REKAPITULASI PENGADAAN ALUT SISTA SUMBER ANGGARAN KREDIT EKSPORT
14. Renstra dan MEF. Pembangunan kekuatan TNI AD sesuai Minimum Essential Force adalah pembangunan satu
tingkat di bawah kekuatan ideal, agar mampu untuk melaksanakan tugas pokok TNI AD dengan optimal serta mampu mengatasi ancaman dan kontinjensi yang timbul di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya di wilayah daratan (bila anggaran negara memenuhi sesuai dengan kebutuhan TNI AD yang telah direncanakan).
a. Personel. Perbandingan personel dalam dokumen postur Hanneg antara satuan operasional dengan satuan pendukung adalah 60% : 40%, saat ini telah memenuhi Minimum Essential Force, namun dengan adanya pemisahan personel dan rencana pengembangan satuan maka masih diperlukan penataan kembali personel secara bertahap dengan tetap mempertahankan kuantitas personel (80%). Rencana pengembangan organisasi kedepan menjadi salah satu pertimbangan dalam aspek perekrutan, pembinaan maupun pengembangan personel. Konsep pengembangan personel juga dapat mengacu pada konsep rencana pengembangan organisasi kedepan yang tertuang dalam Renstra maupun MEF antara lain :
Kajian Triwulan IV
1) Kostrad. Dari kondisi awal tahun 2010 akan dikembangkan pembangunan satuan dengan penambahan:
Membentuk 1 Divisi Linud, 1 Divif, 3 Brigif, 1 Brigif Raider, 2 Brigif Mekanis, 6 Yonif Mekanis, 3 Yonif Raider, 6 Yonif, 1 Yonzipur, 1 Yonarmed, 2 Yonarhanud, 1 Yonbekang,1 Yonkes, 1 Satajen, 1 Denpal, 1 Kipom dan 1 Denhub, validasi Brigif-9 menjadi Brigif Mekanis, Yonif 509, Yonif 413 dan Yonif 515 menjadi Yonif Mekanis, Yonarmed 10 menjadi Yonarmed 10 Roket, Yonarmed-12/105/Tarik menjadi Yonarmed 12 Roket, Yonarmed 8/76 menjadi Yonarmed 8/105, Yonarmed 9/76 menjadi Yonarmed 9/105, Yonarmed 11/76 menjadi Yonarmed 11/105, Yonarhanudri-1 dan Yonarhanudri-2 menjadi Yonarhanud Rudal serta rematerialisasi Yonkav 1, Yonkav 8, Kikavtai 1 dan Kikavtai 2.
2) Kodiklat TNI AD. Dipertahankan seperti kondisi saat ini, perubahan organisasi lebih dititikberatkan pada evaluasi validasi organisasi yang telah ada dan rematerialisasi Pusdikkav dan Kikavdenyanlat Puslatpur.
3) Kopassus. Pada dasarnya organisasi Kopassus dipertahankan seperti kondisi saat ini, perubahan organisasi lebih dititikberatkan pada evaluasi validasi organisasi yang telah ada dan melengkapi Alutsista yang dibutuhkan serta memiliki kemampuan mobilitas yang tinggi yang digerakkan melalui angkutan darat dan udara.
4) Kodam. Berdasarkan pada perkiraan ancaman dan kontinjensi serta kecenderungan di masa depan, maka dipandang perlu adanya penambahan 3 Kodam di Kalimantan, Sulawesi dan Papua Bagian Barat, untuk mengoptimalkan Kodam sebagai kompartemen strategis
maka setiap Kodam memiliki 1 Brigade Infanteri, 1 Batalyon Infanteri Raiders dan 1 Yonif Linud/BS sebagai pemukul Kodam serta 1 Batalyon Satbanpur dan 1 Batalyon Satbanmin yang dilengkapi dengan satuan Penerbad untuk mendukung mobilitas, dari kondisi awal tahun 2010 mulai dikembangkan pembangunan satuan dengan penambahan sebagai berikut :
a) Kodam I/BB. Membentuk 1 Brigif, 1 Yonif Mekanis dan 2 Yonif, validasi Yonif 122 menjadi Yonif Mekanis, Yonarmed 2 menjadi Yonarmed 2 Roket, Yonarhanudse 11 dan Yonarhanudse 13 menjadi Yon Rudal serta rematerialisasi Den Rudal 004, Kikavser, Yonkav 5 dan Yonkav 6.
b) Kodam II/Swj. Membentuk 1 Korem, 3 Kodim dan 9 Koramil, validasi Yonarmed 15/76 menjadi Yonarmed 15/105, pengembangan Raiarhanud 41/BS menjadi Yonarhanud serta rematerialisasi Yonarmed 5/105.
c) Kodam III/Slw. Membentuk 1 Kodim, 1 Brigif Mekanis dan 3 Yonif Mekanis, validasi Yonarhanudri-3 dan Yonarhanudse -14 menjadi Yon Rudal serta rematerialisasi Yonkav 4, Yonarmed 4/105, Yonarmed 5/105 dan Kikavser 4.
d) Kodam IV/Dip. Membentuk 1 Koramil, 1 Brigif Mekanis dan 3 Yonif Mekanis, validasi Yonarhanudse 15 menjadi Yon Rudal, retroviting Yonkav 2 serta rematerialisasi Kikavser 2.
e) Kodam V/Brw. Membentuk 17 Koramil, 1 Brigif Mekanis dan 5 Yonif, validasi Brigif 16 menjadi Brigif Mekanis, Yonif 512, Yonif 516 dan Yonif 521 menjadi Yonif Mekanis, Yonarmed 1/105 menjadi Yonarmed 1/155 dan Yonarhanudse 8 menjadi Yon Rudal serta rematerialisasi Yonkav 3 dan Kikavser 3.
Kajian Triwulan IV
f) Kodam VI/Mlw. Likuidasi Kodam VI/Tpr menjadi Kodam VI/Mlw dan membentuk 1 Kodam XII/Tpr, 1 Koramil dan 1 Yonif Mekanis, pengembangan Denkav-1 menjadi Yonkav, validasi Yonarmed 18/105 menjadi Yonarmed 18/Komposit serta rematerialisasi Den Rudal 002.
g) Kodam VII/Wrb. Likuidasi Kodam VII/Wrb menjadi Kodam VII/Wrb dan Kodam Sulut, mem-bentuk 2 Korem, 1 Kodim, 1 Deninteldam, 15 Balakdam, 1 Rindam, 1 Brigif, 1 Yonif dan 2 Yonif Mekanis, validasi Yonarmed-6/76 menjadi Yonarmed-6/Komposit, melanjutkan pembangunan Yonarhanudse-16/Maleo serta rematerialisasi Yonkav 10 dan Kikavser.
h) Kodam IX/Udy. Membentuk 1 Kodim, 16 Koramil, 2 Yonif dan 1 Yonif Mekanis serta rematerialisasi Kikavser.
i) Kodam XII/Tpr. Membentuk 5 Koramil, 15 Balakdam, 1 Deninteldam, 3 Yonif dan 1 Denarhanud Rudal, pengembangan Denkav-2 menjadi Yonkav dan Secata-B menjadi Rindam serta validasi Yonarmed 16/105 menjadi Yonarmed 16/Komposit.
j) Kodam XVI/Ptm. Membentuk 4 Koramil, 1 Brigif, 1 Yonif dan 1 Yonif Mekanis serta rematerialisasi Denkav 5.
k) Kodam XVII/Cen. Likuidasi Kodam XVII/Cen menjadi Kodam XVII/Cen dan Kodam Papua Barat, membentuk 1 Kodim, 10 Koramil, 15 Balakdam, 1 Deninteldam, 1 Rindam, 1 Yonif Mekanis dan 1 Yonarhanud, validasi Yonif 751 menjadi Yonif 751 Raider serta rematerialisasi Denkav 3.
l) Kodam Jaya. Validasi Brigif 1 menjadi Brigif 1 Mekanis, Yonif 202 dan Yonif 203 menjadi Yonif Mekanis, Yonarhanudse 10 dan Yonarhanud 6 menjadi Yon Rudal serta rematerialisasi Yonkav 7, Yonkav 9 dan Denarhanud Rudal 003.
m) Kodam IM. Membentuk 1 Kodim, 61 Koramil, 2 Brigif dan 1 Yonif, validasi Kodim Banda Aceh menjadi Kodim BS dan Yonif 112 menjadi Yonif 112 Raider serta rematerialisasi Yonkav 11, Yonarmed 17/105 dan Denarhanud 001.
n) Balakpus. Dari kondisi awal tahun 2010 mulai dikembangkan pembangunan satuan dengan penam-bahan: 1 Dinas Pengadaan, membentuk Kopusbanops yang membawahi Resimen Penerbad, Resimen Bekang dan Resimen Kesehatan. Satuan Penerbad dalam pengembangannya untuk mendukung Kodam sebagai kompartemen strategis maka dibentuk tiap Kodam 1 Skadron Penerbad yang terdiri dari 13 Skadron Penerbad.
b. Materiil/Alutsista. Dihadapkan dengan kondisi kemam-puan dukungan anggaran negara yang sangat terbatas, maka untuk membangun Alutsista jajaran TNI AD dilaksanakan melalui 2 pendekatan, yaitu rematerialisasi terhadap Alutsista yang ada saat ini dan pengadaan baru untuk memenuhi kebutuhan yang sangat mendesak.
Data kondisi kekuatan kemampuan dan gelar satuan yang ada saat ini terdapat beberapa kekurangan yang harus disempurnakan guna menghadapi setiap ancaman dan kontijensi yang timbul di wilayah NKRI. Dibentuknya satuan baru sesuai dengan pentahapan yang ada pada Renstra serta pemenuhan terhadap kebutuhan Alutsista, pangkalan dan alat
Kajian Triwulan IV
pendukung lainnya maka akan diperoleh gambaran secara nyata kondisi kekuatan TNI AD menuju standar Minimum Essential Force (mampu operasional dan memiliki daya tangkal), dihadapkan dengan asumsi, skenario serta pelibatan TNI dalam tugas-tugas Internasional dan kontinjensi yang paling mungkin baik dalam melaksanakan OMP maupun OMSP. Prioritas pemenuhan kebutuhan materiil dilaksanakan melalui beberapa tahap dengan rincian sebagai berikut :
1) Tahun 2010 s.d. 2014. Rincian untuk rematerialisasi terhadap Alutsista yang ada saat ini dan pengadaan baru untuk kebutuhan yang sangat mendesak dengan rincian sebagai berikut :
a) Senjata berjumlah 41.869 pucuk terdiri dari senjata ringan 41.862 pucuk dan senjata berat 7 paket.
b) Ranpur berjumlah 510 unit terdiri dari Panser Yonif Mekanis 120 unit dan Ranpur Kavaleri 390 unit.
c) Rantis/Ranmin/Ransus berjumlah 7.955 unit.
d) Alangair dan Perbekud berjumlah 5.185 unit.
e) Bekal berjumlah 589.079 unit.
f) Pesawat Udara berjumlah 200 unit.
g) Materiil Zeni berjumlah 17.519 unit.
h) Alat Perhubungan berjumlah 25.419 unit.
i) Materiil Khusus Intelijen berjumlah 4.416 unit.
j) Munisi berjumlah 659.526.712 butir yang terdiri dari :
(1) Munisi Kaliber Kecil 656.725.026 butir.
(2) Munisi Kaliber Besar 709.613 butir.
(3) Munisi Khusus 2.005.124 butir.
(4) Munisi Khusus Sabang 86.949 butir.
k) Optik berjumlah 10.197 unit.
l) Alat Topografi berjumlah 4.255 unit.
m) Materiil Kopassus berjumlah 8.704.492 unit.
n) Alat Kesehatan berjumlah 7.445 unit.
2) Tahun 2015 s.d. 2019. Rincian untuk rematerialisasi terhadap Alutsista yang ada saat ini dan pengadaan baru untuk kebutuhan yang sangat mendesak dengan rincian sebagai berikut :
a) Senjata berjumlah 32.558 pucuk terdiri dari Senjata Ringan 32.550 pucuk dan Senjata Berat 8 paket.
b) Ranpur berjumlah 371 unit terdiri dari Panser Yonif Mekanis 110 unit dan Ranpur Kavaleri 261 unit.
c) Rantis/Ranmin/Ransus berjumlah 3.573 unit.
d) Alangair dan Perbekud berjumlah 3.436 unit.
e) Bekal berjumlah 481.829 unit.
f) Pesawat Udara berjumlah 196 unit.
g) Materiil Zeni berjumlah 10.458 unit.
h) Alat Perhubungan berjumlah 19.841 unit.
i) Materiil Khusus Intelijen berjumlah 4.831 unit.
j) Munisi berjumlah 361.508.431 butir yang terdiri dari Munisi Kaliber Kecil 359.310.926 butir, Munisi Kaliber Besar 488.508 butir, Munisi Khusus 1.632.916 butir dan Munisi Khusus Sabang 76.081 butir.
k) Optik berjumlah 752 unit.
l) Alat Topografi berjumlah 3.212 unit.
m) Materiil Kopassus berjumlah 6.184.278 unit.
n) Alat Kesehatan berjumlah 7.953 unit.
Kajian Triwulan IV
3) Tahun 2020 s.d. 2024. Rincian untuk rematerialisasi terhadap Alutsista yang ada saat ini dan pengadaan baru untuk kebutuhan yang sangat mendesak dengan rincian sebagai berikut :
a) Senjata berjumlah 39.005 pucuk terdiri dari Senjata Ringan 38.995 pucuk dan Senjata Berat 10 paket.
b) Ranpur berjumlah 410 unit terdiri dari Panser Yonif Mekanis 129 unit dan Ranpur Kavaleri 281 unit.
c) Rantis/Ranmin/Ransus berjumlah 5.159 unit.
d) Alangair dan Perbekud berjumlah 6.808 unit.
e) Bekal berjumlah 1.066.790 unit.
f) Pesawat Udara berjumlah 177 unit.
g) Materiil Zeni berjumlah 10.559 unit.
h) Alat Perhubungan berjumlah 27.288 unit.
i) Materiil Khusus Intelijen berjumlah 6.786 unit.
j) Munisi berjumlah 371.897.883 butir yang terdiri dari Munisi Kaliber Kecil 369.919.486 butir, Munisi Kaliber Besar 549.281 butir, Munisi Khusus 1.374.770 butir, Munisi Khusus Sabang 54.346 butir.
k) Optik berjumlah 3.397 unit.
l) Alat Topografi berjumlah 7.262 unit.
m) Materiil Kopassus berjumlah 5.167.592 unit.
n) Alat Kesehatan berjumlah 12.449 unit.
4) Tahun 2025 s.d. 2029. Rincian untuk rematerialisasi terhadap Alutsista yang ada saat ini dan pengadaan baru untuk kebutuhan yang sangat mendesak dengan rincian sebagai berikut :
a) Senjata berjumlah 41.954 pucuk terdiri dari Senjata Ringan 41.941 pucuk dan Senjata Berat 13 paket.
b) Ranpur berjumlah 446 unit terdiri dari Panser Yonif Mekanis 122 unit dan Ranpur Kavaleri 324 unit.
c) Rantis/Ranmin/ Ransus berjumlah 8.319 unit.
d) Alangair dan Perbekud berjumlah 7.467 unit.
e) Bekal berjumlah 1.359.890 unit.
f) Pesawat Udara berjumlah 232 unit.
g) Materiil Zeni berjumlah 9.542 unit.
h) Alat Perhubungan berjumlah 57.394 unit.
i) Materiil Khusus Intelijen berjumlah 7.167 unit.
j) Munisi berjumlah 9.731.146 butir yang terdiri dari Munisi Kaliber Kecil 9.588.888 butir dan Munisi Kaliber Besar 142.258 butir.
k) Optik berjumlah 3.342 unit.
l) Alat Topografi berjumlah 2.228 unit.
m) Materiil Kopassus berjumlah 6.189.725 unit.
n) Alat Kesehatan berjumlah 9.079 unit.
c. Piranti Lunak.
1) Piranti lunak Alutsista. Langkah nyata yang dapat dilakukan dalam mewujudkan postur TNI AD yang siap dan mampu menjawab tantangan tugas sehubungan dengan pengembangan Alutsista antara lain :
a) Pembenahan doktrin sebagai implementasi dari tugas pokok TNI AD baik dalam rangka OMP (Operasi Militer untuk Perang) maupun OMSP (Operasi Militer Selain Perang). Upaya yang dapat dilakukan adalah
Kajian Triwulan IV
membuat kajian-kajian secara komprehensif yang dapat dipakai sebagai acuan dalam pengembangan TNI AD kedepan.
b) Revisi piranti lunak TNI AD, meliputi Bujuk Induk, Bujuk Administrasi, Bujuk Operasi serta Bujuk-Bujuk lainnya. Revisi perlu dan penting agar dalam pelaksanaan tugas Satuan Operasional mempunyai pegangan yang jelas dan mudah.
c) Penyempurnaan organisasi. Penyempurnaan organisasi baik tingkat Pusat maupun Kotama perlu terus dilakukan, disesuaikan dengan tugas pokok, tantangan tugas serta kondisi wilayah.
d) Peran Lemdik. Pendidikan merupakan satu pilar penting dalam membentuk prajurit yang profesional disamping pembinaan satuan. upaya-upaya pembenahan yang dapat dilakukan antara lain penyempurnaan kurikulum, metode pengajaran, bahan ajaran, dan paket instruksi, peningkatan kualitas Gadik maupun pelatih serta prasarana pendukung pendidikan lainnya.
e) Penyiapan Infrastruktur. Penyiapan Infrastruktur merupakan hal yang sangat penting, hal tersebut akan sangat terkait dengan masalah moril khususnya dihadapkan dengan rencana pengembangan satuan baru maupun kesiapan menerima Alutsista baru.
2) Piranti lunak taktik dan strategi.
a) Pengembangan taktik dan teknik bertempur.
Perubahan karakteristik bentuk ancaman yang semakin dinamis, kompleks, multidimensional dan sulit diprediksi serta perkembangan modernisasi Alutsista
menuntut adanya sinergisitas dari multi kecabangan sebagai respon terhadap berbagai bentuk ancaman yang ada. Perspektif perkembangan taktik dan teknik menyesuaikan dengan perkembangan teknologi Alutsista yang ada sehingga tipologi satuan mampu mencerminkan dan menjawab kondisi tantangan keadaan geografis yang ada. Disisi lain perkembangan modernisasi Alutsista juga harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang ada dan pada pada akhirnya diharapkan perkembangan taktik dan teknik bertempur dapat mencerminkan sinergisitas dan keterpaduan antar kecabangan.
Pengembangan taktik dan teknik bertempur diarahkan kepada taktik dan teknik tempur di daerah perkotaan, taktik dan teknik tempur di daerah hutan dan gunung, taktik dan teknik tempur di daerah kepulauan.
b) Pola taktik dan teknik bertempur. Dengan memahami kondisi riil geografis di Indonesia serta memahami kemungkinan bentuk ancaman yang ada maka akan didapatkan pola taktik dan teknik bertempur yang dapat meningkatkan sinergisitas antar kecabangan sehingga dapat diperoleh keterpaduan :
(1) Terpadu dalam doktrin & strategi yaitu adanya keterpaduan buku-buku petunjuk taktik dan teknik bertempur.
(2) Terpadu dalam perencanaan yaitu terpadunya perencanaan berbagai hal terkait dengan tugas, peran dan fungsi serta perkembangan modernisasi Alutsista.
(3) Terpadu dalam operasi yaitu terpadunya kegiatan-kegiatan operasi militer.
Kajian Triwulan IV
(4) Terpadu dalam pendidikan dan latihan yaitu meningkatnya kualitas sumber daya manusia yang tidak hanya mengedepankan kecabangan tapi siklus latihan kedepan lebih mengutamakan latihan antar kecabangan