BAB II PERENCANAAN PEMBELAJARAN
C. Rencana Program Pembelajaran
Rencana program pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah untuk meningkatkan kreativitas peserta didik (contoh untuk dua mata pelajaran yaitu: Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Ekonomi, Jenjang aket C kelas XI.
Mata Pelajaran : PPKN Jenjang : Paket C Kelas : XI
Pertemu an Ke
Kompetensi Dasar Materi Belajar Alokasi Waktu 3 dan 4 3.9 Mengidentifikasi
faktor-faktor pembentuk integrasi nasional, yang dapat berupa kesamaan ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
- Faktor-faktor - Sosial Budaya
4 jam @ 45
pertemuan.
30 4.9 Menyimulasikan
faktor-faktor pembentuk integrasi nasional, yang dapat berupa kesamaan ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sesuai konteks daerah.
- Kewilayahan - Bineka
Tunggal Ika
5 Dan seterusnya
D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Rencana pelaksanaan pembelajaran disusun berdasarkan KD dan Indikator yang telah ditetapkan dalam kurikulum. RPP sekurang-kurangnya memuat: tujuan pembelajaran, langkah-langkah, metode, dan penilaian.
Contoh RPP sebagai berikut.
31
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3.9. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional, yang dapat berupa
kesamaan ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
4.9. Menyimulasikan faktor-faktor pembentuk integrasi nasional, yang dapat berupa
kesamaan ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sesuai konteks daerah.
Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK)
1. Identifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan ideologi.
2. Identifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan sosial budaya.
3. Identifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan politik.
32
4. Identifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan kewilayahan.
5. Simulasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan: ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran peserta didik mampu:
1. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan ideologi.
2. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan sosial budaya.
3. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan politik.
4. Mengidentifikasi faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan kewilayahan.
5. Menyimulasikan faktor-faktor pembentuk integrasi nasional berupa kesamaan: ideologi, sosial budaya, politik, dan kewilayahan
B. Langkah-Langkah Pembelajaran
Kegiatan Pembelajaran Waktu
A. Pertemuan Pertama 1. Kegiatan Pendahuluan
1.1. Mengucapkan salam 1.2. Memimpin berdoa
1.3. Apersepsi tentang mengapa warga banjar bisa rukun.
1.4. Menyampaikan tujuan pembelajaran
15
33 2. Kegiatan Inti :
2.1. Orientasi masalah tentang pentingnya kesamaan ideologi dalam membentuk integritas nasional.
2.2. Pengorganisasian kelompok
Peserta didik dibagi dalam 4 kelompok masing-masing kelompok berjumlah 5 orang dan masing-masing kelompok ditugaskan untuk mengidentifikasi apakah benar integrasi nasional diperlukan kesamaan ideologi. Dan bagaimana akibatnya kalau ideologi masing-masing warga negara berbeda.
2.3. Diskusi kelompok
Peserta didik berdiskusi kelompok, mengidentifikasi apakah benar integrasi nasional diperlukan kesamaan ideologi. Dan bagaimana akibatnya kalau ideologi masing-masing warga negara berbeda.
2.4. Penyajian hasil diskusi masing-masing kelompok
Masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas.
60
3. Kegiatan Penutup
3.1. Review terhadap hasil penyajian masing-masing kelompok oleh peserta didik dan pendidik.
3.2. Pendidik menyimpulkan hasil pembelajaran.
15
34 C. Penilaian
Teknik penilaian : pengamatan Komponen penilaian : - kedisiplinan,
- keaktifan, - ide-ide - keberanian - Hasil karya/solusi
Denpasar, 25 Agustus 2019
Mengetahui Pengelola Paket C Tutor Paket C Harapan Bangsa,
--- ---
E. Bahan Ajar
Bahan ajar yang dipergunakan meliputi : - video,
- modul paket C,
- berita-berita di media cetak atau elektronik dan
- bahan-bahan lainnya yang sesuai dengan konteks masalah yang sedang didiskusikan peserta didik.
35 F. Intrumen Penilaian
Penilaian terhadap kemampuan peserta didik digunakan instrumen penilaian pedoman pengamatan dan tanya jawab langsung.
Adapun indikator yang diamati adalah sebagai berikut.
- Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, saran dalam penyelesaian masalah;
- Menghasilkan gagasan yang bervariasi.
- Dapat melihat masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda.
- Mencetuskan masalah, gagasan atau hal-hal yang tidak terpikirkan orang lain.
- Menciptakan ide-ide atau hasil karya yang berbeda dan betul-betul baru.
- Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
- Mengungkapkan cara kerja yang ditempuh untuk menyelesaikan permasalahan.
- Membuat laporan dengan detail dan berbeda (untuk indikator ini lebih dijabarkan pada ranah psikomotor/melalui portofolio).
36
- Keinginan untuk mencari tahu, mendalami pengetahuan lebih dalam.
- Mempertanyakan segala sesuatu,
- Melibatkan diri dalam tugas yang diberikan, - Percaya diri dalam mengerjakan sesuatu, - Menunjukkan hasil karya.
- Memberikan penjelasan atas hasil karya.
37
BAB III
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Pembelajaran dengan pendekatan berbasis masalah, dilak-sanakan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
A. Orientasi Peserta Didik terhadap Masalah
Sebelum pembelajaran dimulai, tutor bersama peserta didik melaksanakan identifikasi permasalahan apa yang dianggap penting untuk dipelajari secara bersama-sama. Dalam hal ini tutor dapat mengajukan beberapa masalah yang berkaitan dengan tema yang akan dipelajari. Misalnya tentang perlunya hidup bersatu dalam ikatan kesamaan tertentu. Kemudian peserta didik memilih dan menyepakati salah satu permasalahan untuk dipelajari secara bersama. Keputusan peserta didik inilah yang akhirnya menjadi topic pembelajaran saat itu. Jadi masalah tersebut datangnya bisa dari tutor, peserta didik sendiri, dan dari lingkungan masyarakat.
38
Selanjutnya pada tahap ini, tutor harus menjelaskan tujuan pembelajaran dan aktivitas apa yang akan dilakukan agar peserta didik tahu apa tujuan utama pembelajaran, apa permasalahan yang akan dibahas, bagaimana tutor akan mengevaluasi proses pembelajaran. Tutor harus bisa memberikan motivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada fase orientasi peserta didik antara lain sebagai berikut.
1. Kegiatan Tutor
a. Menyampaikan tujuan dan manfaat pembelajaran yang ingin dicapai dalam pembelajaran tersebut;
b. Memotivasi peserta didik terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih;
c. Menjelaskan bahan ajar yang diperlukan.
d. Menjelaskan media/sistem pembelajaran yang akan diterapkan.
2. Kegiatan Peserta didik
a. Mendengarkan penjelasan tutor;
39
b. Mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan tutor;
c. Berusaha mencari bahan ajar yang telah disediakan oleh satuan atau secara mandiri.
d. Mengajukan pertanyaan terhadap tujuan [embelajaran yang belum dipahami oleh peserta didik.
Gambar: 3.1
Tutor melakukan Orientasi Pembelajaran
40 B. Mengorganisasikan Peserta didik
Mengorganisasikan peserta didik adalah: mengatur dan mengelompokkan peserta didik sehingga seluruhnya menjadi suatu kelompok-kelompok kerja yang efektif.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada fase mengorganisasikan peserta didik antara lain sebagai berikut.
1. Kegiatan Tutor
a. Pada tahap ini, tutor membantu peserta didik mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah yang telah diorientasi,
b. Membantu peserta didik membentuk kelompok kecil,
c. Membantu peserta didik membaca masalah yang ditemukan pada tahap sebelumnya,
d. Membantu peserta didik mencoba untuk memecahkan masalah yang ditemukan tersebut.
2. Kegiatan Peserta Didik
a. Mebentuk kelompok-kelompok satu kelompok terdiri dari 3-5 peserta didik
41 b. Memilih ketua kelompok c. Memilih sekretasis
d. Membuat aturan/tatatrebib internal
Gambar: 3.2
Tutor mengorganisasi peserta didik dengan membentuk kelompok-kelompok kecil
C. Membimbing Individu dan Kelompok
Pada tahap ini, tutor memotivasi peserta didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, mencoba memecahkan masalahnya, menemukan ide-ide, dan berusaha untuk memecahkan masalah masalah berdasarkan informasi yang telah dimiliki.
Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan pada fase membimbing individu dalam kelompok antara lain sebagai berikut.
42 1. Kegiatan Tutor.
a. Mengorganisasi tugas belajar sesuai dengan permasalahan.
1) Membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil;
2) Memberikan tugas kepada kelompok-kelompok;
3) Mengatur dan mengarahkan aktivitas kelompok.
b. Membimbing peserta didik memecahkan masalah yang belum dipecahkan.
1) Membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan belajar kelompok;
2) Memotivasi peserta didik agar semua terlibat aktif dalam kegiatan belajar;
2. Kegiatan Peserta didik
a. Membagi diri sesuai dengan kelompok yang lebih disenangi;
b. Menjalin kerjasama dengan sesama anggota kelompoknya;
c. Mengerjakan tugas kelompok yang diberikan tutor dalam buku pelajaran.
43
d. Menanyakan dan meminta penjelasan kepada tutor atau teman sekelompoknya terhadap permasalahan pembelajaran yang dianggapnya belum bias dikuasai.
e. Menyerahkan hasil tugas yang dibebankan kepada tutor untuk mendapatkan penilaian.
Gambar: 3.3
Tutor memberikan bimbingan kepada individu/kelompok
44
D. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya
Pada tahap ini tutor membantu peserta didik dalam menganalisis data yang telah terkumpul pada tahap sebelumnya, peserta didik memberi argumen terhadap jawaban pemecahan masalah serta mempertunjukkan hasil karya peserta didik.
Gambar: 3.4
Tutor memberikan kesempatan peserta didik untuk menyajikan hasil diskusi (karyanya)
45
Pada tahap ini kegiatan yang dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Kegiatan Tutor
a. Membantu peserta didik dalam merencakan dan menyiapkan hasil karya;
b. Memberikan penghargaan terhadap hasil karya peserta didik;
2. Kegiatan Peserta didik
a. Mempersiapkan hasil karya dan hasil diskusi kelompok.
b. Menunjukkan hasil karya dan hasil diskusi kelompok.
c. Memperoleh penguatan dari tutor atas hasil karya dan hasil diskusi kelompok yang telah ditunjukkan.
E. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah
Pada tahap ini, tutor meminta peserta didik untuk merekonstruksi pemikiran dan aktivitas yang telah dilakukan selama proses kegiatan belajarnya. Tutor dan peserta didik menganalisis dan mengevaluasi terhadap pemecahan masalah yang dipresentasikan setiap kelompok.
46
Pada tahap ini kegiatan yang dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Kegiatan Tutor
a. Memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok lainnya untuk memberikan tanggapan atau penilaian atas hasil karya kelompok lainnya.
b. Memberikan kesempatan kepada kelompok yang diberikan masukan/dinilai untuk memberikan penjelasanatau tanggapan.
c. Tutor meluruskan pemikiran-pemikiran kelompok atas pemecahan masalah yang sedang didiskusika.
d. Tutor menyimpulkan hasil diskusi/pemecahan masalah yang telah dilakukan oleh peserta didik.
2. Kegiatan Peserta Didik
a. Menanyakan hal-hal yang belum jelas kepada kelompok lainnya atas pemaparan hasil kelompok.
b. Memberikan tanggapan atau penjelasan terhadap pertanyaan kelompok lainnya yang dianggap belum jelas.
c. Mendengarkan penjelasan tutor
47 d. Menjawab pertanyaan tutor.
Gambar: 3.5
Tutor menyampaikan hasil evaluasi dan memberikan penegasan
48
BAB IV P E N U T U P
Panduan Pembelajaran Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kreativitas peserta didik Paket C kelas XI ini pada dasarnya adalah acuan bagi pendidik pendidikan kesetaraan paket C dalam menerapkan model pembelajaran berbasis masalah dalam pelaksanaan pembelajarannya.
Dalam panduan ini secara jelas dan rinci, telah diuraikan langkah-demi langkah penerapan model pembelajaran berbasis masalah. Dengan demikian langkah-langkah tersebut hendaknya dapat dilalui sebagaimana mestinya kecuali ada hal-hal yang memungkinkan tidak dapat dipenuhinya langkah-langkah tersebut maka diperlukan strategi atau cara untuk melaksanakannya dengan catatan tidak menyimpang dari prosedur yang telah ditetapkan. Misalnya karena masa pandemi dan tidak bisa
49
berkumpul maka model pembelajaran kelompok dapat dilaksanakan melalui fasilitas WhatsApp Grup atau bentuk lainnya.
Dengan menggunakan pedoman pembelajaran model pembelajaran berbasis masalah ini, diharapkan pendidik dapat menerapkan model pembelajaran ini dengan benar dan peserta didik paket C kelas XI dapat meningkat kreativitasnya dan menimbulkan semangat untuk belajar dan terus belajar.
50
KEPUSTAKAAN
Anwar Desi. 2000. Kamus Lengkap Inggris Indonesia. Surabaya : Karya Abditama.
Arikunto, S & Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2003. Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, beserta penjelasannya. Jakarta:
Depdiknas.
………., 2004. Pedoman Diagnostik Potensi Peserta Didi.k Direktorat Pendidikan Menengah Umum Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama Departemen Pendidikan Nasional 2004
………. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 14 tahun 2007. Tentang Standar Isi Program Paket A, B dan C.
…………., 2009. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.
51
…………, 2009. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 63 Tahun 2009 tentang Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan.
Jakarta: Depdikbud.
---, 2010. Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan, Sebagaimana Telah Diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Dan Penyelenggaraan Pendidikan.
---, 2012. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, sebagaimana telah Diubah Dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2012 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
………….. 2014. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Departeman Pendidikan Nasional.
Guilford (1959) Personality New York Mc. Graw - Hill
Hamruni. 2011. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Insan Madani.
Hendra Surya.2011. Strategi Jitu Mencapai Kesuksesan Belajar.
Jakarta: Elek Media Komputindo.
52
Ismail. 2002. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Instruction): Apa, bagaimana, dan Contoh pada Sub Pokok Bahasan Statistika. Surabaya.
Jafriansen. 2011. Strategi Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan Dasar. Perca: Jakarta.
________, 2011. Strategi Pemenuhan Standar Nasional Pendidikan Menengah. Perca: Jakarta.
Kemendikbud, 2015. Peraturan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 02 Tahun 2016 tentang Petunjuk Teknis Pengembangan Model Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat. Jakarta. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.
Martinis Yamin. 2013. Strategi dan Metode dalam Model Pembelajaran. Jakarta: GP Press Grup.
Mohamad Surya. 2015. Strategi Kognitif dalam Proses Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.
Munandar, S.C. Utami, 1999, Kreativitas dan Keberbakatan, Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
53
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan kreativitas anak berbakat.
Jakarta: Rineka cipta.
Munandar, S.C. Utami. 2012. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Rineka Cipta. Jakarta.
Nastity, Sanny Ayu. 2016. Perbedaan Tingkat Kreativitas Ditinjau dari Persepsi Anak Terhadap Pola Asuh Orangtua Siswa SD Muhammadiyah 4 Surabaya. Skripsi. Universitas Airlangga.
Rachmawati, Yeni dan Euis Kurniawati. 2005. Strategi Pengembangan Kreativitas Pada Anak Usia Taman Kanak-kanak. Jakarta. Depdiknas
Rusman. (2011). Metode-Metode Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Sugiyono, 2016. Metode Penelitian dan Pengembangan.
Bandung. Alfa Beta.
Trianto, (2007). Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Prestasi Pustaka: Jakarta.
Warsono dan Hariyanto. 2012. Pembelajaran Aktif Teori dan Asesmen. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
54
SAMBUTAN
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, mengamanatkan cita-cita kemerdekaan untuk menjadi bangsa maju yang sejahtera, cerdas, tertib dan berkarakter, damai, abadi serta berkeadilan sosial.
Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, melalui Visi Indonesia 2045 yaitu Indonesia Maju, penguatan proses transformasi ekonomi dalam rangka mencapai tujuan pembangunan tahun 2045 menjadi fokus utama dalam rangka pencapaian infrastruktur, kualitas sumber daya manusia (SDM), layanan publik, serta kesejahteraan rakyat.
Sebagai salah satu unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Balai Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (BP PAUD dan Dikmas) Provinsi Bali sesuai Permendikbud No. 26 Tahun 2020 mempunyai tugas mengembangkan Program Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat. BP PAUD dan Dikmas Provinsi Bali diharapkan mampu mewarnai terwujudnya arah kebijakan dan tujuan pembangunan pendidikan nasional khususnya bidang PAUD dan Dikmas.
ii
55
Model Panduan Pembelajaran Berbasis Masalah Untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Paket C Kelas XI, disusun sebagai pedoman bagi pendidik dalam melaksanakan Pembelajaran agar peserta didik dapat meningkatkan kreativitasnya. Dalam Panduan ini, secara rinci akan dijabarkan tentang perencanaan, langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran untuk mempermudah pendidik dalam menerapkan model pembelajaran ini kepada peserta didik.
Dalam kesempatan ini saya atas nama pimpinan lembaga mengucapkan terimakasih kepada tim pengembang model, pendidik dan tenaga kependidikan satuan PAUD dan Dikmas, pemangku kepentingan di lokasi ujicoba pengembangan model, dan semua pihak yang telah berpartipasi aktif, bekerja bersama-sama dalam mendukung tugas dan fungsi balai. Semoga amal baik Bapak/Ibu/Saudara mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Aamiin.
Denpasar, Desember 2020
Kepala,
Dra. Endah Warsiati, M.Pd
NIP. 196402221991032001
iii
56
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas karunia-Nya Panduan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Paket C Kelas XI dapat kami susun tepat pada waktunya.
Dalam panduan pembelajaran ini, secara rinci dijabarkan tentang perencanaan dan langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kreativitas Peserta Didik Paket C kelas XI sebagai Pedoman bagi pendidik agar mempermudah dalam pelaksanaan pembelajaran di lapangan, sehingga bisa terencana dan terarah sesuai dengan tujuan yang telah disusun.
Kami berharap bahwa panduan ini dapat bermanfaat untuk penyelenggara, pendidik/tutor dalam melaksanakan program pembelajaran khususnya pendidikan kesetaraan di lapangan.
Denpasar, Desember 2020 Tim Pengembang,
iv
57
DAFTAR ISI
Hal
HALAMAN JUDUL ……… i
KATA SAMBUTAN ……… ii
KATA PENGANTAR ……… v
DAFTAR ISI ………. vi
DAFTAR GAMBAR ……… viii
DAFTAR TABEL ……….. xi
BAB I PENDAHULUAN ……….
A. Latar Belakang ……….. 1
B. Tujuan ………. 7
C. Manfaat ……….. 8
BAB II PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A. Standar Kompetensi Lulusan ……….………. 10 B. Struktur Kurikulum Paket C……….. 16 C. Rencana Program Pembelajaran………. 29
v
58
D. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ……… 30 E. Bahan Ajar ……….. 34 F. Instrumen Penilaian ……….. 35 BAB III PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
A. Orientasi Peserta Didik terhadap Masalah ……… 37 B. Mengorganisasikan Peserta Didik ……….. 40 C. Membimbing Individu dan Kelompok ………. 41 D. Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya … 44 E. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses
Pemecahan Masalah………. 45
BAB V PENUTUP ……… 48 Kepustakaan ………. 50
vi
61
DAFTAR GAMBAR
Gambar No
Keterangan Hal
3.1 Pendidik/tutor sedang memberikan orientasi kepada peserta didik tentang materi yang akan dibahas bersama
39
3.2 Pendidik/tutor mengorganisasi peserta didik dengan membentuk kelompok kecil
41
3.3 Pendidik/tutor memberikan bimbingan kepada invidu dan kelompok
43
3.4 Pendidik/tutor memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menyajikan hasil karyanya
44
3.5 Pendidik/tutor menyampaikan hasil evaluasi dan sekaligus memberikan penegarsan.
47
viii
62
DAFTAR TABEL
Tabel No
Keterangan Hal
2.1 Struktur Kurikulum Paket C 18
2.2 Indikator Kreativitas 20
2.3 Contoh Rumusan Kompetensi Mata Pelajaran PPKn 23 2.4 Contoh Rumusan Kompetensi Mata Pelajaran
Ekonomi
26
2.5 Contoh Pemetaan Mata Pelajaran PPKn Kelas XI 28 2.6 Contoh Pemetaan Mata Pelajaran Ekonomi Kelas XI 28
ix
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Begitu pentingnya pendidikan bagi penyiapan generasi penerus bangsa, maka dalam UUD 1945 telah diamanatkan bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan (Pasal 31, ayat 1). Oleh karenanya pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan yang bermutu untuk setiap warga negara. Negara berkewajiban memberi layanan pendidikan yang sama kepada semua warga negara tanpa kecuali. Artinya setiap warga negara berhak menentukan pilihan pendidikannya melalui jalur pendidikan sekolah (formal), atau melalui jalur pendidikan luar sekolah (nonformal).
Pendidikan kesetaraan paket C merupakan salah satu satuan pendidikan pada jalur pendidikan non-formal yang diakui setara dengan sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Fungsi pendidikan kesetaraan sebagai bagian dari pendidikan nonformal adalah
2
mengembangkan potensi peserta didik (warga belajar) dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan akademik dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Untuk menjamin kualitas pendidikan kesetaraan, kurikulum pendidikan kesetaraan dikembangkan dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 24 tahun 2016 tentang kompetensi inti dan kompetensi dasar pendidikan dasar dan menengah. Kompetensi inti dan kompetensi dasar tersebut disesuaikan dengan konteks pendidikan kesetaraan dan fungsionalisasi dalam kehidupan sehari hari. Kontekstualisasi dan fungsionalisasi ini tidak mengurangi derajat kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.
Kebijakan Dirjen PAUD dan Dikmas tentang pemberlakuan kontekstualisasi kurikulum 2013 pendidikan kesetaraan, harus sudah diterapkan pada tahun ajaran 2019/2020. Demikian pula dengan kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang mulai tahun 2020/2021 penilaian berupa Ujian Nasional tidak
3
lagi diberlakukan untuk semua jenjang pendidikan. Penilaian akhir yang digunakan adalah cukup penilaian oleh satuan pendidikan yang disebut dengan assessment kompetensi minimal (literasi membaca dan literasi numerasi) serta survey karakter. Dengan penilaian tersebut diharapkan peserta didik tidak hanya sekedar memiliki kemampuan menghafal tetapi lebih dari itu peserta didik dituntut untuk mampu berpikir kreatif sehingga mampu menguasai kompetensi minimal literasi membaca dan numerasi serta mampu menunjukkan kreativitasnya dalam berbagai bidang kehidupan.
Berpikir kreatif adalah suatu aktivitas mental yang digunakan seseorang untuk membangun ide atau gagasan yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada. Adapun kreativitas pada dasarnya adalah merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk menciptakan/memodifikasi dan melakukan suatu hal baru, cara-cara baru, model baru, produk baru yang berguna bagi dirinya dan masyarakat lainnya.
4
Kreativitas peserta didik pendidikan kesetaraan paket C sangatlah diperlukan, tidak saja dalam pencapaian kompetensi minimal akademik (literasi membaca dan numerasi), tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam pencapaian kompetensi minimal (literasi membaca dan numerasi) jelas diperlukan kemampuan berpikir kreatif, karena tanpa adanya kemampuan berpikir kreatif peserta didik tidak akan mampu mencapai kompetensi minimal sebagaimana yang diinginkan. Demikian pula dalam kehidupan di masyarakat, tuntutan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari dalam berbagai bidang kehidupan memerlukan kreativitas seseorang untuk mampu mencari jalan keluar sehingga permasalahan tersebut dapat diatasi.
Hasil pengamatan di setiap satuan pendidikan kesetaraan, secara potensial sebenarnya peserta didik pendidikan kesetaraan paket C telah memiliki kreativitas. Hal ini dibuktikan dengan dimilikinya usaha-usaha tertentu yang digelutinya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Namun dalam proses pembelajaran di kelas, umumnya lebih banyak diarahkan pada pencapaian aspek
5
pengetahuan khususnya mengacu pada persiapan ujian kenaikan kelas atau ujian akhir sehingga belum mendukung kreativitas peserta didik secara optimal. Adapun dalam pendekatan pembelajaran yang dilakukan oleh tutor selama ini umumnya dengan metode: ceramah, tanyajawab, penugasan, diskusi kelompok sehingga dengan metode tersebut belum mampu mengoptimalkan kreativitas peserta didik pendidikan kesetaraan paket C.
Untuk mengembangkan kreativitas peserta didik, diperlukan proses pembelajaran yang baik. Proses pembelajaran adalah sesuatu aktivitas pemberian pengetahuan, sikap dan keterampilan yang terencana sehingga peserta didik mampu mencapai kompetensi yang diharapkan. Oleh karena itu model-model pembelajaran yang tepat dalam upaya peningkatan kreativitas peserta didik adalah sangat diperlukan.
Salah satu model yang dipandang tepat untuk dikembangkan dalam meningkatkan kreativitas peserta didik pendidikan