HASIL DAN PEMBAHASAN
4.5. Representasi Keseluruhan Iklan Kondom Sutra di Televisi
Iklan Kondom Sutra Versi Julia Perez merupakan salah satu versi dari beberapa versi Iklan Kondom Sutra yang telah beredar di masyarakat. Namun bedanya, dengan cara penyampaian informasi atau pesan melalui tanda-tanda yang ada pada keseluruhan gambar iklan, menjadikan iklan tersebut menarik untuk diteliti. Penelitian tersebut dilakukan berdasarkan teori tentang tanda milik Charles Senders Peirce yang membagi tanda menjadi tiga kategori, yaitu ikon, indeks, dan simbol.
Menurut pandangan peneliti, pemilihan karakter ikon yang ada pada Iklan Kondom Sutra di Televisi adalah Julia Perez yaitu akrtis yang tahu bagaimana menjual sensualitas tubuhnya. Seluruh aktivitasnya, gerak tubuh, lirikan mata, busana, sampai duduk, tak pernah lepas dari pembentukan imaji tentang tubuh yang ideal dan nikmat
Dan pada iklan tersebut yang merupakan indeks adalah segala bentuk tulisan yang ada pada gambar iklan. Kata-kata pertama adalah “ayo goyang.... Sebuah kalimat yang memiliki makna yang seksi dan menggoda. Pemilihan atau penggunaan kata yang jika dikaitkan dengan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) pada kalimat tersebut dapat dikatakan kurang tepat karena kalimat tersebut tidak menggunakan ejaan bahasa Indonesia yang benar, kata-kata yang digunakan tidak terdapat dalam kamus bahasa Indonesia, namun jika kalimat tersebut dibaca dengan intonasi yang tepat, kalimat tersebut lebih cenderung pada kalimat yang diucapkan sehari-hari.
Pemilihan kata oleh pembuat iklan tersebut mungkin juga dapat disebabkan karena penyesuaian segmen iklan karena iklan tersebut beredar melalui sebuah majalah remaja nasional sehingga penggunaan bahasanya disesuaikan dengan bahasa anak remaja sehari-hari agar kalimat-kalimat tersebut mudah dipahami dan dimengerti. Yang juga termasuk dalam kategori indeks pada iklan tersebut adalah gambar background atau latar belakangnya. Pada Iklan Kondom Sutra menggunakan latar belakang panggung yang dipenuhi penonton, yang seakan-akan haus seakan-akan goyangan dan liukan tubuh seksi Julia Perez, hal ini semakin menegaskan bahwa iklan ini mengandung sensualitas.
Baju warna merah, bibir merah, anting dan microphone merupakan simbol dari Iklan Kondom Sutra di Televisi. Semua simbol ini semakin mempertagas makna dari iklan tersebut. Sebagai iklan yang menonjolkan sisi sensualitas.
Televisi, merupakan sebuah realitas dalam bentuk simbolik. Segala yang ditampilkan dalam televisi diwujudkan dalam simbol-simbol tertentu dimana simbol-simbol itu harus dimaknai agar dapat menangkap makna dari apa yang ditampilkan oleh televisi. Disinilah permasalahannya, dalam menafsirkan simbol-simbol yang ada dalam televisi masyarakat seringkali hanya melihat dalam kerangka tekstual semata. TV telah mentransformasikan barang-barang real menjadi symbol yang terikat pada sistem pemaknaan tertentu (Abdullah, 2006: 56). Televisi, sebagai bagian dari media massa mempunyai “pekerjaan” untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi atau dengan kata lain mengkonstruksikan realitas yang akan disiarkan. Proses pengkonstruksian ini pada dasarnya adalah penyusunan realitas-realitas yang membentuk sebuah cerita yang bermakna. Dan dalam proses pengkonstruksian ini bahasa memegang peranan yang penting. Televisi, memegang peranan penting dalam bergesernya makna akan siaran-siaran yang mereka tayangkan. Atas nama globalisasi dan kapitalisme, terjadi reproduksi makna dari televisi. Simbol-simbol yang muncul dalam televisi mengalami reproduksi dalam bentuk estetisasi dimana sentuhan nilai seni menjadi kekuatan dalam berbagai iklan (produk), maupun acara televisi. Dengan demikian, televisi ini telah berperan sebagai tangan kapitalis dalam proses penyebaran berbagai produk yang dihasilkan dan dalam pengkonstruksian pola pikir masyarakat dalam memandang sebuah acara maupun iklan televisi.
Dalam produk media, perempuan dicitrakan untuk menjadi pihak yang kalah atau selalu harus melayani dan memenuhi kebutuhan laki -laki dalam relasinya. Laki-laki dicitrakan memiliki kontrol terhadap kaum perempuan. Perempuan,
hanya menjadi objek-objek pasif dari hasrat-hasrat seksual dan erotis laki -laki. Seksualitas yang dominant pada laki -laki ini merupakan cerminan dari ideologi palosentris. Phailo atau Phallus yang berarti penis dipandang sebagai simbol kekuasaan dan dipercayai bahwa atribut-atribut maskulinitas merupakan norma bagi rumusan-rumusan kultural. Pallocentrisme yang merupakan sumber dari penindasan perempuan adalah dasar dari patriarkat yang mewarnai tatanan politik, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat.
Disamping itu kelemahan dari penayangan iklan SUTRA ini mengajarkan masyarakat tentang beberapa hal yang meresahkan dan merugikan konsumen sebagai pemakai kondom, diantaranya :
1. Memperbesar Seks Bebas
Kondom bukan jalan keluar yang menuntaskan, malah memperbesar terlibat seks bebas. Soalnya, kondom tidak sekadar disosialisasikan kepada pelanggan PSK, tetapi kepada para pelajar dan masyarakat umum. Kecenderungan orang bermain seks dengan memakai kondom, membuat mereka leluasa melakukan seks bebas yang memicu bahaya HIV/AIDS. Tak seratus persen pemakaian kondom aman. Masyarakat yang tak ingin terjangkit penyakit yang mematikan ini, caranya menjauhkan diri dari penyebab penularan HIV/AIDS.
2. Banyak yang Kumpul Kebo
Pemakaian kondom banyak disalahgunakan. Lembaga perkawinan memberi isyarat kapan seseorang boleh melakukan hubungan seksual
yakni saat sudah menikah. Seseorang akan mampu mengendalikan diri jika mendalami ajaran agama. Kenyataannya, generasi muda banyak yang kumpul kebo. Tersedianya “jajanan” di luar dapat merangsang orang untuk melakukan seks bebas meski awalnya sekadar coba-coba. Inilah peluang penyebaran penyakit ini.
Penyebaran kondom haruslah pada tempatnya, dimana kondom merupakan salah satu alat kontrasepsi bagi orang yang sudah berumah tangga dan tidak diperkenankan untuk yang belum berumah tangga apalagi pada kaum remaja yang notabene adalah masa dimana tingkat keingintahuan dan mencoba sangat tinggi. Sehingga dari situ akan muncul banyaknya pergaulan bebas. Sehingga seks bebas bukan dengan ada tidak kondom semata tetapi terutama kepribadian dan komitmen tiap pasangan
BAB V