DATA PERKEMBANGAN III KUNJUNGAN RUMAH
5. Rencana Tindakan
Rencana tindakan merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi atau diantisipasi, pada langkah ini semua keputusan harus rasional dan benar-benar valid berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi tentang apa yang akan atau tidak akan dilakukan klien (Varney, 2007).
Menurut Prawirohardjo (2011), rencana tindakan meliputi lakukan pendekatan terapeutik dengan pasien untuk mencari penyebab penyakit, lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital, anjurkan pasien untuk menjaga personal hygine sekitar kemaluan, anjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan bergizi yang berimbang, anjurkan pasien untuk tirah baring atau bedrest, lakukan kolaborasi dengan dokter obgyn, anjurkan pasien untuk minum obat (pil kombinasi estrogen dan progesteron) secara teratur dan tepat waktu, lakukan pemeriksaan laboratorium untuk cek HB.
Pada kasus Ny. S umur 22 tahunP1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan denganmenometroraghia rencana tindakan yang diberikan yaitu lakukan pendekatan terapeutik kepada ibu dan keluarga, beri informasi tentang keadaan ibu, beri support mental pada ibu dan keluarga, anjurkan ibu untuk istirahat cukup, anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi, Beri KIE pada ibu tentang personal hygiene, Beri transamin 500 mg 3x1 selama 3 hari 10 tablet, anjurkan kontrol ulang atau jika ada keluhan.
Pada langkah ini ada kesenjangan antara teori dan praktek di lahan, yaitu pada langkah kolaborasi dengan dokter dan pemberian terapi obat.
Dilahan praktek diberikan terapi obat transamin 500 mg 3x1 selama 3 hari. Sedangkan pada teori dilakukan kolaborasi dengan dokter dan diberikan terapi obat (pil kombinasi estrogen dan progesteron).
Dikarenakan dilahan menyesuaikan keadaan ibu, pada kasus Ny. S P1A0
umur 22 tahun akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia keadaan umum ibu baik dan HB ibu masih dalam batas normal, sehingga ibu hanya dianjurkan untuk rawat jalan.
6. Implementasi
Pada langkah ini pelaksanaan asuhan menyeluruh seperti yang diuraikan pada langkah ke 6 dilaksanakan secara efisien dan aman.
Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Walau bidan tidak melakukan sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaanya (misalnya memastikan langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana (Varney, 2007). Pelaksanaan yang dapat dilakukan, meliputi :melakukan pendekatan terapeutik dengan pasien untuk mencari penyebab penyakit, melakukan pemeriksaan TTV, menganjurkan pasien untuk menjaga personal hygine sekitar kemaluan, menganjurkan pasien untuk mengkonsumsi makanan bergizi yang berimbang, menganjurkan pasien untuk tirah baring atau bedrest, melakukan kolaborasi dengan dokter obgyn, menganjurkan pasien untuk minum obat (pil kombinasi
estrogrn dan progesteron) secara teratur dan tepat waktu, melakukan pemeriksaan laboratorium untuk cek HB (Prawirohardjo, 2011).
Pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia asuhan kebidanan yang berikan, meliputi:
melakukan pendekatan terapeutik kepada ibu dan keluarga untuk mengetahui penyebab penyakit dengan cara memberi salam, memperkenalkan diri, tersenyum ramah pada ibu dan keluarga, memberikan informasi tentang keadaan ibu, dimana ibu mengalami menometroraghia yaitu suatu kondisi dimana terjadi perdarahan
menstruasi yang lama dan darah lebih banyak, memberi support mental pada ibu dan keluarga agar tidak tertalu cemas dengan keadaan ibu, menganjurkan ibu untuk istirahat cukup, menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi yaitu yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin yang diperoleh dari nasi, lauk, sayur, dan buah serta susu, memberikan KIE pada ibu tentang personal hygiene yaitu menganjurkan pasien untuk sering mengganti pembalut setiap kali penuh/ basah/ lembab, mengajarkan cara cebok yang benar dari arah depan (vagina) ke belakang (anus) jangan sampai terbalik, memberikan terapi obat transamin 500 mg 3x1 selama 3 hari 10 tablet, memberitahu ibu akan dilakukan kunjungan rumah 3 hari lagi.
Berdasarkan data diatas terdapat kesenjangan antara praktek dan teori yaitu pada langkah kolaborasi dengan dokter dan pemberian terapi obat,. Sedangkan pada teori dilakukan kolaborasi dengan dokter dan
diberikan terapi obat (pil kombinasi estrogen dan progesteron).
Dikarenakan dilahan menyesuaikan keadaan ibu, pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia keadaan umum ibu baik dan HB ibu masih dalam batas normal, sehingga ibu hanya dianjurkan untuk rawat jalan.
7. Evaluasi
Menurut Varney (2007), Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam manajemen kebidanan yang kegiatannya dilakukan terus menerus dengan melibatkan pasien, bidan, dokter dan keluarga.
Evaluasi yang ingin dicapai pada akseptor KB suntik dengan menometrorarghia, meliputi : perdarahan dan gumpalan berhenti,
keadaan umum baik, kesadaran composmentis, ibu bersedia melakukan personal hygiene,ibu bersedia mengkonsumsi makanan yang bergizi,ibu
bersedia untuk cukup istirahat, ibu bersedia minum obat (pil kombinasi estrogen dan progesteron) yang telah diberikan, sudah dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui HB dan hasilnya HB normal (Prawirohardjo, 2011).
Hasil dari asuhan kebidanan pada Ny. S umur 22 tahun akseptor KB suntik 3 bulan dengan menometroragia setelah dilakukan asuhan selama 9 hari di BPM Tri Resiti Juwiring Klaten, evaluasi pada tanggal 19 April 2016 didapatkan hasil yaitu ibu tidak menstruasi sejak tanggal 17 April 2016, keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis, tanda-tanda vital : TD : 110/80mmHg, respirasi 24 x/menit, nadi 84 x/menit, suhu 36,60C dan ibu tetap memakai alat kontrasepsi suntik 3
bulan. Pada langkah ini tidak ada kesenjangan antara teori dan praktek di lahan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Setelah penulis melakukan asuhan kebidanan keluarga berencana pada Ny. S P1A0 Umur 22 tahun akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia di BPM Tri Resiti Juwiring Klaten, maka penulis dapat
membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Pengkajian dilakukan dilakukan pada tanggal 10 April 2016 Pukul 09.15WIB bernama Ny. S umur 22 tahun. Dengan alasan kunjungan ibu mengatakan menstruasi sejak 17 hari yang lalu dan belum berhenti, darah keluar banyak berwarna merah kehitaman ganti pembalut 4 kali/hari. Pada kasus Ny. S akseptor KB suntik 3 bulan didapatkan pada pemeriksaan Keadaan umum baik, kesadaran composmentis, tanda –tanda vital TD : 110/80 mmHg, respirasi : 24x/menit, nadi 84x/menit, suhu 36,6oC. Data obyektif perdarahan pervaginam tampak darah merah kehitaman, tidak ada benjolan, tidak ada perlukaan pada dinding vagina. Pemeriksaan Penunjang lain dilakukan cek Hb dengan hasil Hb 11,2 gr%.
2. Interpretasi data didapatkan diagnosa kebidanan Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia. Masalah yang muncul pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia adalah ibu cemas dengan keadaannya dan ibu merasa tidak nyaman dengan keadaannya. Pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia yaitu
71
beri informasi tentang keadaan ibu, Beri support mental pada ibu dan keluarga dan beri KIE tentang metode kontrasepsi lain.
3. Diagnosa Potensial pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia tidak terjadi anemia dikarenakan penanganan intensif.
4. Antisipasi pada kasus Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia yaitu pemberian transamin 500 mg 3x1 selama 3 harisebanyak 10 tablet.
5. Rencana tindakan yang dibuat Ny. S umur 22 tahun P1A0 akseptor KB Suntik 3 bulan dengan menometroraghia rencana tindakan yang diberikan yaitu lakukan pendekatan terapeutik kepada ibu dan keluarga, beri informasi tentang keadaan ibu, beri support mental pada ibu dan keluarga, anjurkan ibu untuk istirahat cukup, anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi, beri KIE pada ibu tentang personal hygiene, Beri transamin 500 mg 3x1 selama 3 hari 10 tablet, lakukan kunjungan ulang 3 hari sekali.
6. Implementasi telah sesuai dengan rencana yang telah dibuat yaitu lakukan pendekatan terapeutik kepada ibu dan keluarga, beri informasi tentang keadaan ibu, beri support mental pada ibu dan keluarga, anjurkan ibu untuk istirahat cukup, anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi, beri KIE pada ibu tentang personal hygiene, beri transamin 500 mg 3x1 selama 3 hari 10 tablet, lakukan kunjungan ulang 3 harisekali.
7. Evaluasi setelah dilakukan asuhan kebidanan pada akseptor KB suntik 3 bulan dengan menometroraghia selama 9 hari di BPM Tri Resiti Juwiring Klaten, evaluasi pada tanggal 19 April 2016 yaitu ibu mengatakan sudah
tidak menstruasi sejak tanggal 17 April 2016. Keadaan umum baik, tanda-tanda vital : TD : 110/80mmHg, respirasi 24 x/menit, nadi 84 x/menit, suhu 36,60C dan ibu tetap memakai alat kontrasepsi suntik 3 bulan.
8. Asuhan kebidanan pada akseptor KB suntik 3 bulan dengan menometroraghia selama 9 hari di BPM Tri Resiti Juwiring Klaten
didapatkan kesenjangan antara teori dan kasus dilahan yaitu pada langkah antisipasi, perencanaan dan pelaksanaan, tidak dilakukan kolaborasi dengan dokter dan pemberian terapi obat.
B. Saran
1. Bagi Bidan
Diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dasar secara umum mengenai informasi tentang efek samping alat kontrasepsi sebelum pasien menggunakan alat kontrasepsi, terutama KB suntik 3 bulan melalui pelatihan dan seminar.
2. Bagi BPM
Diharapkan bagi BPM Tri Resiti Juwiring Klaten untuk tetap mempertahankan pelayanan yang telah diberikan dan berusaha untuk meningkatkan untuk lebih baik lagi dalam asuhan kebidanan yang komprehensif.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi pendidikan dapat memberikan sumber bacaan atau referensi untuk peningkatan kualitas pendidikan kebidanan
.
4. Bagi Responden
Sebelum menentukan jenis KB yang akan digunakan, diharapkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan agar berbagai efek samping dapat diminimalisasikan.