• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Respon Masyarakat

Pada pengamatan berlangsung perangsang-perangsang. Stimulus berati rangsangan dan respon berarti tanggapan. Rangsangan diciptakan untuk memunculkan tanggapan. Respon lambat laun tertanam atau diperkuat melalui percobaan yang berulang-ulang (Djamarah: 2002 : 23)

Respon atau tanggapan adalah kesan-kesan yang dialami jika perangsang sudah tidak ada. Jika proses pengamatan sudah berhenti dan hanya tinggal kesan-kesannya saja, peristiwa sedemikian ini disebut tanggapan. Defenisi tanggapan ialah gambaran ingatan dari pengamatan (Kartono, 1984: 54). Dalam ini untuk mengetahui respon masyarakat dapat dilihat melalui persepsi, sikap, dan partisipasi masyarakat.

Persepsi menurut Mc Mahon adalah proses menginterprestasikan rangsangan (input) dengan menggunakan alat penerima informasi (sensori information). Sedangkan menurut Morgan, King, dan Robinson menunjuk bagian kita melihat, mendengar, merasakan, mencium dunia sekitar kita, dengan kata lain persepsi dapat juga didefenisikan sebagai segala sesuatu yang dialami manusia (Adi, 2000: 105).

Berdasarkan uraian diatas, William James menyatakan bahwa persepsi terbentuk atas dasar data yang kita peroleh dari lingkungan yang diserap indra kita, serta sebagian yang lainnya. Diperolehnya dari pengolahan ingatan (memory), kemudian diolah kembali berdasarkan pengalaman yang kita miliki.

Jadi yang dimaksud dengan persepsi adalah proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungan baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan dan penerimaan. Persepsi merupakan suatu penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukan suatu pencatatan yang benar (Mahmud 1990: 55).

Fenomena lain yang terkait dengan pengindraan adalah ilusi. Ilusi muncul karena akibat keterbatasan kemampuan indra kita, dan ilusi bukanlah suatu tipuan (trick) ataupun persepsi-persepsi yang salah (misperception). Morgan, King, Weisz, dan schopler memandang bahwa ilusi adalah suatu persepsi, tetapi ia sebut persepsi karena tidak sejalan dengan persepsi lain.

Fenomena lain yang terpenting dengan persepsi adalah atensi. Atensi adalah suatu proses penyeleksian input yang diproses dalam kaitan dengan pengalaman. Oleh karena itu atensi ini menjadi yang terpenting dalam proses persepsi. Sedangkan atensi itu banyak mendasarkan diri pada proses yang disebut filtering atau proses untuk menyaring informasi yang ada pada lingkungan, karena sensori channel kita tidak mungkin memproses semua rangsangan yang berada pada lingkungan kita (Adi, 2000: 14).

Hal-hal yang mempengaruhi atensi seseorang dapat dilihat dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi atensi adalah :

1. Motif dan kebutuhan

2. Prepator set, yaitu kesiapan seseorang untuk merespon terhadap suatu input sensori tertentu tetapi tidak pada input yang lain.

Faktor esternal mempengaruhi atensi adalah:

1. Intensitas dan ukuran (intersity and size). Misalnya makin keras suatu bunyi maka makin menarik perhatian seseorang.

2. Kontras dengan hal-hal yang baru. 3. Pengulangan

4. pergerakan (Adi, 2000: 105).

Bila berbicara tentang respon tidak lepas dari perubahan sikap. Sikap merupakan kecenderungan atau kesedian seseorang untuk bertingkah laku tertentu jika ia menghadapi suatu rangsangan.

Perubahan sikap dapat menggambarkan bagaimana respon seseorang terhadap objek-objek tertentu seperti perubahan lingkungan atas situasi lain. Sikap yang muncul dapat positif yakni menyenangi, mendekati, mengharapkan suatu objek atau muncul sikap negatif yakni menghindari, membenci suatu objek (Adi, 2000 : 178).

Mengenaii sikap, thurstone mengajukan pendapat:

“An attitudeas the degree of positive or negative affect associated with some phsysicological object thurstone means any symbol,pharase, slogan, person, institution, ideal or idea, toward which people can differ with respect to positive or negative affect”.

Dari batasan tersebut dapat dikemukakan bahwa thurstone memandang sikap sebagai suatu tingkatan afeksi baik bersifat positif maupun yang bersifat negatif dalam hubungannya dengan objek-objek psikologis. Thurstone melihat sikap hanya sebagai afeksi saja belum mengkaitkan sikap dengan perilaku. Dengan kata lain dapat

dikemukakan bahwa thurstone secara eksplisit melihat sikap hanya mengandung komponen afeksi saja

Disamping itu Rokeach memberikan pengertian tentang sikap sebagai berikut :

“An attitude is relatively enduring organization of beliefs araound an abject or situation predisposing one to respond in some preferintial”

Dari batasan tersebut dapat dikemukakan bahwa dalam pengertian sikap telah terkandung komponen kognitif dan komponen kognatif, yaitu sikap merupakan predisposing, untuk merespons, untuk berprilaku. Ini berarti bahwa sikap berkaitan dengan perilaku, sikap merupakan predisposisi untuk berbuat atau berprilaku. (Thurstone, dalam Walgito, 1999: 109).

Sikap merupakan organisasi pendapat, keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang relatif yang disertai adanya perasaan tertentu, dan memberikan dasar kepada orang tersebut untuk membuat respon atau berprilaku dalam cara yang tertentu yang dipilihnya. (Walgito, 1999: 110).

Ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut :

a. Dalam sikap selalu terdapat hubungan subjek-objek. Tidak ada sikap tanpa objek. Objek ini berupa benda, orang, ideologi, nilai-nilai sosial, lembaga masyarakat dan sebagainya.

b. Sikap tidak dibawa sejak lahir tetapi dipelajari dan dibentuk berdasarkan pengalaman dan latihan.

c. Karena sikap dapat dipelajari, maka sikap dapat berubah-ubah, meskipun relatif sulit berubah.

e. Sikap tidak hanya satu macam saja, melainkan sangat beragam sesuai dengan objek yang menjadi pusat perhatiannya.

f. Dalam sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan (Adi, 2000.179). Selain persepsi dan sikap, pertisipasi juga menjadi hal yang sangat penting. Bahkan mutlak diperlukan dalam mengukur respon. Pendekatan partisipasi bertumpu pada kekuatan masyarakat untuk secara aktif berperan serta (ikut serta) dalam proses pembanguan secara menyeluruh (Suprapto, 2007: 8).

Partisipasi aktif masyarakat dalam pelaksanaan program pembangunan memerlukan kesadaran warga masyarakat dalam minat dan kepentingan yang sama. Strategi yang biasa diterapkan adalah melalui penyadaran. Untuk berhasilnya program pembangunan, warga masyarakat dituntut untuk terlibat tidak hanya aspek kognitif dan praktis tetapi juga ada keterlibatan emosional pada program tersebut. Hal ini diharapkan dapat memberikan kekuatan dan perasaan untuk ikut serta dalam gerakan perubahan yang mencakup seluruh bangsa.

Partisipasi bukan hanya sebagai strategi dalam program pengembangan masyarakat, tetapi juga hasil yang diharapkan dari program pengembangan masyarakat. Dengan adanya partisipasi, kita dapat memperoleh keuntungan-keuntungan antara lain:

1. Mampu merangsang timbulnya swadaya masyarakat, yang merupakan dukungan penting bagi pembangunan.

2. Mampu meningkatkan motivasi dan keterampilan masyarakat dalam membangun.

3. Pelaksanaan pembangunan semakin sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan masyarakat.

4. Jangkauan pembangunan menjadi lebih luas, meskipun dengan dana yang terbatas.

5. Tidak menciptakan ketergantungan masyarakat terhadap pemerintahan. 6. Dalam Sikap tersangkut juga faktor motivasi dan perasaan (Adi, 2000: 179).

Partisipasi yang sering juga disebut peran serta atau ikut serta masyarakat, diartikan sebagai adanya motivasi dan keterlibatan masyarakat secara aktif (terorganisir) dalam seluruh tahapan pembangunan, sejak tahap persiapan, perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan, evaluasi, hingga pembangunan atau perluasan. Partisipasi ditinjau dari fungsi yang diambil oleh masyarakat (pelaku) untuk suatu program, fungsi yang dapat diambil oleh masyarakat dalam berpartisipasi antara lain ialah:

1. Berperan serta dalam menikmati hasil pembangunan. Karena semua sudah dikerjakan oleh pihak luar maka masyarakat tinggal menerima jadi berupa hasil pembangunan. Misalnya gedung sekolah, pos KB, pembibitan tanaman, masyarakat tinggal menerima bibitnya. Partisipasi ini jelas mudah namun menikmatinya belum berarti memelihara.

2. Berperan serta dalam melaksanakan program pembangunan hal ini terjadi karena pihak luar masyarakat, sudah mengerjakan persiapan, perencanaan dan menyediakan semua kebutuhan program. Masyarakat tinggal melaksanakan dan setelah itu baru menikmati hasilnya. Misalnya dalam pembangunan jalan (pengerasan), masyarakat ikut serta dalam meratakan jalan dan menata atau

merapikan batu. Pemugaran rumah, masyarakat tinggal memasang alat-alat/bahan yang sudah disediakan dll.

3. Berperan serta dalam memelihara hasil program. Fungsi ini lebih sulit apalagi kalau masyarakat tidak terlibat dalam pelaksanaan. Sulit bukan saja karena tidak mempunyai keterampilan, tetapi yang lebih penting karena mereka merasa tidak memiliki program tersebut. Misalnya biasanya masyarakat bersedia memelihara satu gedung milik umum di desa jika mereka ikut ambil bagian dalam membangunnya, bahkan ikut menyumbang sebagian bahan. Contoh lagi, masyarakat bersedia mananam dan memelihara bibit tanaman (dari proyek pembibitan) kalau masyarakat ikut berkorban atau berpartisipasi selama pembibitan disiapkan dan dilaksanakan.

4. Berperan serta dalam minilai program. Fungsi ini kadang diambil masyarakat karena diminta oleh penyelenggara program dan masyrakat merasakan program tidak sesuai dengan aspirasinya (tetapi hal ini biasanya melakukan secara bersembunyi-sembunyi (Suprapto, 2007: 11).

Dari berberapa fungsi diatas maka dapat diketahui bahwa partisipasi memiliki hubungan/kaitan dengan frekuensi dan kualitas yaitu :

1. Frekuensi

Kaitan partisipasi dengan frekuensi ialah bahwa partisipasi merupakan keterlibatan masyarakat dimana keterlibatan tersebut harus memiliki frekuensi yang baik dan teratur agar masyarakat dapat melaksanakan program pembangunan dengan penuh persiapan, perencanaan, pemahaman, dan evaluasi.

Contoh: berperan serta dalam bersosialisasi untuk menilai suatu program 2. Kualitas

Kaitan partisipasi dengan kualitas ialah dalam melaksanakan suatu program harus diperlakukan sikap yang berkualitas pada masyarakat tersebut dan keterlibatan masyarakat yang bertata laku dengan baik maka mereka akan menjadikan terinternalisasi dengan sikap dan nilai pribadi yang kondusif terhadap kualitas.

Contoh: Berperan serta dalam melaksanakan suatu program

Partisipasi masyarakat juga mengikutsertakan masyarakat dalam proses pengidentifikasian masalah dan potensi yang ada masyarakat, pemilihan dan pengambilan keputusan tentang alternatif solusi untuk menangani masalah, pelaksanaan upaya mengatasi masalah dan keterlibatan masyarakat dalam proses mengevaluasi perubahan yang terjadi (Isbandi, 2007:27).

Pertisipasi dapat dibagi menjadi 6 pengertian yaitu :

1 Partisipasi adalah kontribusi sukarela dari masyarakat kepada proyek tanpa ikut serta dalam pengembilan keputusan

2 Partisipasi adalah pemekaan (membuat peka) pihak masyarakat untuk meningkatkan kemauan menerima dan kemampuan untuk menanggapi proyek-proyek pembangunan

3 Partisipasi adalah keterlibatan sukarela oleh masyarakat dalam perubahan yang ditentukannya sendiri

4 Partisipasi adalah suatu proses yang aktif, yang mengandung arti bahwa orang atau kelompok yang terkait, mengambil inisiatif dan menggunakan kebebasan untuk melakukan hal itu

5 Partisipasi adalah pemantapan dialog antara masyarakat setempat dengan para staf yang melakukan persiapan, pelaksanaan, monitoring, proyek agar memperoleh informasi mengenai konteks lokal dan dampak-dampak sosial 6 Partisipasi adalah keterlibatan masyarakat dalam pembangunan diri,

kehidupan dan lingkungan mereka (Mikkelsen, 1999: 64).

Maka defenisi partisipasi di atas dapat dibuat kesimpulan bahwa partisipasi adalah keterlibatan aktif dari seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) secara sadar untuk berkontribusi secara sukarela dalam program pembangunan dan keterlibatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan sampai pada tahap evaluasi.

Dalam merespon stimulus, tidak terlepas dari subjek dan objeknya. Subjek merupakan orang yang merespon dan objek merupak stimulus atau yang akan direspon. Dalam hal ini yang menjadi subjeknya adalah masyarakat penerima manfaat Raskin dan menjadi objeknya adalah program Raskin.

Masyarakat dalam bahasa inggris adalah Society yang berasal dari kata socius yang artinya kawan. Hidup dalam masyarakat berarti adanya interaksi sosial dengan orang-orang disekitar dengan demikian mengalami pengaruh dan mempengaruhi orang lain. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut sistem adat-istiadat yang bersifat kontinue dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

Ciri-ciri masyarakat menurut konsep Horton dan Hunt adalah :

1. Kelompok manusia, yang sedikit banyak memiliki kebebasan dan bersifat kekal,

2. Menempati suatu kawasan. 3. Memiliki kebudayaan.

4. Memiliki hubungan dalam kelompok yang bersangkutan (Horton dan Hunt dalam Wahyu, 1986: 60).

Sedangkan menurut Fairchild, unsur atau ciri masyarakat adalah : 1. Kelompok manusia.

2. Adanya keterpaduan atau kesatuan diri berlandaskan kepentingan utama. 3. Adanya Pertahanan dan kekekalan diri.

4. Adanya kesinambungan.

5. Adanya hubungan yang pelik diantara anggotanya (Fairchild, dalam Setiadi, 2007: 79).

Diantara masyarakat yang telah dikemukakan di atas, tidak terdapat perbedaan pendapat tentang ungkapan yang mendasar, justru yang ada yaitu mengenai persamaannya. Namun yang utama masyarakat itu merupakan kelompok atau kolektivitas manusia yang melakukan antar hubungan, sedikit banyak sifat kekal, berlandaskan perhatian dan tumbuh bersama, serta telah melakukan jalinan secara kesinambungan dalam waktu yang relatif lama dan merupakan suatu sistem hidup bersama dimana mereka menciptakan nilai, norma dan kebudayaan bagi kehidupan mereka (Setiadi, 2007:80).

Dengan akhirnya bahwa masyarakat mengandung pengertian yang sangat luas dan dapat meliputi seluruh umat manusia. Masyarakat terdiri dari berbagai kelompok besar maupun kecil tergantung pada jumlah anggotanya (Wahyu, 1986:60).

Jadi yang dimaksud dengan respon masyarakat adalah tingkah laku balas atau tindakan masyarakat yang merupakan wujud dari persepsi dan sikap masyarakat terhadap suatu objek yang dapat dilihat melalui proses pemahaman, penilaian, pengaruh atau penolakan, suka atau tidak suka serta pemanfaatan terhadap objek tersebut (Elisa:2009).

Dokumen terkait