• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4 Residu Makrolida dalam Susu

Pada penelitian ini, susu segar yang diambil secara acak pada beberapa kabupaten di wilayah Jawa Barat diuji terhadap residu makrolida. Hasil pengujian residu makrolida dari 25 sampel susu segar disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7 Hasil uji residu makrolida

No. Asal sampel

Hasil pengujian residu makrolida

Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3 Sampel 4 Sampel 5 1 Bandung negatif negatif negatif negatif negatif 2 Bogor negatif negatif negatif negatif negatif 3 Cianjur negatif negatif negatif negatif negatif 4 Sumedang negatif negatif negatif negatif negatif 5 Tasikmalaya negatif negatif negatif negatif negatif

Tidak ditemukan adanya residu aminoglikosida dari 25 sampel susu segar di wilayah Jawa Barat (Bandung, Sumedang, Bogor, Cianjur, dan Tasikmalaya) pada penelitian dengan menggunakan uji bioassay. Hal ini ditunjukkan dengan tidak terbentuknya hambatan pertumbuhan bakteri Kocuria rizophila pada media agar yang digunakan pada metode ini untuk golongan makrolida. Limit deteksi

bioassay terhadap golongan makrolida adalah 0.1 ppm sedangkan batas

maksimum residu makrolida adalah 0.1 ppm. Limit deteksi ini masih setara dengan batas maksimum residu makrolida yang diperbolehkan di Indonesia. Hal ini menunjukkan metode bioassay dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan residu antibiotika golongan makrolida pada susu segar.

Makrolida merupakan golongan antibiotika yang efektif melawan hampir semua bakteri gram positif. Jenis antibiotika yang termasuk dalam golongan ini adalah eritromisin, tilmikosin, tylosin, dan spiramisin. Eritromisin merupakan obat pilihan untuk pneumonia akibat mikoplasma (Mutschler 1991).

Menurut Mamani (2009), metode uji tapis (screening test) ini hanya dapat mengetahui ada atau tidaknya kandungan residu antibiotika berdasarkan golongan antibiotikanya. Meskipun demikian, bioassay merupakan metode yang sangat berguna untuk screening awal sejumlah besar sampel. Batas bawah limit deteksi bioassay masih di bawah atau setara dengan batas maksimum residu yang ditetapkan SNI nomor 01-6366-2000 untuk golongan penisilin, tetrasiklin, aminoglikosida, dan makrolida.

Hasil penelitian ini mengindikasikan tidak ada kejadian residu antibiotika dalam 25 sampel susu yang diambil dari Kabupaten Bandung, Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, dan Kabupaten Tasikmalaya.

Tidak ditemukannya residu antibiotika dari golongan penisilin, aminoglikosida, tetrasiklin, dan makrolida pada seluruh sampel yang diuji kemungkinan disebabkan oleh penggunaan obat-obat ini secara tepat dengan memperhatikan waktu henti obat. Susu yang diperah sebelum masa henti obat terakhir tidak dicampur dan dijual bersama dengan susu dari sapi yang tidak dalam pengobatan dengan antibiotika tersebut. Menurut Martaleni (2007), waktu henti obat harus menjadi acuan bagi peternak untuk memerah susu. Dengan memperhatikan waktu henti obat, keberadaan residu antibiotika dalam susu segar dapat dihindari.

Kemungkinan lainnya adalah konsentrasi residu antibiotika pada sampel berada di bawah limit deteksi uji, yaitu kurang dari 0.00125 ppm untuk penisilin, 0.03 ppm untuk tetrasiklin, dan 0.1 ppm untuk aminoglikosida dan makrolida, sehingga tidak ditemukan residu antibiotika pada sampel dalam penelitian ini. Meskipun demikian, terkait dengan SNI No. 01-6366-2000 tentang batas maksimum cemaran mikroba dan batas maksimum residu dalam bahan makanan asal hewan. Pemerintah menetapkan batas maksimum residu antibiotika dalam pangan asal hewan khususnya susu dengan batas maksimum residu untuk penisilin, aminoglikosida, tetrasiklin, dan makrolida berturut-turut yaitu 0.1 ppm, 0.1 ppm, 0.05 ppm, dan 0.1 ppm. Pada pengujian ini, limit deteksi masih dibawah atau setara dengan batas maksimum residu (BMR) yang ditetapkan pemerintah.

Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil yang dilaporkan oleh balai pengujian mutu produk peternakan (BPMPP) tahun 2010. Lembaga ini melaporkan bahwa prevalensi antibiotika di wilayah Jawa Barat cukup tinggi, terutama di Bogor yaitu 3.06% untuk penisilin, 28.57% untuk makrolida, 2.55% untuk aminoglikosida, dan 47.45% untuk tetrasiklin. Oleh sebab itu, monitoring terhadap penggunaan obat hewan di peternakan dan penggunaan tes atau kombinasi tes dengan sensitivitas tinggi maupun spesifisitas tinggi sangat diperlukan. Perbedaan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dengan hasil surveilan yang dilakukan oleh BPMPP dapat disebabkan oleh banyak faktor diantaranya karena tujuan penelitian yang dilakukan berbeda sehingga metode penarikan contohnya (sampling method) juga berbeda. Pada penelitian ini hanya melihat gambaran keberadaan residu antibiotika dalam susu segar di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan tujuan penelitian yang dilakukan oleh BPMPP tahun 2010 adalah melakukan surveilan residu antibiotika di Provinsi Jawa Barat.

5.1 Simpulan

1. Tidak ditemukan adanya residu antibiotika dari golongan beta laktam, makrolida, tetrasiklin, dan aminoglikosida dalam sampel susu yang diperoleh dari peternakan sapi perah di wilayah Jawa Barat.

2. Bioassay dapat digunakan sebagai uji tapis untuk mendeteksi residu antibiotika dari golongan beta laktam, makrolida, tetrasiklin, dan aminoglikosida pada susu segar.

5.2 Saran

1. Untuk mengetahui prevalensi residu antibiotika pada susu segar di wilayah Jawa Barat maka perlu adanya perhitungan jumlah sampel yang sesuai dengan hasil surveilan sebelumnya.

2. Perlu secara konsisten menerapkan good farming practices di peternakan sapi perah untuk mencegah keberadaan residu antibiotika dalam susu segar.

DAFTAR PUSTAKA

Adams R, ed. 2001. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. Ed ke-8. Lowa: Lowa State University Press.

Admin. 2007. Penisilin dan penggunaannya dalam dunia veteriner. http://www.vet-indo.com [18 Februari 2011].

Bayarski Y. 2006. Macrolide antibiotics uses, side effects, advantages and aisadvantages. http://ezinearticles.com/?Macrolide-Antibiotics-Uses,-Side-Effects,-Advantages-And-Disadvantages&id=395138 [24 Februari 2010]. Bishop MY, ed. 2005. The Veterinary Formula. Ed ke-6. Cambridge: Great Britain

University Press.

[BPMPP] Balai Pengujian Mutu Produk Peternakan. 2010. Laporan hasil pengujian residu antibiotika dalam produk peternakan tahun 2010. Bogor: BPMPP.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2000. SNI No. 01-6366-2000 tentang Batas

Maksimum Cemaran Mikroba dan Batas Maksimum Residu dalam Bahan Makanan Asal Hewan. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2008. SNI No. 7424:2008 tentang Metode

Uji Tapis (Screening Test) Residu Antibiotika pada Daging, Telur, dan Susu secara Bioassay. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

[BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2011. SNI No. 3141.1:2011 tentang Susu

Segar. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

[Ditjenak] Direktorat Jenderal Peternakan. 2006. Statistik Peternakan Edisi 2006. Jakarta: CV. Arena Seni.

Eenennaam ALV, Cullor JS, Peran VL, Gardner A, Smith WL, Dellinoer J, Outerbocks WM. 1993. Evaluation of milk antibiotic residue screening tests in cattle with naturally occurring clinical mastitis. Dairy Sci 76: 3041-3053. Giguere S, Prescott JF, Baggot JD, Walker RD, Dawling PM. 2006. Antimicrobial

Therapy in Veterinary Medicine, 4th Ed. USA: Blackwell Publishing.

Gustiani E. 2009. Pengendalian cemaran mikroba pada bahan pangan asal ternak (daging dan susu) mulai dari peternakan sampai dihidangkan.

Litbang Pertanian 28(3): 96-100.

Hidayat A. 2010. Manajemen Kesehatan Pemerahan. Bandung: Dinas Peternakan Jawa Barat.

Husgen G, Schuster R. 2001. HPLC for Food Analysis. Germany: Agilent Technologies Company.

Jamarun N. 1988. Ternak Lingkungan. Padang: Departemen Pendidikan Kebudayaan Pusat Penilitian Universitas Andalas.

Karlina, Siagian RI, Wijaya A. 2009. Farmakokinetika klinik tetrasiklin. http://yosefw.wordpress.com/2009/03/19/farmakokinetika-klinik-tetrasiklin [20 Februari 2011].

Katzung BG. 1989. Farmakologi Dasar dan Klinik. EGC : Jakarta.

Lastari P, Murad J. 1995. Residu antibiotika dalam air susu sapi dan peternakan di Jakarta. Cermin Dunia Kedokteran 103:15-18.

Lukman, DW. 2010. Residu antibiotika dalam pangan asal hewan. http://Penelitian Kesehatan Masyarakat Veteriner/residu-antibiotik-dalam-pangan-asal_16.html [16 Juli 2010].

Mamani MCV, Reyes FGR, Rath S. 2009. Multiresidue determination of tetracyclines, sulphonamides and chloramphenicol in bovine milk using HPLC-DAD. Food Chem117: 545-552.

Martaleni. 2007. Deteksi residu antibiotika pada karkas, organ, dan kaki ayam pedaging yang diperoleh dari pasar tradisional Kabupaten Tanggerang [Tesis]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.

Mutschler E. 1991. Dinamika Obat. Bandung: Penerbit ITB.

Olson J. 2003. Clinical Pharmacology Made Ridiculously Simple. Jakarta: EGC. Parakkasi A, Effendi A.1992. Higiene dan Penyakit Ternak. Jakarta: Yayasan

Obor Indonesia.

Pikkemat MG, Rapallini MLBA, Dijk SOV, Elferink JWA. 2009. Comparison of three microbial screening methods for antibiotics using routine monitoring samples. Anal Chim Acta 637: 298-304.

Plumb DC, Pharm D. 1999. Veterinary Drug Handbook, Third Edition. Lowa: Lowa State University Press.

Raharjo B. 2010. Jawa Barat pemasok susu terbesar nasional. Republika. http://www.republika.co.id [26 Mei 2011].

Rahayu ID. 2010. Prinsip pengobatan pada ternak. http://imbang.staf.umm.ac.id [3 Februari 2011].

Riviere JE, Papich MG. 2009. Veterinary Pharmacology and Therapeutics, Ninth Edition. USA: Wiley Blackwell.

Sparringa RA. 2006. Direktori Keamanan Pangan Indonesia. Jakarta: Direktorat SPKP, Deputi III, Badan POM RI.

Wang S, Xu B, Zhang Y, He JX. 2009. Development of enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) for the detection of neomycin residues in pig muscle, chicken muscle, egg, fish, milk and kidney. Meat Sci 82: 53-58.

Wehr M, Frank JF. 2004. Standard Methods for The Examination of Dairy

Products. Washington: American Public Health Association.

Wiryosuhanto. 1990. Tinjauan penggunaan antibiotika di Indonesia saat ini dan yang akan datang. [Makalah] Di dalam: Seminar Nasional Penggunaan

Antibiotika dalam Bidang Kedokteran Hewan.

Zulfianti W. 2005. Penentuan kadar residu antibiotik dalam susu menggunakan metode bioassay [skripsi]. Jakarta: Program Sarjana, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Dokumen terkait