• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Pengujian Daya Berkecambah

X. Respon Hasil

Respon hasil pertumbuhan antara tiga bagian utama menunjukkan hasil yang menurun pada bagian atas dan bawah, semakin ke atas atau ke bawah maka persentase daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum dan viabilitas tetrazolium menunjukkan penurunan. Sedangkan pada bagian tengah menunjukkan hasil yang cenderung konstan.. Grafik respon untuk tiap peubah disajikan pada Lampiran 5.

PPKS Sebagai Produsen Benih Kelapa Sawit Indonesia

PPKS memiliki proporsi yang besar untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kecambah yang diproduksi oleh PPKS merupakan kecambah dengan harga yang paling murah dibandingkan dengan produsen lain dengan kisaran harga Rp 6000- Rp 7000. Konsumen yang dilayani oleh PPKS terdiri dari perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Sistem produksi dan pengelolaan yang dilakukan oleh PPKS telah disertifikasi ISO 9001:2008 oleh TUV International. Rencana dan Potensi Produksi produsen bahan tanaman kelapa sawit di Indonesia dapat dilihat pada Gambar 20.

Gambar 20. Potensi dan Rencana Produksi Produsen Bahan Tanam Kelapa Sawit 2010 (Ditjenbun 2010)

PPKS sebagai produsen yang memiliki potensi tinggi, PPKS merupakan produsen kecambah kelapa sawit yang potensial hal ini didukung dengan PPKS telah memproduksi kecambah sebanyak 38 659 007 melampaui rencana taksasi sebesar ± 120% dan memproduksi benih baik sebanyak 42 183 313 pada tahun 2010. Kegiatan produksi kecambah PPKS didukung oleh divisi-divisi dan peneliti.

Divisi yang terdapat yaitu Divisi Pemuliaan, Divisi Pohon Induk, Divisi Produksi, Divisi QC/QA, dan Divisi Pemasaran.

Produksi Benih

Kegiatan produksi benih memegang peranan yang penting dalam pengadaan bahan tanaman bagi seluruh komoditas salah satunya kelapa sawit. Dalam kegiatan produksi benih kelapa sawit, kegiatan pengolahan tandan benih merupakan kegiatan yang memerlukan kecermatan dan ketelitian yang baik. Proses pengolahan tandan benih secara garis besar terdiri dari tiga bagian yaitu persiapan tandan benih, pematahan dormansi, dan perkecambahan. Kegiatan persiapan tandan benih merupakan kegiatan pertama pengolahan tandan menjadi benih siap proses pematahan dormansi, kegiatan ini terdiri dari penerimaan tandan benih, pencincangan, fermentasi, pemipilan, pengupasan, seleksi benih, penyimpanan, dan pemberian cap (barcode). Kegiatan kedua yaitu pematahan dormansi yang bertujuan untuk mematahkan sifat dormansi benih kelapa sawit yang terdiri dari perendaman pertama, pengeringan pertama, pemanasan, perendaman kedua, dan pengeringan kedua. Kegiatan terakhir yaitu perkecambahan yang merupakan kegiatan mengecambahkan benih kelapa sawit menjadi kecambah, kegiatan ini terdiri dari penyiraman, pemilihan kecambah, dan pengemasan. Seluruh kegiatan pengolahan dan produksi kecambah dilakukan di Divisi Produksi PPKS.

Capaian Produksi Benih

Kegiatan produksi kecambah kelapa sawit di PPKS berjalan sesuai dengan instruksi kerja, hal ini didukung dengan adanya divisi QC yang memverifikasi kegiatan produksi dan sasaran mutu yang dikeluarkan perusahaan. Hasil pencapaian proses produksi seksi Persiapan Benih yaitu menekan kerusakan biji selama menjadi proses benih maksimal 1 % dari jumlah biji yang dipasok Divisi Pohon induk, hingga bulan Maret 2011, kerusakan biji sebesar 0.4 % sehingga masih di bawah batas kerusakan. Persentase daya berkecambah benih kelapa sawit minimal 70 %, capaian yang dihasilkan oleh divisi produksi tahun 2010 sebesar 74.51 %, terdapat penurunan antara bulan

Juli hingga bulan September. Secara umum tidak terdapat adanya masalah di dalam proses produksi, namun perlu langkah-langkah yang intensif untuk meningkatkan produksi dan kinerja karyarwan. Jumlah penerimaan tandan yang berasal dari Divisi Pohon Induk cenderung fluktuatif, tidak terdapat minimal pengiriman tandan ke Divisi Produksi. Tingkat kerusakan biji dalam proses didominasi oleh kegiatan pencincangan dan pengupasan tetapi belum dapat ditentukan tingkat kerusakan terbesarnya, tingkat kerusakan dihitung di akhir kedua proses tersebut. Daya kecambah yang mengalami fluktuasi turut mempengaruhi jumlah kecambah yang diproduksi. Pada tahun 2010, rata-rata daya kecambah sebesar 74.51 %, tingkat persentase daya kecambah masih di bawah standar ketentuan yaitu minimal 80%.

Mayoritas penurunan terbentuknya kecambah normal yaitu jumlah kecambah panjang yang tinggi. Tidak seragamnya pemesanan untuk keseluruhan varietas membuat kecambah menjadi terlantar sehingga banyak terbentuk kecambah panjang yang masuk ke dalam kategori kecambah afkir.

Kegiatan Pengolahan Tandan

Kegiatan pengolahan tandan terdiri dari tiga bagian yaitu persiapan benih, pematahan dormansi dan perkecambahan. Tahapan tahapan dalam kegiatan persiapan benih sebagai bagian pertama berkaitan dengan kegiatan fisik terutama pada bagian pencincangan, pemipilan dan pengupasan sehingga mayoritas pekerja pada bagian ini didominasi oleh kaum pria. Kegiatan pencincangan, pemipilan dan pengupasan dilakukan secara bergantian, setiap pekerja bertanggung jawab untuk mengolah tandan yang diterimanya. Kegiatan seleksi dan sortasi benih berkaitan dengan ketelitian dan kecermatan sehingga mayoritas pekerja pada kegiatan ini didominasi oleh kaum wanita. Bagian pematahan dormansi merupakan bagian kedua setelah persiapan benih, kegiatan ini terdiri dari penerimaan, pengarungan, perendaman pertama, pengeringan, pemanasan, perendaman kedua dan pengeringan kedua. Banyaknya benih yang diproses untuk dipatahkan dormansinya tidak sebanyak-banyaknya jumlah benih yang telah diproses namun berdasarkan pesanan. Kegiatan pada bagian ini tidak terlalu didominasi oleh jenis kelamin kecuali bagian pemanasan yang

didominasi oleh wanita, perendaman dan pengeringan oleh kaum pria. Pekerja yang berada di bagian pematahan dormansi secara umum dilakukan oleh orang yang sama dan dilakukan secara bergantian. Bagian perkecambahan merupakan bagian terakhir dalam produksi benih. Kegiatan di bagian perkecambahan yaitu penerimaan benih, penyiraman, pemilihan, dan pengemasan. Kegiatan penyiraman, penyiraman dan pengemasan mayoritas dilakukan oleh kaum pria sedangkan kegiatan pemilihan kecambah dilakukan oleh kaum wanita. Divisi Produksi merupakan divisi yang memiliki jumlah karyawan terbanyak dibandingkan dengan divisi lainnya sehingga pekerja memegang peranan penting dalam melakukan kegiatan produksi benih yang baik.

Karakteristik Tandan, Spikelet dan Buah

Karakteristik tandan untuk setiap varietas memiliki bentuk yang bervariasi. Hasil pengukuran mendapatkan bahwa tandan varietas Yangambi memiliki bobot yang paling bobot dan terendah yaitu varietas Simalungun. Perbandingan antara mesokarp dan benih pada ketiga varietas hasil sampel rata- rata sebesar 36 % untuk benih dan 64 % untuk mesokarp, hal ini menandakan bahwa berondolan tergolong kategori Dura. Karakter spikelet untuk ketiga varietas menunjukkan hasil yang sama. Tandan bagian bawah mayoritas memiliki persentase pembentukan buah yang lebih tinggi dibandingkan bagian tengah dan bagian atas, hal ini diperkuat oleh Pahan (2010) yang menyatakan bahwa anthesis bunga kelapa sawit dimulai dari bagian bawah lalu bergerak ke bagian atas, oleh karena hal tersebut dikarenakan bunga bagian atas terlambat untuk anthesis sehingga keseragaman pembentukan buah menjadi tidak seragam dan pembentukan buah untuk spikelet bagian atas paling sedikit dibandingkan dengan bagian tengah dan bagian bawah.

Benih yang berada pada bagian tengah cenderung memiliki viabilitas benih yang lebih baik dibandingkan dengan benih yang berada pada bagian ujung dan pangkal tandan, hal ini diakibatkan karena benih yang berada di bagian tengah tandan memiliki bentuk, ukuran dan perkembangan yang baik. Benih yang berada di bagian tengah memiliki inti yang terisi penuh dan embrio yang mayoritas berukuran besar. Benih yang berada di bagian atas (terdapat

potongan stalk) cenderung berkarakteristik lebar dan berbentuk tidak simetris (tidak boboturan). Benih yang terdapat di bagian bawah (bagian yang meruncing) cenderung berkarakteristik lebih kecil disertai dengan cangkang yang tebal bahkan beberapa benih memiliki bentuk inti yang pipih, benih partenokarpi dan menghasilkan benih tidak berinti.

Beberapa kasus pada varietas AVROS menunjukkan bahwa tidak semua bagian bawah tidak baik. Pada spikelet di bagian bawah, dikarenakan jumlah benih yang lebih sedikit cenderung menghasilkan beberapa berondolan yang berukuran besar. Benih yang sedikit serta tidak banyak berondolan yang terbentuk menyebabkan suplai hara hanya terfokus pada beberapa berondolan saja, tidak semua berondolan mendapatkan suplai yang sama. Faktor tersebut dapat menyebabkan benih-benih yang berasal dari buah bagian bawah lebih baik dibandingkan dengan buah di bagian atas.

Varietas Yangambi merupakan varietas dengan benih mayoritas berukuran sedang hingga besar dengan tingkat kemunculan benih poliembrio yang paling tinggi dibandingkan dengan kedua varietas lainnya.Varietas AVROS merupakan varietas dengan benih berukuran paling kecil dengan tingkat kemunculan benih partenokarpi dan benih non embrio paling besar dibandingkan dengan kedua varietas lainnya. Varietas Simalungun merupakan varietas dengan benih berukuran paling besar dan ukuran embrio beserta inti yang juga besar dibanding dengan kedua varietas lainnya. Benih benih dari ketiga varietas secara umum memiliki variasi ukuran yang secara spesifik memperlihatkan karakteristik benihnya.

Viabilitas Tetrazolium Embrio

Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat pengaruh berbeda antar perlakuan untuk semua varietas. Bagian yang viabilitas embrionya paling rendah dimiliki oleh bagian-bagian paling ujung dan pangkal tandan. Secara spesifik bagian paling ujung dan paling pangkal tersebut memiliki karakteristik benih yang berukuran kecil-sedang dengan tingkat kemunculan partenokarpi dan non embrio yang sering ditemui. Grafik respon deskriptif untuk ketiga peubah disajikan dalam Lampiran 5.

Benih-benih yang berada pada bagian tengah dengan letak L4, L5 dan L6 memiliki tingkat viabilitas yang paling tinggi. Letak tertinggi yaitu pada L6 sebesar 67.78% dan letak terendah terletak pada L3 yang terdapat pada bagian paling atas sebesar 33.33%. Ukuran benih secara tidak langsung mempengaruhi ukuran embrio dan inti, benih yang berukuran besar mayoritas memiliki embrio yang berukuran besar juga, namun ada beberapa pengamatan ditemukan terdapat benih berukuran kecil-sedang memiliki embrio yang berukuran cukup besar. Bentuk dan ukuran embrio tidak mempengaruhi tingkat viabilitas embrio, hasil pengamatan menunjukkan terdapat beberapa embrio berukuran lebih kecil dari embrio normal memiliki warna merah yang lebih gelap dibandingkan dengan ukuran embrio normal.

Daya Berkecambah

Perkecambahan pada tanaman kelapa sawit merupakan hal yang termasuk unik dikarenakan bertahap serta butuh perhatian ekstra dalam penentuan kecambah yang baik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa antara bagian menunjukkan hasil yang berbeda. Seperti halnya dalam pengujian viabilitas embrio, hal yang sama terjadi pada daya berkecambah. Secara tidak langsung, pengujian viabilitas tetrazolium embrio menunjukkan pola yang sama dengan daya berkecambah meskipun tidak semua kecambah tumbuh.

Hasil yang sama dengan viabilitas embrio, pada tingkat daya berkecambah, bagian tengah memiliki viabilitas paling baik dibandingkan dengan bagian lainnya. Viabilitas benih serta dijadikan acuan yaitu waktu yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkecambah dan membentuk kecambah normal. Secara umum kecambah kelapa sawit akan tumbuh normal pada umur 21-22 hari perkecambahan namun menurut Lubis (2008), benih kelapa sawit sudah mulai tumbuh setelah berumur 12-15 hari, perbedaan hari perkecambahan disebabkan oleh penggunaan tray yang membuat kondisi perkecambahan menjadi lebih lama menjadi 20-21 hari dari sebelumnya menggunakan plastik selama 12-15 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa varietas Yangambi dan Simalungun telah terlihat tumbuh pada umur 20 hari sedangkan varietas AVROS muncul pada umur 24 hari perkecambahan namun tingkat keserempakannya berbeda-beda.

Bedarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa tiap varietas benih kelapa sawit memiliki umur perkecambahan dan keserempakan tumbuh yang berbeda-beda juga.

Hasil pengamatan tersebut menunjukkan bahwa tiap bagian memiliki viabilitas yang berbeda-beda dan tumbuh. Perbedaan tingkat viabilitas benih dibedakan pada aspek waktu pertumbuhan yang berbeda-beda pada tiap bagian dan tiap varietas. Bagian tengah (L4, L5, dan L6), benih pada bagian ini lebih unggul viabilitasnya, hal ini terlihat oleh jumlah benih yang tumbuh dan waktu pertumbuhan yang cepat, letak dengan hasil tertinggi pada L4 sebesar 43.33% dan terendah L3 sebesar 25 %. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan kecambah sangat bervariasi, faktor tersebut terdiri dari fluktuasi suhu, tingkat kelembaban, proses pematahan dormansi, genetik, dan kondisi pohon induk (Corley dan Tinker, 2008). Kecilnya tingkat daya berkecambah dapat diakibatkan oleh benih itu sendiri, benih yang memiliki abnormalitas embrio di atas 15 % menunjukkan tingkat perkecambahan yang rendah (Corley dan Tinker, 2008), hal ini sesuai pada varietas AVROS yang memiliki tingkat abnormalitas embrio paling besar.

Benih Poliembrio, Abnormal dan Panjang

Sebaran benih poliembrio, abnormal dan benih panjang memiliki pola yang terarah dengan sebaran yang cukup merata pada semua bagian. Pertumbuhan benih poliembrio tidak berbeda dengan benih non poliembrio, pertumbuhan benih poliembrio mayoritas tumbuh secara serempak dengan kemunculan yang berbeda beda sesuai dengan jumlah titik tumbuh yang terdapat pada benih. Varietas Yangambi merupakan varietas yang tingkat kemunculan benih poliembrio yang paling banyak dibandingkan dengan kedua varietas lainnya. Secara visual, kemunculan benih poliembrio terbanyak dimiliki oleh bagian tengah tandan baik pada varietas Yangambi, AVROS, dan Simalungun.

Perkembangan benih secara normal dimulai dari kemunculan plumula dan radikula yang selanjutnya akan mengalami proses diferensiasi (Lubis, 2008). Proses diferensiasi plumula dan radikula secara alami tidak secara bersama, dimulai pada radikula yang selanjutnya plumula. Kategori benih abnormal

terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu benih abnormal yang plumula dan radikulanya tumbuh searah atau tidak boboturan (tidak lurus) dan benih abnormal yang salah satu bagian vitalnya (plumula atau radikula) tidak berkembang.

Benih abnormal yang pertumbuhan plumula dan radikulanya tidak boboturan (malformation) secara tidak langsung muncul karena genetik dan benih yang pertumbuhannya terhambat oleh tumpukan-tumpukan benih. Perkembangan benih abnormal jenis ini tingkat pertumbuhannya sama dengan benih normal. Benih abnormal yang salah satu bagian vitalnya tidak terbentuk secara tidak langsung dipengaruhi oleh genetik. Pertumbuhan benih abnormal tipe ini cenderung lebih lambat terutama pada benih yang perkembangan radikulanya tidak terbentuk, namun terdapat beberapa benih yang pertumbuhannya sama dengan benih normal, alternatif pertumbuhan benih abnormal jenis ini yaitu pembentukan akar adventif disekeliling akar primer lebih rensponsif. Hasil pengamatan menunjukkan perbandingan antara jumlah benih tumbuh berbanding jumlah benih abnormal tertinggi terdapat pada varietas Yangambi sebesar 25 (12 %), kemudian Simalungun sebanyak 29 butir (11%) dan terakhir AVROS sebanyak 10 butir (6%). Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan terbentuknya benih abnormal terjadi untuk semua varietas.

Pertumbuhan benih abnormal tidak terlepas bagi benih poliembrio. Kemunculan benih abnormal untuk benih poliembrio terjadi dalam jangka waktu yang berbeda. Bedasarkan pengamatan, benih normal muncul terlebih dahulu yang kemudian disusul dengan kemunculan benih abnormal.

Benih-benih panjang secara tidak langsung tumbuh oleh pertumbuhan plumula dan radikula yang responsif. Benih panjang dipengaruhi secara fisik oleh tingkat dan volume penyiraman, pertumbuhan akar adventif dan kelembaban. Volume penyiraman, tingkat kelembaban dan pertumbuhan akar adventif yang responsif akan memacu pertumbuhan benih. Hasil pengamatan secara fisik, pertumbuhan plumula dan radikula benih akan lebih dari 2 cm dalam jangka waktu 7-14 hari tergantung volume penyiraman dan kelembaban udara.

Benih Tidak Tumbuh

Tingkat viabilitas kelapa sawit yang berbeda beda menyebabkan beberapa benih tidak tumbuh dengan baik. Benih yang tidak tumbuh dengan baik selanjutnya dipecahkan lalu diamati kondisi inti beserta embrionya. Bedasarkan hasil pengamatan didapatkan bahwa sebagian besar benih yang dipecah, kondisi embrio berada dalam status belum tumbuh, beberapa benih sudah tumbuh dan terdapat inti yang busuk. Penyebaran benih yang masih dormansi merata pada semua bagian, namun secara spesifik bagian tengah dan atas lebih sedikit terbentuk benih dorman dibandingkan dengan bagian bawah tandan. Ukuran benih turut mempengaruhi perkecambahan, menurut Hartley (1988), menerangkan bahwa secara umum benih bagian atas spikelet dan bagian bawah spikelet tidak terdapat perbedaan perkecambahan tetapi benih bagian bawah yang umumnya berukuran lebih kecil sering ditemui gagal untuk berkecambah.

Penyebab benih tidak tumbuh sangat beragam terdiri dari genetik, tingkat kerusakan benih, penanganan benih, pematahan dormansi, perendaman, fluktuasi suhu dan kelembaban dalam perkecambahan, hal ini didukung oleh Corley dan Tinker (2003) yaitu perkecambahan yang buruk dapat diakibatkan oleh faktor genetik, fluktuasi kelembaban, lamanya waktu benih berada di ruang pemanas, dan waktu perkecambahan yang panjang serta perbedaan varietas kelapa sawit yang memberikan karakteristik namun tingkat kematangan bukan faktor utama dalam perkecambahan.

Kesimpulan

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) merupakan produsen kecambah kelapa sawit yang memiliki potensi produksi yang tinggi. PPKS mampu memproduksi benih baik rata-rata sebanyak 44 031 813 butir/tahun. Proses pengolahan tandan benih yang dilakukan oleh PPKS sebagian besar masih dilakukan manual dan beberapa telah menggunakan mesin. Pengolahan tandan benih memiliki alur yang terdiri dari penerimaan tandan, pencincangan, fermentasi, pemipilan, pengupasan, pengikisan, sortasi, pelabelan, pematahan dormansi, dan perkecambahan.

Bagian tandan menggambarkan karakteristik spikelet dan pembentukan berondolan. Tandan bagian atas memiliki ciri khas berondolan baik terbentuk sedikit dan ukuran spikelet yang kecil-sedang, tandan bagian tengah memiliki ciri khas yaitu jumlah berondolan yang terbentuk paling banyak dan spikelet yang berukuran panjang, sedangkan untuk bagian bawah tandan memiliki karakteristik jumlah berondolan yang terbentuk baik paling banyak dan spikelet berukuran lebar.

Pengujian viabilitas tetrazolium menunjukkan bahwa bagian tengah dengan letak L6 sebesar 67.78 % merupakan bagian yang memiliki persentase viabilitas tertinggi dengan ditunjukkan banyaknya embrio berwarna merah tua, bagian yang memiliki persentase terendah berada pada bagian atas tandan dengan letak L3 sebesar 33.33 % . Hasil pengujian daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum selama 35 hari memiliki pola yang sama dengan pengujian viabilitas tetrazolium, hasil pengujian menunjukkan persentase daya berkecambah tertinggi pada tandan bagian tengah tandan dengan letak L4 sebesar 43.33 % dan potensi tumbuh maksimum 48.89 %, sedangkan bagian yang memiliki persentase daya kecambah terendah terletak pada bagian atas dengan letak L3 sebesar 25% dan potensi tumbuh maksimum sebesar 27.22 %. Secara keseluruhan bagian terbaik dari tandan untuk dijadikan benih yaitu bagian tengah baik dari sisi persentase, viabilitas embrio, jumlah berondolan terbentuk, dan ukuran benih.

Tingkat viabilitas embrio daya berkecambah dan potensi tumbuh maksimum benih kelapa sawit untuk berbagai bagian pada varietas Yangambi, AVROS dan Simalungun memiliki variasi yang berbeda. Varietas yang memberikan tingkat persentase tertinggi dari sisi daya berkecambah, potensi tumbuh maksimum, dan viabilitas tetrazolium yaitu varietas Simalungun.

Saran

Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) diharapkan dapat mengimplementasikan upaya peningkatan efisiensi dan efektifitas sistem kerja yaitu; pengadaan mesin pencincang, pemipil, grading benih, mengefisienkan waktu kerja dan lebih teliti dalam bekerja agar benih tidak tececer. Menseragamkan tingkat dormansi benih sebaiknya benih hasil seleksi tidak langsung diproses ke pematahan dormansi tetapi disimpan setidaknya satu bulan.

Bagian terbaik tandan untuk dijadikan kecambah sebaiknya digunakan pada bagian tengah yang lebih unggul dari sisi daya kecambah, viabilitas tetrazolium dan jumlah buah terbentuk, terutama pada tandan-tandan kelas

fruitset C dan D. Kecambah-kecambah yang tidak kunjung dipesan oleh konsumen sebaiknya tetap dilakukan pemilihan rutin untuk mengurangi pembentukan kecambah panjang yang semakin besar.

Pencegahan terbentuknya jamur dalam kemasan pada saat penyimpanan, diperlukan ruang dan kondisi pengemasan kecambah yang standar laboratorium, seperti petugas seleksi memakai apron khusus, sarung tangan, memakai masker, ruangan dijaga bersih, dan tertutup untuk menghindari kontaminasi dari udara. Perlu dilakukannya penelitian lanjutan untuk mengetahui pengaruh letak terhadap viabilitas serta daya berkecambah dengan jumlah sampel yang lebih banyak dan pengujian mengenai pengaruh letak benih terhadap pertumbuhan di lapang.

Anonim. 2009. Proyeksi Kebutuhan Kecambah Dunia. Planters-Digest 01:18-19. Corley, R.H.V dan Tinker, P.B. 2003. The Oil Palm Fourth Edition. Blackwell

Publishing Company. Oxford.

Direktorat Jenderal Perkebunan. 2010. Penetapan rencana produksi dan harga kecambah kelapa sawit tahun 2010. http://ditjenbun.deptan.go.id/ penetapan rencana produksi dan harga kecambah kelapa sawit tahun 2010. [22 Agustus 2010].

Fatmawati, A., R. Lubis, dan G. Ginting. 1995. Proses Kultur Jaringan pada Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan

Hartley C.W.S. 1988. The Oil Palm 3rd Edition, Longman. London. 562 hal. Hidayah I. 2001. Produksi Bahan Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis

Jacq) di Balai Penelitian Marihat Sumatera Utara. Skripsi. Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB.78 Hal.

Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Sumatera Selatan. 435 hal.

Lubis, A.U. 1993. Pengadaan Benih Tanaman Kelapa Sawit (Elaeis guineensis

Jacq). Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 65 hal.

Lubis, A.U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi 2. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. Sumatera Selatan. 435 hal.

Lumbagaol P. 2008. Pengaruh Pemeraman Buah dan Letak Benih Dalam Buah Terhadap Viabilitas Benih Pepaya. Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. 43 Hal.

Mangoensoekarjo, S. dan H. Semangun. 2008. Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit. UGM Press. Yogyakarta. 605 hal.

Pahan I. 2006 .Paduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir (Cetakan ke I). Penebar Swadaya. Jakart.

Pahan I. 2010 .Paduan Lengkap Kelapa Sawit Manajemen Agribisnis dari Hulu hingga Hilir (Cetakan ke VII). Penebar Swadaya. Jakarta

Pranoto, H.S., W.Q. Mugnisjah, dan E. Muniarti. 1990. Biologi Benih. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor. Bogor. 137 hal.

Sadjad, S., H. Suseno, S.S. Harjadi, J. Sutakaria, Sugiharso dan Sudarsono. 1980. Dasar-Dasar Teknologi Benih Kapita Selekta. Dep. Agr. IPB.Bogor. 216 hal.

Saraswati U.P. 2010. Produksi dan Pemasaran Benih Kelapa Sawit (Elaeis guiinensis Jacq) di Pusat Penelitian Kelapa Sawit Marihat. Sumatera Utara. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura,Fakultas Pertanian IPB. 109 Hal.

Setyatmidjaja, D. 2006. Kelapa Sawit Teknik Budidaya, Panen, dan Pengolahan. Kanisius. Yogyakarta. 127 hal.

Sulistyo, B. 2010. Budi Daya Kelapa Sawit. Balai Pustaka. Jakarta. 190 hal. SutopoL.1985. Teknologi Benih. Rajawali. Jakarta.

1 21/02/2011-25/02/2011 Tiba di PPKS Produksi Yurna Yenni

Dokumen terkait