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo ini diharapkan seluruh pegawai dan pihak yang berkepentingan dapat mengenal Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo dan mengetahui peran dan program-programnya serta hasil yang akan diperoleh dimasa mendatang.

Adapun misi Inspektorat Daerah Kabupaten Kulon Progo adalah “Mewujudkan Peningkatan Aparatur Pengawas dan Kapasitas Pengawasan”

Pengawasan intern pemerintah merupakan unsur manajemen pemerintah yang penting dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik. Aparatur Pengawas adalah sebagai pelaksana pengawasan intern pemerintah harus mampu merespon secara aktif terhadap berbagai permasalahan dan perubahan yang terjadi pada dinamika masyarakat melalui program dan kegiatan yang ditetapkan dalam suatu kebijakan pengawasan.

Peningkatan aparatur pengawas baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif diarahkan untuk dapat meningkatkan jangkauan ataupun cakupan

Dalam dokumen Perubahan Renstra Inspektorat Kulon Progo (Halaman 7-45)

Dokumen terkait