BAB VI. PERENCANAAN DAN PERANCANGAN
6.3. Rencana Vegetasi
Berdasarkan konsep vegetasi yang telah dibuat, vegetasi yang direncanakan dikategorikan menjadi empat fungsi, yaitu vegetasi dengan fungsi estetika, fungsi konservasi, fungsi pengarah, serta fungsi penyangga. Jenis vegetasi yang direncanakan menggunakan jenis tanaman eksisting pada tapak dan tanaman pengundang burung serta penarik serangga sebagai pakan burung.
Berdasarkan Tabel Klasifikasi Ekologi Jenis Burung di TPU Tanah Kusir (Tabel 5.5) dan juga Tabel Jenis, Karakter, Makanan, Perkembangbiakan, Habitat, Kebiasaan, Penyebaran, Serta Status Burung (Lampiran 1), jenis vegetasi untuk fungsi bagi burung dikelompokkan menjadi tanaman yang menghasilkan biji, tanaman yang menghasilkan buah kecil, serta tanaman yang menghasilkan nektar dan penarik serangga.
Tabel 6.3. Tabel Fungsi Tanaman bagi Burung dan Jenis Burung yang dapat diundang
Fungsi Tanaman bagi Burung Jenis Burung yang dapat diundang
Nama Lokal Nama Ilmiah
Penghasil Biji
Cipoh Kacat Aegithina tiphia
Kareo padi Amaurornis phoenicurus
Cabai jawa Dicaetum trochileum
Bondol Jawa Lonchura leucogastroides Bondol peking Lonchura punctulata
Gelatik Jawa Padda oryzivora
Burung-gereja erasia Passer montanus Tekukur biasa Streptopelia chinensis Gemak loreng Turnix suscitator
79 Lanjutan Tabel 6.3.
Fungsi Tanaman bagi Burung Jenis Burung
Nama Lokal Nama Ilmiah
Penghasil Buah Kecil
Burung-madu kelapa Anthreptes malacensis Wiwik kelabu Cacomantis merulinus
Cabai jawa Dicaetum trochileum
Burung-gereja erasia Passer montanus Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier Kacamata biasa Zosterops palpebrosus
Penghasil Nektar dan Penarik Serangga
Cipoh Kacat Aegithina tiphia
Raja-udang meninting Alcedo meninting
Kareo padi Amaurornis phoenicurus
Burung-madu kelapa Anthreptes malacensis Wiwik kelabu Cacomantis merulinus Wallet sapi Collocalia esculenta
Cabai jawa Dicaetum trochileum
Cekakak Jawa Halcyon cyanoventris Layang-layang batu Hirundo tahitica Burung-madu sriganti Nectarinia jugularsis Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps Cinenen pisang Orthotomus sutorius Burung-gereja erasia Passer montanus Caladi tilik Picoides moluccensis Perenjak Jawa Prinia familaris Cucak kutilang Pycnonotus aurigaster Merbah cerukcuk Pycnonotus goiavier Kipasan belang Rhipidura javanica Gemak loreng Turnix suscitator Kacamata biasa Zosterops palpebrosus (Sumber: MacKinnon, 2011)
Tanaman dengan fungsi estetika sebagian besar merupakan tanaman semak hingga pohon rendah (Tabel 6.4). Tanaman dengan fungsi estetika pada tapak sebagian besar akan dikembangkan pada zona inti, yaitu pada area makam.
Tanaman yang direkomendasikan merupakan tanaman yang memiliki keindahan dari warna dan bentuk. Tanaman dari fungsi ini juga berfungsi sebagai penarik serangga. Penggunaan tanaman dengan buah yang besar sangat dihindari pada area ini sebab dapat membahayakan peziarah.
Tanaman dengan fungsi konservasi pada tapak sebagian besar akan dikembangkan pada zona konservasi (Tabel 6.5). Tanaman yang digunakan merupakan pepohonan yang berfungsi sebagai penarik burung sekaligus sebagai habitat burung. Tanaman dalam fungsi ini memiliki buah dan biji-bijian sebagai
80 pakan burung. Tanaman konservasi ini juga berguna untuk mengkonservasi tanah dan air pada tapak.
Tanaman dengan fungsi pengarah merupakan tanaman yang memiliki batang tinggi (Tabel 6.6). Tanaman dengan fungsi ini berguna sebagai pengarah sirkulasi dan pengarah angin, serta sebagai pengarah untuk menuju area tertentu.
Tanaman pengarah akan dikembangkan di sepanjang sirkulasi primer. Sama seperti tanaman estetika, penggunaan tanaman dengan buah yang besar juga sangat dihindari pada area ini sebab dapat membahayakan pengguna jalan.
Selanjutnya merupakan tanaman dengan fungsi penyangga (Tabel 6.7).
Tanaman untuk jenis ini merupakan tanaman yang terdiri dari pohon sedang hingga besar. Pemanfaatan jenis tanaman penyangga adalah untuk memberikan kenyamanan sebagai pembatas agar aktivitas di dalam tapak tidak terganggu oleh aktivitas di luar tapak. Tanaman penyangga juga diharapkan dapat menarik burung untuk mendatangi tapak.
Tabel 6.4. Tabel Alternatif Vegetasi dengan Fungsi Estetika
No
BH: Penghasil Buah Kecil PN: Peneduh
NS: Penghasil Nektar dan Penarik Serangga PR: Produksi (Sumber Jenis Tanaman: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011)
81
Tabel 6.5. Tabel Alternatif Vegetasi dengan Fungsi Konservasi
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Fungsi bagi Burung Fungsi bagi Manusia
BJ BH NS ES PN PR
BH: Penghasil Buah Kecil PN: Peneduh
NS: Penghasil Nektar dan Penarik Serangga PR: Produksi (Sumber Jenis Tanaman: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011)
Tabel 6.6. Tabel Alternatif Vegetasi dengan Fungsi Pengarah
No. Nama Lokal Nama Ilmiah Fungsi bagi Burung Fungsi bagi Manusia
BJ BH NS ES PN PR
1 Cemara kipas Thuja occidentalis √ √ √ √
2 Palem raja Roystonia regia √ √ √
3 Glodogan tiang Polyalthia longifolia √ √ √ √
Keterangan: BJ: Penghasil Biji ES: Estetika
BH: Penghasil Buah Kecil PN: Peneduh
NS: Penghasil Nektar dan Penarik Serangga PR: Produksi (Sumber Jenis Tanaman: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011)
82
Tabel 6.7. Tabel Alternatif Vegetasi dengan Fungsi Penyangga
No
. Nama Lokal Nama Ilmiah
Fungsi bagi Burung
Fungsi bagi Manusia
BJ BH NS ES PN PR
1 Srikaya Annonona squamosa √ √ √ √ √
2 Bisbul Diospyros philippinensis √ √ √
3 Damar Agathis damara √ √ √ √
4 Sengon Albizzia falcataria √ √ √ √
5 Bambu Bambusa sp √ √ √
6 Kapuk Ceiba pentandra √ √ √
7 Flamboyan Delonix regia √ √ √
8 Sempur Dillenia suffruticosa √ √ √ √ √
9 Beringin Ficus benjamina √ √ √ √ √
10 Asem kranji Pithecellobium dulce √ √ √ √ √
11 Pete Pithecolloblum dulce √ √ √ √ √ √
12 Angsana Pterocarpus indicus √ √
13 Ki Hujan /
Trembesi Samanea saman √ √ √ √
14 Mahoni Swietenia macrophylla √ √ √ √
15 Ketapang Terminalia catappa √ √ √ √
Keterangan: BJ: Penghasil Biji ES: Estetika
BH: Penghasil Buah Kecil PN: Peneduh
NS: Penghasil Nektar dan Penarik Serangga PR: Produksi (Sumber Jenis Tanaman: Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, 2011)
83
6.17
84
6.18
85 6.4. Rencana Fasilitas
Rencana fasilitas pada TPU Tanah Kusir diharapkan dapat mengakomodir aktivitas yang ada. Berikut merupakan rencana fasilitas yang dibuat pada tapak:
a. Makam
Makam yang direncanakan merupakan makam yang memiliki bentuk yang seragam (Gambar 6.19). Penataan makam dilakukan untuk memperindah kawasan pemakaman serta membuat makam menjadi lebih rapi. Hal ini juga dapat mengurangi kesan seram pada makam. Tidak akan ada lagi makam dengan bangunan di atasnya. Semua makam dalam area Tanah Kusir akan dibuat seragam dengan menggunakan rumput dengan panjang makam 2 m dan lebar 1 m, serta jarak antar satu makam dengan makam lainnya minimal 0,5 m (Permen PU No. 5 Tahun 2008). Ketinggian makam juga dibuat seragam yaitu 15 cm dan di atas makam diletakkan nisan yang seragam berbentuk persegi dengan bahan marmer.
Jumlah petak makam yang dapat ditampung sebanyak 64.077 petak (Lampiran 6).
b. Papan Informasi
Papan informasi dibuat untuk memudahkan pengguna tapak memperoleh informasi tentang lokasi (Gambar 6.20). Papan informasi diletakkan di tepi jalur sirkulasi, di ruang penerimaan, di ruang pelayanan, serta di area konservasi. Papan informasi berisi informasi tentang lokasi dan peraturan yang terdapat pada TPU Tanah Kusir. Papan informasi mudah dilihat, dibaca dan dimengerti serta menggunakan warna yang kontras dengan latar belakangnya.
c. Pergola
Pergola terbuat dari kayu dan berfungsi sebagai tempat berteduh para pengguna tapak (Gambar 6.21). Pergola juga dapat ditumbuhi dengan tanaman rambat. Pergola diletakkan di beberapa titik sepanjang jalur sirkulasi sekunder.
Bentuk pergola dibuat terbuka agar tidak menghalangi jalan pengguna tapak.
d. Bangku Taman dan Tempat Sampah
Bangku taman diletakkan di tepi jalur sirkulasi, berfungsi sebagai tempat istirahat sejenak para pengguna tapak. Bangku taman yang dibuat harus nyaman, memiliki sandaran belakang dan sandaran tangan, mudah dalam pemeliharaan, tahan lama, serta memiliki bentuk yang sederhana (Gambar 6.19). kapasitas yang
86 dapat ditampung tiap bangku taman adalah 3 orang dengan menggunakan standar ukuran manusia (Harris dan Dines, 1995).
Tempat sampah diletakkan di seluruh area tapak untuk membuat tapak selalu bersih dari sampah yang berserakan. Tempat sampah yang dibuat adalah tempat sampah yang mudah dikenali, mudah dilihat, mudah dijangkau, tahan lama, mudah dalam pemeliharaan, serta dilengkapi penutup (Gambar 6.19).
Penempatan tempat sampah berdekatan dengan bangku taman dan kios pedagang.
Tempat sampah dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan jenis sampahnya, yaitu tempat sampah organik dan tempat sampah anorganik. Ukuran tempat sampah cukup besar agar dapat menampung sampah yang lebih banyak. Volume samapah yang dapat ditampung adalah 87,4 liter.
e. Gerbang dan name sign
Gerbang dibuat di semua pintu masuk jalur utama pada tapak. Bentuk gerbang mengikuti bentuk gerbang eksisting yang telah ada sekarang. Begitu pula name sign, bentuknya mengikuti bentuk eksisting yang telah ada sekarang. Name sign diletakkan di zona penerimaan dengan tampilan yang menarik. Pada malam hari, name sign tersebut dilengkapi penerangan sehingga tetap dapat dilihat.
Jumlah gerbang dan name sign pada tapak adalah 7 unit.
f. Tempat Parkir
Tempat parkir diharapkan dapat menampung bus, mini bus, mobil, sepeda motor, hingga sepeda. Tata letak kendaraan pada tempat parkir adalah tempat parkir dengan sudut 45O (Gambar 6.22). Bahan yang digunakan untuk tempat parkir disamakan dengan bahan untuk jalur utama yaitu berupa aspal. Keuntungan menggunakan aspal adalah tahan lama, pemeliharaan mudah dan murah, serta tahan gesekan.
g. Taman
Taman diharapkan dapat menambah kesan estetika tapak. Taman dibuat pada area penerimaan. Taman harus simpel, mudah dilihat dan dinikmati, memberikan kesan yang menarik, serta tidak menggangu pengguna jalan.
h. Gedung Pengelola
Gedung pengelola merupakan kantor bagi pengelola makam, pusat segala informasi pada tapak. Hal-hal yang berhubungan dengan admisnistrasi
87 pemakaman terdapat pada gedung tersebut. Setiap orang yang ingin membuat makam baru, harus menghubungi pengelola. Pembayaran retribusi makam juga dilakukan pada gedung pengelola. Penempatan gedung pengelola pada area yang mudah diakses.
i. Musholla
Musholla berfungsi untuk tempat ibadah umat Islam. Selain itu, musholla juga dapat digunakan untuk tempat jenazah disembayangkan sebelum dikebumikan. Musholla dilengkapi dengan tempat wudhu dan letaknya berdampingan dengan toilet (Gambar 6.23). Jumlah musholla 5 unit dengan kapasitas 40 orang/unit.
j. Toilet
Toilet diletakkan pada area penerimaan dan pelayanan. Tempat pembuangan toilet (septic tank) diletakkan pada area yang jauh dari area makam agar tidak mencemari makam. Keberadaan toilet tidak jauh dari musholla agar mudah dijangkau oleh pengguna tapak. Jumlah toilet sebanyak 14 unit.
k. Kios
Kios berfungsi menjual berbagai kebutuhan yang dibutuhkan pengguna tapak (Gambar 6.24). Kios dibagi menjadi tiga jenis, yaitu kios bunga, kios papan nisan, serta kios makanan (kantin). Kios diletakkan berdampingan pada area pelayanan dengan maksud mempermudah pengguna tapak untuk menjangkaunya.
Jumlah kios pada tapak sebanyak 40 unit.
l. Pos Jaga
Pos jaga berfungsi sebagai tempat berteduh para penjaga keamanan tapak (Gambar 6.24). Pos jaga ini juga berfungsi untuk mengamati dan memeriksa pengunjung yang keluar masuk tapak. Jumlah pos jaga pada tapak sebanyak 19 unit.
m. Air Mancur
Air mancur dibuat untuk menambah estetika makam serta untuk mengakomodasi burung (Gambar 6.25). Selain dapat digunakan sebagai tempat burung minum, air mancur dan kolam kecil tersebut juga dapat digunakan oleh burung untuk mandi.
88 n. Lampu Penerangan
Lampu penerangan dibuat pada sepanjang area sirkulasi kendaraan dan pejalan kaki, tempat parkir, bangunan, kios, serta blok makam. Lampu penerangan dibuat untuk memberikan keamanan pada pengguna tapak, mengarahkan tujuan, serta memperlihatkan keadaan lanskap pemakaman pada malam hari. Lampu penerangan untuk jalan memiliki ketinggian 8 m, sedangkan lampu taman yang diletakkan pada area makam memiliki ketinggian 2,5 m (Gambar 6.26). Lampu taman dilengkapi dengan tempat makan burung yang berfungsi sebagai penarik burung.
o. Saluran Drainase
Saluran drainase dibuat di sebelah jalur sirkulasi. Jenis saluran drainase yang digunakan adalah drainase tertutup pada area di dalam pemakaman yang terletak di dalam tanah dan saluran drainase terbuka pada sepanjang jalur utama dengan lebar saluran sebesar 25 cm. Saluran drainase berfungsi untuk mengalirkan air agar tidak terjadi penggenangan pada area makam sehingga banjir dapat dihindari.
89
6.19
90
6.20
91
6.21
92
6.22 6.22
93
6.23
94
6.24
95
6.29 6.30 6.25
96
6.26
97 BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN
7.1. Kesimpulan
TPU Tanah Kusir merupakan pemakaman yang sesuai untuk pengembangan RTH ramah satwa burung. Terdapat 24 jenis burung yang ditemui pada tapak. Namun karena adanya proyek Jakarta Emergency Dradging Initiative (JEDI) pada tahun 2012, jenis burung yang terdapat pada tapak berkurang menjadi 17 jenis. Jenis burung yang hilang antara lain, Raja-udang meninting (Alcedo meninting), Kareo padi (Amaurornis phoenicurus), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Gelatik Jawa (Padda oryzivora), Kipasan belang (Rhipidura javanica), Gemak loreng (Turnix suscitator), dan Caladi tilik (Picoides moluccensis). Untuk mengembalikan fungsi habitat burung tersebut, maka dibuatlah perancangan ulang kawasan TPU Tanah Kusir. Konsep yang diangkat adalah pemakaman sebagai koridor ruang terbuka hijau (RTH). Pembagian ruang pada tapak dibagi menjadi zona inti (320,4 m2), zona konservasi (71,2 m2) dan zona pendukung (37,2 m2). Sirkulasi dibagi menjadi tiga jenis yaitu sirkulasi primer (lebar 3,8 m), sirkulasi sekunder (lebar 1,5 m) dan sirkulasi tersier.
Vegetasi yang dikembangkan dikategorikan menjadi empat fungsi yaitu vegetasi dengan fungsi estetika, fungsi konservasi, fungsi pengarah, serta fungsi penyangga. Fasilitas yang mendukung aktivitas juga dikembangkan pada tapak.
7.2. Saran
Diperlukan kajian lebih lanjut tentang keanekaragaman jenis burung setelah proyek pelebaran Kali Pesanggrahan selesai sehingga dapat diketahui jenis vegetasi yang sesuai untuk dikembangkan berdasarkan alternatif jenis vegetasi yang disarankan.
98 DAFTAR PUSTAKA
PERATURAN/ PANDUAN
[BMKG] Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Pondok Betung Ciledug Tangerang. 2012. Data Iklim Jakarta Selatan Januari-Desember 2011. Jakarta: Tidak dipublikasikan.
[Distama] Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. 2011.
Perencanaan Penghijauan Jalur Koridor Burung di Wilayah DKI Jakarta.
Jakarta: Tidak dipublikasikan.
[Distama] Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. 2011. Peta Dasar TPU Tanah Kusir. Jakarta: Tidak dipublikasikan.
[Distama] Dinas Pertamanan dan Pemakaman Provinsi DKI Jakarta. 2011. Peta Penggunaan Lahan TPU Tanah Kusir. Jakarta: Tidak dipublikasikan.
[Perda DKI Jakarta] Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta: [penerbit tidak diketahui].
[Perda DKI Jakarta] Peraturan Daerah No.3 tahun 2007 tentang Pemakaman.
Jakarta: [penerbit tidak diketahui].
[Permen PU] Peraturan Mentri Pekerjaan Umum No.5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanafaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Jakarta: [penerbit tidak diketahui].
[Permendagri] Peraturan Menteri Dalam Negeri No.1 tahun 2007 tentang Penataan RTH Kawasan Perkotaan. Jakarta: [penerbit tidak diketahui].
[PP] Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1987 tentang Penyediaan Penggunaan Tanah untuk Keperluan Tempat Pemakaman. Jakarta: [penerbit tidak diketahui].
[SUDIN Makam] Suku Dinas Pemakaman Jakarta Selatan. Data Pohon Pelindung di TPU Tanah Kusir. 2012. Jakarta: Tidak dipublikasikan.
PUBLIKASI
Bell S. 2004. Elements of Visual Design in the Landscape. New York: Spoon Press.
99
Branch MC. 1985. Perencanaan Kota Komprehensif: Pengantar dan Penjelasan (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Gold SM. 1980. Recreation Planning and Design. New York: McGraw-Hill Book Co.
Hakim R. 2003. Arsitektur Lanskap. Manusia Alam dan Lingkungan. Jakarta:
Universitas Trisakti.
Hakim R, Utomo A. 2003. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap, Prinsip – Unsur dan Aplikasi Disain. Jakarta: Bumi Aksara.
Harris CW, Dines NT. 1995. Time-Saver Standars for Landscape Architecture.
Singapore: Mc-Graw Hill Inc.
Herwono JB, Prasetyo LB. 1989. Konsepsi Ruang Terbuka Hijau di Kota sebagai Pendukung Pelestarian Burung. Jakarta: Media konservasi.
Laurie M. 1986. Pengantar kepada Arsitektur Pertamanan (terjemahan).
Bandung: Intermedia.
Lynch K. 1981. Site Planning. London: The MIT Press Cambridge.
Mackinnon J. 1995. Panduan Lapangan Pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Mackinnon J. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan.
Bogor: Burung Indonesia.
Molnar DJ, Rutledge AJ. 1992. Anatomy of Park: The Essentials of Recreation Area Planning and Design. Illinois: Waveland Press, Inc.
Mulyawati D, Amama F. 2010. Kajian Cepat Keragaman Burung di Taman Kota Bogor. Bogor: Burung Indonesia
Odum EP. 1993. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Yogyakarta: University Gadjah Mada Press.
Reid GW. 1993. From Concept to Form In Landscape. New York: Van Nostrand Reid.
Simonds JO. 1983. Landscape Architechture. New York: McGraw Hill Book Company.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Tabel Jenis, Karakter, Makanan, Perkembangbiakan, Habitat, Kebiasaan, Penyebaran, serta Status Burung
No. Nama Burung Karakter Makanan Perkembangbiakan Habitat Kebiasaan Penyebaran Status
1 Cipoh kacat (Aegithina tiphia)
Tubuh berukuran kecil (14 cm).
Berwarna hijau dan kuning dengan dua garis putih mencolok pada sayap. Tubuh bagian atas hijau zaitun. Sayap kehitaman. Sisi bulu sayap putih. Lingkar mata kuning.
Tubuh bagian bawah kuning. Ras masing-masing pulau bervariasi warna hijaunya. Iris putih keabu-abuan, paruh hitam kebiruan, kaki hitam kebiruan.
Tubuh ukuran kecil (15 cm).
Punggung biru terang/metalik.
Tubuh bagian bawah merah-jingga terang. Penutup telinga biru mencolok. Iris coklat, paruh kehitaman, kaki merah.
Ikan kecil, serangga dari satu tenggeran ke tenggeran yang lain. paruh kehijauan dengan pangkal merah, kaki kuning. dalam semak. Keluar ke tempat terbuka untuk
102
4 Burung-madu kelapa (Anthreptes malacensis)
Tubuh berukuran sedang (13 cm).
berwarna-warni. Jantan: mahkota dan punggung hijau bersinar, tunggir, penutup sayap, ekor, dan setrip kumis ungu bersinar, pipi, dagu, dan tenggorokan coklat tua buram, bagian lain pada tubuh bagian bawah kuning. Betina:
tubuh bagian atas hijau-zaitun, tubuh bagian bawah kuning muda.
Iris merah, aruh hitam, kaki hitam abu-abu. yang dikenal baik di pekarangan terbuka, madu lain dari pohon sumber makanan yang
Tubuh berukuran kecil (21 cm).
Dewasa: Kepala abu-abu.
Punggung coklat. Perut dan ekor merah sawo matang. Muda: Tubuh bagian atas coklat bergaris-garis hitam. Tubuh bagian bawah keputih-putihan dengan garis-garis halus. Iris merah padam, paruh atas kehitaman, paruh bawah kuning, kaki kuning. kebiru-biruan, jumlah 1 butir.
Berbiak bulan ini sukar diihat. Pada musim kemarau hampir
103
6 Walet sapi (Collocalia esculenta)
Tubuh berukuran kecil (9 cm).
Berwarna hitam-biru mengilap.
Ekor sedikit bertakik, dagu abu-abu, perut putih mencolok.
Merupakan wallet yang paling kecil dan paling umum di seluruh Sunda Besar dan Nusa Tenggara.
Iris coklat, paruh dan kaki hitam.
Serangga-serangga kecil yang sedang terbang.
Sarangnya berbentuk cawan tida teratur dari lumut, rumput, dan tumbuhan lainnya, direkatkan dengan air liurnya dan dibuat di berwarna putih, serta bersarang sepanjang burung walet kecil yang terbang bersama-sama namun tidak beraturan.
Kadang terbang rendah di atas permukaan tanah atau permukaan air untuk mandi dan minum. Sering terbang berputar dalam lingkaran sempit mengelilingi atau melewati mahkota pohon-pohon besar yang sedang berbunga untuk mencari tawon
Tubuh berukuran sangat kecil (8 cm). Jantan: Kepala, punggung, tunggir, dada merah padam atau agak kejinggaan. Sayap dan ujung ekor hitam. Perut putih keabu-abuan. Ada bercak putih pada lengkung sayap. Betina: Tunggir merah. Tubuh bagian atas lainnya coklat, tersapu merah pada kepala dan mantel. Tubuh bagian bawah putih buram. Muda: Tubuh bagian atas coklat kehijauan. Bercak jingga pada tunggir. Iris coklat, paruh hitam, kaki hitam.
Buah benalu, biji, 2 butir. Berbiak bulan Januari-Oktober,
104
8 Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris)
Tubuh berukuran sedang (25 cm).
Dewasa: Kepala coklat tua.
Tenggorokan dan kerah coklat.
Perut dan punggung biru ungu.
Penutup sayap hitam. Bulu terbang biru terang. Bercak putih sayap saat terbang. Remaja: Tenggorokan keputih-putihan. Iris coklat tua, paruh merah, kaki merah.
Serangga dan binatang kecil lainnya termasuk larva kumbang air.
Sarang berupa saluran atau pada tonggak di daerah berumput atas air. Lebih banyak diam daripada Cekakak sungai, tapi suara sering terdengar.
Tubuh berukuran kecil (14 cm).
Berwarna kuning tua, merah, biru.
Tubuh bagian atas berwarna biru baja. dahi coklat berangan.
Perbedaan dengan Layang-layang api: bagian bawah putih kotor, ekor kurang memanjang dan tanpa pita panjang, tanpa garis biru baja pada dada, ukuran sedikit lebih kecil. Iris coklat, paruh hitam, kaki coklat.
Serangga yang 2-4 butir. Berbiak bulan Desember-Agustus.
105
10 Bondol Jawa (Lonchura leucogastroid es)
Tubuh berukuran agak kecil (11 cm). Berwarna hitam, coklat, dan putih. Tubuh agak bulat. Tubuh bagian atas coklat tanpa coretan.
Muka dan dada atas hitam. Sisi perut dan tubuh putih. Ekor bawah coklat tua. Iris coklat, paruh atas gelap, paruh bawah biru, kaki keabu-abuan. dan bahan lain, pada pohon cukup tinggi. besar saat musim panen padi, tapi biasanya berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Mencari makan di atas tanah atau memetik biji bulir rerumputan.
Menghabiskan banyak waktu dengan bersuara gaduh dan menelisik di pepohon besar.
Tubuh berukuran agak kecil (11 cm). Tubuh bagian atas coklat, bercoretan, dengan tangkai bulu putih. Tenggorokan coklat kemerahan. Tubuh bagian bawah putih. Bersisik coklat pada dada dan sisi tubuh. Remaja: Tubuh bagian bawah kuning tua tanpa sisik. Iris coklat, paruh abu-abu kebiruan, kaki hitam abu-abu.
Biji-bijian rumput. Sarang berbentuk botol khas, dari rumput, pada semak, pohon kecil, palem, di ketinggian.Telur
106
Tubuh berukuran kecil (10 cm).
Jantan: Tubuh bagian bawah kuning terang. Dagu dan dada hitam-ungu metalik. Punggung hijau zaitun. Betina: Tubuh bagian bawah kuning. Tanpa warna hitam pada dagu dan dada. Alis biasanya kuning muda. Iris coklat tua, paruh hitam, kaki hitam. putih, jumlah 2 butir.
Berbiak sepanjang satu pohon atau semak ke yang lain. Jantan kadang berkejaran
Tubuh berukuran kecil (11 cm).
Jantan: Mahkota, dagu,
tenggorokan, dan pipi merah karat.
Bulu lain abu-abu. Perut putih.
Betina: Kepala tidak semerah jantan. Pipi dan kerongkongan atas putih. Iris coklat kemerahan, paruh coklat, kaki merah jambu.
Laba-laba, ulat serta serangga kecil.
Sarang berupa kantung yang dijahit dari daun besar atau beberapa lembar daun kecil, direkatkan dengan jaring laba-laba. Sarang terbuat dari akar halus, biji kapuk, dihiasi
Aktif di lantai hutan dan puncak pohon.
107
14 Cinenen pisang (Orthotomus sutorius)
Tubuh berukuran kecil (10 cm).
Dahi dan mahkota merah karat.
Perut putih. Ekor panjang dan sering ditegakkan. Alis kekuningtuaan. Kekang dan sisi kepala keputihan. Tengkuk
Perut putih. Ekor panjang dan sering ditegakkan. Alis kekuningtuaan. Kekang dan sisi kepala keputihan. Tengkuk