• Tidak ada hasil yang ditemukan

Resistensi berbasis Media Sosial (Virtual Resistance)

Scott menjelaskan bagaimana perlawanan dan gerakan sosial yang terjadi selama ini ternyata tidak harus selalu dalam bentuk aksi bersama apalagi protes

80 Syafa‟at dkk,, Negara, Masyarakat Adat…”, 54

81 I Gusti Agung Ayu Kade Galuh, Media Sosial dan Demokrasi: Transformasi Aktivitas

128

terbuka. Savirani menjelaskan bagaimana suatu gerakan tidak hanya sebatas pada mobilisasi warga untuk turun ke jalan, melainkan dengan perlawanan yang lebih kreatif, yakni dengan media sosial. Pratiwi dan Jacky menjelaskan bagaimana perlawanan tidak hanya berada dalam dunia offline. Perkembangan dunia pada era teknologi yang mampu membelah dunia menjadi dua. Dunia yang telah berkembang mampu menghasilkan dunia maya (online).82 Komunitas adat

Minahasa sebagai para aktor kolektif, cenderung mengekspresikan perlawanan mereka dengan cara memilih “menulis” dan “click”. Menurut penulis, presentase jumlah masyarakat yang melakukan aksi dengan cara turun di jalan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan masyarakat pengguna media sosial. Artinya, pengguna media sosial tidak hanya orang Minahasa saja, melainkan masyarakat Indonesia bahkan di seluruh dunia. Ruang virtual menjadi tempat yang sangat berpengaruh agar masyarakat dapat mempublikasikan kejadian-kejadian dan kondisi Waruga baik itu di media sosial dalam bentuk jejaring sosial Facebook dan media berbasis isi YouTube. Dengan memakai konsep Fauzi, peran media yang meliput aksi yang dilakukan serta situasi di sekitaran Waruga sangat menentukan dalam mengeraskan suara mereka agar sampai ke pejabat pemerintahan dan publik yang luas.83 Realitas virtual (virtual reality) menjadi penting karena masyarakat adat yang selama ini berada di sisi pinggiran dan termarginalkan kini berada di pusat (center). Pusat dan pinggiran bukan hanya secara fisik, tapi bagaimana kemampuan dan eksistensi masyarakat Minahasa melalui realitas virtual membuat suaranya terdengar. Penggunaan media sosial

82 Aditya Bintang Pratiwi dan M. Jacky, “Resistensi Youtuber terhadap Puisi “Ibu Indonesia” oleh Sukmawati Soekarnoputri”, Jurnal Paradigma Vol. 7, No 1, 2019, 1

83 Noer Fauzi, Memahami Gerakan-Gerakan Rakyat Dunia Ketiga, (Yogyakarta: INSISTPress, 2005) 101

129

memungkinkan informasi tersebar baik secara lokal, nasional bahkan internasional. Misalnya, tindakan dokumentasi serta memposting foto-foto puing-puing Waruga, tulang-tulang serta gigi-gigi dari para leluhur (Gambar 5.) yang berserakkan di tanah dan di jalan oleh Rinto Taroreh (Tona‟as Minahasa) menumbuhkan emosi dari masyarakat Minahasa yang melihatnya. Inilah disebut oleh Galuh sebagai emosi kolektif (the collective mood).84

Galuh dalam tulisannya menjelaskan bagaimana YouTube menjadi konten pengunggahan video dokumentasi yang telah melewati proses editing sehingga lebih menarik untuk ditonton. Video oleh Rikson Karundeng dengan hashtag

#SaveWaruga #SaveTanahAdat tersebar di seluruh penjuru tanah air. Komunitas

adat Nusantara dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang diwaliki oleh Abdon Nababan (Wakil Ketua Dewan AMAN Nasional) serta komunitas adat seluruh Indonesia juga turut memberikan dukungan bagi masyarakat Minahasa dalam penyelamatan warisan leluhur dan bukti peradaban panjang Minahasa. Ada juga yang menyatakan bahwa pengrusakkan Waruga adalah bunuh diri.85 Hal ini memberikan pemahaman jati diri orang Minahasa yang sedang mengalami penyusutan budaya (cultural loss).86 Video tersebut diawali dengan

seorang laki-laki yang berasal dari luar negeri, yakni Swiss. Menurut penulis, pemutaran video yang diawali dengan seseorang yang berasal dari Swiss mengindikasikan bagaimana penyelamatan terhadap warisan budaya juga tidak hanya tugas masyarakat Minahasa dan Indonesia di tingkat Nasional tetapi juga

84

Galuh, Media Sosial dan Demokrasi, 129

85 Rikson Karundeng, “Masyarakat Adat Se-Nusantara Gugat Pengrusakkan Waruga”, https://www.youtube.com/watch?v=yCLc8Y1tPAI, published on Aug 2, 2018, diakses pada tanggal 23 Juli 2019, pukul 12:06 WITA dengan 1.575 views.

86

130

secara internasional. Mengingat juga situs Waruga merupakan situs yang diakui dan dilindungi oleh UNESCO.

Tayangan tersebut menyebutkan bagaimana penghancuran Waruga adalah bentuk penghinaan terhadap jati diri orang Minahasa. Proyek yang merupakan institusi Presiden secara sistematis telah menghancurkan situs sejarah dan budaya Minahasa. Mereka menyatakan tindakan tersebut berdampak pada ingatan orang Minahasa dari generasi ke generasi. Rentetan sejak era kolonial, vandalisasi terhadap warisan leluhur dan bukti peradaban tidak pernah berhenti. Berdasarkan penelitian dan melalui tampilan video konten YouTube, dengan mengutip apa yang dikatakan oleh Juri Lina yakni tiga cara melemahkan dan menjajah suatu negeri:

1) Kuburkan sejarahnya;

2) Hancurkan bukti-bukti sejarah bangsa itu hingga tidak bisa lagi diteliti dan dibuktikan kebenarannya;

3) Putuskan hubungan mereka dengan leluhur, dengan mengatakan jika leluhur itu bodoh dan primitif.

Dari pendapat ini, maka dapat diinterpretasikan bagaimana bentuk kolonial serta “penjajahan diri sendiri” sedang berlangsung di tanah Minahasa. Penjajahan kolonial dari bangsa-bangsa luar telah selesai, namun neo-kolonialisme atau yang biasa disebut dengan “penjajahan model baru” sedang berlangsung tanpa disadari. Hal tersebut secara nyata dibuktikan dengan pernyataan pemerintah yang mengakui bahwa di dalam Waruga adalah “leluhur mereka sendiri” karena berdasarkan garis keturunan khususnya orang Tonsea. Namun justru mereka sendiri yang paling berpengaruh dalam proses pemindahan Waruga.

Pernyataan-131

pernyataan yang berkembang di tengah masyarakat Minahasa seperti “Jati diri dicungkil sendiri”; “Berdiri dan gali lubang sendiri” merupakan sebuah fakta keminahasaan sedang dihancurkan perlahan-lahan. Pembangunan bukannya menghidupkan masyarakat Minahasa, namun justru pembangunan secara perlahan membunuh orang Minahasa itu sendiri.87 Hetty Palm dalam karyanya Ancient Art

of Minahasa melukiskan: “salah satu suku bangsa yang hampir punah

kebudayaannya adalah Minahasa”.88

Dalam perlawanan virtual, lagu yang direkam merupakan bagian dari media seni dan sastra sendiri yang sejatinya sudah lama dijadikan untuk melayangkan kritik perlawanan atas kemapanan dan penindasan yang dilakukan oleh elit penguasa.89 Lagu “Rumah Jiwa” karya Andre Lengkong merupakan respon terhadap pembangunan yang menghancurkan “rumah jiwa” atau Waruga Minahasa. Menurut penulis, lagu ini mengekspresikan empat hal, yakni 1) Di bait pertama, lagu ini bercerita mengenai para leluhur yang telah berkorban menjaga tanah Minahasa hingga generasi saat ini dapat merasa kenikmatan serta perkembangan peradaban modern. Keberadaan Waruga menjadi penting yakni sebagai pengingat dari generasi ke generasi; 2) Di bait kedua, lirik-lirik lagu seperti “Kini raga terkulai”, “tulang gigi tersebar” menggambarkan kondisi Waruga yang tergerus dan hancur akibat pembangunan di Desa Kuwil-Kawangkoan. Seperti pada Gambar 5, di mana gigi-gigi dari para leluhur dan puing-puing Waruga tersebar di tanah; 3) Penggalan Reff: “Saudara lihatlah

87 Hasil Wawancara dengan Rikson Karundeng (Pemerhati Budaya Minahasa dan Gerakan Minahasa Muda), 26 Juli 2019, pukul 14:30 WITA di Kota Tomohon.

88 Denni H. R. Pinontoan, Walian dan Tuang Pandita: Perjumpaan Agama Minahasa dan

Agama Kristen pada abad XIX, (Yogyakarta: Pustaka Pranala, 2019) ix

89 Ridwan Sugiwardana, “Pemaknaan Realitas serta bentuk Kritik Sosial dalam Lirik Lagu Slank”, Skriptorium, Vol. 2 No.2, 86-96

132

sejenak”. Kata-kata persuasif ini menurut penulis memiliki dua pengertian.

Pertama, mengajak masyarakat Minahasa untuk melihat situasi dan kondisi

Waruga di area pembangunan dan ikut merespon dan menyuarakan kepada pemerintah. Kedua, mengajak masyarakat yang tidak memberi perhatian terhadap Waruga dan sejarah orang Minahasa untuk sejenak melihat dan mengenang sejarah dan perjuangan para orangtua (leluhur), Hal ini juga menjadi respon kepada seluruh Minahasa untuk tidak jatuh dalam krisis identitas dan mengalami amnesia kolektif.90 4) Pernyataan-pernyataan seperti “Suara hati kami terabaikan!”; “Dengarkan jerit kami, dengarkan tangis kami!” menggambarkan perlawanan yang telah dilakukan masyarakat adat terhadap pemerintah namun aspirasi-aspirasi mereka tak kunjung didengar dan direalisasikan. Karena itu, lirik lagu merupakan hasil interpretasi seorang pengarang dalam memandang sebuah fenomena yang terjadi. Sebuah lirik lagu menjadi ekspresi kekecewaan dan kesedihan mereka terhadap tindakan pemerintah.

Bersamaan dengan lagu ini, sebuah video dari dua orang anak yakni anak laki-laki dan perempuan. Anak perempuan dengan berpakaian baju modern yang ditandai dengan masyarakat yang hidup di zaman ini sedang membawa bunga di sekitar kubur batu Waruga. Ketika sampai, seorang anak laki-laki dengan pakaian baju adat sebagai representasi teman dari anak perempuan dan yang sangat

concern dengan budaya Minahasa. Setelah anak perempuan menaruh bunga di

atas kubur batu Waruga, ia melakukan percakapan dengan anak laki-laki ini. Percakapan mereka dilihat oleh seorang aktor laki-laki dewasa yang sedang tersenyum. Laki-laki dewasa tersebut merupakan leluhur dan menampilkan

90

133

ekspresi kesenangan karena keduanya mengingat akan leluhur mereka. Namun tiba-tiba muncul dua orang laki-laki dewasa yang memakai kacamata hitam yang ditafsirkan antara lain sebagai kaum elit, orang beragama atau juga dari keluarga yang melarang anak perempuan tersebut untuk mendekati Waruga bahkan berteman dengan masyarakat adat dan pemerhati budaya karena dianggap anarkis, alifuru, kafir-berhala dan lain-lain.91

Adapun video yang berjudul “Film dokumenter #SaveWaruga “Rumah Jiwa Leluhur” ini sebagai bagian dari “menolak lupa” dan membuktikan bahwa intensitas perlawanan terus-menerus dilakukan sebagai bentuk konsistensi mereka sebagai masyarakat adat yang terus melanjutkan tradisi para leluhur.92 Film dokumenter ini menunjukkan setidaknya tiga hal: 1) Diawali dengan cuplikan berita yang menampilkan sekaligus mengingatkan situasi dan kondisi Waruga yang mengalami kerusakan serta aksi masyarakat Minahasa. Kemudian, terkait dengan You Tuber yang adalah seorang dokumenter, ia menampilkan video puing-puing Waruga beserta seorang Tona‟as dan seorang yang memakai pakaian adat Kawasaran yang berjalan di sekitar Waruga dengan eskpresi kekecewaan; (2) Seorang Tona‟as dalam video itu menyatakan kemarahan dan kesedihan bersama dengan masyarakat adat Minahasa karena ada ikatan batin orang Minahasa dengan leluhurnya. Pernyataannya seperti “orang budaya harus berpikir positif dan menguasai diri” menjelaskan representasi perjuangan dan perlawanan yang telah dilakukan di ruang publik. Kata-kata “menguasai diri” memberi pemahaman

91 Minahasa Poenya, “Lagu Minahasa Rumah Jiwa”, https://www.youtube.com/watch?v=_AX09yP4Lq8 Published on Oct 16, 2018, diakses pada tanggal 16 Juli 2019, pukul 19:30 WITA dengan 2.151 views.

92 Armando Loho, “Film Dokumenter #SaveWaruga Rumah Jiwa Leluhur”, https://www.youtube.com/watch?v=Uippp7e5Ol4&t=452s, published on Sept 24, 2019, diakses pada tanggal 30 September 2019, pukul 00:34 WITA dengan 5.586 views.

134

resistensi dengan emosi kolektif yang sudah banyak dilakukan. Tapi yang penting adalah ajakan Tona‟as bagi seluruh komunitas adat dalam penataan kembali Waruga yang hancur serta menegaskan untuk tidak menunggu pihak yang menyebabkan Waruga hancur untuk melakukan perbaikan; (3) Akhir dari video itu ialah “Surat Terbuka untuk Jokowi” yang berarti masyarakat membutuhkan Presiden dalam penyelesaian situasi tragis masyarakat adat di Minahasa atas nama pembangunan proyek nasional. Hingga detik ini, suara-suara itu tak kunjung didengar dan ditindaklanjut.

Dokumen terkait